It’s Okay Even If It’s Hurt (Chapter 6B)

its-okay-even-if-its-hurts

|| It’s Okay Even If It’s Hurts || Part 6B ||

 

Main Cast         : Son Ye Jin (OC), Park Chanyeol (EXO-K

 

Authors             : Applexopie

 

Support Cast     : Lee Ho Jung (Actris)

 

 

 

Length               : Multichapter

 

 

 

Genre                : Family, Sad, Romance(?) and

 

 

 

Rating               : PG+15

Happy Reading!!!

 

 -xXx-

Aku memang pantas menerimanya. Rasa sakitnya tidak seberapa dengan rasa sakit hatimu yang selalu aku lukai.

-xXx-

            “Baek Hyun-ah kau baik-baik saja? Bibirmu berdarah.”

            Ye Jin memperhatikan wajah Baek Hyun yang sedikit lebam. Raut wajahnya begitu khawatir. Baek Hyun tersenyum dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ye Jin ragu namun Baek Hyun mencoba meyakinkannya.

“Kalau kau berbohong, aku tidak akan memaafkanmu.”  Baek Hyun terkekeh dan beranjak dari duduknya. Ia memegang gagang kursi roda Ye Jin dan mendorongnya perlahan. Ye Jin yang tadinya sedang khawatir, kini terkejut karena tiba-tiba Baek Hyun mendorong kursi rodanya.

“Kau mau bawa aku kemana? Hey, aku belum selesai bicara.”

“Kau bisa bicara sekarang, kan?”

“Tapi kau mau bawa aku kemana? Kita belum mengobati lukamu.”

“Nanti saja.”

Ye Jin hendak menjawab lagi tapi Baek Hyun sudah meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, menandakan bahwa Baek Hyun menyuruhnya untuk diam. Ye Jin menghela napasnya dan Baek Hyun mendorong kursi rodanya kembali ke kamarnya.

Setelah di sampai kamar, kedua orang tua Ye Jin dan kedua mertuanya sudah ada didalam kamar. Raut wajah Ibunya tampak begitu resah. Ketika Baek Hyun dan Ye Jin masuk, seluruh mata mengarah pada mereka. Ayah Ye Jin beranjak dari duduknya dan berjalan kearah Baek Hyun.

“Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu lebam?”

“Tidak apa-apa, ahjussi. Hanya saja ada—“

“Chan Yeol yang memukulnya.”

Ye Jin memotong ucapan Baek Hyun. Seketika semuanya terbelalak tak percaya. Ibu Ye Jin dan Ibu Chan Yeol beranjak berbarengan dan berjalan menuju Ye Jin.

“Apa? Chan Yeol yang memukulnya?”

“Iya. Ah, Ahjumma..” Ye Jin menatap kearah Ibu Chan Yeol yang tampak shock. Raut wajahnya seolah mengatakan –ada apa.

“Tolong jaga anak ahjumma supaya tidak sembarangan memukul orang. Kasihan temanku di pukul keras olehnya. Untung saja tidak parah, kalau parah bagaimana? Ahjumma mau tanggung jawab?” Ibu Chan Yeol seolah mendapat pukulan yang keras mengenai wajahnya. Hatinya sakit dan nyeri ketika menantu kesayangannya berbicara kasar seperti itu. Ibu Ye Jin mencoba menenangkan Ye Jin yang emosinya sedang merangkak naik.

“Sudahlah, Jin­-ah. Tidak baik berkata seperti itu, dia itu mertuamu. Ingatlah, sayang.”

“Apa? Mertuaku? Aku saja bahkan tidak ingat kalau sudah pernah menikah dan memiliki suami, apalagi mertua. Tolong Eomma hentikan semua ini.” Ye Jin menutup kedua telinganya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Baek Hyun yang sedari tadi mendengar semua ucapan Ye Jin tidak tahu harus bicara apa. Yang pasti ada sebuah permasalahan yang harus ia ikutcampuri dan membantu mencari jalan keluarnya.

Ayah Ye Jin yang melihat Baek Hyun terdiam, membisikkan sesuatu.

“Ayo keluar. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu.”

-xXx-

            Chan Yeol berjalan lesu dengan kepala menunduk menyusuri jalan setapak di taman rumah sakit. Beberapa kali ia menendang angin. Hatinya tampak kesal. Sial.

