Closer (Chapter 5)

1447225135780

Closer

Chapter 5.  (Sweet Storm) – by Angel Devilovely95

 

Title     : Closer

Author : Angel Devilovely95 (Twitter:@MardianaSanusi)

Cast     : Oh Sehun – Im Neyna (OC) – Kim Jongin

Park Chanyeol & Lee Hyera (OC)

Genre  : Romance, Drama and Psychology

Rating : PG-18 or Mature

Ada adegan yg gak cocok buat reader dibawah umur!

Jadi liat rating dulu baru baca!

Length : Chaptered

Disclaimer: Don’t bash! This story based on my imagination.

HARAP TINGGALKAN JEJAK^^

Mulai sekarang ffku hanya akan dipost di exoff & di blog pribadiku.

Previous Chapter >> [Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4]

 

Also posted on my WP https://angeldevilovely95.wordpress.com

 

 

 

When a handsome man forces you to be his

 

 

 

 

 

 

 

 

“Aku turut menyesal atas percerainmu Oppa. Tapi maaf aku tidak bisa kembali lagi padamu” Neyna menghela nafas pelan, menghapus air mata yang sempat mengalir, lalu melepas pelukan hangat Jongin setelahnya. Ia sempat kecewa dengan cara Jongin meninggalkannya dulu. Ia juga tidak suka dengan kehadiran tiba-tiba Jongin setelah sekian lama menghilang serta cara Jongin menyatakan rindu dan cinta padanya padahal pria itu sudah memiliki istri. Tapi kenyataan bahwa Jongin sudah bercerai malah membuatnya miris, Neyna tidak menyangka Jongin akan menceraikan istrinya dan mengharapkan kembali padanya.

 

 

“Kau tidak perlu menjawab sekarang Neyna-ya… Tidak perlu” Sergah Jongin cepat. Ia tahu tidak semudah itu mendapatkan hati Neyna kembali, tapi Jongin tetap ingin memperjuangkan cintanya kali ini. Ia ingin egois sekali lagi. Keputusannya meninggalkan Neyna demi menikah dengan gadis keturunan Jepang dan menetap di negeri asal mantan istrinya itu menjadi saksi nyata keegoisannya selama ini. Tersiksa. Ia juga sebenarnya tersiksa dengan keegoisannya.

 

 

Dua tahun bukan waktu yang singkat. Meninggalkan gadis yang ia cintai dan menjalani hidup bersama gadis yang tidak ia cintai sedikitpun menorehkan derita tersendiri baginya. Kekukuhan pada pernikahan bisnis yang ia jalani akhirnya mencapai batas. Jongin mengakhirinya, bercerai dengan Kurumi. Tiga hari lalu. Dan saat itulah ia baru berani menghubungi Neyna, mencoba meretas asa untuk memulai awal yang baru dan memperbaiki yang lalu dengan gadis pengisi relung hatinya itu.

 

 

“Eumm aku ingin menuntaskan janjiku yang belum sempat aku wujudkan dulu.  Bisakah kau ikut aku?”

 

 

Neyna menggeleng “Aku tidak bisa Oppa.. Aku harus pergi sekarang” Ucapnya pelan.

 

 

“Aku ingin menuntaskan janjiku yang satu ini padamu. Aku mohon Neyna-ya…” Tutur Jongin tak putus asa. Kali ini dengan nada memohon seraya menggenggam satu tangan Neyna.

 

 

Neyna melepas genggaman Jongin, menatap pria itu ragu sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Baiklah” Jawabnya kemudian.

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

 

 

Beberapa barang terkulai pasrah di lantai, pajangan kristal penghias ruangan hancur berkeping-keping, ruangan mewah bergaya victoria dengan dominasi coklat itupun terlihat kacau balau. Sehun duduk angkuh di kursi kerjanya sembari menyesap Cabarnet Franc wine, nampak acuh dengan kekacauan yang ia perbuat. Puas menyesap red winenya, Sehun lantas beralih pada sekertarisnya, menopangkan satu tangannya di dagu, menunggu Jongdae memulai kalimatnya.

 

 

Paham dengan gerak-gerik bossnya itu, Jongdae lalu menatap Sehun lebih serius, hendak buka suara “Maaf Presdir, saya baru mendapat informasi kedatangan Kim Jongin tiga jam lalu… Saya tidak mengira dia akan kembali ke Korea sekarang, karna setahu saya proyek di Osaka belum selesai. Haruskah saya menyuruhnya kembali lagi ke Jepang?”

 

 

Sehun menyeringai “Tidak perlu. Aku ingin menemuinya dulu. Atur pertemuanku dengannya lusa!” Titahnya dingin. Sehun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, menyilangkan satu kakinya setelahnya. “Patahkan tangan Kim Jongin dan tusuk bahunya! Dia sudah kurang ajar menggengam tangan dan memeluk kekasihku!” Lanjutnya dengan tatapan tajam yang begitu kelam.

 

 

Jongdae mengernyit, bingung dengan kalimat yang dilontarkan bossnya itu. “Kenapa Presdir tidak langsung menghabisinya?” Tanyanya penasaran.

 

 

“Aku akan melakukannya. Tapi tidak untuk saat ini. Menyiksanya perlahan lebih menarik. Bukankah begitu Sekertaris Kim?” Kelicikan menodai nada suara Sehun, kebengisan terpetak jelas di wajah tampannya. Entah apa yang direncanakan Presdir Oh itu, agaknya lancang jika seorang sekertaris kepercayaan mengabaikan pertanyaan dari bossnya. Jongdaepun mengangguk sejadinya, ikut setuju pada niatan bossnya itu.

 

 

“I still have to wait my naughty girl. You can go now”

 

 

 

————000————

 

 

 

 

 

Pulau Nami, Pulau dengan pemandangan indah di kawasan Gangwon-do membutuhkan waktu tempuh dua jam dari Seoul. Bunga sakura yang bermekaran di sepanjang jalan mencuri atensi para pengunjung pulau, termasuk Jongin dan Neyna. Keheningan berlangsung selama beberapa saat, keduanya saling terdiam, mengalihkan pikiran masing-masing. Setelahnya, senyuman lembut menghiasi wajah salah satu pihak, jemu akan kebisuan yang sempat berlangsung lama.

 

 

“Neyna-ya dulu aku sempat berjanji membawamu kesini kan?” Masih dengan senyum lembut di wajah, Jongin menoleh pada gadis di sampingnya. Tanpa ikut menoleh pada lawan bicaranya, Neynapun mengangguk menanggapi pertanyaaan Jongin.

