Philemaphobia (PROLOG)

Philemaphobia Poster

Tittle Philemaphobia (PROLOG)

AuthorDobi

Personal Blog Hello, fanfic!

CastPark Chanyeol; Yoon Ara (OC); Kim Joonmyeon; Kim Yerim aka Yeri; And Others

GenreRomance; Hurt; Sad; Drama; Psychologic

RatingPG-15

LengthMultichapter

***

Philemaphobia adalah fobia atau ketakutan akan berciuman. Penyebabnya bisa dikarenakan oleh bau mulut yang dianggap berlebihan oleh si penderita fobia atau trauma yang diakibatkan dari kejadian pahit di masa silam.

Cr. Berbagai Sumber.

***

Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul di mana pertokoan yang seharian sudah beroperasi mengakhiri kegiatan berniaga mereka. Sebagai gantinya, ada kelab dan tempat hiburan malam lain yang baru saja buka. Ada pun cafe dan tempat jajanan kaki lima yang masih menemani hingga jam menunjukkan pukul dua belas malam.

Adalah Yoon Ara, yang duduk di dalam sebuah mobil dengan perasaan yang campur aduk. Kedua kakinya tak bisa diam. Bulu-bulu halus di tangan dan tengkuknya berdiri tegang. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ara pun yakin, kalau udara dingin yang dirasakannya saat ini bukanlah dari AC mobil yang dinyalakannya.Gadis itu harusnya senang karena ada seseorang yang mau mengantarkannya pulang sehabis kencan buta.

 

Namanya Kim Jongin. Seorang mahasiswa dari sebuah universitas swasta di Seoul. Bagian ter-fantastis-nya bukan wajah tampan dan kulit gelap sexy yang dimilikinya. Melainkan, harta kekayaannya yang bahkan melebihi takar ketampanannya sendiri.

 

Kim Jongin atau yang lebih akrab di sapa Kai adalah anak seorang konglomerat. Selama ini, yang ‘membiayai’ acara kencan buta mereka pun adalah dia.

 

Entah mengapa dia mau ikut kencan buta, padahal kalau tidak ikut pun banyak gadis-gadis –bahkan noona sekali pun– yang mau jadi pacarnya. Cantik dan harta kekayaannya pun setara pula dengan Kai. Tapi, dia malah ikut kegiatan yang bahkan para pengisi acaranya pun adalah mahasiswa dari kaum menengah ke bawah.

 

“Awalnya, Kai memang tak mau ikut kencan buta ini. Tapi, setelah Taehyung memaksanya dan memperlihatkan fotomu, akhirnya dia mau.” Begitu kata Luna –teman sekelasnya yang mengajaknya kencan buta.

 

Luna adalah teman SMA-nya Taehyung. Mereka berpisah saat lulus lalu melanjutkan sekolah di universitas yang berbeda. Kencan buta ini berawal dari usulan Taehyung yang meminta Luna untuk memperkenalkan beberapa teman wanitanya –setelah ia menyadari kalau mahasiswi dari univeristas tempat Luna sekolah hampir semuanya cantik seperti personil girlgroup.

 

Singkatnya, Luna menyetujui ajakan Taehyung. Mengingat, universitas tempat Taehyung sekolah adalah universitas khusus laki-laki yang –juga– dipenuhi oleh laki-laki yang tampan sampai kawaii seperti ulzzang.

 

Dari awal pertemuan mereka di kencan buta, Kai hanya mau melirik Ara saja. Padahal, saat itu Luna membawa Krystal, Sulli, Seohyun dan Seulgi yang tak kalah cantik. Tapi, laki-laki itu bahkan tak peduli saat mereka mengadakan gameexchange partner –di mana mereka saling bertukar pasangan untuk di ajak kencan seharian. Kai tetap memilih Ara dari awal meskipun Krystal memilihnya –dan Namjoon yang memilih Ara dari kelompok laki-laki.

 

Tentu saja, Ara semakin uring-uringan saat Taehyung membocorkan kabar kalau Kai memang sudah naksir Ara sejak dirinya memperlihatkan foto gadis itu kepada Kai.

 

Setelah game exchange partner selesai, mereka berkumpul dahulu di sebuah cafe untuk mendiskusikan kegiatan apa lagi yang akan mereka lakukan di agenda kencan buta berikutnya. Awalnya, Ara ingin pulang bersama Sulli, tapi Kai malah memberikan tumpangan –hanya– kepada Ara yang langsung didukung oleh yang lain. Mereka fikir ada satu pasangan yang sudah masuk dalam jerat-jerat cinta, makanya mereka mengerti isyarat Kai yang ingin hubungannya terus berlanjut dengan Ara.

