Bittersweet : Truth Or Dare

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung
  • Red Velvet’s Wendy as Son Seungwan
  • EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chapter, currently 9

Previous Chapters : The CircleHe’s My BoyfriendI Hate YouA Weird DreamApologyWhat IfShe’s My GirlfriendStupid, Dumb, Idiot |

^^Selamat Membaca^^

Rupanya usaha Seulgi tempo hari berhasil. Soojung dan Jongin kembali akur seperti semula. Tidak hanya sering terlihat bersama, Jongin mulai berani menunjukkan perhatiannya di depan semua orang, menunjukkan betapa dia menyayangi Soojung. Hal ini seringkali menimbulkan siulan dari Baekhyun, atau komentar-komentar Sunyoung yang terkesan menggoda keduanya. Soojung mulai sering tersenyum lagi, bahkan seringkali mengajak Seulgi makan siang bersama atau sekedar mentraktirnya eskrim.

“Kau terlalu baik, padahal aku hanya berbicara satu kali pada Jongin,” kata Seulgi sambil menikmati bingsoo di sebuah kedai suatu hari.

“Tetap saja, itu sangat berhasil. Kau lihat sendiri, kan? Dia semakin perhatian padaku sekarang. Entah apa yang kau katakan padanya tapi dia benar-benar berubah,” cerita Soojung dengan wajah riang.

“Bukan karena aku,” Seulgi menatap Soojung serius. “Tapi karena Jongin benar-benar sayang padamu.”

Mendengar itu, pipi Soojung bersemu merah. Seulgi jadi tahu seberapa besar cinta Soojung pada Jongin.

“Kau menjadi perantara yang sangat baik dalam hubungan kami. Aku harus berterima kasih.”

“Kau berlebihan,” Seulgi terkekeh, tapi akhirnya menghabiskan semangkuk bingsoo itu setengah jam berikutnya.

Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari kuliah hingga keseharian masing-masing. Mereka jadi semakin mengenal satu sama lain. Soojung sesekali bercerita kehidupan cintanya dengan Jongin, dan Seulgi juga menceritakan tentang Sehun. Bisa dikatakan Seulgi telah mendapat teman baru.

***

Berkali-kali dia berusaha untuk mencintainya sungguh-sungguh, Jongin tak bisa. Saat Seulgi berbicara padanya tempo hari, dia memang merasa bersalah dan langsung meminta maaf pada Soojung. Tapi perasaannya, entah kenapa makin kosong saja. Perlahan semua bayangan wajah Soojung tergantikan sepenuhnya oleh Seulgi. Dan bodohnya, dia mulai memimpikan Seulgi berada di sisinya.

“Hyung, bagaimana kalau aku menyukai yeoja lain?” tanya Jongin suatu hari, saat Chanyeol—sepupu terdekatnya—berkunjung ke rumahnya.

Tidak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk langsung mematikan video game yang sedari tadi dia mainkan dan mengalihkan fokus pada Jongin.

“Serius? Siapa?”

“Kau belum jawab pertanyaanku,” timpal Jongin, memutar bola matanya.

“Ya tinggal putus dengan Soojung kan. Sekarang katakan siapa yeoja ‘lain’ itu?”

“Dia juga anggota The Circle, seorang mahasiswi kedokteran,” jawab Jongin sambil membayangkan sosok Seulgi.

“Cantik tidak?”

“Tentu saja?”

“Ambil!”

“Masalahnya dia sudah punya pacar.”

“Lupakan saja, tetap dengan Soojung. Kalau sudah merasa bosan dengannya, lebih baik melajang seperti dulu,” dalam sekejap Chanyeol merubah pendapatnya.

“Harus begitu?”

“Kau mau merebut pacar orang?”

“Aku sangat menginginkannya, hyung. Dia berbeda, aku bahkan tidak punya nyali untuk sembarangan menyentuhnya. Aku berjanji akan benar-benar menjaganya jika dia jadi milikku,” urai Jongin dengan wajah serius.

“Aku bergidik.”

“Hyung….”

“Lalu bagaimana caramu membuat mereka putus agar dia bisa kau miliki?”

“Benar juga, aku tinggal membuat mereka putus kan?” Jongin seperti habis diberi petunjuk.

“Hanya itu jalan terbaik yang bisa ku sarankan,” Chanyeol mengangkat bahu.

“Tapi sepertinya dia sangat mencintai namja itu. Saat mereka ada masalah, dia seperti tidak punya semangat hidup.”

“Kalau begitu lupakan saja,” ulang Chanyeol.

