Jongin and I : Endorphin

CYngkISUEAAmP3F

Author : Iefabings

Cast : Kim Jongin and I

Genre : Romance, slice of life, comedy

Rating : General

Length : Series

^^Selamat Membaca^^

“Kenapa kau tidak mendengarkan lagu kami? Ganti lagunya,” tangan Jongin terarah ke kursor laptopku, tapi langsung ku tahan.

“Ini lagu bagus, aku sedang mood mendengarkan ini.”

“Aku heran kenapa kau begitu menyukai Red Velvet.”

“Aku mencintai Seulgi.”

“Kau perempuan, kan?”

“Iya.”

“Kau normal?”

“Kalau aku tidak normal mana mau jadi pacarmu, bodoh!” jitakan kedua—setelah tadi pagi, mendarat di kepala Jongin.

“Aish,” dia mengunci leherku dengan lengannya cukup kuat.

“Kim Jongin bodoh aku bisa mati!” ku pukuli lengannya agar dia melepaskanku.

“Kenapa mencintai Seulgi, hah? Dia tidak setampan aku!”

“Dasar bodoh kenapa malah cemburu pada seorang wanita?”

Begitulah, pertengkaran tidak penting yang biasa terjadi antara aku dan Jongin. Aku bahkan merasa malu jika harus mengingatnya. Seringkali aku berpikir otaknya terbuat dari apa? Lama-lama aku bisa ketularan. Tapi kenapa ya, aku mau jadi pacarnya?

Hm… apa aku harus mengingat kembali hal-hal baik yang pernah dia lakukan? Sebenarnya memang tidak bisa dilupakan sih. Misalnya saat aku sedang ujian akhir blok kemarin.

***

[flashback 1]

Ini blok terpahit yang pernah ku alami selama kuliah. Materinya terlampau banyak dan… sulit. Selama 7 minggu tidurku tidak pernah nyaman. Selain karena beban pikiran oleh materi yang berat, juga banyaknya tugas membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Aku sudah punya firasat, nilaiku di ujian lainnya tidak mencukupi. Karena itu di ujian akhir ini berniat belajar lebih serius lagi. Aku akan belajar semalaman tanpa tidur.

Baru belajar beberapa lembar slide, ponselku bergetar panjang. Ku lirik namanya, dari Jongin. Baik, tidak apa-apa kan mengangkatnya sebentar saja.

“Halo,” jawabku datar.

“Kau sedang apa?”

“Aku tutup saja ya.”

“Astaga, apa benar kita ini pacaran? Sadarlah sudah berapa lama kita tidak bertemu. Masih untung aku telpon, malah mau ditutup,” protesan panjang terurai dari Jongin.

“Kau ingin aku mengucapkan ‘I Miss You, Jongin-ah’, begitu?” tanyaku masih dengan suara datar.

“Besok ada waktu tidak? Selagi bisa, kita kencan. Beruntung sekali kau diajak kencan Kim Jongin. Aigoo, aigoo.”

“Biasa saja,” aku memutar bola mata, walau Jongin tidak bisa melihat itu. Sebenarnya kalau boleh jujur ya aku juga merindukan Jongin. Dia tidak menghubungiku sama sekali seminggu ini. Tadinya aku mau marah dulu dan berpura-pura tidak mau bicara dengannya. Tapi bagaimana bisa kalau begini? “Siang kuliahku selesai,” jawabku akhirnya.

“Bagus, aku akan langsung masuk dan menunggumu. Sampai nanti.”

“Dah.”

Lalu ku letakkan kembali ponselku dan lanjut belajar.

***

Aku sedih. Aku galau. Ujiannya benar-benar sulit hingga aku tertidur di ruang CBT. Entah berapa nilaiku nanti, rasanya ingin mengubur diri. Saat berjalan menuju apartemen tadi beberapa orang yang melihatku bertanya-tanya dengan wajah khawatir.

“Kau kenapa?”

“Kau terlihat tidak sehat.”

“Ya ampun, pucat sekali.”

“Istirahatlah….”