            “Kenapa laki-laki itu harus ada disini? Siapa dia sebenarnya?”

“Dia itu pacarnya Ye Jin.” Sebuah suara membuat Chan Yeol terlonjak kaget. Kedua matanya terbelalak tak percaya ketika melihat seorang wanita yang begitu ia kenal di sampingnya.

“Ho Jung?? Apa yang kau lakukan disini?” Chan Yeol tampak melirik-lirik taman, takut terlihat oleh salah satu anggota keluarganya.

Ya!! Apa-apaan kau ini? Bukannya senang malah bertanya seperti itu. Tentu saja aku rindu padamu.” Ho Jung memeluk Chan Yeol dan dengan cepat Chan Yeol menghindarinya. Ia menarik tangan Ho Jung pergi dari tempat itu dan mencari tempat yang lebih aman.

“Jawab pertanyaanku. Kenapa kau bisa disini? Bukannya kau ada di Seoul? Kapan kau tiba?”

“Ah ya, aku juga punya pertanyaan untukmu. Kenapa kau tidak menjawab teleponku, oppa?Belakangan ini kau tampak sibuk dengan perempuan murahan itu. Kenapa kau bisa disini? Seharusnya ini kesempatanmu untuk kabur, kau lupa dengan komitmenmu?”

“Jaga bicaramu. Mengenai itu, aku minta maaf. Pikiranku sedang kalut. Apa kau gila? Justru jika aku kabur, mereka akan curiga. Sekarang kau pergilah dan jangan ganggu Ye Jin, kau mengerti?” Ho Jung mendesis dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kenapa aku harus melakukan itu semua? Sebenarnya wanita yang kau cintai itu aku atau perempuan murahan itu?”

“Berhenti memanggilnya perempuan murahan!”

Chan Yeol membentaknya dengan sedikit emosi yang tersulut. Ho Jung menatap Chan Yeol dengan tatapan tajam.

“Oh! Jadi begini tingkah lakumu. Jangan bilang kalau kau sudah mulai menyukainya. Katakan! Katakan padaku kalau kau tidak menyukainya!”

“Aku mencintainya.”

Kedua mata Ho Jung terbelalak tak percaya. Ia tertawa dengan sumringah yang terus melekat diwajahnya.

“Bercandamu sungguh tidak lucu. Kenapa kau—“

“Ho Jung-ah dengarkan aku.”

“Tidak. Aku tidak akan mendengarkanmu. Kenapa kau jadi seperti ini? Kau bukan Park Chan Yeol yang dulu, apa ada sesuatu yang membentur kepalamu?”

“Tidak, tolong dengarkan aku. Aku tahu kau marah dan kecewa padaku. Tapi sekarang aku menyadarinya. Melihatnya terluka dan terbaring lemah diranjang rumah sakit itu sangat membuatku terluka, kau tahu? Aku merasa menjadi suami yang buruk baginya. Dan apa yang aku lakukan selama ini denganmu seratus persen salah besar!”

“Aku tahu aku bodoh. Aku menyadarinya ketika ia sedang tertimpa musibah, dan musibah itu terjadi karena aku tidak menjaga dan melindunginya. Mengenai komitmen dan rasa benciku padanya sama sekali tidak kurasakan lagi. Rasa benciku hilang dan yang ada hanyalah penyesalan.”

“Omong kosong macam apa ini? Kau tahu aku lebih mencintaimu daripada dia!”

“Dan sekarang aku akan membuat keputusan. Keputusan ini sudah kupikirkan dengan sangat matang.” Chan Yeol masih menatap kedua mata Ho Jung didepannya yang sudah timbul bulir-bulir air mata. Jujur saja sebenarnya ia juga tidak sanggup mengatakannya, Ho Jung adalah wanita yang ia sayangi, tetapi itu dulu. Ketika melihat Ye Jin masuk ke dalam hidupnya, rasa sayang itu lambat laun memudar. Dan yang ada hanyalah rasa sayang biasa. Rasa sayang antara kakak dan adik.

“Tidak. Kumohon jangan katakan, oppa. Andwae!” Chan Yeol masih fokus menatap bola mata Ho Jung didepannya. Maafkan aku.

“Aku ingin kita mengakhiri hubungan kita.”