“Aku ingin dia seperti itu karena aku, bukan karena namja lain.”

“Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta.”

“Memang,” Jongin menghela nafas panjang, berbaring di sofa dan menatap langit-langit. “Aku merasa hangat setiap kali bersamanya. Merasa iri pada orang yang bisa lebih dekat dengannya. Ingin memiliki banyak waktu untuk bisa bersamanya.”

“Hati-hati dengan perasaanmu,” ucap Chanyeol. “Kau bisa saja menjadi orang yang paling tersakiti.”

Jongin memejamkan matanya. Benarkah pada akhirnya dia akan menjadi orang yang paling tersakiti? Menyedihkan.

“Bagaimana kalau—“ Jongin bersuara lagi, dan Chanyeol menyimak. “—ku buat dia jadi milikku tanpa harus membuat mereka putus?”

“Aku hanya bisa mengatakan, semoga berhasil dan berhati-hatilah,” sahut Chanyeol.

Ya, Jongin tahu. Dia terlalu ceroboh dengan perasaannya. Bolehkah dia menjadi lebih ceroboh lagi hanya untuk Seulgi?

***

Seulgi tertegun saat seseorang menekan bel apartemennya, tapi saat dibuka tidak ada siapa pun di depan pintu. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menunduk dan mendapat sebuah rumah anjing dengan puppy kecil berbulu putih halus di dalamnya.

“Omo—“ pekikannya tertahan, langsung mendekap puppy itu dan menggendongnya ke dalam. Ada sebuah memo yang tertinggal di dalam rumah kecilnya, bertuliskan “PUPPY UNTUK SEULGI”. “Sehun?” nama itu yang terlintas di otaknya, karena kemarin mereka sempat membicarakan tentang puppy. Rupanya Sehun mengingat keinginannya baik-baik, bahwa dia ingin memiliki seekor puppy mungil berbulu putih halus. Seulgi segera menelpon Sehun.

“Kenapa, sayang?”

“Kamu mengirimnya sendiri? Kenapa tidak masuk?”

Terdengar kekehan Sehun di telpon. “Tidak, aku meminta seorang kurir mengantarkannya. Maaf, hari ini tidak bisa menemuimu dulu.”

“Tidak apa-apa,” ucap Seulgi, memahami kesibukan Sehun.

“Apa kau menyukai hadiahku?”

“Tentu saja! Dia sangat menggemaskan,” Seulgi membelai puppy yang belum diberi nama itu. “Tapi kenapa aku diberi hadiah? Aku tidak ulang tahun dan ini bukan hari valentine.”

“Anggap saja itu hadiah 100 hari kita yang sempat terlewatkan.”

Benar juga. Seulgi dan Sehun tidak pernah menghitung hari jadian mereka seperti yang biasa dilakukan pasangan lainnya. Seulgi lupa tanggal dan entah sudah berapa hari mereka bersama, dia tidak tahu.

“Benarkah? Kita sudah bersama lebih dari 100 hari?”

“Ku rasa—anggap saja begitu,” sahut Sehun diiringi tawa singkat. “Lagi pula kenapa harus menghitung hari? Kita akan bersama selamanya.”

“Benar ya, selamanya. Jangan menyesal dengan ucapanmu.”

“Kenapa harus menyesal?”

“Karena aku benar-benar akan terus bersamamu, bahkan sampai kau merasa jengah sekali pun.”

“Aku tidak akan jengah, justru selalu merindukanmu.”

“Aku merindukan eskrim,” canda Seulgi.

“Baiklah, kau akan mendapatkan eskrim saat kita bertemu nanti.”

“Janji?”

“Asal aku mendapat ciuman.”

“Y-yaaa!” ucapan Sehun membuat pipi Seulgi memerah.

“Kau rindu eskrim, aku rindu ciumanmu,” goda Sehun.

“Bagaimana kalau kita diskusikan nama untuknya saja?” Seulgi langsung mengalihkan topik.

“Hahaha,” terdengar suara tawa Sehun. “Baiklah, nama apa yang cocok?”

“Dia sangat lucu, jadi namanya harus lucu juga.”

“Dubu? Karena dia putih seperti tahu.”

“Itu tidak lucu. Bagaimana kalau Sehun saja?” canda Seulgi.

“Sayang—itu namaku.”

Seulgi tertawa. “Kalian berdua adalah kesayanganku. Jadi tidak apa kan, kalau namanya sama.”

