A Goodbye

a-goodbye

Title                       : A Goodbye

Author                  : brownie bear

Cast                       : Jung Soojungx Kim Jongin

Other Cast          : EXO’s member, Ny. Kim, etc.

Genre                   : Romance, Sad

Length                  : Oneshot

Rating                   : Teenagers

Poster by babyglam @ Indo Fanfictions Arts

WARNING!!!

Typo bertebaran, alur tidak jelas dan feel tidak dapat!!

Jika ada kesamaan cerita/tokoh itu hanya kebetulan. FF ini murni imajinasi Author!!

I see you siders!!!

 

 

Soojung’s Side

Aku sama sekali tidak mengerti soal Cinta sebelum aku mengenal Jongin. Dulu, aku hanyalah seorang gadis yang tak pernah peduli tentang Cinta atau Pasangan. Namun Jongin telah mengubah segalanya.

Aku dan Jongin sudah 2 tahun ini menjalin hubungan yang spesial, atau berpacaran. Ia menyatakan cintanya padaku sore itu saat aku sedang berada di sebuah minimarket untuk berteduh di tengah hujan yang sangat deras. Mencintainya terasa lebih manis dari cokelatHershey favoritku.

 

Jongin adalah seorang laki-laki yang sangat romantis. Ia selalu menjemputku di pagi hari dengan motor sportnya untuk pergi ke kampus bersama, kadang ia juga membawakanku bekal makan siang agar aku tak lupa makan saat ada kegiatan tambahan di sekolah dan berbagi payung hijau toscanya di saat hujan turun. Inilah yang menjadikannya salah satu dari beribu alasan mengapa aku mencintai Jongin.

 

Rumah Jongin juga tidak jauh dari rumahku. Tidak sejauh Seoul ke Shanghai atau sedekat jarak kami saat bermain ular tangga. Tapi cukup memakan waktu jika berjalan kaki. Ia tinggal 2 blok dari rumahku tepatnya di sebelah rumah Sehun. Aku sering bermain ke rumahnya, jadi aku tak merasa canggung lagi saat bertemu dengan ibunya.

 

Aku mengetuk pintu rumahnya yang bercat putih sebanyak 3 kali. Tak membutuhkan waktu lama, ibu Jongin – bibi Kim membukakan pintu dan mempersilahkan aku untuk masuk. “Bibi, aku mendengar dari Sehun jika Jongin sedang sakit. Apa ia sudah baikan?” tanyaku pada bibi Kim di ruang tamu.

 

“Ah iya, Jongin sudah 3 hari ini sakit. Tapi tenang saja, ia hanya terkena demam dan sedikit batuk saja. Maaf sudah membuatmu khawatir Soojung-ah” Jawabnya.Bibi Kim selalu seperti ini. Saat ia bicarahatiku selalu merasa tenang karna cara bicaranya yang keibuan, tatapan matanya teduh dan senyumnya yang hangat.

 

“Tak apa bi, eum..bolehkah aku bertemu Jongin?” tanyaku hati-hati. Bibi Kim beranjak dari sofanya, “Tentu saja Soojung.Dia ada di kamarnya”.Tanpa basa-basi Bibi Kim – Ibu Jongin langsung mengizinkanku untuk menemuinya.

 

Aku senang sekali. Sudah 3 hari aku tidak melihatnya dan kekonyolan yang selalu ia buat di kampus. Ku ketuk pintu bercat putih di depanku. Jongin suka warna putih, walaupun kulitnya tak seputih pintu ini(?). Ketukan pertama dan kedua tidak ada jawaban.Apa dia terkena gejala tuna rungu?

 

“Jongin-ah.. ini aku, Soojung”

 

Dan akhirnya pintupun terbuka.

Jongin berdiri disana dengan sweater berwarna peach pemberianku saat natal tahun lalu. Rambutnya berantakan dan wajahnya sedikit pucat.Aku sedikit merasa bersalah telah membuatnya beranjak dari tempat tidur.Tapi senyuman konyol yang terpampang di wajahnya itu membuatku sedikit merasa tenang.

 

“Annyeong” sapaku sedikit kikuk.Aku tak percaya aku merasa gugup hanya karna monyet pembuat onar ini.

 

“Masuklah Jungie-ya” Jongin memberikan jalan untuk masuk ke kamarnya.

