Bittersweet : Call You Mine

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Jongin as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast :

  • EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chapter, currently 10

Previous chapters : The CircleHe’s My BoyfriendI Hate YouA Weird DreamApologyWhat IfShe’s My GirlfriendStupid, Dumb, IdiotTruth Or Dare |

Author note : Lewat komentar di chapter-chapter sebelumnya, shippernya masih sama-sama kuat ya antara Kai-Seul dan Hun-Seul. Saya heran kenapa gak ada yang ngeship Kai-author *plak* semoga update-an ini tidak mengecewakan ya.

^^Selamat Membaca^^

Jongin ceroboh. Semua bayangan tentang Seulgi dan Sehun, juga bagaimana Seulgi terus memaksanya untuk bertahan dengan Soojung, hanya membuat rasa sakitnya makin menyesakkan. Dia sudah tak peduli apa resiko yang akan dihadapi setelah menyatakannya—dengan emosi—pada Seulgi. Kini mereka berdua di dalam mobil, dengan amarah masing-masing, Jongin menatap tepat di bola mata gadis yang membuatnya gila belakangan ini, dan gadis itu juga balas menatapnya. Ada genangan air mata yang nyaris jatuh dari mata indahnya. Tidak, Jongin tidak ingin melihat itu. Sebegitu burukkah dirinya hingga yang bisa dia lakukan hanya membuatnya menangis? Maka pantaslah jika nantinya Seulgi memilih bersama Sehun. Karena Sehunnya selalu membuatnya bahagia. Sehunnya selalu membuat senyumnya merekah. Sehunnya tidak seburuk dirinya, yang malah membuatnya menangis.

“Abaikan…” Jongin mengusap wajahnya, frustasi. Lalu mengambil rokok dan pemantik dari dasbor mobil, menyalakannya. Dia terlalu kalut. Satu kali hisapan dan hembusan asap rokok, kemudian Jongin melempar kasar pemantik yang apinya sudah ia padamkan. Saat ia hendak menghisap rokok untuk kedua kalinya, tiba-tiba tangan Seulgi menggenggam bara api dari ujung rokok itu hingga padam. “Apa kau sudah gila?” bentaknya, murka. Dia langsung membuka genggaman tangan Seulgi dan membuang jauh-jauh rokok itu dari sana. Tangan Seulgi sudah terluka. Bagus sekali. Kini dia melukai tangan berharga gadis yang dia cintai.

“Jongin-ah… aku tidak tahu kau merasa kesulitan selama ini.”

Tidak, jangan dengan suara bergetar itu. Jongin tidak bisa mendengarnya. Seulgi mungkin akan meminta maaf dan mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukan apa pun untuk perasaannya. Lalu dia akan ditinggalkan dengan sangat menyedihkan.

“Kita ke rumah sakit dan mengobati tanganmu,” Jongin menyalakan mesin mobil lagi.

“Aku juga tidak mengerti kenapa dan apa perasaanku padamu. Tapi aku… selalu memimpikanmu, Jongin-ah. Seringkali aku merasa iri pada Soojung yang bisa memilikimu dan menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Bahkan aku mulai membayangkan Sehun itu adalah dirimu.”

“Jangan mengatakan apa pun. Tanganmu terluka.”

“Jongin-ah…” suara Seulgi makin bergetar. Jongin sangat yakin air matanya mengalir sekarang. “Bagaimana ini—sepertinya aku juga menyukaimu.”

“Diamlah…” Jongin menyetir secepat mungkin yang dia bisa untuk mencapai rumah sakit. “Jika kau terus mengatakannya, aku khawatir tidak bisa melepaskanmu.”

“Lalu aku harus bagaimana? Kau tidak ingin aku mengatakannya tapi kau sendiri telah menyatakan perasaanmu padaku. Kau ingin aku tersiksa karena rasa bersalah?”

Persetan dengan kecerobohan dan kegilaan. Jongin tidak punya banyak waktu untuk berpikir tentang orang lain, entah itu Soojung atau Sehun. Dia menghentikan mobilnya lagi dan membungkam bibir Seulgi dengan bibirnya. Untuk membuatnya diam. Karena sungguh, sekarang dia tidak akan pernah melepaskan Seulgi. Dia bersumpah.

***

Seulgi bersikeras untuk tidak ke rumah sakit dengan meyakinkan Jongin bahwa dia bisa merawat lukanya sendiri. Maka Jongin hanya mengantarnya ke apotik untuk membeli alat dan bahan yang dia butuhkan. Dia biarkan Seulgi membubuhkan sesuatu—mungkin obat—entah apa itu karena dia hanya terus menyetir.

“Eh? Ini kemana?” tanya Seulgi saat mendapati jalan yang mereka lalui cukup asing baginya. Tangannya sudah terbalut dengan rapi. Beruntung sekali dia kuliah kedokteran sehingga tahu bagaimana menghadapi situasi mendadak ini.