“Tetap saja—tunggu. Aku adalah satu-satunya kesayanganmu. Sial, harusnya tidak ku biarkan seekor puppy menjadi sainganku,” ucap Sehun, membuat tawa Seulgi makin lebar.

“Kalau begitu bagaimana dengan nama cina? Shixun. Lucu, kan?”

“Sebenarnya masih sedikit keberatan, tapi—baiklah. Untukmu. Asal aku tetap menjadi satu-satunya kesayanganmu,” Sehun memberi tekanan pada kata ‘kesayangan’.

“Tentu saja, Sehun adalah kesayangan. Hanya Sehun.”

“Aku merindukanmu.”

“Iya, aku juga. Tapi ini sudah waktunya untuk belajar. Kita bicara lagi nanti ya,” kata Seulgi.

“Kita harus bertemu weekend nanti.”

“Iyaaa lakukan yang terbaik dalam ujianmu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.”

Sambungan berakhir. Seulgi hendak meletakkan ponselnya saat notifikasi LINE chat terlihat, dari Jongin.

[LINE Chat with Jongin]

Kau sedang apa?

Tersenyum simpul, dia berpikir mungkin Jongin sedang bosan sehingga mengirim pesan demikian.

Hugging my baby. Haha

Baby?

Kau punya… seorang bayi?

Seekor!

……………?

Bayiku dan Sehun

Oh—

Kalian memiliki ‘seekor’ anak?

A puppy (o’~’o)

Namanya?

Shixun~

Nama yang aneh

Hey, itu lucu -_-

Kau pasti sangat kegirangan mendapat hadiah dari kesayanganmu

Tentu saja! Kapan-kapan akan ku ajak kau bermain dengan Shixun

Tidak perlu, aku tidak suka anjing

Ini seekor puppy, Jongin-ah

Apa bedanya…………..?

Dia imut (o’~’o)

Kau yang paling imut. Aku lebih suka bermain denganmu.

Bermain denganku berarti bermain dengan Shixun juga (o’~’o)

Terserahlah, asal bersamamu.

Entah kenapa Seulgi merasa Jongin sedikit—aneh. Pesan-pesannya mengarahkan pada spekulasi bahwa sedang terjadi sesuatu yang mempengaruhi moodnya.

Kau baik-baik saja?

Kalau aku tidak baik memangnya kenapa?

Aku akan membuatmu merasa lebih baik.

Kau tidak bisa. Ini sulit dilakukan.

Kenapa? Kita sering berbagi cerita, kan? Ada masalah dengan Soojung lagi?

Aku adalah masalahnya.

Sudah ku duga. Awas saja kalau kau membuatnya sedih lagi….

Sayang sekali—sudah ku lakukan.

Jongin-ah—kau serius? -_-

Maaf

Aku akan bicara pada Soojung. Setelah itu, kau harus minta maaf padanya.

Itu obrolan terakhir mereka, karena setelah itu, Jongin tidak membalas lagi. Sepertinya telah terjadi masalah yang memang serius antara Jongin dan Soojung, itu tebakan Seulgi.

***

Pada rapat keesokan harinya, Soojung tidak datang. Apa karena mereka bertengkar lagi? Seulgi penasaran. Beberapa kali dia mencuri pandang pada Jongin. Walau dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tapi raut wajahnya mengatakan hal yang berbeda. Kentara sekali moodnya sedang tidak baik. Seulgi jadi khawatir.

***

“Soojung-ah?”

Kaget, jelas. Tapi setidaknya rasa penasaran Seulgi tidak perlu bertahan terlalu lama karena Soojung kini berada di depan pintu apartemennya dengan mata sembab. Tunggu. Dia menangis?

“Aku mendapatkan alamatmu dari Joohyun-unnie. Ku harap kedatanganku tidak mengganggu.”

“Tidak, tentu saja tidak. Masuklah,” itu jelas bohong. Nyatanya Seulgi sedang mengerjakan laporan praktikum yang rumit. Tapi jiwa penolongnya tidak bisa ditolerir sehingga ia biarkan Soojung masuk apartemennya. Kemudian gadis itu benar-benar menangis saat ia menutup pintu.

“Bagaimana ini, Seulgi-ah? Jongin bilang, dia bosan padaku.”

“Ap—dia mengatakan itu padamu secara langsung?” mata Seulgi melebar, tak percaya.

“Iya,” jawab Soojung di sela isakannya. “Aku tahu dia memang tipe orang yang mengatakan semua apa adanya, tapi aku tidak bisa baik-baik saja setelah mendengar pengakuan ini.”