 

 

Jongin menghela nafas berat, Neyna seperti menjaga jarak—pikirnya.  Ia kemudian menggeser posisi duduknya, menatap gadis di sampingnya lamat-lamat. “Maaf telah menyakitimu. Maaf telah menjadi pecundang selama ini. Seharusnya dulu aku lebih berani mengungkap pernikahanku lebih awal padamu. Seharusnya aku bisa menolak perjodohan itu. Aku benar-benar menyesal Na-ya…Tolong maafkan aku…”

 

 

 

Penyesalan kembali menyelubungi benak Jongin. Masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana ia meninggalkan Neyna dulu. Tanpa memperjuangkan cintanya, perjodohan demi mempertahankan eksistensi keluarga ia terima begitu saja. Bahkan seminggu setelah pernikahan terjadi dan satu hari sebelum keberangkatannya ke Jepang, ia baru memberitahu Neyna mengenai pernikahannya dengan Kurumi. Jongin akui ia memang keterlaluan. Ia hanya tidak siap memberitahu Neyna tentang pernikahannya saat itu.

 

 

“Aku bisa menghubungimu karna Hyera. Tiga hari lalu, perceraianku selesai dengan Kurumi. Saat itulah aku baru berani menghubungi Hyera, rasa penasaran tentangmu baru berani aku tanyakan padanya. Selama dua tahun ini aku sengaja memendam rasa penasaranku tentangmu karna aku takut menyakitimu sementara aku masih terikat dengan pernikahan bisnisku. Aku tahu muncul mendadak di hadapanmu juga mungkin menyakitimu. Tapi tolong biarkan aku menembus kesalahanku kali ini. Biarkan aku memulihkan rasa sakitmu Neyna-ya…Berikan aku satu kesempatan lagi. Aku mencintaimu Na-ya… ” Tutur Jongin lirih.

 

 

Neyna menoleh, terenyuh dengan serentetan pernyataan lirih Jongin. Ia tidak menyangka Jongin hidup semenyedihkan itu dengan cinta yang masih melekat untuknya. Ia merasa bersalah akan kenyataan tersebut. “Oppa…. Kau tidak perlu menebus kesalahanmu. Aku baik-baik saja. Aku juga sudah memafkanmu. Maafkan aku telah salah paham padamu. Aku tidak tahu kalau ternyata selama ini kau masih memperdulikanku. Terimakasih untuk kepedulianmu Oppa. Terimakasih juga karna kau sudah menepati janjimu membawaku kesini.”

 

 

Guratan sendu di wajah Jongin mereda saat mendengar penuturan Neyna, helaan nafas legapun ia loloskan setelahnya. Tapi kelegaan yang melandanya tidak berlangsung lama saat gadis di sampingnya itu kembali buka suara.

 

 

“Sekarang ini dihatiku hanya ada rasa sayang untukmu, bukan cinta. Jadi untuk kesempatan itu, maaf aku tidak bisa memberikannya. Aku tidak bisa kembali lagi padamu. Aku harap Oppa bisa mengerti…” Tolak Neyna lagi akhirnya. Ia memang merasa bersalah pada Jongin. Tapi ia juga tidak bisa menembus rasa bersalahnya dengan membalas cinta Jongin. Perasaan cintanya sudah sirna, ia tidak mau membuat Jongin terjebak dalam dilemma masa lalu lagi. Ia tidak mau Jongin berharap lebih padanya.

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

 

Mansion mewah bak istana dengan design classic yang begitu megah menjadi peraduan Neyna selanjutnya. Pertemuannya dengan Jongin beberapa jam lalu cukup menguras waktu. Matahari yang kian mereduppun menjadi saksi nyata. Neyna melangkahkan kakinya menuju kamar yang ia tempati beberapa hari ini. Pencahayaan yang begitu gelap menyapa penglihatan sesaat setelah ia berhasil memasuki ruangan bernuansa feminine tersebut.Neyna berhasil meraih stop kontak di sisi dinding, membuat ruangan yang gelap gulita itu berubah terang seketika. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju ranjang, tapi harus terhenti oleh dekapan posesif yang mengalun dari belakang tubuhnya. Hembusan nafas yang begitu memburu dari orang yang mendekapnya itupun menerpa tengkuknya saat ini.

 

 

Neyna susah payah mengatur debaran jantungnya saat suara berat pria yang begitu ia kenal melantun sempurna. “Kenapa kau baru pulang hmm?” Tanya Sehun menuntut. Sehun semakin mengeratkan pelukannya, membuat Neyna tersiksa sepenuhnya.

 

 

“Se-sehun-sshi lepaskan…” Ucap Neyna tertatih. Sehun tidak mengindahkan permohonan Neyna. Ia malah membalikkan tubuh Neyna dan memeluk tubuh mungil itu semakin erat.

 

 

“Kenapa kau baru pulang?” Ulang Sehun geram. Sehun memeluk tubuh mungil Neyna terlampau erat, membuat gadisnya itu begitu tersiksa. Himpitan tubuh kekar Sehun pada tubuh Neyna sungguh diluar batas. Neyna terengah-engah, menahan sesak karna Sehun belum juga melepaskan pelukannya.

 

 

“Sehun-sshi to-tolong lepaskan…sesak.” Neyna menggerakan kedua tangannya, berusaha melepaskan simpul ketat tangan kekar Sehun di kedua sisi tubuhnya. Kemudian, Sehun melepas pelukan posesifnya pada tubuh mungil Neyna dengan sekali hentak, membuat gadisnya itu sontak terduduk di lantai. Neyna lantas meringis sakit saat tubuhnya terhempas begitu saja ke lantai.

 

 

“Kau belum jawab pertanyaanku Nona Im. Kenapa kau baru pulang?” Bukannya membantu Neyna berdiri, Sehun malah menatap tajam gadis cantik yang masih terduduk di lantai itu seraya menunggu jawaban atas pertanyaanya.

 

 

“A-ku berbicara banyak dengan Auntieku Sehun-sshi. Ma-maaf aku baru pulang…” Jawab Neyna berbohong, saking takutnya dengan pria yang tengah menatapnya tajam penuh intimidasi itu saat ini.

 

 

Sehun tertawa sumbang, begitu terhibur dengan jawaban Neyna. “Im Neyna! Jangan berbohong padaku! Kau tidak menemui bibimu kan?” Sehun berteriak kali ini, jengah dengan jawaban gadisnya itu. Sehun tentu sudah tahu bahwa Neyna berbohong padanya. Ia hanya ingin pengakuan langsung dari Neyna. Sehun menghampiri Neyna, melangkahkan kakinya semakin mendekat pada gadisnya itu.

 

 

Mendengar teriakan Sehun membuat Neyna semakin ketakutan. Pertanyaan yang Sehun lontarkan barusan membuatnya begitu kalut. Sehun sepertinya mengetahui kebohongannya. Neyna merasa tubuhnya begitu lemas untuk berdiri.  Masih dengan posisi terduduk, Neyna menyeret paksa tubuhnya, berusaha menghindari jangkauan Sehun.

