PCY’s EX Series: #5 If Clause

[PCY's EX Series] #3 If Clause

PCY’s EX Series: #5 If Clause

Previous: PCY-Rim-ah #1 First Impression ,  #2 Bride is You |  PCY-Seonmul #3 Finest Present,  #4 Noona

deera

Cast: Park Chanyeol, Lee Seonmul | Genre : Comedy, bitter romance | Rating: Teen | Length: Ficlet Series

.:Tidak ada fiksi yang original. Bisa saja kisah itu datang dari masa lalumu, curhatan sahabatmu, kejadian yang kau temui pagi ini di jalan, atau kelak akan membuatmu bergumam, “Ini aku banget!

Selamat tenggelam dalam setiap cerita!:.

‘Bercerita soal…, mantan pacar?’

.

.

.

Aku tidak ingin hal yang terjadi pada Rim-ah lantas terulang lagi untuk pacarku berikutnya. Aku kesal pada mereka yang dengan alasan non-sense menjadi balik menyakiti pacarku. Lebih parahnya, mengatasnamakan diriku. Hal itu tentu membuatku serba salah. Juga membuatku susah memaafkan diriku, padahal bukan salahku. Persetan memang.

Sebulan pacaran dengan Seonmul noona—hidup dia dan aku terasa baik-baik saja. Ya, akhirnya kami resmi juga 😛 Sesuatu yang lebih besar menanti kami di depan, yakni hari kelulusannya. Ia akan menjadi mahasiswa salah satu universitas di kota ini dan lebih menseriusi dunia modelling. Sedang aku akan memulai masa-masa sekolah menengah atas yang sesungguhnya: menjadi senior. Ada senangnya, dan banyak tidaknya. Setengah tak ingin, tapi aku juga tidak bisa menahannya untuk tetap tinggal (yakali berarti Seonmul tidak lulus?)
 
Tapi kelak, hal ini akan menjadi bumerang yang balik menyerangku.

“Kita masih bisa ketemu kok, Sayaaaangg,” katanya merajuk sambil memainkan ujung rambutnya yang baru selesai dikeriting.
 
Aku hanya diam—mungkin kekanakkan. Aku sama sekali tidak rela—serela-relanya—melihat kami harus berpisah, lalu dia memasuki dunia baru yang mana bisa saja ia menemukan namja yang lebih menggemaskan dari aku. Lalu kami sepakat. Tidak boleh ada kata tidak, bahwa quality time kami harus tetap terjaga. Kami masih bisa bertukar kabar dan meluangkan weekend bersama.

Kabar itu nomor satu. Itu prinsip dasarku mengenai sebuah hubungan. Dan komitmen. Dan kepercayaan. Dan pengorbanan untuk meluangkan bukan menyisakan waktu. Dan perasaan untuk tetap menjaga hubungan. Dan….,
 
“Apa menurutmu aku terlalu protektif?” tanyaku.
 
Dia menggeleng. “Tak apa. Itu berarti kau menyayangiku.”
 
Oke. Dia mengerti. Secara, dia memang lebih dewasa dariku. Dia pasti lebih tahu dan lebih paham kenapa aku seperti ini.
 
Kemudian, seperti tak perlu peraturan tertulis, kami bertukar kabar lewat pesan-pesan singkat. Tak jarang juga aku meneleponnya di sela-sela sesi kuliahnya. Saat itu, betapa bangganya diriku bisa menulis di media sosial yang belum sebegitu menjamur mengenai statusku.

Park Chanyeol is now in relationship with Lee Seonmul.

Lengkap dengan foto kami berdua sedang tersenyum bahagia.

Lalu hari itu datang, dimana jengah dan penat atas ketidakbebasan adalah hal yang paling tidak disukainya. Seperti pasir. Kalau kau menggenggamnya terlalu kuat, maka tak ada yang kau dapatkan. Ia akan berusaha pergi karena terkekang.

Lee Seonmul perlahan tak berkabar. Ia sibuk dengan kegiatan modelling-nya yang bahkan menyita waktu kuliah. Jangankan ingat mengirimiku pesan, jadwal kuliahnya saja entah menguap kemana.

Ia seperti…, entahlah. Tak pernah ada lagi waktu kami bersama. Aku bahkan mengetahui keberadaannya lewat liputan show-nya di sebuah majalah. Lee Seonmul dan Park Chanyeol kembali terlihat seperti ratu sejagat dan…, ahjussi penjual tteopokki.

Dan aku seperti…, jatuh cinta sendirian, merindukannya dalam diam tanpa bisa berbuat. Memikirkannya seorang diri dan bahkan belum tentu Seonmul juga begitu.

Aku hanya menunggu….

Menunggu….

Seperti pecundang.

.
.
.

“Aku ingin bersamamu lagi, Chanyeol-ah.” Lee Seonmul menyuarakan jawabannya. Kepalanya terangkat, menatapku dalam. Aku ingin membuang muka—tapi tak bisa. Tidak tega.

