About First Love

PicsArt_12-22-08.41.55

Title : About First Love

Genre : Romance

Author : HyeKim (@Elfsandra15)

Rating : PG-15

Lenght : Oneshoot

Main Cast :

-Luhan

-Kim Hyerim (OC)

Summary : ” .. aku berandai-andai bisa menjadi cinta petamamu seperti kamu menjadi cinta pertamaku.”

Baby I wanna be your lover, my first love
I wanna be your only, my first love
I’m scared whether you recede if I get close to you
Don’t you hear my mind? my first love
Don’t you see my heart? my first love
You’re like a fool just as me

Already posted in my personal blog (http://www.hyekim16world.wordpress.com)

.

.

.

Hyerim melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya ditekuk sambil sesekali melirik lelaki yang duduk disampingnya. Lelaki yang tak lain adalah tunangannya. Luhan tampak tersenyum lebar sambil memperhatikan sekitar pesawat yang sedang dalam perjalanan menuju Beijing.

“Dia pasti senang akan bertemu wanita itu,” gumam Hyerim jengkel.

Beberapa hari lalu diadakan wawancara antara Hyerim dan Luhan. Tak heran, keduanya terlahir dari keluarga yang mempunyai perusahaan terbesar di Korea. Hyerim dan Luhan sudah 5 tahun lamanya bertunangan dan akan menikah 2 bulan kedepan. Dan yang membuat Hyerim jengkel dari wawancara tersebut yang awalnya hanya membahas bisnis malah melenceng ke pertanyaan tentang cinta pertama dan ciuman pertama.

Hyerim dengan malu-malunya menjawab, Luhan lah ciuman dan cinta pertamanya. Well, Hyerim adalah tipe gadis yang sulit jatuh cinta sampai akhirnya dirinya dijodohkan dengan teman bisnis ayahnya yang tak lain adalah Luhan yang sukses membuat Hyerim jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan ternyata jawaban Luhan berbanding balik dengan Hyerim.

Pria itu menjawab cinta pertamanya ada di negri asalnya, negri tirai bambu. Dan ciuman pertamanya saat dirinya dibangku SMA, dan tentu dengan cinta pertamanya. Luhan menjawabnya dengan ekpresi wajah berbinar yang membuat Hyerim benar-benar ingin menimpuknya.

“Masih kesal dengan wawancara lusa kemarin?” tanya Luhan sambil melirik Hyerim yang memalingkan wajah ke jendela pesawat.

“Kamu senyum-senyum tak waras seperti itu membuatku jengkel,” tutur Hyerim tanpa mengalihkan pandangannya.

Luhan tampak mengangkat sebelah alisnya bingung, lalu berucap dengan heran, “Aku senang karena bisa pulang ke tanah kelahiranku. Apa ada yang salah?”

Hyerim mendelik tajam kearah Luhan masih setia dengan bibirnya yang ditekuk. “Hah terserah, aku tidak peduli.”

Luhan akhirnya memutuskan untuk tidur dan mengabaikan Hyerim yang masih mengumpat dalam hati. Apa pria itu tidak tahu bagaimana perasaan Hyerim akan jawabannya tentang cinta pertama itu? Tentu saja Hyerim merasa sedih sekaligus jengkel. Dan Luhan malah tidak peka akan hal itu. Benar-benar membuat emosi Hyerim memuncak dengan sendirinya. Akhirnya Hyerim memilih untuk tidur daripada harus kesal tidak jelas.

***

Luhan terbangun dari tidur nyenyaknya. Dirinya menguap dan lalu menoleh ke samping kanannya yang terasa berat karena tertimpa kepala seseorang. Ya, Hyerim tertidur dengan kepala bertumpu dibahunya. Luhan hanya tersenyum tipis lalu mengusap lembut kepala Hyerim yang masih tertidur. Gadis ini lah yang membuat Luhan akhirnya membuka hati lagi dari cinta pertamanya.