Apa aku terlihat begitu menyedihkan? Memang nasibku sangat menyedihkan. Sebenarnya berjalan pun aku merasa sedang di atas angin. Kepalaku pusing, suhu tubuh panas dingin. Bahkan aku tidak sadar sudah sampai di depan pintu apartemen. Aku berniat akan langsung tidur saat tiba di dalam. Sungguh, aku merasa lelah. Tidur akan membuatku melupakan semua kesialan hari ini. Langsung ku masukkan digit nomor dan membuka pintu.

Tiba di dalam, aku melihat dua sepatu tergeletak ta beraturan. Ini pasti ulah Jongin yang biasa melepas sepatunya sembarangan.

“Tsk,” aku berdecak dan terpaksa merapikan letaknya, baru melepas sepatuku sendiri dan berganti sandal. “Aku pulang.”

Terdengar suara televisi yang menyala dan tawa Jongin yang sedang menonton.

“Kau sudah pulang? Cepat mandi dan ganti baju.”

“Mandi?” tanyaku bingung.

“Iya, semalam sudah janji kan. Kita kencan.”

Nah, sekarang aku baru ingat. Semalam kan aku berjanji kencan dengannya lewat telpon. Berarti rencana tidurku harus tertunda. “Iya, aku mau mandi dulu.”

“Jadi kau ingin ke—eh, kenapa matamu?” tanyanya setelah menoleh dan melihatku.

“Hng… memangnya kenapa?” aku balik bertanya karena tidak bisa melihat mataku sendiri.

Jongin beranjak dari sofa dan mendekat padaku. “Kau begadang ya?”

Sebenarnya aku malas jika membahas soal ini, dia pasti akan mengomel. Jadi aku mengalihkan pembicaraan. “Makan bingsoo saja sudah cukup. Aku mandi,” lalu berbalik untuk menghindarinya.

“Eits,” tangan Jongin menahanku. “Jawab dulu.”

Terpaksa berbalik lagi, kini aku menatap wajahnya. Rasanya seperti di alam mimpi. Bahkan suaranya hanya terdengar sayup-sayup. Apa aku sebegitu lelahnya karena semalam begadang?

“Sebenarnya hari ini aku ujian.”

“Tadi malam kau bilang hanya kuliah. Itu kebohongan,” kata Jongin. “Jadi kau tidak tidur sama sekali? Semalaman?”

Aku mengangguk. “Ini ujian terakhir dan sekarang aku libur secara official. Tenang saja.”

“Lihat, matamu seperti panda sementara kulitmu sangat pucat. Astaga, kau jelek sekali,” Jongin menjitak kepalaku berkali-kali.

“Maumu apa, sih?” ku tepis tangannya agar berhenti menjitakku. “Ayo, kau bilang ingin mengajakku kencan.”

“Tidak jadi,” dia langsung merangkulku dan berjalan ke kamar. “Mendadak aku lelah karena jadwal padat belakangan ini. Aku mau tidur saja.”

“Tapi tadi malam—“

“Ssst,” dia langsung mendekapku dan berbaring di tempat tidur, dengan begitu secara ototmatis aku ikut berbaring dalam dekapannya. “Dalam hitungan sepuluh, kau harus tertidur. Satu… dua… tiga….”

Aku tidak tahu ini dihitung kebaikan atau tidak. Yang jelas saat itu dia membuatku tersenyum.

[end of flashback 1]

***

Begitulah, kadang dia melakukan hal manis dengan cara yang menjengkelkan. Kalau dipikir-pikir lagi, dia selalu menyesuaikan diri denganku. Pada dasarnya aku bukan gadis yang suka menghabiskan banyak waktu dengan jalan-jalan keluar. Makanya kami lebih sering mengobrol di apartemen dari pada nongkrong di cafe layaknya pasangan lain. Menurutku itu juga lebih aman untuk Jongin. Dan kalau dinilai secara umum, kencan kami tidak terlihat sebagai kencan. Seperti saat awal musim dingin lalu.

***

[flashback 2]

Aku ingin belajar, tapi juga bersama Jongin. Bagaimana caranya agar aku dapat keduanya? Tentu saja mengajak Jongin ikut belajar juga.

“Probandus?”

Aku mengangguk mantap. “Yang perlu kau lakukan hanyalah melepas pakaianmu dan berbaring di sini, lalu aku akan bertindak sebagai dokter yang memeriksamu.”

