It’s Okay Even If It’s Hurts (Part 7 END)

its-okay-even-if-its-hurts.jpg

|| It’s Okay Even If It’s Hurts || Part 7 ||

 

Main Cast         : Son Ye Jin (OC), Park Chanyeol (EXO-K

 

Authors             : Applexopie

 

Support Cast     : Lee Ho Jung (Actris)

 

 

 

Length               : Multichapter

 

 

 

Genre                : Family, Sad, Romance(?) and

 

 

 

Rating               : PG+15

Happy Reading!!!

 -xXx-

Cinta  kembali menemukan dirimu yang sesungguhnya.

-xXx-

 

Hari ini keluarga Son memutuskan untuk membawa kembali Ye Jin kembali ke korea. Ingatannya belum juga pulih semenjak seminggu terakhir ini.  Kehadiran Baek Hyun disisinya membuat Ye Jin selalu tersenyum. Tersenyum kepada lelaki yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya melainkan seorang sahabat. Chan Yeol belakangan ini selalu murung melihat kedekatan Baek Hyun dan istrinya, Ye Jin. Setiap kali Chan Yeol mendekatinya, pasti Ye Jin akan menghindar.

“Aku tidak mau bicara padamu. Kenapa kau belum juga pergi? Kau juga mau ikut ke Korea?”

Ye Jin berdiri dengan kepala yang masih dibalut dengan perban. Kedua tangannya melipat di depan dada seraya membuang muka pada seorang lelaki didepannya. Tas-tas yang mereka bawa pertama kali menginjaki pulau Jeju ini pun dibawa pulang. Dan Ye Jin sempat terheran ketika Ibunya mampir ke sebuah villa yang tidak dikenalinya. Ibunya mengatakan bahwa villa itu adalah villa milik keluarga Chan Yeol dan villa tersebut adalah tempat mereka tinggal di Jeju selama bulan Madu berlangsung. Mendengar itu membuat Ye Jin semakin membenci Chan Yeol.

Benar-benar gila aku dibuatnya. Apa yang dia lakukan pada Ibuku? Hipnotis?

“Kau akan tahu tahu nanti. Ayo masuk dan bergegas ke bandara.” Ucap Chan Yeol sambil menarik tangan Ye Jin untuk masuk ke mobil tapi Ye Jin malah menghempaskan tangannya.

“Jangan sembarangan menyentuhku. Mana Baek Hyun? Aku harus pulang dengannya, bukan dengan kau. Kau ini sudah ku bilang AKU BUKAN ISTRIMU. Apa aku harus melafalkan kalimat itu beribu-ribu kali supaya kau mengerti? Jangan terlalu berharap.” Ye Jin menatap Chan Yeol sinis dan tajam kemudian melirik ke segala arah mencari keberadaan Baek Hyun.

“Jin-ah sudahlah jangan bersikap kasar pada Chan Yeol. Baek Hyun sudah berangkat lebih dulu, dia mengambil penerbangan lebih awal dari kita.”

“Apa?”

“Dan kita akan berangkat dengan penerbangan selanjutnya, bersama Chan Yeol dan keluarganya.” Ye Jin mengerjapkan matanya tak percaya. Tolong katakan padaku kalau ini sebuah lelucon. Chan Yeol yang daritadi mendesah langsung menarik tangan Ye Jin masuk kedalam mobil dengan gerak yang cepat sehingga Ye Jin tidak bisa menolak. Chan Yeol menutup pintu mobil dan membungkuk pada mertuanya.

“Aku duluan, Eomonim.”

“Iya. Jangan terlalu memaksakan dirimu Chan Yeol. Ye Jin akan segera mengingatmu. Pasti.” Chan Yeol mengangguk dan memberi sebuah senyum terbaiknya. Ia pun berjalan menuju kursi kemudi dan melajukan mobil. Ketika masuk Ye Jin sudah memakinya dan menyuruh Chan Yeol untuk keluar dari mobil.

“Berhentilah mengoceh dan pasang sabuk pengamanmu! Apakah kau mau membiarkanku mencelakakan dirimu?” Chan Yeol bicara dengan suara lantang dan lumayan tinggi membuat Ye Jin bungkam seribu bahasa. Ye Jin dengan secepat kilat memasang sabuk pengamannya dan mengalihkan pandangan dari Chan Yeol. Menyebalkan! beraninya kau membentakku. Awas kau!Batinnya. Menatap keluar jendela tidaklah buruk.

-xXx-

“Hey.. tidak perlu berteriak. Aku sudah kembali.”

“Tidak perlu berteriak katamu? Asal kau tahu Byun Baek Hyun kau benar-benar membuatku kewalahan atas seluruh pekerjaanmu yang dengan tampang tidak berdosa kau titipkan padaku. Apa aku ada berbuat salah padamu, huh? Pernahkah pernahkah?”

Baek Hyun sudah tiba di Korea sekitar 20 menit yang lalu dan ia bergegas menuju tempat kerjanya, namun ia menyesal. Ketika tiba, suara cempreng milik Hyun Ra memecahkan keheningan di gendang telinga Baek Hyun. Baek Hyun daritadi menutup kedua telinganya dan hanya di tertawakan oleh Suho yang melihatnya.

“Hey Baek Hyun..kau sudah membangunkan singa yang sedang tertidur.” Suho berteriak kepada Baek Hyun dan langsung mendapat pandangan tajam dari Hyun Ra.

“Siapa yang kau katakan ‘singa’ hah? Dasar pendek.”

“Hey kau sadar tidak dengan ucapanmu? Aku ini seniormu, kau mau dikenakan sanksi?” Suho berjalan mendekati Hyun Ra dan berbicara seperti senior papan atas. Hyun Ra menunduk.

“Sudah, kembali bekerja. Jangan membuat keributan. Ini bukan kebun binatang, kalian mengerti?” keduanya mengangguk dan pergi ke dalam ruangan tempat penyimpanan barang-barang karyawan.

“Kau harus membayar ini, kau mengerti Baek Hyun-ssi?”