-xXx-

Hyun Ra memegang ponselnya dengan gelisah. Ia beberapa melirik layar ponselnya berharap ada pesan atau sebuah panggilan dari Baek Hyun. Sudah lebih dari 2 jam ia terus-menerus melakukan itu. Sampai akhirnya ada salah satu teman karyawannya menepuk bahunya.

Ya!! Hyun Ra bisakah kau berhenti melakukan itu? Sudah 2 jam lebih kau seperti itu.”

Aish.. Su Ho diamlah. Aku tidak minta pendapatmu.”

“Kau menunggu seseorang? Siapa? Baek Hyun pacarmu itu?”

“Dia bukan pacarku.”

Hyun Ra menjawab hampir sebuah bisikan. Su Ho tertawa dan menepuk bahunya lagi.

“Aku tahu kau menyukainya. Ya sudah, teruskan saja aktivitasmu itu. Aku tidak akan membantumu kalau kau dimarahi boss, ya?”

Hyun Ra menghela napas dan menatap Su Ho dengan tatapan deathglare khas miliknya.

“Dasar cerewet.”

Hyun Ra memasukan ponselnya disaku celananya. Ia menatap jendela kafe tempat ia bekerja itu. Ramai orang berlalu lalang didepannya.

“Apa yang sebenarnya dilakukan anak itu? Kenapa tidak mengabariku? Membuat orang khawatir saja.” Menyebalkan sekali.

-xXx-

Kamar itu sudah tampak lengang. Hanya ada Baek Hyun dan Ye Jin yang sedang menyuapi makan malamnya. Ye Jin tampak bahagia melihat Baek Hyun ada di sampingnya, dia benar-benar seperti malaikat.

“Apa aku setampan itu?” Ye Jin tersadar dan membuang mukanya. Pipinya bersemu merah.

“Ti-tidak. Jangan terlalu percaya diri.” Baek Hyun terkekeh dan menyimpan mangkuk berisi bubur yang rasanya hambar itu. Baek Hyun mengambil jeruk dan mengupaskannya untuk Ye Jin.

“Ye Jin-ah..” Baek Hyun memulai percakapan lebih dulu. Ye Jin menjawab dengan deheman.

“Kau sungguh tidak kenal dengan Chan Yeol?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Sungguh harus berapa kali aku mengatakannya. Aku tidak mengenalnya.” Ye Jin mengambil jeruk ditangan Baek Hyun dan memakannya.

“Kau tidak ingin tahu siapa dia sebenarnya?”

“Untuk apa? Mengetahui orang yang sudah memukulmu sampai lebam, sungguh tidak penting.” Baek Hyun terkekeh.

“Kau tahu? Dulu kau sangat mencintai pria itu.” Ye Jin berhenti memakan jeruknya dan menatap Baek Hyun disampingnya.

“Apa maksudmu? Bagaimana bisa aku mencintai orang yang bahkan tidak kukenali?

“Aku juga mencintaimu.”

Tiga kata itu betul-betul menohok hati. Ye Jin tersedak. Ia melirik Baek Hyun yang sedang menatapnya dengan tatapan dalam. Kenapa aku grogi begini?

“Sudahlah Baek Hyun. Aku tahu kau itu pria yang suka menggait wanita dengan omongan manismu itu. Apa aku juga harus jadi sasaranmu? Hentikanlah.”

“Aku serius. Aku mencintaimu, Jin-ah. Apakah wajahku tampak seperti orang yang sedang bercanda?”

Ye Jin terdiam terpaku. Ia dengan susah payah menelan air ludahnya.

“Be-benarkah?”

“Tentu saja tidak. Hahaha..”

Sial. Ye Jin memukul Baek Hyun keras. Alhasil membuat sang empu kesakitan.

“Dasar kau, ya! Menyebalkan sekali kau, Byun Baek Hyun!!”

Ya!! Berhenti memukulku. Aku ini pasien juga.”

“Pasien apa? Kau itu tidak sakit, bodoh!”

Ye Jin terus menerus memukul Baek Hyun. Baek Hyun pun lari dan ia mendapat lemparan bantal dari Ye Jin. Yah begitulah keadaannya. Baek Hyun memang sosok yang hangat, ia bisa mengubah suasana yang tadinya menegangkan menjadi nyaman seperti ini.

