I Love My Father (Chapter 11)

picsart_11-18-12-24-00

Title: I Love My Father

Cast:

  • Xi Luhan as Shin Luhan
  • Shin Youngah OC
  • Park Chanyeol
  • Huang Zi Tao as Hwang Zi Tao

Author: SungRIMIn

Genre: Romance, Supranatural, Mystery

Lenght: Chaptered

Rating: General

***

YoungAh menangguk. Ia tak menyangka punya teman secerdas ChanYeol. Ia sudah ahli menangani kasusnya dengan tangan nya sendiri, tanpa bentuan siapapun, tanpa bantuan dirinya. Hanya bermodal kekuatan telepati saja. Mungkin, keluarganya adalah keluarga hukum, jadi ia mengerti mengenai kasus-kasus yang berada di muka bumi. Ia juga hafal terhadap pasal-pasal yang berlaku dan ketentuan hukuman. Ia benar-benar pintar!

Sesampainya di kantor lalu lintas, ChanYeol turun dari mobil mewahnya. Jendela mobilnya ia buka agar ia tahu kondisi YoungAh didalam. “Kau tunggu sini!” ChanYeol menghadapkan dirinya kesebuah gedung berwarna peach, dengan struktur bangunan seperti bangunan kuno. Lalu masuk kedalam dan meninggalkan YoungAh sendiri di dalam mobil.

Perasaan YoungAh getar-getir. Ia belum pernah merasakan kepanikan luar biasa seperti ini. Ia seperti seseorang yang menunggu hasil ujian, antara lulus atau tidak. Ia tak bisa bayangkan apabila ia bukan anak Luhan. Ia juga tak bisa bayangkan kalau ia benar anak Luhan. Ia benar-benar serakah! Ia berharap bahwa dirinya bukan anak Luhan, karena ia ingin perasaan ini bisa lanjut ke tahap yang lebih jauh, atau ketahap pernikahan. Tapi, ia juga berharap kalau ia ingin jadi anaknya, karena ia takut  jauh dari Luhan. Kalau kenyataan dia bukan anaknya? Ia takut akan dibuang begitu saja oleh Luhan. Tapi apa benar Luhan setega itu pada wanita?

ChanYeol membuka pintu setelah ia di izinkan masuk keruang pemantauan. Ternyata, semua pekerja yang ada di kantor ini mengenalnya sebagai anak dari Pengacara Park yang handal. Jadi, ia begitu mudahnya masuk ke ruang utama.

“Ada yang bisa ku bantu?” tanya seorang lelaki paruh baya dengan postur badan pendek dan gendut.

“Aku ingin melihat kecelakaan yag terjadi tanggal 8 desember tepat pukul 06.30.” ChanYeol berkata lantang. Membuat lawan bicaranya menunduk, mengiyakan perintah ChanYeol.

Tanpa perintah siapapun, ChanYeol mendekat kelayar monitor yang memperlihatkan kejadian tanggal 8 desember silam, dimana ia menabrak YoungAhyang sedang berlari ketakutan. Ia hanya ingin mengetahui apa benar Tao yang melakukannya.

“Berikan aku copy-an nya!” ChanYeol berkata cepat. Ia tak ingin membuang-buang waktu terlalu lama lagi, waktu nya sangat singkat hari ini. Mungkin banyak orang yang beranggapan, ‘Besok kan masih bisa!”. Tapi ChanYeol enggan menunda-nunda waktu.

“Baik!” petugas itu menuruti keinginan anak Pengacara kondang itu. Sedangkan ChanYeol, meneliti kebenaran yang ada dalam rekaman cctv tersebut.

‘Kalau YoungAh tahu, pasti ia sangat shock!’ ia terus berkutat pada pikirannya, ia tak ingin YoungAh stres berat mengetahui kejadian ini. Apalagi, kalau hasil tes dna itu keluar, ia semakin tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada jiwa YoungAh selanjutnya.

