It’s Okay Even If It’s Hurts (Chapter 6A)

its-okay-even-if-its-hurts

|| It’s Okay Even If It’s Hurts || Part 6A ||

Main Cast         : Son Ye Jin (OC), Park Chanyeol (EXO-K

Authors             : Applexopie

Support Cast     : Lee Ho Jung (Actris)

Length               : Multichapter

Genre                : Family, Sad, Romance(?) and

Rating               : PG+15

Happy Reading!!!

 

 

-xXx-

Aku tetap akan melindungimu meskipun aku tahu bahwa aku tidak akan pernah memilikimu.

 

-xXx-

 

            Sebuah rumah berdominan warna putih itu tampak di kerumuni oleh pasien-pasien yang memiliki penyakit beragam. Salah satunya adalah seorang wanita yang baru masuk rumah sakit itu dua hari yang lalu. Ia begitu heran menatap sekelilingnya yang terlihat asing dihadapannya. Seorang wanita paruh baya tengah mengupaskan sebuah jeruk berwarna orange yang segar, Ye Jin bahkan menatapnya seolah siapa Anda?

“Permisi.. ahjumma?” panggil Ye Jin formal membuat wanita paruh baya tadi menoleh kearahnya dengan pandangan terkejut. Ye Jin mengabaikan pandangan itu.

“Siapa Anda? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, ahjumma?” tanya Ye Jin dengan wajah penasaran sedangkan wanita tua dihadapannya menatapnya nanar. Ia menghela napasnya dan menggenggam tangan Ye Jin hangat. Tatapannya menyiratkan kesedihan yang begitu dalam.Sebenarnya apa yang terjadi?

“Kau tidak mengenalku, Jin-ah?

Ye Jin terdiam dan masih menatap wanita tua ini dengan bingung. Dia hanya mengetahui satu wanita paruh baya yang ia kenal, Ibunya.

“Aku mertuamu. Ibu dari suamimu, Park Chan Yeol. Apakah kau tidak mengingatnya?”

Ye Jin menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

“Maaf, sepertinya Anda salah kamar.”

Ye Jin berusaha menyakinkan nyonya Park yang sekarang berada dihadapannya bahwa dia bukanlah menantunya dan ia tidak pernah merasa memiliki suami bernama Park Chan Yeol. Ye Jin menekankan ucapannya pelan agar lawan bicaranya tidak tersinggung.

Ahjumma salah kamar. Saya tidak pernah memiliki suami.”

“Ye Jin-ah.. ketahuilah.. beliau ini memang mertuamu, sayang. Dia adalah ibu dari suamimu, Chan Yeol.” ucap Nyonya Son yang sekarang sudah berada di samping Ye Jin. Ye Jin mendongak.

“Apa maksud Eomma? Aku tidak mengerti. Aku belum menikah Eomma.”

“Jin-ah..

“Sebenarnya apa yang terjadi Eomma? Katakan padaku apa yang terjadi. Kenapa semuanya membuatku pusing?” potong Ye Jin panic seraya memegang kepalanya yang dibalut dengan perban. Seketika sakit kepala menghampirinya. Ye Jin menjerit dan Nyonya Park dan Son pun memanggil dokter untuk segera menangani Ye Jin.

“Dokter tolong sembuhkan anak saya.”

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tolong untuk keluar ruangan sebentar. Saya akan memeriksanya.”

Dokter pun segera menangani Ye Jin yang terus mengerang kesakitan dikepalanya. Dengan berat hati keduanya harus keluar ruangan dengan perasaan gusar. Ibu Ye Jin selalu memanjatkan doa untuk putri semata wayangnya. Ia terlihat gelisah begitupula dengan Ibu Chan Yeol.

“Bersabarlah, Ye Jin pasti akan sembuh. Dia akan mengingat semuanya lagi.” Ucap ibu Chan Yeol berusaha sedikit menenangkan Nyonya Son. Yah tidak ada yang harus dilakukan lagi selain berdoa dan berharap.

Tidak lama kemudian, pintu berwarna putih pucat itu terbuka menampakkan sosok pria dengan jas putihnya. Mereka pun menghampiri dokter dengan tergesa-gesa.

