The Night Mistake (Chapter 8)

sehun chanyeol

The Night Mistake – Part.8

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Xiumin

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Yoojin duduk lemas di salah satu bangku dalam area hotel, menatap tak minat sosok manusia patung putih yang tengah memberikan trick sulap sederhana pada penghunjung hotel yang sedang berjalan-jalan, menikmati semua fasilitas megah dan indah yang hotel suguhkan untuk mereka. Yoojin menyeka air mata yang tiba-tiba saja sudah berkumpul di sudut matanya, sedih dan merasa diabaikan. Bagaiman tidak, laki-laki yang ingin ditemuinya di Macau, satu-satunya yang menjadi alasan Yoojin datang ke Macau dan meninggalkan persiapan fashion show pertamanya, justru sudah bertolak ke benua Eropa untuk urusan pekerjaan, tanpa menyisihkan waktu menunggu kedatangannya yang terlambat satu jam dari yang sudah diperkirakan.

Chanyeol sudah terbang menuju Paris, menemui rekan bisnis yang memajukan waktu deadline penting mereka. Yoojin mendesah pelan, wajah cantik gadis itu tertekuk sempurna. Sebuah kotak ice cream besar tiba-tiba muncul di depan wajahnya, lengkap dengan senyum hangat dari sosok laki-laki yang sangat dikenalnya sejak kecil.

“SehunOppa!” Yoojin menjerit tertahan, menerima uluran ice cream coklat vanilla kesukaannya. Tanpa menunggu lama Yoojin sudah menikmati ice creamnya, tersenyum saat tangan Sehun terulur mengusap puncak kepalanya.

“Masih kesal dengan Chanyeol?”

Yoojin terdiam sesaat, mengangguk singkat lalu kembali menikmati ice creamnya. “Dia jahat,” gumam Yoojin seraya menyodorkan satu sendok ice cream di depan mulut Sehun.

“Dia sangat menyesal karena meninggalkanmu disini.” Sehun kembali menerima suapan icecream dari Yoojin. “Dia bilang kau boleh menyusulnya nanti, setelah kau menyelesaikan fashion show pertamamu. Chanyeol berada di Eropa selama satu minggu.”

Yoojin terperanjat, terkejut hingga tangannya tidak pas menyendokkan ice cream ke dalam mulutnya. Ini pertama kalinya Chanyeol meminta dia untuk menemani perjalanan bisnis pria sibuk itu, selama ini Chanyeol tidak pernah mau urusan bisnisnya direpotkan oleh kehadiran wanita.

Hey, makan ice creammu dengan benar.” Sehun mengerakkan jemarinya, menghapus sisa ice cream yang tertinggal di ujung bibir Yoojin.

“Apa Oppa yang membujuk Chanyeol, agar aku boleh menyusulnya?” Sehun mengangguk pelan. “SehunOppa….”

Yoojin tersenyum, meletakkan mangkuk ice cream di sisi tubuhnya. Tangan gadis itu terulur, memeluk bahu Sehun erat. “Aku menyayangimu, SehunOppa.”

“Aku juga sangat menyayangimu, Yoojin.”

“Tapi tetap saja Oppa tidak boleh terlalu menyayangiku, Oppa harus mencari kekasih sebelum Oppa jatuh cinta padaku,” Yoojin terkekeh, namun kekehan gadis itu terhenti saat Sehun bersuara.

“Aku sudah jatuh cinta padamu, tapi Chanyeol merebutmu dariku,” seketika Yoojin melepaskan pelukannya, menatap Sehun yang menatapnya begitu dalam. Pandangan mereka sejajar, Yoojin membeku saat Sehun hanya memandanginya dalam diam.

Oppa….”

Namun tiba-tiba Sehun terkekeh, terbahak kencang seraya mengacak rambut jingga Yoojin yang tergerai. “Sudah sebesar ini, kau masih saja gampang dikelabui.” Sehun kembali tertawa.

Yak! Aish! Kau menyebalkan Oppa.” Yoojin melayangkan tinjuannya di lengan Sehun, ikut tertawa bersama Sehun.

Yoojin tetap tertawa hingga ujung irisnya berair, tak menyadari tatapan Sehun yang tidak berubah seperti saat pria itu mengungkapkan perasaannya. Rahasia rasa yang sejak dulu tak pernah sempat Sehun utarakan, rahasia tentang sebuah rasa cinta yang tersemat hanya untuk seorang Yang Yoojin.

