It’s Okay Even If It’s Hurt (Chapter 5)

img_2180

 

|| It’s Okay Even If It’s Hurts || Part 5 ||

 

Main Cast         : Son Ye Jin (OC), Park Chanyeol (EXO-K

Authors             : Applexopie

Support Cast     : Lee Ho Jung (Actris)

Length               : Multichapter

Genre                : Family, Sad, Romance(?) and

Rating               : PG+15

Happy Reading!!!

 

 

 Aku tidak tahu. Aku mengenal semuanya, tapi…siapa kau?

 

-xXx-

 

“Kami terkejut ketika Nyonya Ye Jin berteriak. Jadi kami memutuskan untuk menghampirinya. Namun setelah sampai di kamar Nyonya Ye Jin, beliau tidak ada. Bahkan kami sudah periksa di seluruh ruangan, tetapi kami tidak menemukan Nyonya Ye Jin.” Pengawal itu menundukkan kepalanya setelah mengakhiri laporannya. Chan Yeol menatap kedua pengawal itu dengan kening mengkerut. Ia mengepal tangannya kuat kemudian berlari meninggalkan dua pengawal itu sendiri di tepi pantai.

Chan Yeol berdiri menuju Villa untuk memastikannya sendiri. Ia dengan cekatan menaiki tangga dan berlari menuju kamar dimana ia terakhir melihat Ye Jin. Chan Yeol mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.

“Ye Jin-ah!! Neo eoddi!!??” Chan Yeol berteriak kemudian mencari-cari Ye Jin di dalam kamar itu. Chan Yeol mengecek ke kamar mandi namun hasilnya nihil. Chan Yeol keluar kamar itu dan mencarinya di ruangan lainnya, namun usahanya tak membuahkan hasil apapun. Entah apa yang membuat Chan Yeol begitu khawatir dan peduli ketika mendengar bahwa Ye Jin menghilang. Bukankah itu kabar gembira untuknya? Bukankah itu bagus? Bukankah Chan Yeol membenci Ye Jin? Tetapi kenapa sekarang Chan Yeol begitu khawatir? Chan Yeol berjalan cepat menghampiri semua pengawal berpakaian hitam itu. Mereka semua menundukkan kepala mereka sendu. Chan Yeol mengepal tangannya kuat. Mukanya memerah.

“Lalu apa yang kalian lakukan tadi? Bukankah kalian yang mengatakan padaku kalau kalian akan menjaga Villa?!!” Chan Yeol berteriak kepada semua pengawal itu. Ia menatap tajam semua pengawal itu yang masih mematung di hadapannya.

“Tunggu apalagi? Cepat temukan dia!!” Chan Yeol berteriak membuat pengawal-pengawal itu bubar dan memencar mencari Ye Jin. Entah mengapa pengawal-pengawal itu terlihat begitu bodoh. Apa saja kerja mereka? Selepas semua pengawal itu pergi, tubuh Chan Yeol terlihat oleng. Ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri. Ia berjalan pelan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya disana. Ia menjambak rambutnya frustasi. Ia belum pernah khawatir seperti ini bahkan dengan Ho Jung pun tidak pernah.

“Bagaimana dia bisa menghilang? Apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan tadi ia terlihat baik-baik saja.” Chan Yeol bergumam. Ia terlihat bingung. Bingung dengan perasaannya? Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Chan Yeol melirik ponsel yang ia letakkan di atas meja di depannya. Kedua bola mata itu terbelalak ketika melihat nama si pemanggil. Chan Yeol meraih ponselnya dengan tangan bergetar, namun ia tetap mengangkatnya. Mukanya sangat pucat, keringat dingin membasahi tubuhnya.

Yeo—Yeoboseyo Eomma~”

                “Chan Yeol-ah eotteohke? Kalian sudah sampai, kan? Bagaimana dengan Ye Jin? Apa dia senang dengan Villa kita?” Suara Nyonya Park terdengar begitu bahagia dari sebrang telepon. Chan Yeol mematung. Ia merasa aneh dengan perasaannya ketika Eommanya menyebut nama Ye Jin.