“Rumahku,” jawab Jongin singkat.

“Hah?”

“Jangan temui Sehun dulu besok.”

“Tapi—“

“Kita sampai.”

Mobil Jongin berhenti di sebuah halaman luas yang mengitari rumah besar. Seulgi jadi tahu, ini bukan rumah orang sembarangan. Jongin turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil. Sejenak Seulgi tampak bingung—hanya duduk diam hingga Jongin menggenggam tangannya.

“Aku tinggal sendirian,” ucapnya kemudian.

Seulgi diam saja, dan Jongin terus menggenggam tangannya hingga ke dalam rumah. Memang benar sepi, rumah itu tampak lengang.

“Kau benar-benar sendirian di rumah sebesar ini?”

“Aku anak broken home,” jawab Jongin. “Sebenarnya bersama ayahku, tapi dia selalu sibuk. Nyaris tidak pernah pulang. Dan pelayan, aku terbiasa menyuruh mereka beristirahat pada jam 10 agar aku merasa tenang.”

“Kau kesepian?”

“Sekarang tidak,” Jongin menggendong Seulgi ala bridal, menaiki tangga.

“J-Jongin-ah….”

“Hm?”

“A-aku tidak yakin ini benar….”

“Ini memang kesalahan,” tanpa mempedulikan wajah Seulgi yang ketakutan, dia terus membawa gadis itu melewati banyak pintu hingga tiba di kamarnya.

“A-aku memang menyukaimu, tapi tidak untuk seperti ini, Jongin-ah….”

“Lalu kau ingin yang seperti apa?” Jongin merebahkan Seulgi di tempat tidurnya. Wajah gadis itu makin terlihat pucat dan takut. Hampir saja membuat tawa Jongin meledak.

“Aku belum pernah….”

“Boleh kan aku memelukmu seperti ini?” Nyatanya Jongin hanya berbaring di sebelahnya, memeluk Seulgi erat. “Sudah lama ingin melakukannya.”

Dia bisa merasakan helaan nafas lega Seulgi dalam dekapannya, juga tanggannya yang perlahan—walau masih terasa gugup—balas memeluknya. Dia merasa hangat.

“Jongin-ah….”

“Hm?”

“Kenapa kau menyukaiku?”

“Sama halnya dengan kenapa kau menjadi pacar Sehun.”

“Aku tidak ingin membahas dia di sini….”

“Sungguh?” Jongin memperlonggar pelukannya, menarik dagu Seulgi agar kepala gadis itu mendongak. “Jadi kau siap meninggalkannya untukku?”

“Bukan begitu….”

Satu kali. Jongin merasa sakit.

“Baiklah, hanya membahas tentang kita di sini,” dia meraih tangan Seulgi yang terbalut kasa putih, meletakkannya di pipinya. “Masih sakit?”

Seulgi menggeleng. Ia biarkan tangannya berada di pipi Jongin sembari perlahan mengusapkannya. “Apa aku selalu menyakitimu?”

“Hampir setiap saat.”

“Maaf….”

Lalu mereka terdiam. Hanya kedua tatap yang bertemu, dan sentuhan lembut tangan Seulgi di pipi Jongin.

“Jadi milikku, Seulgi-ah…” ucap Jongin lirih, setelah beberapa saat dalam hening.

“Bagaimana dengan Soojung?”

“Kita pikirkan itu nanti. Asal aku bisa memilikimu.”

Raut wajah Seulgi terlihat cemas. Jongin tahu, bukan Soojung satu-satunya yang ia kawatirkan. Seulgi pasti memikirkan Sehun di atas segalanya. Dia sadar, dirinya hanya satu pengacau yang tak tahu diri.

“Aku belum bisa memberi kepastian, Jongin-ah,” Seulgi menarik tangannya dari pipi Jongin, kemudian bangun dari pembaringan dan duduk di tepi ranjang.

“Aku tidak akan memaksamu meninggalkan Sehun. Hanya beri sedikit waktumu untuk bersamaku. Beri sedikit cintamu untukku,” pinta Jongin. Dia sudah seperti pengemis yang menyedihkan sekarang. Mengharapkan belas kasihan dari Seulgi.

“Bisakah antar aku pulang saja?”

Dua kali. Jongin merasa sakit.

“Ini sudah menjelang pagi. Aku bisa mengantarmu besok—“

“Sehun akan menjemputku besok pagi,” Seulgi menoleh dengan wajah—iba? “Kalau aku tidak ada di apartemen, dia akan bertanya-tanya dan merasa khawatir. Maafkan aku.”

Tiga kali. Jongin merasa sakit. Ayolah, Kim Jongin. Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang mungkin akan kau dapatkan selanjutnya.

“Tidak masalah, aku mengerti. Akan ku antar kau pulang.”