“Dokter bagaimana keadaan anak saya?”

“Mari ikut saya ke ruangan untuk menjelaskan secara detail tentang kondisi pasien.”

-xXx-

            Kamar berdominan pastel itu terlihat begitu kusam..hampir sama dengan sang empunya. Ho Jung menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan gigi menggertak.

“Sial!”

“Kenapa Chan Yeol oppa berubah sikap padaku? Begitu lancangnya ia tidak membalas pesan dan teleponku. Kurang ajar!” Ho Jung melempar semua make-up impornya kelantai dengan perasaan marah dan berkecamuk. Emosinya tak terkendali kali ini.

“Apa bagusnya perempuan murahan itu? Sampai-sampai Chan Yeol berubah seratus delapan puluh derajat padaku. Sungguh sial!” Ho Jung menjambak rambutnya sendiri kemudian menghentikan kegiatannya itu. Sebuah seringaian mengukir dibibirnya.

“Aku akan membuatmu tidak melihat dunia ini lagi.”

“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Son Ye Jin. Tunggulah pembalasanku!”

-xXx-

“Siapa yang menelponmu?” tanya Hyun Ra membuat Baek Hyun menatapnya.

“Aku akan pergi ke Jeju sekarang.”

“Apa? Jeju? Apa yang akan kau lakukan disana?”

“Aku akan memperbaiki keadaan disana. Dan ada sebuah kecelakaan kecil menimpa Ye Jin dan keluarganya. Ibunya barusan menelponku untuk datang berkunjung kesana menemani Ye Jin.”

“Bukankah dia sedang bersama Chan Yeol? Chan Yeol sedang bersamanya, kan?”

“Kau tidak mengerti. Aku akan pergi sekarang. Tolong jaga toko sebaik mungkin.” Baek Hyun berdiri dan melepaskan celemek miliknya dengan tergesa-gesa. Hyun Ra hanya bisa menatap Baek Hyun heran. Sebegitu pedulinya-kah kau dengan gadis itu?

“Kau akan pergi berapa lama?” Baek Hyun menoleh lagi kearah Hyun Ra. Ia terdiam sesaat.

“Aku tidak bisa memastikan. Kalau akau akan kembali, aku akan memberi kabar padamu. Tolong izinkan aku untuk beberapa hari kedepan dengan tuan Shim.” Pinta Baek Hyun, Hyun Ra menganggukkan kepalanya meng’iya’kan. Baek Hyun mengulas senyum manisnya yang membuat Hyun Ra luluh seketika.

“Kau memang temanku yang baik. Jaga dirimu, aku pergi.”

“Hati-hati, jangan lupa beri kabar pada Ibumu.”

“Aku tahu apa yang harus kulakukan, Hyun Ra-ya.”

“Aku hanya mengingatkanmu.”

“Aku mengerti, aku pergi.”

Hyun Ra tidak menjawab lagi ketika punggung itu semakin menjauh dan jauh dari hadapannya. Hyun Ra menghela napasnya dan ucapan Baek Hyun tadi cukup menohok hatinya.

Kau memang temanku yang baik

“Teman? Apakah kau menganggapku temanmu? Tidak bisakah aku menjadi sosok yang berharga dimatamu? Tidak bisakah kau melupakan gadis itu ketika sedang bersamaku? Bisakah kau melakukannya untukku, Baek Hyun-ah?”

Tahukah kau rasanya ketika kau sedang terbang tinggi dilangit dengan bebas dan kau tidak mengetahui sayapmu terluka? Kau terjatuh dan kau akan merasakan tubuhmu hancur tak terbentuk.

-xXx-

“Apa maksudmu?”

“Hidup hanya satu kali. Perbaikilah kesalahanmu sebelum semuanya terlambat. Ikuti kata hatimu oppa.” Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang anak kecil ini katakan.

“Hei..kau ini bicara apa?”

“Aku tahu kau pasti mengerti apa yang kukatakan oppa. Jika hatimu berkata ‘benar’ maka ikutkanlah. Huah… hidup ini sudah sulit, jadi jangan mempersulit hidupmu sendiri dengan masalah asmara seperti ini.” Aku terdiam dan membiarkan gadis ini berbicara, aku rasa ada yang benar dari ucapannya tapi aku masih tidak mengerti siapa yang dimaksud.