“D—dia dia senang Eomma.” Chan Yeol memberanikan diri untuk menjawab meskipun terbata-bata. Ia benar-benar bingung bagaimana mengatakan yang sesungguhnya pada Ibunya.

Wae? Kenapa suaramu terbata-bata seperti itu? Dimana Ye Jin? Eomma ingin bicara dengannya.” Glek! Chan Yeol menelan salivanya dengan susah payah. Apa yang harus ku katakan? Batin Chan Yeol. Chan Yeol terdiam sesaat.

“Chan Yeol-ah dimana Ye Jin? Eomma mau bicara dengannya. Apa kau tidak dengar?”

“Eomma~” Chan Yeol memanggil Ibunya pelan hampir sebuah bisikkan halus.

“Ne? Wae geurae? Kenapa kau aneh begini Chan Yeo-ah?” Chan Yeol memejam matanya sesaat kemudian menarik napas panjang. Ia menghembuskannya kasar.

“Ye—Ye Jin menghilang.”

“MWOO!!??”

-xXx-

Setelah Chan Yeol memberi tahu pada Ibunya bahwa Ye Jin menghilang, keluarga Park dan keluarga Son langsung berangkat menyusul Chan Yeol di Jeju. Nyonya Park sangat sedih dan terpukul. Bahkan ia tidak bisa berhenti menangis. Terlebih lagi kedua orang tua kandung Ye Jin, mereka begitu sedih, khususnya Nyonya Son. Kini mereka semua sudah tiba di Villa keluarga Park di Jeju. Mereka semua ikut mencari Ye Jin dan meminta bantuan terhadap petugas keamanan pantai. Kini semuanya sibuk mencari Ye Jin, bahkan keluarga Son menyuruh seseorang untuk mengevakuasi di pantai itu. Entah mengapa mereka malah mencari di pantai, bukankah Ye Jin sebelumnya di daratan? Ya, itu semua usul Chan Yeol. Dia juga tidak yakin pada usulnya sendiri. Tapi..firasatnya seakan mendukung usulnya itu. Chan Yeol juga ikut mencari bahkan kini dialah pria yang begitu antusias dan khawatir keadaan dan keberadaan Ye Jin.

Waktu sudah hampir gelap, bahkan mereka belum sama sekali menemukan keberadaan Ye Jin. Semuanya terlihat putus asa kecuali suami Ye Jin. Pria yang sangat membenci Ye Jin kini berubah seratus delapan puluh derajat. Ada apa dengan Chan Yeol? Apa dia sudah mulai menerima Ye Jin di dalam hidupnya? Lalu bagaimana dengan Ho Jung? Seorang wanita yang begitu ia cintai melebihi dirinya sendiri.

Chan Yeol masih bergulat dengan pikirannya. Mengenai keberadaan Ye Jin, perasaan dan firasatnya. Ia juga bertanya-tanya dengan dirinya sendiri kenapa ia bisa melakukan hal seperti ini? Ikut andil dalam mencari Ye Jin. Hey! Kalian lupa? Dia suaminya. Suami di depan mata keluarga Park dan Son. Bagaimana bisa dia tidak ikut andil dalam mencari istrinya yang menghilang? Apa kata orang tua mereka nanti? Mereka pasti akan curiga kalau Chan Yeol terlihat santai-santai saja. Namun semua pikiran itu Chan Yeol tepis jauh-jauh. Entah bagaimana naluri hatinya menyuruh dirinya untuk tetap mencari Ye Jin.

“Park Chan Yeol-ssi..” Seseorang dari kapal evakuasi itu memanggilnya. Chan Yeol menghiraukannya dan tetap mengedarkan penglihatannya. Wajahnya tampak sangat serius.