 

 

Sehun menggeram kesal mengetahui Neyna tidak menjawab pertanyaannya dan malah menghindar darinya. Sehun menangkap salah satu kaki Neyna dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bergerak mencengkram dagu Neyna, sukses membuat gadisnya itu terpaku di tempat.

 

 

“Siapa bilang kau boleh mengabaikan pertanyaanku Nona Im? Jawab pertanyaanku! Kau tidak menemui bibimu kan?” Lagi-lagi Sehun berteriak marah. Dapat ia rasakan tubuh Neyna yang bergetar hebat menahan takut, tapi ia tidak perduli, jawaban jujur dari gadisnya itulah yang ia inginkan saat ini.

 

 

“I-iya Se-sehun-sshi… A-aku ti-tidak menemui Aun—“

 

 

“Cukup!” Sela Sehun tajam. Ucapan Neyna yang belum rampung itu sudah cukup mewakili pertanyaannya. Sehun bergerak mengangkat tubuh Neyna paksa, menggendong gadisnya itu ke ranjang, dan setengah membanting tubuh mungil itu setelahnya. Sehun lalu mencengkram kuat pergelangan tangan Neyna, memaksa Neyna untuk pasrah padanya.

 

 

“Akh…Se-sehun-sshi lepaskan.. It hurts.. ” Neyna kembali meringis saat kedua tangannya terasa begitu perih karna cengkraman Sehun.

 

 

“It hurts hmm?” Tanya Sehun seraya membelai pipi mulus Neyna dengan sebelah tangannya. Neyna mengangguk dan menatap Sehun sendu, memelas belas kasihan Sehun.

 

 

“Aku kekasihmu Im Neyna, bukan si brengsek Kim Jongin itu. Tapi kau malah menemuinya, berpelukan dengannya, bahkan berjalan-jalan dengannya. Kau berbohong padaku demi dia. Bukankah aku yang seharusnya merasakan sakit saat ini huh?” Tuntut Sehun sarkastik.  Sehun menatap Neyna nyalang dan mencengkram pergelangan tangan Neyna semakin kuat, berusaha memaksa gadisnya itu untuk merasakan kekecewaanya saat ini.

 

 

“Akh…” Neyna lagi-lagi meringis sakit. Fakta bahwa Sehun mengetahui semua yang ia lakukan bersama Jongin, membuat Neyna begitu terkejut. Lidahnya terasa kelu untuk menanggapi ucapan Sehun, alhasil hanya ringisan yang bisa ia keluarkan saat ini.

 

 

Sehun menghembuskan nafasnya kasar “Bibimu pernah bilang padaku kau sudah tidak mencintai pria brengsek itu. Tapi kenapa kau masih saja memperdulikannya Nona Im? Apa jangan-jangan kau masih mencintainya huh?” Tuduhnya curiga sembari melonggarkan cengkramannya, membiarkan Neyna menjawab pertanyaanya.

 

 

“Auntieku sampai membicarakan hal itu padamu?”

 

 

Sehun menggeram “Itu tidak penting Im Neyna. Jawab saja pertanyaanku! Kau masih mencintai Kim Jongin huh?” Bentaknya kesal.

 

 

Neyna menatap Sehun takut-takut “A-aku memang tidak mencintainya. Ta-tapi aku menyanginya Sehun-sshi” Jawabnya pelan.

 

 

Mendengar penuturan Neyna barusan membuat emosi Sehun semakin tersulut. Rahang pria bermarga Oh itu mengeras, wajah tampannya merah padam. Satu tangannya terkepal sempurna, buku-buku jarinyapun memutih. Sehun tidak rela ada pria lain yang begitu berpengaruh bagi Neyna selain dirinya.

 

 

“Kau tidak boleh menyayanginya. Tidak boleh! Aku tidak suka!” Sehun menggeleng cepat, kecemasan tersirat jelas dalam ucapan retorisnya “Apa yang kau lihat darinya? Apa yang membuatmu begitu menyayanginya huh? Jawab aku!” Tuntunya sinis.

 

 

“Jongin Oppa pernah dan masih begitu baik padaku. Hanya itu. Sehun-sshi maafkan aku. Maaf telah berbohong padamu.”

 

 

Ada perasaan lega saat Neyna menjelaskan lebih lanjut perasaanya pada mantan kekasihnya itu. Kecemasan yang mencekamnya menipis bersamaan dengan permohonan maaf yang Neyna lontarkan di akhir kalimat. Tapi itu semua tidak merubah keputusannya untuk tetap menghukum Neyna. Ia tetap harus membuat Neyna jera agar tidak mengulangi kesalahannya lagi.

 

 

Sehun berdehem “Maafmu kuterima sayang” lalu menjilat bibir bawahnya “Tapi kau tetap harus kuhukum” Lanjutnya tajam. Satu tangannya yang terkulai kemudian bergerak mengeluarkan dasi dari saku celana. Setelah berhasil mengeluarkan dasi merah maroon miliknya, Sehun melepaskan tautannya di pergelangan tangan Neyna. Kedua tangan kekarnya lalu bergerak menyimpulkan dasi yang telah ia persiapkan untuk menghukum gadisnya itu sigap.

 

 

Neyna menggeleng “Sehun-sshi aku sudah minta maaf. Tolong jangan hukum aku. Aku mohon” Ujarnya lirih.

 

 

 

Sehun ikut menggeleng sembari menempelkan telunjuknya di bibir Neyna “Don’t worry sweetheart. I won’t ravish you tonight. Just calm down and enjoy this punishment hmm” Ucapnya sok menenangkan Neyna. Kemudian, kedua tangan kekarnya bergerak merobek dress nude Neyna tak sabaran.

 

 

“Se-sehun-sshi please don’t ri-rip it anymore” Sergah Neyna terbata-bata, begitu kalut saat Sehun hendak merobek bagian rok dress miliknya.

 

 

“Oh shit. Ok I won’t ripe it” Desis Sehun tajam. Sehun mendesah berat saat melihat tubuh Neyna yang terekspos saat ini. Susah payah ia menahan nafsunya yang mulai terangsang. Ia memijat pelipisnya pelan sebelum akhirnya mulai melancarkan niat awalnya, menghukum gadisnya.

 

 

Sehun mengangkat dagu Neyna dengan salah satu tangannya, memaksa gadisnya itu untuk menatapnya. Tangan lainnya kini beralih pada rambut panjang Neyna, memilin ujung rambut kecoklatan itu berulang-ulang. Raut ketakutan Neyna begitu kentara, tapi Sehun lagi-lagi tidak perduli. Ia harus tetap mendisiplinkan gadisnya itu. Sehun kemudian mencium bibir ranum Neyna paksa, melumat serta menggigit kasar bibir atas dan bawah gadisnya itu bergantian. Membuat permukaan bibir Neyna sedikit berdarah karna aksi brutalnya. Sehun mendesis saat menyadari keberadaan darah di bibir Neyna. Tanpa segan, Sehun akhirnya menjilat dan menghisap habis darah yang tercecer di bibir ranum Neyna bagaikan menyesap red wine favoritnya.

