Muskil

muskil-poster

Collab fiction by bebhmuach and feyrefly

[EXO] Do Kyungsoo& [OC] Kim Sora

 

Ficlet || Angst, Romance, Hurt/Comfort || G

 

WE OWN THE PLOT!!

Maaf untuk typo, HAPPY READING^^

 

Tidak ada yang akan berubah, meski Kyungsoo menyesal setengah mati sekarang.

 

©2016

 

Minggu pertama di bulan Januari, awal warna kehidupan Kyungsoo–pemuda pendiam yang dianugerahi paras tampan tanpa cacat. Tak ayal, para tetangga–baik gadis maupun wanita berumur–pun rutin jogging di Minggu pagi. Siapa yang tidak akan melakukannya jika jogging berarti menemui makhluk tampan pendiam macam Kyungsoo?

“Hei!! Pakai mata kalau bersepeda. Dasar idiot!”

Gadis berkaus putih itu memekik lantang ke arah dua orang pemuda yang buru-burumengayuh sepedanya menjauh. Nyaris, salah seorang menabraknya lantaran ngebut. Ia lantas mendudukkan dirinya di tepi jalan. Mencoba mengatur degup jantungnya yang tadi tak berirama.

Beberapa menit mengembuskan sisa pernapasan, tubuhnya berjingkat mendapati presensi Kyungsoo yang tiba-tiba menyodorkan air mineral botolan padanya.

Segera ia mendongak, “Astaga!” protes sang gadis cepat. “Mau buat aku mati cepat, huh?”

Sang pemuda sempat melengkungkan sudut bibirnya sebelum menyerahkan botol itu–menarik sedikit tangan si gadisuntuk menggengam botolnya.

.

.

Waktu merangkak maju, berangsur eksistensi sang gadis mulai mengisi pikirannya. Terlalu segar dalam ingatannya, kala senyuman sang gadis mekar. Tanpa sadar, ia ikut mengulas kurva di belahan bibirnya. Kim Sora, gadis yang membuat hatinya kini bak taman bunga–bukan lagi padang gurun yang gersang.

“Namamu siapa, sih?”

Pertanyaan itu selalu sama, kerap kali mereka bertemu. Bagi Sora–sapaan hangatnya–Minggu adalah jadwal rutinnya bertemu si pemuda di sela jogging paginya. Kendati, tak berlangsung percakapan diantara mereka. Sedangkanbagi Kyungsoo, Minggu adalah waktu untuk mengembalikan kewarasannya sebagai manusia.

“Kau senang kalau aku panggil Eh atau Hei, ya?” gerutu Sora.

Pandangan Kyungsoo bertumbuk pada manik indah sang gadis. Tersirat binar yang terpancar, layaknya jutaan cahaya bintang bertaburan di dalamnya. Well, Kyungsoo jatuh hati padanya.

Dahi Sora mengerut masam, kilatan-kilatan tak percaya masih tercetak jelas di iris hazelnya. “Kalau begitu, aku akan memanggilmu Tuan X,” ucap Sora pasrah. Katup Sora memberengut lantaran Kyungsoo tak segera menjawab. Pemuda bersurai kelam itu hanya menggelontorkan seutas senyum simpul—namun mampu membuat Sora terpaku. Entah mantra apa yang pria itu selipkan disetiap gurat kurvanya, realita selalu membawa Sora pada satu perasaan langka yangjarang ada dalam hidupnya; Sora merasa nyaman pada sosok Kyungsoo yang teramat diam.

Satu hal yang tak diketahui Sora perihal ‘kediaman’ seorang Kyungsoo yang mungkin akan sedikit mengejutkan. Sebenearnya, Kyungsoo juga ingin melafalkan nama Sora, memuja-muji betapa cantik wajahnya, menggelintirkan satu-dua gurau di sela-sela konversasi ‘hening’ mereka. Kyungsoo ingin berbicara pada Sora, selalu mencoba menjalin komunikasi dengan Sora lewat tatapan matanya.