“Park Chan Yeol-ssi.. bisakah kita—“

“Bisakah kau tutup mulutmu itu?” Chan Yeol memotongnya dengan nada sinis tanpa m­engalihkan pandangannya. Pria berumur 30 tahun itu mendesah pelan kemudian memegang pundak Chan Yeol dengan tatapan prihatin.

“Chan Yeol-ssi kita tidak bisa melanjutkan pencarian. Waktu sudah hampir gelap.”

“Lalu apa itu sebuah masalah? Bukankah kau leader team evakuasi ini? Kenapa kau begitu mudah pasrah?”

“Bukan begitu. Hanya—“

“Jika kau ingin kembali ke pesisir, kembalilah. Aku akan mencarinya sendiri.” Kedua bola mata Chan Yeol kini menatap lawan bicaranya. Pancaran dingin dan sinis dari matanya begitu menyeramkan. Ucapannya tadi membuat sang leader team membeku. Akhirnya mereka kembali ke pesisir dan sangat melarang Chan Yeol untuk melanjutkan pencarian. Kedua orang tua Chan Yeol bahkan ikut membujuk Chan Yeol.

“Chan Yeol-ah..berhentilah. Kita tidak bisa melanjutkan pencarian. Hari sudah gelap. Ini sangat berbahaya untukmu. Eomm—“

“Bagaimana bisa aku tidak mencari Ye Jin? Aku suaminya dan bertanggung jawab penuh atas keselamatannya.” Potong Chan Yeol membuat perkataan Ibunya terhenti. Ibunya sangat mengerti perasaan Chan Yeol. Ia sangat sedih dan khawatir. Nyonya Park berjalan pelan menuju Chan Yeol yang berjarak tidak jauh dengan dirinya. Nyonya Park memeluk hangat Chan Yeol. Chan Yeol memejamkan matanya sesaat. Ia sangat takut.

“Berhentilah untuk sementara, besok kita akan melanjutkan pencarian. Eomma tidak ingin kau terluka atau terjadi sesuatu hal yang buruk padamu, arasseo?”  Chan Yeol menghela napas kemudian mengangguk pelan.

Setelah itu mereka semua naik ke daratan dan mencoba untuk berisitirahat karena lelah mencari Ye Jin. Nyonya Son sedari tadi tampak gelisah dan terus menerus memanjaatkan do’a untuk keselamatan putrinya tersebut. Mereka semua tampak khawatir. Chan Yeol sedari tadi terus berada di dalam kamar seraya membuka pintu balkon kamarnya. Chan Yeol terus-menerus menghela napasnya. Pikirannya kalut mengenai Ye Jin.

Ting!

Bunyi suara ponsel membuat Chan Yeol sedikit terlonjak. Ia menatap ponselnya yang ia letakkan diatas kasur. Ada sebuah pesan. Chan Yeol meraihnya kemudian membuka pesan itu.

 

From : My Lovely Ho Jung

Oppa..kau sedang apa? Apa kau sudah makan malam? Aku merindukanmu~

 

Chan Yeol meletakkan ponselnya kembali dan malah enggan untuk membalasnya. Ia berdiri kemudian berjalan menuju balkon. Menatap pantai yang sepi dan sedikit gelap. Suara ombak seolah menjadi musik latar suasana sunyi malam ini.

“Kenapa aku begitu khawatir padamu?” Chan Yeol bertanya pada dirinya sendiri. Memang benar. Sikapnya hari ini sungguh aneh. Dia memang suami Ye Jin dan sudah sepantasnya khawatir dengan keadaan sang istri. Namun, ada banyak hal yang membuat Chan Yeol bingung dengan dirinya sendiri. Ia bahkan sama sekali tidak menyetujui perjodohan itu dan lebih memilih untuk melanjutkan hubungannya dengan Ho Jung. Kini semuanya lenyap tertiup angin laut. Seperti kacang lupa kulitnya.