“Berhentilah bersikap sok jual mahal. Aku tahu kau rindu padaku, kan? Jangan bersikap membenciku tetapi didalam hatimu kau merindukanku.” Baek Hyun tersenyum manis yang membuat Hyun Ra membeku. Baek Hyun membuka kedua tangannya lebar-lebar menandakan bahwa ia ingin menyambut pelukan rindu dari Hyun Ra. Pria ini benar-benar..

“Kau ini bicara apa? Apa itu maksudnya..kau meminta pelukan? Hahaha jangan—“

Belum selesai Hyun Ra menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Baek Hyun memeluknya erat. Menyium aroma shampoo yang menguar ketika hidungnya menyentuh rambut milik Hyun Ra. Hyun Ra sempat terdiam dan akhirnya mencoba melepaskan pelukan Baek Hyun.

“Hey..lepaskan Baek Hyun-ah kau ini apa-apaan, sih?”

“Biarkan begini sampai 5 menit.”

“Tapi—“

“Diamlah…aku rindu padamu.”

-xXx-

                Selama di perjalanan menuju bandara, Chan Yeol dan Ye Jin masih saling bungkam. Mobil itu terlihat sepi seperti tidak ada penghuni. Hanya ada suara penyiar radio.

“Apa kau tidak bosan?” suara Ye Jin memecahkan keheningan. Chan Yeol yang sedang  bergulat dengan pikirannya kini terbuyar.

“Bosan kenapa?”

“Bosan mengikutiku. Aish.. aku tahu kau mungkin menganggapku wanita yang ‘mirip’ dengan istrimu, kan? Aku juga memiliki kehidupan sendiri jadi—“

“Kau masih dalam tahap penyembuhan. Kumohon bersabarlah dan tetap berada di sampingku selagi ingatanmu belum pulih.” Potong Chan Yeol membuat Ye Jin terhenti sejenak, kemudian ia menghela napasnya.

“Penyembuhan apa? Aku baik-baik saja.”

“Dan fakta berkata lain. Kau baru saja keluar dari rumah sakit.”

“Tapi Chan Yeol-ssii—“

“Aku tidak akan menyakiti hatimu lebih dalam lagi.”

Ye Jin benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Chan Yeol. Penyembuhan? Oke dia memang habis kecelakaan tetapi kata ‘menyakiti’ yang Chan Yeol ucapkan membuat Ye Jin terheran. Sebenarnya dosa apa yang sudah dilakukan oleh pria ini? Batinnya.

Seketika suasana kembali membeku. Namun suara ponsel Chan Yeol memecah keheningan. Ye Jin yang tadinya baru saja melirik keluar jendela kini menatap Chan Yeol yang sedang mengambil ponselnya. Dari raut wajah Chan Yeol terlihat bahwa ada keterkejutan disana dan dering ponselnya bahkan tidak terhenti. Chan Yeol tidak mengangkatnya.

“Kau tidak mengangkatnya?” tanya Ye Jin namun Chan Yeol hanya diam membiarkan ponselnya terus berbunyi.

“Hey itu sangat berisik. Angkatlah. Kenapa tidak kau angkat? Pacarmu, ya?”

Bagaikan sebuah hentaman yang keras membentur kepala Chan Yeol, ia langsung melirik Ye Jin disampingnya dengan ekspresi yang sulit untuk di deskripsikan.

“Kenapa melihatku begitu? Aku kan hanya bertanya.” Ye Jin mengalihkan wajahnya keluar jendela lagi. Chan Yeol kembali fokus ke jalanan dan menekan reject telepon tadi. Kalian sudah pasti bisa menebak, bukan? Ya siapa lagi kalo bukan Ho Jung. Dia bahkan masih menghubungi Chan Yeol, padahal Chan Yeol sudah memutuskan hubungannya secara RESMI. Chan Yeol sempat berpikir sebentar kemudian mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat disana. Send.

Chan Yeol kembali fokus ke jalanan dan mereka pun sampai di bandara. Chan Yeol turun dari mobil dan menurunkan koper yang ia bawa di bagasi mobil. Ye Jin hanya turun dari mobil tanpa membawa apa-apa karena barang miliknya sudah dibawakan oleh Chan Yeol.

Tak lama kemudian kedua orang tua dari Ye Jin dan Chan Yeol tiba di bandara. Mereka segera melakukan take off menuju penerbangan ke Seoul. Mereka menggunakan pesawat yang sama saat Chan Yeol dan Ye Jin pergi berbulan madu ke Jeju. Bahkan mereka juga mendapat kursi yang sama. Chan Yeol merasa ia telah kembali ke waktu yang lampau, waktu dimana Ye Jin masih mengingat utuh memorinya. Sedangkan Ye Jin ia tidak mengingat apapun sekarang, ia hanya duduk manis seraya menatap keluar jendela pesawat. Saat itu untuk pertama kalinya Chan Yeol begitu merindukan sosok Ye Jin yang dulu.

The answer is time

-xXx-

Maaf Nona, sepertinya keluarga Son dan Park sudah kembali ke Korea.

Baguslah, itu bisa mempermudah rencanaku.

-xXx-

                Sudah hampir tengah hari, kafe tempat Baek Hyun bekerja mulai tampak ramai seperti biasanya. Sunggingan senyum tak pernah lepas dari kedua sudut bibir Baek Hyun.

“Terima kasih atas kunjungannya. Datang lagi ya, Nyonya.”

Baek Hyun membukakan pintu pada pembeli yang baru saja selesai menghabiskan waktu luangnya untuk meminum kopi disana. Hyun Ra yang bekerja mengantarkan pesanan juga terlihat sibuk dan tersenyum ramah kepada pelanggan. Melihat itu, Baek Hyun melirik Hyun Ra yang sedang berjalan sambil memegang nampan berisi americano. Hyun Ra meletakkan gelasnya dan tersenyum lagi. Ia membalikkan badannya dan hampir saja jatuh sebelum Baek  Hyun memegang pundaknya.