“Kau tidak boleh jatuh cinta padaku Oppa, karena itu akan menyakitimu. Aku akan sangat menyesal jika menyakitimu, menyakiti pria baik yang sejak dulu sangat menyayangiku.” ucap Yoojin tulus, menutup percakapan dari ungkapan perasaan Sehun yang akan terus tersembunyi entah sampai kapan.

~000~

Pagi-pagi seminggu setelah kepergian Chanyeol ke Macau, Jiyeon terbangun sebelum yang lainnya terjaga, matahari bahkan masih terlihat malu-malu untuk menunjukkan taringnya di ufuk timur, hanya seleret jingga kekuningan menghiasi langit yang tampak bersih tak berawan. Kicauan burung di ujung dahan terdengar dari balik kaca jendela yang Jiyeon biarkan terbuka, menghantarkan hembusan angin pagi nan sejuk, hordeng tipis sewarna putih susu disepanjang jendela bergerak pelan. Sama seperti hari-hari sebelumnya, setelah bangun dan membersihkan diri, Jiyeon akan berjalan mondar mandir di depan ranjangnya, bergulung bersama kegundahan hati tanpa jalan keluar yang mampu dia dapatkan dari pemikirannya yang kalut.

Gadis itu mendesah lalu menatap ke arah perutnya, mengusapnya pelan seraya berharap jika hari ini sang jabang bayi tidak lagi membuatnya repot seperti beberapa hari sebelumnya. Ya beberapa hari lalu, Jiyeon selalu merasa ingin menangis tiap pagi dan malam hari, tidak nafsu makan, merasa sangat kesepian walau banyak pelayan, termasuk Jihye yang setia menemaninya. Jiyeon menyakini jika semua ini terjadi karena keinginan kasat mata dari bayi kecil yang terus tumbuh didalam rahimnya, membuat Jiyeon merasakan banyak hal aneh dan tidak masuk akal, termasuk merindukan Chanyeol. Jiyeon kesal karena laki-laki itu tidak menepati ucapannya untuk kembali ke Korea dalam dua hari, nyatanya ini sudah satu minggu tapi Chanyeol belum kembali juga. Menurut kabar yang Jiyeon dapat dari perbincangan Jihye dan Yixing yang tidak sengaja didengarnya, Chanyeol sedang berada di benua Eropa, melakukan perjalanan bisnis dibeberapa negara disana.

“Haruskah Kau berulah seektrim ini?” Jiyeon bicara pada perutnya, meminta belas kasih pada sang bayi yang terus merongrongnya.

Kau tahu… aku tidak suka saat Kau merindukannya, membuatku terlihat bodoh.”

Gumam Jiyeon tanpa henti, berjalan pelan menuju balkon kamarnya yang luas saat mendengar suara gemuruh yang memenuhi indra pendengarannya. Sejurus kemudian gumaman Jiyeon terhenti di udara, menatap terkejut pada sebuah pesawat Jet yang baru saja masuk dan mendarat di landasanyang ada di halaman belakang rumah. Jiyeon menunggu sebentar lalu sebuah mobil meluncur dan berhenti tepat di depan pintu utama di bawah beranda yang Jiyeon pijaki. Jiyeon memegang erat pinggiran beranda, mencondongkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang, posisi balkon yang lebih maju dari beranda memudahkan Jiyeon melihat siapa saja yang masuk dan keluar dari pintu kokoh berpelitur itu.

“Chanyeol.”

Dalam satu gerakan Jiyeon membalikkan badan, berjalan nyaris berlari menghambur keluar dari kamarnya. Beberapa pelayan yang melihatnya terkejut, mengingatkan gadis itu untuk berhati-hati karena menuruni tangga terlalu terburu-buru. Namun Jiyeon tidak peduli, dia hanya ingin melihat Chanyeol secepat mungkin dan membuat bayinya tenang. Napasnya tersengal, dia berdiri memaku di balik pintu, berpegang erat pada pinggirannya. Tepat di depan Jiyeon pintu mobil terbuka, menampakkan sosok Chanyeol yang dirindukannya.Berbalut pakaian santai, kaos hitam bergambar yang tidak Jiyeon pahami, celana pendek hitam sebatas lutut. kupluk abu-abu, wajah putih Chanyeol berpendar kemerahan saat matahari pagi menyinarinya.