Bayangkan saja baru beberapa detik yang lalu, kekasih yang ia cintai mengirim pesan namun apa yang ia lakukan? Bukannya membalas tetapi memikirkan keselamatan gadis yang paling ia benci dan ia anggap benalu dalam hidupnya. Bukankah itu aneh?

“Ye Jin-ah…”

“Mianhae~”

Dua kata itu terucap sempurna oleh bibirnya sendiri. Chan Yeol masih menatap hamparan pantai di depan matanya. Kehilangan Ye Jin sangat misterius dan entah kenapa Chan Yeol begitu yakin bahwa Ye Jin berada di perairan. Bahkan kamar ini sangat bersih dan tidak ada tanda-tanda hilangnya Ye Jin. Chan Yeol juga tidak melihat ponsel Ye Jin. Sungguh aneh, menghilang membawa ponsel namun tidak menghubungi Chan Yeol atau siapapun. Dan kata pengawal tadi, mereka sempat mendengar teriakan Ye Jin.

“Ini aneh. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Chan Yeol terus-menerus bergulat dengan pikirannya di balkon itu. Matanya menyapu ke seluruh pantai. Entah apa yang ia lihat, namun kedua bola mata itu seketika terbelalak. Chan Yeol menemukan sesuatu.

“YE JIN!!”

Chan Yeol berteriak kemudian berlari sekencangnya keluar dari kamarnya. Orang tua dan mertuanya pun terkejut ketika Chan Yeol berteriak. Nyonya Son mencegat Chan Yeol.

“Wae Chan Yeol-ah? Kenapa kau berteriak?”

“Ye Jin..di pantai!!”

“Mwo?!!”

Chan Yeol langsung berlari lagi keluar villa dan menuju pesisiran pantai. Semua yang berada di dalam villa langsung berlari menuju pantai. Mereka terlihat khawatir. Chan Yeol langsung merendamkan kakinya ke dalam air pantai yang dingin dan menyeret seseorang dengan mata terpejam disana.

“Ya!! Ye Jin!! Son Ye Jin!! Ireonna!!” Chan Yeol menepuk-nepuk pipi Ye Jin yang dingin. Ia meletakkan kepala Ye Jin di pangkuannya. Ye Jin masih mengenakan pakaian yang sama namun di pelipisnya terdapat darah  mengalir deras yang membuat baju Chan Yeol terkena darahnya. Keluarga Chan Yeol dan Ye Jin begitu shock dan menyuruh Chan Yeol untuk menggendongnya menuju mobil untuk di bawa ke rumah sakit terdekat.

-xXx-

Mobil yang di bawa oleh Ayah Ye Jin tu terlihat laju. Mereka semua sangat panik dan harapan mereka saat ini adalah cepat sampai di rumah sakit dan menyelamatkan Ye Jin. Chan Yeol duduk di kursi kedua seraya memapah Ye Jin. Darah semakin banyak keluar dari pelipis kepala Ye Jin. Chan Yeol memperhatikan wajah pucat Ye Jin yang bahkan mirip seperti mayat.

“Bertahanlah. Kumohon bertahanlah.”

Tak lama kemudian, mobil itu tiba di sebuah rumah sakit di kawasan Jeju. Mereka semua langung turun dan memanggil petugas rumah sakit untuk segera menangani Ye Jin. Setelah para perawat datang, Ye Jin di bawa ke ruang Unit Gawat Darurat dengan menggunakan tempat tidur dorong. Perawat-perawat  itu terlihat cekatan dan serius sedangkan pihak keluarga keduanya sangat khawatir. Chan Yeol  masih berada di sisi Ye Jin seraya menggenggam tangan Ye Jin erat. Melihat wajah Ye Jin yang pucat seperti ini membuat Chan Yeol merasa bersalah dengan sikap dan perilaku buruknya terhadap Ye Jin. Entah dia menyadari itu atau tidak, yang pasti Chan Yeol telah berubah.

“Maaf Anda tidak bisa masuk. Silahkan menunggu di ruang tunggu.”