“Eung..” sebuah erangan lolos dari bibir Hyerim dan beberapa detik kemudian mata gadis tersebut terbuka. “Eoh kita sudah sampai?” tanyanya saat memperhatikan penumpang pesawat yang sedang sibuk untuk turun dari pesawat.

Luhan mengangguk. “Kamu tidur nyenyak sekali dan wajah bangun tidurmu benar-benar berantakan, kamu jadi tidak cantik lagi,”

Hyerim mencibir saat Luhan mengucapkan hal tesebut. “Dan kamu benar-benar menjekelkan!”

Hyerim pun langsung berdiri dan meninggalkan Luhan yang tersenyum menahan tawa sambil memandangi punggung Hyerim. Luhan sangat senang sekali menggoda Hyerim dan membuat gadis itu  jengkel.

***

“KAMARR!!! AHHH AKHIRNYA AKU BISA TIDUR DENGAN ENAK DI ATAS RANJANG DIBANDING DI PESAWAT TADI!” Hyerim berseru heboh saat masuk kedalam kamar hotelnya, lalu loncat keatas ranjang dan berguling-guling di sana.

Luhan hanya tersenyum geli melihatnya dan menaruh kopernya di pojok ruangan. Hyerim masih dengan kegiatan guling-gulingnya, dan Luhan mulai mendekat kearah Hyerim lalu duduk di atas ranjang sambil melepas dasinya. Saat itu juga Hyerim memberhentikan aktifitasnya dan duduk di sebelah Luhan.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Hyerim dengan alis terangkat heran. Luhan yang sudah selesai membuka ikatan dasinya menoleh kearah Hyerim lalu tersenyum.

“Mama memesankan 1 kamar untuk kita berdua. Mama pikir tak ada yang salah kita 1 kamar karena 2 bulan lagi kita akan menikah bukan? Jadi aku tidur di sini bersamamu,” jawab Luhan sambil menepuk kepala Hyerim.

Hyerim hanya bisa membuka mulutnya lebar saat mendengar ucapan Luhan. Apa? Tidur bersama Luhan dalam 1 ranjang? Walau sudah 5 tahun mereka bertunangan dan 2 bulan lagi akan menikah, tapi tetap saja suasananya akan canggung.

“Kamu tahu kan nanti malam ada acara dengan rekan bisnisku di ball room hotel? Maka dari itu siap-siap lah dari sekarang. Aku mandi dulu, sayang.” ucap Luhan sambil tersenyum simpul dan mengacak rambut Hyerim sekilas, lalu beranjak ke kamar mandi.

Hyerim masih terbengong-bengong. “LU!!!!! MANA BISAAA KITA 1 RANJANGGG?!!! JANGAN SAMPAI KAMU MENCARI-CARI KESEMPATAN!” teriak Hyerim.

“Yah, sayangnya aku sudah merencanakan kesempatanku nanti malam,” seru Luhan dari dalam kamar mandi membuat Hyerim membulatkan matanya.

“APA?!” pekik Hyerim tapi terkalahkan oleh suara shower dari dalam kamar mandi.

***

Hyerim melingkarkan tangannya dengan sempurna di tangan kanan Luhan. Keduanya tersenyum ramah pada rekan-rekan kerja Luhan yang hadir dan memuji betapa serasinya mereka. Hyerim meneguk colanya saat Luhan sedang berbaur dengan rekan bisnisnya.

“Hah, aku bosan,” Hyerim sedikit menggerutu, dirinya memandangi Luhan yang masih bercengkrama, dengan tesenyum-senyum. “Ya Tuhan, betapa tampannya dirinya itu,” gumam Hyerim dalam hati.

Sampai seorang gadis dengan dress berwarna pink berjalan mendekati Luhan dengan senyum lebarnya. “Luhannn!!!” teriak gadis tersebut dan lantas langsung memeluk Luhan erat.

Hyerim yang melihatnya langsung membuka mulutnya lebar-lebar. “Apa-apaan itu?!” pekik Hyerim.