 

 

Setelahnya, Sehun melesakkan lidahnya di mulut Neyna yang sedikit terbuka, berusaha memperdalam ciuman sepihak yang begitu nikmat baginya itu. Neyna kembali meronta saat merasakan serangan Sehun di mulutnya. Tapi rontaanya selalu kalah dengan dominasi tubuh kekar Sehun. Dapat ia rasakan nafsu menggebu Sehun saat ini. Frech kiss yang dilancarkan Sehun semakin membuat tubuhnya bergetar, membuatnya lemas.

 

 

Pasokan oksigen kian menipis, Sehun akhirnya melepaskan tautannya pada bibir ranum Neyna. Ciumannya kini beralih ke dagu Neyna, menghisapnya sebentar kemudian turun ke leher. Bibirnya sakit, tapi Neyna tetap menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan saat Sehun begitu lihai mengecup lehernya. Sehun peka. Ia lantas mendongak, menyudahi kegiatannya di leher Neyna. “Moan as you want. Don’t hold it sweetheart!” Ucapnya dingin tepat di wajah Neyna.

 

 

Sehun menenggelamkan wajahnya di tengkuk Neyna, menjilat dan mengecup kulit pucat itu tanpa jeda. Tangan yang sempat berada di dagu Neyna kini beralih meremas kasar dada berisi gadisnya itu.

 

 

“Aahh…Sehun-sshi” Neyna tidak tahan oleh perlakuan Sehun saat ini, desahan yang sempat tertahanpun akhirnya lolos juga. Sensasi aneh saat Sehun menyentuh tubuhnya telah berhasil membuatnya kualahan.

 

 

Sehun mengerang samar saat merasakan kejantannya kian mengeras. Desahan dan sentuhannya di dada berisi Neyna begitu cepat menyengsarakannya. Sehun mengacak rambutnya kesal lalu mengecup dada Neyna yang masih terbungkus bra coklat, menghisap, dan melumat kulit pucat itu rakus. Satu tangannya yang masih bersemayam di dada Neyna kian menggila. Terus menjamah dan meremas kasar dada berisi gadisnya itu gesit.

 

 

“Se-sehun-sshi..akh.. aah…aku..ahh.. mohon.. lepas..akh” Neyna mendesah tertatih lantaran dadanya terasa begitu perih. Sehun begitu ganas menyerang dadanya, Neyna merasa dilecehkan tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis pasrah saat ini.

 

 

“Not now!” Bentak Sehun sinis. Ia melepas tautannya di rambut panjang Neyna, lalu menggerakan tangannya di balik rok dress nude gadisnya itu. Mengelus dan menekan daerah intim Neyna secara berkala, membiarkan gadisnya itu semakin tidak berdaya karna sentuhannya.

 

 

Tautan di dada Neyna serta sentuhan pada daerah intim gadisnya itu membuat nafsunya kian memuncak. Tapi ia tidak bisa berbuat lebih saat ini lantaran masalah janji yang harus ia tepati pada Neyna. Sehun menghela nafas berat sebelum melancarkan aksinya kembali. Jemarinya kemudian beraksi kian nakal, terus menekan dan menggesek kasar daerah intim Neyna yang masih terbalut celana dalam.

 

 

“Aaaah Sehun-sshi…aahh” Neyna menggelijang, desahan lagi-lagi lolos dari bibirnya. Sentuhan Sehun membuatnya semakin kualahan, sukses membuatnya semakin direndahkan.

 

 

Bercak kiss marks sampai beberapa luka berdarah kini menghiasi dada berisi Neyna. Sehun mengulangi aksinya, menjilat dan menghisap darah di dada Neyna. Setelahnya, ia menyudahi kegiatannya di dada Neyna tanpa berniat menyudahi kegiatannya pada daerah intim gadisnya itu. Sehun mengecup singkat bibir ranum Neyna, gemas dengan ketidakberdayaan gadis di bawah kungkungannya itu. “Good. Just moan my name and think of me sweetheart… That’s the second goal of this punishment!” Sehun menatap Neyna dingin seraya menyeka air mata yang membasahi wajah cantik Neyna.

 

 

Sehun hendak mengecup kembali bibir Neyna, tapi sayang aksinya itu harus ia tanggalkan saat daerah intim Neyna sudah begitu basah. Sehun menggeram, menghentikan hukumannya, dan menutupi tubuh Neyna dengan selimut setelahnya.

 

 

“My kiss marks on your breast and the way you wet… It’s nice sweetheart. I love it!” Sehun menyeringai, lalu mengecup serta menjilat jemarinya yang basah. Melihat Neyna yang masih terbaring pasrah di ranjang membuat Sehun tergerak. “Your punishment is over sweetheart. Hug me now!” Titahnya tegas sembari melepaskan dasi miliknya. Sehun mendudukan tubuhnya di ranjang, menunggu Neyna melancarkan titahnya barusan.

 

 

Kalimat tegas Sehun terdengar otoriter tanpa ampun, Neynapun tergoda untuk meliukkan tubuhnya patuh pada titah pria tampan yang sempat menjamah tubuhnya itu. Tubuhnya yang sempat terbaring kini duduk sempurna, terdorong untuk maju menghambur ke tubuh Sehun. Tapi perasaan perih yang menjalari hatinya kian berulah. Alih-alih menurut, ia akhirnya malah menggeleng, menolak perintah Sehun.

 

 

“Im Neyna! Berani-beraninya kau menolak perintahku!” Sehun berteriak lagi, tatapan tajamnya kini menghunus mata Neyna yang mulai kembali berair. Sehun langsung menghamburkan tubuhnya pada tubuh mungil Neyna, jengkel dengan aksi penolakan gadisnya itu.

 

 

Neyna kini terisak di pelukan Sehun. Ia semakin takut dengan Sehun. Sehun terlalu mengerikan. Sehun terlalu menyeramkan. Perasaanya perih tapi ia tidak bisa berkutik. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain tunduk pada kuasa Sehun. Menyedihkan!

 

 

Sehun melonggarkan pelukannya “Aku menghukummu hanya untuk mendisiplinkanmu. Jadi jangan menangis lagi sayang” Ucapnya dingin sembari menyeka air mata Neyna dengan ibu jarinya. “Benahi dirimu. Kita akan berangkat dua jam lagi” Lanjut Sehun kemudian.