“Kalau kau tidak menyukainya, aku akan berhenti menjadi model. Semua waktu liburku akan kuhabiskan bersamamu seperti dulu. Aku rindu sekali saat kita bisa jalan-jalan, Chan.”

Kupandangi kecemasan dalam dirinya. Aku tersenyum samar. “Tidak perlu seperti itu, Noona,” kataku menengahi argumen solonya. Dia tidak semestinya melakukan apa-apa karenaku, terlebih itu bertentangan dengan kemauannya. “Bukankah kau bermimpi untuk jadi model profesional, Noona?”

Dia menggeleng. “Kalau kau berkata tidak, aku akan mengikutinya.”

Noona-ya,” sudut bibirku terangkat sebelah, “aku tidak ingin menjadi penghalang mimpi-mimpimu. Kalau kau mau, jalani dengan baik. Tidak perlu bergantung padaku, bukan?”

“Tapi aku ingin terus bersamamu, Park Chanyeol. Aku membutuhkanmu.”

Kalau kau butuh, kau akan mencarinya sampai dapat, bukan? Lalu kemana kau selama ini? gumamku dalam hati.

Lalu kami sama-sama diam. Berkutat dengan pikiran masing-masing. Di dalam kepalaku sudah bertumpuk sejuta alasan kenapa kami tidak seharusnya bersama lagi dan kenapa hidup kami harus berjalan tanpa harus bersama. Aku berusaha mencari kata-kata yang tepat supaya dia mengerti, sama seperti hari-hari berat kemarin yang aku lalui tanpanya. Dan hari ini, akhirnya aku bisa melepas.

Noona, seharusnya pasangan itu melengkapi satu sama lain. Seharusnya mereka bisa menghormati pilihan masing-masing dan mendukungnya. Bukan justru membatasi atau menghalang-halangi.

“Kalau Noona menghentikan cita-cita hanya karena bocah tampan ini,” aku meremas bahunya, “sama seperti aku menghalangi jalanmu untuk mencapai tujuan hidupmu, Noona. Tidak semestinya seperti itu, bukan?” Aku tersenyum sambil mengelus poninya yang rata menutupi dahi.

Satu bulir air matanya menetes.

Tapi aku harus melanjutkan ini.

“Semoga kelak Noona menemukan lelaki yang menerima semua waktu sibukmu—tidak seperti aku yang kekanakkan ini, juga mendukung mimpi-mimpimu, kepribadianmu, dan semua yang ada pada dirimu tanpa memintamu berubah menjadi apa yang lelaki itu mau, Noona-ya.

“Dalam mencintai seseorang, tidak selamanya kau berkata ‘ya’ pada apa yang pasanganmu minta. Kau juga harus bisa berkata ‘tidak’ supaya kalian bisa sama-sama dewasa dan lelaki itu mencintaimu apa adanya dengan segala hal yang kau punya, tanpa mengada-ada seusuatu yang  tidak ada. Tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.”

Tanpa banyak membantah lagi, Seonmul kembali terisak dalam tunduknya.

“Mari kita sama-sama melanjutkan hidup, Noona.”

.
.
.

Dua hari sebelum kejuaraan, Coach Ji mengajak team rehat sambil refreshing. Berangkatlah kami ke salah satu kedai seafood terenak di kota ini. Aku melihat daftar menu, halaman demi halamam sampai liurku hampir menetes mendamba deretan gambar makanan laut itu.

Tak disangka, di tengah acara makan malam itu, seseornag datang dan langsung menepuk bahuku. “Wah, kalian curang ya, tidak mengajakku bergabung.” Ia tersenyum sambil menarik kursi di sebelahku lalu duduk di sana. Dialah senior sekaligus orang yang sangat kuhormati dan kusegani, Kim Jongdae.

“Heol, lihat siapa yang datang!” seru Coach Ji sambil bertepuk tangan heboh.

Sunbae!!” seluruh team menghampirnya, menjabatnya, dan banyak bertanya mengenai kehidupan perkuliahannya saat ini.

Setelah kerumunan menyebar kembali ke tempat masing-masing lantaran makanan sudah datang, Jongdae sunbaenim mengajakku toast. Ia menyunggingkan senyum. “Sudah lama ya, Chanyeol-ah.”

Seporsi besar cumi bakar dengan saus super pedas tersaji di atas meja di hadapan Jongdae sunbae. Setahuku, dia tidak suka pedas. Dan ada satu orang yang meniru kebiasaan itu.

Sunbae, bukankah kau tidak menyukai makanan pedas?” tanyaku akhirnya, melepas rasa penasaran.

Setelah menyeruput tehnya, ia menjawab, “Kata siapa? Seonmul-ah?”

You know exactly who I talk about.