“Hyun Ra, kau tidak apa-apa? Wajahmu sedikit pucat.” Baek Hyun bertanya dengan raut khawatir dan Hyun Ra hanya menggeleng pelan. Baek Hyun menarik tangan Hyun Ra ke tempat peristirahatan karyawan. Baek Hyun membiarkan Hyun Ra duduk dan ia mengambil segelas air putih           “Maafkan aku.” Baek Hyun berkata dengan pelan membuat Hyun Ra menatap wajah Baek Hyun.

“Untuk apa? Kau tidak salah.”

“Maaf karenaku pekerjaanmu jadi bertambah. Maaf juga karena sudah membuatmu kelelahan melakukan pekerjaanmu dan pekerjaanku sekaligus. Aku sungguh minta maaf.” Hyun Ra mengulas senyum tipis.

“Kau ini bicara apa? Kau jangan mengambil hati ucapanku tadi pagi ketika di depan Suho sunbae, itu hanya sebuah candaan.­­­ Aku hanya pusing biasa, sepertinya karena belum makan siang.” Hyun Ra terkekeh pelan dan Baek Hyun menatapnya dengan eskpresi yang tidak dapat dijelaskan. Yah memang belakangan ini Hyun Ra sering telat makan siang, mungkin karena itu dia jadi sering pusing.

“Kau  ini. Mau aku ambilkan sesuatu?”tawar Baek Hyun. Hyun Ra melirik jam dinding yang ada diruangan itu.

“Nanti saja kalau sudah jam istirahat.”

“Ahh aku tau.” Baek Hyun menjentikkan jarinya dan tersenyum aneh  membuat Hyun Ra penasaran.

“Tau apa?”

“Kau ingin makan siang denganku, kan? Jam istirahat jangan kau jadikan alibi. Ini sudah tahun berapa, kenapa masih memakai kode jaman dulu?”  Hyun Ra melempar Baek Hyun dengan bantal yang ada di sofa –yang ia duduki—. Menyebalkan sekali dia, batin Hyun Ra.  Baek Hyun mengelaknya membuat Hyun Ra tertawa. Baek Hyun pun juga ikut tertawa namun tawaannya terhenti karena merasakan sesuatu bergetar di sakunya. Baek Hyun mengambil ponselnya dan mendapat sebuah pesan yang aneh.

Jika kau mencintai Ye Jin dan tidak ingin ia terluka, datanglah ke alamat xxxxxxx

                Kening Baek Hyun mengerut ketika membaca nama Ye Jin disana. Apa ini dari Chan Yeol?Melihat kebingungan Baek Hyun membuat Hyun Ra penasaran.

“Ada apa?”

“Entahlah seseorang mengirimku sebuah pesan singkat yang aneh. Dia menyebutkan nama Ye Jin dan mengancamku untuk datang ke alamat yang sudah tertera disini. Jika aku tidak datang, dia akan membuat Ye Jin terluka.” Ekspresi wajah Hyun Ra berubah ketika mendengar nama Ye Jin tersebut dari bibir Baek Hyun.

“Ye Jin? Bagaimana mungkin? Apa Chan Yeol tidak bersama dengan Ye Jin? Mereka pulang ke korea hari ini, kan?”

“Iya, kalau Chan Yeol sedang bersama Ye Jin, tidak mungkin dia mengirimku pesan seperti ini dan—“

“Bagaimana kau bisa menduga kalau Chan Yeol yang mengirim pesan itu?” Baek Hyun langsung menatap mata Hyun Ra.

“Chan Yeol adalah suami Ye Jin sekaligus pria yang juga sangat membenci Ye Jin. Apapun bisa ia lakukan dengan mudah termasuk pesan singkat ini. Tapi..mungkinkah?”

-xXx-

                Pesawat yang ditumpangi oleh keluarga Park dan Son sudah mendarat di Bandara International, Incheon beberapa menit yang lalu. Chan Yeol dan Ye Jin berjalan berdampingan membuat beberapa orang di bandara itu menatap keduanya dengan iri.

“Serasi sekali mereka.”

“Apakah pria itu pacarnya? Oh Tuhan, tampannya.”

Kurang lebih seperti itulah yang orang-orang itu katakan. Mendengar perkataan tersebut membuat Ye Jin merasa tidak nyaman. Malu? Untuk saat ini tidak sama sekali tapi ntah mengapa ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya, sedangkahn Chan Yeol? ia tampak bahagia mendengar celotehan orang-orang itu.

“Kurasa bukan hanya kau yang gila tapi mereka juga.” Ujar Ye Jin sambil berdecak sebal.

Chan Yeol sudah meminta izin pada orang tuanya dan mertuanya kalau dia akan membawa pulang Ye Jin ke apartement mereka.

“Kita akan kemana? Kenapa tidak menunggu Ibuku dulu?”

“Aku sudah minta izin akan menngantarmu pulang dan mereka mengizinkan. Kau kan belum sembuh total jadi harus banyak-banyak istirahat.” Jelas Chan Yeol membuat Ye Jin cemberut.

“Kau pandai berakting.”

“Aku tidak berakting, sudah kewajibanku sebagai—“

“Suamiku? Berhentilah bersandiwara, aku lelah mendengarnya.” Ye Jin membuang mukanya dari tatapan Chan Yeol. Chan Yeol menarik tangan Ye Jin untuk segera sampai di tempat taxi. Jujur saja ia juga benci melihat tingkah laku Ye Jin yang masih tidak terima kalau ia sudah berumah tangga. Chan Yeol memanggil satu taxi dan mereka pun menuju ke apartement mereka. Ketika masuk ke dalam taxi, Chan Yeol maupun Ye Jin bungkam seribu bahasa. Chan Yeol sepertinya mengingat sesuatu yang hampir ia lupakan. Chan Yeol meraih saku celananya dan mengambil sebuah benda yang berkilau.

“Ini punyamu, kan?” Chan Yeol menyodorkan sebuah gelang bintang berinisal YJ yang begitu indah. Kedua bola mata Ye Jin terbelalak dan langsung mengambil gelang itu.