“Aku mengerti perasaanmu,” Seulgi memeluk Soojung. “Mungkin dia hanya sedang stress dengan kuliah atau ada masalah keluarga. Dia tidak mungkin benar-benar bosan. Maksudku, aku tahu dia sangat mencintaimu.”

Soojung melepas pelukan Seulgi. “Apa itu benar? Aku mulai ragu.”

“Jangan bicara begitu. Kau bisa merasakannya, kan? Dia tidak segan menunjukkan perhatian padamu di depan semua orang. Hanya orang yang jatuh cinta bisa melakukannya.”

“Lalu aku harus bagaimana? Kami bertengkar kemarin. Aku sadar, aku juga salah karena terlalu emosi hingga balas membentaknya,” Soojung menunduk.

“Sepertinya pertengkaran kalian cukup serius—“

“Sangat,” Soojung menghapus air matanya yang sempat mengalir lagi. “Bisakah kau membantuku lagi? Bicara pada Jongin.”

“Baiklah, aku membantumu sebisaku. Walau tidak yakin dia akan mendengarkanku.”

”Dia pasti akan mendengarkanmu.”

“Jangan sedih lagi,” Seulgi membantu Soojung menghapus sisa air matanya.

“Aku beruntung memiliki seorang sahabat yang baik,” ucap Soojung dengan sebuah senyuman.

“Aku senang kau anggap sebagai sahabat,” balas Seulgi sambil terkekeh pelan. “Apa sekarang kau merasa lebih baik?”

“Hanya sedikit.”

“Ku perkenalkan kau pada bayiku dan Sehun,” Seulgi bangkit dari duduknya menuju rumah puppy mungil yang ia simpan di sudut ruang tengah.

“Bayi? Kalian punya—oh, seekor puppy rupanya.”

“Namanya Shixun.”

“Dia sangat lucu,” Soojung mengambil Shixun dari dekapan Seulgi. “Keponakanku?”

“Hahaha, ya, benar. Dia keponakanmu.”

Mereka tertawa bersama, dan semalaman mengobrol lebih akrab. Soojung bahkan menginap di rumah Seulgi malam itu.

***

“Jongin, bisa kita bicara?”

Jongin mengangkat sebelah alisnya saat tiba-tiba Seulgi menarik pundaknya untuk mengajak bicara. Dilihat dari wajah gadis itu yang terlihat tegas dan mungkin sedikit marah, dia tahu ini ada hubungannya dengan Soojung.

“Kau yakin mau bicara di sini? Ada banyak orang,” jawabnya santai, melirik suasana sekeliling mereka. Memang benar ini bukan tempat yang kondusif untuk membicarakan hal serius. Mereka berada di kantin.

“Kalau begitu temukan tempat yang layak.”

Jongin tersenyum miring, kemudian melangkah mendahului Seulgi keluar kantin. Langkah keduanya bersusulan terus menaiki tangga hingga mereka benar-benar berada di tempat yang sepi—hanya berdua. Tangga paling pucuk student center, mendekati rooftop.

“Dia menangis, Jongin-ah,” Seulgi membuka pembicaraan.

“Lalu?” terkesan tak peduli, Jongin bertanya sambil mengeluarkan pemantik dan sebatang rokok.

“Kau tidak merasa menyesal setelah membuatnya menangis?” tanya Seulgi tak percaya. Ingin rasanya dia membuang rokok dan pemantik di tangan Jongin dan menginjaknya ke lantai.

“Haruskah? Menangis itu adalah pilihannya sendiri,” Jongin mulai menghisap rokoknya dan menghembuskan asap ke udara, secara tak langsung mengenai wajah Seulgi dan membuat gadis itu terbatuk.

“Kita sedang membicarakan Soojung, kekasihmu,” tekan Seulgi, sambil lalu menghalau asap dari wajahnya dengan tangan kanan.

“Iya aku tahu. Memangnya apa lagi yang bisa membuat kita bicara kalau bukan dia?”

“Kenapa kau jadi sangat menyebalkan?” sejujurnya, Seulgi kesal dengan sikap Jongin yang seperti ini. Tapi dia merasa ada sesuatu yang bisa membuat pemuda itu memperbaiki kesalahannya lagi.

“Aku memang menyebalkan. Bukankah kau membenciku?”

“Apa maksudmu?” emosi Seulgi jadi makin naik, nada suaranya meninggi.

