BEKAL (Oneshoot)

Judul : Bekal

Cast : Do Kyungsoo (EXO) , Minhyun (OC) and other cast

Genre : Humor (garing-garing kripik kentang), romance (gak deh bo’ong banget kayaknya)

Author : Nikky-Chan

Length : 2.127 words

Rating : T (Maybe)

.

.

.

Minhyun baru tahu. Bahwa hukuman bagi siswi yang terlambat datang ke sekolah itu membuatkan bekal untuk ketua OSIS.

 

Seharian gadis itu uring-uringan. Dan chanyeol –teman kecilnya- jadi mengerti, ternyata begini rasanya menangani orang yang sedang kesal bukan main. Tapi hukumannya memang aneh sih. Seperti modus yang terselubung. Pemuda itu juga belum pernah mendengar hukuman membuat bekal untuk ketua OSIS seperti itu.

 

Apalagi kalau ketua OSISnya lempeng sejenis Kyungsoo. Terkenalnya sih di panggil Dio. Ah, sudahlah. Mengingat pemuda itu membuat Chanyeol teringat dengan bekal yang akan dibuat teman kecilnya itu. Sepanjang mereka berteman selama ini, masakan Minhyun itu selalu berhasil membuat kucing sekarat. Ide bagus sih jika membuat Kyungsoo sekarat, karena bisa saja membuat ketua OSIS itu kapok mengajukan hukuman sedemikian aneh rupanya.

 

Tapi bagaimana jika hukuman yang diberikan ketika Minhyun telat lagi malah semakin aneh. Pasti Chanyeol yang menjadi sasaran pelampiasannya.

 

“Apa yang harus kita beli di supermarket?” tanya Minhyun.

 

Chanyeol tidak begitu pandai memasak, tapi kalau cuma sekedar nasi goreng dengan bumbu instan sih gampang.

 

“Kita bisa beli bumbu instan” usul Chanyeol.

 

Minhyun menggeleng. “Si Dio itu minta yang tidak ada bahan pengawetnya” mengetuk telunjuk di dagunya –berpikir-, “beli bahan kimia saja”

 

“Kau mau melakukan apa?”

 

“Meracuninya. Biar spesies ‘burung hantu’ sepertinya punah sekalian”

 

“Dia matipun pasti masih bisa menghantuimu seumur hidup” lama-lama Chanyeol merasa jika dia menanggapi omongan selanjutnya, topik ‘apa yang harus kita beli di supermarket?’ akan teralihkan.

 

“Aku bisa panggil exorcist” Tuh, kan.

 

Chanyeol menatap Minhyun datar. Dibalas tatapan yang sama oleh Minhyun. Selama beberapa saat mereka betah dengan posisi itu. Tanpa latar bunga-bunga ataupun kembang api. Hanya warna putih dari tembok supermarket sebagai latarnya. Datar.

 

Akhirnya acara saling menatap datar satu sama lain itupun diakhiri oleh Chanyeol yang menghela nafas. “Kau serius?”

 

“Kau pikir aku serius? Aku tidak mungkin membunuh si Dio itu.” Ah, benar juga sih. “Setidaknya tidak dengan tanganku sendiri”

 

Merekapun masuk ke dalam supermarket. Berjalan ke arah bahan makanan mentah dengan keranjang di tangan. Kebetulan nyonya Park tadi titip beli kopi, jadi sekalian saja.

 

Sosis. Check list.

 

Beras. Check list.

 

Cabai merah segar. Check list.

 

“Apa lagi?”

 

“Garam di rumah pasti ada, bawang-bawangan juga. Didapurmu pasti ada, hanya saja kau tidak tahu”

 

Minhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar juga. Kan ada ibunya. Kenapa tiba-tiba eksistensi ibunya menghilang dari permukaan pikirannya. Dunianya seperti diisi dengan Dio menyebalkan dan Dio ‘burung hantu’ berwajah lempeng yang usil. Tapi anehnya usil pada dirinya saja.

 

“Nah lho?”

 

“Apa?” tanya Chanyeol heran.

 

“Kok aku baru sadar ya Yeol?”

 

Alis Chanyeol terangkat, bingung. Sekarang Minhyun mulai memasang wajah aneh.

