One Fine Day

One Fine Day.jpg

Title : ONE FINE DAY

 

Story By : aeriwills

 

Leght  : Oneshoot

 

Rating : PG

 

Cast  :

-Jung Soojung

-Kim Jongin

 

Genre : Romance, School life, Song fic (lainnya bisa dikategoriin sendiri lah, hihi)

 

Disclaimer      :

Sebagian besar fanfic buatanku terispirasi dari lagu, adegan mv, ataupun drama. Jadinya gabisa dibilang murni 100% aku yang bikin. Aku cuma ngembangin aja, kasih bumbu dikit2 -atau mungkin banyak, sesuai sama selera ajasih pas bikinnya, kalo masalah bumbunya dapet darimana,itu biasanya muncul di otak kalo lagi ngayal tingkat dewa kekek *Nah bagian ini boleh lah dibilang hasil meres otak sendiri.

Oiya, fanfic ini udah pernah aku publish di wattpad (at my wattys acc : aeriwills) , jadi bagi kalian yang mungkin nemu ff ini disana gausah kaget ya, kekeke.

Happy reading^^

.

.

.

Walaupun jalanan Seoul sedang diselimuti salju pagi ini, tapi tetap tak mengurangi niatku untuk menyusuri setiap sudut kota yang telah 4 tahun ini aku tinggalkan. Sudah lama rasanya aku tak menghirup udara musim dingin di negeri ini. terasa sangat menyegarkan saat udara dingin mulai berebut masuk menyeruak hidungku. Juga butiran-butiran salju berjatuhan seperti manik yang kini menghiasi rambut panjang coklatku yang tergerai.

 

15 Mei 2010 -2 PM KST-

 

Ya! Kim Jongin! Kembalikan tali rambutku!”

 

“Sudah kubilang, jangan ikat rambutmu. Kau jelek tau.”

 

“Haissh! Terserah kau bilang aku jelek atau apa. Ini musim panas tuan Kim, dengan rambut yang tergerai seperti ini semakin membuatku jengah.”

 

“Kalau begitu potong pendek saja rambutmu nona Jung, kenapa kau ribut sekali.”

 

Andwae! Mana mungkin aku rela memotong rambutku yang indah ini.”

 

“Kau tau jika rambutmu indah, maka gerai saja.”

 

Shireo! Harus berapa kali aku katakan padamu,ayolah kembalikan, jebal.”

 

Ara ara, ini! kau ini cerewet sekali.”

 

“Kau yang memulai, tidak bisakah kau berhenti menggangguku barang sehari? Biarkan aku tenang tanpa gangguan darimu tuan Kim.”

 

“Dengan begitu hari-harimu akan terasa hambar nona jung! Tak ada seorangpun yang mau makan sayur tanpa garam.”

 

“Kalau begitu beri saja gula sebagai ganti garam, tidak perlu repot.” Celetukku polos.

 

“Ya! pabbo! Maksudku itu sebuah perumpamaan.” Tangannya mengetuk pelan kepalaku.

 

“Sakit!” Aku mencibir.

 

“Sudah, berhentilah mengomel nanti tenggorokanmu kering. Dan kau tau, telingaku sampai sakit mendengar ocehanmu itu daritadi. Kajja kita beli ice cream saja di kedai itu!”

 

“Kau yang mentraktirku? Yeheet!” aku berteriak kegirangan.

 

“Hanya untuk kali ini. tapi lain waktu kau yang harus mentraktirku, ara?”

 

“Shireo! Weekk!” aku menjulurkan lidahku kemudian berlari mendahuluinya menuju kedai yang terletak diseberang jalan.

 

“Ya! Jung Soojung!”

 

***

 

Entah kemana aku akan pergi, aku hanya menuruti insting dan bootku, oh tidak, maksudku kakiku melangkah. Aku berjalan sambil melihat sekeliling, hanya segelintir orang yang memilih untuk berjalan kaki pagi ini. aku rasa mereka enggan keluar rumah dengan udara sedingin ini. mereka lebih memilih berdiam diri didepan perapian dengan secangkir coklat hangat di tangannya.

 

“Apakah mereka tidak tahu kalau winter itu sangat indah? Menghabiskan musim dingin dengan hanya mendekam di rumah saja jelas sangat membosankan.” Aku mencibir.

 

Kini kakiku mulai memasuki sebuah taman di pusat kota Seoul dan memutuskan untuk mendudukkan diriku tepat di kursi yang paling ujung. Aku menarik nafas dalam saat angin musim dingin mulai berhembus. Aku semakin merapatkan coat pink-ku dan membenarkan syal berwarna cream yang bertengger manis di leherku sedari tadi. Sejenak mulutku menyunggingkan senyum mengamati syal ini.

 

5 Februari 2011 -10 AM KST-

 

Hari ini adalah hari kelulusan kami sebagai siswa School of Performing Arts Seoul. Aku senang karena akhirnya aku bisa lulus dengan niai yang baik di sekolah ini. tapi aku juga merasa sedih karena pada akhirnya aku akan meninggalkan sekolah yang selama 3 tahun terakhir ini menyimpan banyak kenangan bagiku, baik suka atau duka. Aku menoleh ke arah Jongin yang sedari tadi berdiri tepat di sebelah kananku. Wajahnya terlihat sangat bahagia kali ini. tawa renyahnya membuatku ikut menyunggingkan senyumku. Hanya dengan melihatnya seperti ini saja aku sudah bisa merasakan betapa bahagianya dia. Dia terlihat…..