Jiyeon tersenyum lebar dalam balutan rasa yang lagi-lagi terasa begitu membahagiakan, membuncah tumpah ruah bak berada dalam arena taman bermain. Berbunga selayak musim semi lalu terbang melayang seperti kupu-kupu. Ah, Jiyeon tidak begitu paham apa yang kini tengah menaungi hatinya, yang pasti Jiyeon ingin segera memeluk pria itu.Namun langkah Jiyeon tertahan tepat setelah sosok lain yang Jiyeon tidak kenal keluar dari pintu mobil yang masih terbuka, seorang gadis cantik dengan rambut jingga menyala, berbalut dress pendek berwarna kuning muda, tampak sangat memukau saat eyesmile tercetak di wajahnya yang terlukis tanpa cela. Gadis itu meraih jemari Chanyeol yang terulur, bergandengan erat, tertawa sesekali dengan tubuh yang merapat.

Tanpa perintah tubuh Jiyeon merosot, hampir beringsut di lantai jika dia tidak berpengangan pada daun pintu. Tak sanggup melangkah di atas kakinya yang mati rasa, Jiyeon merasa sangat hampa hingga meneteskan air matanya begitu saja.Dalam kekosongan yang datang tiba-tiba, Jiyeon mencoba berjalan, terseok perlahan, menahan tubuhnya yang limblung di sepanjang dinding yang menertawakannya. Tangga ikut mencibir tingkahnya yang memalukan, merasa terbuang oleh laki-laki yang seharusnya dia tikam dengan belati tajam tepat di dasar jantungkarena telah menghancurkan hidupnya. Memenjarakan dirinya dalam rumah besar hingga membuat Jiyeon terbiasa, membuat hatinya meragu untuk terus membenci sosok brengsek itu.

Langkah Jiyeon terhenti tepat di tengah tangga, perutnya kembali sakit luar biasa, keram, menohok hingga ke jantungnya. Mengucurkan keringat di wajahnya yang memucat, napasnya berat, sangat sesak.Jiyeon mengerang berulang-ulang, tak mau berbalik dan tidak ingin lagi kalah oleh bayi, hormon kehamilan atau apapun itu. Dia tidak mau lagi terlihat idiot karena menuruti naluri yang bertentangan dengan hatinya. Pandangan Jiyeon mulai mengabur, dunianya perputar pelan, pegangan tangan gadis itu perlahan mulai kendur dan pada akhirnya terlepas. Tubuh Jiyeon ambruk, hampir berguling ke bawah tangga, jika Yixing yang baru saja lewat dan berdiri di undakan anak tangga paling bawah, tindak bertindak cepat, berlari melewati anak tangga dan menangkap tubuh Jiyeon yang sudah kehilangan kesadarannya.

~000~

“Bagaimana keadaannya, Dokter Kang?”

Chanyeol kembali melontarkan pertanyaan yang sama, berdiri khawatir di ujung ranjang. Matanya tak lepas memandang Jiyeon yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Yoojin yang berdiri di sampingnya tampak pucat, tak siap bertatap muka dengan gadis yang menjadi poros masalah di hubungannya bersama Chanyeol yang hampir saja karam. Mata sipit Yoojin menatap Jiyeon, memandang gadis malang yang terlihat begitu lemah, pandangan Yoojin beralih pada perut rata gadis itu. Seketika rasa nyeri merentas hatinya, merasa jika udara di sekitarnya menguap dalam hitungan detik. Di sana, ya di balik perut rata gadis itu, kini telah tumbuh benih dari pria yang dicintainya.

Oppa….”

Yoojin sudah tak sanggup, gadis itu ingin segera berlari menjauh dari tempat yang membuatnya terasa terhempas ke dalam jurang yang dalam. Dia hampir menangis karena rasa sakit yang mendera hatinya, terasa seperti ada belati tajam yang mengoyak-goyak tubuhnya. Wanita mana yang sanggup melihat wanita lain yang sedang mengandung anak dari pria yang dicintai, diluar konteks alasan yang menyebabkan hal itu terjadi.

“Aku… aku ingin pulang.”

Chanyeol menatap Yoojin dengan ribuan kata maaf yang tak mampu dia verbalkan, menangkap kesakitan yang berusaha Yoojin sembunyikan darinya. Chanyeol merangkul pundak Yoojin, mengajaknya keluar dari kamar. Ia membelai wajah Yoojin yang pucat, menggenggam lalu mengecup jemari Yoojin yang mendingin, berusaha meluapkan semua penyesalan yang semakin mencengkram perasaannya begitu kuat, Yoojinsangat tersiksa karena perbuatannya.