“Kau ingat saat aku mencumbumu dengan paksa di tempat karaoke karena permainan truth or—“

PLAK

Seulgi hilang kendali. Tanpa sadar dan tanpa bisa dia cegah, tangannya mengayun kuat ke pipi Jongin. Setelah merasakan hantaman bertenaga dari telapak tangan Seulgi, pemuda itu masih tersenyum dengan wajah yang terlihat sangat menyebalkan.

“Aku sudah melupakan kejadian itu, Kim Jongin. Aku pikir kita sudah menjadi teman. Tamparan itu untuk Soojung yang semalam menangis karena begitu takut kehilanganmu,” dengan nafas memburu karena emosi yang memuncak, Seulgi berlalu dari hadapan Jongin.

Tak habis pikir, bagaimana dia masih bisa tertawa miring setelah membuatnya kekasihnya menangis. Apa itu adalah sifat Jongin yang sebenarnya? Sepertinya dia memang tidak mengenal Jongin—sama sekali.

***

Malamnya, The Circle berkumpul di rumah Victoria untuk merayakan keberhasilan sidang skripsinya kemarin. Ini bukan rapat resmi jadi sudah pasti ada banyak makanan dan minuman beralkohol yang menemani mereka. Semua anggota datang, kecuali Soojung. Lagi-lagi Seulgi merasa khawatir. Bukankah semalam gadis itu kelihatan lebih baik setelah berbicara dengannya? Kenapa malam ini tidak hadir lagi?

“Tenang saja, aku menyiapkan minuman bebas alkohol untuk kalian,” kata Victoria sambil meletakkan beberapa kaleng minuman bersoda di hadapan Seulgi dan Seungwan.

“Terima kasih, unnie,” ucap Seulgi.

“Aku kuat minum, unnie. Mungkin aku ikut kalian saja, ini semua untuk Ddeulgi,” sambung Seungwan seraya menunjuk minuman-minuman itu.

“Tidak masalah,” kata Victoria sebelum meninggalkan mereka berdua.

Seungwan membuka salah satu kaleng untuk menyesapnya sambil memperhatikan anggota lain yang masih asyik dengan urusannya sendiri. Termasuk Seulgi yang tampak serius menatap ponselnya.

“Sehun lagi?”

Seulgi melirik Seungwan. “Bukan, aku hanya mengirim pesan pada Soojung. Ku harap dia baik-baik saja.”

“Kalian jadi dekat ya sekarang.”

“Kau cemburu?” canda Seulgi.

“Iya, aku cemburu. Bagaimana bisa sahabatku direbut olehnya? Aku tidak terima,” balas Seungwan dengan sinis.

“Jangan marah, kau tetap yang terbaik,” Seulgi memeluk Seungwan dengan erat.

“Lihat, kalau aku protes baru sadar.”

“Maafkan aku, Wan-ah.”

Tanpa sengaja mata Seulgi melirik ke arah Jongin yang sedang mengobrol santai bersama Baekhyun dan Minseok. Mengingat kejadian siang tadi, dia mulai merasa bersalah. Sepertinya dia terlalu kasar—heran juga bagaimana bisa punya nyali menamparnya. Dengan jantung berdebar Seulgi mengambil ponselnya kembali, mengirim satu pesan kepada Jongin.

[Text to : Jongin]

Maaf, tadi siang aku keterlaluan.

Kemudian segera meletakkan kembali ponselnya. Sambil lalu ekor matanya bergerak, melirik Jongin yang kini meraih ponselnya setelah mendapat notifikasi pesan singkat darinya.

[Text from Jongin]

Aku pantas mendapatkannya.

Balasan macam apa itu? Sama sekali tidak membuat Seulgi merasa lebih tenang. Ingin membalas lagi tapi takut yang lain sadar kalau dirinya dan Jongin saling berkirim pesan. Dia berusaha bersikap senatural mungkin.

“Ayo, main truth or dare!” ajak Sunyoung.

“Wah, aku mau!” Yuri langsung merespon baik dan meletakkan botol bekas minuman beralkohol di tengah. Berbeda dengan Seulgi yang mulai merasa takut.

“Tenang, Seulgi-ah. Aku akan menyeret mereka keluar jika melakukan permainan yang keterlaluan seperti waktu itu,” Victoria yang mengerti raut wajah Seulgi langsung memberikan statement yang menangkannya.

“Benar, kita bermain biasa saja biar Seulgi dan Seungwan bisa ikut,” sahut Myungsoo, setuju.

“Apa sajalah, ayo kita mulai. Darenya disamakan saja semua, harus minum satu gelas penuh dalam satu kali teguk jika tidak mau menjawab jujur,” Baekhyun menjelaskan aturan permainan dengan singkat.

