Beautiful Creatures (Chapter 1

beautiful creatures poster

Beautiful Creatures

 

Author : girlinmoon

 

Main Cast : Park Chanyeol and Jung Sujin (You?)

 

Genre : fantasy, drama, romance

 

Rating : T

 

Summary : Sujin tidak sengaja memecahkan botol cantik milik seorang peramal.

 

+

 

Sujin memasuki rumah dengan arsitektur vintage tersebut. Rumah itu gelap, dan menggunakan penerangan lampu warna merah. Sujin melihat sekelilingnya, banyak sekali barang aneh seperti keramik yang sepertinya sudah berumur ribuan tahun. Sebenarnya cukup cantik tetapi cukup menyeramkan juga bagi anak ingusan sepertinya.

 

“Apa kau yakin dengan ini?” Tanya Sujin dengan sangat pelan.

 

Sahabatnya, Seulgi, mengangguk dengan tegas.

 

“Kau tau kemarin peramal tersebut memperingatkan aku untuk tidak ikut dalam latihan dance di tempat biasanya, dan benar tempat itu mengalami kebakaran di jam yang seharusnya aku melakukan latihan dance!”

 

Sujin mengangguk percaya, ia menunggu bersama Seulgi di ruangan keramik tersebut sampai matanya melihat sebuah botol yang berada antara keramik lain, seperti di sembunyikan. Botol itu memiliki ukiran-ukiran aneh dan terlihat seperti botol wine dalam versi yang lebih baik. Sujin tidak akan berbohong pada dirinya sendiri karena botol tersebut memang sangat cantik, jika di jual Sujin akan membelinya.

 

“Ayo Sujin! Giliran kita!” panggil Seulgi yang berada di ambang pintu prakter si peramal.

 

Sujin dan Seulgi berhadapan dengan peramal yang sudah menyelamatkan hidup Seulgi. Berbeda dengan yang ada di bayangan Sujin, peramal di hadapannya sangat cantik dan muda. Namanya Kim Taeyeon.

 

“Kau pasti Jung Sujin kan?” Tanya Taeyeon, si peramal.

 

Sujin mengangguk dengan ragu.

 

“Aku tau mengapa kau kesini. Mari tidak usah basa-basi. Sujin, kau tau hidup mu penuh dengan kemakmuran dan keberuntungan,” ujar Taeyeon dengan senyumannya yang hangat.

 

Taeyeon menggenggam tangannya, “Kau tidak butuh apa-apa karena percayalah, hidup mu selalu beruntung. Aku belum pernah bertemu dengan perempuan seberuntung kau. Yang kau butuhkan hanyalah percaya diri dan mau membuka diri mu sendiri. Setiap rasa iri mu dengan kakak-kakak mu Sooyeon dan Soojung tidak di perlukan, karena mereka tidak seberuntung kau.”

 

Sujin tidak tau mengapa ia menangis. Ia selalu merasa bahwa dirinya bukan apa-apa jika di bandingkan dengan kakak-kakaknya. Ia akan merubah hidupnya mulai dari sekarang.

 

“Benarkah?” Balas Sujin sambil menyeka air matanya.

 

“Kau terlalu beruntung, percayalah. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, kau tidak akan kenapa-kenapa.”

 

“Terimakasih, Taeyeon-ssi.”

 

Taeyeon tersenyum. Seulgi mengajak Sujin untuk keluar dari ruangan namun sebelumnya Sujin ingin bertanya sesuatu dengan Taeyeon.

 

“Taeyeon-ssi, apakah botol di balik keramik-keramik mu kau jual? Aku tertarik, kau tau. Botol itu sangat cantik.”

 

Tiba-tiba raut wajah cerah Taeyeon berubah menjadi sengit, “Tidak ada yang di jual!”

 

Sujin yang ketakutan langsung memaksakan senyum dan langsung pergi meninggalkan ruang praktek tersebut. Namun sebelum benar-benar meninggalkan rumah vintage itu, Sujin sudah menyelipkan botol cantik tersebut di dalam tasnya.