Tanpa mereka sadari, diluar pintu sudah ada seseorang yang hendak masuk ke kamar Ye Jin. Tetapi ia malah berdiri dan memutuskan untuk mendengarkan ucapan kedua manusia yang ada didalam itu. Raut wajahnya begitu kesal dan kecewa, ia pun pergi dari tempat itu. Apa benar yang dikatakan oleh pria bernama Byun Baek Hyun itu?

Tepat tengah malam..

Baek Hyun dan Ye Jin sudah terlelap. Baek Hyun tidur di sofa dan Ye Jin tetap di ranjangnya. Kedua orangtua Ye Jin memang meminta tolong Baek Hyun untuk bermalam di rumah sakit. Karena mereka juga capek dan butuh istirahat satu hari. Namun tidak dengan Chan Yeol. Dia masih berada di rumah sakit itu. Chan Yeol memasuki kamar itu dengan hati-hati tanpa suara apapun dan berjalan menuju tempat tidur Ye Jin.

Chan Yeol menatap wajah Ye Jin yang tenang saat tertidur. Andaikan saja aku selalu melakukan ini ketika ingatanmu belum hilang.

“Jin-ah…” bisik Chan Yeol tepat di telinga Ye Jin.

“Temui aku besok jam 6 pagi di taman. Aku menyayangimu.”

Chan Yeol mengecup kening Ye Jin singkat dan mengelus kepalanya. Setelah melakukan itu, ia keluar dari kamar itu dengan perlahan-lahan. Tidak ada yang tahu kedatangannya dan pesan yang ia ucapkan kepada Ye Jin. Semoga kau mendengarnya di mimpimu.

-xXx-

Setelah diputuskan oleh Chan Yeol, hidup Ho Jung seperti uring-uringan. Ia sudah seharian di club malam di Jeju. Ntah sudah berapa puluh gelas yang ia minum. Benar-benar menyedihkan.

“Haha.. kau..tidak tahu…saja Kim Ho..Jung hik”

“Perempuan..lak..nat! Aku hik akan membunuhmu!!”

“Perempuan sepertimu hik layak untuk masuk NERAKA!!”

Ho Jung benar-benar terlihat seperti orang gila dengan rambut yang acak-acakan itu. Pegawai yang menyediakan berbagai minuman alkohol itu terus menegurnya untuk tidak minum lagi, tapi ia malah berkata.

“Memangnya kau siapa? Chan—Yeol?? Seenaknya saja menyuruhku.”

“Tapi nona, Anda sudah minum terlalu banyak. Biar saya panggilkan taxi untuk Anda.”

“Tidak. Tidak. Aku masih mencintaimu Chan Yeol-ah kumohon jangan akhiri hubungan kita.”

Dia benar-benar mabuk berat. Pegawai lelaki itu hanya terheran-heran dan pergi menelepon Taxi.

“Son Ye Jin.. aku benci namamu!”

“Aku akan menghabisimu hahahaha”

-xXx-

Semuanya tampak seperti dalam labirin. Dimana aku?

Jin-ah

Tunggu, ada yang memanggil namaku.. Siapa kau? Kenapa kau memanggil namaku?

Aku hanya mengatakannya sekali padamu, jadi dengarkan baik-baik.

Bodoh! Permainan konyol macam apa ini? Untuk apa aku mendengar orang yang tidak ku kenal? Katakanlah siapa kau sebenarnya!

Datanglah ke taman jam 6 pagi ini. Jika tidak, maka kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini

Apa? Taman? Taman dimana? Tolong jangan permainkan aku. Hey hey kau dengar aku? Sebenarnya ada apa ini? Aku menatap sekelilingku, semuanya berwarna putih. Apa aku sudah mati? Aku sudah berada di surga? Tiba-tiba tubuhku terjatuh kebawah, tidaaaaakkkkkkkk

-xXx-

Ye Jin membuka matanya setelah ia bergumam-gumam tidak jelas. Di depannya –dinding itu menunjukan pukul 5.55 KST. Hampir jam 6, pekiknya dalam hati. Ye Jin bangun dan turun dari tempat tidur. Baek Hyun yang masih terlelap pun tidak dihiraukannya. Ye Jin berjalan keluar kamar dengan mengendap-endap. Ada apa dengannya? Mau pergi kemana dia?