 

 

Neyna mengerjap cepat “Ki-kita mau kemana Sehun-sshi?” Tanyanya terbata.

 

 

“Kau akan tahu nanti”

 

 

Tepat setelah ia menjawab pertanyaan Neyna, handphone miliknya bergetar di saku celana. Mau tidak mau Sehun melepaskan rengkuhannya, mengeluarkan handphone miliknya, dan melihat nama si penelfon yang tertera di layar handphone. Suara penelfon di sebrang sana menyapa pendengarannya sesaat setelah ia menjawab panggilan tersebut.

 

 

Sehun bangkit dari ranjang, menghela nafas sebelum menanggapi kalimat si penelfon. “Baiklah aku akan kesana sebentar lagi.” Tandas Sehun pada akhirnya, mengakhiri panggilan singkat antara dirinya dengan si penelfon.

 

 

“I got an important call, I have to go now” Ucap Sehun tegas “I’ll be back later, so wait for me hmm.” Lanjutnya dengan nada yang melembut sembari membetulkan lengan kemeja biru dongker yang ia kenakan – yang sempat ia gulung sampai siku. Sehun melangkahkan kakinya keluar kamar Neyna, mengunci pintu kamar bernuansa feminine itu setelahnya, takut- takut gadisnya akan kabur setelah hukuman yang ia berikan.

 

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

Di ruangan bernuanasa putih itu Sehun duduk di sofa sembari menyesap minuman yang disiapkan salah satu pegawai di tempat tersebut. Netra elangnya kemudian teralih saat pintu kayu berdaun dua di ruangan itu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan senyum lembut khasnya.

 

 

“Selamat datang Sehun-sshi.” Sapa wanita paruh baya itu ramah, masih dengan senyum lembut keibuannya. Langkah santai diretas wanita paruh baya itu, menghampiri pria tampan yang disapanya.

 

 

Sehun tersenyum tipis menanggapi sambutan wanita paruh baya itu. Tubuh yang sempat terbuai belaian sofa itupun kini berdiri tegak, berusaha sopan pada wanita yang lebih tua dua puluh tahun di hadapannya.

 

 

“Bagaimana kabar Neyna hmm?” Tanya wanita paruh baya itu, berusaha memulai pembicaraan.

 

 

“Baik” Jawab Sehun singkat. Wanita paruh baya itupun tersenyum lega mendengar jawaban Sehun. Ia melangkahkan kakinya menuju sisi depan ruangan yang menampilkan display gaun-gaun rancangannya, kemudian membuka tirai yang menutupi salah satu gaun rancangannya, berniat memamerkan hasil karyanya.

 

 

“Bagaimana Sehun-sshi apa kau suka?” Tanya wanita paruh baya itu sesaat setelah tirai tersebut terbuka sepenuhnya.

 

 

“Sangat” Sehun tersenyum lebar, puas dengan hasil rancangan wanita paruh baya itu.

 

 

“Syukurlah. Aku senang kalau kau menyukainya Sehun-sshi” Timpal wanita paruh baya itu. Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali mendekat pada Sehun. “Kau tenang saja hmm. Aku akan berangkat bersama yang lainnya tiga jam lagi. Terimakasih atas tumpanganmu Sehun-sshi, aku jadi tidak perlu repot-repot ke bandara Incheon lagi. Sampaikan salamku pada Neyna eoh.”

 

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

“I-ini pesawat-pesawatmu Sehun-sshi?” Neyna terbelalak, mulutnya sampai terbuka karna takjub. Ia begitu terkejut saat mengetahui keberadaan lima pesawat jet di taman belakang mansion yang ia tempati. Boeing 747-400, Boeing 747-430, Airbus A340-300, Airbus A380-Custom, dan Boeing 747 refit terjejer rapi di hadapannya.

 

 

“Iya sayang kau tidak lihat ada tulisan namaku di badan pesawat eoh?”

 

 

Neyna mengigit bibir bawahnya saat menangkap tulisan Oh Sehun di tiap badan pesawat. Benar. Itu nama Sehun. Astaga. Ini mengerikan. Mansion yang ia tempati bahkan memiliki luas setidaknya dua puluh lima hektar dengan landasan terbang untuk menerbangkan pesawat- pesawat milik Sehun.

 

 

“Ini mengingatkanku dengan rumah John Travolta. Mengerikan” Gumam Neyna, pikirannya berpendar pada artikel tentang rumah John Travolta yang juga memiliki pesawat dan landasan terbang sendiri.

 

 

Sehun mengelus puncak kepala Neyna “Nyatanya aku bukan John Travolta sayang. Dan ini semua milikku. Milikmu juga” Ucapnya sembari tersenyum tipis. “Ayo masuk” Sehun menuntun Neyna masuk ke dalam pesawat jet Airbus A380-Custom yang sudah siap untuk take off.

 

 

Interior di dalam pesawat dengan dominasi hitam dan putih dengan ruangan yang luas, dilengkapi dengan kursi dan beberapa sofa, meja kecil, perapian, mini bar, mini movie theater, dapur lengkap, dining table, TV layar datar 42 inci, tiga DVD player, dan grand piano membuat Neyna semakin terpukau. Ia tidak tahu kemewahan apalagi yang ada di pesawat jet milik Sehun, ia pusing kalau memikirkannya. Ia lebih memilih fokus pada acara berita yang Sehun setel saat ini.

 

 

“Aku lapar sayang. Aku rindu masakanmu.” Ucap Sehun merajuk. Ia menggulung ujung rambut Neyna berulang-ulang, pandangannya fokus ke wajah cantik Neyna – bukan ke acara berita yang disetelnya.

 

 

Neyna menoleh “Eumm…Baiklah. Aku akan memasak untukmu Sehun-sshi” Jawabnya kikuk.

 

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

 

Neyna berjengit risih saat Sehun lagi-lagi menyuapinya. Japchae (mie tepung ubi yang ditumis dengan sayuran) dan nasi goreng kimchi yang ia buat harus ia nikmati sepiring berdua bersama Sehun. Alasan bahwa ia akan makan setelah Sehun selesai makan di tolak mentah-mentah. Sehun melarang keras.

 

 

“Kau begitu cantik, kau punya sifat yang lembut, kau juga pandai memasak. Kenapa kau keterlaluan sekali huh?” Gerutu Sehun sambil memakan kembali japchae dan nasi goreng kimchi buatan Neyna. Masakan yang dihidangkan untuknya dengan sukarela ia bagi berdua. Sehun hanya ingin Neyna juga ikut makan bersamanya, tidak hanya menemaninya makan.

 

 

Neyna mengernyit, bingung dengan pujian dan pertanyaan Sehun “Keterlaluan Sehun-sshi?” Tanyanya ditengah kunyahannya.