 

“Kenapa cuma aku yang di hukum membuat bekal? Kok Hyeri dan Hyora cuma disuruh membuat surat permintaan maaf sebanyak 500 kali”

 

“Eh?”

.

Keesokan harinya.

 

Kyungsoo berangkat sekolah berjalan kaki seperti hari-hari biasanya.

 

Tapi ada sesuatu yang tidak biasa darinya.

 

Senyum…

 

..yang..

 

…terpasang…

 

….di wajahnya….

 

…..itu EMEJING.

 

Langka.

 

Kalau tidak percaya tanyakan pada pembantu-pembantunya yang saling menabrak waktu membersihkan rumah kediaman keluarga Do yang terhormat di pagi hari, gara-gara melihat majikan tersenyum tampan. Atau pak satpam yang salah memberikan hormat dengan tangan kirinya, gara-gara majikan tersenyum manis. Atau pedagang sayur di depan rumahnya yang tidak sadar dirinya bangkrut gara-gara kaget melihat wajah malaikat yang baru saja turun dari surga, jadi para pembelinya menggunakan kesempatan itu menyikat habis sayur dagangannya. Gara-gara majikan langganannya tersenyum imut. Oh, oh.

 

Kyungsoo tersenyum sepanjang perjalanan. Bahkan sampai di area sekolahpun dia masih tebar senyuman. Beruntung dia selalu rajin berangkat lebih awal, jadi tidak banyak korban mimisan yang tepar di area sekolah.

 

Sampai sekolah, Kyungsoo langsung memasuki ruang OSIS. Mengambil kertas laporan, menandatanganinya. Masih dengan tersenyum.

 

Satu lembar.

 

Dua lembar.

 

Sepuluh lembar.

 

Masih tersenyum.

 

15 menit kemudian Baekhyun datang dan memasuki ruang OSIS. Pemuda itu langsung duduk di kursinya. Mencari-cari kertas yang seharusnya di stempel olehnya pagi ini sebelum di bagikan ke seluruh kelas. Tapi tidak ada.

 

“Dio-ya… apakah kau– are you… really Do Kyungsoo-sshi?”

 

Mengucek mata sekali tidak bisa merubah kenyataan bahwa yang sedang duduk di kursi ketua OSIS adalah Dio. Temannya, tetangganya, sekutuny–

 

Di tengah kebingungan si sekretaris OSIS –Byun Baekhyun-, si bendahara OSIS –Chen- masuk dengan sebuah kotak bekal di tangannya.

 

“Ohayou.. guten morgen… Selamat Pagi… good morning hola hola”

 

Chen berjalan ke arah Kyungsoo tanpa menyadari ada sesuatu yang aneh dari ketua OSISnya. Baekhyun bahkan tidak terkejut ketika temannya itu lemot di saat seperti ini.

 

“Kyung.. tadi ada siswi yang menitipkan bekal untukmu. Kau pasti tidak mau. Boleh kumakan?”

 

Kyungsoo meletakkan pulpennya, lalu menatap Chen sambil tersenyum. “Tentu saja boleh”

 

“Asyik ak– heh? Are you really Do Kyungsoo?”

 

Masih tersenyum. “Tentu saja ini aku Kyungsoo, Chen”

 

Merinding.

 

Pemuda bernama asli Kim Jong Dae itu berlari mendekati Baekhyun masih memegangi kotak bekal yang di terimanya dari salah satu fans Kyungsoo.

 

“Baek, Kyungsoo baik-baik saja? Apa dia salah makan? Kenapa dia tersenyum seperti itu? bukannya biasanya wajahnya lempeng mengalahkan wajah si Sehun lempeng itu”

 

Baekhyun mencoba mengingat-ingat apa yang akan terjadi hari ini, atau apa yang sudah terjadi pada temannya itu kemarin. Membuka jurnalnya, yang ada hanya beberapa tugas OSIS yang harus diselesaikan mereka hari ini sampai-sampai tidak bisa mengikuti pelajaran. Pasti bukan itu.

 

Kemarin, Kyungsoo juga sibuk dengan tugas OSIS. Bahkan masih sempat menghukum siswa-siswa yang datang terlamb–

 

“Oh” Baekhyun baru sadar.

 

“Oh Sehun?”

