When Our Love Came Suddenly (Chapter 12b)

When Our Love Came Suddenly

When Our Love Came Suddenly

(chapter 12b)

Author : Hwang Sung Ji and Xiu Yu Ri

Main Cast    :

  • Lin Da (OC)
  • Ayu (OC)
  • Kim Joon Myun a.k.a Suho EXO
  • Park Chanyeol a.k.a ChanYeol EXO

Other Cast :

  • All EXO Member
  • Shin Yunra a.k.a Chanyeol ex-yeojachingu

 

Genre : Happy, Romantic, Friendship, School life, Little Comedy

Length : Chapter

Rating : PG 16

 “Ya! Gwaenchana?” Xiumin menaruh tangannya di pundak Ayu yang tengah sibuk membersihkan darahnya dengan tissue.

“Gwaenchana, aku sudah sering seperti ini. Geokjong hajima!” bahkan yeoja itu masih sempat tersenyum walaupun terlihat sangat jelas jika wajahnya benar-benar pucat.

 “Wae..? kenapa kau seperti ini lagi? Kajja… kita bersihkan “ Lin Da hendak berdiri ketika Ayu menahannya.

“Lanjutkan saja makanmu eonni, aku akan membersihkannya sendiri. Lagipula ini tidak terlalu banyal. Mianhae, nan ttaemune. Mungkin kalian kehilangan selera makan karena melihat darahku.” Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan meja itu. Namun selang beberapa langkah tubuh Ayu limbung dan terkulai lemas.

BRUUKKK

“ Ayu-ya!!”

Chapter 12B

“ Ayu-ya!!”pekik semuanya. Chanyeol berdiri lalu berdiri menghampiri Ayu yang sudah tak sadarkan diri dan disusul yang lainnya.

“ Omo!! eotteokhae???” Lin Da khawatir melihat tubuh Ayu yang tak bertenaga.

“ Ayu-ya!! jebal sadarlah!! Ayu!!” kekhawatiran Chanyeol mulai menjadi saat Ayu benar-benar tak meresponnya, dia segera mengambil alih tubuh Ayu kemudian menggendonganya dan dibawanya menuju ke ruang kesehatan.

“ Oppa eotteokhaeyeo??” Lin Da terisak saat melihat kondisi lemah Ayu. Dia takut sesuatu yang berbahaya terjadi pada dongsaengnya itu.

Lin Da telah berjanji pada keluarga Ayu bahwa dia akan menjaga Ayu selama di korea, namun sekarang apa yang telah terjadi? Dia telah melanggar janjinya, dia tak bisa menjaga Ayu dengan baik. Lalu apa yang akan nanti dia katakana pada keluarga Ayu.

“ Chagiya, tenanglah. Gwanchana, aku yakin Ayu baik-baik saja.” Suho menenangkan Lin Da dengan mengelus punggungnya. Suho tahu saat ini Lin Da sangat ketakutan, dia tahu seberapa besar Lin Da menyayangi Ayu seperti adiknya sendiri.

.

.

.

“ Bagaimana keadaan Ayu?” Tanya Chanyeol setelah petugas kesehatan memeriksa Ayu.

“ Gwanchanna…ini bukanlah hal yang parah dan berbahaya. Hal ini sering dialami oleh orang-orang yang sistem imunnya lemah, dia akan mengalami mimisan saat tubuhnya kelelahan.” jelas petugas kesehatan.

“ Lalu?” kini berganti Lin Da yang bertanya.

“Mengingat kondisinya, lebih baik Ayu dibawa pulang. Saat ini yang dia butuhkan hanya istirahat yang cukup.” jawab petugas kesehatan yang sibuk tengah membereskan peralatan medisnya.

“ Ohh ne…gamsahamnida….” Suho membungkuk hormat diikuti oleh Chanyeol dan Lin Da.

“ Ahhh seperti yang dikatakan tadi, aku akan membawa pulang Ayu. Aku akan meminta ijin untuk pulang lebih awal dan merawatnya.” Ujar Lin Da seraya membenarkan selimut Ayu.

“Andwaeyo, biar aku saja yang membawanya pulang dan merawatnya, kau tetaplah mengikuti pelajaran.” Sela Chanyeol menyampaikan niatnya untuk merawat Ayu. Lin Da menatap chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tak yakin apakah Ayu akan baik-baik saja bersama Chanyeol?

“ Emmm…. “ Lin Da berdehem ragu.

“ Gwanchanna…. Percayalah padaku.” Ucap Chanyeol meyakinkan.

“ Geundae….” Lin Da benar-benar bingung harus menjawab apa.