Mereka semua merapat. Seulgi masih terlihat canggung, sementara Seungwan terlihat bersemangat. Putaran pertama dilakukan oleh Victoria, sebagai tuan rumah. Ternyata botol itu berhenti mengarah pada Myungsoo.

“Aku yang bertanya!” Jongdae mengangkat tangannya tinggi tinggi.

“Jangan yang aneh-aneh,” Myungsoo melotot padanya.

“Kalau tidak aneh tidak seru,” Jongdae cengengesan. “Apa ada yang kau sukai di The Circle? Siapa?”

“Satu saja pertanyaannya!” protes Myungsoo.

“Sudah, jawab saja atau minum ini,” Baekhyun meletakkan satu gelas penuh bir ke hadapan Myungsoo.

“Ck, aku suka Seungwan,” kata Myungsoo akhirnya.

Semuanya langsung menggoda Myungsoo, juga Seungwan yang tiba-tiba salah tingkah. Secara tidak langsung dia mendapat confession malam ini. Untuk beberapa putaran mereka terus menggoda keduanya yang terlihat makin lucu karena malu-malu. Saat tiba giliran Myungsoo untuk kedua kalinya, dia ditanyai apakah siap mengajak Seungwan berkencan, tapi tidak dijawab. Myungsoo memilih meneguk habis bir di dalam gelas.

Seulgi semakin menikmati permainan ini. Benar-benar jauh lebih baik dari permainan yang sempat dia lihat di tempat karaoke.

“Nah, Seulgi. Akhirnya tiba giliranmu,” kata Yuri saat botol itu mengarah ke Seulgi.

“Apa yang bisa kalian tanyakan padaku,” Seulgi hanya tersenyum kikuk, tidak yakin ada rahasia pribadinya yang ingin mereka ketahui.

“Apa kau sudah pernal ML dengan Sehun?” pertanyaan dari Baekhyun, sontak membuat pipi Seulgi memerah.

“Bi-bisakah kalian menanyakan hal lain?”

“Wah, berarti pernah ya?” Sunyoung membulatkan matanya tak percaya.

“Tidak!” sahutnya cepat. “Kami tidak pernah….”

“Tapi kalau ciuman sudah pernah, kan?” kini semua perhatian mereka terarah pada Seulgi.

Sebenarnya kalau bisa memilih, dia ingin minum saja. Tapi karena tidak kuat minum, mau tak mau dia harus menjawab jujur.

“Kalau itu sih… pernah.”

“Hmm,” serentak mereka semua menggoda Seulgi.

“Ayo lanjut lanjut!” Sunyoung memutar botol itu, dan tepat berhenti di hadapan Jongin. “Nah, kebetulan aku sangat ingin bertanya padamu dari tadi.”

“Hng?” Jongin hanya menaikkan sebelah alisnya, sambil lalu menyalakan rokok.

“Apa ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan dan bahkan Soojung tidak tahu? Semacam sebuah rahasia terbesarmu,” tanya Sunyoung.

“Rahasia?” ekor matanya mengarah pada Seulgi, hanya dalam hitungan detik sebelum ia alihkan pada rokoknya. “Ada.”

“Wah—rahasia apa?” kini mereka semua tertarik menunggu jawaban Jongin—termasuk Seulgi.

Jongin menghembuskan asap rokoknya ke udara, sebelum menatap mereka satu per satu.

“Aku menyukai gadis lain.”

Baekhyun yang tadi kebetulan minum satu teguk bir langsung terbatuk.

“Yang benar saja? Siapa?” tanya Sunyoung lagi, makin penasaran.

Jongin—lagi-lagi melirik Seulgi, sebelum akhirnya meraih gelas penuh bir dan menghabiskannya dalam sekali teguk.

“Yah, tidak seru!” rutuk Sunyoung yang sudah terlanjur penasaran.

Jongin hanya menampakkan senyum miringnya tanpa dosa, dan kembali merokok. Sementara Seulgi, sangat bersyukur Soojung tidak datang malam ini.

***

Fakta gilanya adalah, Seulgi merasa gadis yang Jongin maksud adalah dirinya. Dia sangat ingin menghantamkan kepalanya ke tembok karena berpikir demikian. Entah dari mana rasa percaya diri itu berasal. Setibanya di apartemen, dia langsung mengguyur wajahnya dengan air dingin.

“Bisa-bisanya…” dia bermonolog sambil mengamati wajahnya di depan cermin.