Kaki jenjang Hyerim langsung melangkah terburu-buru menuju Luhan dan gadis tesebut. Gadis dengan dress pink itu masih setia memeluk Luhan dan Luhan sama sekali tidak menolaknya.

“Luhannn~~~,” panggil Hyerim manja dan langsung menghambur memeluk leher Luhan setelah berhasil menarik Luhan dari gadis tersebut.

“Eoh? Hyerim,” Luhan tesenyum sambil melirik Hyerim dengan tatapan lembutnya. Hyerim balas tersenyum.

“Siapa dia?” tanya Hyerim melirik judes gadis tadi yang tampak sedikit shock melihat kehadiran Hyerim.

Luhan lantas semakin tersenyum dan melepaskan tangan Hyerim dari lehernya dan berjalan pada gadis tersebut, lalu merangkulnya. Hyerim tampak memanas melihatnya.

“Ini Wu Lian, teman SMA ku. Ayahnya memegang saham yang sangat besar di perusahaanku,” ucap Luhan tersenyum lebar sambil bertatapan dengan Lian yang tersenyum lebar kearah Luhan.

“Oohhhh begitu,” ucap Hyerim jengah karena seakan-akan melihat pemandangan lovey dovey di hadapannya.

“Ya, aku Wu Lian,” akhirnya Lian mengenalkan dirinya secara resmi. “Aku teman SMA Luhan dan emmmm… cinta pertamanya,” lanjutnya dengan kepala tertunduk malu-malu.

Hyerim lantas membuka mulutnya sangat lebar. Apa tadi? Cinta pertama? Berarti gadis ini adalah… cinta pertama dan ciuman pertamanya Luhan? Hyerim mengerjap-ngerjapkan matanya dengan ekpresi bodoh melihat Luhan dan Lian yang sekarang bertatapan tanpa berangkulan seperti tadi.

“Oh ya Luhan, siapa gadis ini? Sepupu jauhmu? Aku belum pernah melihatnya. Dia tidak mungkin kekasihmu kan,” ucap Lian sambil menatap Hyerim penuh rasa penasaran. Hyerim sendiri merasa risih tapi bersikap stay cool.

“Dia bukan kekasihku,” jawab Luhan akhirnya. Membuat Hyerim membulatkan matanya kaget.

“APA?!!” pekik Hyerim tak terima dengan raut wajah di tekuk dan bibir bergerak-gerak tak jelas. Semantara Lian tersenyum senang.

“Ah sudah kuduga kau belum bisa melupakanku, jadi…-,”

“Dia bukan sekedar kekasihku. Dia adalah tunanganku, bisa dibilang calon istriku. Namanya adalah Kim Hyerim,” potong Luhan sambil tersenyum lembut kearah Hyerim yang langsung mengubah ekpresi wajahnya lebih ceria.

“Apa?” ucap Lian dengan wajah kagetnya.

“Ya, dia calon istriku.” Luhan mendekat ke arah Hyerim dan langsung merangkulnya. Membuat Hyerim tersenyum puas kearah Lian.

“Ahaha! Tentu saja dia sudah melupakanmu!” ucap Hyerim dalam hati dengan puas.

“Ah begitu,” ucap Lian dengan nada agak pelan. “Kalau begitu, aku pergi dulu.” ucapnya sambil tersenyum masam dan berjalan pergi.

“Ada apa dengannya?” gumam Luhan bingung. Hyerim menatap Luhan dari samping dan pria itu menatapnya balik. Hyerim mengangkat bahunya berpura-pura tidak mengerti.

***

Di ruang VIP di sudut hotel, tampak Hyerim menuangkan red winenya dengan lesu. Gadis itu melirik sinis Luhan dan Lian yang tampak tertawa riang dan bercengkrama dengan asyiknya. Seakan lupa akan kehadiran Hyerim.

Sudah lebih dari 1 jam yang lalu acara pertemuan dengan rekan kerja Luhan selesai. Tapi Lian mengajak Luhan dan Hyerim minum-minum besama. Alasannya karena Lian sudah lama tidak bertemu dengan Luhan.
“Apakah kamu sudah mempunyai kekasih?” tanya Luhan.