“Ini copy-annya!” petugas paruh baya itu memberikan sebuah flashdisk pada ChanYeol. Ia menerimanya dengan kasar, bukan berarti ia berlaku kasar pada petugas tua itu, ia hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

“Terimakasih! Aku akan memberi mu uang dan flashdisk ini apabila kasus yang sedang kutangani selesai. Kau pegang janjiku!” sebelum petugas itu mengangguk, ia sudah terlanjur pergi meninggalkan ruangan itu.

Petugas itu, kenal sekali pada keluarga Park. Dari mulai Kakeknya, sampai Ayahnya. Keluarga Park, dikenal sebagai keluarga Pengacara yang handal dalam menangani kasus. Maka dari itu, petugas tersebut dengan mudahnya memberikan copy-an cctv. Dan sebersit ide, muncul dalam benak petugas yang bernama, Lee Yook Nim.

ChanYeol menutup pintu mobil dengan kasar, membuat YoungAh kaget setengah mati. Gerakan Chanyeol yang super cepat, membuatnya tak tahan berlama-lama dekat dengannya. Ia sangat kasar dan suka membentak.

Ia memasukkan flashdisk kedalam laptop yang secara otomatis berada pada mobil nya. Ia sengaja memodifikasi mobil nya agar diberikan laptop yang secara otomatis akan muncul apabila memencet tombol berwarna merah yang berada dashboard mobilnya.

“Tapi YoungAh!” ChanYeol menghentikkan pergerakat lengan YoungAh yang ingin menekan tombol ‘Play’ untuk melihat cctv tersebut. “Kau tidak boleh shock melihatnya! Aku khawatir padamu!” YoungAh menatap mata ChanYeol dalam. Ia tersenyum untuk mempercayai ChanYeol bahwa dirinya bukan wanita lemah, ia kuat menghadapi semua ujian yang diberikan Tuhan padanya! Ia akan menerima resiko apapun setelah melihat cctv ini! Sebenarnya, perasaan nya telah terombang ambing. Apa ChanYeol bisa melihat itu kedalam matanya? Membohongi ChanYeol seakan-akan ia baik-baik saja.

ChanYeol percaya pada senyuman yang dilontarkan YoungAh dan melepaskan tangan yang telah menghentikan pergerakkan YoungAh. Setelah tombol ‘Play’ ditekan, tampilah suatu kejadian pada saat YoungAh mengalami kecelakaan. Terdapat satu orang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang berlari menyusuri jalan dengan padatnya gedung-gedung.

YoungAh menyipitkan matanya, tak mengerti maksud dari cctv tersebut. Suara tak ada, gambar tak jelas dan banyak jeda. Tau sendiri kan kualitas video yang dihasilkan dari cctv?

“Aku tak mengerti.” YoungAh menggelengkan kepalanya, masih menatap rekaman cctv.

ChanYeol mendesah panjang, “Kemari kau!” YoungAh mendekat pada ChanYeol, sesuai dengan perintahnya. “Tutup matamu!” ChanYeol menutup mata YoungAh yang tertutup dengan telapak tangannya. Dan tak lama, ChanYeol mengisyaratkan pada YoungAh untuk melihat lagi rekaman cctv itu.

“Heii YoungAh kembali lah!! Mau pergi kemana kau?!”

            “Tidak! Aku tak ingin kembali padamu Tao!!”

            “Kembali kau!”

            “Tidak!”

“Heii mau lari kemana kau??”

“Jangan ikuti aku! Pergilah menjauhh!!”

“Aku tak akan melepaskan mu pergi!! Tak akan pernahh!!”

TIINNNN TINNNN….. suara klakson mobil lamborghini hitam terdengar, lalu…

 BRAKKK. Wanita bernama YoungAh terkapar tak sadarkan diri diatas aspal dengan kucuran darah yang keluar dari kepalanya.

seorang lelaki dengan seragam sekolahnya keluar dari mobil untuk melihat keadaan korbannya. Ia memangku kepala YoungAh di kedua pahanya, mengusap darah yang terus mengalir dikepala gadis cantik itu.