 

+

 

Ia tidak benar-benar bisa berubah. Sujin masih saja menyedihkan.

 

Sujin memandangi botol cantik yang ia pinjam, atau secara kasarnya ia curi. Memang kebiasaan ini cukup buruk, Sujin bukan seorang klepto. Tetapi terkadang ia suka mencuri uang orang tuanya secara diam-diam dan mengambil makanan di supermarket tanpa ketahuan saat ia tidak di beri uang jajan.

 

Mungkin benar kata Taeyeon, itu salah satu keberuntungannya. Saat ia mencuri sesuatu, tidak akan ketahuan. Tetapi Sujin cukup kesal karena keberuntungannya masuk dalam jajaran hal yang buruk.

 

“Sujin! Sujin!”

 

Lamunan Sujin terhenti saat kakaknya, Soojung, memanggilnya.

 

“Ya kak! Sebentar!” balas Sujin sambil meninggalkan botolnya di kasur dan buru-buru menghampiri Soojung.

 

+

 

Sujin kembali ke kamarnya setelah selesai membantu Soojung menyuci mobilnya. Ia ingin menaruh botolnya ke dalam lemari saat menyadari botol yang berada di kasurnya sudah menghilang.

 

Dengan panik Sujin mencari botol tersebuh di penjuru kamarnya, tetapi ia tidak menemukannya. Buru-buru ia keluar kamar dan mencari botol cantik tersebut.

 

Soojung yang melihat adiknya terlihat panik seger menghampiri.

 

“Kau mencari apa?” Tanya Soojung penasaran.

 

“Botol kak. Seperti botol wine, tapi ada ukiran-ukirannya.” Jawab Sujin penuh dengan kepanikan.

 

Soojung merasa pernah melihat botol seperti itu, “Maksud mu seperti botol hiasan?”

 

Sujin menghentikan aktifitasnya dan mengangguk. Soojung menghela nafasnya.

 

“Botol itu daritadi di ruang tamu bersama hiasan piring dan lainnya, kau tau!” kata Soojung kesal dengan kebiasaan adiknya yang pelupa akut.

 

Sujin menyipitkan matanya, heran, “T-tapi tadi aku-“

 

“Sudahlah Sujin kebiasaan mu menaruh barang sembarangan sangat buruk,” Ujar Soojung kesal lalu meninggalkan Sujin sendirian.

 

Sujin segera berlari menuju ruang tamu. Ia melihat botol cantik itu berada di antara hiasan piring-piring cantik lainnya. Cepat-cepat ia mengambil botol tersebut dan kembali ke kamar.

 

“Ya Tuhan bagaimana bisa…” Sujin menggenggam botol itu dengan erat, “Aku akan mengembalikan ini ke Taeyeon.”

 

Baru saja Sujin keluar dari kamarnya namun tak sengaja menabrak kakaknya, Sooyeon, dan botol cantik itu pecah.

 

“Sujin! Apa kau baik-baik saja?” kata Sooyeon khawatir dan membantu Sujin untuk berdiri. “Ya Ampun! Aku minta maaf oke? Botolnya pecah…”

 

Sujin menelan ludahnya sendiri, “Botolnya pecah…”

 

Ia mulai khawatir bisa saja botol itu berisi hantu atau hal-hal buruk lainnya dan sekarang botol cantik itu pecah. Sujin menoleh ke segara arah memastikan agar tidak ada sesuatu yang keluar dari botol tersebut. Lalu ia menghela nafas lega saat tak menemukan makhluk mengerikan keluar dari botol tersebut.

 

“Kau tidak apa-apa Sujin?” Tanya Sooyeon khawatir saat melihat respon dari Sujin.

 

“Tidak apa-apa kak,” balas Sujin sambil mengumpulkan pecahan dari botol cantik di lantai.

 

“Serius?” Tanya Sooyeon lagi ikut berjongkok dan ingin membantu adiknya mengumpulkan pecahan botol tersebut. Tetapi tangannya di tahan oleh Sujin.