Belakangan ini dia sudah berhasil memfokuskan perasaannya hanya pada Sehun—bahkan mimpi-mimpi aneh itu sudah tidak hadir lagi di mimpinya.

“Sehun sudah kembali. Lalu apa lagi yang kau butuhkan? Sehun adalah segalanya,” gumamnya pada diri sendiri.

Sungguh, dia merasa jijik jika mengingat perasaannya sempat terbagi. Sekarang dia merasakannya lagi dan itu benar-benar mengganggu. Dia langsung menenangkan diri dengan berbaring di tempat tidur.

“Tidak—yang dia maksud bukan aku. Seulgi-ah, berhenti bersikap murahan.”

Tapi tangannya tidak bisa dicegah saat akhirnya meraih ponsel dan mengirim pesan pada Jongin.

[Text to Jongin]

Jangan sampai Soojung tahu mengenai pengakuanmu tadi.

Pesan itu terkirim. Jongin tidak membalasnya. Dan Seulgi berusaha untuk tidak peduli.

***

Ketakutan terbesar Seulgi adalah keadaan Soojung setelah tahu kenyataan itu. Akhirnya terjadi juga. Sore hari setelah dia pulang kuliah, Soojung kembali menemuinya dengan tangis yang bahkan lebih menyedihkan dari kemarin.

“Dia menyukai gadis lain. Sesuai dugaanku. Tapi aku tak menduga rasanya akan sesakit ini, Seulgi-ah.”

Hati Seulgi terasa pilu melihat keadaan Soojung. Kalau sudah begini, apa yang bisa ia lakukan?

“Mungkin dia tidak bersungguh-sungguh….”

“Dia mengatakan yang sebenarnya. Pasti tak lama lagi kami akan berakhir.”

“Jangan mengatakan itu.”

“Kau tidak berada di posisiku.”

Seulgi menelan ludah. Memang, dia tidak merasakan langsung. Tapi sebagai sesama perempuan, dia ikut merasa sakit.

“Aku akan bicara padanya.”

“Apa kau bisa membuatnya menjauh dari gadis itu?” tanya Soojung penuh harap.

“Aku tidak tahu. Siapa gadis itu tidak ada yang tahu.”

“Bisakah kau mencati tahu?”

“Aku?”

Permintaan Soojung semakin sulit bagi Seulgi. Tapi karena dia terlanjur ingin membantu sebagai teman….

“Baiklah,” Seulgi menghela nafas.

“Terima kasih, Seulgi-ah. Aku tidak tahu bisa apa jika kau tak membantuku.”

Hati Seulgi justru semakin merasa sakit. Soojung begitu menaruh harapan padanya. Dia harus memperbaiki hubungan mereka.

***

“Aku benar-benar ingin berbicara denganmu, Kim Jongin,” kata Seulgi dalam sambungan telpon. Setelah Soojung pulang, dia langsung menghubungi Jongin dan mengajak bertemu. Pemuda itu menolak—mungkin sudah bisa menebak kalau ini tentang Soojung. Dan itu tidak membuat Seulgi menyerah. “Kalau kita tidak bicara sekarang, maka tidak perlu bicara lagi padaku sampai kapan pun.”

“Keluarlah. Aku di depan gedung apartemenmu.”

Tidak punya waktu untuk terkejut—atau pun bertanya sejak kapan dia tiba di sana. Seulgi langsung menutup telpon, bergegas keluar dari flatnya dan turun. Dia ingin masalah ini cepat selesai.

***

Kini mereka berada di dalam mobil, diam satu sama lain. Jongin memilih fokus menyetir, entah kemana tujuannya. Seulgi juga tak paham kenapa saat sudah berdua begini, punya kesempatan besar untuk bicara, dia justru bingung hendak bicara dari mana.

“Kau mau bicara apa?” tanya Jongin. Matanya tak lepas dari jalanan di depan. Seulgi bisa melihat ada bulir keringat di sekitar pelipisnya. Pakaiannya pun tampak sedikit basah oleh keringat. Mungkin dia baru saja olahraga malam atau latihan dance.

“Aku bilang jangan sampai Soojung tahu,” akhirnya ia mulai bicara to the point.

“Dia tahu sendiri, aku tidak bilang.”

“Dan kau tidak punya usaha untuk menutupinya.”

“Setidaknya dia tidak tahu siapa orangnya,” kata Jongin. Kemudian hening lagi. Selama berbicara tadi hingga detik ini, pemuda ini tidak melirik Seulgi sama sekali.

“Jadi itu benar?”