Satu hal yang membuatnya tak bisa menyampaikan sejejak cinta miliknya untuk Sora. Karena Kyungsoo tunawicara; sejak dilahirkan ke dunia.

.

.

Rabu kedua bulan Mei, realita kembali menyadarkan Kyungsoo ketika seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi memberikannya beberapa eksemplar dokumen di dalam amlop coklat.

“Kita mendapat pekerjaan baru lagi. Kau pasti menyukai tugas ini, Kyungsoo-ya.” Terselip kekehan renyah di akhir frasanya.

Ben–begitulah mereka menyebutkan–selalu berhasil meyakinkan Kyungsoo bila penyelesaian tugas memberikan kenikmatan tak terkirakan. Mengambil nyawa seseorang, lalu ditukar dengan beberapa tumpuk lembaran bernominal dalam koper. Menarik, bukan?

Kyungsoo tahu kisah hidupnya sulit dipercaya. Ia seorang—pembunuh bayaran.

Di menit selanjutnya, Kyungsoo menilik lembaran dokumen dengan sudut bibir yang menjungkit. Kali ini, dengan senang hati Kyungsoo akan mengebumikan seseorang. Meski, tanpa dibayar sepeserpun.

.

.

Tepat keesokan harinya, Kyungsoo telah bersembunyi dibalik tembok pembatas yang tak jauh dari tempat kediaman sang target. Kim Joowon, sosoknya muncul dari balik pintu pagar rumahnya. Sebuah baretta siaga dalam genggaman. Sekon kemudian, netranya menangkap sosokSora yang mengekori pria itu. Kyungsoo mengerjap, memfokuskan pandangannya–berharap ia salah lihat. Seketika itu Kyungsoo jadi pengecut, membayangkan sebuah akhir dramatis ketika dihadapkan sebuah jalan buntu.

Kyungsoo memang tak pernah mengerti arti dirinya di mata Sora. Namun baginya, Sora bagaikan udara segar. Hell, Kyungsoo merasa Tuhan tak adil. Lebih-lebih, kala rungunya menangkap suara sang gadis. “Hati-hati ya, Ayah.”

Segera lengannya kembali bersembunyi di balik jaket tebalnya. Lantas berbalik dan menyeret tungkainya menjauh dari sana. Ya, Kyungsoo tak percaya ini terjadi.

Sesuatu dalam benaknya memberontak, mengoyak kepingan-kepingan perasaan yang semula ia jaga utuh-utuh wujudnya. Ngiang suara Sora memanggil pria itu ayah—pria yang Kyungsoo sumpahi kematiannya. Dihadapkan pada dua pilihan, antara berhenti atau melanjutkan, membuat saraf di pusat otak Kyungsoo menegang.

Ia tak bisa melakukannya; kendati berhenti artinyamati.

Bukan pilihan baik untuk kembali ke rumah, memang. Beberapa menit selepas tungkainya memasuki ruangan tengah, tiba-tiba tubuhnya terjungkal akibat satu hantaman benda keras pada punggungnya. Tak sampai di situ, Ben tetap mengayunkan balok kayu itu di atas tubuh Kyungsoo. Kendati sang pemuda telah tersungkur tak berdaya.

“Bodoh!! Kenapa tidak kau lubangi kepala bajingan itu, huh?” ucap Ben bersungut. Pria itu mengatur napasnya yang tersengal sebelum kembali melanjutkan. “Kau lupa, bagaimana Joowon membuangmu? Kau lupa, kalau dibuang oleh Ayah kandungmu sendiri?”

Kepingan-kepingan memori di masa silam bermain di dalam benaknya. Layaknya proyektor, menampilkan potongan adegan getir tatkala lengan besar Joowon menarik paksa tubuh kecilnya untuk keluar dari rumah nan megah itu.

Bahkan, suara tangis sang Ibu masih terdengar jelas dalam ingatannya. Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu sosok Ben telah berada di sana, lalu membawanya. Kalau bukan Ben yang menemukannya, barangkali ia berakhir menjadi gelandangan sekarang. Kyungsoo sungguh berhutang budi pada Ben.