“Ah belum,” jawab Lian.

“Yang benar saja? Kamu ini cantik, pasti banyak yang menyukaimu,”

Hyerim memutar bola matanya malas mendengarnya apalagi saat melihat Lian tersipu-sipu karena ucapan Luhan. Hyerim kembali menuangkan red winenya terus menerus dan meminumnya sampai kepalanya pusing. Setelah itu, Hyerim tak ingat apa-apa lagi.

***

Luhan masih saja asyik bercengkrama sampai ia merasakan beban berat memimpa bahunya. Luhan langsung melirik ke sebelahnya dan mendapati Hyerim yang duduk di sebelahnya, sudah terlelap.

“Eh? Dia hanya minum beberapa gelas. Cepat sekali mabuknya,” ucap Lian sambil memandangi Hyerim.

Luhan kembali menatap Lian yang duduk di hadapannya. “Ya, dia tidak hebat dalam hal minum.” ucap Luhan dan lalu memindahkan kepala Hyerim untuk tiduran dipahanya.

Lian menatap lekat Luhan yang sedang tersenyum simpul sambil membenarkan helaian rambut Hyerim yang berantakan. Ada rasa cemburu terbesit dalam hatinya bahkan dari tadi saat di ball room hotel.

“Aku dengar kalian dijodohkan. Apa kamu mencintainya?” tanya Lian dengan nada penasaran.

Luhan kembali menatap kearah Lian, lalu tesenyum. “Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama, saat kami dipertemukan.”

Lian tampak sedikit menekuk bibirnya mendengar jawaban Luhan. Gadis itu jengah menatap Luhan yang terus memandangi Hyerim yang tertidur dipahanya dengan tatapan lembut.

“Lu, maukah kamu tetap menemaniku di sini sampai jam 12 malam? Aku sangat merindukanmu,” ucap Lian berusaha agar Luhan mengalihkan perhatiannya lagi kepadanya.

Luhan melirik kearah Lian dan lantas menggeleng. “Sepertinya tidak bisa, aku kasian pada Hyerim yang harus tertidur di tempat ini selama 3 jam. Bisa-bisa dia kedinginan. Hyerim bisa kedinginan bila tidur tanpa selimut,”

Lagi-lagi jawaban Luhan membuat Lian memgumpat kesal dalam hati. Oh ayolah, dulu Luhan mengejar-ngejarnya mati-matian dan sekarang pria itu malah mengabaikannya dan memilih gadis lain.

“Hye, bangun, kamu harus kembali ke kamar,” ucap Luhan sambil menggoyang-goyangkan bahu Hyerim.

Hyerim hanya mengubah posisi kepalanya dan bergumam tak jelas. Luhan kembali membangunkannya. “Hye, palli ireona!”

“Emmmm…” Hyerim tampak sedikit membuka matanya.

Karena efek alkohol, gadis itu bangun dan langsung jatuh ke lantai dan mengambil posisi tidur kembali di atas meja dengan kedua tangan bertumpu sebagai bantal.

“Dia sepertinya tidak bisa bangun,” gumam Lian yang memandangi Hyerim lekat.

Luhan hanya menggeleng-geleng kecil dan lalu berjongkok di sebelah Hyerim. “Kim Hyerim, kita harus kembali ke kamar kita berdua,” ucap Luhan.

“Kalian berada disatu kamar yang sama?” tanya Lian kaget sambil membulatkan matanya. Luhan meliriknya sekilas dan mengangguk kecil.

“Hye,” panggil Luhan kembali sambil meguncang bahu Hyerim.

“Shireo!” Hyerim berseru dalam tidurnya. “Shireorago (aku bilang tidak mau), hmmm… kamu mencintai… emm… keum yeojaneun (wanita itu),” ucap Hyerim dalam tidurnya sambil menunjuk-nunjuk Lian.

Luhan merasa kikuk dan langsung menepis tangan Hyerim yang menunjuk Lian yang hanya memasang wajah bingung. Ya untung Hyerim mengigau dengan bahasa Korea yang tidak dimengerti Lian.