Namun setelah melihat mata Chanyeol, Lin Da menemukan sebuah ketulusan terpancar di matanya, sepertinya Chanyeol sungguh-sungguh dengan perkataannya, dan Lin Da yakin Ayu akan baik-baik saja bersamanya. Tak mungkin jika Chanyeol berbuat hal yang tidak-tidak pada Ayu.

“ Hhhh…. Geurrae…. Jaga Ayu baik-baik arra? Ahh dan juga jangat berbuat macam-macam padanya Arraseo!!!“ Chanyeol tertawa saat mendengar pesan Lin Da yang terakhir.

“ Hahaha yak neo! Bagaimana bisa kau berfikir kalau aku akan berbuat hal yang aneh pada Ayu?? Mengapa kau sepervert ini hah? Aihhh Suho-ya!! apa kau sudah meracuni pikirannya?” Chanyeol mengejek Suho yang sudah membuka matanya lebar-lebar dan dengan mulut yang terbuka pula.

“ Neo…? Jinja….Dasar Idiot!!!” Suho menendang lutut Chanyeol hingga membuatnya meringis kesakitan.

.

.

.

Chamyeol tersenyum saat melihat Ayu yang masih tertidur di dalam mobilnya. Yap saat ini dia dalam perjalanan menuju ke apartemen Ayu dan Lin Da. Wajah Ayu walaupun diselimuti dengan raut kepucatan namun masih mampu menarik hati Chanyeol.

“ Bagaimana bisa Tuhan menciptakan yeoja semanis dirimu?” Guman Chanyeol, tangan kanannya menyibak surai rambut Ayu yang menutupi wajahnya yang menurutnya itu sangat mengganggu Chanyeol untuk memandang wajah Ayu.

“ OMO!! Kanapa badanya panas sekali???” Tanpa diberi komando Chanyeol menambah kecepatannya agar lebih cepat sampai di apartemen Ayu dan Lin Da.

“ Aiggoooo… Aku kan tidak tahu password apartemennya, bagamaina caranya aku bisa masuk? aisshhhh Paboya!!” Chanyeol menyalahakan kebodohannya ini, bagaimana bisa dia lupa menanyakan password apartemen Ayu. Chanyeol mengambil smartphone-nya untukk menghubungi Lin Da namun baterainya habis. Ahhhh lagi-lagi kesialan menghampirinya

Chanyeol tak kehabisan akal dia membanting stirnya dan memutar balik arah mobilnya menuju rumahnya. Dia akan membawa Ayu kesana, lagi pula disana akan lebih aman dan nyaman. Chanyeol dapat merawatnya dengan leluasa.

Chanyeol melirik kearah Ayu, dipandangnya wajah pucat itu, tidak dipungkiri sebelumnya Chanyeol tak pernah sekawatir ini, terlebih terhadap yeoja.

.

.

.

Tidur tanpa terusik sedikitpun dengan kenyamanan dan ketentaraman, itulah yang dialami gadis bernama Ayu ini. Dengan mata masih terpejam,ditambah selimut tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Disampingnya terdapat seorang pemuda dengan tubuh menjulang tinggi yang tengah duduk termenung, entah apa yang sedang difikirkannya

Mata bulat milik Chanyeol menyusuri wajah Ayu, tangannya mengepal bukan karena marah tapi karena gugup. Chanyeol sedang memikirkan bagaimana caranya mengganti seragam Ayu, apa dia yang harus melakukannya?

Chanyeol menggeleng keras, sedikit ada niatan untuk tidak mengganti seragamnya namun dia berfikir ulang Ayu pasti tak nyaman tertidur dengan baju seragamnya, terlebih lagi dia tengah sakit. Lihatlah buliran keringat dingin mulai keluar dari tubuh Ayu dan juga Chanyeol.

Chanyeol berdehem unutk menormalkan detak jantungnya, perlahan dia mendekat ke arah Ayu. Tangannya terulur untuk menyibak selimutnya. Dia menelan salivanya dengan kasar.

Ceklek!!

Seketika pandangan Chanyeol teralihkan pada seseorang yang telah menghentikan kegiatannya.

“ Noona!!” Gumam Chanyeol. Dia kembali menegakkan tubuhnya dan berusaha bersikap setenang mungkin

“ Chanyeol…. Apa yang akan kau lakukan?” teriak Park Yura, kakak perempuan Chanyeol.

Tangannya bergerak menutup bibirnya yang sedikit terbuka membatin-batin apa yang tadi hendak adiknya lakukan. “Hoksi, neo!! Ya!! Eomma dan appa tidak pernah mendidik kita untuk..”

“ Ahhh… Noona, dengarkan aku dulu, isshhh….. kenapa semuanya serba salah paham?” Chanyeol sedikit menggerutu. Dia menatap geram kakaknya itu. Sedangkan yang ditatap masih menampakkan wajah yang sulit diartikan.