 

Aku langsung mengambil tempat duduk di kursi yang terletak di sebelah tempat tidurnya.Ini bukan pertama kalinya aku masuk ke kamarnya.Namun mataku masih tak bosan untuk memandang koleksi poster Star Wars milik Jongin yang setia menghiasi dinding kamarnya.

 

Kamar Jongin berwarna biru tua-putih dan beraroma maskulin khas seorang laki-laki.Terasa nyaman disini. Di dindingnya terdapat koleksi poster Star Wars, tim sepak bola Liverpool dan beberapa fotoku bersama Jongin. Walaupun sebenarnya lebih banyak fotoku sendiri ketimbang fotoku bersamanya.

 

“maaf sudah merepotkanmu” ucapnya pelan. Ia mengusap tengkuknya sembari tersenyum kikuk. Menggemaskan.

 

“hey.. jangan bicara seperti itu. Sekarang kau istirahat saja” jawabku sembari menarik Jongin untuk kembali berbaring di tempat tidurnya.

 

“Jongin-ah.. kau kurus sekali. Kau harus banyak makan dan meminum susu” ucapku seraya menggenggam erat tangan kanannya.

 

“kau sama seperti ibuku” balasnya seraya mempoutkan bibir pucatnya itu.Menggemaskan.

 

“Apakah Sehun dan Chanyeol sudah datang menjenguk?”Sehun dan Chanyeol adalah sahabat Jongin dan teman baikku di sekolah.Sehun dan Chanyeol adalah orang yang sangat baik, walaupun mereka sering membuat keributan di kampus.

 

Jongin beralih mengelus puncak kepalaku, “Mereka bilang, sepulang dari kampus besok mereka akan datang” jawabnya. Suaranya sedikit serak, dan sesekali ia terbatuk-batuk. Dengan sigap, ku ambilkan segelas air di meja dan ia meminumnya hingga tak tersisa setetes airpun.

 

Ia menghembuskan nafasnya perlahan dan tersenyum. Itulah caranya berterima kasih.

 

“Jongin-ah, kapan kau akan kembali kuliah?” tanyaku. Mendengar pertanyaanku, Jongin menampakkan smirk andalannya, “apa kau merindukanku eoh?”.Jongin benar-benar sangat percaya diri.

 

“a-ah..tentu aku tidak merindukanmu. Aku hanya merasa aneh saja jika tidak ada yang membuat keributan di kelas selama 3 hari ini.Kau ja-jangan terlalu percaya diri Jongin-ah” jawabku terbata-bata.

 

Jongin mendekatkan wajahnya padaku, menatap mataku dengan mata elangnya.“Wajahmu itu sudah cukup untuk menjelaskan bahwa kau benar-benar merindukanku nona Jung” ucapnya dengan nada jahil.Ia mengedipkan sebelah matanya dan itu benar-benar menyebalkan.

Aku membalikan tubuhku dan berpura-pura marah padanya.

 

Ia membalikkan tubuhku, “Jungie-ya, jangan marah..Karna kau merindukanku, aku pasti akan masuk kampus secepatnya”.Nada bicaranya kini lembut.Ia menatapku dalam, menangkup kedua pipiku dan mengecup keningku cukup lama. Ini yang selalu aku sukai dari Jongin, ketika ia mencium keningku, aku selalu merasa tenang.

 

“Kalau begitu aku akan menunggumu hingga kau sembuh.Annyeong” ucapku riang sembari mengecup pipi tirus Jongin singkat dan segera keluar dari kamarnya.Dengan senyum yang masih merekah, aku berpamitan dengan Bibi Kim dan pulang ke rumah.

 

**A Goodbye**

 

Aku bukanlah tipe orang yang suka menghitung hari dan kemudian mencoretnya di kalender.

 

Ini semua karna Jongin. Pacarku yang paling konyol, hitam, jahil dan ceroboh. Pemandangan bangkunya yang kosong sudah tak asing lagi bagiku. Sejak seminggu yang lalu, sejak aku menjenguknya.

 

Sampai suatu ketika, Sehun menemuiku di perpustakaan dengan nafas terengah seperti habis berlari marathon. Aku menyerahkan sebotol air putih yang kubeli saat jam makan siang dan ia langsung menghabiskannya tanpa sisa setetespun.

 

“Kau harus mengetahui ini Soojung-ah” Ia berkata tiba-tiba dan terdengar panik. Aku menjadi semakin bingung.