“Untuk apa mencari wanita lain jika wanita yang baik dan memang cinta sejatimu ada didekatmu, oppa? Itu sama saja membuang waktu berhargamu, oppa.”

“Gadis cantik belum pasti sesuai dengan paras dan hatinya. Ia cantik tetapi bagaimana dengan hatinya? Apakah kau bisa mengetahui isi hati seseorang, oppa?” aku mulai mengerti apa yang dibicarakannya.

“Manusia manapun tidak akan ada yang pernah mengetahui itu.”

“Oleh karena itu ikuti kata hatimu.” Ucap Nana kemudian mengusap lengannya yang terkena angin yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia tersenyum menatap Chan Yeol yang tengah menelusuri jauh kedalam pikirannya.

“Sudah ya oppa, aku mau kembali kekamar. Terima kasih sudah mau bercerita padaku.”

Nana berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pelan meninggalkan Chan Yeol seorang diri ditaman rumah sakit itu. Tidak lama kemudian, Chan Yeol tersadar dari lamunannya.

“Tunggu dulu, bagaimana dia bisa tahu semua masalahku? Bahkan aku sama sekali belum menceritakan apapun padanya.”

“Nana-ssi??” Chan Yeol menoleh kearah sampingnya dan retinanya tak menangkap sosok gadis itu. Chan Yeol berdiri dan melihat kearah sekelilingnya namun hasilnya nihil. Misterius.

“Bagaimana dia bisa menghilang secepat itu?”

“Siapa gadis itu sebenarnya?”

-xXx-

Baek Hyun berjalan tergesa-gesa di koridor sebuah rumah sakit. Ia menengok kekanan dan kirinya mencari kamar seseorang.

“Suster..” panggilnya memanggil seorang suster yang kebetulan lewat dihadapannya.

“Iya? Ada yang bisa dibantu?”

“Ruang anggrek II dimana ya?”

“Oh, lurus saja kemudian belok ke kanan. Disana ada tulisan papan namanya.” Baek Hyun mengikuti tunjukan jari suster itu dan mengangguk paham.

“Terima kasih.”

Baek Hyun mengulas senyum tipisnya dan melengangkan kedua kakinya menuju tempat tujuannya. Peluh keringat mengucur dari dahinya. Rasa khawatir menguasainya saat ini. Ketika sudah di depan kamar tersebut, Baek Hyun perlahan memegang knop pintu dan dapat melihat sosok gadis sedang terbaring di tempat tidur. Baek Hyun langsung masuk dan bertemu dengan Ayah Ye Jin.

Ye Jin menoleh kearah pintu dan senyumnya pun mengembang. Baek Hyun menutup pintu dan memberi salam kepada Ayah Ye Jin.

“Akhirnya kau datang, Baek Hyun-ah. Ye Jin terus-menerus menanyakanmu.”

“Baek Hyun-ah..” panggil Ye Jin dengan nada riang. Ia berusaha duduk dan Baek Hyun pun menuntunnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu kemana Chan Yeol?” raut wajah Ye Jin yang tadinya riang berubah seketika.

“Kenapa semua orang membicarakannya? Baek Hyun-ah sebenarnya Chan Yeol itu siapa? Kenapa semua orang menyanyakan Chan Yeol padaku?”

Baek Hyun terkejut mendengar ucapan Ye Jin dan seketika melirik Ayah Ye Jin. Pandangannya menyiratkan sesuatu yang membuat Baek Hyun tidak mengerti. Ia menatap Ye Jin dan memberikan senyuman terbaiknya.

“Lupakan saja. Kau tidak apa-apa?”

“Seperti yang kau lihat saat ini, aku baik-baik saja. Ah, aku ingin segera keluar dari tempat memuakkan ini. Aku ingin jalan-jalan.” Lagi-lagi Baek Hyun melirik Ayah Ye Jin. Beliau mengangguk yang mengartikan bahwa ia mengizinkannya. Baek Hyun tersenyum lagi.