“Bagaimana gelang ini bisa ada di tanganmu? Kau mencuri, ya?” Chan Yeol terkejut. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

“Tidak. Aku menemukannya—“ ucapan Chan Yeol menggantung membuat Ye Jin penasaran.Haruskah aku mengatakannya?

“Dimana kau menemukannya?”

“Di Bandara.”

Ye Jin menatap kedua mata Chan Yeol dengan seksama, mencoba mencari sebuah kebohongan disana tapi nihil. Ye Jin menyerah dan langsung mengenakan gelang itu ditangan kanannya. Chan Yeol sebenarnya tidak ingin mengembalikan gelang itu ke Ye Jin dan tidak disangka pula bahwa tebakannya benar. Inisial YJ di gelang itu sudah pasti namanya Ye Jin. Ketika Ye Jin mengenakan gelang itu, sebuah senyum tersungging disudut bibirnya.

“Boleh aku bertanya?” Chan Yeol mencoba berbicara pelan dengan Ye Jin. Ye Jin menatap malas Chan Yeol dan mengangguk pelan.

“Gelang itu siapa yang memberinya?”

“Untuk apa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya ingin tau saja.”

“Menurutmu siapa?” tanya Ye Jin sambil tersenyum lagi, bukan tersenyum pada Chan Yeol tetapi senyum karena ia bahagia. Terbesit satu nama di benak Chan Yeol. Apa mungkin?

“si Baek Hyun itu?”

“Tepat sekali. Ternyata kau pintar menebak, ya.” Chan Yeol terdiam, tidak disangka tebakannya kali ini benar lagi. Baek Hyun?? Ada hubungan apa sebenarnya antara Ye Jin dan Baek Hyun? Dan—perkataan Baek Hyun saat dirumah sakit, apa benar? Benarkah dia mencintai Ye Jin?

-xXx-

                Baek Hyun sudah meminta izin pada Manager Shim untuk keluar sebentar, tidak dalam waktu yang lama tentunya karena Baek Hyun tidak ingin membuat Hyun Ra kelelahan lagi karenanya. Sebenarnya ini konyol, untuk apa mengikuti perintah dari pesan singkat yang tidak kau kenali? Jawabannya hanya simple, karena ada nama Ye Jin disana dan Baek Hyun sangat trauma jika Ye Jin di sakiti lagi oleh siapapun, termasuk Chan Yeol.

Sekarang Baek Hyun sudah ada di alamat yang tertera didalam pesan itu, tempatnya di kafe pinggiran Cheondam-deong. Setelah sudah menemukan kafe yang dimaksud, Baek Hyun memasuki kafe tersebut dan berpapasan dengan wanita yang menggunakan dress pink selutut.

“Kau Byun Baek Hyun, benar?” tanya wanita itu dengan ramah, Baek Hyun terheran-heran dan mengangguk.

“Benar, dan kau  ini siapa? Kenapa kau mengirim pesan singkat yang aneh padaku?”  Wanita itu bersalaman dengan Baek Hyun dan mempersilahkannya untuk duduk.

“Senang berkenalan denganmu, Baek Hyun-ssi.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku, nona.” Kini ekspresi wanita itu berubah menjadi serius, ia menatap Baek Hyun lekat.

“Kau tidak perlu tau siapa aku sebenarnya. Yang pasti, aku menyuruhmu datang kemari untuk menawarkan sebuah peluang yang sempurna.”

“Peluang?”

“Kudengar kau mencintai Son Ye Jin, kan?” Baek Hyun menarik sebelah alisnya keatas.

“Bagaimana kau mengetahuinya? Siapa kau? Dan apa tujuanmu?” wanita itu tertawa hambar.

“Aku ingin kau membuat Chan Yeol membenci Ye Jin untuk selamanya.”

“Apa? Untuk apa? Dan darimana kau tahu Chan Yeol? Oh jangan-jangan kau—Lee Ho Jung?”

“Sudahlah Baek Hyun-ssi jangan membuang waktuku. Ini adalah peluang untukmu mendapat Ye Jin, kan? Dan aku akan mendapatkan Chan Yeol.  Mudah saja kalau kau mau bekerja sama.” Baek Hyun membuang mukanya dan mendesis. Ia berdiri dari duduknya.

“Jujur tawaranmu sangat menarik, tapi sayang aku tidak sebejat itu! Dan aku tidak mau menghabiskan waktu berhargaku hanya untuk berusaha memisahkan dua insan yang saling mencintai. Meskipun aku memang mencintai Ye Jin, cukup melihatnya bahagia dengan pria lain saja sudah cukup membuatku bahagia juga. Meskipun pria itu bukan aku sekalipun.”

“Dan ingat. Jangan pernah mengirim pesan dan mengancamku lagi. Jangan pernah menyentuh Ye Jin dan mengganggu kehidupannya karena jika kau melukai Ye Jin sedikit pun–”

“Aku tidak akan pernah dan mau memaafkanmu, camkan itu!”

Baek Hyun melangkahkan kakinya keluar dari kafe tersebut. Meninggalkan seorang wanita yangpsycho ingin bersikukuh menghancurkan rumah tangga orang. Dasar perempuan iblis.

Melihat Baek Hyun yang keluar meninggalkannya, membuat wanita itu menyeringai dan tertawa.

“Sayang sekali kau memilih jalan yang salah, teman kecil.”

“Kau membiarkanku untuk membunuhnya. Hahahahaha dan satu hal lagi.”

“Aku akan membunuh nyonya Park terlebih dahulu. Ini akan menjadi pertunjukan yang sangat menyenangkan hahahaha”

-xXx-

                Seminggu kemudian…

Sudah seminggu lebih Ye Jin kehilangan ingatannya. Ia masih belum mengingat Chan Yeol. Yang sehari-hari ia lakukan hanyalah di apartement mengerjakan pekerjaan rumah. Awalnya memang ia tidak percaya kalau dia sudah menikah, tapi sejak Chan Yeol menunjukan buku nikah mereka membuat Ye Jin berubah sikap. Entahlah bagaimana detailnya yang pasti dia sudah sedikit percaya bahwa ia telah menikah. Tapi tetap saja, hubungan rumah tangganya tidak harmonis. Mereka bahkan pisah ranjang. Yah itulah permintaan Ye Jin. Ia mengancam kalau tidak pisah ranjang, ia akan pergi dari apartement, jadi mau tidak mau Chan Yeol menurutinya.