“Tolong aku, Park Chan Yeol!” sesaat kemudian, gadis yang dibaluti pakaian kantor dengan rok hitam selutut, kemeja hitam dan blazer merah marun, tak sadakan diri. ChanYeol mengguncang bahu gadis itu kencang, tubuhnya lemas seakan tak bernyawa. Tapi, otak ChanYeol tak buntu, ia memeriksa denyut nadi dan nafasnya.

“Nadinya berdenyut dan nafas nya masih ada. Tak ada waktu lagi bagiku untuk membuang-buang waktu! Aku harus membawa gadis ini ke rumah sakit segera agar nyawanya tertolong!” baru saja ChanYeol ingin membopong YoungAh memasuki mobilnya, tapi seorang laki-laki muncul di belakangnya dan menghentikan dirinya.

“Tidak usah!” seru lelaki itu lantang. “Dia menjadi tanggung jawabku sekarang!”

ChanYeol berbalik menghadap lelaki itu, tubuhnya gemetar karena takut dengan apa yang terjadi selanjutnya. “Maafkan aku! Aku tak sengaja menabraknya!”

“Sudah tak apa! Ini bukan salahmu, ini salahnya!” lelaki itu mengambil alih tubuh YoungAh, ia membopongnya dan berpamitan pada ChanYeol yang masih ketakutan. “Aku memaafkanmu!” lelaki itu tersenyum hangat pada ChanYeol yang dibalas dengan senyuman getir.

“Kau tidak akan menghukumku?” lelaki itu berbalik lagi saat mendengar pertanyaan ChanYeol.

“Tidak.” Lelaki itu menggeleng dan berusaha tersenyum hangat.

“Bolehkah aku menjenguknya? Beritahu aku alamat rumah sakitnya!”

“Tidak! Kau tak usah menjenguknya! Anggap saja kejadian ini tak pernah ada sebelumnya!” lelaki itu berbalik sepenuhnya meninggalkan ChanYeol sendirian yang dibalut rasa takut dan khawatir. Lelaki itu pergi menggunakan taksi yang kebetulan lewan di sekitar jalan. ChanYeol benar-benar buyar dan tak bisa berfikir secara jernih. Ia sampai tak kefikiran untuk mengejar taksi tersebut.

Rekaman cctv itu berhenti. YoungAh terdiam setelah itu, setelah ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tao, yang dikenal sebagai paman nya, kenapa begitu kejam padanya? Tao memperlakukannya seperti buronan polisi. Begitu menakutkan dan kasar pada wanita. Sekarang? YoungAh haru percaya pada siapa? Pada Tao yang berada di rekaman cctv atau Tao yang memperkenalkan diri padanya sebagai paman? Apa Tao punya kembaran? Pertanyaan itu terus berputar putar didalam otaknya.

ChanYeol menolehkan kepalanya untuk melihat wajah YoungAh yang terlihat bingung. Matanya tak berkedip saat rekaman cctv itu selesai. Detak jantung ChanYeol berdetak kencang, khawatir dengan keadaan YoungAh yang akhir-akhir ini mulai memikirkan jati dirinya tersebut.

“Ayo kita kesekolah.” Selak YoungAh sebelum ChanYeol berkata. Ia sudah tau apa yang ingin ChanYeol katakan. Pasti ia akan mengatakan ‘YoungAh? Kau baik-baik saja?’

Setelah mendengar selakkan dari bibir YoungAh, ChanYeol menurutinya dan menginjak gas untuk menjalankan mobilnya.

Didalam mobil, suasananya sangat mencekam. Tak ada satu pun dari kedua manusia itu yang berbicara, semuanya diam membisu, tak ada yang berbicara. Apa mungkin, mereka tidak ada topik pembicaraan? Ataukah, berdiam diri seperti ini memang keinginan mereka? Entahlah! Yang tau hanya mereka.

Sesampainya di sekolah sekaligus diruang kelas, ChanYeol dan YoungAh disambut oleh teman-teman sekelasnya. Ralat! Bukan mereka berdua, tapi hanya ChanYeol seorang.

“Hei ketua! Kau darimana saja hah? Jam segini baru kelihatan!” seru Byun Baek Hyun, lelaki yang pernah duduk sebangku dengan ChanYeol.