“Baiklah, jika itu yang kau mau. Kajja!”

Ye Jin tersenyum riang meskipun wajahnya masih sedikit pucat. Melihat Baek Hyun datang menjenguknya membuat hatinya gembira. Ntahlah, orang yang bisa membuatnya tersenyum dan tertawa saat ini adalah Byun Baek Hyun.

Baek Hyun menuntun Ye Jin untuk turun dari tempat tidur dan mendudukannya di kursi roda yang ada dipinggir tempat tidur. Sebelum pergi meninggalkan kamar, Baek Hyun berpamitan pada Ayah Ye Jin begitupula dengan Ye Jin.

Akhirnya oksigen segar itu masuk memenuhi rongga pernapasan Ye Jin. Ia tak henti-hentinya tersenyum riang.

“Ah segarnya. Baek Hyun-ah maafkan aku.” Baek Hyun tersenyum dan sedikit mengernyit dengan ucapan Ye Jin. Maaf?

“Maaf untuk apa?”

“Maaf sudah mengganggu waktu kerjamu. Aku benar-benar bosan disini dan ntah mengapa aku ada di Jeju saat ini. Menurutmu, ada urusan apa ya aku kesini? Aku sungguh tidak ingat apa-apa.” Ye Jin mendongak menatap Baek Hyun. Apakah dia kehilangan sebagian ingatannya? Bahkan orang yang ia cintai saja ia tidak mengingatnya.

“Baek Hyun-ah.. kenapa kau diam saja?”

Baek Hyun tersadar dan tersenyum tipis. Ia terkekeh pelan.

“Kau tidak ingat? Kau datang kemari untuk liburan, Jin-ah.”

“Liburan?”

“Ya, liburan. Kau mengajakku, tapi aku mengatakan padamu bahwa aku akan menyusulmu. Dan aku di telepon oleh Ibumu untuk datang kemari karena mendengar kau kecelakaan.”

Ye Jin mengangguk pelan, ntahlah ia juga tidak mengetahui mana yang benar. Intinya, ia sama sekali tidak mengingat kejadian yang telah dialaminya dan tujuan ia berada di Jeju.

“Ntahlah aku tidak tahu itu benar apa tidak, aku tidak mengingatnya. Tapi aku percaya padamu, Baek Hyun-ah.” Baek Hyun tersenyum miris. Maafkan aku, Jin-ah.

Ye Jin kembali melirik kanan dan kirinya yang terdapat bunga yang indah. Mereka sudah berada di taman, ntahlah kedua kaki Baek Hyun melangkah menuju tempat ini. Bahkan ia sama sekali tidak tahu seluk beluk lokasi di rumah sakit yang ditempati oleh Ye Jin.

“Indahnya. Aku belum pernah merasa bahagia seperti ini sebelumnya. Kenapa ya?”

“Mungkin kau bahagia karena bisa jalan dengan pria tampan dan seimut sepertiku.”

“Ck. Jangan terlalu percaya diri.”

Ye Jin tertawa lepas membuat Baek Hyun mengukir senyum manisnya. Mungkin ini yang terbaik untuk saat ini.

“Siapa kau?”

-xXx-

Baek Hyun terkejut ketika seorang pria menghadang jalannya. Chan Yeol? pikirnya.

“Apa yang kalian lakukan disini? Siapa kau yang sembarangan membawa Ye Jin keluar dari kamar?”

“Ada apa denganmu?”

“Jin-ah kau yang kenapa? Siapa dia? Kalau dia orang jahat bagaimana?”

“Aku tidak akan menyakitinya.”

“Ada yang bicara denganmu?”

Chan Yeol menatap Baek Hyun dengan tatapan sinis. Menjauhlah darinya!

“Perkenalkan aku Byun Baek Hyun, teman—“

“Oh, jadi kau yang bernama Baek Hyun?” mata Chan Yeol menatap dari ujung kepala hingga ujung kakinya, kemudian ia mendesis.

“Kau kan yang menelpon Ye Jin terakhir kali ketika di Villa?” Ye Jin mengernyit tidak mengerti apa yang Chan Yeol katakan.

