EMBRACE THIS SUMMER (Chapter 1)

IMG-20160110-WA0000

The third series of “The Real Destiny”

Embrace This Summer

Chapter 1

Xi luhan | Park Ji Eun

An Alternative Universe and Romance story by @claraKHB

—————————————————————————–

Biarkan seperti ini, kumohon

Jangan biarkan waktu ini berlalu begitu saja

Aku ingin seperti ini bersamamu, kita berdua

~~~ Embrace This Summer ~~~

I want to grab you right here, right now. I won’t to lose you, again. I’m sorry for the thing i have made, i don’t know how to breath that time till i said those ill word. I just wanna say, i’m sorry~

 

Author

“Aku turut berduka cita, Ji Eun-ah~”

“Jangan terlalu lama bersedih, jaga kesehatanmu juga.”

“Semoga kau tetap tabah dan kembali ceria.”

“Aku tahu kau gadis yang kuat.”

Setiap ucapan yang disampaikan teman-teman Ji Eun membuatnya semakin kuat dan tabah. Ya, ia kehilangan salah seorang yang ia kasihi.

“Appa~ lihatlah aku tidak menangis seperti yang kauminta. Maafkan jika kemarin aku tak dapat menahan air mataku jatuh. Maafkan aku, Appa~” lirih Ji Eun dalam hati sambil tetap menyambut tamu yang datang ke rumah duka.

“Kau tak apa? Duduklah, biar aku yang menyambut para tamu yang datang.” Sahut Luhan dengan menepuk pundak kekasihnya itu.

“Tidak perlu, aku benar-benar tak apa. Lebih baik kau temani eomma.” Ucap Ji Eun seraya tersenyum tulus.

“Kau yakin? Baiklah. Panggil aku jika membutuhkan sesuatu.”

“Aku mengerti.” Ji Eun tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.

Benar.

Hari ini merupakan hari kedua setelah wafatnya ayah Ji Eun, Park Oh Yong karena penyakit jantung yang ia derita. Mulanya Ji Eun begitu menyayangi beliau, namun seiring bergantinya waktu ia justru membenci ayahnya karena telah meninggalkan ia dan ibunya ketika banyak masalah yang melanda keluarga mereka. Namun, Ji Eun bukan lagi anak kecil, ia sadar bahwa dirinya tidak boleh menyimpan dendam dan kebenciannya terlalu lama pada laki-laki tersebut.

Bahkan saat ia merasakan sakit yang amat sangat di musim dingin lalu ia masih tetap menyayangi ayahnya meskipun tak jarang kata-kata yang tak pantas terucap dari bibirnya.

Menjelang waktunya, ayah Ji Eun berpesan pada anak gadisnya itu untuk tidak menangis di depan petinya. Ia ingin melihat anaknya selalu tersenyum karena selama ini ia tak pernah lagi melihat senyum itu, hanya ada tangis yang ia sebabkan.

Maafkan appa yang tak bisa membahagiakanmu sebagai ayah. Sungguh, aku minta maaf padamu. Aku juga tak bisa mengantarmu ke altar pernikahan nanti, namun doaku akan selalu menyertaimu, Park Ji Eun. Appa mencintaimu~

“Appa, tidakkah kau menyesal telah pergi tanpa melihat anakmu ini tersenyum cerah di hari bahagianya nanti? Bahkan hingga menimang seorang keturunan Park untuk jadi cucumu? Kau tidak mau melihatnya?” lirih Ji Eun yang kini tengah terduduk lemas di dekat peti ayahnya.

“Mianhae, Appa. Aku tak bisa menepati janjiku yang satu ini.” Sedetik kemudian air mata Ji Eun mulai menyeruak keluar dari genangannya di pelupuk mata dan berhasil membasahi kedua pipi Ji Eun.

‘Dad, can you hear me? I really love you. I want to show you about my life in the future. But i realize that you’re not here now and i’m sorry, Dad. You said that I can be a precious diamond that you prouding on it, but I can’t.’

“Kau bohong!”

“Mengapa kau di sini? Bukankah kau seharusnya menemani eomma?”

“Anni. Aku tahu keadaanmu sedang tidak baik tapi masih bisa bicara bahwa kau baik-baik saja? Maksudmu?”

“Ya! Aku tahu, aku tahu. Sudahlah, aku hanya terbawa emosiku. Mari kita masuk ke dalam dan temani eomma.”

Seperti itulah Luhan, tidak pernah membiarkan Ji Eun menangis. Dan peristiwa musim dingin kemarin menjadi tamparan keras baginya. Dirinyalah penyebab air mata yang turun dari mata Ji Eun di musim dingin kemarin.

“Ne,” sahut Luhan menyetujui ucapan Ji Eun.

 