“Aku….”

“Kembalilah ke dalam, pastikan keadaannya dan… bayinya baik-baik saja.”

Sekuat tenagaYoojin menahan diri agar tidak menangis, menatap Chanyeol yang putus asaseraya memberikan senyum hangatnya.Yoojin memeluk Chanyeol sekilas, mengusap bahu pria itu, meyakinkan jika dia masih berdiri di tempatnya, tak beranjak menjauh walau hanya satu langkah. Bertahan bersama laki-laki yang sudah terlalu banyak menerima luapan cinta darinya, menahan semua pesakitan yang lagi-lagi harus dirasakannya. Yoojin tidak tahu sampai kapan dia mampu bertahan, yang dia tahu saat ini dia tidak bisa meninggalkan Chanyeol sendirian.

~000~

“Aku merindukan orangtuaku.” lirih Jiyeon menjawab, saat Jihye bertanya kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan, padahal sebelumnya Jihye sudah memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

“Kau membuat kami cemas,”

Seketika semua panca indra Jiyeon bergerak cepat, menangkap suara dan sosok yang telah berdiri di ujung ranjangnya. Chanyeol berdiri di sana, tersenyum hangat seperti biasa. Menguapkan kesedihan Jiyeon seketika, dari balik selimut yang menutupi tubuhnya, Jiyeon mengusap perutnya yang terasa sedikit nyeri, lalu lamat-lamat menghilang saat Chanyeol berjalan mendekat, duduk ditepian ranjang tempat dimana Jihye duduk sebelum laki-laki itu mengambil alih.

“Maaf telah mengurungmu terlalu lama di sini. Apa kau ingin mengunjungi orangtuamu?”

Terlalu senang Jiyeon terlihat mematung, seperti orang bodoh dengan mulut sedikit terbuka. Tak mampu menemukan sebuah kata di otaknya yang terasa berhenti bekerja, saat ini hanya jantungnya yang bekerja, bertalu-talu hingga Jiyeon merasa takut jika Chanyeol akan mendengarnya.

“Mereka hanya satu kali berkunjung Tuan Park, Nyonya Soledad takut jika suaminya murka jika sering-sering mengunjungi Jiyeon. Tuan Coraimo selalu naik pitam jika mereka berniat untuk datang kemari.” ucap Jihye saat Jiyeon tak juga bersuara.

“Aku tahu.” jawab Chanyeol tanpa berpaling dari Jiyeon. “Jadi, apa kau mau mengunjungi orangtuamu hari ini? Jika kau mau kita bisa berangkat sekarang juga.”

 

Kita?

 

Jiyeon masih seperti patung, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Benarkah dia dan Chanyeol akan pergi bersama ke panti, berdua saja?

Jiyeon hampir melonjak kegirangan namun tentu saja ia tahan, gadis itu pada akhirnya mengangguk pelan untuk ajakan Chanyeol barusan. Jiyeon tersenyum samar saat Chanyeol meminta beberapa pelayan untuk membantunya bersiap, melangkah keluar dari kamar dan mengatakan jika mereka akan berangkat dalam lima belas menit.

~000~

Di dalam mobil yang dibawa Chanyeoldengan kecepetan sedang, Jiyeon tidak banyak bicara. Gadis itu sibuk menenangkan jantungnya yang berulah sejak tadi, berdetak kencang tidak karuan tanpa bisa dia kendalikan. Ia gugup bukan kepalang, tangannya mendingin dan sedikit gemetar. Sesekali Jiyeon melirik Chanyeoldari ujung mata beningnya. Laki-laki itu terlihat serius menatap jalanan di depannya yang mulai ramai pagi ini, mengenakan kemeja hitam kotak-kotak pas badan, wajahnya terlihat lelah namun tetap menawan dimata Jiyeon, bersinar saat cahaya matahari yang menerobos masuk dari kaca mobil menyorotinya. Jiyeon yang awalnya melirik kini memandang penuh, menelusuri lekukan rahang tegas Chanyeol, hidung mancungnya, bibirnya yang bergerak pelan dan rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Sial Chanyeol terlihat sangat tampan pagi ini.

“Ada apa, kenapa memandangku seperti itu? Apa kau takut karena hanya berdua denganku?”