 

“Bukanlah, pinter.. maksudku ‘Oh’ aku tahu apa yang membuat Dio jadi seperti itu” kata Baekhyun sambil menunjuk-nunjuk Kyungsoo dengan pensil yang entah sejak kapan sudah dipegangnya.

 

“Apa?”

 

“Pasti Dio sudah tidak sabar sekali sekarang”

 

“Apa Baek? Apa?”

 

“Pasti tadi pagi dia tidak sarapan”

 

“Baek. Kurasa yang belum sarapan tadi pagi itu kau” kesal Chen yang pertanyaannya diacuhkan berulang kali.

.

Kali ini Chanyeol menjemput Minhyun. Biasanya dia berangkat bersama noona-nya. Tapi karena takut Minhyun telat lagi hari ini, diapun memutuskan berangkat naik bus saja. Ah, benar-benar teman yang perhatian.

 

Baru mau memencet bel, ternyata pintu rumah Minhyun langsung terbuka dan gadis itu keluar dengan kotak bekal di tangannya.

 

“jengjeng….” Minhyun memamerkan kotak bekalnya.

 

“Apa itu aman?” tanya Chanyeol.

 

“Aman”

 

Pemuda tinggi itu pun menghela nafas. Tapi langsung terbatuk ketika Minhyun melanjutkan kalimatnya.

 

“Kalau di dampingi dengan air”

 

Oh. Chanyeol berdoa dalam hati. Semoga Kyungsoo selamat setelah memakannya. Semoga Kyungsoo di terima disi–

.

Kyungsoo melihat jam dinding.

 

Ah, 10 menit lagi bel sekolah berbunyi. Tapi sesuatu yang di tunggu-tunggunya belum juga datang. Maklum sih sebenarnya. Kan yang ditunggu-tunggunya itu selalu telat datang ke sekolah.

 

Chen yang sedang memakan bekal untuk Kyungsoo juga melihat ke arah jam di dinding yang tak jauh darinya. Lalu pandangan matanya nyerempet ke arah tanggalan yang tergantung di bawah jam dinding.

 

Lho? Hari ini.. 12 Januari.

 

“Kyungsoo-ya, hari ini ulang tahunmu ya?”

 

“Ah, iya. Akhirnya kau ingat juga.” jeda “Meskipun, sebenarnya aku tidak mengharapkannya” lanjut Kyungsoo sambil tersenyum di tambah efek bling-bling di belakangnya.

 

Jleb.

 

Chen diam. Menunduk lalu melanjutkan makannya dengan banyak gerutuan di dalam hatinya. Kalau Kyungsoo bicara memang tidak pernah tidak nancep. Tapi gimana ya? Kalau di tambah efek bling-bling itu rasanya lebih sakit lagi.

 

Baekhyun turut prihatin dari tempat duduknya.

 

“Selamat ulang tahun Dio-ya.. maaf, aku juga baru ingat barusan”

 

“Tak masalah”

 

“Kau menunggu bekal dari Minhyun sebagai kadomu ya?”

 

Kyungsoo melotot.

 

Mengembalikan ekspresi normalnya, lalu tersenyum malu. “Begitulah.”

 

Ganti Baekhyun yang melotot –inginnya bilang begitu, tapi mata Baekhyun tidak terlihat melotot sama sekali.

 

“Dimana Dio?”

 

“Hah?”

 

“Dio tidak mungkin tersenyum malu seperti itu, kembalikan Dio” kata Baekhyun sambil menunjuk-nunjuk Kyungsoo.

 

“Baek, kalau kau pusing karena banyak tugas. Kau boleh pergi ke UKS. Aku Kyungsoo yang biasa kau panggil Dio”

 

Baekhyun menghela nafas –entah kenapa barusan ngelantur, mungkin efek senyum yang belum pernah dilihatnya itu-, lalu melirik ke arah jam dinding. Minhyun masih belum datang. Padahal 5 menit lagi bel masuk akan segera berbunyi. Sementara Kyungsoo masih kembali ke posisinya dengan senyum dan efek bling-blingnya lagi.

 

“Oh. Aku mengerti sekarang. Jadi kau menunggu hadiah ulang tahunmu dari Minhyun ya Kyung. Karena itu sejak tadi kau tersenyum-senyum seperti itu” tebak Baekhyun

 

“Tepat”

 

“Apa?” eh, itu bukan suara Chen.