 

“Oke. Kurasa perpustakaan bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakan hal seperti ini” ucapnya lagi saat mata elang milik Kwon Seonsaengnim kini tengah memperhatikan kami dengan tatapan sinisnya. Kemudian, Sehun menarik tanganku dan membawaku ke tempat yang lebih sepi – taman belakang kampus.

 

Aku berjalan dan menduduki sebuah kursi taman dan melihatnya memperhatikan keadaan sekitar seolah memastikan bahwa tidak ada orang lain selain kami disini. Ia berjalan ke arahku dengan nafas yang masih terengah-engah. Bahkan aku dapat mendengar dengan jelas deru nafasnya yang berat.

 

Sehun duduk di sebelahku dan menghadapkan tubuhnya padaku. “Soojung-ah, Jongin… “ ucapnya menggantung.

 

“Ada apa dengan Jongin, Sehun-ah?” tanyaku. Jujur, kini aku semakin dibuat bingung oleh Sehun.

 

Sehun menghembuskan nafasnya kasar dan menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya lurus dan menunggu apa yang akan ia katakana.

 

“Kemarin, aku menjenguk Jongin.. “

 

Flashback.

Siang itu Sehun mengetuk pintu rumah Jongin. Seperti biasa, Bibi Kim mempersilahkan Sehun untuk masuk setelah Ia membuka pintunya. Setelah sedikit basa-basi dengan Bibi Kim, Sehun langsung menuju kamar Jongin dengan membawa segelas teh hangat yang di titipkan Bibi Kim untuk Jongin.

 

Ia mengetuk pintu kamar Jongin, namun tidak ada jawaban. Sehun mengetuknya hingga ketukan ke-10, namun tetap saja tidak ada jawaban dari Jongin.

 

Karna sudah tak sabar, Sehun segera membuka pintu kamar Jongin tanpa permisi. Dan seketika, segelas teh hangat yang berada dalam genggaman Sehun jatuh begitu saja dan pecah hingga menjadi berkeping-keping.

 

Ia segera berlari menghampiri Jongin yang kini tengan meringkuk di lantai sembari menekan dadanya yang terasa sakit. “Jongin-ah, apa yang terjadi?!” tanya Sehun panik. Namun Jongin tidak menjawabnya. Jongin masih menekan kuat dadanya sambil menahan sakit. Nafasnya tersenggal-senggal.

 

Sehun berlari keluar mencari Bibi Kim. Setelah mereka berdua kembali ke kamar, Jongin sudah tak sadarkan diri. Terlihat bercak darah di sekitar bibir Jongin dan juga telapak tangannya. Bibi Kim menangis, kemudian Sehun segera memanggil ambulans untuk membawa Jongin ke rumah sakit.

 

Ruang tunggu sore itu sangat sepi. Hanya ada Sehun, Chanyeol yang baru saja datang dan Bibi Kim yang mengisi deretan kursi di ruang tunggu unit gawat darurat. Sehun menggengam tangan Bibi Kim erat dan Chanyeol terus mengusap punggung Bibi Kim untuk menenangkannya. Wanita paruh baya itu terus menangis sejak Jongin dibawa ke rumah sakit.

 

Sehun juga tak bisa menahan gemuruh perasaanya saat melihat Jongin kesakitan. Ia takut sesuatu yang buruk akan menimpa sahabat terbaiknya.

 

Setelah menunggu penuh cemas, dokter yang menangani Jongin keluar dari ruangan. Raut wajahnya sedikit terlihat lelah. Apa yang telah terjadi di dalam sana?

 

“Sebaiknya, kalian ikut dengan saya” ucap dokter muda itu. Sehun dan Bibi kim mengikutinya menuju ruang kerja milik dokter muda tersebut, sementara Chanyeol memilih untuk melihat keadaan Jongin. Di mejanya, tertulis nama ‘Lee Joo Seung’.

 

Sehun dan Bibi Kim duduk di kursi dan menunggu pejelasan dokter itu.

 

Dokter Lee melepas kacamatanya dan menghembuskan nafasnya berat. “Jadi begini nyonya, Tuan Kim Jongin harus segera melakukan operasi darurat” ucapnya. Nada kekecewaan terdengar jelas dari perkataanya.

 

Bibi Kim menutup mulutnya terkejut saat mendengar ucapan dokter Kim. Sehun-pun segera mengusap bahu Bibi Kim untuk menenangkannya. “Memangnya, apa yang terjadi pada Jongin?” tanya Sehun.