 

Saat ini, Ara gugup bukan main. Ia tak tahu bagaimana menangani awkward moment yang pasti akan terjadi di antara mereka.

 

Jantungnya serasa mau copot saat Ara melihat yang Kai baru saja keluar dari dalam cafe sambil membawa jaketnya yang tertinggal. Laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil.

 

“Maaf membuatmu menunggu lama. Saat aku mau keluar, Namjoon dan yang lain mengerjaiku dulu,” ucap Kai sambil menyalakan mesin mobilnya. Mereka melaju di atas aspal menuju arah rumahnya Ara.

 

Kegugupan Ara masih belum hilang walau Kai sudah berusaha mencairkan suasana dengan menyalakan radio, dan mengajaknya mengobrol soal lagu yang diputar serta apa yang diperbincangkan oleh sang DJ.

 

Seharusnya Ara tak perlu setakut itu. Ya, dia sudah jelas tahu kalau Kai memang menyukainya, dan Ara juga. Selama kencan buta yang sudah berjalan hampir dua bulan itu, mereka saling tertarik satu sama lain. Mereka saling menyukai. Tapi, tetap saja Ara tak bisa lepas memikirkan soal ‘itu’.

 

Soal Philemaphobia-nya.

 

“Kita sudah sampai,” ujar Kai saat mobilnya berhenti beberapa meter dari gerbang rumahnya Ara.

 

“Terima kasih sudah mengantarku, Kai,” ucap Ara seraya melepas seat-belt.

 

“Tunggu dulu.” Kai menahan Ara yang sudah ancang-ancang untuk keluar. Tangan kekar itu menarik lengannya Ara. Membuat gadis itu semakin gugup dan yakin kalau setelah ini pasti akan terjadi sesuatu.

 

“Y-ya?” Ara mencoba untuk tenang saat menatap ke arah Kai.

 

“Aku ingin tahu, apa selama ini kau merasakan ada sesuatu yang berbeda dariku?” Tanya Kai. Suaranya berubah menjadi serius dan terdengar maskulin.

 

“Maksudmu?” Ara berlagak tak tahu. Padahal, ia mengerti maksud dari pertanyaan Kai barusan.

 

“Aku menyukaimu.”

 

Ya ampun, anak ini malah bicara to the point! Mendengarnya saja membuat Ara hampir jungkir balik. Sekarang, mulutnya malah tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

 

“Alasan mengapa aku ingin ikut kencan buta ini dan mengapa selama kencan buta aku selalu memilihmu untuk menjadi pasanganku. Itu karena aku menyukaimu, Yoon Ara. Kau mau ‘kan jadi pacarku?”

 

Kedengarannya memang serius. Tapi, kalau orang yang sedang menyatakan cinta memang seperti itu, ‘kan? Terdengar serius seperti memang kau yang akan menjadi pendamping hidupnya. Kalau sudah bosan dan ada sesuatu darimu yang membuat pasanganmu tak suka, ya ujungnya putus saja. Ah dasar bodoh, Ara malah teringat beberapa kisah percintaannya yang dulu-dulu.

 

Mungkin saja Kai berbeda. Mungkin saja Kai tak seperti para mantannya yang meninggalkan dirinya saat tahu kalau Ara mengidap Philemaphobiaalias tak bisa berciuman dan tak mau dicium.

 

“Ara?” Kai memanggil nama gadis itu setelah melihatnya terdiam beberapa saat.

 

“I-iya… a-aku… mau,” jawab Ara yakin walau terdengar gagap.

 

Ah… leganya. Pernyataan cintanya tidak ditolak. Kai yang senang langsung membelai rambut Ara seraya mengucapkan terima kasih. Ara pun tersenyum tersipu malu.Setelah itu, tatapannya Kai berubah menjadi sensual. Tatapan yang menginginkan sebuah ciuman yang lebih dari sekedar ‘ciuman’.

 

Kai mendekati tubuh Ara, menyudutkannya di pojokan. Menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya seraya mendaratkan ciumannya. Namun, Ara segera menghentikannya. Gadis itu sudah tahu hal ini akan terjadi padanya, jadi Ara sudah bersiap-siap.

 

“Kenapa? Tidak ada yang melihat, kok.” Kai meyakinkan Ara sambil menyingkirkan kedua tangan gadis itu yang menempel di dadanya.

 

“Bu-bukan itu–“

 

“Apa kau ingin malam ini kita menginap di hotel?” Potong Kai.

 

“Bukan, hanya saja…”

 

“Hm?” Kai melepaskan dekapannya demi memberi ruang untuk Ara yang ingin menjelaskan sesuatu.

 

“Aku… aku mengidap Philemaphobia, Kai,” ujar Ara.