 

“Tidak apa-apa kak. Kau mau pergi ke bandara kan? Sana pergi sebelum terlambat. Aku baik-baik saja, serius.” Balas Sujin lagi sambil tersenyum.

 

Sooyeon membalas senyuman Sujin, “Baiklah. Aku duluan ya Sujin! Akan ku bawakan coklat kesukaan mu!”

 

“Oke kak!”

 

+

 

Setelah membereskan pecahan botol itu, Sujin membersihkan badannya dan kembali ke kamarnya. Hari ini ia sendiri karena Soojung akan pergi ke pesta ulang tahun temannya, Sooyeon pergi ke Amerika mengurus pekerjaannya sambil menyusul Ayah dan Ibunya.

 

Sujin menutup pintu kamarnya dan berhenti saat merasakan bulu kuduknya meremang. Ia dapat merasakan ada sesuatu di kamarnya, sesuatu selain dirinya. Dengan perlahan ia mengambil stick baseball yang ada di samping pintu kamarnya. Sujin merasakan keringat dingin membanjiri tubuhnya.

 

Satu… Dua… Ti-

 

Sujin membalikkan badannya dan mengayunkan stick baseball secara brutal untuk menghajar ‘sesuatu’ itu. Tetapi ia tak merasakan apa-apa. Ia tidak memukul apa-apa. Sujin langsung menaikkan kepalanya dan-

 

“AAAAA! KAU SIAPA!” teriak Sujin saat mendapati seorang lelaki, benar-benar lelaki biasa, dan cukup keren, sedang duduk di kasurnya sambil membaca majalah fashion edisi terbaru miliknya.

 

Lelaki itu menurunkan kacamata hitamnya sambil menaikkan sebelah alisnya, “Aku?”

 

“Iya! Kau!” balas Sujin ketakutan.

 

Lelaki itu menaruh majalah milik Sujin dan berdiri menghampiri Sujin yang sedang ketakutan.

 

“Jangan mendekat!” teriak Sujin panic. “Atau stick ini akan menghancurkan kepala mu!”

 

Lelaki itu tersenyum.

 

Klik

 

Ia menjentikkan jarinya dan stick baseball di tangan Sujin langsung menghilang. Sujin langsung berteriak sekeras mungkin dan ingin keluar dari kamarnya. Tetapi pintu kamarnya sudah terkunci dengan sendirinya.

 

“Tolong! Tolong! Aku masih ingin hidup!” teriak Sujin secara brutal. Ia sungguh masih ingin hidup. Ia belum pernah berpacaran atau ia belum cantik. Setidaknya biarkan ia mati dalam keadaan cantik.

 

Lelaki itu mencemooh teriakan Sujin, “bisakah kau berhenti berteriak? Aku tidak akan membunuh mu.”

 

Sujin langsung menghentikan teriakannya.

 

“Benarkah?”

 

“Tentu saja. Karena kau sudah membebaskan ku dari botol jelek itu.”

 

Sujin langsung melebarkan matanya, bersiap untuk teriak lagi. Tetapi lelaki itu langsung menjentikkan jarinya dan Sujin menyadari suaranya telah menghilang. Ia semakin panik.

 

“Dengarkan aku,” lelaki itu menatap Sujin dengan serius. “Aku akan mengembalikan suara mu jika kau berhenti untuk berteriak.”

 

Sujin mengangguk mengerti.

 

“Jika kau berteriak lagi aku akan benar-benar membunuh mu.” Tambah lelaki itu mengancam Sujin.

 

Sujin mengangguk menurut. Dan saat lelaki itu menjentikkan jarinya, suara Sujin telah kembali.

 

“Ya Tuhan suara ku kembali,” ujar Sujin sambil menghela nafasnya lega.

 

“Baiklah langsung saja. Karena kau telah membebaskan ku, kau akan ku beri tiga permintaan,” kata lelaki itu sambil melipat kedua tangannya.

 

Sujin menatap lelaki itu tidak percaya, “hah? Jadi kau semacam jin seperti di dalam cerita aladdin?”