 

Dokter itu membuka lembar-lembar pemeriksaan Jongin, lalu menatap Sehun dan Bibi Kim bergantian. “Sepertinya Jongin benar-benar tidak memberitau kalian. Jadi begini, 4 bulan yang lalu Jongin datang ke rumah sakit ini untuk check-up karna ia mengeluhkan dadanya yang terasa sakit saat bernafas dan batuk-batuk yang berkepanjangan. Dan ia terkena Tuberculosis Multridrug Resistant. Tapi, sebulan terakhir ini Jongin tidak pernah datang lagi kesini untuk melakukanterapi. Sekarang penyakitnya sudah mematikan fungsi paru-paru kanannya. Kami harus mengangkat paru-paru kanannya agar Jongin terselamatkan. Jika dibiarkan, ini akan mengancam keselamatan Jongin” jelas Dokter itu panjang lebar.

 

Saat itu juga, seluruh dunia terasa runtuh bagi Sehun dan Bibi Kim. Bagaimana Jongin selama 4 bulan ini melawan penyakitnya sendirian tanpa seorangpun mengetahuinya? Dan bagaimana ia bisa hidup hanya dengan 1 paru-parunya saja? Ini bukan masalah kecil. Tapi apapun yang terbaik akan di lakukan untuk menyelamatkan Jongin.

 

“Lakukan dok. Bila memang tidak ada jalan lain” jawab Bibi Kim. Ia sudah pasrah. Yang ia inginkan hanyalah keselamatan Jongin dan melihat putra tercintanya kembali pulang.

 

“Baik nyonya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Jongin.

 

Flashback End.

 

“Setelah itu, Jongin mulai melakukan operasi” ucap Sehun mengakhiri ceritanya.

 

Aku mengusap airmataku kasar. Bila memang itu benar terjadi, yang aku inginkan saat ini adalah bertemu Jongin.

 

“Dimana Jongin?” Tanyaku sambil berusaha menenangkan gemuruh yang mengamuk dalam dada. NamunSehun tidak menjawabku.
Jemariku mulai bergerak gelisah “Katakan! Dimana Jongin?!!” Kesabaranku mulai habis. Tanganku mengepal kuat. Dan airmataku menerobos pertahanan terakhir yang kupunya.
Sehun masih mempertahankan kebisuannya. Lelaki itu menghela nafas. “Dia ada dirumah. Bibi memutuskan untuk merawat Jongin dirumah setelah perawatan sebelum operasi beberapa hari mendatang. Dan Ia sedang koma” jawab Sehun akhirnya.
Aku menatap mata Sehun lekat, berusaha mencari kebohongan di matanya, “Jongin.. koma?” tanyaku tak percaya.

 

* * A Goodbye * *

 

Disinilah aku dan Sehun, di depan rumah bercat putih. Aku mengetuk pintu rumah Jongin dan tak lama bibi Kim keluar. Ia tampak terkejut melihat kedatanganku bersama Sehun. Ia langsung menghambur memelukku dan menangis.
“Maafkan aku Bibi Kim” ucap Sehun merasa bersalah.
“Tidak apa-apa Sehun-ah. Cepat atau lambat Soojung pasti akan mengetahuinya” jawab Bibi Kim setelah lebih tenang.
Bibi Kim melepaskan pelukannya. Ia menggenggam tanganku masuk ke dalam dan mengantar kami ke kamar Jongin yang pintunya kini terbuka.
Airmataku mengalir lagi saat melihatnya terbaring lemah di tempat tidur dengan bermacam macam alat di tubuhnya. Aku melangkah pelan mendekatinya dan mengusap pipinya penuh sayang. Aku bersandar di bahu Sehun. Menangis. Entah untuk yang kesekian kalinya.
Sehun mengusap kepalaku agar aku merasa lebih tenang. Dan Ia kemudian meninggalkanku disini bersama Jongin.
Sekarang kamar ini jadi terasa sangat sunyi, semua keceriaan yang aku habiskan bersama Jongin di tempat ini kini menyatu dengan udara beraroma maskulin yang kuhirup. Hanya ada suara alat pendeteksi jantung dan ventilator yang berbunyi monoton dan tidak teratur.