***

Jongin tertawa geli saat melihat wajah datar dan mengantuk Chanyeol terpampang di hadapannya. Dia memang tidak tahu diri, menelpon hyungnya dengan suara seperti orang sekarat agar pemuda itu langsung datang—padahal masih jam 5 pagi.

“Seharusnya aku membawa tongkat baseball dan memukul kepalamu hingga benar-benar sekarat.”

“Aku punya di kamar, ambil saja dan lakukan,” kata Jongin, tertawa keras.

“Ini tidak lucu,” Chanyeol memutar bola matanya. “Cepat katakan sebenarnya ada apa.”

“Sepertinya aku baru saja ditolak, hyung.”

“Jadi kau sudah menyatakannya?” rasa kantuk Chanyeol hilang total.

“Begitulah.”

“Lalu?”

“Dia bilang, dia juga menyukaiku.”

“Lalu?”

“Tapi aku tahu dia masih sangat mencintai namja itu.”

“Aku turut berduka,” seolah cerita itu sudah tidak menarik lagi, Chanyeol menguap lalu berbaring di sofa.

“Justru semakin membuatku tidak ingin melepaskannya.”

“Melepaskan apa, kau bahkan belum mendapatkannya. Sadarlah….”

“Hyung, rasanya sakit.”

“Sudah ku katakan sebelumnya,” Chanyeol kembali memutar bola matanya—walau Jongin tidak melihat itu. “Kalau kau tidak bisa membuatnya memilih, maka selamanya kau akan berada dalam penderitaan.”

“Apa ini karma, hyung?”

“Karma dari mana? Aku tidak terlalu percaya karma.”

“Mereka bilang aku telah banyak menyakiti Soojung.”

“Ku rasa memang benar ini karma.”

“Tak apa lah,” Jongin bersandar sepenuhnya pada sandaran kursi. “Aku yakin pada akhirnya bisa memiliki Seulgi.”

“Seulgi? Namanya Seulgi?” tanya Chanyeol.

“Iya. Nama yang cantik, bukan?”

“Ya, ya, apa pun jadi cantik saat kau jatuh cinta.”

“Aku mencintainya, hyung. Ku rasa aku tidak bisa hidup tanpa dia,” Jongin menatap langit-langit ruang tamu.

“Aku tidak tahu seseorang sepertimu bisa begitu cheesy. Aku jadi mengantuk. Hoam.”

“Aku akan mengenalkannya padamu maka kau akan setuju dengan ucapanku.”

“Lakukan apa saja, aku mau melanjutkan tidurku yang telah kau hancurkan,” Chanyeol berbaring menghadap sandaran sofa, memunggungi Jongin tepatnya.

“Hyung, aku mencintainya.”

Lalu sebuah bantal mendarat tepat di wajah Jongin.

“Diamlah.”

***

“Sayang, tanganmu kenapa?” sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Sehun kala mereka makan siang bersama. Sedari tadi dia kurang memperhatikan tangan Seulgi, jadi baru sadar ada kasa putih yang membalutnya saat gadisnya memainkan ponsel.

“Oh—ini? A-aku tidak sengaja terbakar saat praktikum mikrobiologi kemarin,” jawab Seulgi, yang menurut Sehun agak ganjil. Jika memang alasannya adalah kecelakaan saat praktikum, bukankah seharusnya dia tidak perlu gugup dalam menjawabnya?

“Benarkah?” Sehun menaikkan sebelah alis. “Harusnya kau lebih berhati-hati.”

“Tidak apa-apa, sudah diobati kok,” dia menampakkan senyum mata bulan sabitnya.

“Sini ku obati,” Sehun meraih tangan Seulgi dan menempelkannya di pipi. “Lihat, jadi tidak nyaman kalau terbalut kasa begini.”

“Ini hanya luka kecil, akan cepat sembuh.”

“Iya, harus segera sembuh,” kemudian Sehun mengecup telapak tangan yang masih beralaskan kasa itu. “Mau makan malam bersama?”

“Tentu saja. Kelasku berakhir jam 6.”

“Baguslah, aku akan menjemputmu nanti.”

***

Dalam perjalanan pulang, Jongin menyempatkan diri untuk membeli bunga. Pada dasarnya dia bukan pemuda yang biasa melakukan hal romantis seperti dalam drama Korea. Tapi karena Seulgi, dia melakukannya. Menurut cerita Seungwan, Sehun adalah pemuda yang sangat romantis, seringkali memberi kejutan manis untuk Seulgi. Dia belajar menjadi seperti Sehun—paling tidak mencoba—karena mungkin dengan begitu, dia bisa menggantikan posisi Sehun di hati Seulgi sepenuhnya.

Dan kenapa malam ini dia membeli bunga? Tiba di rumah, dia menyuruh semua pelayannya untuk menyiapkan makan malam istimewa dengan sentuhan romantis. Beberapa dari mereka tersenyum senang, karena selama ini Jongin nyaris tidak pernah makan di rumah. Mereka merasa berguna.