~~~ Embrace This Summer ~~~

Ji Eun

Satu minggu berlalu semenjak kematian appa. Hh, kukira musim semi kali ini akan bermakna karena aku telah kembali dengan Luhan. Tetapi semua memang bukan kehendakku yang jadi, Tuhan lebih menyayangi appa sehingga ia memanggilnya terlebih dahulu. Aku yakin kau bahagia di sana, Appa.

“Kajja~”

“Ne,”

Kami, aku dan Luhan akan pergi ke apartemen Na Yoon hari ini. Ia membuatkan sup rumput laut dan menitipkannya pada kami untuk diberikan pada eomma. Ya, dia memang gadis yang baik.

“Kau tahu? Sebelumnya kukira musim semi ini akan melihat senyum terbaikmu, melihat kau tertawa bersamaku. Namun sepertinya saat-saat ini begitu sulit bagimu, maafkan aku.”

“Anniyo~ aku hanya sedang berusaha. Berusaha untuk bisa menerima diriku kembali. Sebelumnya aku menyesal dan kecewa dengan diriku sendiri, mengapa aku baru menyadari bahwa ayahku ternyata begitu menyayangiku setelah ia telah tiada? Mengapa aku sebodoh ini?” terlihat raut wajah Luhan berubah dan mengernyitkan dahinya.

“Mengapa kau bicara seperti itu? Ini semua merupakan proses, jika ayahmu mendengarmu barusan ia akan sangat sedih. Jadi, hentikan menyalahkan dirimu sendiri.”

“Maaafkan aku~” kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Di tengah perjalanan, aku melihat seorang gadis kecil yang sedang menangis di seberang jalan. Hatiku miris seketika melihatnya, aku pun meminta supir bus menghentikan lajunya dan dengan cepat aku keluar. Luhan yang terkejut dengan apa yang aku lakukan hanya dapat mengikutiku.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Luhan padaku dengan sedikit tersengal karena berlari.

“Tunggu~” aku terus berlari hingga mendapati gadis kecil tersebut.

“Ada apa? Mengapa kau menangis?” tanyaku dan langsung memeluknya erat untuk menenangkannya.

“Appa~ appa~” ucapnya di tengah tangisnya yang kencang.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Di sini banyak orang, mereka akan mengira kita melakukan sesuatu yang buruk pada anak ini.” Bisik Luhan dengan senyum yang dipaksakan.

“Sudah, sekarang sudah tidak apa-apa. Ayo kita cari appamu, pasti tidak jauh.” Bisikku di telinganya sambil menepuk pelan punggung gadis itu. Dalam hitungan detik, tangisnya pun mereda.

“Kau janji?”

“Ne, kajja~”

“Ap.. apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau orang tuanya mencarinya? Park Ji Eun..”

“Salah siapa meninggalkan anak sembarangan?” Kuacuhkan Luhan yang masih tercengang di tempatnya.

“Kemana kita harus mencari orang tuanya?”

“Dia akan kubawa terlebih dahulu ke rumah Na Yoon. Setelah itu baru kita mencari bersama-sama.”

“Micheoseo? Apa yang akan Na Yoon katakan jika melihat kau membawa… seorang anak?”

“Apa yang kau pikirkan?” kupasang poker face terbaikku.

“Park Ji Eun?”

“Eonnie~ sepertinya oppa ini tidak menyukaiku. Lebih baik aku menunggu appa~” tiba-tiba gadis kecil tersebut mengucapkan sesuatu yang membuatku sedikit tersentak.

“Eoh? Anniyo~ tentu oppa ini sangat menyukaimu. Dia hanya sedikit lelah, oh ya.. siapa namamu?”

“Ga In, Oh Ga In.”

“Nama yang cantik. Baiklah sekarang kau ikut eonnie sebentar, ya? Setelah itu aku janji kita akan mencari appa dan eomma mu.”

“Kau bukan penculik, ‘kan?” tanyanya sedikit ragu.

“Tenang saja, oppa ini akan melaporkanku ke polisi jika aku memang menculikmu. Arra?”

“Aku mengerti.” Kami pun melanjutkan perjalanan ke apartemen Na Yoon. Kucuri pandang kearah Luhan. Wajahnya terlihat masam dan tidak bersemangat.

Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kami pun sampai di apartemen Na Yoon. Luhan masih terlihat sama, tak menampakkan wajah bahagianya sama sekali. Maafkan aku, Luhan.

Kutekan bel dekat pintu apartemennya, tidak lama kemudian Na Yoon pun membukakan pintu bagi kami.

“Lama sekali baru datang kalian.. nuguya?” ucapan Na Yoon berubah laval. Ia pun membungkuk dan menyejajarkan pandangan matanya dengan Ga In.