 

Bahkan disaat seperti ini, Jongin masih dapat membuatku tersenyum karena wajahnya yang menggemaskan mengenakan piyama putih bermotif polkadot–kado ulang tahun ke-17nya dariku. Aku menggenggam tangan Jonginerat dan mengecup dahinya sedikit lebih lama.
Kurasa kan jemarinya bergerak pelan dalam genggamanku. Jongin membuka matanya perlahan. Kemudian aku menyeka airmataku cepat dan mencoba tersenyum. Memberikan senyum terbaik yang aku bisa.
“Jongin-ah.. Ini aku.. Soojung” sapaku pada Jongin yang baru saja membuka matanya.
Jongin menatapku lemah. Ia tersenyum dengan kekuatan yang Ia miliki walaupun aku tau ia sedang menahan sakit. Aku sangat merindukan Jongin yang jahil. Dan sekarang Ia terlihat begitu rapuh. Kulitnya semakin pucat dan suara nafasnya terdengar berat walaupun dibantu dengan ventilator(alat bantu pernafasan).

 

* *A Goodbye * *

 

Tiga bulan kemudian, keadaan Jongin sudah lebih baik. Ia banyak menunjukan perkembangan. Bahkan Ia sudah dapat beraktivitas lagi walaupun Ia tidak boleh merasa lelah.
Mengingat Jongin hanya memiliki “1 paru-paru” didalam tubuhnya. Ia tidak boleh kelelahan. Dan kini ia harus memakai selang alat bantu pernafasan dan membawa tabung oksigen kemanapun ia pergi. Karna 30 menit saja ia terlepas dari selang oksigen itu, nyawa Jongin akan dalam bahaya. Bahkan ia sekarang sudah terlihat seperti Hazel Grace di film The Fault In Our Stars.
Hari ini aku dan Jongin akan menonton pertunjukan drama musikal ‘High School Musical’. Jongin adalah anggota club drama musikal di kampus. Seharusnya, hari ini ia akan tampil di panggung sebagai Troy. Namun, karna kondisi kesehatan Jongin yang tidak memungkinkan, ia tidak jadi tampil. Dan kini perannya sudah di gantikan oleh Chanyeol.
“Jongin-ah, apa kau lelah?” Tanyaku pelan. Ia hanya menggeleng.
“Seharusnya, aku ada disana, di panggung itu. Bukan di kursi penonton seperti ini..” ucapnya. Ia tersenyum miris sembari menatap senduLightsick berwarna biru di genggamannya.
Hatiku berdenyut sakit mendengar ucapannya. Dulu, Jongin adalah pemain drama musikal yang hebat di kampus. Aku menggenggam erat tangannya yang dingin sambil terus menonton pertujukan musikalnya.
“Kau akan selalu menjadi yang terbaik dimataku, Jongin-ah… selalu”

 

* *A Goodbye**

 

Pertunjukan di tutup dengan berkumpulnya semua cast dari drama musikal ‘High School Musical’ di panggung dan menyanyikan lagu We’re All In This Together. Dan kami merayakan kesuksesan drama musikal Chanyeol dkk di Viva Polo – cafe milik keluarga Chanyeol. Jongin sangat suka pizza. Jadi dia yang memesan pizza yang paling banyak. Aku bahagia melihatnya tersenyum lagi. Kuharap Ia akan terus seperti ini selamanya.
Wajahnya yang pucat terlihat begitu indah dibawah senja. Dengan gerakan cepat, aku menarik Jongin ke pelukan dan mengecup bibirnya yang terasa seperti saus tomat. Aku ingin Ia tau, bahwa aku sangat mencintainya. Semua tentangnya. Semuanya…
Aku melepas kan ciumanku dan mengalungkan lenganku di lehernya. Hidung kami bersentuhan. Senyumku mengembang.
“Saranghae Kim Soojung”
“Aiissh kau seenanaknya saja mengganti margaku Jongin-ah. Nado Saranghae”
Dan Ia mencium bibirku. Ciuman yang dalam hingga aku lupa bahwa Chanyeol, Sehun, Seulgi dan Dara sedang memperhatikan kami. Tapi Jongin tidak peduli.
Karena Jongin mencintaiku…

 