“ Dengar okey… dia tengah sakit dan aku tak tahu password apartemennya. Maka dari itu… aku membawanya ke sini. Dan sekarang masalahnya adalah bagaimana caranya mengganti seragamnya itu? Tidak mungkin jika aku yang melakukannya, aku tidak seperti ahjussi mesum di luaran sana. Kau percaya padaku kan?” Chanyeol sedikit kawatir karena wajah Noona-nya yang masih menampakkan ekspresi terkejut bahkan tak bergeming sedikitpun.

Apakah Noona-nya itu tak percaya padanya dan akan melaporkannya kepada orang tuanya. Jika itu terjadi maka Chanyeol dapat memastikan kehidupan selanjutnya tak akan segemilang seperti yang selama ini dia jalani. Atau kalau tidak dia akan dibuang ke negara asing.

“ Tetap saja tadi kau berniat mengganti pakainnya! Jangan panggil kau noona lagi! Aku tidak memiliki adik byuntae sepertimu!!”

“Noona!! Jebal!!”

“Arra!! Baiklah kalau begitu biar aku yang melakukannya.” Sedikit lega hati Chanyeol saat noona-nya ternyata menawarkan bantuan.

Dia tersenyum senang bagaikan seorang penjahat yang keluar dari penjara. Yura berjalan menuju alamari Chanyeol.

“ Mwoanengoya?” Tanya Chanyeol saat Yura sedang sibuk memilih piyama miliknya. Senyum Yeoshi melebar saat dia berhasil menemukan piyama ysng cocok untuk Ayu, walau terlihat sedikit kebasaran tapi ini satu-satunya piyama yang paling kecil.

“Tentu saja mencari baju ganti untuknya bodoh!” Jawab Yura seraya berjalan kesisi tempat tidur. Chanyeol melangkah mundur saat Yura mengambil alih posisinya.

“ Kau tidak mau keluar huh? Apa kau ingin melihatnya?” Tanya Yura sambil menatap Chanyeol yang masih berdiri kaku di belakangnya.

Chanyeol gelagapan saat merasa Yura tengah menatapnya tajam. Tentu saja dia tak ingin melihatnya. Dia tak semesum Kai dan juga tak se-evil Sehun. Dengan cepat dia melangkahnkan kakinya keluar kamar.

Chanyeol menghembuskan nafas berat. Tubuhnya disandarkan pada daun pintu dengan tangan yang masih menggenggam knop pintu. Chanyeol memegang dadanya yang mulai berdetak kencang. Dia memejamkan matanya menepis pikirannya yang mulai liar *membayangkan sesuatu di balik seragam..ahsudahlah.

Ceklek!!

Tubuh Chanyeol terhuyung kebelakang saat seseorang membuka pintu kamarnya dari dalam. Chanyeol membalikkan badannya.

“ Kenapa kau di sini?” Yura mengangkat sebelah alisnya.

“ Ouh!! kau sedang mengintip kan? majayeo? Aish… dasar anak nakal… rasakan ini!!” Rintihan mulai keluar dari mulut Chanyeol saat Yura menghujamnya dengan cubitan sedengakan satu tangannya digunakan untuk menjewer telinga Chanyeol.

“ Ahhh yak Noona!! Appoyo!! Hajimaa!! Dweisseo!! Ahh Jebal!!” Rengek Chanyeol meminta Yura untuk melepaskan jewerannya. Yura menghentikan pergerakannya, dia tak tega dengan Chanyeol yang mereaung-raung seperti anak kecil.

“ Appo noona!!” Chanyeol mengusak kupingnya yang memulai memerah karena ulah kakaknya itu.

“ Wae? Kenapa Nona selalu berprasangka buruk denganku hah? Kau bahkan tak jauh berbeda dengan kakak tiri!!” Chanyeol menyampaikan keluhannya. Tangan Chanyeol dengan sigap menutup wajahnya saat melihat kakaknya bersiap untuk memukulnya.

“ Aigoo!! Aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu bodoh!” Yura menurunkan kembali tangannya. Chanyeol mengernyit heran melihat penampilan Noona-nya yang berpakaian rapi dengan tas berwarna silver bertengger cantik di genggaman tangannya.

“Eodigaji??” Chanyeol bersedak dada sambil melihat penampilan kakakanya itu dari atas hingga bawah. Yura mulai merasa risih karena ditatap terlalu lama oleh adik bodohnya itu.

“ Oh, aku mau pergi ke pesta temanku. Mungkin malam ini aku tak pulang, aku akan bermalam di rumah temanku. Na Kkanda!” Baru beberapa langkah Yura berbalik dan menatap tajam Chanyeol yang masih bersedekap dada di depan pintu.