Setelah semuanya siap, barulah dia mengirim pesan singkat pada Seulgi.

[Text to Seulgi]

Makan malam bersama? Aku akan menjemputmu.

Dia menunggu balasan sambil memandangi bunga yang akan ia berikan pada Seulgi.

[Reply from Seulgi]

Jongin-ah, maaf. Aku sudah janji makan malam bersama Sehun. Lain kali saja ya.

Sakit lagi. Jongin hanya bisa tertawa pelan dengan menyedihkan. Apa yang dia pikirkan hingga dengan percaya diri mengajak Seulgi makan malam bersama? Seperti Seulgi hanya miliknya saja. Dia lupa tentang Sehun yang masih memegang hak tertinggi atas hati Seulgi.

“Sepertinya kau harus dibuang,” kemudian ia melemparkan bunga cantik itu ke keranjang sampah yang terletak di dapur.

[Text to Chanyeol]

Hyung, datanglah ke rumah. Ada banyak sekali makanan, aku tidak bisa menghabiskannya sendirian.

***

Keesokan harinya pun sama. Jongin harus selalu bersabar dan mengalah. Rasanya sulit untuk mendapatkan waktu Seulgi hanya untuk dirinya. Dia tidak bisa memprotes. Malam itu, secara tidak langsung dia telah mengatakan bahwa dia bersedia menjadi yang kedua. Walau Seulgi tidak mengiyakan, tidak juga memberi penolakan.

“Ada apa, Jongin-ah?” suara Seulgi dari seberang, saat suatu waktu Jongin menelponnya.

“Hanya ingin tahu keadaanmu,” jawabnya berbasa-basi.

“Bukankah tadi kita bertemu saat rapat The Circle?”

“Ya—benar juga sih.”

“Ada sesuatu yang ingin kau katakan?” tanya Seulgi, seperti memahami sesuatu di balik telpon Jongin.

“Seulgi-ah, aku merindukanmu,” ucap Jongin—pada akhirnya. Setelah beberapa hari menahannya, dia tidak bisa bersabar lagi. “Tapi aku tidak akan memaksamu.”

“Kita mengobrol di dalam mobil saja? Aku sedang di apartemen sekarang.”

Jongin melompat saking senangnya. “Baiklah, aku segera datang. Tidak akan lama.”

Terdengar suara tawa pelan Seulgi. “Bawa makanan ya, aku lapar.”

‘Apa pun, akan ku bawakan untukmu,’ batin Jongin setelah mendengar permintaan Seulgi, merasa dirinya telah mendapatkan tempat yang cukup istimewa di hatinya. “Ayam dan soda? Atau eskrim?” tanya Jongin, memberi pilihan yang aman untuk Seulgi karena gadis itu tidak kuat minum.

“Semuanya juga boleh.”

“Aku dalam perjalanan,” Jongin telah mengambil kunci mobil dan jaketnya, berlari ke arah mobil.

“Hati-hati,” pesan Seulgi, sebelum sambungan terputus.

***

Kencan di dalam mobil sepertinya jadi sangat berharga bagi Jongin. Entah Seulgi juga menganggap ini kencan atau tidak. Dia terus memandangi Seulgi menghabiskan ayam yang dia bawa.

“Kenapa melihatku begitu?” tanya Seulgi dengan salah tingkah.

Jongin mengusap sisa saus di sudut bibir Seulgi dengan ibu jarinya.

“Kau kelaparan ya,” dia terkekeh.

“Hm… sedikit,” jawab Seulgi sebelum menghabiskan potongan terakhir ayamnya. “Tidak apa-apa kan, kita hanya bisa bertemu seperti ini. Aku takut Sehun tiba-tiba datang….”

“Tidak apa-apa. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Soojung segera.”

“Jangan…” wajah Seulgi terlihat ketakutan.

“Kau takut padanya?”

“Aku tidak tega. Dia sangat mencintaimu. Lagi pula, dia mengenalmu lebih lama. Aku kan hanya orang baru.”

“Tapi aku mencintaimu,” tangan kanan Jongin menyentuh pipi Seulgi, mengusapnya.

“Jangan katakan itu—“

“Aku bersungguh-sungguh, Seulgi-ah.”

“Aku belum tahu mencintaimu atau tidak. Dan membicarakan ini hanya membuatku makin merasa bersalah.”

“Kalau begitu kita tidak akan membicarakan ini lagi,” putus Jongin, dan selanjutnya Seulgi hanya terdiam. “Kau kelihatan tidak nyaman bersamaku, apa yang kau pikirkan? Sudah ku katakan aku tidak memaksamu meninggalkan Sehun—“

“Bagaimana kalau Soojung tahu tentangku?” potong Seulgi.