“Apa Ibu ku tidak membertitahu pada kalian semua?” jawab ChanYeol mendudukkan dirinya pada bangku tempat duduknya.

“Iya, Ibu mu tadi ke kelas dan membertahu pada kami semua kalau kau terlambat!” BaekHyun mendudukkan dirinya pada meja ChanYeol. “Tapi ia tak memberitahu apa alasannya! Memang, kau kenapa datang terlambat?”

“Aku sedang mengurusi sebuah kasus!” ChanYeol memandang ke arah YoungAh yang sedang terdiam, kepalanya ia tidurkan di atas meja dan memandang ke depan. Ia mengandalkan dagunya untuk menopang berat kepalanya. “Kau taukan? Aku ini anak pengacara! aku ingin mencoba menyelesaikan sebuah kasus diusia 17 tahun ini.” ChanYeol tertawa membanggakan dirinya.

BaekHyun mendengus mendengar perkataan temannya sejak SMP yang berubah ceria setelah menaikki kelas 2 SMP, “Iyalahh.. aku tahu itu! Seharusnya kau di alfain! Bukan di izinin! Mentang-mentang anak dari pemilik sekolah ini, kau malah seenaknya menyalahgunakan kekuasaan!”

ChanYeol tertawa terbahak-bahak mendengarnya, “Haha.. maaf maaf..”

“Oh ya, kau tak ingat hari ini Guru Choi ulang tahun?” Baekhyun memajukan wajahnya ke hadapan ChanYeol.

“Benarkah?” ChanYeol terlihat kaget, padahal ia tahu bahwa guru cantik itu berulang tahun hari ini.

“Iya! Tadi kita berpesta di kelas ini! Seru sekali!”

“Hah?? Benarkah? Haishh aku tak bisa berada di moment itu!” ChanYeol menunduk seakan-akan ia sedih karena tak bisa menghadiri pesta ulang tahun Guru Choi.

“Kau sih.. sibuk dengan kasus mu! Nikmatilah masa muda mu dengan berpesta, senang-senang, dan masih banyak lagi! Jangan lah kau memiliki beban berat seperti itu! Kasus lah, cinta lah. Jangan kau pikirkan itu dulu! Kasus, biar Ayah mu saja yang tangani! Cinta?” Baekhyun lebih mendekat dan membisikkan sesuatu pada ChanYeol, “Perempuan di sampingmu itu, YoungAh, si anak baru. Aku tahu dia cantik, tapi jangan lah kau jatuh cinta padanya! Kita ini masih SMA! Kalau kau jatuh cinta padanya, lalu pacaran, terus putus, buat apa?! Hanya bisa nyakitin! Udah gitu, kalau putus terus musuhan bisa bahaya? Kau tidak bisa berhubungan dengannya lagi, tidak seperti ini! Kau akan merindukannya, lalu terus menerus mengingat masa lalu dengannya, kenangan-kenangan manisnya dan lain-lain. Buanglah cinta monyetmu itu! Memiliki cinta yang tulus itu di masa depan, bukan sekarang! Kalau sekarang? Kita mau bahagiain pasangan kita dengan apa? Dengan uang orang tua? Haishh memalukan! Kau camkan kata-kata ku! Kau tahu kan, kata-kata ku selalu mujarap! Kau dan aku sama-sama belum pernah pacaran oke! Tapi aku sudah merasakan cinta.” ChanYeol terdiam mendengar pernyataan Baekhyun yang begitu menusuk hatinya. Telepatinya cukup kuat juga, seakan ia tahu benar apa yang ChanYeol rasakan saat ini. Kata-kata Baekhyun juga termasuk prediksi dalam dirinya. Dari SMP, ia sudah mempercayai perkataan Baekhyun yang semuanya benar.

“Emm. Baiklah.. lagipula, aku tak menyukainya!” ChanYeol berkata pelan.

“Benarkah? Yasudah, kalau begitu aku tak ada saingan.”

ChanYeol membulatkan matanya dan memukul paha Baekhyun, “Hei apa yang kau katakan?”