 

Ketiga orang yang berada di ruangan OSIS menoleh ke arah pintu yang sejak tadi terbuka. Di ambang pintu, berdiri seorang gadis dengan sekotak bekal di tangannya. Senyum Kyungsoo terasa semakin menyilaukan saja bagi kedua temannya.

 

“Dio.. hari ini kau berulang tahun?”

 

Kyungsoo mengangguk “Apa itu bekal yang akan kau kumpulkan sebagai hukumanmu kemarin?”

 

“Ini?”

 

“Berikan padaku”

 

“Bu.. bukan. Ini punya Chanyeol” bohong.

 

“Chanyeol?”

 

“Punyamu ada di… kelas” Minhyun berusaha keras mencari alasan. Do Kyungsoo. Hari ulang tahun. Dan nasi goreng maut super pedas tiket menuju surga. Sepertinya tidak mungkin Minhyun akan memberikannya sekalipun orang yang menerimanya menyebalkan luar binasa. Setidaknya dia masih memiliki perasaan untuk tidak menghancurkan hari ulang tahun seseorang.

 

“Tunggu nanti istirahat makan siang saja ya? Kau mau kan?”

 

“Hah?”

 

“Mau ya…”

 

Kyungsoo berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk menyetujui.

 

“Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai nanti Dio..”

.

Sampai jam 11 siang Kyungsoo belum makan apapun juga. Sekalipun Baekhyun sudah menggodanya dengan pasta kesukaannya, Kyungsoo terus menolak. Chen juga membeli banyak roti untuknya. Tapi akhirnya dia sendiri yang memakannya.

 

‘Jika aku makan sekarang, nanti kenyang. Jika kenyang aku tidak bisa memakan bekalnya. Bersabarlah Do Kyungsoo, tinggal 30 menit lagi’ batin Kyungsoo.

 

Baekhyun dan Chen hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Antara takjub dan prihatin. Mereka yakin bekal tadi pasti memang untuk Kyungsoo. Tapi karena didalamnya ada sesuatunya, dan Minhyun juga mendengar bahwa hari ini ulang tahun Kyungsoo. Pasti gadis itu tidak tega memberikan bekal kematian yang dibuatnya.

 

Keduanya kemudian saling menatap dengan wajah yang sama-sama memasang seringai.

 

“Apa kau memikirkan hal yang sama denganku?” tanya Baekhyun

 

Seringai Chen melebar “Tidak. Tapi aku memikirkan apa yang kau pikirkan”

 

Di sisi lain..

 

Minhyun menyelinap keluar dari kelas. Berpura-pura sakit dan ijin ke ruang kesehatan. Meskipun awalnya Choi sonsaengnim tidak percaya dengan alasan sakit perutnya. Tapi melihat keringat dingin dan wajah pucat –padahal karena terlalu gugup ditatap tajam oleh guru killer- muridnya itu, akhirnya Choi sonsaengnimpun mengijinkannya karena takut terjadi apa-apa padanya. Dan meminta salah satu teman sekelasnya untuk mengarkannya.

 

Jadilah Chanyeol yang mengantarkannya…

 

..ke kantin.

 

Minhyun meminta Ahn ahjumma membuat masakan yang enak untuk bekal yang akan diberikannya pada Kyungsoo. Sekalipun tidak benar-benar enak, yang penting masih bisa di makan. Berulang kali Ahn ahjumma akan membantunya –karena lelah hanya membantu dengan menunjuk-nunjuk saja-, tapi di tolak dengan halus.

 

“Bekal akan terasa lebih nikmat kalau di buat sendiri” katanya ngawur. Padahal toh bekal itu tidak dimakan oleh dirinya sendiri.

 

Ahn ahjummapun hanya bisa menahan senyum sambil menggumam ‘ah anak muda jaman sekarang’. Chanyeol hanya terkekeh ditempatnya berdiri, tidak jauh dari kedua orang yang sibuk itu. Konsekuensi membohongi Choi sonsaengnim memang lebih baik dilupakan untuk saat ini. Biarlah. Kalau Cuma menulis ‘Saya menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi’ sebanyak 500 kali bukan masalah.

 

“Seperti Kyungsoo spesial saja untuknya” gumam Chanyeol.