* *A Goodbye * *
Malam ini aku menginap dirumah Jongin. Aku terlalu lelah untuk pulang kerumah setelah makan-makan di Viva Polo tadi.
Aku tidur di kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Bibi Kim. Namun setelah itu, Jongin akan menyelinap masuk ke kamarku, memelukku sampai tubuh kami jatuh ke kasur, tertawa dan mengingatkan satu sama lain untuk tidak menimbulkan kegaduhan.
Lalu kami berciuman cukup lama dan memisahkan diri sebelum pingsan karena kehabisan napas.
Semburat merah yang manis meronai pipinya.
Aku mengulurkan tangan untuk menyentuh rambut cokelat nya yang indah, begitu lembut ketika jariku menyisir rambut itu dari dahinya.
“Jongin-ah..” Panggilku pelan
“Hmm..”
Detik selanjutnya aku bersandar di dadanya. Ku dengar jantungnya berdetak tidak beraturan seperti orang lainnya.
Dadanya naik turun dengan lembut seiring hembusan nafasnya yang hangat menyapu kulitku.
“Kau akan melakukan operasi itu kan?” Tanyaku sambil menelusuri setiap lekuk wajahnya dengan jemari tanganku.
“Lupakan saja. Lagipula, aku akan tetap mencintaimu walau aku hanya memiliki 1 paru-paru saja” Jongin tertawa garing dengan leluconnya yang tidak lucu.
Aku mengecup bibirnya sekilas lalu pergi tidur.
“Kuharap begitu..”

 

* *A Goodbye * *

 

Aku terbangun di pagi hari. Ini masih dirumah Jongin. Tapi aku tidak menemukan Jongin disampingku seperti tadi malam. Apa mungkin Ia kembali ke kamarnya?
Bibi Kim pasti sudah berangkat kerja. Jadi aku akan mengantarkan segelas susu ke kamar Jongin. Kamarnya dan rumah sakit kini sudah tidak jauh berbeda. Peralatan medis dan obat obatan terpampang di dalam ruangan. Karena bila sewaktu waktu keadaan Jongin memburuk, dokter akan datang dan merawat Jongin.
Tapi aku tidak menemukan Jongin dimana pun.
Sayup-sayup terdengar gemericik air dari kamar mandi. Aku bernapas lega. Mungkin Jongin sedang mandi. Kuputuskan untuk menunggu.
10 menit…
15 menit…
20 menit…
Suara pancuran terus terdengar sehingga aku mulai penasaran, apa yang Jongin lakukan di dalam sana?
Aku mengetuk pintu kamar mandi dan terkejut karena pintunya tidak terkunci.
Di sudut kamar mandi…
Di bawah shower…
Jongin masih berpakaian lengkap, duduk mendekap lututnya dan ia tak memakai selang oksigennya. Sweater lengan panjang biru dan celana piyamanya basah dan menggigil.
“Jongin-ah! Apa yang kau lakukan?!” Jeritku sambil berlari menghampirinya, tidak peduli dengan tubuhku yang basah terkena air. Kumatikan shower dan segera memasangkan kembali selang oksigen pada hidungnya.
Ku dekap tubuhnya, kulit Jongin sangat dingin dan aku tidak mengerti mengapa Ia melakukan ini.
“Jongin-ah, apa yang terjadi?” Aku mengangkat wajahnya yang pucat, dia menggelengkan kepala tidak berkata apa apa dan kembali membenamkan wajahnya di pundakku.
“Aku akan melakukan operasi itu” jawabnya pelan. Suaranya serak terbenam dalam pundakku.
“Aku takut..” Ucapnya lagi. Bahunya berguncang pelan. Apa Jongin menangis? Ia jarang menangis. Mengapa.. Mengapa? Jangan seperti ini. Kumohon..
Tanpa alasan yang pasti aku meneteskan airmata sedangkan Jongin masih saja terdiam. Entah apa aku harus bahagia karena akhirnya Jongin akan menjalani operasi itu.
Tapi sekarang Jongin ketakutan…
Ia ketakutan…
Tidak ada yang bisa kukatakan selain memberikan pelukan erat padanya.
Setelah mengeringkan tubuhnya aku membantu Jongin berjalan menuju tempat tidur. Aku tidak ingin melihatnya jatuh atau terluka lagi. Karena aku akan ada disana untuknya. Tubuhnya terasa lebih ringan. Rambutnya masih setengah basah. Kubelai kepalanya, aroma shampoo mint menguar dari sana.
“Semuanya akan baik baik saja” suaraku tercekat. Entah mengapa aku seperti ingin terus menangis saat melihat wajahnya. Tangannya perlahan menghapus air mata di pipiku yang tak sengaja jatuh ke wajahnya. Dapat kurasa kan jemari itu bergetar hebat disana. Kemudian aku menggenggam tangannya, meniupinya agar Ia merasa hangat.
“Soojung-ah..” Panggil Jongin.
“Ya?”
“Aku ingin melihat bintang..” pintanya dan aku akan selalu memenuhi apapun yang Ia inginkan.
“Ayo. Kita melihat bintang..”