Pagi ini adalah hari minggu. Hari dimana Chan Yeol tidak bekerja dan  ia berniat untuk menemani Ye Jin membeli kebutuhan rumah bulanan.

“Mau aku temani, tidak?” tawar Chan Yeol sambil duduk di sofa ruang televisi. Ye Jin sedang mencatat di secarik memonya apa-apa yang harus dibeli. Ye Jin melirik Chan Yeol.

“Tidak perlu, aku bisa sendiri.”

“Tapi—“

Ting Tong

Chan Yeol tidak melanjutkan ucapannya ketika suara bel apartement berbunyi. Ia dan Ye Jin saling memandang heran dan akhirnya Chan Yeol yang berjalan membuka pintu.

“Siapa?? Oh? Eomma?

Tepat sekali, Ibu Chan Yeol datang. Ia tersenyum manis dan masuk begitu saja kedalam apartement. Ketika berada di ruang tamu, Ye Jin memasang ekspresi terkejut.

Ahjumma? Apa yang ahjumma lakukan disini?”

Ahjumma  mau menemanimu belanja bulanan.”

“Bagaimana ahjumma  tau kalau—“

“Chan Yeol ikut, ya?”

“Apa??!!”

Ye Jin menutup mulutnya dengan cepat. Ia melirik Chan Yeol yang kelihatan senyum senyum.Dasar kau yoda!

>>>>>>>>>>>>>>>> 

                Kehadiran nyonya Park membuat Ye Jin harus mengikuti kemauannya. Yah meskipun ia memanggilnya bukan eomma melainkan ahjumma . kalian tahu kan kalu ingatan YeJin belum pulih jadi ia belum mau memanggilnya dengan sebutan eomma sampai suatu saat ia akan mengingatnya lagi. Sekarang mereka bertiga sedang belanja di super market. Ibu Chan Yeol banyak membiarkan Chan Yeol dan Ye Jin berdua supaya dapat membantu ingatan Ye Jin pulih kembali, tapi sepertinya itu sia-sia.

“Hey..jangan ambil ramen itu terlalu banyak. Itu tidak bagus.”

“Kenapa? Ini sangat enak.”

“Memang enak sih tapi tidak bagus untuk kesehatan kalau kau mengkonsumsinya terus menerus.” Chan Yeol tersenyum sumringah.

“Ah kau peduli ya ternyata padaku.”

“Hahaha tentu saja DALAM MIMPIMU! Lebih baik aku bersama ahjumma saja daripada dengan kau.” Ye Jin pergi sambil mendorong troly  nya mencoba mencari Ibu Chan Yeol tapi Chan Yeol menghadangnya.

“Oke, aku minta maaf. Jangan seperti itu padaku.”

“Enyahlah, aku benci padamu. Sudah kubilang kita itu tidak mungkin menikah toh buktinya aku sama sekali tidak cinta padamu apalagi kau yang—“

“Aku cinta padamu.” Ye Jin menghentikan ucapannya ketika mendengar kalimat itu terucap oleh Chan Yeol. Andaikan saja ingatannya tidak hilang, ia pasti akan merasa menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia. Benar-benar gila

“Jangan berpikir dengan kau menyatakan kau cinta padaku, dengan mudahnya aku luluh dan jatuh ke pelukanmu, begitu? Ini sudah tahun berapa? Jangan konyol.”

“Kalau dengan ucapan aku tidak bisa meyakinkanmu, lalu dengan apa lagi aku bisa membuatmu yakin kalau kau cinta padaku?”

Ye Jin menggeleng kepalanya menatap Chan Yeol. Ye Jin mendorong troly-nya dan menghiraukan Chan Yeol begitu saja. Ia lelah mendengar kata ‘suami istri’ ‘cinta’ dari mulut Chan Yeol. Seolah-olah dirinya adalah orang yang begitu berharga dan sesuatu yang paling penting bagi Chan Yeol.Ini benar-benar gila. Oh Tuhan..kumohon tolong aku.

Ye Jin mendorong troly-nya menuju kasir. Entahlah sepeninggalan tadi apakah Chan Yeol mengejar Ye Jin atau tidak. Dan mengenai Ibu Chan Yeol? sama sekali tidak terpikirkan oleh Ye Jin. Sambil menunggu sang kasir menghitung jumlah belanjaannya, firasat Ye Jin menjadi tidak enak.

“Nyonya seluruhnya 500.000 won.” Ujar sang kasir dan Ye Jin pun segera membayarnya dengan kartu kredit. Setelah selesai, Ye Jin membawa barang belanjaannya sendiri. Sempat terpikir kemana Chan Yeol dan ibunya pergi tapi Ye Jin tidak mau ambil pusing. Ia berjalan keluar dari tempat kasir dan

“SON YE JIN!”

Sebuah teriakan membuat Ye Jin terkejut dan menoleh kebelakang. Banyak orang-orang yang berteriak histeris dengan apa yang mereka lihat sekarang. Bagaimana tidak? Chan Yeol mencium Ye Jin di depan umum. Ye Jin sangat terkejut ketika Chan Yeol tidak hanya menciumnya saja melainkan sedikit melumat bibir Ye Jin.

Jrek

Kantong plastik yang Ye Jin bawa pun terjatuh karena tangannya ia gunakan untuk memukul dan mendorong dada Chan Yeol. Akhirnya Chan Yeol melepaskan tautan bibirnya dan

“Sudah kubilang kalau—“

PLAK

Ye Jin menampar keras pipi Chan Yeol membuat Chan Yeol membeku. Ye Jin menangis, ia mengelap bibirnya dengan tangannya dengan apa yang baru saja yang dilakukan Chan Yeol padanya.

“Jangan pernah berpikir kalau aku akan memaafkanmu! Aku benar-benar benci padamu!”