“Siapa namamu, gadis manis?” Na Yoon kembali bertanya.

“Oh Ga In. Kakak sangat cantik seperti dia.” Tunjuknya kearahku. Wajahku pun sedikit memerah karena tersipu.

“Wah.. kau benar-benar lucu. Siapa dia, Ji Eun?”

“Molla~ aku menemukannya di tepi jalan raya. Sepertinya ia terpencar dengan orang tuanya.” Jawabku ringan.

“Menemukan? Mungkin istilah yang lebih tepat adalah kau berusaha mendapatkannya.” Luhan tiba-tiba menyahuti dengan nada suara yang menyebalkan.

“Ada apa sebenarnya? Mengapa makhluk ini tampak tidak suka?” Na Yoon mempertanyakan keadaan yang sebenarnya.

“Kau tahu dia, kan? Terlalu melebih-lebihkan.” Ucapku dan langsung masuk ke dalam apartemen Na Yoon seraya menggandeng Ga In.

“Kau tidak ingin masuk?” tanya Na Yoon di belakangku pada Luhan.

“Anni. Aku akan ke toko mainan di seberang. Aku ingin membeli rubik.”

“Pergilah! Cepat kembali!” seruku dari ruang santai.

“Sepertinya kau punya teman baru(?)” Luhan membalas seruanku dengan laval yang tak dapat kuartikan.

Entahlah.

Aku merasa senang berada di dekat Ga In. Aku merasa melihat diriku di masa lalu melalui Ga In. Aku menyukainya, dia begitu manis dan baik.

“Jadi, bagaimana kau bisa terpisah dengan orang tuamu, sayang?” tanya Na Yoon yang langsung duduk di sebelah gadis kecil bernama Ga In ini.

“Molla, Eonnie. Aku telah menunggu appa sangat… lama. Namun appa tak juga datang.”

“Baiklah. Sekarang kau makan ini dulu ya, nanti eonnie ini akan membantumu mencari appamu.” Lanjut Na Yoon seraya memberi semangkuk sup rumput laut buatannya dan kemudian mengarahkan telunjuknya padaku.

“Jangan khawatir, kita akan mencari bersama-sama. Sekarang, makanlah.” Sambungku.

