I Love My Father (Chapter 12)

picsart_11-18-12-24-00

Title: I Love My Father

Cast:

  • Xi Luhan as Shin Luhan
  • Shin Youngah OC
  • Park Chanyeol
  • Huang Zi Tao as Hwang Zi Tao

Author: SungRIMIn

Genre: Romance, Supranatural, Mystery

Lenght: Chaptered

Rating: General

***

Desakkan air mata terus membanjiri kedua mata bulat milik Chanyeol, air mata itu terus mengalir di sepanjang pipinya, membuat lintasan sungai kecil di wajahnya. Ia mendorong kasur dorong milik rumah sakit tempat ia meminta tes DNA Youngah. Chanyeol tak kuasa melihat keadaan YoungAh saat ini. Wajahnya dipenuhi aliran darah segar. Ia khawatir nyawa Youngah tak tertolong mengingat benturan yang di buat Youngah cukup kencang. Ada 3 pilihan dalam hidup Youngah saat ini. Pertama, hidup dengan ingatan yang kembali. Kedua, hidup dengan ingatan yang tak kembali. Ketiga, meninggal! Chanyeol tak ingin pilihan kedua dan ketiga itu terjadi. Ia ingin pilihan pertama yang ada didalam diri Youngah. Walaupun itu menyakitkan, tapi ia bahagia apabila Youngah bahagia.

“Maaf tuan! Anda tidak boleh masuk!” suster yang ikut serta mendorong kasur yang di tiduri Youngah menghentikkan langkah Chanyeol tepat didepan ruang operasi. Ia mengacak rambutnya kesal, karena ia tak diperbolehkan masuk karena takut keberadaanya hanya bisa mengganggu kinerja dokter yang sedang menangani Youngah. Tapi ia penasaran dengan keadaan Youngah didalam sana. Apa ia baik? Atau keadaannya memburuk?

Chanyeol duduk diantara tempat duduk yang tersedia di depan ruang operasi. Ia menyalahkan dirinya karena kekuatan yang ia punya tidak berfungsi dengan stabil dan hanya terlihat samar-samar saja. Kekuatan telepatinya juga tak berfungsi saat menatap mata Youngah.

Ia mengambil ponselnya, melihat jam berapakah ini? Ia ingin menakar, seberapa lama Youngah terkurung didalam ruang operasi untuk diperiksa keadaannya. Seakan teringat sesuatu, ia langsung mencari nama di kontaknya dengan keyword ‘Paman Luhan’ dan segera menelfonnya.

“Iya Chanyeol, ada apa?” suara Luhan yang khas mengingatkan kembali atas ucapan Youngah yang terang-terangan berkata ia mencintai lelaki ini, Luhan.

“Youngah berada di rumah sakit Gwangju sekarang! Segeralah kesini! Nanti akan kujelaskan alasan Youngah bisa masuk kerumah sakit!” Chanyeol mematikan panggilan itu dan menagis sejadi-jadinya. Baru pertama kali ia menangis seperti ini. Tangisan yang begitu memceah gendang telinga, begitu kencang dan sangat memprihatinkan. Sebelumnya, saat ibunya meninggal, ia tak menangis seperti ini, karena ia tak bisa menangis. Itu sebabnya ia terlihat menyedihkan seperti sekarang, padahal kekuatannya masih tertanam dalam dirinya.

Seorang lelaki menepuk bahu Chanyeol yang tengah menunduk, mengeluarkan semua kesedihannya agar hatinya lega.

“Kau tak apa?” lelaki itu menghentikkan tangis Chanyeol.

Chanyeol mengadahkan kepalanya, melihat orang yang datang dan berbicara padanya, “Paman?” Chanyeol menghambur kepelukan Luhan, entah ada angin apa yang membuat Chanyeol melunak kali ini. “Youngah lupa ingatan karena diriku! Karena aku menabraknya saat itu. Dan sekarang? Ia membenturkan kepalanya dengan pot tanah liat yang berukuran kecil agar ingatannya kembali, dan itu juga salahku paman! Kalau aku tak berusaha mengungkapkan kebenaran jati dirinya, ini semua tak akan terjadi paman!”