“Sudahlah, ayo kita pergi,” ucap Luhan dengan nada agak tinggi karena frustasi dan kikuk karena ulah Hyerim tadi.

“Emmm…” Hyerim bergumam dan menegakkan tubuhnya dan menghadap kearah Luhan dengan mata setengah terpejam. Hyerim membuka lebar-lebar tangannya kearah Luhan, pertanda ingin digendong.

Luhan menghela napasnya. “Neo jinjja (kau ini benar-benar),”

Luhan pun akhirnya megendong Hyerim bridal dan kedua tangan gadis itu melingkar dilehernya dengan kepala menyender dibahu Luhan.

“Lu,” panggil Lian sebelum Luhan pergi. Luhan menatap gadis itu yang menatapnya dengan tatapan sedikit sayu.

“Ya?”

“Apa kamu masih mencitaiku?”

Luhan tampak kaget mendengar pertanyaan itu. Saat dirinya ingin membuka mulut untuk menjawab, suara igauan Hyerim terdengar kembali.

“Kamu jahat! Kamu masih mencintai cinta pertamamu! Kamu senangkan bertemu dengannya lagi? Aku ingin jadi cinta pertamamu!!!!” Hyerim memukul-mukul dada Luhan dan terus bergumam dengan bahasa Koreanya.

“Yak! Diam! Hyerim! Diam!” seru Luhan dan Hyerim pun langsung memberhentikan aksinya dan terlelap kembali. “Lian, sampai jumpa besok,” pamit Luhan dan lalu pergi dengan Hyerim digendongannya. Lian menghela napasnya sambil menatap punggung Luhan lekat.

***

“Ya ampun, kenapa dirimu berat sekali,” ucap Luhan sambil membenarkan posisi gendongannya pada Hyerim saat mereka keluar dari lift dilantai tempat kamar mereka berada.

“Luhann~~~,” panggil Hyerim yang menenggelamkan wajahnya didada bidang Luhan.

“Hmm? Apa?” jawab Luhan.

“Luhan…” Hyerim bergumam kembali.

“Hah, dia ngelindur,” ucap Luhan sambil terus berjalan.

“Luhan…” Hyerim kembali menyebut nama Luhan dan lalu mengangkat wajahnya dan langsung mencium bibir Luhan.

Luhan sedikit kaget oleh ulah Hyerim yang tiba-tiba menciumnya, tapi Luhan menikmatinya dengan memejamkan kedua matanya tanpa membalas ciuman Hyerim. Setelah 1 menit kurang lamanya, Hyerim melepaskan ciumannya.

“Aku mencintaimu, Lu,” ucap Hyerim kembali tertidur dan tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Hyerim sudah tidur dengan nyenyaknya dengan kepala bertumpu dibahu Luhan.

“Kamu langsung tertidur begitu saja saat selesai menciumku dan mengatakan mencitaiku,” gumam Luhan sambil menatap Hyerim lekat dan tersenyum hangat.

Luhan kembali melangkah ke kamarnya dan Hyerim, lalu membuka pintunya. Luhan langsung menidurkan Hyerim di atas ranjang dan lalu menatap wajah gadis itu lekat.

“Hye, kita sudah ada di kamar,” ucap Luhan sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi pipi kanan Hyerim. “Sayang, kita sudah sampai di kamar,” ucap Luhan lagi dengan lembut sambil tesenyum. Lalu Luhan mendaratkan ciumannya di kening Hyerim.

***

Hyerim terbangun dari alam mimpinya. Kepalanya terasa berat karena efek alkohol yang masih sedikit membekas. Saat Hyerim ingin bergerak turun, dirinya tertahan oleh tangan kekar yang memeluk tubuhnya. Siapa yang memeluknya? Pikir Hyerim, gadis itu menoleh ke belakang dan melihat Luhan masih tertidur sambil memeluk dirinya.

“Ah ya, aku lupa bahwa aku sekamar dengannya,” gumam Hyerim.