“Jangan kau apa-apakan gadis itu atau kau akan ku bunuh!!” Pesan Yeoshi sebelum akhirnya gadis bertubuh tinggi seperti Chanyeol itu benar-benar hilang di pintu utama.

“Arraseoo!!” Jawab Chanyeo dengan sedikit berteriak agar noonanya dapat mendengarkannya. Tanpa dia sadari bibirnya tersenyum senang. Kali ini dia begembira atas perginya Yura, karena dengan begini dia akan berdua saja dengan Ayu, tidak ada yang dapat mengganggunya.

Walaupun di rumah Chanyeol banyak maid, namun mereka tak akan mengganggunya karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Entah mengapa Chanyeol menyukai situasi seperti ini, dimana hanya ada dia dan Ayu .

.

.

.

Drrtt…drtt…

Suho melirik smartphone-nya yang tersiampan rapi di kolong mejanya. Kedua alisnya menyatu ketika terdapat sebuah pesan. Dia mengangkat wajah, dia melihat Lee Seongsaengnim yang tengah sibuk menulis di papan tulis. Saat dirasa aman, Suho meraih smartphonenya untuk membaca pesan itu. Senyum evil tercetak jelas setelah dia membaca pesan itu.

“ Daebakk…” Gumamnya tak jelas, dia menaruh smartphone-nya kembali sebelum ketahuan oleh Lee seongsaengnim .

“ Nugu?” Tanya Lin Da dengan wajah masamnya. Dia berfikir yang mengirim pesan itu adalah seorang yeoja hingga berhasil membuat Suho tersenyum dan mengabaikannnya.

Suho menoleh, dia kaget ketika melihat muka Lin Da yang cemberut dengan bibir yang mengerucut lucu. Suho tahu apa yang di pikirkan yeoja itu, ahhh ternyata gadisnya itu cukup perasa dan sedikit sensitive

“ Nugu???” Lin Da mengulangi pertanyaannya karena Suho sama sekali tak menjawabnya dan malah memilih diam, apa benar pengirim pesan itu adalah yeoja makanya Suho tak berani mengatakannya.

“ Geurre…” Dengan cuek Lin Da menyangga dagunya dengan tangan kanannya. Matanya pura-pura sibuk memperhatikan Lee Seongsaengnim yang sedang berceloteh ria.

Namun pikirannya berlawanan dengan matanya, pikirannya tak setenang matanya. Dia sangat penasaran dengan orang itu, apakah dia pacar baru Suho? Mantannya? Teman dekatnya ? Atau…?

CUP

Lin Da tersentak kaget ketika sebuah sentuhan basah mampir di pipinya. Dia menatap pelakunya yang hanya menampakkan senyum manis tanpa suara.

“ Kau tenang saja. Bukan dari yeoja, ini dari Chanyeol…” Sekali lagi Lin Da tersentak kaget, bagaimana Suho tahu yang ada di pikirannya. Apa mungkin namja itu punya indra ke-enam.

“ Neo mwichoseo? Bagaiman kalau Lee seongsaengnim melihatnya tadi?” Tanya Lin Da seraya menangkup pipinya dimana bekas ciuman Suho.

“ Gwaenchanna? Dia lagi sibuk dengan omong kosonganya.” Lin Da memukul lengan Suho, benar-benar murid yang kurangajar.

“ Mwo? Kau bilang itu dari Chanyeol? Wae? Ada apa? Apa ada masalah dengan Ayu? Apa terjadi sesuatu dengannya? Apa dia baik-baik saja? Apa kondisinya semakin parah? Suho-ya wae…? “ Suho membekap mulut Lin Da yang tak henti-hentinya berkicau seperti burung.

Suho menaruh telunjuknya di bibirnya meminta untuk Lin Da menurunkan volumenya. Lin Da mengangguk paham. Perlahan bekapan Suho mulai mengendur.

“ Aniya, Ayu tidak apa-apa. Hanya saja saat ini Ayu berada di rumah Chanyeol. Karena Chanyeol tidak tahu password apartemenmu, makannya dia membawa Ayu ke rumahnya” Jelas Suho panjang kali lebar kali tinggi *lebay 😀

“ Apa tidak apa-apa? Aku takut Chanyeol melakukan sesuatu padanya.” Ujar Lin Da dengan polosnya. Kalau saja tidak sedang dalam pelajaran, tawa Suho pasti sudah meledak.

“ Kau tenang saja, selama Ayu tidak bersama Kai ataupun Sehun, aku yakin dia akan baik-baik saja.” Jawab Suho dengan sebisa mungkin menahan tawanya. Lin Da hanya menjawabnya dengan anggukan , dia mudah sekali percaya.