Luhan tercekat mendengar penuturan Chanyeol, “Apa? Mengungkapkan jati dirinya? Apa saja yang sudah terungkap, Chanyeol?”

Chanyeol melepaskan pelukannya dari Luhan, memandang manik mata Luhan yang meminta jawaban detail dari Chanyeol. “Penyelidikkan yang pertama, tidak terlalu penting. Tapi yang kedua dan ketiga, sangatlah penting!” Luhan menautkan kedua alisnya, meminta jawaban yang pasti! Bukan teka-teki seperti ini! “Aku sudah mengungkapkan sebuah rekaman cctv tepat saat Youngah kecelakaan dan hasil tes DNA.”

***

Dua orang lelaki itu, Luhan dan Chanyeol, masih sibuk menunggu Youngah membuka matanya. Youngah telah dipindahkan keruang inap dengan kelas VIP. Luhan tak ingin anaknya terganggu karena kebisingan pasien lain yang dirawat diruang yang sama.

Youngah, gadis itu terbaring dengan selang infus yang melilit tangan kanannya, lalu perban yang melilit kepalanya, serta alat bantu pernafasan. Gadis itu terlihat begitu menyedihkan, mengingat dua bulan yang lalu ia baru keluar dari rumah sakit. Doa terus dipanjatkan oleh dua orang lelaki yang siap siaga menjaganya, berharap Youngah segera bangun dari tidurnya.

Mungkin, tuhan mendengar doa Luhan dan Chanyeol, sehingga Youngah menggerakan jemarinya perlahan. Kelopak matanya bergetar, menandakan matanya ingin terbuka sempurna. Dan alhasil, kelopak mata cantik itu terbuka sepenuhnya. Ia mengedarkan seluruh pandangannya keseluruh penjuru ruangan, menyesuaikan dirinya pada penerangan diruang ini. Dan terakhir, matanya tertuju pada dua orang pria yang berada disampingnya. Luhan dan Chanyeol berharap penuh agar ingatan Youngah kembali. Dan jawabannya adalah..

“Kalian berduaa??” Youngah diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, membuat Luhan dan Chanyeol yang telah berdiri dari duduknya dibuat penasaran. Dengan kekuatan yang tersisa, Youngah bangkit dari tidurnya dan mendudukkan diri. Ia ingin melihat wajah kedua laki-laki itu dengan jelas. Youngah menarik kedua sudut bibir tipisnya, membentuk sebuah senyuman khas dirinya. Satu bulir air mata mengalir melintasi pipi kirinya. “Aku mengingat kalian. Ingatan ku kembali!” tangis bahagia yang keluar dari mata Youngah mendominasi ruangan ini. Luhan dan Chanyeol terlihat bahagia karena semua identifikasi jati diri Youngah sudah selesai semua. Tak ada mistery ataupun sebuah kejanggalan karena Youngah telah kembali kepada ingatannya.

Luhan menghambur memeluk Youngah, tak peduli dengan Chanyeol yang sebenarnya ingin melakukan hal yang sama. Youngah tersenyum bahagia atas perjuangannya menghadapi maut. Ia ingat disaat ia pergi ke perpustakaan dan menemukan buku yang akan memberitahu cara termudah untuk mengembalikan ingatannya dari amnesia. Saat itu, jantungnya berdetak sangat kencang, apa cara ini dapat berhasil? Ternyata, ketakutan itu hilang sudah. Sekarang, hanya rasa bahagia yang menguasai dirinya.

“Chanyeol, terimakasih karena telah membantuku untuk mengungkapkan mistery ini!” YoungAh berucap saat Luhan melepaskan pelukannya. Tak lupa senyum manisnya ia perlihatkan di depan sahabatnya.

“Berterimakasih lah pada pot bunga yang kau benturkan ke kepala mu!” Chanyeol melipat kedua tangannya, sifatnya terlihat dingin.