Detik berikutnya, Luhan membuka matanya dan menatap Hyerim dengan mata masih setengah terpejam.

“Hye, kamu sudah bangun,” ucap Luhan dengan suara serak ala bangun tidur tapi itu malah membuat jantung Hyerim bergetar keras mendengarnya. Apapun dalam diri Luhan selalu membuat Hyerim jatuh hati.

“Hmmm..” jawab Hyerim sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Tiba-tiba, Luhan menangkupkan kedua tangannya di pipi Hyerim dengan senyum manisnya. Dan Demi Tuhan, Hyerim rasa jantungnya sudah berguling jatuh karenanya.

“A..pa?” tanya Hyerim gugup.

“Wajahmu sembab, wajahmu jadi kalah cantik dari Lian,” ucap Luhan membuat Hyerim jengkel setengah mati.

“Hah! Sudah, aku ingin mandi,” gerutu Hyerim sambil menepis tangan Luhan dan berjalan menuju kamar mandi. Luhan tertawa tanpa suara melihat wajah jengkel tunangannya itu.

***

Hari ini Luhan menghadiri sebuah meeting di restoran hotel. Karena Hyerim tidak mau kebosanan setengah mati, maka dari itu dirinya memilih berjalan-jalan menghirup udara segar pagi hari di taman hotel.

“Hyerim,” sebuah suara perempuan memanggil namanya. Hyerim menoleh dan mendapati Lian berdiri di samping kanannya.

“Eh, Lian,” sapa Hyerim dengan senyuman yang agak di paksakan.

“Emm… aku ingin bertanya,” ucap Lian sambil menatap lurus mata Hyerim. Hyerim menangkat alisnya bingung.

“Bertanya apa?”

Lian makin menatap Hyerim lekat dan sukses membuat Hyerim risih. “Apakah boleh Luhan untukku?” ucap Lian ambigu.

Hyerim memasang ekpresi tegang mendengarnya. Apa? Luhan di berikan pada gadis ini? Hyerim sungguh tak akan rela sampai kapanpun.

“Maksumu apa? Ahaha,” ucap Hyerim kikuk disertai tawa renyahnya.

“Luhan itu dari dulu mencintaiku, tidak seharusnya dirinya bersama dengan gadis sepertimu. Kamu masih kalah cantik daripada aku, kamu merepotkan untuk diurusi, dan kamu ini berbeda warga negara dengan Luhan. Aku yakin, bahasa Mandarin masih ada yang tidak kamu mengertikan,” ucap Lian sambil tersenyum miring dengan tangan dilipat di depan dada.

Hyerim menatapnya dengan tatapan tajam. “Apa katamu?! Aku tidak pantas? Ya! Luhan memang menyukaimu, tapi itu dulu..-”

“Kenapa dirimu seyakin itu Nona Kim?” potong Lian. “Luhan tidak menolak saat aku memeluknya bahkan dengan santainya merangkulku. Itu artinya dirinya masih menyukaiku. Cinta pertama sulit di lupakan. Dan dia pasti masih mengingat ciuman pertamanya.”

Lian menatap Hyerim dengan tatapan menusuk dan mendorong bahu gadis itu sangat kasar. “Berikan Luhan padaku, apa aku harus menggunakan bahasa Korea sialan itu untuk membuat gadis penghambat sepertimu mengerti?” Lian kembali mendorong bahu Hyerim lebih keras membuat Hyerim sedikit terdorong kebelakang

“Tidak akan! Dan jaga ucapanmu!” seru Hyerim dan balas mendorong Lian tapi tenaganya begitu kuat dan malahan membuat Lian terjatuh di aspal dingin sepanjang taman tersebut.

“Lian!!!” teriakan panik dan khawatir terdengar di belakang keduanya.

Luhan berlari kearah Hyerim dan Lian dan langsung berjongkok di hadapan Lian dengan tatapan khawatir. “Kamu tak apa?” tanya Luhan.