Chanyeol POV

Kupandang sosok berbibir mungil yang tengah tertidur pulas itu. Gadis itu, gadis bersurai panjang dengan poni yang hampir menutupi matanya. Aku sungguh mengagumi pahatan wajah ciptaan Tuhan yang satu ini. Lekuk wajahnya bagaikan candu bagiku. Entah mengapa hanya dengan melihatnya semua bebanku hilang seketika.

Seperti tersengat listrik dengan ribuan volt saat mata indah itu menatapku dan saat bibir mungil itu menggerutu dan mengerucut dengan gemas. Dan satu hal yang paling aku suka darinya. Yaitu senyum manis di bibir nan mungilnya, ahhh ingin rasanya aku untuk segera memilikinya. Namun ini lah aku, tak berani mengatakan perasaan ku sendiri.

Aku memang pengecut, aku takut jika gadis itu menolakku dan nantinya akan menimbulkan luka di hatiku. Ani jika dia hanya menolakku mungkin aku masih baik-baik saja, tapi jika dia menghindariku? Aku tak sanggup!

“ Eungh….” Lenguhan panjang keluar daru mulut mungilnya. Dia menutup matanya dengan tangannya karena terkena siluet sinar matahari.

Dia mengerang kecil seraya merenggangkan ototnya. Aku terkekeh melihat dia terlonjak kaget hingga membuat kompresan di dahinya jatuh saat menyadari keberadaanku yang berdiri tepat di sampingnya.

“Kau sudah sadar? Apa masih sakit?” Tanyaku sambil meletakkan semangkuk bubur dan air putih di nakas lalu duduk di sampingnya. Tanganku terlurur untuk menyentuh dahinya, namun dia malah beringsut mundur sambil mengeratkan selimutnya.

“ Wae..? kenapa kau ketakutan seperti itu? Apa aku menyeramkan?” Aku melihat penampilanku. Tidak ada yang salah. Lalu mengapa dia ketakutan seperti….

Aigooo aku tahu dia pasti berfikir kalau aku telah melakukan hal yang aneh padanya. Aku menarik lengannya untuk lebih dekat denganku.

“ Tenang saja, aku tak melakukan hal apa pun padamu, aku tak seberengsek itu!” Ujarku sambil mengambil bubur yang sempat kudiamkan tadi.

“ Mwo? Eumm… Mianhae” Gumamnya dengan tertunduk merasa bersalah.

“ Wae? Kau tidak salah” Tanganku yang tadinya sibuk mengaduk bubur kini ku alihkan untuk menyentuh dahinya.

“ Ahhh syukurlah panasnya menurun” Gumamku dengan sedikit mencuri pandang.

“ Kenapa kau membawaku kemari.??” Tanyanya yang kini sudah sepenuhnya sadar. Dia duduk bersila menghadapku dan itu semakin membuat jantung berdegup kencang.

“ Euummm, itu…. Aku tak tahu password apartemenmu jadi aku membawamu ke sini? Apa kau marah?” Tanyaku dengan sangat hati-hati. Kugaruk kepalaku yang tak gatal sama sekali. Dia tersenyum dan menggeleng keras.

“ Ani. Aku tidak akan marah padamu, justru aku sangat berterima kasih karena kau mau merawatku Chanyeollie..” Suara lembutnya mulai menyeruak ke dalam telingaku.

“ Cha Mokko…” Aku menyodorkan makanan ke mulutnya. Dengan senang hati dia melahapnya dengan semangat.

“ Emmm machita…apa kau yang membuatnya?” Dia berbicara dengan mulut yang penuh.

“ Aniya… aku tidak pandai dalam memasak. Kau tahu terakhir kali aku memasak kelas 1 SMP. Dan itu membuat dapurku hampir terbakar.” Aku menceritakan pengalaman masa laluku hingga berhasil gelak tawa lebar darinya.

“ Hahahaha… Neo? Pabo!!” Dia tertawa lebar sambil memegang perutnya.

“ Aishh…” Aku menyelipkan sesendok bubur tanpa sepengetahuannya sampai berhasil membuatnya bungkam dan berhenti tertawa.

“ Yak.. ehmm…” Dia ingin memakiku, namun dia urungkan mengingat mulutnya yang kini penuh dengan bubur.

“ Yak… Neo? Kau kasar sekali pada yeoja!” Ucapnya saat makanan yang memenuhi mulutnya berhasil dia telan walau sedikit kasar.

“ Hahahaha… Siapa suruh kau menertawaiku” Aku sebisa mungkin menahan hasratku saat bibir mungil itu mengerucut dengan sempurna. Biasakah yeoja itu tak melakukannya, itu semakin membuatku gila dan segera memilikinya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” Suara nyaring terngiang dia telingaku, aku menatapnya datar. Ayu, yeoja mungil itu malah menyilangkan tangannya di depan dada dan semakin membuatku bingung. Ada apa dengannya.