 

 

“Kau membuatku begitu kacau sayang”

 

 

“A-apa?” Ucap Neyna terbata, gamang dengan kalimat Sehun.

 

 

Sehun mengecup bibir Neyna, lalu kembali menyuap nasi goreng dan japchae ke mulutnya. Neyna terkesiap, tindakan Sehun barusan membuat rasa penasarannya terpecah. “Perjalanan ini akan menghabiskan waktu sepuluh jam. Jadi setelah ini kita harus istirahat” Jelas Sehun sembari menyuapi Neyna, menyodorkan suapan terakhir pada gadisnya itu.

 

 

“Se-sepuluh jam?” Neyna memekik, suapan Sehun bahkan ia abaikan lantaran syok dengan kalimat terakhir Sehun.

 

 

“Iya.” Tandas Sehun singkat “Sudah cepat buka mulutmu. Jangan abaikan suapanku!” Lanjutnya tajam yang mau tidak mau dituruti oleh Neyna.

 

 

Neyna cepat-cepat mengunyah dan menelan makanannya. Ia bergerak gelisah di kursinya sambil menautkan kedua tangannya “Sehun-sshi besok aku masih harus mengajar sebelum ke Jepang. Aku rasa aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ini” Ucapnya pelan.

 

 

Sehun menggeram “Kau menghabiskan enam jam bersama mantan kekasihmu bisa. Sedangkan denganku tidak bisa begitu?” Sindirnya sinis.

 

 

“Bu-bukan begitu. Aku masih harus mengajar besok Sehun-sshi”

 

 

“Mulai sekarang kau tidak perlu mengajar” Sehun meraih gelas berisi air putih, meminumnya sedikit setelah itu memberikannya pada Neyna. “Drink it!” Titahnya otoriter.

 

 

“Ke-kenapa?”

 

 

“Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kita sampai Im Neyna. Sekarang minum atau aku akan menghukummu lagi!” Bentak Sehun sembari mencengkram dagu Neyna dengan satu tangannya dan menyodorkan paksa gelas berisi air putih ke mulut Neyna.

 

 

Neyna akhirnya menuruti perintah Sehun, ia takut Sehun menghukummnya lagi. Sehun lalu menggendong tubuh mungil Neyna sesaat setelah gadisnya itu menuruti perintahnya.

 

 

“Sehun-sshi mau kemana?”

 

 

“Ke kamar sayang” Jawab Sehun singkat. Ia tetap menggendong tubuh mungil Neyna seraya melanjutkan langkahnya menuju kamar di pesawat jet miliknya.

 

 

“Pesawat ini juga ada kamarnya Sehun-sshi?” Tanya Neyna penasaran yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Sehun.

 

 

Neyna terkesiap, jawaban Sehun bukan bualan. Ia lagi-lagi terpukau ketika berhasil memasuki kamar super mewah di pesawat pribadi milik Sehun. Interior kamar di pesawat jet milik Sehun masih di dominasi warna hitam dan putih dengan ranjang king size di tengah-tengah ruangan, karpet berwarna abu-abu di sekitar ranjang, serta kursi dan meja kerja di depan ranjang tertata apik layaknya kamar hotel bintang lima.

 

 

“Kau sudah tidak memakai plester di lenganmu hmm?” Tanya Sehun sesaat setelah ia membaringkan tubuh Neyna.

 

 

“Aku tidak perlu lagi memakainya… Ini bahkan bukan luka hanya titik kecil Sehun-sshi. ” Neyna menautkan ibu jari dan telunjuknya, berusaha menjelaskan luka miliknya pada Sehun.

 

 

Gadis yang mengenakan floral mint longdress dengan lengan pendek itu kini mengigit bibir bawahnya sembari memilin ujung rambutnya “Eumm…Apa kau yang memakaikan plester di lenganku kemarin?” Tanya Neyna menyelidik.

 

 

Sehun mengelus puncak kepala Neyna, mencubit hidung mancung gadisnya itu setelahnya “Iya…Aku yang menyebabkan luka di lenganmu jadi aku juga yang harus memakaikan plester itu.”

 

 

Neyna mengerjap cepat “A-apa? Ke-kenapa?” Tanyanya panik. Ia tidak menyangka luka kecil yang ia kira karna kecerobohannya, ternyata Sehunlah penyebabnya.

 

 

Sehun berjalan menuju stop kontak di sisi dinding, mematikan lampu kamar, dan menyalakan standing lamp di sisi ranjang. Sehun melepas kemeja biru dongker yang ia kenakan, kemudian mendudukan tubuhnya di tepi ranjang. “Kau akan tahu nanti sayang. Sudah jangan dipikirkan hmm” Sehun meraih selimut, lalu merebahkan tubuhnya di samping Neyna.

 

 

“K-kau a-akan tidur di-disini juga?” Tanya Neyna terbata.

 

 

Ada tiga kamar sebenarnya di pesawat jet Airbus A380-Custom miliknya ini. Tapi Sehun malas tidur di kamar lain. Tidur bersama Neyna lebih menyenangkan menurutnya. Lagipula selagi Neyna tidak tahu keberadaan kamar-kamar itu, ia harus memanfaatkannya kan? Dasar licik! Sehun menyeringai “Iya” Jawabnya singkat. Sehun menarik pinggang ramping Neyna, merengkuh tubuh mungil itu setelahnya. Neyna menggerakan tubuhnya, berusaha melepas rengkuhan Sehun. Tapi pergerakannya terhenti saat Sehun memelototinya dan memeluknya semakin erat.

 

 

“Aku akan menghapus jejak pria brengsek itu dengan aroma tubuhku lewat pelukan ini” Sehun mengecup puncak kepala Neyna “Jadi jangan memberontak!” Tandasnya sembari mencubit singkat pinggang Neyna.

 

 

Melihat Neyna yang masih memandanginya heran membuat Sehun menghela nafas berat. “Sleep now or I will ravish you sweetheart!” Ancam Sehun tajam, sontak membuat Neyna memejamkan matanya patuh. Sehun tersenyum tipis melihat tingkah lucu Neyna. Ia mengelus-elus punggung Neyna “Good night my princess” Ucap Sehun sebelum ikut memejamkan matanya.

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

Chanyeol melangkah tergesa diikuti dengan Hyera di belakangnya. Ia harus buru-buru kembali ke Seoul ketika mendapat telfon mendadak dari Sehun. Acara bulan madu di villa keluarganya di  Busan akhirnya gagal total karna ulah gila bossnya itu.

 

 

“Oppa Sehun benar-benar mencintai Neyna? Dari mana Oppa tahu Sehun mencintai Neyna eoh?” Tanya Hyera menyelidik sambil menarik baju Chanyeol dari belakang.