“Apa?”

Jiyeon terkejut tanpa dibuat-buat, merasa seperti tertangkap basah sedang memandangi laki-laki itu. Jiyeon memalingkan wajah dalam hitungan detik, memandang lurus-lurus ke jalanan di depanya dengan kata sanggahan yang menegaskan dia tidak sedang memandangi laki-laki itu.

“Aku hanya tidak sengaja memandangmu, aku sangat benci padamu. Jadi mustahil aku ingin memandangmu lebih dari sedetik.” ucap Jiyeon tanpa jeda, tak menyadari jika jawabannya mengubah ekspresi Chanyeol seketika. Priaitu kaku, beku seperti tumpukan salju dimusim dingin.

“Maafkan aku… aku ingin sekali menghilang dan tidak lagi menampakkan wajah brengsekku ini di depanmu. Membebaskanmu dari rasa muak, karena harus memandang wajah dari orang yang sangat kau benci setiap hari.”

Jiyeon memaku, suara Chanyeol terdengar sangat rendah. Jiyeon bisa menangkap ribuan penyesalan yang tersurat ditiap kalimat Chanyeol. Gadis itu berpaling, menatap wajah sendu Chanyeol, merasa menyesal karena Chanyeol telah salah sangka. Sungguh bukan itu yang Jiyeon maksud. Setelah itu tidak ada lagi yang membuka suara, mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Suasana yang membuat Jiyeon sangat tersiksa.

~000~

Chanyeol dan Jiyeon sudah sampai di depan panti asuhan milik Soledad, orangtua angkat Jiyeon. Mereka turun dari mobil, Jiyeon terlihat bersemangat dan berjalan mendahului Chanyeol yang meragu dibelakang. Chanyeol tersenyum melihat wajah bahagia Jiyeon, lega dapat melihat gadis malang itu tertawa lebar. Jiyeon menyapa siapapun yang ditemuinya, tawa bahagia tak lepas dari bibir gadis itu. Chanyeol tetap berjalan dua langkah di belakang Jiyeon, memandang puluhanorang dari yang seumuran Jiyeon hingga anak-anak kecil, langsung tumpah ruah menyambut kedatangan Jiyeon yang mengejutkan mereka. Seorang bocah laki-laki berumur kisaran enam tahun menghampiri Jiyeon, menyerobot teman-temannya yang sedang berebut menyapa Jiyeon. Sang bocah menatap Chanyeol sekilas, meminta Jiyeon untuk berjongkok. Membisikkan sebaris kalimat yang seketika membuat pipi Jiyeon memerah, tertawa pelan seraya melirik Chanyeol yang ternyata sudah berdiri disisi tubuhnya.

Noona, apa Hyungini kekasihmu?”

Merasa tak puas dengan jawaban Jiyeon yang hanya menggeleng dan tertawa, sang bocah kembali menatap Chanyeol. Mata sipitnya memicing, memandang menilai pada sosok Chanyeol yang hanya tersenyum, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Melipat kedua tangan kecilnya di depan dada, bersungut sombong bak seorang laki-laki dewasa yang ingin mengajak berkelahi.

Hyung, apa kau kekasih Jiyeon Noona?”

“Apa?”

Jiyeon panik lalu segera berdiri, mengusap kepala bocah laki-laki itu gugup. “Ah, Junkyu… dia…,”

“Aku ParkChanyeol, senang berkenalan denganmu.”

Chanyeol memotong, membungkuk lalu mengulurkan tangan pada Cho Junkyu— si bocah laki-laki yang masih menatapnya penuh selidik. Junkyu tak mau menerima uluran tangan Chanyeol, tetap bertahan dalam posisi siap berperang. Senyum Chanyeol semakin lebar melihat aksi Junkyu, bocah kecil itu meminta jawaban yang lebih rasional, padahal sejatinya Junkyu juga tak paham dengan apa yang dia tanyakan.

“Kenapa? Apa kau benar-benar ingin tahu siapa aku yang sebenarnya?”

Chanyeolmengedipkan mata kirinya, dia tetap tersenyum lebar. Melirik Jiyeon yang terlihat menggeleng, memintanya untuk tidak meneruskan. Namun Chanyeol sudah terlanjur tertarik pada Junkyu, bocah berpipi merah seperti buah tomat. Bocah itu sangat lucu. Pikir Chanyeol.