“Kau ketahuan! Kau tak bisa membohongiku Park Chan Yeol! Kalau kau tak menyukainya, kenapa kau marah?” Baekhyun tertawa kemenangan, “Telepatiku ini sangat kuat terhadap mu ChanYeol!”

“Hmm..” ChanYeol mendesah pelan, ia telah kalah dalam perdebatannya dengan Baekhyun.

Tiba-tiba, ponsel ChanYeol berbunyi, ada panggilan masuk dari supirnya. Ia tahu, supirnya itu telah membawakan hasil tes DNA milik YoungAh. Benar-benar supir yang bisa dihandalkan!

“Iya ada apa pak?” tanya ChanYeol dari telepon

“Saya sudah didepan sekolah, Tuan Muda. Saya sudah membawakan hasil tes DNA yang Tuan Muda perintahkan.” Jawab supirnya dari seberang sana.

“Oke, saya akan kesana!”

Panggilan masuk di akhiri.

ChanYeol menoleh pada YoungAh yang tak merubah posisinya, ia jadi khawatir apa YoungAh masih bernafas atau tidak?

“Supir ku sudah datang dan membawakan hasil tes DNA itu, kau mau ikut tidak?” ChanYeol menawarkan dua pilihan pada YoungAh.

YoungAh menegakkan tubuhnya dan menoleh pada ChanYeol, “Tidak, aku disini saja.” Ia tersenyum, senyum yang mengisyaratkan ia lelah dengan hidupnya yang penuh dengan mistery dan tanda tanya.

ChanYeol mengangguk, ia tak memaksakan kehendak YoungAh yang sedang kacau hari ini, “Baiklah.” Setelah itu, ia pergi keluar kelas.

YoungAh memandang tubuh ChanYeol yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Ia diam sejenak, memastikan ChanYeol sudah benar-benar keluar dari gedung ini. Setelah 1 menit berlalu, ia bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan kelas. Ia pergi menuju perpustakaan untuk mencari buku yang pernah ia temui saat menemani ChanYeol meminjam buku.

***

ChanYeol berjalan menghampiri supirnya yang sedang berbincang-bincang dengan satpam sekolah. Supirnya, Yang Jae Rim, menunduk hormat saat bertemu pandang dengan majikannya, begitu juga dengan satpam sekolah, Ha Soon Hyuk.

“Ini tuan muda, hasil tes DNA nya!” Supir Yang menyerahkan amplop putih kepada ChanYeol, dan ChanYeol menerima itu.

“Terimakasih.” ChanYeol berbalik menuju gedung sekolahnya, ia tak sabar ingin memberitahu berita baik atau burukkah kepada YoungAh.

Ponselnya bergetar, pertanda ada panggilan masuk.

“Ya YoungAh, ada apa?”

“Kau dimana?”

“Aku ada ditangga, kenapa?”

“Bagaimana hasil tes DNA ku?”

“Aku tak tahu, aku belum membukanya!”

“Buka sekarang!”

“Aku tak ada hak untuk membukanya. Biar kau….”

“Cepat buka!!” YoungAh berteriak diluar sana. Sesegera mungkin, ChanYeol membuka amplop yang masih tersegel.

Ia membukanya takut, ia takut hasil nya tidak sesuai dengan harapan ChanYeol dan YoungAh.

“Kau… tidak cocok dengan Ayahmu.. Hasil tes DNA nya tidak cocok!”

TUUUT.. TUUUT.. panggilan terputus secara sepihak. YoungAh memutuskan panggilan dan perasaan tak karuan mulai menguasai dirinya. Entah kenapa hati nya tak enak, ia merasa ada kejanggalan dalam diri YoungAh.

“Heii YoungAh.. YoungAh..!!” ChanYeol berusaha memanggil YoungAh yang sudah memutuskan panggilan, berharap ada suatu keajaiban yang muncul saat ia memanggil YoungAh.