Ye Jin berjalan dengan keadaan kepala yang diperban menyusuri koridor rumah sakit. Sepi sekali. Orang-orang masih terjaga dalam tidurnya. Hanya ada beberapa suster yang sedang bertugas. Langkah kakinya yang pelan namun pasti itu mengarah pada taman rumah sakit. Tetapi tidak ada seorang pun disana. Ye Jin terheran dan terdiam. Matanya celingukan mencari seseorang. Seseorag? Ini benar-benar konyol! Apa yang sudah aku lakukan di tempat ini? Apa yang tadi itu mimpi?

“Son Ye Jin..” sebuah suara memanggilnya. Ye Jin terdiam dan membalikkan badannya. Matanya terbelalak.

“C—chan Yeol­-ssi? Kau—apa yang—“

“Aku tidak menyangka kalau kau benar-benar akan datang. Jadi kau mendengar ucapanku semalam?” Ye Jin mengerutkan keningnya. Apa yang pria ini bicarakan?

“Kau ini bicara apa? Ucapanmu? Semalam? Apanya… oh!” Ye Jin berteriak sambil mengangkat sebelah tangannya. Matanya menatap tajam Chan Yeol.

“Kau..orang misterius yang mengatakan padaku bahwa aku harus datang jam 6 di taman, kan? Siapa kau? Bagaimana bisa kau masuk kedalam mimpiku hah!?” Chan Yeol keheranan. Ia tertawaJadi ucapanku menjadi kenyataan? Aku masuk dalam mimpinya?

Ya!! Aku tidak memintamu untuk tertawa. Jawab saja.”

“Aku tidak mengerti ucapanmu tapi satu hal yang membuatku senang. Apa benar aku ada didalam mimpimu?”

Ye Jin terdiam. Bodoh! Kenapa aku mengatakannya? Tapi orang yang tadi itu tidak kelihatan wujudnya, jangan-jangan..

“Kau—kau bukan manusia, ya? Jangan dekati aku. Jangan ikuti aku. Aku mau kembali ke kamar. Jangan mengikutiku.”

Ye Jin tampak panik dan berjalan pergi melewati Chan Yeol,tiba-tiba tangannya ditarik Chan Yeol dan membawanya kedalam pelukannya.

Ya!! Lepaskan aku!”

“Tidak.”

“Lepaskan aku!”

“Kumohon tetaplah  begini sampai lima menit.”

“Apa?”

Ye Jin terdiam dirinya dipeluk oleh Chan Yeol. Ntahlah dirinya seakan beku. Jantungnya berdegup kencang saat ini. Tidak..kenapa dengan diriku?

“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Yang pasti aku bukanlah hantu atau sejenisnya. Aku suamimu.”

“Suamiku? Apa yang kau bicarakan? Sudahlah hentikan. Harus berapa kali ku katakan kalau aku bukan–”

Ye Jin terbelalak ketika Chan Yeol menciumnya. Ye Jin memukul bahu Chan Yeol namun pukulannya mereda ketika Chan Yeol menciumnya lembut. Matanya tertutup.  Sial. Chan Yeol menarik bibirnya dari bibir Ye Jin. Chan Yeol menangkup wajah Ye Jin dengan kedua tangannya. Matanya terpusat pada kedua bola mata hazel milik Ye Jin. Aku akan merindukan tatapanmu.

“Maaf sudah membuatmu terluka.”

PLAKK!!

Ye Jin menampar pipi sebelah kiri Chan Yeol. Chan Yeol hanya tersenyum menerimanya.

“Kurang ajar berani-beraninya kau mencuri first kiss-ku!! Aku benci padamu.” Ye Jin berjalan menjauh meninggalkan Chan Yeol ditaman itu seorang diri. Dirinya benar-benar kesal. Chan Yeol hanya tersenyum dan memegangi bagian pipi yang ditampar oleh Ye Jin.

“Aku memang pantas menerimanya, Jin-ah. Rasa sakitnya tidak seberapa dengan rasa sakit hatimu yang selalu aku lukai.”

-xXx-

Laki-laki itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Baek Hyun sudah kembali kealam sadarnya. Ia bangun dan tidak mendapati Ye Jin di ranjangnya. Baek Hyun panik.

“Jin-ah.. Son Ye Jin..”

Baek Hyun mencari-cari Ye Jin di sekitar kamar namun nihil, bahkan ia sudah mengeceknya kedalam kamar mandi. Kemana dia pergi?