“Iya tentu sajaHyung. Karena aku adalah kekasih Jiyeon Noona, jadi tidak ada yang boleh mengencaninya selain aku.”

Tawa Chanyeol pecah seketika, mengangguk mengerti dan menegakkan tubuhnya. “Hohoho tenanglah… heemm….”

“Cho Junkyu.” ucap Junkyu tenang, terkesan menantang walau tetap saja terlihat lucu dimata Chanyeol. Mengingatkan dia pada sosok dirinya saat berumur sama dengan Junkyu, berani, sombong dan terkesan tengil.

Eoh, Junkyu tenanglah. Song Jiyeon tetap milikmu, sampai kapanpun.”

Junkyu bersorak gembira, berlari menuju taman bersama teman-temannya. Sedangkan Chanyeol masih tertawa, tak menyadari jika Jiyeon sudah memandanginya. Chanyeol terlihat sangat ramah, hangat, dan bersahabat. Sifat yang belakang ini mulai terpikirkan olah Jiyeon, berbeda jauh dari persepsi awal Jiyeon, saat pertama kali membayangkan sosok orang yang sudah berlaku jahat padanya.

Chanyeol tidak terlihat seperti laki-laki bejat yang sering memaksa wanita, untuk memuaskan nafsu dari hormone testosterone yang bersemayam ditubuhnya.Chanyeol terlalu baik untuk predikat sebagai pemerkosa, terlalu bertanggungjawab untuk seorang laki-laki bejat yang merenggut paksa kehormatannya. Senyumnya hangat, perlakuannya lembut, tatapannya selalu menyimpan sejuta penyesalan yang kian tak mampu Jiyeon abaikan. Jika ada seorang pemerkosa semenyesal itu, rela terluka hanya demi menjadi tempat pelampiasan rasa amarah dari sang korban, memberikan perawatan medis terbaik hingga sang korban kembali bangkit dari keterpurukan, alih-alih menikahi yang terkesan memaksakan diri dan pasti akan membuat keadaan tidak akan jauh lebih baik, maka hanya ParkChanyeol-lah orangnya.

 

Lalu malam itu?

 

Apakah malam itu hanyalah sebuah kesalahan? Bukan kejahatan yang sengaja Chanyeol lakukan, seperti yang selama ini Jiyeon duga?

 

“Jiyeon.”

Lamunan Jiyeon seketika berantakan, dia menoleh, tersenyum dan segera berlari kecil, menghambur ke arah wanita paruh baya, berwajah eropa dengan rambut hazelnut panjang bergelombang yang sudah merentangkan tangannya lebar-lebar. Wanita itu tertawa pelan saat Jiyeon sudah memeluknya erat.Chanyeol membungkuk hormat saat wanita itu menatapnya dari balik bahu Jiyeon, mata biru samudranya tersenyum hangat dan membuat Chanyeol yang awalnya gugup kini terlihat lebih santai.

“Ibu….”

“Kejutan Sayang, ini benar-benar tidak disangka-sangka.” Soledad mengandeng Jiyeon, menuntunnya untuk masuk ke sebuah ruangan di tengah selasar. “Ayo temui ayahmu, dia pasti senang melihatmu disini.” Jiyeon menganguk antusias.

Sementara Chanyeol, laki-laki itu menahan langkahnya, meragu untuk menampakkan muka di depan Coraimo. Chanyeol takut? Bukan, Chanyeol bukan takut, dia hanya merasa sangat bersalah pada Coraimo, laki-laki tua itu adalah orang yang paling terkena imbas kesedihan dari perbuatannya pada Jiyeon. Seorang ayah yang menyalahkan diri sendiri karena tak bisa menjaga putrinya dengan baik, dan itu sungguh membuat Chanyeol semakin bersalah.

“Chanyeol-ssi, ayo… kemarilah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” sapaan Soledad membuyarkan lamunan Chanyeol, dia menganguk lalu melangkah pelan memasuki ruangan.

Ruangan itu masih sama seperti pertamakali Chanyeol melihatnya, minimalis, hangat dan nyaman. Sofa coklat melingkari meja kaca kecil ditengah sofa. Di samping sofa, paling kanan, ada meja kecil, vas bunga berisi lily putih didalamnya, berjendela empat tanpa hordeng yang semuanya dibiarkan terbuka. Di ruangan itu biasanya Soledad mengerjakan banyak hal, dari menyulam, menerima para donator hingga bermain bersama anak-anak asuhnya. Dia juga bisa memperhatikan semua anak asuhnya dari jendela-jendela yang terbuka.