“ Chanyeol!!! Ishhhh…. Nappeundeo!!” Sedetik kemudian rasa sakit menjalar keseluruh tubuhku ketika dia dengan sangat brutalnya menghujamiku dengan bantal. Dia terus memukuliku tanpa kenal ampun.

“ Hiks… PABO!!! MESUM! JAHAT!!!” Dia menangis sambil mengataiku. Aku segera menghentikan pergerakannya. Dengan cekatan aku mengambil bantal darinya dan membuangnya jauh.

Kini aku melihat matanya yang basah tengah memandangku dengan sinis dan penuh kebencian. Hei, aada apa dengan yeoja ini? Mengapa tiba-tiba mengangis ? Apa aku telah menyakitinya.

“ah Wae? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Ada apa denganmu?” Aku berkata selembut mungkin agar tak melukai hatinya. Dengan sangat lembut kuhapus air mata itu. Sungguh hal yang aku benci darinya adalah air matanya. Aku benci saat dia menangis karena itu sama saja berarti aku gagal melindunginya.

“ Kau jahat Chanyeol. Kenapa kau melakukan ini padaku? Hiks…” Dia semakin mengeratkan genggamannya pada ujung piyama yang dia kenakan. Aku masih tak mengerti apa maksudnya. Memangnya apa yang telah aku perbuat. Menyentuhnya saja tidak.

Tunggu! Menyentuhnya?

Aku mengerang frustasi. Aku sudah paham masalahnya. Ini berhubugan dengan piyama yang dia kenakan. Aku menangkupkan kedua pipinya dan menatap sepasang matanya dalam-dalam.

“ Dengar baik-baik. Bukan aku yang melakukannya, tapi Noona-ku. Aku meminta bantuannya untuk mengganti seragamu. Aku tak tega melihat tidurmu yang tak nyaman dengan seragamu itu. Apa aku salah?” Aku menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya. Aku tak akan membiarkan dia salah paham dan mengakibatkan hubungan kita renggang. Aku tak siap jika jauh darinya.

Senyum tak bisa lagi kubendung saat yeoja manis itu menggelengkan kepalanya dengan malu. Mungkin dia malu karena telah menuduhku yang tidak-tidak. Benar-benar yeoja yang sangat menggemaskan dengan sikap polosnya itu.

“ Gomawo Chanyeolie… Mian” Ucapnya dengan masih tertunduk. Kuraih dagunya dan ku usap surainya dengan lembut.

“Lupakan! Cha…” Aku menyuapinya kembali dan di terimanya dengan senang hati hingga menimbulkan matanya melengkung indah seperti bulan sabit.

Author POV

“ Oppa mampir ke supermarket dulu ne!” Titah gadis surai hitam dengan khas lesung pipinya ketika tersenyum. Lin Da dan Suho kini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Chanyeol. Yap setelah pulang dari sekolah mereka berdua memutuskan untuk ke rumah Chanyeol sekalian menjemput Ayu.

“ Ahh ne…” Suho segera mengindahkan perkataan Lin Da. Dia membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket di pinggir jalan.

“ Kajja…” Lin Da tersenyum manis ketika melihat Suho sudah membukakan pintunya terlebih dahulu.

“ Gomawo… Oppaa” Suho mengumpat rasa gemasnya saat melihat pipi Lin Da yang merona merah karena sikap manisnya.

Dia segera menyamakan langkahnya dengan Lin Da. Dan tanpa Lin Da sadari tangan Suho sudah terpasang dengan indahnya di pinggangnya. Memeluknya dengan possesive seakan menandakan kalu dia adalah milik Suho seorang.

“ Kau mau beli apa?” Suho menatap bahan-bahan makanan di sekilingnya. Saat ini dia lebih mirip seperti seorang suami yang tengah mengantarkan istrinya berbelanja. Bagaimana tidak, Suho dengan lapang dada mendorong troli.

“ Molla… aku bingung mau beli apa?” jawaban Lin Da sukses membuat Suho tertawa, kalu dipikir-pikir otak Lin Da sama seperti Lay.

“ Hahaha… kau ini lucu sekali kau memintaku untuk mampir ke supermarket, tapi kau tak tahu apa yang harus kau beli?” Suho masih tertawa karena kelakuan polos Lin Da.

“ Oppa… apa ini enak?” Tanya Lin Da sambil menunjukkan sebungkus Bugeoppang. Sekedar informasi bungeoppang adalah roti ikan mas khas korea. Suho berhenti tertawa, dia mengambil bungeoppang dari tangan Lin Da.

“ Ya ini sangat enak… wae? Kau mau mencobanya?” Lin Da mengangguk antusia. Suho memasukkan dua bungkus bungeoppang kedalam troli.