“Aku tidak akan pernah membiarkannya tahu. Itu janjiku,” dia menggenggam tangan Seulgi. “Cukup berada di sisiku, dan biarkan aku yang menanggung semua konsekuensinya sendirian.”

Seulgi kembali diam, tidak merespon. Masih ada kekhawatiran di wajahnya. Jongin mengerti, gadis baik-baik seperti Seulgi tentu merasa kesulitan melewati ini. Secara tidak langsung, Jongin telah memaksanya untuk berkhianat, bukan? Entah sampai kapan rasa sakit ini ia tanggung, Jongin tak peduli. Dia masih berharap ada masa depan yang baik untuk dirinya dan Seulgi.

***

PLAK

Sebuah tamparan keras di pipi Jongin, terasa panas tapi senyum miringnya tidak hilang. Soojung—yang menamparnya—menahan geram dengan nafas memburu.

“Apa kau bahkan punya hati?” murka Soojung tergambar jelas lewat kedua matanya. Gadis itu tidak menangis, walau mungkin hatinya teriris begitu parah.

“Jadi kau lebih memilih aku berbohong padamu?” tanya Jongin tak acuh, suaranya datar dan tenang.

“Lalu setelah semua yang ku berikan padamu, ini yang ku dapatkan? Dicampakkan oleh pacarku yang bejat karena dia menyukai gadis lain?”

“Kau tahu aku bejat tapi masih ingin hidup denganku? Ku rasa kau tak sebodoh itu.”

“Kim Jongin!” seru Soojung semakin murka. “Kau membuatku sangat sangat mencintaimu. Harusnya kau bisa sedikit saja menghargai perasaanku.”

“Aku tidak bisa berpura-pura mencintaimu sementara hatiku telah teralihkan. Kau menerimanya atau tidak, kita sudah berakhir sekarang,” Jongin menelusupkan kedua tangannya di saku jaket hoodie sebelum berlalu dari hadapan Soojung.

Tapi tangan Soojung menahannya.

“Kalau begitu katakan siapa.”

“Siapa?”

“Gadis itu. Aku ingin tahu siapa.”

“Bukan urusanmu,” Jongin hendak melepaskan tangan Soojung, tapi gadis itu mencengkeram lebih kuat.

“Aku ingin tahu sesempurna apa dia hingga bisa menggantikanku. Aku berjanji, tidak akan melakukan apa pun padanya.”

“Kau tidak akan melakukan apa-apa. Tapi ‘keluarga’mu yang gila itu tidak akan diam saja, kan?” kata Jongin telak.

Ya, dia sangat mengenal kawan-kawan Soojung. Sekawanan anak jalanan yang tak akan segan menggunakan kekerasan untuk melindungi satu sama lain. Ini yang paling Jongin takutkan jika Soojung tahu tentang Seulgi. Tidak akan berujung baik. Jadi biarlah nanti dia menanggung konsekuensinya sendirian. Apa pun itu. Soojung dan kawannya tidak boleh tahu bahwa gadis itu adalah Seulgi.

“Sekarang kau takut,” Soojung tertawa sinis, tapi bisa terdengar nada menyedihkan dalam suaranya. “Sebegitu berharganya dia hingga membuatmu melindunginya.”

“Aku mencintainya.”

“Wow, kau tidak pernah mengatakan itu padaku,” lagi, Soojung tertawa. Sebutir air mata mulai jatuh dari sudut matanya. “Astaga, jadi akhirnya akan seperti ini. Aku benar-benar dicampakkan.”

“Jaga dirimu baik-baik. Kau akan mendapatkan yang lebih baik dariku,” kini Jongin benar-benar bisa melepaskan tangan Soojung darinya.

“Aku akan baik-baik saja? KAU BRENGSEK! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUATMU MENYESAL, KIM JONGIN! BRENGSEK!” teriak Soojung, memenuhi ruang dance yang kebetulan kosong.

Brengsek. Tidak ada kalimat yang bisa ia jadikan sebagai pembelaan. Dia akui betapa brengsek dirinya.

“Aku sudah melakukannya untukmu, Kang Seulgi,” gumam Jongin lirih, seiring langkahnya yang menjauh dari ruangan itu.

***

Hari ini, Sehun nyaris tidak bisa berhenti tersenyum. Bukan karena ia bebas dari jadwal kuliah sehingga bisa bersama Seulgi seharian—ya, itu bisa jadi salah satu alasan. Pagi tadi dia telah melakukan langkah penting sehubungan dengan masa depannya dan Seulgi. Kalimat penting dari ibunya terus berputar, seperti sebuah irama musik yang menjadi lagu favoritnya.

“Kalau begitu, akhir pekan depan bawa dia ke rumah.”

Seulgi menatapnya aneh, sedikit khawatir dengan mental Sehun hari ini.

“Sehun-ah, kau aneh sekali hari ini,” celetuknya dengan suara pelan. Mereka sedang berada di minimarket, membeli bahan makanan karena Seulgi mendadak ingin masak bersama.