Chanyeol duduk di sofa, paling kiri jauh dari Soledad dan Jiyeon yang duduk di tengah, lebih ke sisi kanan. Coraimo belum terlihat, Jiyeon bercerita panjang lebar pada Soledad, Chanyeol memperhatikan. Pikirannya melayang pada saat-saat hangat yang dia lalui bersama ibunya puluhan tahun lalu, saat dimana ayahnya masih hidup. Jika saja waktu bisa berulang, Chanyeol dengan sukarela akan berbalik, mengulang semuanya dari awal. Hidup rukun bersama kedua orangtuanya. Namun sayangnya hidup terus berjalan, bahkan sudah berlari terlalu jauh, meningalkannya terpuruk sendirian bersama sisa kenangan yang semakin pudar.

“Jiyeon.”

Suara serak dan agak berat milik Coraimo memenuhi ruangan, Jiyeon bersorak lalu memeluk laki-laki gempal itu erat. Gadis itu tertawa saat Coraimo yang terlihat terkejut dan terus menanyai keadaannya, mengecup kepala Jiyeon lalu kembali memeluk gadis itu erat. Namun raut bahagia Coraimo hilang kala menatap Chanyeol yang duduk diam di tempatnya, Coraimo kesal seketika dan hendak menghardik Chanyeol. Namun Soledad segera menahannya, meminta tanpa suara pada Coraimo untuk memikirkan Jiyeon dan tidak bertindak gegabah. Jiyeon sekarang sangat senang dan bahagia, itu yang terpenting.

Chanyeol masih duduk di ruangan bersama Soledad, menikmati teh yang Soledad sajikan untuknya. Teh yang diseduh ala masyarakatSpanyol yang nikmat, teh dicelupkan kedalam susu panas, didiamkan hingga warnanya berubah seperti caramel, setelah itu baru ditambahkan gula sesuai selera. Soledad juga menyajikan Chapatadeternera, cemilan roti khas Spanyol. Roti Chapata panggang dengan daging cincang dan dressing khas Spanyol diatasnya. Rasanya legit mirip Bruschetta di negeri Matador. Menjadikan acara sarapan pagi dadakan itu, terasa hangat dan akrab, bahkan Chanyeol merasa seperti sedang menikmati sarapan bersama ibunya sendiri.

Soledad memandang Jiyeon dan Coraimo yang bercengkrama bersama anak-anak asuhnya yang lain dari balik pintu yang terbuka, duduk melingkar di bangku-bangku besi yang ada di taman bunga. Senyum lega terulas nyata disudut bibirnya, tak menyangka jika keadaan Jiyeon sebaik hari ini, gadis itu terlihat bahagia dan jauh dari kata putus asa seperti beberapa bulan yang lalu. Padahal dulu Soledad pernah berpikir,jika Jiyeon akan mengalami depresi berat dan berakhir menjadi gadis gila. Namun kini semuanya sudah terbukti, janji Chanyeol untuk membuat gadis itu bangkit dari traumatic yang dialaminya karena kejadian kelam itu benar adanya.

“Dia sudah kembali seperti Jiyeon yang aku kenal. Ceria dan banyak bicara, terima kasihChanyeol-ssi.” ucap Soledad masih memandang ke arah taman.

“Nyonya Soledad, ada satu hal yang belum aku beritahukan padamu.” Chanyeol meletakkan cangkir tehnya di atas meja, menatap Soledad yang sudah berpaling, menatapnya wajahnya serius.

“Tentang Jiyeon?”

“Iya tentang dia….” Chanyeol mengambil jeda. “…dia… sekarang sedang hamil.”

Mata samudra Soledad membulat, mulutnya sedikit terbuka. Wanita itu kembali menatap Jiyeon dari pintu yang terbuka, lalu kembali menatap Chanyeol yang menatapnya menyesal.

“Tiga bulan.” tuntas Chanyeol.

“Apa?” Soledad menarik napas panjang, masih terkejut walau Soledad sudah pernah memperkirakan ini sebelumnya. “Lalu… apa dia sudah tahu?”

“Iya. Beberapa minggu yang lalu.”

“Apa dia bisa… menerima bayi itu?”