“Kau perlu membayarku untuk ini,” dia pun menurut, melepas pakaiannya. “Apa perlu ku buka celana dan boxer juga?”

“Kalau mau ku iris dengan scalpel, silakan.”

“Kenapa nasibku buruk sekali, punya kekasih seorang psikopat.”

Aku hanya tersenyum simpul. Dia menyebutku psikopat, nenek sihir, kanibal (aku tidak paham kenapa dia menyebutku kanibal -_-), bahkan sadako—karena rambutku panjang hitam lurus dan sering digerai—itu sudah biasa.

“Aku mulai ya,” ucapku saat dia sudah berbaring.

“Jangan lakukan hal-hal aneh padaku.”

Aku tak menghiraukan ucapannya dan mulai melakukan pemeriksaan. Sambil lalu mengucapkan semua teori yang sudah ku hafal, juga menengok buku saat ada yang lupa.

“Hm…” saat tiba waktunya untuk mendengarkan suara jantungnya dengan stetoskop, aku memperpanjang waktunya. Ini mungkin agak norak, tapi dari sekian banyaknya suara jantung yang sudah pernah ku dengarkan—mulai dari eomma dan appa, keluarga dekat, teman-teman, bahkan tetangga—milik Jongin adalah favoritku. Aku bisa saja menghabiskan waktu semalaman hanya untuk mendengarkan irama jantungnya.

“Apa ada masalah?”

“Iya, kau tidak normal,” jawabku bercanda.

“Mwo? Kau sudah belajar dengan benar? Mana mungkin orang sesehat aku punya masalah dengan jantung?”

“Diamlah, aku sedang mempelajari suara jantung. Kalau kau berisik, aku jadi tidak konsentrasi,” keluhku.

“Aku juga ingin dengar. Kau curang.”

“Aish,” akhirnya ku lepas eartips dari telingaku, lalu ku pakaikan pada Jongin. “Tuh dengarkan.”

Dia malah tertawa seperti orang bodoh. “Jadi begini ya suaranya?”

“Sudah tahu, kan? Sekarang kembalikan.”

Dia tidak mengembalikannya, justru menempelkan kepala stetoskop ke dada kiriku.

“Aku juga ingin mendengarkan suaramu,” ucapnya, membuatku jadi terdiam dengan pipi memanas. Aku salah tingkah, serius. Padahal dia hanya mendengarkan suara jantungku. “Ini aneh,” kata Jongin.

“Aneh apanya?”

“Aku lebih suka mendengarkan punyamu,” jawabnya sambil tersenyum lebar.

“Bodoh.”

Dasar Jongin bodoh. Untuk apa dia mengatakan itu, aku jadi tidak bisa menahan senyumku. Bodoh.

“Aku penasaran. Dari mana suara ini berasal?” tanya Jongin.

“Dari katupnya,” jawabku. “Saat memompa darah, ada katup yang terbuka dan menutup. Suara yang kau dengar ini adalah dari katup yang menutup itu. Tidak perlu ku sebutkan nama-namanya, kau akan makin bingung.”

“Ya ya, anggap saja aku mengerti. Sekarang mana bayaranku?”

“Bayaran apa?”

“Bayaran karena aku mau jadi pro pro apa itu?”

“Probandus,” sambungku datar. “Hanya sebentar sudah minta bayaran.”

“Aku ini artis terkenal. Aish, kau bisa dituntut jika tidak membayarku.”

“Kalau ku bayar dengan berada di sisimu seumur hidup, apa itu tidak cukup?” entah apa yang ku pikirkan hingga bisa mengatakan ini, sepertinya aku mulai tak waras.

Jongin tersenyum. “Kau baru saja melamarku.”

Dan aku hanya membalasnya dengan menghantamkan bantal ke kepalanya.

[end of flashback 2]

***

Kembali ke hari ini, dimana kami sedang memperdebatkan soal Red Velvet dan EXO padahal ini sudah menjelang tengah malam. Dan aku hampir lupa kalau beberapa menit lagi adalah ulang tahunnya.

“Sudah, sudah lepaskan, aku bisa mati,” akhirnya Jongin melepaskanku.