Dua orang siswi berhenti melangkah saat mendengar ChanYeol memanggil YoungAh. “Kau tadi menyebut YoungAh? Si anak baru itu?”. ChanYeol mengangguk. “Tadi aku melihatnya ada di atap sekolah. Ia memegang pot kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia seperti ingin bunuh diri…” saat siswi itu menjelaskan apa yang terjadi pada YoungAh, ChanYeol segera menghambur meninggalkan siswi tersebut tanpa mengucapkan terimakasih.

Di atas atap sekolah, tempat orang-orang menyendiri dalam keterpurukan, kini ramai orang. Orang-orang bergerombol mengerubungi 1 orang manusia yang diyakini adalah YoungAh. YoungAh seperti bahan pertunjukkan, siswa-siswi yang sedang menonton bukannya menghentikkan aksi YoungAh, malah bungkam dan membiarkannya begitu saja.

Terlihat, ditengah sana, Shin Young Ah berdiri dengan raut wajah yang frustasi. Rambutnya sudah tak beraturan, wajahnya kusut, dan ada bekas air mata di kedua pipinya. Tangan kanannya memegang satu pot kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia hadapkan pot itu kearah samping kepalanya. Yang berdiri disana, seperti bukan YoungAh, ia seperti dikendalikan oleh Setan.

“YoungAh! Apa yang kau lakukan?” ChanYeol berdiri dihadapan YoungAh, agak jauh dari tempat YoungAh berdiri.

“Aku frustasi ChanYeol!! Aku frustasi!! Aku ingin ingatanku kembali! Aku ingin mengetahui siapa diriku sebenarnya?! Siapa Ayahku?! Siapa Tao?! Dan siapa dirimu?!” YoungAh berkata kencang. Mungkin, hampir seluruh sekolah mendengar perkataannya.

“Aku tahu kau kesal YoungAh! Tapi, bukan seperti ini caranya!” bujuk ChanYeol.

“Lalu dengan apa? Menunggu aku bermimpi lagi dan mengetahu penggalan-penggalan ingatan tersebut? Sampai kapan ChanYeol?! Sampai kapan?! Mimpi itu tidak muncul setiap aku tidur! Walaupun setiap aku tidur aku selalu memimpikan ingatanku, aku harus tidur sebanyak berapa kali agar ingatanku kembali sepenuhnya?? Sampai kapan ChanYeol??”

“Kalau ingatanmu tak kembali bagaimana? Kalau ternyata kau meninggal bagaimana?”

“Ingatanku pasti kembali, aku baru saja mepelajari tentang penyakitku ini!” YoungAh tersenyum getir untuk menangani ChanYeol yang terlihat panik. Setetes buli air mata mengalir membasahi pipi YoungAh. Ia harus kuat menjalani ini semua. Ia harus berani untuk memecahkan pot itu ke kepalanya. Toh, ini semua demi kebaikannya. Mungkin. “Kalau aku meninggal, itu semua takdirku. Kita tak bisa melawan takdir bukan?” ChanYeol menunduk, mengeluarkan semua air matanya. Air mata YoungAh juga keluar cukup deras, sama seperti ChanYeol.

PRAKK..

Suatu kejadian yang tak ingin ChanYeol lihat terjadi sudah. Pot yang dibawa YoungAh membentur kepalanya, sehingga membuat YoungAh terkapar tak berdaya. ChanYeol tak tinggal diam, ia berlari menghampiri YoungAh yang mengeluarkan banyak darah dari kepalanya. Darah yang keluar sekarang, lebih banyak dari darah yang keluar saat ia kecelakaan. Perasaan takut mulai menguasai dirinya, ia benar-benar takut kehilangan Youngah. Takut akan maut yang akan hadir menjemput YoungAh.

“YoungAh.. bangun YoungAh!! Kau dengar aku??!!” ChanYeol mengguncang bahu YoungAh yang tak sadar kan diri. Ia segera membopong YoungAh kerumah sakit.

TBC

5 thoughts on “I Love My Father (Chapter 11)

  1. Ya ampun sampai frustasi gitu youngah. Aku juga pensaran dengan masalalunya mengapa ia mengenal chanyeol dan tao mengapa berniat jahat padanya. Juga luhan bagaimana mengetahuinya jika youngah ternyata bukan putrinya.
    Next chapternya ya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s