“Lambung Seonmul sensitif, tidak tahan terhadap sesuatu yang terlalu asam atau pedas. Aku sengaja tidak makan pedas di hadapannya karena aku tahu dia pasti akan menirunya,” dia melanjutkan, “aku tidak menyukainya saat dia banyak berbohong dan berpura-pura.”

Ini yang membuatku mundur.

Bahwa sekeras apapun aku mencoba bertahan dalam hubunganku dengan Lee Seonmul, di dalam pikiranya hanya terdapat satu nama: Kim Jongdae.

Mereka pernah berpacaran. Seonmul belum mengenalku—tentu saja. Ia sangat menyukai Jongdae. Seperti yang ia katakan bahwa Seonmul sering meniru apa saja yang berkaitan dengan sunbaenim. Ketika sunbae ikut kegiatakan taekwondo, noona juga. Alhasil, dia masuk rumah sakit karena cedera. Saat sunbae mengikuti kegiatan pendakian, noona juga, padahal orangtuanya tidak mengizinkan. Akhirnya sekolah diberi peringatan oleh ayahnya noona yang seorang jaksa.

Aku semula tidak tahu kalau Noona masih memendam itu sendirian. Aku tidak menyadari kalau Noona menyukaiku karena menemukan sosok Sunbaenim padaku. Padahal semua itu berkat rasa kagum dan hormatku pada Sunbaenim, sampai aku terpengaruh dengan cara berpikirnya.

Aku juga tidak tahu, apakah sebenarnya ada perasaannya untukku, ataukah hanya perasaan untuk sosok Sunbaenim yang ada padaku, atau semua perasaan Noona masih milik Sunbaenim? Aku tidak tahu.

Mereka berakhir karena pergaulan yang berbeda. Jongdae yang ambisius, idealis, dan konsisten tidak bisa menerima dengan mudah dunia Seonmul yang hedonis, glamor, dan hingar-bingar. Sunbae tidak suka teman-teman Noona. Ia juga menentang kegiatan modelling Seonmul yang menuntutnya berpakaian minim.

Saat mereka putus, Sunbae menggunakan alasan itu. Dan Noona tidak mau kalah. Mereka sama-sama keras. Like no one ever could blend them being together. Seperti mereka tidak pernah menjalin hubungan bersama-sama. Mereka saling memaki, bicara keras, beradu argumen. Sampai tiba-tiba Kim Jongdae menghilang seutuhnya dari hidup Lee Seonmul.

Itu sebabnya, waktu kami putus, Seonmul noona mengatakan akan berhenti menjadi model seandainya aku berkata begitu. Its like, ini yang akan Noona lakukan kalau seandainya waktu bisa diulang ke masa pertengkarannya dengan Sunbae.

Selamanya aku hanya akan menjadi bayang-bayang. Aku hanya sebatas pengandaian untuk waktu-waktu yang dilewatkan Seonmul di saat dia bersama Jongdae.

Aku mundur bukan karena rasa hormatku pada Kim Jongdae, atau aku menyerah karena ‘sudah pasti kalah’.

Aku mundur karena tidak ada lagi alasan untukku bertahan.

.
.
.

-End of #5 If Clause-

deera says:
Oke, konsep dari PCY’s EX Series ini memang bitter-romance yang di setiap ending pasti tidak bahagia walaupun di awal kayaknya adem ayem bahkan ngga sedikit sweet-nya hehe.
Dan rasa-rasanya, aku perlu menjelaskan sesuatu. Series ini dari judulnya saja PCY’s EX Series, maksudnya adalah kisah PCY dan mantan-mantannya. Jadi, sebetulnya antara mantan yang satu dengan yang lainnya itu tidak berkesinambungan sama sekali, melainkan continue. Jadi selesai dari mantan yang satu, otomatis PCY bakal cari cewek baru. Diceritakan mulai dari pedekate, pacaran, hingga alasan kenapa akhirnya mantanan.
Gitu 😀
Ada yang pernah komentar: Rim-ah mau nikah ya, jadi gimana hubungan dia dengn CY? Ya, selesai. Cukup sampai di situ saja, dan kehidupan romance CY berlanjut dengan orang baru. Ini bukan multichaptered, tapi series, sehingga di setiap cerita (biasanya) bakal muncul tokoh baru. Jadi nanti ke depannya yang cari Rim-ah atau Seonmul udah gakkan ada lagi :p
Tapi kayaknya perlu bersabar, karena series ini tidak akan post berkala, mungkin sesekali hehe. Selama ini mungkin yang membuat bingung karena tiap post aku mencantumkan urutan post (#1, #2…, dst) dan ceritanya berlanjut dari urutan satu ke berikutnya. Oke, mungkin itu notice juga buat aku hehe ^^
Udah ah, kepanjangan :p
Anw, selalu dan selalu Author-nim mengucapkan terimakasih sudah membaca dan menunggu series ini :p See you down there ⬇⬇⬇⬇⬇

Iklan

4 thoughts on “PCY’s EX Series: #5 If Clause

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s