“Berlebihan sekali, mana mungkin aku membiarkanmu mati.”

“Ah yang benar?”

“Mana mungkin aku tega membunuh orang yang ku cintai, bodoh.”

Lihat kan, hanya gombalan kecil dan murahan saja aku sudah merasakan kupu-kupu beterbangan di hatiku. Hanya Jongin yang bisa melakukannya.

“Oh iya, Jongin…” wajahku berubah serius karena memang topik yang ingin aku bicarakan ini sangat serius. “Aku tidak punya kado apa-apa untukmu. Uangku habis untuk membeli hewan coba,” curhatku.

“Kado apa?” tanyanya dengan wajah sok bodoh. Aku tahu dia hanya berlagak lupa kalau sebentar lagi tanggal 14, ulang tahunnya.

“Baguslah kalau kau lupa. Aku tidak perlu repot-repot merasa bersalah.”

“Ya sudah.”

Apa-apaan dia ini? Sungguh menyebalkan. Tidak peka sama sekali dan malah fokus dengan televisi. Ku lirik jam dinding, semakin mendekati tengah malam.

“Jongin-ah… kau tidak mungkin lupa kalau besok tanggal 14, kan?”

“Oh… aku tidak mengecek kalender sih. Lalu kenapa kalau tanggal 14?”

“Ulang tahunmu, bodoh,” ingin rasanya aku menjambak rambutnya sampai rontok semua.

“Wah, kau mengingat ulang tahunku rupanya,” dia malah cengengesan dan mengacak rambutku.

“Apanya yang lucu….”

“Iya, aku ingat. Makanya aku ke sini agar bisa membuka tanggal 14 bersamamu.”

DEG

SATU

DUA

TIGA

Yak, pipiku pasti sudah memerah karena kini jantungku sudah berdetak tak beraturan. Dia memang pura-pura lupa, tapi itu tak penting lagi sekarang karena waktu menunjukkan pukul 12 malam tepat.

“Se-selamat ulang tahun,” ucapku lirih. Aku bisa mendengar dia tertawa pelan. Saat menatapnya, ku lihat dia tersenyum. Kau tahu kan, bagaimana senyum Kim Jongin? Sebuah senyuman yang bisa menerangi seluruh hidupmu.

p1a7ci4nb8u9910cnf6e15c51t73d

“Aku bahagia,” ucapnya, masih tersenyum.

“Aku mau mengambilnya dulu.”

Sebenarnya aku menyiapkan hal kecil. Siang tadi sempat membeli kue ulang tahun dan lilin, walau sangat sederhana. Setidaknya aku bisa melihatnya meniup lilin dan mengucapkan permohonan. Tepat setelah meletakkan kue itu di atas meja, dia menyalakan korek api. Ya, dia sendiri yang menyalakannya karena tahu betul aku tidak berani menyalakan korek api.

“Kau bilang tidak punya kado.”

“Memang tidak ada. Ini kan kue,” aku bertopang dagu di hadapannya, dengan kue di antara kami. “Ayo ucapkan permohonan.”

Dia tersenyum lagi, membuatku ikut tersenyum.

“Apa kau ingin masuk dalam doaku tahun ini?” tanyanya.

“Itu sih terserah kamu,” jawabku. Memang aku tidak terlalu mempermasalahkan soal itu dan aku tahu, dia pasti mengutamakan EXO di atas segalanya.

“Aku harap kita selalu bahagia seperti ini,” dia memulai doanya dengan mata terpejam. “Bisa bersama tanpa batas waktu, dan aku berharap,” matanya terbuka kembali, menatapku. “bisa selalu membuatmu tersenyum.”

Jantungku masih baik-baik saja kan? Rasanya mau mencuat dari rongga dadaku.

“Sudah sana, tiup lilinnya,” dari pada berlama-lama ditatap seperti itu, ku suruh dia meniup lilin.

Jongin pun meniup semua lilin hingga padam. Aku membantunya menyisihkan semua lilin dari kue dan dia mulai memotongnya untuk kami nikmati bersama.

“Terima kasih.”

“Ah, ini bukan apa-apa,” aku membuka mulut saat dia menyuapiku sepotong kue.