 

“Hmm,” lelaki itu terlihat berpikir sejenak. “Mungkin bisa kau katakan seperti itu.”

 

Sujin benar-benar tidak percaya. Kalau memang benar lelaki tampan di hadapannya ini adalah jin pengabul permintaan hidupnya benar-benar beruntung seperti yang di katakan Taeyeon.

 

“Kau bisa meminta apapun. Tapi aku memiliki tiga peraturan,” tambah lelaki itu memperingatkan Sujin. “Pertama, jangan pernah meminta ku untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Kedua, jangan pernah meminta ku dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu.”

 

Sujin mengangguk paham, “dan yang ketiga?”

 

“Dan yang ketiga jangan pernah jatuh cinta dengan ku.” Lanjut lelaki itu sambil tersenyum miring.

 

Sujin merubah raut wajahnya menjadi malas, “Sungguh? Peraturan macam apa! Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan mu!”

 

“Ya kau tau untuk berjaga-jaga. Setiap peraturan pasti memiliki kemungkinan untuk di langgar.” Kata lelaki itu sambil mengendikkan bahunya.

 

Sujin ingin berteriak frustasi tetapi mengurungkan niatnya.

 

“Jadi, aku akan memanggil mu jin?”

 

“Tentu saja tidak!” Tolak lelaki itu dengan cepat. “Karena aku berada di korea, kau bisa memanggil ku Chanyeol.”

 

“Baiklah, Chanyeol?”

 

“Terdengar seksi,” komentar Chanyeol saat mendengar namanya sendiri. “Dan Sujin…”

 

“Ya?” Balas Sujin dengan tenang.

 

“Kau hanya dapat membuat tiga permintaan. Hanya tiga, dan ku harap kau tidak menyia-nyiakannya.” Ucap Chanyeol dengan serius sebelum ia menghilang dari pandangan Sujin.

 

+

 

Sujin baru saja menyalakan shower saat Chanyeol tiba-tiba muncul di sampingnya.

 

“Ya Ampun Chanyeol aku sedang telanjang!” Teriak Sujin sambil berjongkok menutupi tubuhnya.

 

Chanyeol tersenyum miring “Ups, tidak sengaja.”

 

Lalu Chanyeol menghilang. Sujin terus menyumpah dan melanjutkan acara mandinya dengan was-was.

 

Setelah mengenakan seragam sekolahnya, Chanyeol kembali muncul dengan tiba-tiba. Membuat Sujin sedikit terkaget.

 

“Bisakah kau muncul dengan sopan?” Ujar Sujin sambil mengikat rambutnya.

 

“Baiklah itu permintaan pertama mu?” Kata Chanyeol sambil tersenyum miring.

 

Sujin langsung panik, “tidak! Tidak! Itu bukan permintaan ku. Ayolah kau mengerti tata krama kan?”

 

Chanyeol tampak pura-pura berpikir, “hmm, mungkin tidak.”

 

Sujin menghela nafas dengan kasar. Ia sangat menyesal telah mencuri barang antik milik Taeyeon. Seharusnya otaknya bekerja bahwa setiap sudut di rumah Taeyeon pasti memiliki kekuatan mistis.

 

“Kau sedang berpikir apa?” Tanya Chanyeol dengan wajah polosnya.

 

Sujin menyipitkan matanya karena heran, “Ku kira kau bisa membaca pikiran?”

 

“Aku bisa. Tapi aku tidak bisa membaca pikiran tuan ku.”

 

“Yeah, aku tuan mu.”

 

“Jadi apa yang kau pikirkan?”

 

“Ku beritau ya, setiap manusia pasti memiliki sesuatu yang di namakan privasi.”

 

Chanyeol memutar matanya malas, “kau manusia paling menyebalkan yang pernah ku layani.”

 

Sujin tidak menjawab kata-kata Chanyeol dan pergi menuju dapur. Rumahnya sangat sepi dan Chanyeol memperburuk keadaan dengan mengikutinya.