“Merasa senang karena bisa seharian dengan gadisku, itu aneh?”

Seulgi memutar bola matanya. “Dasar,” dipukulnya dada Sehun pelan. Yang dipukul hanya terkekeh geli.

“Jadi kau mau pilih yang mana?” tanya Sehun seraya menunjuk 2 bungkus sosis yang sedang dipilih Seulgi.

“Kau lebih suka yang ini apa yang ini?” Seulgi membandingkan kedua sosis yang berlainan merk. “Tapi yang ini sedang promo beli 2 gratis 1, jadi lebih hemat.”

“Uangku cukup untuk beli merk yang ini. Kau boleh mengambilnya 3 atau sebanyak apa pun yang kau mau.”

Seulgi menyentil kening Sehun. “Harus hemat, tidak boleh buang-buang uang. Kita ambil yang ini saja, toh rasanya sama,” putus Seulgi, membuat Sehun tertawa hingga memegangi perutnya.

“Berhenti tertawa dan dorong trolinya ke sini, Oh Sehun.”

“Iya, iya, sayang,” Sehun masih tertawa, mendorong troli itu ke arah rak tempat susu berbagai merk. Seulgi terlihat kesulitan mengambil sekotak susu cair karena terletak di rak yang cukup tinggi. “Suamimu ada di sini, apa susahnya minta tolong?” tangan Sehun meraih kotak itu dengan mudah.

“Hah siapa suami?”

“Aku. Memangnya kau mau jadi suami? Jadi kepala keluarga?”

“Bukan begitu, bodoh,” dijitaknya kepala Sehun pelan. “Memangnya kapan kita menikah?”

“Tidak lama lagi.”

“Apa?”

“Wah, aku ingin paprica. Kelihatannya segar,” Sehun langsung mengalihkan pembicaraan dan merangkul Seulgi ke arah tumpukan paprica di bagian sayuran.

“Yaaaaa! Tadi kau bilang apa?”

Sehun tidak menjawab, malah cengengesan dan terus mengalihkan topik pembicaraan. Dia sengaja menggoda Seulgi seharian ini, melihat wajah kesalnya dan betapa lucunya saat bibirnya mengerucut.

***

Acara masak memasak selesai. Sehun yakin, setelah ini Seulgi tidak akan pernah mengajaknya masak bersama lagi. Keberadaannya sama sekali tidak membantu, malah mengacau—itu komentar gadisnya. Yang Sehun lakukan hanya terus menggoda Seulgi, dan mencuri kesempatan untuk memeluknya. Lagi pula, dia memang tidak pernah berhubungan dengan dunia dapur, apalagi masak memasak. Saking frustasinya Seulgi, dia menyuruh Sehun untuk duduk saja dan menunggunya selesai.

“Aku menyesal mengajakmu melakukan ini. Harusnya aku tahu,” keluh Seulgi saat akhirnya mereka bisa makan dengan tenang.

“Sudah ku katakan sebelumnya, aku hanya akan mengacau,” kata Sehun dengan wajah tanpa dosa.

“Kau lebih dari pengacau. Musibah,” timpal Seulgi datar.

“Tenang saja, sayang. Setelah menikah nanti kau tidak perlu memasak setiap saat. Hanya saat kau sempat saja.”

“Kau membicarakan pernikahan lagi. Astaga.”

“Memangnya kau tidak mau menikah denganku?”

“Bukan begitu, tapi seharian ini kau membahasnya terus,” Seulgi memutar bola matanya.

“Jadi kau mau atau tidak?” tanya Sehun sambil mengganggu Seulgi makan dengan menghalangi sumpitnya setiap kali mengambil makanan.

“Yaaa, Oh Sehun!”

“Mau atau tidak?”

“Lamaran macam apa itu? Sangat tidak romantis.”

“Baiklah, kau akan mendapatkannya.”

“Apa maksudmu?”

“Kau akan tahu saat waktunya tiba.”

“Makan,” Seulgi menyumpal mulut Sehun dengan telur gulung buatannya.

Sehun masih saja tertawa tidak jelas, walau teredam oleh makanan yang dikunyahnya. Mau tak mau Seulgi juga ikut tertawa.

“Akhir pekan depan kita makan malam bersama, ya,” ucap Sehun setelah menelan habis makanannya.

“Kau biasanya akan langsung menjemputku, kenapa harus mengatakannya sekarang?”

“Yang ini akan berbeda, jadi kau harus siap-siap.”

“Wah, aku tidak akan berdandan. Bahkan mandi pun tidak,” canda Seulgi.

“Sesuka hatimu saja. Kau akan tetap terlihat cantik.”

“Aku tidak mau mengatakan kau juga tampan.”

“Aku tahu itu, sayang. Katakan saja kau mencintaiku.”

Seulgi mencoba menahan senyumnya, tapi gagal. “Iya, sayang sekali memang benar aku mencintaimu.”