 

 

Chanyeol mengentikan langkahnya, lalu membalikan badan menghadap ke Hyera “Aku kan sudah bilang berulang kali Hyera-ya. Sehun mencintai Neyna.” Tandasnya dengan nafas yang masih terengah-engah.

 

 

“Dua hari lalu aku sempat berbicara dengan Sehun. Sehun nampak begitu serius saat aku menyinggung tentang Neyna. Aku tidak pernah melihat Sehun seserius itu mengenai wanita Hyera-ya… Sehun bahkan begitu frustasi saat mengungkapkan perasaannya. Aku kasihan sekaligus senang sebenarnya. Pria otoriter dan dingin macam Sehun akhirnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Tapi aku tidak yakin Neyna akan menerima cintanya dengan mudah karna yaa.. kau tahu kan Sehun begitu posesif dan pemaksa…Sifatnya itu mungkin akan menakuti Neyna…” Lanjut Chanyeol sembari duduk di bangku taman yang ada di belakang mansion Sehun.

 

 

Hyera mengerang “Oppa… Tiga hari lalu mantan kekasih Neyna menghubungiku. Dia menanyakan kabar dan informasi tentang Neyna. Dia juga mengatakan bahwa ia ingin kembali pada Neyna…Aaah aku yakin dia sudah menghubungi bahkan menemui Neynaku… Lalu bagaimana dengan Sehun nantinya eoh? Aku yakin bossmu itu akan lebih posesif pada Neyna kalau ia sampai tahu Oppa…” Ujarnya gelisah.

 

 

“Hyera-ya kenapa kau membantunya eoh? Kau kan sudah tahu kalau tiga hari lalu Neyna sudah menjadi kekasih Sehun.”

 

 

“Aku hanya kasihan padanya Oppa…Lagipula aku tidak mengira hubungan Sehun dan Neyna akan seserius ini.”

 

 

Chanyeol berdiri, lalu merangkul pundak Hyera “Ya sudah mulai sekarang kau tidak perlu menjawab telfon mantan kekasih Neyna eoh. Jangan membantunya lagi. Lebih baik sekarang kita menyusul yang lainnya” Tandasnya sembari menunjuk pesawat jet Boeing 747-430 yang hampir siap untuk take off.

 

 

 

 

————000————

 

 

 

Udara sejuk, elusan dan kecupan di pipi seketika membuat Neyna membuka matanya. Tidak lain tidak bukan, Sehunlah dalang utama yang sempat dan masih saja menjaili pipinya. Neyna berjengit geli saat Sehun malah semakin asyik mencium dan melumat pipinya gemas, meski jelas-jelas Sehun sadar kalau ia sudah bangun.

 

 

“Eunghh…Sehun-sshi please stop” Ucap Neyna sembari menjauhkan tangan kekar Sehun yang melingkari pinggangnya. Sehun memangkunya dalam posisi seperti sedang menggendongnya ala bridal saat ini. Dan itu membuat Neyna semakin risih karna jarak tubuhnya dengan Sehun yang terlampau dekat.

 

 

Sehun menyudahi kegiatannya di pipi Neyna, lalu menyeringai “Eoh kau sudah bangun ya sayang?” Tanyanya pura-pura tidak tahu.  Sehun menangkap tangan Neyna yang mencoba melepas rengkuhannya, kemudian menciumi punggung tangan mungil itu tanpa jeda.

 

 

Neyna menyerah untuk memberontak. Sehun susah diajak kompromi. Lebih baik ia fokus dengan tempat dimana ia berada saat ini. Matahari sore, bunga tulip berwarna warni, dan beberapa kincir angin. Neyna mengerjap berkali-kali ketika melihat pemandangan indah itu dari balik punggung Sehun. “Sehun-sshi kita ada di mana?” Tanyanya heran.

 

 

Sehun berhenti menciumi punggung tangan Neyna “Taman Keunkenhof Belanda sayang” Jawabnya santai.

 

 

“Be-belanda?”

 

 

“Iya… Kita ada di Belanda sayang. Kau tidur lelap sekali sampai kau tidak tahu kalau kita sudah ada disini sejak sejam yang lalu.” Ucap Sehun  sembari mencubit hidung Neyna gemas.

 

 

“Eumm… Sehun-sshi berarti aku tidur lebih dari sepuluh jam?”

 

 

Sehun mengangguk, mengiyakan. Ia menggendong Neyna dan menegakkan tubuh mungil gadisnya itu di tengah hamparan bunga-bunga tulip. “Sekarang hampir jam enam sore sayang. Seoul dan Belanda beda delapan jam. Aku sengaja mengajakmu kesini untuk melihat sunset di taman ini. Bagaimana? Pemandangan di sini lebih bagus kan dari Pulau Nami yang kau kunjungi kemarin bersama si brengsek Kim Jongin itu?” Tanyanya sembari memeluk Neyna dari belakang.

 

 

“Kau menguntitku Sehun-sshi?” Cicit Neyna takut-takut.  Ia bergidik ngeri lantaran Sehun sampai begitu detail mengetahui kalau ia sempat ke Pulau Nami kemarin.

 

 

“Memantau. Bukan menguntit. Lagipula bukan aku yang melakukannya langsung sayang” Sehun melepas pelukanya di tubuh Neyna “Tapi orang suruhanku!” Lanjutnya tajam.

 

 

Neyna terbelalak, Sehun benar-benar mengerikan. Parah. “Apa setelah melihat sunset itu kita akan segera pulang Sehun-sshi?” Tanyanya seraya menunjuk matahari yang mulai terbenam di hadapannya.

 

 

“Tidak. Taman ini aku beli untukmu sayang. Setidaknya kau harus nikmati seharum apa bunga-bunga tulip di sini.”

 

 

“Be-beli?” Tanya Neyna terbata.

 

 

“Ya… Itulah kenapa taman ini sepi sayang. Lagipula…” Sehun menghela nafas “Kita akan menikah dua jam lagi.” Tandasnya sembari mengecup punggung tangan Neyna bergantian.

 

 

Neyna menggeleng dan menghempaskan paksa ciuman Sehun di punggung tangannya. “Kau pasti berbohong padaku eoh?” Tanyanya histeris. Neyna melangkah mundur, menjauhi Sehun.

 

 

Sehun terkekeh “Aku.tidak.berbohong.sayang. Kita.akan.menikah.hari.ini” Ujarnya penuh penekanan. Sehun memetik bunga-bunga tulip sambil melangkah mendekati Neyna “Jadi sekarang jelas kan? Kenapa mulai sekarang kau tidak perlu mengajar lagi Im Neyna” Lanjutnya dingin.

 

 

Air mata sudah mengalir membasahi pipinya, tubuhnya juga bergetar karna syok. Neyna membalikan badan, hendak berlari sejauh-jauhnya. Tapi sayang, lagi-lagi niatannya lebih dulu dibabat habis oleh Sehun.