Ye Jin pergi dan membawa lagi kantong plastik yang ia bawa. Dari jauh Nyonya Park sudah melihat apa yang dilakukan Chan Yeol pada Ye Jin. Ibunya hanya menatap Chan Yeol dengan tatapan kecewa dan ia pun pergi mengejar Ye Jin. Chan Yeol masih ditempatnya dan berusaha menyadari apa yang ia lakukan. Tak lama kemudian, Chan Yeol menyusul Ibu dan Ye Jin yang sudah berada di depannya. Ada rasa bersalah di dalam dirinya dengan apa yang ia lakukan pada Ye Jin.

“Dasar bodoh kau Park Chan Yeol.”

-xXx-

                “Tenangkan dirimu. Ahjumma yang akan membawa ini ke dalam bagasi. Kau tunggu disini ya sampai Chan Yeol datang.”

“Tapi ahjumma aku tidak—“

“Untuk yang terakhir kalinya tolong kau turuti apa kata ahjumma, kau mengerti?” Ye Jin mendesah pelan dan mengangguk. Ia dengan berat memberikan belanjaannya itu pada Ibu Chan Yeol dan membiarkannya menyebrang untuk sampai ke mobil. Ye Jin hanya diam menunggu Chan Yeol di pinggiran.

Tetapi di sisi lain, Ye Jin melihat ada sebuah mobil yang siap melaju dari jauh. Spontan matanya langsung tertuju pada Ibu Chan Yeol yang sedang menyebrang sekarang.

“AWASSSS!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

                BRAAAKKKKK

Tubuh Ye Jin mengguling keatas mobil itu dan terjatuh dengan keras ke aspal. Nyonya Park yang terjatuh ke aspal lainnya dengan cepat berlari menuju Ye Jin yang sekarang telah berlumur kemana-mana. Chan Yeol juga sudah berlutut dan memandangi mobil yang langsung pergi itu. Kepala Ye Jin sangat penuh dengan darah.

“YE JIN BANGUNLAH..BANGUNLAH!!!”

“PANGGIL AMBULANCE!”

-xXx-

                Chan Yeol tampak resah melihat keadaan Ye Jin sekarang. Ye Jin celaka untuk yang kedua kalinya atas kesalahnnya. Ia merasa bersalah tidak dapat menjaga Ye Jin. Tubuh lemah Ye Jin dibawa dengan gesit oleh suster-suster dengan tempat tidur dorong. Ibu Chan Yeol masih meraung-raung menatap Ye Jin sekarang.

“Mohon untuk tunggu di luar.”

Salah satu dari suster itu menghadang Chan Yeol untuk masuk dan Chan Yeol pun pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa didalam. Bajunya terdapat bercak darah Ye Jin, Chan Yeol menangis.

“Ini semua salahku.” Ujarnya dengan air mata yang tidak dapat di bending lagi. Ibu Chan Yeol berusaha membantu Chan Yeol untuk berdiri karena Chan Yeol terperosot ke lantai.

“Jangan salahkan dirimu. Ini sebuah kecelakaan. Berdoa untuk Ye Jin dan semuanya akan baik-baik saja. Eomma akan memberitahu mertuamu mengenai ini. Tetap tenanglah.” Nasehat nyonya Park sedikit membuat perasaan Chan Yeol lebih tenang. Chan Yeol duduk di kursi ruang tunggu dengan perasaan  berkecamuk. Dia sangat ingin marah, tapi dengan siapa? Dirinya-lah. Dirinya yang sudah membuat Ye Jin amat terluka. Kejadian tadi benar-benar terjadi di depan mata Chan Yeol sendiri. Tubuh mungil itu terguling keatas mobil dan terhempas jatuh ke aspal dengan sangat keras.

Mobil. Yah benar mobil tersangkanya. Chan Yeol sempat melihatnya dan melihat KB mobilnya. Ia begitu mengenal KB mobil itu. Seketika ekspresi Chan Yeol berubah. Napasnya memburu, kedua tangannya terkepal. Chan Yeol langsung berlari meninggalkan ruang tunggu itu menuju ke suatu tempat.

“Kumohon bertahanlah untukku, Jin-ah.”

-xXx-

                Chan Yeol masuk kedalam mobil dengan tergesa-gesa. Ia pun menutup pintu dengan membantingnya. Tidak bisa dimaafkan! Chan Yeol menancapkan gasnya dengan kecepatan full. Emosi seakan menguasai dirinya kala ini. Selama di perjalanan, yang ia pikirkan hanyalah Ye Jin, Ye Jin, Ye Jin, dan Ye Jin. Benar dengan apa yang dikatakan Hanna –anak kecil dirumah sakit—yang ia temui ketika di Jeju. Untuk apa mencari wanita yang lain sedangkan wanita itu sudah ada di dekatmu dengan hati yang tulus. Chan Yeol benar-benar menyesal seutuhnya.

Tak terasa mobil civik hitamnya tiba di sebuah rumah yang lumayan mewah. Chan Yeol memarkirkan mobilnya asal dan langsung masuk ke dalam rumah itu. Bahkan mobil yang tadi ia lihat di supermarket ada di rumah itu. Chan Yeol menemukan tersangkanya. Ia dengan tanpa salam masuk begitu saja kedalam rumah itu.

“HO JUNG!! LEE HO JUNG KELUARLAH!”

Chan Yeol berteriak memanggil nama Ho Jung. Chan Yeol mencarinya kesegala ruangan namun nihil sampai akhirnya ia masuk ke kamar Ho Jung. Ho Jung menoleh dengan sebuah senyum diwajahnya namun tak terlalu bahagia.

Oppa.. ada apa kau—“

“BERHENTI MEMANGGILKU OPPA! AKU TIDAK SUDI DI PANGGIL OPPA LAGI DENGANMU! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN DENGAN YE JIN HAH?!” Tanpa memberikan kesempatan berbicara, Chan Yeol langsung memotongnya dengan amarah yang membuncah. Ho Jung terkejut.

“Ada apa ini? Kenapa kau datang sambil marah-marah padaku?”