“Jin-ah..”

Baek Hyun membuka pintu hendak mencarinya keluar dan bingo! Ye Jin sudah kembali ke kamar.

“Ye Jin-ah kau darimana? Kenapa keluar tidak memberitahuku?”

“Uh? Maaf Baek Hyun-ah. Tadi kau masih tidur lelap sekali, jadi aku tega membangunkanmu. Maaf.” Baek Hyun mengulas senyum tipis.

“Kau darimana?”

“Hanya sekedar berkeliling rumah sakit.”

Baek Hyun mengangguk dan membiarkan Ye Jin untuk masuk kedalam kamar. Baek Hyun masuk ke kamar mandi dan mencuci muka. Setelah selesai, Ye Jin sudah duduk di ranjang sambil makan apel di tangannya. Ekspresinya berbeda.

“Jin-ah kau kenapa? Wajahmu kelihatan kesal.”

Ye Jin merasa terkejut dan menggeleng.

“Tidak. Apa aku terlihat seperti itu?” Baek Hyun mengangguk dan duduk di kursi sebelah ranjang Ye Jin.

“Chaa.. waktunya sarapan. Ayo buka mulutmu.”

“Biar aku saja yang melakukannya.”

Baek Hyun dan Ye Jin terkejut ketika mendengar suara selain suara mereka. Baek Hyun menoleh ke belakang dan mendapati Chan Yeol berdiri disana. Ye Jin memalingkan mukanya dan lanjut memakan apelnya lagi.

Baek Hyun tersenyum melihat Ye Jin yang tampak salah tingkah. Ia pun memberikan mangkuk berisi bubur brokoli itu pada Chan Yeol.

“Jangan menyakitinya.”

“Aku tidak akan melakukannya.”

“Aku pegang ucapanmu.”

Setelah mengatakan itu, Baek Hyun keluar dari kamar dan berpapasan dengan kedua orang tua Ye Jin.

“Baek Hyun-ah kenapa kau keluar? Ye Jin dengan siapa?”

“Ada Chan Yeol di dalam, ahjumma. Dia sedang menyuapi Ye Jin.”

“Oh, benarkah? Baguslah. Terima kasih sudah menjaga Ye Jin semalaman.” Baek Hyun tersenyum lagi.

“Tidak masalah,ahjusshi. Lagipula Ye Jin adalah sahabatku, jadi tidak mungkin kalau aku tidak membantunya disaat sulit. Aku pamit berkeliling sebentar.” Baek Hyun membungkuk sopan dan meninggalkan kedua orang tua sahabatnya itu yang juga sudah Baek Hyun anggap sebagai kedua orang tuanya.

Baek Hyun berjalan menuju taman rumah sakit. Yah memang tidak ada tempat menarik selain taman di rumah sakit ini. Banyak pasien-pasien yang sedang menghirup udara segar pagi hari dengan kursi roda mereka. Baek Hyun menyusuri jalan setapak disana dan kesenangannya terganggu karena ponselnya bergetar. Baek Hyun merogoh saku celananya dan tersenyum ketika melihat nama si penelepon di layar ponselnya.

Yeoboseyo..”

-xXx-

“Ayo buka mulutmu..Aaa”

“Apa yang kau lakukan disini hah!? Pergi saja. Aku bisa makan sendiri.” Ye Jin menolak sesendok bubur yang Chan Yeol berikan.

“Tidak mau. Aku akan keluar dari kamar ini kalau kau sudah menghabiskan buburmu. Ayo buka mulutmu.”

“Dan aku tidak akan membuka mulutku sampai kau keluar dari ruangan ini.”

Chan Yeol terdiam. Keduanya sama-sama keras kepala. Benar-benar pria ini, sudah mengaku menjadi suamiku, sekarang malah memaksaku. Kau pikir kau itu siapa?

“Kalau begitu kau tidak perlu makan dan aku tidak perlu keluar dari kamar ini, setuju?”

“Kau benar-benar gila.”

“Aku memang gila. Makanya cepat setuju atau tidak?” Ye Jin terdiam dan meletakkan apelnya diatas meja. Kau pikir aku takut?

“Okey, deal.”