Dengan melihat seorang Oh Ga In saja hatiku menjadi sangat tenang. Aku tak tahu. Hubungan keluarga saja tidak ada, bagaimana aku bisa sangat menyukainya? Ah, entahlah.

~~~ Embrace This Summer ~~~

 

Author

“Jadi sekarang gadis kecil itu lebih penting?” gumam Luhan dengan mengerucutkan bibirnya kesal. Ia baru saja membeli rubik baru di seberang gedung apartemen dimana Na Yoon tinggal. Namun matanya tidak sengaja menangkap suatu pemandangan. Banyak orang berkerumun di pinggir jalan tidak jauh dari tempat Luhan berdiri saat ini.

“Ada apa?” batinnya.

Luhan berjalan perlahan mendekat kearah keramaian tersebut. Semakin ia mendekat, air mukanya berubah. Ia tak percaya akan apa yang dia lihat saat ini. Seorang wanita muda sedang terkapar dengan darah yang bercucuran di sekitar keningnya dan membawa selembar foto.

Luhan hendak mengambil foto tersebut, namun polisi melarangnya dengan alasan sebagai barang bukti. Namun sepintas wajah di dalam foto itu tampak familiar baginya. Hingga ia baru menyadari…

“Ga In?” matanya melebar sempurna. Ia panik dan tak tahu harus melakukan apa.

“Ap.. apa ada yang tahu bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Luhan pada beberapa orang yang berdiri sekitar tempat kejadian.

“Wanita itu berjalan tanpa arah dan menangis sambil bertanya ke semua orang. Ia menanyakan keberadaan anaknya dengan bantuan foto itu. Namun, tiba-tiba mobil yang melaju kencang ke arahnya menabrak hingga wanita itu tewas seketika karena ditabrak cukup kencang.” Ujar salah seorang yang menyaksikan kejadian tersebut.

Luhan semakin panik karenanya. Ia memutuskan untuk berlari sekencang mungkin kearah apartemen Na Yoon.

“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, Park Ji Eun?” gumam Luhan dengan suara bergetar karena frustasi.

Ia tiba di depan pintu apartemen Na Yoon dan segera menekan bel.

“Kau sudah kembali?” tanya Na Yoon namun diacuhkan Luhan yang langsung masuk dan mencari Ji Eun.

“Kau puas? Kau senang berada di dekatnya, huh? Benar begitu, nona Park?”

“Luhan? Ada apa sebenarnya? Ada apa denganmu?” Ji Eun nampak bingung dengan sikap Luhan saat ini.

Dengan sigap ia menarik tangan Ji Eun dan menjauh. Cengkraman Luhan di tangan Ji Eun begitu kuat sehingga gadisnya itu merintih kesakitan, namun Luhan tak peduli.

“Lepas!”

Plak!

Sebuah tamparan mendarat mulus di dipi kiri Luhan.

“Ada apa denganmu?” tanya Ji Eun dengan emosi yang tak dapat ia tahan lagi.

“Dia, gadis kecil itu.” Suara Luhan terdegar sangat pelan.

“Oh Ga In? Ada apa? Kau cemburu padanya, huh?”

“Aku terlalu bodoh untuk cemburu padanya. Asal kau tahu, kau baru saja membuatnya kehilangan seorang ibu!” tegas Luhan dengan sedikit menahan nada bicaranya agar tak sampai terdengar Ga In maupun Na Yoon.

“Ap.. apa maksudmu?” kini Luhan menarik tangan Ji Eun namun tak sekencang sebelumnya dan membawa gadis tersebut keluar apartemen.

“Kemana kau akan membawaku?” tanya Ji Eun yang hanya berbuah acuhan Luhan.

Luhan membawa Ji Eun ke kerumunan orang di luar dimana sebelumnya ia pergi kesana.

“Kau lihat itu.” Ucap Luhan pelan.

Ji Eun mendekat dan seketika ia membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia hampir berteriak.

“Apakah..” tenggorokan Ji Eun terasa begitu tercekat.

“Ia tertabrak mobil saat mencari anaknya. Ia begitu frustasi hingga tak menyadari sebuah mobil melaju kencang kearahnya. Kau tahu? Ya, anak itu adalah Ga In. Oh Ga In.” Ucapan Luhan bagaikan sangkakala yang ditiupkan tepat di telinganya sehingga ia menutup kedua telinganya rapat-rapat.

Luhan pun mengajak Ji Eun menjauh dari keramaian. Ia memeluk Ji Eun yang masih menutup telinganya.

“Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya, Park Ji Eun?” lirih Luhan dekat telinganya agar dapat didengar gadisnya itu.

“Sudahlah. Ini juga bukan sepenuhnya salahmu. Jika saja ibu itu lebih berhati-hati dan pengendara itu tak melajukan mobilnya dengan kencang, pasti tidak begini ceritanya.” Luhan berusaha menenangkan Ji Eun.

Keadaan menjadi hening. Tak ada yang berbicara, bahkan kini Ji Eun nampak seperti orang bodoh. Diam sambil menutup telinganya dan pandangan matanya begitu kosong. Tak ada apapun yang terpancar dari dalam matanya.

“Anniyo~” lirih Ji Eun dengan pandangan yang masih kosong.

“Anni. Ini memang salahku. Aku yang membunuh ibu Ga In. Aku Luhan, akulah orang yang membunuh ibu Ga In!” ucapnya dengan suara seraknya.

Dengan sekali hentakan, Ji Eun berhasil melepaskan diri dari pelukan Luhan dan berlari kearah jalan raya dimana lalu lalang kendaraan sangat ramai.

Klakson mobil-mobil berbunyi dan meneriaki Ji Eun yang berdiri di sana. Dengan cepat Luhan menarik lengan Ji Eun menjauh dari jalan raya.

Plak!

“NEO MICHEOSEO?!! HUH?!” teriak Luhan tepat di depan wajah Ji Eun setelah menampar pipi kekasihnya itu.

Nampak Ji Eun yang telah berderai air mata dan menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar hilang akal. Ia bahkan tak tahu apakah perbuatannya ini menjadi sebuah penyelesaian atau justru memperkeruh masalah?

“Kalau kau mau mati katakan saja! Biar aku yang membunuhmu!” Luhan kembali berteriak, namun kini ia pun menangis. Ia tak peduli lagi meskipun banyak orang tengah melihat mereka heran saat ini.

“Aku.. aku yang melakukannya, Luhan. Aku pem..”

Belum sempat Ji Eun menyelesaikan ucapannya, Luhan telah mengunci bibir gadisnya itu dengan bibirnya. Kecupan yang terasa basah karena air mata.

“Jangan lanjutkan.” Lirih Luhan melepas ciumannya dari Ji Eun.

Appa~ aku membunuh seseorang! Aku seorang pembunuh, Appa~

— To Be Continue —

 

IMG-20160110-WA0000.jpg

2 thoughts on “EMBRACE THIS SUMMER (Chapter 1)

  1. aku rasa jieun nggak sepenuhnya bersalah. trus itu anak kecil gimana? bapaknya masih ada kan? kan agak kikuk kalo jieun yg rawat. jieun aja belum nikah masa udah langsung ngurus anak kecil gitu :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s