 

* *A Goodbye * *

 

Malam ini, aku dan Jongin akan pergi ke Oberservatorium Chomsongdae untuk melihat hujan meteor Quadrantids. Aku mengetahuinya dari seniorku dulu di sekolah menengah atas, Do Kyungsoo. Ia bekerja sebagai peneliti di Observatorium Chomsongdae, dan ia mengatakan bahwa malamini akan ada hujan meteor Quadrantids sepanjang malamini hingga pagi menjelang.

 

Chanyeol dan Sehun mengantarkan kami dengan menggunakan mobil milik Chanyeol karna kondisi Jongin yang tak memungkinkan untuk menyetir.Aku sudah meminta Kyungsoo untuk mempersiapkan tempatku dan Jongin untuk melihat hujan meteor nanti. Dan ia benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Kyungsoo menyiapkan 2 buah teleskop dan sebuah kursi panjang untuk aku dan Jongin duduki.

 

Aku bahagia melihat matanya berbinar-binar menyaksikan hujan meteor yang sangat indah di langit. Aku tak dapat mengalihkan pandanganku darinya yang sangat tampan dibawah sinar bulan. Terlepas dari kulitnya yang sangat pucat. Ia menatapku balik dan tersenyum.

 

Aku membelai lembut pipinya dan menariknya dalam pelukanku seraya ia mengecup ringan leherku. Aku melepaskan pelukanku, beralih mengecup bibirnya lebih dalam.
“Soojung-ah..” Sahutnya
“Hmm..?”
“Aku mengantuk..” ujarnya pelan
Hatiku mencelos. Air mataku menetes tanpa kuminta. Perasaan tak enak yang mati matian kukunci rapat sekarang mendesak keluar. Jongin hanya lelah. Ia hanya ingin istirahat
Aku hampir terisak lagi
“Tidurlah Jongin-ah.. Kau pasti sangat lelah..”
Tubuh Jongin melemas dan Ia terbaring dalam pangkuanku dengan jemari yang masih ada dalam genggamanku. Aku terisak dalam diam. Matanya terpejam sangat damai. Aku tahu jantungnya tidak lagi berdetak. Dengan ini, airmata yang sudah kutahan sejak lama, deras mengalir turun melewati pipiku. Aku memeluk tubuh Jongin lebih erat dan mencium pipinya walau justru membuat tangisanku lebih keras.

 

* *A Goodbye * *

 

Sudah sekitar 6 jam kami berada disini. Matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Dan Jongin masih tetap pada posisinya. Tertidur di pangkuanku. Wajahnya terlihat begitu damai seolah ia tak memiliki beban apapun.

 

Tak lama, Chanyeol dan Sehun menghampiri kami dengan wajahnya yang sangat terlihat bahwa mereka baru saja terbangun dari tidurnya.

 

Raut wajahnya tampak sangat terkejut melihatku menangis dengan Jongin yang berbaring dalam pangkuanku.
“Ada apa Soojung-ah?! Apa yang terjadi?!” Tanya Chanyeol panik sambil memeriksa denyut nadi di leher Jongin.
“Jangan ganggu Jongin! Dia sedang tidur.. Dia.. Dia mengantuk…” Aku menangis tanpa kendali. Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa Jongin benar benar pergi dan tak akan pernah kembali. Ia hanya lelah.. Itu saja
Chanyeol terkejut dan airmatanya pun mengalir dari pelupuk matanya. Ia memelukku erat walaupun pada kenyataannya Ia juga menangis. Lalu kemudian Ia beralih pada Jongin.
Aku menepis lengan Chanyeol yang berniat untuk mengambil Jongin dariku. “Chanyeol!! Ku katakan padamu jangan membawa Jongin pergi.. Kumohon Chanyeol.. Kumohon…”
Namun dengan sigap lelaki itu menggendong Jongin dan membawanya masuk ke mobil. Kemudian Sehun menghampiriku lalu memelukku erat. Aku menangis dalam pelukannya.
Aku mengerti sekarang…
Saat Jongin mengatakan Ia ketakutan…
Saat Jongin mengatakan Ia lelah…
Itulah caranya untuk mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya…

 

 

 

THE END.

3 thoughts on “A Goodbye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s