Youngah tertawa kecil, “Kau ini! Bisa-bisanya membuat lelucon seperti itu! Kau tak ingat yang mendukungku ku untuk mengetahui jati diriku yang sebenarnya itu dirimu! Kau tahu sendiri, betapa aku tak pedulinya pada diriku sendiri! Terlalu cuek! Ya itu aku! Tapi, saat aku bertemu kau, dan kau sangat bersemangat untuk mengungkap misteri ini, aku pun jadi bersemangat untuk mengetahui siapa diriku. Kalau kau juga cuek dan tak peduli, pot itu juga tak akan membenturku saat ini.” Youngah tersenyum kembali. Senyuman itu, membuat Chanyeol dan Luhan ikut tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar.

“Ya. Sama-sama!” gaya Chanyeol yang sok cuek membuat seisi ruangan mengeluarkan tawanya. Chanyeol memang pandai membuat lelucon sehingga membuat orang disekitarnya tertawa melihat aksi Chanyeol.

“Oh iya, aku juga ingin mengkonfirmasi diriku sebenarnya. Gara-gara lelaki itu, identitas ku dipermainkan!” Luhan dan Chanyeol berhenti tertawa, arah matanya mulai meruncing. “Namaku, bukan Shin Young Ah. Tetapi, Han Yoo Ra.” Perkataan itu sukses membuat Luhan dan Chanyeol membulatkan matanya. Aku adalah seorang sekretaris di perusahaan batu bara milik Park Corporation! Bukan seorang siswi SMA yang usianya baru 17 tahun. Usia ku sudah 28 tahun.” Tutur Youngah alias Yoora.

“Itukan perusahaan Ayahku!” balas Chanyeol dengan wajah polosnya.

“Memang iya, anak dari pengacara tuan Park!” ada nada meledek dari kata-kata yang diutarakan oleh Yoora. “Selain ayahmu adalah seorang pengacara, ayah mu juga mendirikan sebuah perusahaan batu bara di daerah Gwangju. Aku tahu itu!” Mata Chanyeol terbelalak kaget mendengar penuturan Yoora. “Aku pernah bertemu mu sekali di depan pintu kantor, tapi kau tak akan tahu itu!”

“Bagaimana kau tahu kalau aku anaknya?”

“Aku ini adalah sekretaris ayahmu! Saat aku dipanggil untuk masuk keruangannya, aku selalu melihat foto keluarga yang terpasang di meja kantornya. Jadi aku tahu wajahmu! Apalagi kau ini anak satu-satunya.” Chanyeol hanya mengangguk mengiyakan pernyataan Yoora.

Sekarang, suasana kembali seperti semula. Dimana semua orang yang berada diruangan ini membungkam suaranya. Hanya terdengar suara decitan kenop pintu yang terbuka. Ada tiga orang lelaki yang masuk keruangan ini. Dua orang lelaki memakai baju yang sama. Sedangkan orang ketiga, memakain baju yang berbeda dari kedua lelaki itu.

“Tao? Buat apa kau kesini?” Yoora yang pertama kali mengeluarkan suaranya saat Tao datang dengan tangan yang di borgol kebelakang dan kedua polisi yang berada disisi kanan dan kirinya.

“Maaf, aku ingin mengkonfirmasi semua kejadian ini pada kalian semua.” Tao meneguk salivanya untuk memulai penjelasan panjang kepada tiga orang dihadapannya. “Aku mengaku, aku salah! Aku adalah seorang buronan yang mengakui kesalahannya dihadapan polisi. Karena aku sadar, dosa yang telah kuperbuat jauh lebih banyak dibanding pahala yang telah kuperoleh.” Semua terdiam mendengar pengakuan Tao yang belum seberapa. “Aku adalah seorang pengedar organ tubuh manusia dan pengedar wanita remaja untuk pemuas para kaum lelaki.” Pengakuan itu sontak membuat Luhan dan Chanyeol membulatkan matanya. Sedangkan Yoora, ia hanya memalingkan kepalanya menghindari tatapan Tao yang mengarah padanya. “Terutama pada Luhan, aku banyak melakukan dosa pada mu. Aku terlalu keji untuk dijadikan sahabat mu! Hanya karena wanita, aku tega memiliki dendam terhadapmu, bahkan membohongi dirimu dan menjadikan gadis disampingmu sebagai anakmu.” Luhan tersenyum getir saat mendengar pengakuan yang mengarah pada dirinya.