Sudah dua puluh menit mereka menghabiskan waktu di supermarket ini. Dengan sabar Suho menemani Lin Da yang masih bingung memilih makanan yang dia beli. Sepertinya gadis itu mengalami kesulitan karena tak tahu sama sekali bahan-bahan untuk membuat makanan korea.

Namun dia tak kehilangan akal. Untuk apa dia di sekolahkan jauh-jauh dari negaranya kalau otaknya tak cerdas. Lin Da mengeluarkan Smartphone-nya dan mencari resep makan korea melalui internet.

“ Chagi.. aku kesana dulu ya…” Lin Da hanya meresponnya dengan anggukan tanpa melihat Suho yang sudah pergi meninggalkannya sendiri. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.

“ Ah itu dia…” Lin Da berjinjit untuk menggapai minyak wijen yang berda di rak paling atas.  Tentu saja dia tak akan bisa menggapainya mengingat tubuhnya yang pendek itu. Lin Da menggerutu sebal, dia benci dengan tubuhnya yang pendek. Ayu saja belum tentu bisa menggapainya apalai dia.

Dia masih tidak menyerah dengan semaksimal mungkin dia berjinjit setinggi-tingginya hingga membuat tubuhnya tak seimbang. Tubuh Lin Da limbung dan terhuyung kebelakang. Lin Da memjamkan matanya, dia tahu kalau sebentar lagi tubuhnya akan jatuh di lantai keras dan dingin.

Namun apa yang terjadi, dia tidak merasakan sakit apapun. Tunggu!! Dia merasa saat ini pinggangnya tengah di peluk oleh seseorang. Lin Da mulai membuka matanya perlahan.

Waktu seperti berhenti berputar. Sepasang mata itu menangkap wajah seorang namja yang telah menolongnya. Namja berkulit putih, namun tak seputih Suho ditambah surai rambutnya yang berwarna coklat tua.

Lin Da segera menegakkan tubuhnya kembali. Suasana mulai canggung di antara mereka berdua. Dia merutuki kebodohannya sendiri, sungguh ini sangat melakukan.

“ Euhmm gamsahamnida…” Lin Da menundukkan kepalanya sedikit membungkuk.Namja itu hanya tersenyum hingga mengeluarkan karismanya. Jika saja tak ada orang yang menangkapnya, Lin Da sudah menjamin tubuhnya kini dengan indah mendarat ke lantai yang sangat keras.

“ Sama-sama lain kali hati-hati” Namja itu dengan beraninya mengusap poni Lin Da seolah dirinya sudah mengenalnya sejak lama. Padahal dia baru saja bertemu dengan Lin Da.

“ Mian telah merepotkanmu…” Ada sikit rasa tak enak hati memang.

“ Aniya aku sama sekali tak merasa direpotkan, justru aku senang bisa membantu gadis semanis dirimu” Lihatlah bahkan namja ini sudah berani menggombali Lin Da.

Untung saja Lin Da bukan gadis yang dengan mudah terbuai oleh rayuan seseorang. Dia masih sadar kalau dia milik Suho, lagipula dia tak memilki ketertarikan sama sekali dengan namja yang ada di hadapannya saat ini.

“ Lin Da? nama yang unik.” Gumam namja itu sambil mengeja name tag di seragam Lin Da. Lin Da hanya tersenyum untuk menjaga etikanya.

“ Nae irreumeun Minho, Choi Minho” Lin Da membalas uluran tangan Choi Minho dengan senang hati.

“ Ah kurasa aku harus pergi…” Minho melirik jam tangan yang melingkar di tanganya. Lin Da dapat memastikan pasti namja ini memilki janji dengan seseorang. Sudah dapat dilihat melalu wajahnya yang sangat kentara.

“ Annyeong…” minho melambaikan tangannya dan berlari meninggalkan Lin Da. Ah lagi-lagi dia sendirian. Lin Da mengedarkan penglihatannya mencari keberadaan Suho. Kenapa namja itu lama sekali, Lin Da mendecak sebal.

“ Doorr…” Lin Da terlonjak kaget. Dia menoleh memandang kesal Suho yang sudah membuat jantungnya hampir copot. Suho meringis saat Lin Da memukul bahu Suho dengan keras.

“ Kenapa lama sekali?” rengek Lin Da seraya menyiakan tangannya di depan dada menandakan kalau dia tengah marah.

“ Mianhe chagi… jangan marah ya” Suho melancarkan aksi aegyeo-nya namun sama sekali tak berpengaruh pada Lin Da. Justru gadis ini ingin muntah saat melihat aksi Suho yang menurutnya sangat menjijikkan.