Lian memasang wajah seakan-akan kesakitan. “Ini sakit, Lu. Hyerim mendorongku tanpa perasaan sama sekali,” ucapnya mendramatisir.

Hyerim mengigit bibir bawahnya. Tak menyangka akan jadi seperti ini.  Luhan melirik Hyerim tajam membuat gadis itu makin ciut.

“Kenapa kamu tidak berperasaan sama sekali Kim Hyerim?! Apa-apa langsung bermain fisik!” gertak Luhan membuat hati Hyerim seperti terhantam sesuatu yang menyakitkan.

“KAMU TIDAK TAHU APA-APA, LU!” teriak Hyerim, tak peduli pengunjung taman menontoni ketiganya. “Dia! Dia ingin merebutmu!” Hyerim menunjuk Lian yang memasang wajah seakan-akan bingung.

“Bila begitu, kamu tak perlu mendorongnya!” seru Luhan. Hyerim mulai menintikan air matanya, Luhan benar-benar memojokannya tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Jadi..  kamu ingin tetap bersamanya? Kamu masih mencintainya?” seru Hyerim di sela isakannya. Luhan menatap dengan tatapan sulit diartikan. Lian tampak tersenyum miring melihat Luhan seakan-akan bimbang menjawabnya.

“Bisa di bilang, aku lebih lama mencintai Luhan, Hyerim,” Lian berucap setelah berhasil berdiri. Luhan tampak menatapnya kaget. “Maaf aku baru menyadari bahwa dulu bahkan sekarang, aku mencintaimu Luhan.”

“Lian..” ucap Luhan tak mampu mengatakan apapun.

“Bila kamu masih mencintaiku, kembalilah padaku. Aku mencintaimu. Dan kita sudah saling mencintai sejak lama. Di bandingkan kamu dan Hyerim.”

Hyerim tampak menggeleng-gelengkan kepalanya masih dengan air matanya yang sudah
menganak sungai dipipi tirusnya.

“Memang ya, bisa di bilang kamu mencintaiku lebih dulu.” gumam Luhan dengan kepala menunduk tampak memikirkan sesuatu. “Aku masih mencintai Lian, bahkan saat di Korea pun aku masih mencintainya.” lanjut Luhan.

“Tidak!” seru Hyerim membuat Lian dan Luhan menatapnya. “Bila kamu mencintai Luhan. Kenapa kamu membiarkannya pergi ke Korea begitu saja? Dan akhirnya aku dan dirinya bertemu dan saling mencintai!”

“Aku tidak bisa melakukannya karena Luhan mengikuti perintah orang tuanya,”

“Bila aku menjadi dirimu, Wu Lian. Aku akan mengejar Luhan walau banyak sekali rintangan. Aku akan mencegahnya pergi untuk terus bersamaku. Aku ingin dia tetap bersamaku. Karena aku mencintainya. Dan aku pernah melakukan hal tersebut dan membuat Luhan membatalkan ke berangkatannya hanya demi aku! Benar, kalian mengenal lebih dulu, jatuh cinta lebih dulu, dan kamu mencintainya lebih dulu. Tapi, cintaku pada Luhan lebih besar daripada cintamu! Cinta kami pun lebih terikat erat di bandingkan cinta kalian!”

Seru Hyerim dalam satu tarikan napas. Lian hanya memandangi Hyerim tanpa tahu harus berkata apa. Hyerim sendiri langsung berlari pergi dengan air mata berlinang.

“Sebenarnya aku sudah melihat dari awal bahwa kamu mengatakan ingin merebutku, mendorong bahu Hyerim kasar, Hyerim mendorongmu terlalu keras. Aku melihatnya. Aku hanya ingin kamu sadar bahwa aku sekarang mencintainya, Lian. Dulu kamu yang menolakku dan sekarang malah mengakui menyukaiku saat aku membuka hati untuk gadis lain.” ucap Luhan sambil menepuk bahu Lian.

Lian melirik kepada Luhan yang menatap kearahnya. “Cintanya padaku lebih besar dan rasa cinta kami begitu kuat. Di bandingkan dirimu,” ucap Luhan.