“BERHENTI BERSANDIWARA! AKU MELIHAT MOBILMU TADI KETIKA DI SUPERMARKET. SEBENARNYA APA YANG KAU RENCANAKAN DAN KENAPA KAU MENABRAK YE JIN?”

“Chan Yeol oppa aku—“

“JAWAB AKU!” Chan Yeol mencengkeram bahu Ho Jung dengan keras membuat Ho Jung meringis, kemudian ia menatap Chan Yeol dengan tatapan remeh. Ho Jung tertawa kemudian.

“Aku memang ingin membunuhnya. AKU BENCI PADANYA. KENAPA KAU MEMILIH PEREMPUAN MURAHAN ITU DARIPADA AKU?”

PLAK!!

Chan Yeol menampir pipi Ho Jung dengan keras.

“BERHENTI MEMANGGILNYA PEREMPUAN MURAHAN! KAU YANG PEREMPUAN MURAHAN. AKU MENYESAL PERNAH MENJADI KEKASIHMU!!”  Ho Jung tertawa hambar.

“Kenapa kau menamparku? AKU TANYA KENAPA KAU MENAMPARKU?!!”

“KARENA KAU PANTAS MENDAPATKANNYA.”

Ho Jung mendesis sambil menangis.

“YA! SEMUANYA AKU YANG MELAKUKANNYA. AKU YANG MENCULIK YE JIN DARI VILLA DAN MEMBAWANYA KE LAUT. AKU MENAMPARNYA DAN MENJATUHINYA KE LAUT BEBAS TANPA PENGAMAN APAPUN. TADINYA AKU PIKIR DIA SUDAH MATI TETAPI DIA MASIH HIDUP DAN LUPA INGATAN. AKU SEMPAT MENYESAL TIDAK MEMBUNUHNYA LANGSUNG DAN TERNYATA ADA KESENANGAN LAIN YANG KUDAPATKAN. DIA TIDAK MENGINGATMU! DIA LUPA PADAMU HAHAHAHA AWALNYA AKU INGIN MEMBUNUH IBUMU TETAPI PEREMPUAN MURAHAN ITU MENYELAMATI IBUMU DAN DIALAH YANG TERTABRAK.  DAN KUHARAP SEKARANG DIA MATI. MATI CHAN YEOL-AH!!”

“TUTUP MULUTMU!!”

Chan Yeol membentak Ho Jung dengan sekali ucapan. Ho Jung menangis terisak ketika mengakui semuanya pada Chan Yeol. Chan Yeol merasa tubuhnya terbagi menjadi kepingan kecil. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Ho Jung-lah dalang dari semua permasalahannya. Chan Yeol menangis lagi.

“Kenapa kau melakukannya, Ho Jung-ah? Kenapa kau tega melakukannya pada Ye Jin?” Chan Yeol mulai mengontrol emosinya yang semakin merangkak naik.

“Karena aku tidak bisa melihatmu bersama wanita lain selain AKU. Aku tidak rela kau dimiliki oleh Ye Jin oleh sebab itu aku melakukan ini semua. Aku sangat mencintaimu oppa. Aku berpikir jika aku tidak dapat memilikimu maka tidak akan ada seorang pun yang bisa memilikimu juga. Tidak kah kau mengerti perasaanku?”

Chan Yeol terdiam mendengar alasan yang Ho Jung katakan padanya.

“Aku mengerti perasaanmu, ini memang menyakitkan untukmu tetapi kau harus merelakanku. Aku sudah bersumpah pada diriku akan melindungi Ye Jin dari apapun yang mengganggunya. Dan oleh sebab itu aku menghampirimu kali ini untuk yang terakhir kalinya.”

“Aku minta maaf padamu atas kesalahanku padamu. Atas segala sakit hatimu. Kau harus mencoba untuk melepaskanku. Awalnya aku mengakhiri hubungan kita dan akan menjalin hubungan sebagai seorang kakak dan adik, tetapi karena perbuatanmu ini aku sudah bersumpah tidak akan memaafkan orang yang sudah melukai Ye Jin.”

“Kenapa kau memilihnya? Kenapa oppa?” lagi lagi Ho Jung terisak. Chan Yeol mengambil napasnya dalam dan menghembuskannya.

“Karena aku mencintainya. Kumohon jangan ganggu aku lagi dan jauhi Ye Jin. Maaf aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Dan INGAT. Aku tidak akan pernah memaafkan semua kesalahanmu.”

Chan Yeol membalikkan badan dan pergi dari rumah Ho Jung. Sedih, kecewa, kesal semuanya berpadu menjadi satu. Chan Yeol benar-benar tidak bisa memaafkan kesalahan Ho Jung. Harapan terakhirnya yaitu adalah keselamatan Ye Jin.

-xXx-

                Dua orang manusia itu tampak berlari tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit. Baek Hyun dan Hyun Ra langsung menuju rumah sakit ketika Ibu Ye Jin mengabari Baek Hyun bahwa Ye Jin kecelakaan. Ketika sampai di unit gawat darurat, Baek Hyun dapat melihat Chan Yeol dari kejauhan. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya.

BBUKK

                Baek Hyun memukul Chan Yeol dengan keras membuat Chan Yeol terjatuh.

“Apa yang kau lakukan padanya hah?!! Apa yang kau lakukan??!! Sudah ku bilang berhenti menyakitinyaa!!” teriak Baek Hyun membuat Chan Yeol mencoba untuk berdiri. Kali ini Chan Yeol tidak menjawab ucapan Baek Hyun. Hyun Ra mencoba menenangkan Baek Hyun. Ia sudah dapat mengerti kenapa Baek Hyun memberi perhatian lebih pada Ye Jin. Dan Hyun Ra sudah tidak merasa cemburu lagi.

Semuanya yang disana tampak begitun resah terutama Chan Yeol. Sudah hampir dua jam namun dokter tidak keluar-keluar sampai akhirnya tombol merah yang ada di atas pintu UGD menyala, operasi telah selesai. Chan Yeol langsung berlari menuju dokter.