“ Ahh Sudahlah… apa kau sudah selesai?” Lin Da hanya mengangguk sepertinya moodnya benar-benar buruk saat ini. Suho tak mau ambil pusing, dia mencari aman dan memutuskan untuk menyudahi kegiatan belanja mereka.

.

.

.

Berlindung di bawah selimut, itulah yang gadis ini lakukan. Ayu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal hingga menyisakan kepalanya. Dia bangun mengubah posisinya menjadi duduk namun tetap tak melepaskan selimutnya. Bahkan kini dia mirip seperti kepompong.

Ayu memperhatikan Chanyeol yang tengah sibuk mengobrak abrik isi lemarinya. Dia menikmati sikap Chanyeol seperti tengah menonton tontonan gratis. Dengan menumpukan dagunya pada bantal yang dia peluk erat, Ayu memperhatikan kesibukan Chanyeol.

“ Mwoanengoya?” Akhirnya Ayu membuka mulut setelah sekian lama dia hanya melihat sikap membingungkan Chanyeol.

“ Akhirnya ketemu juga” suratan gembira muncul di wajah Chanyeol ketika dia berhasil menemukan benda yang dicarinya itu. Kedua alis Ayu saling bertemu setelah melihat sebuah benda kecil di junjung tinggi-tinggi oleh Chanyeol.

“ Aigooo ternyata hanya karena sepasang kaos kaki kau menghancurkan isi lemarimu itu huh?” Ayu bergumam sambil memutar bola matanya.

“ Yeah, kau tahu? ini kaos kaki favoritku sewaktu aku kecil. Ini pemberian dari harabojiku. Tapi sayang aku tak bisa memakainya karena ukuran kakiku sekarang.” Jelas Chanyeol yang entah sejak kapan kini tengah sibuk memakaikan kaos kaki itu pada Ayu.

“ Ini musim dingin kau pasti kedinginan. Aigooo bahkan kakimu ini hampir membeku” Chanyeol terus mengoceh tanpa menghiraukan tatapan Ayu.

“ Daebakk… ternyata ukuran kakimu sama seperti kakiku waktu kecil. Semungil itukah kamu? Hahahaha” Gelak tawa itu berhasil membuat Ayu marah. Gadis itu mempoutkan bibirnya.

“ Yak! Hajimanlago…Aku bukan mungil!!” Ayu benar-benar benci kata-kata mungil. Dia sedikit sensitive dengan kata itu. Karena menurutnya di dunia ini yang mungil hanyalah eonninya.Yap, dia sering mengatai Lin Da dengan sebutan mungil, hingga tak jarang membuat mereka bertengkar karena hal yang sepele.

“ Aigoooo uri Ayu-ya, neomu kyeopta!” Ayu meringis saat Chanyeol dengan gemasnya mencubit kedua pipi Ayu hingga menimbulkan warna merah di sana.

“ Aishhh… itu bukan karena kakiku yang mungil tapi… kau saja yang raksasa!!!” Bagus Ayu telah memiliki julukan baru untuk Chanyeol.

“ Raksasa? Kau mengataiku raksasa? Aishh jeongmal…. Mungil!” Chanyeol menggelitiki pinggang Ayu. Gadis itu tentunya meronta-ronta. Tubunya menggeliat kegelian, air mata mengumpul di pelupuk matanya karena terus tertawa.

Tawa mereka menjadi satu menggemakan seluruh penjuru kamar Chanyeol. Namja berperawakan tinggi ini tak berniat untuk menghentikan kegiatannya. Tanpa mereka sadari, saat ini posisi mereka sangatlah eumm errr mungkin orang yag melihatnya aan berfikir yang tidak-tidak.

Posisi Chayeol kini berada di atas dan tubuh Ayu di bawahnya. Sebenarnya jarak mereka tidak begitu dekat, masih ada rongga diantara Chanyeol dan Ayu. Namun jika dilihat dari jauh, posisi mereka sangatlah bahaya dan rawan menimbulkan fitnah dan juga kesalah pahaman.

Tiba-tiba Chanyeol menghentikan aksinya. Matanya seperti kelereng itu sibuk menelusuri lekuk wajah Ayu. Seperti ada yang mendorongnya, Chanyeol semakin lama semakin mendekatkan wajahnya ke arah Ayu. Gadis itu diam tak bergeming, kenapa selalu berakhir seperti ini.

Dia tak tahu lagi harus berbuat apa, tangannya ingin mendorong tubuh Chanyeol namun entah kenapa tiba-tiba tangannya melemas seperti tak ada tenaga. Seluruh tubuhnya seolah-oleh berhenti berkeja sampai ke sel-sel terdalam.

 

TBC

Iklan

2 thoughts on “When Our Love Came Suddenly (Chapter 12b)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s