“Tapi saya suaminya. Biarkan saya masuk.”

Chan Yeol mendesak perawat itu untuk membiarkannya masuk namun Ayahnya menghampirinya dan mencoba menenangkannya.

“Tenanglah Chan Yeol-ah. Ye Jin pasti akan baik-baik saja. Kita bisa menunggunya disini sambil berdo’a untuk keselamatannya. Duduklah, tenangkan dirimu.”

Chan Yeol mengalah dan menuruti ucapan Ayahnya. Memang benar. Yang harus di lakukannya adalah berdoa untuk Ye Jin. Berdoa untuk seorang wanita lemah tak berdaya di dalam sana. Chan Yeol menundukkan kepalanya dalam kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Baju putihnya masih menempel darah segar Ye Jin. Semua tampak menitikkan air mata seraya memanjatkan doa yang tiada hentinya untuk Ye Jin. Chan Yeol merasa begitu bodoh saat ini. Entahlah, saat insiden ini ia merasa begitu mengkhawatirkan Ye Jin, istri sekaligus wanita yang paling ia benci di dunia ini.

Satu jam sudah berlalu, namun pintu berwarna putih mengkilap itu enggan untuk terbuka. Semuanya tampak tegang, takut dan khawatir apa yang Ye Jin terjadi dengan Ye Jin. Seketika pertanyaan itu semua terjawab oleh decitan pintu tersebut. Chan Yeol langsung berlari kecil menghampiri seorang pria berjas putih.

Uisa.. eotteohke? Bagaimana keadaannya?” Chan Yeol terlihat begitu gusar dan panik. Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Uisa itu.

“Ye Jin sudah sadar..” semuanya tampak menghela napas lega begitupula halnya dengan Chan Yeol.

“Tetapi..keadaannya masih lemah.”

“Bisakah kami masuk?”

“Bisa, tetapi jangan terlalu ramai.”

“Terima kasih.”

Chan Yeol langsung masuk kedalam ruangan diikuti oleh kedua orangtua Ye Jin. Di dalam hati Chan Yeol begitu senang mendengar bahwa Ye Jin baik-baik saja.  Di kejauhan Chan Yeol dapat melihat tubuh lemah Ye Jin terbaring diatas tempat tidur dengan selang infus di tangan kirinya dan balutan perban di kepalanya. Ye Jin sudah sadar, pandangannya lurus kedepan. Chan Yeol mendekat bersama orang tua Ye Jin.

“Ye Jin-ah…”

Ayahnya memanggil pelan Ye Jin yang terbaring lemah. Ye Jin menoleh.

“A—appa…” panggilnya pelan dengan bibir yang pucat. Ibunya langsung memeluknya dengan erat, seakan tidak ingin terpisahkan.

“Apa yang kau rasakan chagi-ya?? Apa yang sebenarnya terjadi??” tanya Ibunya seraya menggenggam tangan Ye Jin dengan lembut dan menatap penuh harap. Ye Jin menggeleng pelan.

“Ye Jin-ah…maafkan aku.” Suara bass milik Chan Yeol akhirnya keluar. Ye Jin menoleh kearah Chan Yeol dengan tatapan aneh, tidak seperti biasa ketika ia menatap Chan Yeol.

“Ye Jin-ah..aku—“

“Siapa dia, Eomma?”

Pertanyaan sederhana  dari Ye Jin sukses membuat ketiga orang di ruangan itu terbelalak. Ye Jin menolehkan kepalanya kearah Ibu dan Ayahnya untuk segera menjawab pertanyaannya.

“Chagi­-ya apa maksudmu? Kau tidak mengenal Chan Yeol? Dia suamimu.” tanya Ibunya memastikan namun Chan Yeol yang sudah mendengar pertanyaan tadi langsung terdiam membeku. Saraf tubuhnya menegang. Ye Jin menoleh lagi kearah Chan Yeol.

“C—chanyeol? S-ssuamiku?”