“Aku cemburu, Lu. Aku tadi malam melihat kamu berciuman dengan Hyerim dan tampak menikmatinya. Aku baru menyadari mencintaimu saat kamu ingin pergi ke Korea,” ucap Lian dengan mata berair.

Luhan tersenyum tipis. “Maaf, tapi it’s too late, Lian. Kamu hanyalah cinta pertamaku. Memang benar aku masih mencintaimu bahkan saat sudah pindah ke Korea. Hingga pada akhirnya cintaku padamu tergantikan setelah bertemu Hyerim,”

Setelah itu, Luhan langsung pergi untuk menyusul Hyerim. Lian memandang punggung Luhan lekat dengan air mata yang mulai berjatuhan.

***

“Hiks…” isakan terus terdengar dari bibir Hyerim.

Hyerim bodoh! Hyerim bodoh! Rutuknya dalam hati. Hyerim menyilangkan kedua tangannya dan meletakannya di tembok guna untuk membatasi matanya yang menangis dari tembok.

“Bodoh! Pasti Luhan memilih Lian,” ucap Hyerim masih dengan isakannya.

“Kenapa menangis?” suara itu terdengar di belakang Hyerim.

Hyerim membalikan tubuhnya dengan mata masih berair. “Aku..” ucap Hyerim mengatung.

“Aku tahu dan yakin pasti kamu memilih Lian. Dia cinta pertamamu, ciuman pertamamu. Ahhh.. aku berandai-andai bisa menjadi cinta petamamu seperti kamu menjadi cinta pertamaku. Aku..-”

‘Bak!’

Luhan memukul tembok di sebelah kanan Hyerim dengan kepalan tangannya, membuat perkataan gadis itu terpotong dan menatap Luhan. Luhan mulai mendekatkan wajahnya dan perlahan bibirnya bersentuhan dengan bibir Hyerim. Hyerim masih kaget akan tetapi beberapa detiknya menutup matanya menikmati ciuman Luhan. Akhirnya Luhan melepaskan tautannya dan menatap Hyerim lembut.

“Pernahkah aku meragukan cintamu padaku?” tanya Luhan. Hyerim menelan ludahnya dan menggeleng. “Maka dari itu tadi aku ingin kamu mengungkapkan cintamu yang tidak ada ragunya padaku di hadapan Lian. Begitu pun aku, aku sama memiliki cinta sebesar dirimu.”

Hyerim mengigit bibir bawahnya dan tesenyum. “Aku mencintaimu, Lu,” ucapnya yang langsung memeluk Luhan. Luhan balas memeluk Hyerim.

“Aku juga mencintaimu Hyerim. Jangan pernah mau menjadi cinta pertamaku, cukup jadi cinta terakhirku. Cinta pertama bukan pilihan utama walau kisahnya selalu dikenang. Tapi cinta terakhirlah yang kisahnya tak akan dikenang karena tidak akan ada akhirnya.”

Hyerim tersenyum haru dan melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah Luhan. “Baiklah, aku akan menjadi cinta terakhir bagi seorang Luhan,” Hyerim mengucapkannya sambil tersenyum penuh keyakinan.

Luhan tersenyum simpul sambil membelai wajah Hyerim lembut. “Itu yang ku maksud,” ucap Luhan dan lalu mencium pipi Hyerim sekilas.

“Jadi, kamu sudah siapkan menikah denganku?” tanya Luhan sambil menatap Hyerim dengan senyuman lebar.

“Siapa bilang?” gurau Hyerim dengan wajah datar.

“Yak! Kim Hyerim!”

“Ahahahaha,”

Cinta pertama memang kisah yang selalu dikenang. Tapi ingat, cinta terakhir akan menjadi kisah sepanjang masa tanpa dikenang karena tak akan pernah berakhir
.

.

.

You’re always in my mind, my first love
I’ll cherish you preciously, my first love
It’s sad but beautiful
It’s weepy but beautiful

FINISH

8 thoughts on “About First Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s