“Bagaimana, Dok? Bagaimana kondisi istri saya?” pertanyaan dari Chan Yeol sudah mewakili apa yang mau ditanyakan oleh yang lainnya. Raut wajah dokter Jung tampak sedih. Ia membuka masker hijaunya.

“Ketika kami menjalankan operasi, pendarahan pada kepala istri Anda begitu hebat, sehingga kami berusaha untuk menyelamatkannya. Kami berusaha semaksimal mungkin namun sayang, Tuhan berkehendak lain.”

Bagaikan perisai yang menusuk hati Chan Yeol. Ia menggelengkan kepalanya.

“TIDAK MUNGKINN!! YE JIN TIDAK MUNGKIN MENINGGALKANKU!!”

Chan Yeol langsung menerobos masuk kedalam ruang UGD, diruang tunggu tadi sudah mulai pecah tangis yang mereka tahan-tahan. Bahkan Baek Hyun terperosot jatuh. Semuanya sama sekali tidak menyangka dan menduga. Ini hanya mimpi.

Chan Yeol masuk dan mendapati tubuh lemah Ye Jin diatas ranjang dengan segala macam tali yang memenuhinya. Chan Yeol berlari dan menggenggam tangan Ye Jin erat. Wajah pucat Ye Jin seakan menghentam keras wajah Chan Yeol. Senyum itu. Chan Yeol tidak akan pernah melihatnya lagi.

“Jin-ah buka matamu..kumohon kumohon buka matamu.” Isak Chan Yeol sambil mencium tangan Ye Jin. Mata itu, mata itu sudah tertutup. Semuanya pergi.

“Kenapa kau pergi sebelum aku sempat memperbaiki segalanya? Kumohon buka matamu untukku, kumohon Jin-ah~” Chan Yeol semakin terisak. Memorinya berputar ketika Ye Jin masih disampingnya. Ketika Ye Jin selalu menundukkan kepalanya, ketika Ye Jin berbuat salah. Ketika gadis itu tersenyum dan menangis pada saat yang bersamaan. Hanya sebuah tangisan dan tangisan yang Chan Yeol buat pada Ye Jin. Dia tidak pernah membahagiakan Ye Jin ketika sosoknya masih ada di sampingnya.

“Kumohon Tuhan…berikan aku kesempatan kedua. Berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Kembalikan dia padaku, Tuhan.”

Chan Yeol mengecup pucuk kepala Ye Jin berharap harapannya terkabul. Suster disana pun merasa terharu dan mencoba menenangkan Chan Yeol.

“Tuan, istri Anda sudah meninggal. Kami akan mengurus jenazahnya.”

“JENAZAH APA? YE JIN MASIH HIDUP!! DIA TIDAK MUNGKIN PERGI, DIA MENCINTAIKU. DIA BENAR-BENAR TIDAK PERGI.”

Chan Yeol menyingkirkan tangan-tangan suster itu yang hendak melepaskannya dari Ye Jin.Kumohon dari hatiku yang terdalam, berikan aku kesempatan kedua Tuhan. Aku akan memperbaiki segalanya.

Aku…..

Sangat mencintainya…

 

Bunyi alat pendeteksi jantung mulai berbunyi. Chan Yeol membuka matanya. Ia melirik alat kardiogram yang bergerak naik turun berbeda dengan yang tadinya hanya garis lurus. Para suster itu pun terkaget dan segera memasangkan kembali alat-alat yang sempat mereka lepas. Chan Yeol merasa lega. Terima kasih Tuhan kau telah mengembalikannya padaku lagi.

 

Dan cintamu kembali..

Menemukan belahan jiwanya yang lain.

 

-xXx-

 

Epilog~

 

 

“Chan Yeol oppa kau dimana??”

Ye Jin mencari Chan Yeol ke segala arah di tepi pantai namun nihil. Yah mereka memutuskan untu ke Jeju lagi. Melanjutkan bulan madu yang berbeda, bulan madu yang sesungguhnya.

“Aku disini.” Kepala Chan Yeol tiba-tiba menyembul dari balik bahu Ye Jin. Chan Yeol memeluk Ye Jin dari belakang membuat Ye Jin terpaku. Mereka kini sedang bermain air di tepi pantai. Senja hampir tiba. Chan Yeol melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Ye Jin. Menatap kedua matanya dalam. Tatapan dan senyuman yang sudah kembali pada dirinya. Chan Yeol tersenyum manis.

“Aku mau menunjukkan sesuatu padamu. Tutup mata, ya.” Ye Jin tersenyum dan menutup matanya. Agar tidak merasa curiga, Chan Yeol menutupnya lagi dengan kedua tangannya. Senyum manis selalu terpatri di kedua sudut bibirnya ketika bersama Ye Jin.

“Siap?”

“Aku siap.” Dan Chan Yeol pun menghitung mundur. Chan Yeol melepas kedua tangannya dan membiarkan Ye Jin menikmati sesuatu yang indah itu. Sebuah sunset.

“Waaaahh…indah sekali.”

“Dan ini hadiah yang lebih indah dariku.”

Chan Yeol mendekatkan dirinya pada wajah Ye Jin, dekat dekat dan hampir dekat. Ye Jin menutupkan kedua matanya perlahan siap dengan apa yang akan Chan Yeol lakukan padanya.

Byurrr

Bukannya mencium Ye Jin, Chan Yeol malah menyiram Ye Jin dengan air.

Aish..oppa  awas kau ya!!”

Dan semuanya pun dimulai lagi dari nol. Cinta memang butuh pengorbanan. Ketika kau merasakan sakit dan kau berkata tidak apa-apa, maka cinta yang sesungguhnya telah dimulai.

 

Cinta  kembali menemukan dirimu yang sesungguhnya.

T H E  E N D

 

Haloo…makasih sebelumnya buat para admin yang udh post ff aku ini.

Makasih juga buat readers yg masih penge dan mau baca.thank you all ^^

Mau baca ff lainnya?? Kunjungi blog pribadi

www.applexopie.wordpress.com

See youuu dilain kesempatan ^^

xoxo

Applexopie

 

Iklan

3 thoughts on “It’s Okay Even If It’s Hurts (Part 7 END)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s