“Apa istilah dalam kedokteran untuk sesuatu yang membuatmu selalu bahagia?” tanyanya tiba-tiba.

“Apa ya?” aku berpikir, karena itu pertanyaan yang terlalu umum. “Endorphin?”

“Apa itu?”

“Hormon yang membuatmu merasa bahagia.”

“Kau adalah endorphinku.”

“Aish,” aku menutupi wajahku. “Kau mau membuatku tidak berhenti tersenyum semalaman?”

“Itu bagus, aku anggap kado.”

“Yaaaa!” aku menjitak kepalanya, tapi tetap saja dalam keadaan tersenyum.

“Aku ingin memelukmu. Boleh?” pinta Jongin. Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang berlebihan walau kami sering berdua saja di dalam apartemen dan tak jarang tidur bersama. Hanya tidur, jangan berpikir yang iya iya.

“Selama yang kau mau,” ku rentangkan kedua tanganku pertanda memberikan izin. Dia memelukku dengan hangat hingga aku bisa mendengarkan suara jantung favoritku.

“Apa menjadi pacarku sulit bagimu?” tanyanya sambil mengusap kepalaku.

“Tidak,” jawabku jujur. “Aku justru takut kau merasa kesulitan jadi pacarku.”

“Memang sangat sulit,” ucapnya. “Aku takut tidak bisa membuatmu bahagia seperti aku yang selalu bahagia walau hanya melihat wajah kusutmu sepulang kuliah.”

“Aku bahagia, Kim Jongin. Tidak ada yang sulit karena aku percaya padamu.”

Ku rasakan dia mencium puncak kepalaku. Kami memang jarang sekali mengatakan sesuatu seperti “Aku mencintaimu” atau “Jangan tinggalkan aku” tapi melalui segala yang kami lewati bersama, aku tahu dia sangat mencintaiku dan dia juga pasti tahu betapa aku mencintainya. Tidak hanya kau saja yang bahagia, Kim Jongin. Kau pun adalah endorphin bagiku.

***

Author note : Ini gaje banget ya entahlah. Saya hanya inging membuat sesuatu di hari ulang tahun Jongin. My beautiful beast, my shiny smile, my favorite jawline, I love him so much. Saya sampai kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan saya ke Jongin :”)

Ini bonus senyumnya yang selalu menerangi hari saya :”)

CYnf-bIUAAAjzWd

Selamat ulang tahun, Kim Jongin

15 thoughts on “Jongin and I : Endorphin

  1. Aishhh jongin…
    Suka bgt jongin disini…
    Btw, dr dulu aku penasaran suara jantung kalo di dgr di stetoskop gmn, jd pgn dgr hehehe…
    Aku suka ceritanya, ga berlebihan, tp sweet nya dapet…

  2. endorphin banget. kalo di jongin and i kan gak ada saingannya, jadi seneng banget bacanya. tapi kalo bittersweet, huwaa penasaran abis n gak bisa ditebak. kayaknya bias u jongin, tp aku berharap bittersweet sehun aja

  3. wahh daebak ini tuh ff yg aku tunggu2😀 jatuh cinta sama ff ini
    bahagia banget keknya punya pacar kek jongin😀 gabisa bayangin deh kalo jongin shirtless😀

  4. Blok terakhir ku semester ini juga susah bgt,persis kaya cerita ini. Aku juga ketiduran di ruang CBT. Btw latihan OSCE kalo jongin yg jadi probandusnya seru juga. Anyway good job ceritanya

  5. Speechles *oktariknapasdulu*lapingus*
    Keren banget,,sweet bnget..*tereakpaketoa😂💞🔫
    Baca ff yg bikin gw diabetes kek gini makin ngebuat senyum ga luntur2 sepanjang baca ceritanya😍
    Aku suka bgt sama penyampaian cerita yg sederhana, manis tapi bermakna spt ff ini
    Thor aku tunggu next ff yg lebih sweet. Cast yg sehun ato Ceye, bolehlah😂💕🙌

    1. terima kasih banyak^^

      Kalau soal cast, Chanyeol mungkin hanya akan jadi supporting cast karena saya lebih ngefeel membuat ff dengan main cast Jongin/Sehun. Tapi lihat saja ke depannya(?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s