 

Tapi selang beberapa detik, dia baru sadar dengan apa yang baru saja di katakannya. Nah lho.

.

Kriiingggg….

 

Kyungsoo menyetempel kertas dengan riang gembira. Tidak sabar katanya.

 

Dan 5 menit setelah bel istirahat berbunyi seseorang yang ditunggunyapun memasuki ruang OSIS. Seharusnya sih anggota lain juga harus berkumpul di ruang OSIS. Tapi Baekhyun meng-sms semua anggota OSIS untuk libur sejenak hari ini. Karena itu sampai bel istirahat pun, di ruangan itu hanya ada tiga orang itu saja.

 

“Emm.. ini bekalnya. Berarti aku bebas dari hukuman kan?”

 

“Duduk” perintah Kyungsoo. Menurut, Minhyunpun duduk di depan Kyungsoo. Diam-diam, dua orang anggota OSIS disana mengendap-endap keluar dari ruangan itu.

 

“Selamat makan” akhirnya penantiannya sepanjang hari terbayarkan. Apalagi Kyungsoo memang tidak memakan apapun sejak pagi kan.

 

Kyungsoo mengambil sesendok nasi. Lalu berkomentar “Pahit”

 

“Eh? Se-sepertinya gosong” Minhyun ragu yang barusan berbicara itu adalah dirinya. Kok jadi canggung begini?pikirnya. Pakai acara gugup dan malu-malu segala.

 

“Asin juga”

 

“Kalau begitu jangan dimakan. Sini berikan padaku”

 

Kyungsoo memeluk kotak bekalnya “Kau tidak ingat apa hukuman karena terlambat kemarin?”

 

“Membuatkan bekal untukmu” Minhyun menjawab cepat. Efek kesal.

 

“Berarti ini milikku”

 

“Tapi tadi kau bilang pahit, asin juga. Lebih baik tidak usah dimakan. Di buang saja”

 

“Tapi. Ini. Milikku. Kau tidak mengerti itu? Ini enak. Karena aku tahu kau membuatnya sendiri untukku” Apapun yang diberikannya akan dia makan. Mungkin itulah kekuatan orang lapar. Lapar akan kebutuhan dan lapar akan cint–

 

Wajah Minhyun memanas. Dia yakin wajahnya memerah. Merona malu karena ucapan seorang pria untuk pertama kalinya. Ah, benar. Karena selama ini dia tidak pernah tertarik dengan hubungan percintaan. Sepertinya otaknya tidak pernah kepikiran sama sekali untuk membuatnya merona.

 

“Padahal aku sudah diajari oleh Ahn ahjumma” gumam Minhyun.

 

Tiga orang yang mengintip di luar –melalui jendela- sejak tadi tersenyum-senyum sendiri. Mereka adalah Chanyeol, Baekhyun dan Chen. Sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk benar-benar memberikan ruang kepada Minhyun dan Kyungsoo berduaan. Karena ketiganya rupanya sudah memiliki satu pemikiran.

 

Kyungsoo menyukai Minhyun.

 

Minhyun juga menyukai Kyungsoo. Meskipun sepertinya belum sadar.

 

Kyungsoo mengusak rambut Minhyun gemas. “Kau sudah berusaha dengan keras”

 

“Aku akan belajar lebih baik lagi”

 

“Baiklah”

 

“Dan kau harus menghabiskannya”

 

“Tentu saja”

 

“Selamat ulang tahun, Dio..”

 

“Terima kasih”-karena ini merupakan kado dengan penantian termenyenangkan yang pernah kulakukan.

 

END Karena saya tidak romantis, karena saya udah gak sabar buat ngucapin SELAMAT ULANG TAHUN DO KYUNGSOO~~ ffnya berakhir dengan cukup demikian dan terima kasih saja. hahahahaha….

Fict ini terinspirasi dari anime SPECIAL A episode 3, waktu mbak hikari buatin nasi kepal (meriam) buat mas Kei… (*/_*)/

Iklan

4 thoughts on “BEKAL (Oneshoot)

  1. Apaan namaku nyempil dikit doang..
    Nah ntuh hyora juga kenapa ikutan? Biasanya juga jisook.
    Bhahaha tapi kocak rada kayak bukan nikky yang nulis soalnya gak kayak ff buatanmu biasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s