Ye Jin memalingkan wajahnya menghadap kearah TV. Kartun pagi yang menemani pagi Ye Jin kali ini adalah Spongebob Squarepants. Lama-kelamaan sunyi meliputi keduanya.

Krunyuukk..

Ye Jin terbelalak. Perutnya benar-benar lapar. Sial kenapa harus berbunyi sekarang? Perut.. kau mempermalukanku. Chan Yeol terkekeh mendengar suara itu.

“Kalau lapar bilang saja. Sini biar ku suapkan.”

Bodoh sekali. Yah untuk kali ini mau tidak mau Ye Jin harus merendahkan harga dirinya di depan Chan Yeol. Melihat Ye Jin yang lupa semua tentang Chan Yeol, sungguh lucu. Sebelum lupa ingatan, Ye Jin sangat mengejar-ngejar cinta Chan Yeol, namun ketika Ye Jin lupa ingatan, giliran Chan Yeol yang mengejar-ngejar cinta Ye Jin. Dunia seperti jungkir balik rasanya.

“Chan Yeol-ssi..” Chan Yeol seperti terbang ke langit ketika Ye Jin menyebut namanya. Seperti mimpi rasanya.

“Ada apa?”

“Kau yakin kalau aku adalah istrimu?”

“Tentu saja. kenapa?”

“Kenapa aku tidak yakin kalau kau suamiku, ya? Dan juga, sudah berapa lama kau menikah? Masa iya kau tidak memiliki anak? Dan setelah kulihat-lihat.. kau masih muda sama sepertiku.” Chan Yeol berhenti menyuapi Ye Jin dan menggenggam tangan Ye Jin.

“Hey.. kau ini kenapa?”

“Cepatlah sembuh dan segera mengingatku. Aku akan memperbaiki rumah tangga kita.”

-xXx-

“Ya!! Byun Baek Hyun kapan kau pulang? Pekerjaanmu menumpuk dan sialnya aku harus mengerjakannya sendirian. Kau harus mentraktirku.”

Hahaha maaf. Besok aku akan pulang ke Seoul. Kau ingin aku mentraktirmu apa?

Tidak sekarang.. ya ya!! Yeoboseo… test 1 2 3.. hey Baek Hyun-ah kau tahu Hyun Ra benar-benar menanti telepon darimu. Ia termenung selama 2-3 jam melirik ponselnya terus. Jangan membuatnya seperti itu.. cepatlah pulang.

Suho hyung? Hahahaha benarkah itu?

Berikan teleponnya padaku..yeoboseyo.. ya Baek Hyun jangan percaya ucapannya. Dia itu pembohong professional. Mana mungkin aku melakukan hal gila semacam itu. Membuang waktu saja.

Aku tidak tahu mana yang benar. Yang pasti aku senang mendengarnya.

Kau ini bicara apa? Oh ya bagaimana dengan Ye Jin? Kau bertemu dengannya?

Tentu saja. Ada suatu masalah yang harus kuselesaikan disini.

Masalah apa?

Tidak sekarang ku ceritakan.

Baiklah, ya sudah jaga dirimu. Cepat kabari aku kalau kau sudah mau berangkat ke Seoul. Jangan membuat orang khawatir, kau bisa melakukannya, kan?

Tentu saja, Princess.

Yaa!! Jangan menggodaku.

Aku tidak menggodamu, Hyun Ra-ya

Aku tutup teleponnya.

 

Baek Hyun menutup teleponnya seraya terkekeh. Benar-benar gadis itu.

-xXx-

Ada apa ahjussi?

Ye Jin menderita amnesia. Ia kehilangan sebagian memorinya makanya ia tidak mengenali Chan Yeol. Kata dokter, ia tidak bisa mengenali Chan Yeol karena Chan Yeol merupakan orang yang begitu ia cintai. Amnesia ini memang tidak parah, bisa kembali seperti semula sewaktu-waktu.

Lalu, ahjussi ingin aku melakukan apa?

Tolong bantu Ye Jin mengingat Chan Yeol kembali.

 

 

TO BE CONTINUE

 

2 thoughts on “It’s Okay Even If It’s Hurt (Chapter 6B)

  1. Ooooowwwww …..ye jin lucu deh kalo lgi hilang ingatan…kehidupan merekan serasa di balik…..seruuuuu deh
    …jadi gk sabar nunggu klanjutanya…haha…next ya kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s