“Menyingkirlah, jangan halangi jalan kami.”

“Aku tidak akan menyingkir sampai dia menjawab pertanyaanku.”

“Kau gila ya?”

“Mungkin aku gila setelah menyadari semuanya. Menyadari dengan apa yang telah aku lakukan padamu.” Baek Hyun terdiam. Ia tidak tahu harus bicara apa.

“Kau ini bicara apa? Kau sudah mengaku sebagai suamiku dan kali ini kau mengaku bahwa kau gila karena apa yang kau lakukan padaku? Kau benar-benar sudah gila.”

Chan Yeol mengabaikan ucapan Ye Jin. Persetan ia tak perduli jika ia dikatakan gila oleh Ye Jin. Mungkin itu adalah kebenarannya. Kedua bola matanya menatap tajam kearah Baek Hyun, seolah berkata mengakulah!

“Siapa kau sebenarnya?”

“Aku Byun Baek Hyun, pria yang mencintai istrimu, Son Ye Jin. Apa kau puas?!”

Bukk!!!

            Ye Jin menutup mulutnya tak percaya ketika sebuah pukulan keras mengenai wajah Baek Hyun.

Ya!! Apa yang kau lakukan? Hentikan!!”

“Kau benar-benar pria pecundang! Brengsek!”

Chan Yeol terus menerus memukul wajah Baek Hyun hingga babak belur membuat Ye Jin berteriak meminta bantuan untuk melerai keduanya. Ye Jin sempat terkejut ketika Baek Hyun mengatakan perasaannya secara terang-terangan di hadapannya dan Chan Yeol.

“Kau benar-benar gila, Chan Yeol-ssi. Aku bilang hentikan!!”

Chan Yeol mengehentikan pukulannya ketika Baek Hyun mulai terbatuk-batuk. Ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.

“Apa maksud ucapanmu, pria brengsek?”

“Haha! Apa aku lebih terhina daripada dirimu sendiri? Apa kau sudah merasa dirimu yang paling benar dan hebat?” Baek Hyun berusaha berdiri dibantu oleh beberapa orang yang menolongnya. Chan Yeol juga sudah diamankan oleh dua orang yang memegangi lengannya. Baek Hyun mengeluarkan jurus seringaiannya.

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu? Kau bahkan lebih busuk dari bangkai manusia. Dasar penghianat busuk, cih!”

“Tutup mulutmu! Tahu apa kau tentangku?”

“Asalkan kau tahu, aku sudah lebih mengetahui tentang apa yang kau lakukan pada Ye Jin selama ini, kau pikir aku ini buta?” gerakan lengan Chan Yeol mulai melemah ketika mendengar ucapan Baek Hyun sedangkan Ye Jin hanya bingung tak tahu apa-apa.

“Cukup! Apa yang kalian bicarakan? Baek Hyun-ah kau tidak apa-apa?” Baek Hyun menatap sekilas Ye Jin kemudian tersenyum sangat tipis mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa.

“Kenapa? Kenapa kau diam? Kau takut jika seluruh kebusukanmu aku katakan di depan umum seperti ini?”

“Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku. Aku memperingatkanmu dengan baik-baik kali ini.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

“Jangan memancing emosiku!”

Baek Hyun tertawa renyah membuat orang-orang tersebut ikut bingung dengan masalah rumit yang dihadapi oleh dua pria ini. Mendengar kebisingan, akhirnya petugas keamanan menghampiri mereka.

“Ada apa ini?”

“Aku tidak akan ikut campur urusan rumah tanggamu, tapi jika kau menyakiti sedikit saja perasaannya, itu lain lagi masalahnya.”

“Aku akan mengawasimu, aku tidak pernah main-main dengan apa yang telah aku ucapkan.”

“Tolong dengarkan baik-baik ucapanku kali ini.”

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUE…

 

2 thoughts on “It’s Okay Even If It’s Hurts (Chapter 6A)

  1. Aku udah pernah baca yang ini sama yg B, giliran mau baca yang chap 7 ada paswordya sampe sekarang gak pernah tau endingnya kek gimana , gimana cara dapetin sandinya kakak😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s