“Lakukan besok! Tidak ada kegagalan lagi!” titahnya sembari membuang sembarang balok kayu itu. Kemudian, beranjak pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih tergolek lemah.

Hidup itu, harus ada yang di prioritaskan. Kyungsoo memilih satu hal, sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak awal; mengucapkan selamat tinggal pada Sora. Cinta pertamanya.

.

.

Jum’at malam, Joowon pulang larut–seperti yang tertulis pada jadwal kegiatannya. Melenyapkan Joowon, menjadi satu-satunya alasan Kyungsoo agar dapat menghirup oksigen esok hari.

Kepala bersurai coklat itu menyembul dari balik pintu tempat kemudi. Belum sempat menutup pintu mobil, Kyungsoo membekap mulut Joowon dengan saputangan yang sudah dibubuhi cairan bius. Ia bergegas, memasukkan tubuh lemah itu ke dalam mobil. Lantas mengemudikannya, menuju sebuah bangunan kosong yang dibiarkan menjadi bangkai di sudut kota.

Sesampainya, Kyungsoo membawa Joowon ke dalam bangunan kosong nan gelap itu. Jangan meremehkan perawakan Kyungsoo yang terlihat kecil dan tinggi standar. Bukan perkara sulit, sekalipun membawa tubuh Joowon yang terlihat lebih besar darinya itu. Belum genap anak tangga terakhir ia lalui, netranya mendapati sosok gadis yang terduduk di bangku–dengan tali yang meliliti tubuhnya–tepat di samping Ben.

Senyum Ben mekar, ketika yang dinanti menunjukkan atensinya. Pria berkemeja putih itu, melipat rapi kedua lengannya tepat di dada.

“Kau memang selalu membuatku bangga, Kyungsoo-ya.”

Seolah-olah itu bukan masalah, Kyungsoo mengangguk kecil. Sedangkan gadis yang menjadi sandera itu, mengamati eksistensi sang pemuda dengan tatapan tak percaya. Kyungsoo tak pernah menyangka Ben akan memberinya kejutan seperti ini. Tak ada yang bisa menyalahkan pria beruban itu juga, mengingat Kyungsoo memang tak memberitahu–bahkan tak mampu meski ingin–perihal hubungannya dengan Sora. Kyungsoo menghempaskan tubuh Joowon di atas lantai, membuatnya mengerang kecil.

“Selamat datang, Joowon-ssi.”

Si empunya nama mengerjap pelan, “Siapa kau?” lirihnya.

“Kau melupakanku, Joowon-ssi? Ck, keterlaluan sekali.”

Hampir lima menit, Joowon mencoba mengingat wajah pria itu dalam gemingnya. Tetapi tak berakhir sia-sia, “Minsoo-ssi?Kaukah itu?”

Raut gembira tersirat samar dari wajah Ben, ia berjalan mendekat ke arah Joowon. “Sudah lama sekali tak mendengar nama asliku ada yang memanggil. Mereka sekarang menyebutku Ben, ngomong-ngomong. Terimakasih tidak melupakanku, Joowon-ssi.”

Manik pekat itu memeta suasana sekeliling, lalu memaku pandang kala obsidiannya menangkap sosok gadis yang terikat di bangku itu.

“Sora-ya? Apa yang kau lakukan pada putriku?!”

“Tidak ada, hm, maksudku belum. Ah, sebelumnya aku ingin mengenalkan seseorang padamu.”

Kyungsoo bergerak mendekat, Joowon mengamati sang pemuda lamat-lamat. Sebuah kernyitan pada dahinya segera tercipta. Joowon membiarkan otaknya bekerja, menggali kembali memorinya. Sampai sekelebat nama terlintas, membuat maniknya membulat sempurna.

“Kyungsoo?”