 

“Kau selalu di rumah sendiri?” Tanya Chanyeol lagi.

 

Sujin menuangkan susu kotak ke dalam gelas, “Yeah kalau Soojung sudah di undang ke pesta ia tidak akan pulang dalam beberapa hari.”

 

“Oh, dan kau akan pergi?”

 

“Tentu saja. Aku akan berangkat sekolah. Apa kau akan mengikuti ku?”

 

“Aku mengikuti tuan ku kemana saja.”

 

Sujin merasa tidak nyaman tetapi ia berusaha untuk tidak peduli. Lagipula ia menyimpan tiga permintaannya.

 

Di dalam bus Sujin hanya dapat memejamkan matanya, ia sangat mengantuk. Setiap saat ia selalu mengantuk. Dan setidaknya dengan tertidur sebentar ia tidak akan melihat keberadaan Chanyeol di sekitarnya.

 

“Tampan sekali!”

 

“Aku bersumpah ia pasti model!”

 

“Ya Ampun dia dari sekolah sebelah. Tampan sekali…”

 

Sujin mendengar suara beberapa anak perempuan dari sekolah lain yang sedang bergosip. Ia tak tau siapa yang mereka puja-puja tersebut, dengan penasaran Sujin sedikit membuka matanya untuk melirik lelaki yang mereka katakan tampan.

 

Holy shi-” Sujin langsung membuka matanya lebar-lebar. Karena yang ia liat saat ini adalah Chanyeol dengan seragam yang sama dengannya lengkap dengan atribut lainnya dan sangat keren.

 

“Kau tau mengenakan seragam ternyata cukup menyenangkan,” kata Chanyeol sambil tersenyum cerah.

 

Seturunnya dari bus, Sujin langsung memukul lengan Chanyeol.

 

“Aw! Itu sakit tau!” Protes Chanyeol sambil mengelus pelan lengannya yang di pukul Sujin.

 

Sujin memijat pelipis kepalanya, “Apa yang kau lakukan Chanyeol!”

 

“Membaur dengan manusia?”

 

“Kenapa kau membaur dengan manusia?”

 

“Karena ingin? Jaman sekarang cukup menyenangkan. Manusia dapat menciptakan alat-alat yang aneh.”

 

“Sudah berapa lama kau terkurung di dalam botol itu?” Tanya Sujin mulai penasaran.

 

Chanyeol tampak berpikir keras, “hmm, mungkin 500 tahun? Atau lebih? Entahlah si jalang itu terlalu lama mengurung ku.”

 

“Si jalang?” Sujin mulai berpikir dan membulatkan matanya, “Maksud mu Taeyeon?”

 

“Tentu saja! Siapa lagi!” Balas Chanyeol sambil memasang raut wajah kesal.

 

“Sujin! Sujin!”

 

Sujin dan Chanyeol langsung menoleh ke sumber suara. Dan sumber suara itu berhenti saat melihat ketampanan seorang lelaki yang berada di sebelah Sujin.

 

“Aku ingin berkembang biak…” gumam Seulgi terpana oleh Chanyeol.

 

Sujin yang menyadari Seulgi terkena jampi-jampi Chanyeol langsung menyadarkannya.

 

“Seulgi!” Panggil Sujin cukup keras. Seulgi langsung sadar dari imajinasinya.

 

“Dia siapa Sujin?” Tanya Seulgi malu-malu sambil tersenyum ke arah Chanyeol. Chanyeol membalas senyumannya dengan seadanya.

 

Sujin memutar kedua bola matanya malas, “Dia saudara jauh ku. Namanya Chanyeol.”

 

“Hai Chanyeol…” sapa Seulgi dengan sangat manis.

 

Sujin hampir saja muntah, “sudahlah ayo kita masuk.”

 

“Kau tidak pernah bercerita kalau punya saudara setampan Chanyeol?” Ujar Seulgi masih terpana oleh Chanyeol.

 

Sujin menarik paksa Seulgi untuk memasuki sekolah dan meninggalkan Chanyeol sendiri.