-xXx-

Dedaunan kering berwarna kejinggaan itu terus-menerus melayang ke udara dengan bebas, tanpa beban. Bahkan mungkin angin pantai yang dingin itu tidak dapat di rasakannya. Tubuhnya seakan mati rasa. Di koridor berwarna putih dominan itu terdapat pria berjakung terduduk di sudut dinding. Penampilannya sungguh kacau. Park Chan Yeol, pria yang mengaku membenci  istrinya—Ye  Jin— itu tampak terlihat rapuh. Wajahnya gusar dan terpampang jelas kepenatan di wajah tampannya.

Aneh. Kenapa Chan Yeol begitu mengkhawatirkan Ye Jin – istrinya—yang bahkan tidak ingin ia sebut namanya itu? Ketika sebuah kecelakaan menimpa Ye Jin, apakah hatinya tergerak untuk merasa iba? Rasa kasihan, kah? Omong kosong! Bahkan dirinya sendirilah yang memulai semuanya. Chan Yeol sudah menanamkan bibit kebenciannya di lubuk hatinya yang paling dalam—bahkan yang terdalam—.

“Haii…”

Seseorang memanggilnya membuat kedua mata sedu Chan Yeol perlahan mendongak.  Keningnya mengkerut melihat seorang gadis mengenakan pakaian rumah sakit sedang mengulas senyum padanya.

“Kim Nana imnida.”

Cahaya terang itu ada.

Membuat manusia akan tersadar dari segala tindakannya.

Dan Tuhan telah memberikan cahaya itu untukmu.

 

-xXx-

Seoul,  Cheomdamdeong

                “Terima kasih. Silahkan datang kembali Nyonya.”

Byun Baek Hyun. Pria dengan kulit putih susu dan berwajah cute itu membungkuk ramah sambil tersenyum kepada salah satu tamu pelanggannya. Di tubuhnya melekat pakaian kerja tempat kafe ia bekerja. Baek Hyun berbalik badan dan duduk di salah satu bangku yang berada dekat dengan jendela. Ia merogoh saku celananya dan menatap layar i-phone 6 plus-nya itu dengan wajah yang ceria. Seolah dirinya tengah menikmati keindahan bunga cherry blossom yang sedang mekar pada musim semi.

“Byun Baek Hyun..”

Seorang gadis bercelemek biru muda dengan rambut yang dikuncir kuda itu memanggilnya dan duduk di samping Baek Hyun. Kwon Hyun Ra, gadis yang nyaris sempurna dengan perawakannya yang sederhana. Baek Hyun menoleh kemudian menatap Hyun Ra  seolah bertanya ada apa?

“Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Aku rasa ada yang tidak beres dengan kepalamu.”

“Tidak. Aku baik-baik saja. Ada apa?” Hyun Ra mengulas senyum tipis.

“Apa yang kau lihat di ponselmu? Ah aku tahu!” Hyun Ra sedikit berteriak membuat Baek Hyun menatapnya intens. Hyun Ra menatap Baek Hyun penuh selidik. Untung saja kafe itu sedang tidak ada pelanggan. Bisa kabur nanti jika pelanggan itu mendengar suara lengkingan Hyun Ra.

“Apa?”

“Jangan-jangan kau melihat vi—“

Ya!! Jangan sembarangan bicara. Pikiranmu kotor sekali Hyun Ra-ya.” Baek Hyun sempat menjitak kening Hyun Ra alhasil membuat Hyun Ra sedikit meringis.

“Aku hanya menduga saja bukannya menuduhmu. Kau ini tega sekali padaku.”

Hyun Ra mengelus-ngelus keningnya yang sedikit merah. Baek Hyun meletakkan ponsel mahalnya itu dan mengusap kening Hyun Ra membuat si empunya merasa terkejut dengan perlakuan Baek Hyun padanya. Ada rasa yang aneh menjalar ke tubuhnya.

