E N D

END-poster

END

 

 

Collab fiction by bebhmuach and feyrefly

 

[EXO] Kim Jongin& [FX] Jung Soojung

 

Ficlet || Angst, Romance, Thriller || PG-17 (untuk senjata tajam)

 

WE OWN THE PLOT!!

Maaf untuk typo, HAPPY READING^^

 

Pisau barulah disebut pisau, kalau ada darah di matanya. Tak peduli darah siapa pun itu.

 

©2016

 

“Pisau barulah disebut pisau, kalau ada darah di matanya. Tak peduli darah siapa pun itu. Bukan begitu, Soojung-a?”

Gumaman rendah Jongin resonansikan bagai gema. Mengetuk-ngetuk koklea Soojung semena-mena. Gadis bersurai cokelatitu memejamkan mata rapat-rapat kala suara jerit pesakitan seseorang menginvasi rungunya.

Trakeanya menyempit bermili-mili meter lantaran tersekat ketakutan yang teramat sangat. Seandainya bisa, mungkin oktaf tertinggi akan ia suarakan demi merapikan getir adrenalin yang berpacu seenak jidat dalam benaknya. Soojung hanya bisa membatu di tempatsembari mengulum isakan, kendati bulir-bulir bening itu telah terjun bebas membasahi pipi mulusnya.

Sampai pada akhirnya, Soojung merasakan sesuatu yang hangat menangkup wajahnya.

“Tenang saja, ya. Sekarang kita bebas, Sayang.” Bariton itu lantas menusuk pendengarannya. Meniupkan bilur-bilur kepedihan atas perlakuan sang pemuda yang kini membenamkan kepala pada tengkuk miliknya. Meninggalkan beberapa ruam kemerahan—yang kiniamat Soojung benci eksistensinya.

Air mata Soojung segera menganak sungai menjalari pipinya, sebagian tertutup helaian surainya yang berantakan. Segala pilu tertumpah ruah dalam rengkuh sang pemuda—yang baru saja menyandang status sebagai pria terbejat dalam hidupnya.

Maniknya pun terbuka dan memaku pandang pada benda tajam yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada. Likuid merah nan kental melumuri bilahnya yang mengkilat. Selarik bebauan mencumbu lubang hidungnya tanpa aba-aba; amis yang menyeruak membuatnya muak.

Sebelah tangan Jongin menumpu pipi tirus gadis itu, merebut atensi Soojung agar menilik obsidiannya yang berpendar lemah. Lamat-lamat, katup pria itu berbisik rendah, penuh gairah. “Akumencintaimu,Soojung-a.”

Jongin melupakan satu hal, cairan kental yang telah meluruhi jemarinya. Memberikan jejak—garis merah memanjang—mengotori permukaan wajahSoojung, juga sensasi lengket yang aneh. Segera jemarinya membuka pita perekat yang membungkam mulut gadisnya. Lantas, tali yang mengekang pergerakan Soojung turut dilepaskan.

Manik hazel itu bergetar, “Mengapa kau melakukannya?” Soojung melirih. Mengumpulkan sekeping rasa berani untuk menatapobsidian Jongin.

Kembali, senyum sang pemuda mekar—mengabaikan secercah gerun yang tersirat dari raut wajah gadisnya.“Tak ada yang boleh menghalangi hubungan kita berdua.” Jongin memaparkan hasratnya.

Soojung tersedak, sepasang fluida mendesak jatuh dari sudut mata. Meluruh perlahan mengukir jejak di pipi sebelum bergabung dengan titik-titik yang lain. Satu hal yang membuat intensitas pergolakannya nyaris tak ada; karena ia tahu Jongin sangat mencintainya.

Sayangnya, rajutan kisah mereka ditengahi restu sang ayah yang kini terbujur kaku tanpa nyawa di sudut ruangan.Soojung menilik lantai, mendapati tetesan-tetesan darah yang membentuk lajur. Bermula dari mata pisau Jongin yang terselip di antara jemarinya dan berakhir pada jasad sang ayah yang tergeletak bersimbah darah begitu saja.

Jonginsempatkan tertawa sarkas, maniknya memicing menelisik gadis kesayangannya yang kesakitan. Dalam satu sekon, ia terpekur dalam penyesalan sebelum meraup tubuh ringkih itu dalam peluknya. Katupnya mendaratkan satu-dua cumbuan lembut pada puncak kepala Soojung, menghirup harum catalleya yang menjadi favoritnya.

Jeda menjerat atmosfer mereka dalam hening yang cukup lama. Tak adasesak tangis Soojung dalam gemingnya. Joongin pun masih membiarkan sekon berlalu dengan kepala Soojung yang bersandar di bahu, sebelum—

“AKH!”

—ia mengerang. Selaksa darah segar menguar dari perutnya akibat sebuah tikaman.

Gelak tawa Soojung segera terlontar begitu Joongin berderap mundur, memegangi perutnya dimana cairan pekat itu mengucur. “Aku juga mencintaimu, Jongin-a. Namun aku lebih menyayangi ayahku, meskipun ia mengurungku di sini seperti seorang tawanan.”Ucapnya sembari menekan kuat kepala pisau agar matanya menancap sempurna ke dalam bagian perut kekasihnya.

Soojung mengembuskan sisa pernapasannya, bersamaan dengan tubuh sang pemuda yang ambruk mencium tanah.

“Sampaikan maafku pada Ayah di sana, Jongin-a.”

 

End.

 

Bebhmuach’s note : Abaikan saja ff absurd ini,, wkwkkwk..

Saengil chukkae uri Kai^^ SARANGHAE!!

Fey’s note :Sekali lagi gomawo kakadel buat collabnya😚 Pokoknya kalo fic ini keren itu semua karena kakadel😘 Last but not least, saengil chukkae uri Jongin-ie🎉

10 thoughts on “E N D

  1. Soojung mengembuskan sisa pernapasannya, bersamaan dengan tubuh sang pemuda yang ambruk mencium tanah.

    maksudnya apa? yg mati kai? atau soojung?

    btw kai ultah kenapa ffnya dia berakhir kayak gitu? T_T hiks hiks

    tapi saya akui bahasanya mantap abis

  2. adduuhhh diksinya keren banget, ad beberapa yg ak musti mikir dlu apa artinya hahaha cuman klo kata ak feelnya kurang, “ngeri” nya kurang dapet, karena mainnin katanya full dari awal ampe akhir. aku sih gak masalah siapa yg mati kkkk tapi bener sih apa yg d bilang reader di atas, kalimat >>> sisa pernapasannya <<< agak ambigu, biasanya sisa napas itu lebih identik mau menjemput ajal, tapi mngkin penulisnya punya arti lain.

    tambahin feelnya lagi aja, selebihnya OK begete… btw dimana ya beli diksi sedahsyat itu? ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s