“Lalu, anak ku dimana?” Luhan berkata getir. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk menahan derai airmatanya.

Tao terdiam sebentar. “Anakmu sudah meninggal. Aku telah menculiknya saat kau meninggalkan Youngah ditaman untuk membelikannya sebuah balon. Dan saat itu, aku mengambil organ tubuhnya dan jasadnya aku buang ke tengah laut.” Penjelasan itu sukses membuat Luhan mengepal kedua tangannya kencang. Rasanya, ia ingin menghajar Tao saat itu juga kalau Chanyeol tak menghalanginya.

“Kenapa kau lakukan ini Tao?? Kenapa?? Apa aku punya salah denganmu?? Kenapa kau tak mengambil organ tubuhku saja?? Kenapa kau harus mengambil organ tubuh milik Youngah yang sama sekali tidak tahu apa-apa?? Kenapa?? Apa alasannya??”

“Karena aku mencintai Yerim!!!” api dibalas dengan api. Begitulah Luhan dan Tao. “Aku mencintainya sebelum kau mencintainya!! Aku hanya takut mengungkapkan perasaan ku padanya karena aku tahu, Yerim hanya menganggapku teman saja. Sampai saat aku tahu kau mencintai Yerim dan Yerim pun mencintai mu, aku mulai berubah menjadi laki-laki dingin dan menghindar dari tatapan kau dan Yerim.” Luhan meredam amarahnya saat mengingat bagaimana perubahan sifat yang terjadi pada Tao. “Saat aku tahu Yerim meninggal karena melahirkan Youngah. Hati ku sangat teriris mendengarnya. Menurutku, bidadari kecilmu itulah penyebab kematian Yerim. Sehingga aku membencinya dan bertekad membunuhnya. Sampai di tahun ke 7 lahirnya putrimu, aku langsung membunuhnya dengan akal yang tak sehat.”

“Kau bodoh! Apa para Ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya menjadi kesalahan anak itu? Seorang Ibu akan memilih anaknya lahir didunia dari pada nyawa nya sendiri. Ia akan membiarkan anaknya melihat dunia walaupun ia tak bisa melihat dunia kembali, ia bahagia bisa melihat anaknya bahagia di dunia walaupun ia hanya bisa melihat anaknya dari atas langit. Mungkin, apabila anak yang dikandungnya bisa memilih nyawanya atau nyawa ibunya yang dipertaruhkan, anak itu pasti memilih nyawanya sendiri. Aku yakin anak itu tidak ingin ayah nya menjadi single parent. Memiliki seorang anak itu mudah, tapi tak mudah memiliki Ibu sebaik Ibu yang telah melahirkan kita.” Yoora  membuat seisi ruangan menitikkan air matanya karena penuturannya yang bijak. Cara bicara nya yang halus membuat para audience teringat pada Ibu yang telah melahirkannya.

“Tadi kan aku sudah bilang, aku membunuhnya dengan akal yang tak sehat. Mungkin aku depresi karena Yerim telah dimiliki Luhan seutuhnya. Sampai-sampai aku tega membunuh keturunan mereka. Aku tak ingin melihat Luhan bahagia saat itu!”

“Bawa dia keluar pak!” Chanyeol bertindak cepat agar Tao bisa keluar dan tidak membuat api di ruangan ini.

“Terimakasih Chanyeol.” Yoora tersenyum dan Chanyeol membalasnya.

“Aku benar-benar tak menyangka Tao dapat melakukan hal keji seperti itu.” Luhan menunduk sedih atas pengakuan yang ia dengar dari sahabatnya, Tao.

Yoora mengamit tangan Luhan untuk menenangkannya. “Sudahlah tak apa. Lupakan semua itu! Kau harus bisa menerima dengan lapang dada. Lagipula, Tao kan sudah tertangkap polisi! Kau tak perlu khawatir. Anakmu pasti sudah bahagia di surga bersama istrimu, kau percayalah padaku!” Yoora mengusap punggung tangan Luhan perlahan. Sentuhan itu membuat Luhan menoleh pada Yoora dan tersenyum padanya.