 

“Percayalah kau tak ingin tau,” kata Sujin dengan wajah sengitnya.

 

+

 

Sudah lima hari Chanyeol berbaur seperti manusia biasa. Bukan, maksudnya manusia populer.

 

Sujin tak habis pikir, Chanyeol benar-benar menikmati kehidupannya disini. Ia tampan, sangat pintar (ia mendengar beberapa murid bergossip), dan multitalent. Tentu saja berita bahwa Sujin dan Chanyeol merupakan saudara sudah menyebar. Setidaknya mereka selalu makan siang di kantin bersama, di tambah Seulgi.

 

“Kau tau ini benar-benar ajaib,” kata Chanyeol sambil memakan ramennya. “Ramen benar-benar enak.”

 

“Tentu saja enak kau selalu memakannya setiap hari.” Ujar Sujin dengan sengit.

 

Seulgi tersenyum memandangi Chanyeol, “Di Inggris tidak ada ramen?”

 

Chanyeol mengaku bahwa ia berasal dari Inggris. Well, 500 tahun yang lalu, batin Sujin.

 

“Mungkin ada?” Balas Chanyeol, “tetapi aku tidak pernah memakan yang seperti ini.”

 

Seusai sekolah, Chanyeol dan Sujin akan pulang bersama. Seperti saudara normal pada umumnya. Chanyeol menghipnotis seluruh keluarga Sujin seolah-olah ia benar-benar saudara jauhnya. Awalnya Sujin merasa keberatan, namun itu tidak merugikannya. Chanyeol sangat baik dalam belajar dan Sujin dapat memanfaatkannya.

 

Mereka sedang berjalan memasuki gang rumah Sujin, cukup jauh jika memulainya dari halte bus dimana mereka turun.

 

“Kapan kau akan meminta permintaan pertama mu?” Tanya Chanyeol sambil membaca buku pelajaran. Itu kebiasaan Chanyeol yang paling aneh menurut Sujin. Chanyeol sangat mencintai buku, katanya.

 

Sujin sedikit berpikir, lalu menjawab, “Tidak tau? Aku harus memikirkannya matang-matang. Aku hanya memiliki 3 ‘kan?”

 

“Baiklah,” Chanyeol menganggukkan kepalanya.

 

“Mengapa terburu-buru?” Balas Sujin bertanya. “Kau terlihat sangat menikmati disini.”

 

Chanyeol menutup bukunya, “Aku benar-benar suka disini. Tapi aku harus tetap menjalankan tujuan awal ku dan pulang.”

 

Sujin ingin menanyakan tentang kata ‘pulang’. Apakah Chanyeol memiliki rumah untuk di tuju? Tetapi ia mengurungkan niatnya dan membelikan Chanyeol patbingsu.

 

-tbc-

 

A/n : terinspirasi dari barang terkutuk di tv series supernatural (I looooove that series) and thankyou for reading guys! Comment if you have any time hihihi. A little bit promotion (lol) visit my wp aurevoir23 (dot) wordpress (dot) com ya! Let’s be friend!

 

24 thoughts on “Beautiful Creatures (Chapter 1

  1. Akhirnya ketemu dg epep(?) yg genre nya beginian 😌😌 setelah sekian lama diriku mencari~ btw thor, aku bklan selalu baca ff ini dah..
    Pengen juga punya jin tampan kayak chanyeol, huft 😞😞
    Btw fast updates and keep writing ya author-nim 😬😬 lav ya

      1. Yahh, bukan gitu maksudnya thor~ genre yg beginian mah udh mainstream bett, tpi ada feel lain lh waktu baca epep(?) ini *jadianeh
        Apalagi yg jd main castnya chanyeolku yg so freaking damn handsome *mintadigeplak

  2. Ha ha…ceritanya baru di ff, tp sdh byk bgt di tv. Keren! Andai aku juga punya jin yg kerrn kek bg ceye satu aja. Aku ga bakal meminta apa pun sampai tua agar dia selalu ada di sampingku..
    Wkwkwk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s