 

Awalnya, Kai kebingungan. Apa itu Philemaphobia? Tapi, setelah Ara menjelaskannya, raut wajah lelaki itu berubah total. Ara bertanya apa Kai baik-baik saja, Kai menjawab kalau ia baik dan malah menyuruh Ara untuk segera masuk ke dalam rumah. Walau kekhawatirannya muncul, Ara tetap berfikir positif. Mungkin saja Kai hanya kaget dan perlu beberapa waktu untuk berfikir. Mungkin juga ia merasa bersalah karena hampir mendaratkan bibirnya di bibir Ara.

 

Namun, Ara harus menelan obat yang sangat pahit rasanya. Pasalnya, Kai tidak hadir saat kencan buta berikutnya. Taehyung bilang, Kai sedang sakit, ia pun tak masuk kuliah untuk beberapa hari. Ara mencoba menghubungi Kai lewat telpon dan pesan singkat. Tapi, tak pernah di respon.

 

Fikiran-fikiran buruk mulai menghantui seluruh isi kepalanya. Mungkin saja Kai kecewa dan merasa dikhianati selama ini. Karena, Ara tak pernah memberitahu kalau ia fobia akan ciuman. Satu-satunya orang yang tahu akan fobianya adalah Luna. Dan mereka pun merahasiakannya dari yang lain.

 

Luna menasehati, kalau Ara harus tetap berfikiran positif. Bisa saja ‘kan, kalau Kai memang sakit dan sakitnya itu membuatnya harus beristirahat total sehingga membuatnya tak sedikit pun memegang ponsel. Karena, tak hanya telpon dan pesan singkat dari Ara saja yang tak di respon, tapi yang lain juga sama.

 

Namun, dugaan Ara salah besar. Kali ini, fikiran-fikiran buruknya menang lagi.

 

Sore hari saat Ara baru saja pulang dari jam kuliah terakhirnya. Ia mendapatkan pesan singkat dari Kai yang isinya,

 

“Maaf, selama ini aku menggantungmu dalam ketidakpastian. Aku rasa kita tak perlu melanjutkan hubungan kita lagi. Setelah berfikir selama beberapa hari, aku berani menyimpulkan bahwa aku tak bisa menerima fobiamu itu. Aku sadar aku memang sudah keterlaluan kepadamu. Tapi, aku juga tak mau jika harus berpura-pura menerima segala kekuranganmu. Tentunya, kau juga akan lebih tersakiti, ‘kan? Aku tak akan bilang kepada yang lain kalau kau mengidap Philemaphobia. Aku hanya akan bilang kalau pernyataan cintaku di tolak saja. Sekali lagi, aku minta maaf.”

 

Ara menghela nafas saat kata terakhir selesai dibacanya. Tak sedikit pun Ara menitikan air mata. Mungkin, karena seringnya ia mendapat perlakuan seperti ini. Ditinggalkan setelah mereka tahu kalau Ara mengidap Philemaphobia. Namun tetap saja, Ara tak bisa berbohong kalau saat ini hatinya sakit bukan main.

 

“Sudah kuduga akan seperti ini lagi,” ucap Ara seraya menghapus pesan itu dari kotak masuk.

 

 

 

To Be Continued.

 

 

 

“Namanya Yoon Ara. Dia dari fakultas kebudayaan. Satu tahun di bawah kita, bagaimana menurutmu?” tawar Sehun. “Dia cantik,” jawab Park Chanyeol sambil tersenyum tatkala matanya tertuju pada objek di layar smartphone milik Sehun.

.

.

.

“Aku fikir dia cocok untukmu. Makanya, aku kenalkan kau dengan Park Chanyeol.”

.

.

.

Joonmyeon menarik satu telinga Ara. Ia bahkan tak peduli saat gadis itu meringis kesakitan sambil meminta tangannya untuk lepas. “Sudah kubilang jadwalmu konseling adalah satu minggu sekali. Jangan hanya datang saat kau ada masalah saja dengan fobiamu!” omel Joonmyeon.

.

.

.

“Aku tak bisa berbohong kalau aku tak terpikat oleh lelaki setampan Chanyeol. Apa lebih baik kurahasiakan saja fobiaku darinya?”

.

.

.

“Kita sudah lama tak bertemu, Ara Sunbae-nim,” sapa Kim Yerim, atau yang lebih dikenal sebagai Yeri.

.

.

.

.

.

A/N: This fanfic also post on Hello, fanfic! and EXO FanFiction Indonesia. Thanks for reading and please give me your review!

7 thoughts on “Philemaphobia (PROLOG)

  1. Waw…jadi penasaran nih…giman asal mula si ara bisa phobia sama ciuman…gmna nanti reaksi chanyeol…..klo tau ara phobia sama ciuman…..bagus …next ya thorr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s