Sebenarnya, Chanyeol muak melihat adegan  itu, ingin rasanya ia keluar dari ruangan ini saat Luhan memeluk tubuh mungil Yoora. Tapi ia tak ingin terlihat sebagai manusia yang tak tahu sopan santun, keluar ruangan tanpa berpamitan pada orang-orang yang berada di dalamnya. Tapi, ia sungguh tak tahan dan ingin melangkahkan kaki nya. Dan pada akhirya, ia tak bisa menahan dirinya untuk keluar dari ruangan. Ia sudah menerima semua resiko yang akan ia alami selanjutnya.

***

Taman rumah sakit Gwangju sangat asri dan indah. Rumput-rumput nan hijau, kupu-kupu berlalu-lalang menghigapi bunga-bunga yang harum mewangi. Chanyeol berdiri dijembatan kecil. terdapat sungai kecil yang mengalir dibawahnya, sungai itu merupakan habitat ikan-ikan hias dengan warna yang berbeda-beda. Sungguh hebat taman ini, mengingat memang rumah sakit ini, rumah sakit terbesar di daerah gwangju. Belum lagi ada satu buah air mancur kecil yang terdapat persis dihadapan Chanyeol.

Sentuhan halus mengenai bahunya, membuatnya menolehkan kepala. “Aku tahu kau mencintainya,” kalimat itu sukses membuat wajah Chanyeol memerah.

“Tidak! Aku tidak mencintainya!” elak Chanyeol.

“Tapi kau tertarik padanya.” Luhan menoleh,memastikan apa kalimat yang dilontarkannya ini dapat membuat Chanyeol mengelak dari kenyataan.

Chanyeol mendesah, arah matanya tertuju pada air mancur didepannya. “Entahlah.” Ia tertunduk, “Aku merasa aneh apabila didekatnya.” Luhan yang tertarik pada topik pembicaraan ini, semakin menolehkan kepalanya. “Padahal kata kakek seseorang seperti ku, yang punya keturunah human devil tak akan bisa merasakan jatuh cinta kalau kekuatan itu masih melekat dalam dirinya. Apabila ia ingin merasakan jatuh cinta, ia harus melepas semua kekuatannya dan menunggu sampai 5 tahun.” Kata Chanyeol. “Sedangkan aku? Aku baru melepaskan kekuatanku selama 3 tahun. Tapi kenapa aku bisa menyukai Yoora?”

Luhan tertawa kecil, “Kau masih percaya tentang hal mistis seperti itu?” ada perkataan meremehkan yang tersirat dari ucapannya. “Didalam dirimu, terdapat kurang lebih 90% gen manusia. Itu pun kalau tak ada lagi setan yang menikah dengan manusia keturunan dirimu selain keturunan pertama!” Luhan mengarahkan jari telunjuknya untuk menyentuh dada Chanyeol.

“Emm.. memang tak ada lagi yang menikah dengan setan selain keturunan pertama.”

“Kalau tak ada, berarti seluruh gen setan yang berada di jalur keturunan mu akan menghilang seiring berjalannya waktu. Asalkan, keturunan mu, benar-benar menikah dengan sesama manusia, bukan makhluk lain.”

Chanyeol mengangguk, memastikan kalau keturunan nya menikah dengan manusia, hanya keturunan pertama yang berbeda karena keturunan pertama sember dari semua masalah, “Memang tak ada lagi yang memiliki cinta terlarang seperti yang dilakukan keturunan pertama.”

“Kalau begitu, didalam dirimu hanya terdapat gen manusia saja! Maksudku, lebih dominan gen manusia ketimbang gen setannya.” Luhan tersenyum. “Kalau begitu, semua pelajaran tentang kepribadian yang diturunkan secara turun menurun, tidak akan berpengaruh padamu.”

“Kau ini sok tahu sekali!” decak Chanyeol.

“Lebih sopan dikit dengan orang yang lebih tua!” Luhan mengahadap kedepan. “Semenjak Yoora mengenal mu, ia sering menonton film dengan genre supranatural. Makanya aku tahu soal itu!”

Chanyeol meremehkan pernyataan Luhan, “Heleh.. itukan hanya cerita non fiksi! Tidak ada kebenarannya!”