“Apa ini sakit? Maafkan aku.” Baek Hyun tersenyum manis membuat Hyun Ra membeku. Ntahlah, jantungnya ingin keluar saat ini juga.

“Kwon Hyun Ra..”

Baek Hyun memanggil nama Hyun Ra berulang-ulang namun gadis itu tetap bergeming sampai akhirnya Baek Hyun memanggil namanya untuk yang ketiga kalinya. Hyun Ra terkejut dan bahkan pipinya bersemu merah sekarang. Baek Hyun tertawa seketika memenuhi tempat kerjanya itu.

“K….kenapa?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau itu kenapa? Kenapa pipimu berwarna merah?” tawaan masih mengiring ucapannya. Hyun Ra menunduk dan memegang kedua pipi. Bodoh kau Kwon Hyun Ra.

“T..tidak.” bisiknya pelan.

“Kau terpesona ya padaku?” Hyun Ra langsung mengangkat kepalanya dan menatap jengah Baek Hyun yang masih menertawakannya. Ia memukul lengan Baek Hyun dengan keras.

“Kenapa kau memukulku? Ucapanku itu benar, kan?”

“Kau masih saja narsis. Apa maksudmu?”

“Jangan membohongiku.”

Baek Hyun dengan percaya diri menyebut dirinya penuh dengan pesona. Hah, pergi saja kau Byun Baek Hyun. Kenarsisanmu tidak ada yang menandingi. Hyun Ra memekik dan memukul Baek Hyun tanpa ampun.

“Menyebalkan.”

Hyun Ra masih memukul Baek Hyun tanpa henti sampai pukulannnya untuk terhenti ketika suara dering ponsel Baek Hyun berbunyi. Baek Hyun terkejut kemudian meraih ponselnya. Sebuah telepon dari seseorang yang membuat keningnya mengkerut. Di gesernya layar ponsel itu menuju tombol hijau.

“Yeoboseyo…”

-xXx-

                Rumput yang berwarna hijau sangat menyejukan mata siapapun yang memandangnya. Sebuah kursi kayu berwarna putih tulang yang dijadikan sandaran oleh Chan Yeol dan seorang gadis di sampingnya. Gadis bernama Kim Nana itu mengajak Chan Yeol ke tempat dimana mereka berada saat ini. Sebuah ulasan senyum menghiasi wajah pucat Nana.

“Siapa yang sakit,oppa?” suara pelan Nana membuat Chan Yeol menoleh tak bersemangat. Ia menundukkan kepalanya dan menatap lantai. Napasnya sedikit sesak, seakan pasokan oksigen di dunia ini telah habis.

“Istriku.”

“Sakit apa?”

Chan Yeol  membeku. Apa yang harus di jawabnya? Bahkan dirinya saja belum tahu pasti sakit apa yang di derita Ye Jin. Amnesia?

“Dia kehilangan sebagian ingatannya. Dia mengenal semuanya kecuali…aku.” Nana mengulas senyum tipis.

“Kau sakit apa? Wajahmu sangat pucat. Apakah baik jika kau berada di luar seperti ini?”

“Aku bosan menghirup aroma obat-obatan yang menyeruak kedalam hidungku. Aku benci.”

“Sakit apa?”

Nana tersenyum menoleh Chan Yeol. Senyuman yang bisa diartikan bahwa kesempatan kedua itu masih ada.

“Kejarlah dia oppa… Lakukan yang terbaik semampu oppa. Pertahankanlah rumah tanggamu.”

Chan Yeol mengkerutkan dahinya. Kemana arah pembicaraan ini?

“Apa maksudmu?”

“Kejarlah dia sebelum kau akan kehilangan sosoknya selamanya.”

To Be Continue…

 

 

4 thoughts on “It’s Okay Even If It’s Hurt (Chapter 5)

  1. Kerennnnn……but kim nana itu sapa ya????….trus siapa yg nyelakain ye jin??? Hojung kah….or siapa…waaaaa penasarannn…next chap ya kaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s