“Awalnya tidak, tapi sekarang dia bisa sedikit nyaman dengan kehamilannya. Dia mengalami perubahan prilaku yang sangat drastis, emosinya berubah-ubah dalam hitungan menit, menjadi sangat sensitive dan….” Chanyeol menahan ucapannya, sedikit ragu. “Dia… menjadi terbiasa dengan kehadiranku. Tidak pernah lagi mengamuk dan menghajarku abis-abisan.”

“Apa? Jiyeon pernah memukulmu?”

Chanyeol tersenyum samar. “Lebih dari itu.”

“Ya Tuhan.” Soledad meremas genggaman tangannya, tersenyum hangat dan meminta Chanyeol untuk memakluminya.

“Aku pantas mendapatkannya, Nyonya Soledad.”

Soledad tersenyum tulus untuk semua yang telah Chanyeol lakukan untuk kesembuhan Jiyeon, wanita itu dapat melihat keseriusan Chanyeol sejak pertama kali laki-laki itu datang dan meminta izin membawa Jiyeon ke rumahnya. Berjanji akan merawat Jiyeon dengan baik, hingga gadis itu siap untuk menerima hidupnya kembali

“Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan selanjutnya pada Jiyeon? Apa kau sudah menanyakan pada Jiyeon apa dia ingin kembali kemari atau tetap berada di rumahmu?”

“Aku belum menanyakan hal itu pada Jiyeon, tapi aku akan tetap menjaganya hingga bayi itu lahir. Jiyeontidak menginginkan bayi itu, jadi aku akan mengurusnya nanti. Aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk masa depan Jiyeon.”

“Kau… tidak ingin menikahinya dan merawat bayi itu bersama-sama?”

“Apa?”

Chanyeol memaku, terdiam dalam sekejab. Tak tahu apa kalimat apa yang pantas untuk pertanyaan Soledad. Menikahi Jiyeon? Chanyeolbahkan tidak pernah memikirkan hal itu sampai detik ini.

Ah, maaf jika pertanyaanku terlalu sulit untuk kau jawab. Jaman modern seperti ini, pertanggungjawaban tidak harus dengan menikahi bukan?”

“Aku selalu berpikir, jika tidak akan ada seorang gadis yang mau menghabiskan sisa hidupnya, bersama laki-laki brengsek yang sudah merenggut kehormatannya, dengan cara rendahan seperti yang aku lakukan. Mereka pasti ingin membinasakan laki-laki sepertiku, tidak ingin melihat apapun yang mengingatkan pada kejadian paling menakutkan dihidup mereka.”

“Ya kau ada benarnya, kecuali…,”

“Ibu.” suara Jiyeon mengintrupsi Soledad dan Chanyeol, gadis itu terlihat sangat bersemangat menatap Soledad dan Chanyeol bergantian.

“Chanyeol-ssi bolehkan aku disini hingga sore hari? Aku ingin menonton acara tivi favoritku bersama Ayah dan teman-temanku.”

Eoh… selama yang kau mau.” jawab Chanyeol, dia mengangguk lalutersenyum hangat.

“Benarkan? Terima kasih, ParkChanyeol.”

Jiyeon tersenyum, sangat manis hingga wajahnya terlihat jauh lebih cantik. Soledad memperhatikan, terdiam sesaat setelah menangkap sesuatu yang terpancar dari mata bening Jiyeon yang berseri. Hanya sepersekian detik namun Soledad bisa melihatnya, melihatnya dengan sangat jelas. Jiyeon sudah kembali bersama ayahnya dan teman-temannya, meninggalkan Soledad dan Chanyeol dalam perbincangan mereka yang tertunda.

“Chanyeol-ssi semua pemikiran yang kau jabarkan memang benar adanya, kecuali….” Soledad tersenyum ragu, tak berharap lebih, hanya sekedar menyampaikan apa yang dia pikirkan sebagai seorang ibu yang terlalu mengenal putrinya dengan sangat baik.

“…kecuali jika dia—- jatuh cinta padamu.”

TBC

Enjoy

Iklan

16 thoughts on “The Night Mistake (Chapter 8)

  1. Makin seru ajaa hihi
    Wah, dsini aku mulai ngerasa khadiran yoojin cukup mengganggu walaupun di lain sisi dia cuma korban dari keadaan.
    Wah, jiyeon suka chanyeol? Wajar
    Sehun tobat aja lah cepetan, sebelum di gorok readers yg lama2 makin sebal ma tingkah laku lu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s