“Aku lebih mencintaimu,” balas Sehun, menopang dagunya dan menatap Seulgi intens.

Seulgi pun meletakkan sumpitnya, lalu menumpukan kepala pada kedua tangannya dan membalas tatapan Sehun. Keduanya tersenyum, seolah mengucapkan kata cinta lewat tatapan mata mereka.

***

Bagitu banyak momen manis bersama Sehun, membuat Seulgi hampir lupa tentang Jongin. Kalau saja hari ini tidak ada rapat The Circle, dia mungkin hanya akan memikirkan Sehun selama beberapa hari ke depan. Dia melihat Soojung, tapi tidak ada Jongin. Firasat buruknya mendadak datang saat melihat perubahan dari sikap Soojung. Lebih tepatnya, Soojung kembali pada sifatnya semula, sebelum Seulgi dekat dengannya. Dia jarang tersenyum, kelihatan tak ramah, dan tak banyak bicara. Tadinya dia ingin mengajak Soojung bicara untuk membuatnya merasa lebih baik seperti biasanya, tapi gadis itu sudah pergi sebelum dirinya sempat membuka mulut untuk menyapa. Mau dia kejar juga tidak mungkin karena dia masih harus tinggal di basecamp untuk merapikan dokumen hari ini.

“Benarkah? Putus?” tanya Yuri dengan mata terbelalak. Di dalam basecamp masih tersisa dirinya, Yuri, Sunyoung, dan Baekhyun. Seulgi yang sedang menata hasil dokumentasi event lalu sejenak tertegun, kemudian berpura-pura sibuk dengan kegiatannya sendiri.

“Kau lihat kan, perubahan sikap Soojung. Dia mulai jadi pemarah lagi. Mereka baru putus kemarin. Aku tidak yakin suasana hati Soojung bisa cepat membaik,” jelas Sunyoung.

‘Putus… Soojung…’ geming Seulgi dalam hati. Dia makin berfirasat buruk.

“Oh… tidak. Jongin berada dalam bahaya besar,” ucap Baekhyun dengan nada khawatir.

‘Jongin… bahaya…?’ sekarang Seulgi mengerti sepenuhnya arah percakapan ini.

“Bahaya bagaimananya?” tanya Yuri penasaran.

“Apa yang kau maksud adalah tentang Preman Yongsan?” sambung Sunyoung.

“M… hm,” Baekhyun mengangguk.

“Apa itu Preman Yongsan? Kalian jangan bicara sepotong-sepotong,” kata Yuri makin penasaran.

“Soojung itu adalah bagian dari Preman Yongsan. Sebenarnya bukan secara langsung sih. Dia berteman baik dengan salah satu anggotanya. Lama-kelamaan dia jadi dianggap bagian dari mereka,” cerita Sunyoung.

“Lalu apa hubungannya Preman Yongsan dengan putusnya hubungan antara Jongin dan Soojung?” tanya Yuri lagi, masih tidak paham.

“Mereka adalah chaos,” sahut Baekhyun. “Jika kau membuat masalah—sekecil apa pun, dengan salah satu dari mereka, maka hidupmu tidak akan tenang setelahnya.”

“Minimal suatu malam kau akan pulang dalam keadaan babak belur hingga tak sadarkan diri.”

“Terakhir salah satu mahasiswa Teknik kampus kita dilarikan ke rumah sakit dengan ambulan dalam keadaan patah tulang leher setelah berselingkuh dari Hwang Miyoung, adik kandung ketua geng ini.”

PRANG

Serentak Sunyoung, Yuri, dan Baekhyun menoleh—tepat ke arah Seulgi. Saking kagetnya dengan cerita ketiga temannya, Seulgi tak sengaja menyenggol mug besar yang berisi alat tulis hingga pecah dan isinya berserakan.

“Kenapa, Seulgi-ah?” tanya Sunyoung dengan wajah curiga.

Tangan Seulgi gemetaran, wajahnya memucat. “A-ah, tidak. I-ini… tadi aku mau memindahkan map ini ke atas meja dan tak sengaja menyenggol mugnya,” jawabnya dengan terbata.

“Hati-hati, kau bisa terluka,” Yuri menghampirinya dan langsung mengambil sapu untuk membersihkan pecahan mug itu.

“Ma-maafkan aku.”

“Tidak apa, pulanglah. Aku akan membersihkan ini.”

“T-tapi kan aku—“

“Sudah, kau kelihatan tidak sehat. Wajahmu pucat begitu. Aku tidak mau pacarmu marah-marah seperti waktu itu lagi,” Yuri mengusap pipi Seulgi dan tersenyum.

“B-baiklah, sekali lagi aku minta maaf,” ada baiknya juga dia segera pergi dari tempat itu. Dia harus mencari Jongin. Minimal menelponnya. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Maka Seulgi langsung keluar dari basecamp, merogoh ponselnya untuk menghubungi Jongin.