“Kau pikir aku bercanda?”

Seulgi menghela nafas. “Jongin-ah, Soojung masih kekasihmu.”

“Tidak lama lagi—“

“Dia sangat mencintaimu,” kata Seulgi telak.

Terdengar helaan nafas kasar Jongin, kemudian dia membanting setir mendadak, menepikan mobilnya. Seulgi sampai harus menutup matanya rapat—takut Jongin menabrakkan mobil dengan emosi seperti itu.

“Sebenarnya kau ingin aku bagaimana? Ini adalah urusanku dengan Soojung, kau tidak perlu ikut campur!” suara Jongin meninggi dan kali ini dia menatap Seulgi.

Sebenarnya mendapat tatapan seperti itu membuat Seulgi jadi takut padanya. Pasalnya, Jongin belum pernah terlihat semarah ini. Tapi jika dia menampakkan ketakutannya, mungkin pembicaraan mereka tidak akan berhasil.

“D-dia menangis di depanku!” balas Seulgi tak kalah emosi, sedikit terbata. “Kau pikir aku bisa diam saja melihat itu?”

“Perlukah aku melarang dia menemuimu lagi? Agar kau tidak merasa terganggu dengan masalah kami?”

“Bisakah kau… sedikit saja menghargai perasaannya?” Seulgi menatap Jongin, terbawa emosi hingga pandangannya mengabur karena ada genangan air di matanya.

“Jika aku terus menutupinya, dia akan lebih sakit dari ini. Akan lebih baik jika dia tahu sekarang.”

“Dan membuatnya menangis?”

“Lalu aku harus apa?” tanya Jongin tak sabar. “Katakan padaku, apa yang kau ingin aku lakukan? Kau ingin aku putus saja dengannya agar tidak membuatnya menangis lagi? Akan ku lakukan. Besok aku akan mengakhiri hubunganku dengannya,” wajah marah Jongin terus mendekat, membuat Seulgi makin takut dan memundurkan kepalanya.

“Jauhi gadis yang kau sukai itu….”

“Harus?”

“Iya, kau harus. Cintai apa yang kau miliki, Jongin. Soojung adalah gadis yang baik untukmu.”

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa berpura-pura mencintai orang lain sementara perasaanku sendiri tak terbalas.”

“Apa yang dimiliki gadis itu dan tidak dimiliki oleh Soojung?” tanya Seulgi.

Jongin mengepalkan tangannya. “Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Sekali pun dia membenciku.”

“Lupakan dia, Kim Jongin.”

“Aku mencintainya sekalipun aku tahu dia memiliki namja!” Jongin mengepalkan tangannya. Seulgi menelan ludah kasar. Dia mulai berfirasat lagi—tentang gadis yang disukai Jongin adalah dirinya.

“Tapi kau juga sudah punya Soojung….”

“Aku ingin melupakannya dan menganggap ini hanya perasaan sesaat. Tapi melihat namja itu memeluknya, dan dia tersenyum, aku tidak rela! Aku sudah cukup sabar menahan perasaanku sendiri agar dia bahagia! Sekarang kau menyuruhku untuk berpura-pura mencintai Soojung hanya untuk melupakan perasaanku padanya?”

“Jongin-ah….”

“Kau pura-pura bodoh atau memang tidak peduli sama sekali? Aku menyukaimu, Kang Seulgi! Gadis itu adalah kau!”

Seulgi terhantam telak. Pengakuan Jongin membuatnya bungkam. Ada perasaan hangat yang menjalar, ada kupu-kupu yang hinggap, tapi di sisi lain, dia merasa hatinya teriris-iris.

***TBC***

Author note : TBVH saya ngetik ini lumayan baper. Maaf kalau (mungkin) membosankan. Tapi serius, saya sampe nahan nafas bikin adegan di akhir chapter.

Ah… iya. Saya punya pertanyaan untuk kalian, tolong dijawab ya di kolom komentar.

Apa yang ‘sebaiknya’ Seulgi lakukan setelah mendengar pernyataan cinta dari Jongin? Dia menerima cintanya, atau menolaknya?

Selamat menjawab dan see you next chapter. Mungkin akan lebih baper lagi._.

Iklan

49 thoughts on “Bittersweet : Truth Or Dare

  1. Wow tegang bgt thor…kereeennn…hm apa yg hrs dilakukan seulgi ya…terima aja jongin bwt selingkuhan hehehe…tp itu bkn sifat seulgi…terserah deh thor…mo lnjut bc aja,smangt terus ya..bye….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s