Wajah Kyungsoo sama sekali tak menunjukkan ekspresi. Sementara kekehan tawa keluar dari balik bibir Ben, membuat manik Joowon segera mengarah padanya.

Mulut senapan mengarah pada pelipis sang gadis. Raut wajah Sora berubah, menampilkan ketakutan yang teramat. Kyungsoo terpaku, tak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya bisa berdiri mematung di tempatnya.

“Minsoo-ya, kau jangan–”

Kyungsoo segera mencekal pergerakan Ben, manik pekat itu menatap nyalang ke arahnya.

“Mari Joowon, kita mengingat masa itu,” goda Ben. “Aku ingin, kau tahu rasanya kehilangan orang yang sangat kau cintai. Sepertiku dulu. Sakitnya tak mau hilang, ngomong-ngomong.”

Gema dentuman tembakan pun menguar ke udara, bersamaan dengan itu Joowon berteriak keras. Degup jantung Kyungsoo terasa mendadak berhenti. Kepalanya pengar, dadanya begitu sesak kala cairan kental sewarna ceri itu mulai menjalari permukaan wajah Sora.

Kyungsoo tak menyangka, bila angan besarnya ingin melenyapkan sosok Joowon akan sejauh ini. Pasalnya, sudah cukup dengan mengebumikan pria berjanggut itu tanpa harus ada orang lain yang ikut menemaninya ke alam baka.

“Aku akan membunuhmu, Minsoo-ya!” Tangisnya pecah saat itu juga. “Kalian semua memang penjahat, bahkan karena kau, Lisa mengkhianatiku. Kini, kau mendidik anakmu sendiri menjadi seorang pembunuh. Kau benar-benar sakit jiwa!”

Di sudut lain, Ben tengah tergelak–menikmati raungan pilu Joowon. Sementara Kyungsoo tertegun, mendengar nama sang Ibu ikut di sebut.

Ben melemparkan senjata api itu pada Kyungsoo. Kali ini si pemuda bergeming, masih belum bisa mengatasi rasa terkejutnya dengan penjelasan yang baru saja ia dengar dari kedua lelaki itu.

Tidak ada yang akan berubah, meski Kyungsoo menyesal setengah mati sekarang. Faktanya, ia tetap harus memantapkan pilihan; yah, seperti inilah hidupnya, Kyungsoo tak bisa lari dari kenyataan.

Pemuda itu, dengan mantap mengarahkan mulut senapan tepat di atas dahi Joowon. Ia masih sempat menjungkitkan sudut bibirnya, sebelum suara tembakan menggema memekakkan telinga. Menyarangkan sebutir peluru tepat di antara dua mata Joowon.

 

“Aku bangga padamu, Kyungsoo-ya.” Ben tertawa bahagia.

 

End.

Bebhmuach’s note : Terimakasih yg sudah membaca^^ awas jangan gumoh yaa.. hahaa

Saengil chukkae D.O-ssi, SARANGHAE!!!

Fey’s note :Thanksbangetkakdelmaudirepotinsamabijikacangijomacemfeyygbuntuideterusnemplokdificoranglainwkwk.Ohya,happybirthday abang D.O! Saranghae<3

(ngepost-nya telat sehari :-D)

8 thoughts on “Muskil

  1. WHAT? WHAT? FF KAYAK GINI YG NGOMEN CUMA SATU?!
    *terus ternyata udah dicrosspost dan komenannya banyak
    *terus malu
    oke saya gak santai krn apa? satu, ini kyungsoo. dua, dia bisu (twist). tiga, dia pembunuh bayaran (udah ga twist lagi ini nggelinding sudah). empat, ENDINGNYA KOK GITU?!
    mati semua T.T butuh ending bahagia. tapi cerita bagus endingnya tidak selalu bahagia sih.
    keren! dari kak della sama fei ya… sasuga. udah lama gak baca karya kalian, sekalinya kolab langsung badai sekalipun tidak sepanjang cerita lain di blog ini. proyek ultahnya bagus lah😄 keep writing pokoknya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s