“Lalu kau sendiri? Kau dan cerita non fiksi itu pun hampir sama! Sama-sama mempunyai unsur supranatural. Apa aku harus percaya pada unsur supranatural yang kau punya? Bukankah menurutmu unsur supranatural itu tak ada?”

“Hei! Kalau aku benar lah! Aku memang mempunyai unsur supranatural!”

“Kalau begitu, kenapa tadi kau bilang itu hanya cerita non fiksi? Dan tak ada kebenarannya?” pernyataan Luhan membuatnya skakmat ditempat.

“Ya ya baiklah.. aku kalah!” kata Chanyeol menyerah.

Luhan menghadapkan arah pandangnya kedepan, melihat kupu-kupu yang terbang mengikuti alunan angin yang bersemilir, “Kalau kau mencintainya, kau boleh memilikinya!” pernyataan Luhan sontak membuat Chanyeol menoleh padanya. Mempertemukan sepasang mata yang menyukai wanita yang sama. “Kau sangat berjasa bagi Yoora. Kau telah banyak berkorban untuknya. Dan kau lah yang menuntaskan kasus ini. Jadi, kau lebih pantas untuk mendampingi Yoora di kemudian hari.”

“Yoora itu mencintaimu, bukan mencintaiku! Jadi, Paman lah yang pantas mendampinginya, bukan diriku!”

“Lagipula, aku hanya bocah SMA. Sedangkan Yoora Noona adalah pekerja kantoran. Perbedaan umurku dengannya sangatlah jauh. Jadi, aku tak pantas memilikinya!” lanjut Chanyeol tertunduk.

“Bukankah cinta tidak memandang usia?” Luhan membenarkan.

“Tapi percuma saja jika salah satu diantara kedua insan tersebut tidak saling mencintai.” Chanyeol menolehkan kepala, memandang manik mata Luhan dengan seksama. “Yoora Noona tidak mencintaiku, Paman! Kaulah yang dicintainya. Alasan ia nekad untuk membenturkan kepalanya adalah dirimu! Dia tak ingin kehilangan mu, Paman! Walaupun aku yang telah memecahkan misteri ini, tapi tetap saja kaulah pilihan di hati Yoora Noona, Paman!” hampir saja bulir air mata jatuh membasahi pipi Chanyeol. Ia tak kuat menahan rasa sedih yang ia alami. Merasakan cinta yang dirasakan sepihak begitu menyayat hati.

“Pergilah, Paman! Temui Yoora Noona, mintalah ia agar ia mau menjadi pendamping mu kelak. Aku yakin ia tak akan menolaknya. Karena, orang yang selama ini ia tunggu kehadirannya adalah dirimu, Paman! Pergilah!” Luhan mengangguk, mengiyakan pernyataan Chanyeol. Ia menepuk bahu Chanyeol dan berlari secepat kilat meninggalkan Chanyeol sendiri.

Chanyeol menghadapkan tubuhnya ke depan. Memandang langit-langit di kejauhan sana. Semuanya telah selesai. Ia yakin sebentar lagi, ia akan kehilangan cinta pertamanya. Ia berjanji akan mengubur dalam-dalam perasaan ini. Karena sebentar lagi, wanita itu akan menjadi istri seseorang. Benar kata Baekhyun, tidak seharusnya kita mencintai seseorang di masa muda ini. Ia menyesali karena ia harus berkutat dengan cinta yang tak terbalaskan ini. Ia janji pada dirinya, ia akan melupakan Yoora secepatnya.

TBC

Maaf kalo banyak typo yaa😉;)

5 thoughts on “I Love My Father (Chapter 12)

  1. Huh kasihan chanyeol padahal ia sangat berjasa sehingga yoora mendapatkan ingatannya kembali dan Tao bisa mendapatkan hukuman atas perilakunya. Oh iya aku tak ingin chanyeol kehilangan yoora. Biarkan saja luhan sendiri walaupun ia tak bisa mempunyai yoora menggantikan yerim. Next chapternya ya. Yoora dewasa ya akibat ingatannya kembali ia menjadi bijaksana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s