***

“Ku mohon angkat,” gumam Seulgi dengan gelisah. Ponsel menempel di telinga kanannya. Sekarang dia dalam perjalanan pulang ke apartemen.

“Ada apa?” akhirnya suara Jongin terdengar dari sambungan telpon.

“Sebenarnya apa saja yang kau lakukan hah? Kenapa baru mengangkat telponku?” bentak Seulgi.

“Memangnya kenapa? Aku ada latihan dance. Tidak perlu sampai marah begini,” jawab Jongin, tampaknya terkejut mendengar suara bentakan Seulgi yang tiba-tiba.

Sedikit lega, Seulgi menghela nafasnya. “Ku dengar kalian putus.”

“Kau menelponku, marah-marah, hanya untuk menanyakan itu?” tanya Jongin tak percaya.

“Jawab saja pertanyaanku!”

“Iya, benar,” Jongin mulai tak sabar.

“Kenapa kau lakukan itu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Dasar bodoh! Kau tidak pernah mau mendengarkanku! Dia sangat marah. Dia tidak akan memaafkanmu.”

“Tunggu—apa kau mengkhawatirkanku?”

“Sudah ku bilang jangan putus….”

“Aku senang kau mengkhawatirkanku.”

“Jongin-ah, aku serius….”

“Aku tidak akan pernah menyesalinya. Sekarang aku tahu perasaanku padamu tidak searah. Kau juga mencintaiku,” Seulgi hanya menghela nafas panjang. “Jangan cemas, aku akan melindungimu bagaimana pun caranya. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.”

“Aku berbicara tentang dirimu, Jongin-ah. Bukan diriku.”

“Cukup cintai aku. Dan aku akan baik-baik saja.”

Kalau sudah begini, Seulgi tidak bisa menjawab apa-apa lagi. “Jangan bawa dirimu dalam bahaya. Ku mohon.”

“Percaya saja padaku.” Seulgi tidak menjawab, tidak juga memutus sambungan telpon. “Satu kali latihan lagi dan aku akan langsung pulang.”

“Langsung pulang.”

“Iya, Mine.”

“Apa itu?”

“Mine? Milikku.”

Seulgi tersenyum sekilas. “Cepat selesaikan latihanmu.”

“Boleh kan, aku memanggilmu Mine?”

“Akan ku jawab setelah kau tiba di rumah dengan selamat.”

“Siap, Mine!”

Sempat tersenyum lagi, Seulgi memutus sambungan telpon mereka. Tepat saat itu juga, bus yang membawanya pulang berhenti di halte.

***

[Voice Note from Sehun]

Sayang, sudah makan malam? Jauh dari Seoul membuatku semakin merindukanmu. Apa kau juga?

Seulgi baru saja selesai mandi dan memakai piyama saat menerima voice note itu. Tadi Jongin, sekarang Sehun. Dua pemuda ini membuatnya tersenyum berturut-turut.

[Voice Note to Sehun]

Kau yang harus memperhatikan makanmu. Jangan sampai sakit.

Sehun sedang berada di Incehon untuk acara kampus sampai akhir pekan nanti. Jadi mungkin beberapa hari ini mereka hanya berhubungan lewat gadget. Malam ini Seulgi berencana tidur cepat, hal yang jarang sekali dia lakukan. Kebetulan tidak ada tanggungan tugas dan belajar. Waktu luang begini memang pantas ia dapatkan. Saat tangannya membuka kulkas untuk mengambil susu cair, terdengar suara deringan ponselnya yang tergeletak di atas meja makan. Seulgi membawa kotak susunya ke meja dan mengambil ponsel. Ternyata telpon dari Jongin.

“Apa kau sudah pulang?”

“Seulgi-ah…” suara Jongin terdengar lemah, diiringi batuk setelahnya.

“K-kau… kau baik-baik saja kan?” tanya Seulgi, mulai khawatir.

“Seulgi… aku…” lalu ada suara ringisan.

“Jongin, kenapa?”

“Aku… di depan… pintu….”

Kotak susu yang dia pegang jatuh ke lantai. Seulgi langsung berlari ke arah pintu dan membukanya.

“Jongin-ah….”

Dalam sekejap tangisnya luruh. Seulgi terduduk di hadapan Jongin yang duduk bersandarkan dinding dengan wajah penuh luka. Kedua tangan ia gunakan untuk menutupi mulutnya, meredam suara tangis.

Tapi Jongin masih bisa tersenyum saat melihat Seulgi.

***TBC***

Iklan

34 thoughts on “Bittersweet : Call You Mine

  1. Seulhun Jebal, semoga akhir kisah ini ada pada seulhun. Walaupun kehadiran kai bikin aku cenat cenut sendiri. Setidaknya bersama sehun, seulgi selalu aman heuheuheu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s