 

 

Sehun mencekal bahu Neyna dengan lengan kirinya dari belakang “Luas taman ini lebih dari 50 hektar dengan dua puluh bodyguard sewaanku di setiap sisi taman sayang. Kau pikir kau bisa kabur dariku hmm?” Tanyanya tepat di telinga Neyna. Kemudian, Sehun melepas cekalannya, membalikan tubuh Neyna paksa, dan merengkuh pinggang ramping gadisnya itu setelahnya.

 

 

“Aku tidak mau menikah denganmu Sehun-sshi. Aku takut padamu hiks.. .hiks..” Ucap Neyna sambil terisak. Neyna yakin suatu saat nanti Sehun akan melepaskannya karna statusnya dan Sehun hanya sebatas kekasih. Tapi ternyata, dugaaanya salah. Sehun malah semakin kelewatan. Sehun malah akan mengikatnya. Selamanya. Dan ia tidak mau. Ia tidak mau menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Orang yang paling ia takuti. Oh Sehun.

 

 

Sehun tertawa geli sambil membelai pipi mulus Neyna dengan bunga-bunga tulip yang sempat ia petik tadi “Aku koreksi kalimatmu hmm…Aku mau menikah denganmu Sehun-sshi. Aku menginginkanmu. Bagaimana? Lebih bagus kan sayang…” Ucapnya seduktif. Tanpa menunggu jawaban Neyna, dengan sigap Sehun membopong tubuh Neyna di pundaknya.

 

 

“Sehun-sshi lepas aku mohon”

 

 

“Shut up!” Bentak Sehun sembari memukul pelan bokong Neyna dengan bunga-bunga tulip di genggamannya. Sehun membuang bunga-bunga tulip itu saat Neyna sudah berhenti meronta, lalu melanjutkan langkahnya menuju gerbang depan taman.

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

 

Dua pria berjas membukakan pintu limousine yang Sehun dan Neyna tumpangi setibanya di Grand Amrath Hotel Amsterdam. Sehun keluar lebih dulu dari limousine miliknya, membungkukan tubuhnya, lalu menggendong Neyna ala bridal.

 

 

“Wrapped your hands on my neck sweetheart!” Titah Sehun tegas.

 

 

Neyna menuruti perintah Sehun sambil terisak. Meski Sehun berkali-kali menyeka air matanya, ia tetap saja sulit untuk berhenti menangis. Takut. Neyna takut menghadapi pernikahannya dengan Sehun. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Berharap Sehun akan luluh oleh tangisannya. Tapi mustahil. Sehun bagaikan iblis yang tidak terenyuh sedikitpun dengan air mata.

 

 

Sehun berjalan santai sambil menggendong Neyna, tanpa menghiraukan empat puluh pria berjas dan enam puluh pegawai hotel yang kini membungkuk serentak di kanan dan kiri lobi hotel miliknya. Di depan lift, lima wanita berjas dan lima pria berjas lainnya langsung membungkuk hormat sebelum mengekor di belakang Sehun.

 

 

Tidak ada satupun tamu hotel karna Sehun sengaja menutup Grand Amrath Hotel untuk publik hari ini – khusus untuk perhelatan pernikahannya. Masih dengan pengawal di belakangnya, Sehun ke luar dari lift dan langsung melesat menuju ke president room nomor 323.

 

 

“Pengawal pria berjaga di luar…pengawal wanita ikut aku masuk ke dalam.” Titah Sehun pada para pengawal yang mengekornya sedari tadi sesampainya di depan kamar hotel.

 

 

Kamar hotel berdesign classic dengan dominasi warna krem terlihat mewah dan megah. Sehun yang masih menggendong Neyna kini berjalan menuju ranjang king size bertabur kelopak bunga mawar di kamar berlabel president tersebut. “Bibimu sudah tiba sayang. Aku akan panggil bibimu hmm” Ucapnya sambil mendudukan Neyna di tepi ranjang.

 

 

“Auntieku ada di sini?” Tanya Neyna antusias. Harapan untuk kabur terbuka lebar kalau ia membeberkan pernikahan paksa yang akan ia jalani dengan Sehun pada bibinya. Setidaknya bibinya akan membelanya.

 

 

Menyadari perubahan drastis pada nada bicara Neyna membuat Sehun jengkel sebenarnya. Ia bisa menebak niatan gadisnya itu. Apalagi kalau bukan mengadu lalu kabur. Sehun menggeram sebentar, lalu mengangguk “Iya bibimu ada di sini. Sudah jangan menangis lagi. Tersenyumlah sayang.” Ucapnya sambil menyeka air mata Neyna dengan ibu jarinya. Sehun mengecup pipi Neyna “Aku tunggu di altar. Awas kalau sampai kau menolakku nanti!” Ancamnya tajam, sontak menghentikan angan-angan Neyna untuk kabur dari pernikahan paksanya dengan Sehun.

 

 

 

“Salahkan dirimu yang membuatku begitu gila sayang. Aku menginginkanmu kemarin, sekarang, dan selamanya” Ucap Sehun membatin seraya melangkah keluar.

 

 

 

 

 

 

TBC

 

  • Grand Hotel Amrath itu hotel bintang lima yang ada di Amsterdam
  • Taman Keukenhof ada di Kota Lisse, sekitar 40 menit dari Amsterdam. Sehun sengaja beli taman itu soalnya selain cemburu Neyna asik-asikan jalan sama Jongin ke Pulau Nami, dia juga pengen bikin Neyna seneng. Soalnya kan Sehun tahu Neyna suka bunga, lagipula Belanda terkenal sama bunganya yang kece-kece tuh, yaudah sekalia aja dah nikah mereka. (Kalau jadi ya haha)
  • Boeing 747-400 (milik Pangeran Al-Waleed bin Talal dari Arab harganya $220 juta), Boeing 747-430 (yang dinaikin Chanyeol dll – milik Sultan Brunei harganya $233 juta), Airbus A340-300 (milik Alisher Usmanov harganya $250-500 juta), Airbus A380-Custom (yang dinaikin Sehun&Neyna –milik Pangeran Al-Waleed bin Talal dari Arab harganya $500 juta), dan Boeing 747 refit (milik milyarder belum ketahuan siapa orangnya harganya $617 juta)
  • Aku gak bakal munculin Jongin sendirian soalnya dia kan cuma pengganggu ya disini haha (Sorry Jongin ^^)

 

 

 

Regards

 

 

Angeldevilovely95

 

 

 

Iklan

164 thoughts on “Closer (Chapter 5)

  1. Sehun… Sini yuk bang, gue pengen ngebunuh lu jadinya bang -.- Anak orang bang… Anak orang… Ya ampun dibikin ketakutan begitu, ckckck

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s