 

“Apakah aku terlihat setampan itu sampai membuatmu tidak berkedip sekalipun saat melihatku?” tanya Jongin jail.

 

A-ani. Aniya. Aku hanya…” jawabku gelagapan, tak tau apa yang harus aku katakan.

 

“Hanya… mengagumi ketampananku?” dia mengeluarkan smirk khas miliknya.

 

“Haish! Bukan itu.” Aku mulai cemberut.

 

“Lalu?”

 

Aku menghela nafas, memejamkan mataku sejenak.

‘Ya! tentu saja karena kau tampan. Sangat tampan Kim Jongin!’ Kau tau itu hanya jeritan batinku saja. Mana berani aku mengungkapkan yang sesungguhnya di depan Jongin. Kecuali jika urat maluku sudah benar-benar putus.

 

Eobseo, geunyang.” Itu satu-satunya yang dapat terlontar dengan mulus dari mulutku. Lalu kutundukkan kepalaku. Aku tak mau Jongin melihat mukaku yang kini berubah merah seperti kepiting rebus. ‘Ah! Andwae!’ lirihku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Dan mungkin saja saat ini dia sedang menertawakan tingkahku yang konyol ini.

 

Jongin kemudian menggandeng tanganku dan menarikku keluar aula yang masih dipenuhi siswa dan para guru yang sedang merayakan upacara kelulusan “kajja!” serunya.

Aku terkejut dengan perbuatannya yang tiba-tiba itu.

Dumb..dumb..dumb..dumb! jantungku berdetak dengan tidak semestinya.

 

‘Ya! ada apa ini? kau sedang tidak melakukan balap lari Soojung! Untuk apa jantungmu berdetak secepat ini? tenang Soojung-ah tenang. Ini hanya Jongin. Teman sekelasmu.’ Aku mencoba untuk terlihat tenang kali ini dengan sedikit menjajari langkahnya.

 

Eodiga?” tanyaku saat kami mulai keluar dari gerbang sekolah dengan suara yang sedikit mengecil. Bukan apa, hanya saja aku menahan suaraku yang bergetar agar Jongin tak mendengarnya. Memang bukan pertama kalinya aku dan Jongin bergandengan tangan seperti ini. Jongin sesekali menggandeng tanganku saat kami sedang benar-benar terlambat pergi ke sekolah dan harus berlari mengejar bus yang meninggalkan kami. Dan kali ini situasinya berbeda.

 

“Lotte World.” Jawabnya santai seraya memasukkan tangan kirinya kedalam saku celananya. Sedangkan tangan kanannya tetap menggandengku erat.

 

Lotte World 5 PM KST

 

Aku menuruti kemanapun langkahnya pergi dan apapun yang ingin dia lakukan, mulai dari bermain Camelot Carrousel, French Revolution, Lotty’s  hot-Air flight, Ice Skating dan entahlah wahana apalagi namanya aku sampai tak bisa mengingatnya.

Hampir 7 jam penuh kami habiskan untuk bermain disini sejak kami berdua meninggalkan sekolah tadi pagi. Dan kini berakhir di sebuah Caffe Indoor Mall Lotte World.

 

“Apa kau bersenang-senang hari ini?” Jongin membuka pembicaraan.

 

“Tentu. Berkatmu aku akhirnya bisa menaiki banyak wahana di tempat ini, gomawo.” jawabku dengan tersenyum riang.

 

“Syukurlah!” senyumnya mengembang membuat mata sipitnya hampir tertutup. Tapi aku merasa itu bukanlah senyum kebahagian yang sesungguhnya, seperti ada sesuatu di hatinya yang sulit untuk ia katakan.

Jongin menghela nafas berat, mimiknya sedikit berubah, tapi dia tetap berusaha mempertahankan senyum dibibirnya agar tetap mengembang.

 

“Ini untukmu Jung” tiba-tiba Jongin menyodorkan sebuah kotak pink berukuran sedang.

 

“Jongin-nie, ige mwoya?” perlahan aku membuka kotak yang ia berikan. sebuah syal berwarna cream tergeletak dengan manis di dalam sana. Aku menatap kearah Jongin yang kini mencondongkan tubuhnya dan melipat tangannya diatas meja.

 

“Bukankah besok kau akan berangkat ke Paris? Hanya ini yang bisa aku berikan untukmu, pakailah untuk musim dingin disana nanti. Jangan sampai kau terkena flu saat menjalani studimu. Maafkan aku karena besok tidak bisa mengantarmu ke bandara.” Jongin menatap kearahku lembut. Baru kali ini aku mendengarnya berbicara seserius ini. dan aku sendiri baru ingat kalau hari ini adalah hari terakhirku menginjakkan kaki di Seoul.

 

“Aku akan menunggumu kembali Soojungie.” lanjutnya seraya meraih tanganku dan tersenyum.

 

***

 

Bonjour, mademoiselle!” Suara berat itu memasuki gendang telingaku. Membuat aku tersadar dari lamunanku, kembali kekehidupan nyata setelah sedari tadi otakku memutar memori masa lalu yang tak pernah bisa aku lupakan. Aku mendongak mencari sumber suara tadi berasal. Dan seketika mataku membulat sempurna saat melihat siapa yang kini berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Ia menyunggingkan senyum menawannya, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan meleleh, begitu juga diriku.

 

Kurasa tak banyak yang berubah darinya, hanya saja dia terlihat lebih dewasa dengan stylenya saat ini. Sosok yang berbadan tinggi tegap dan berkulit tan, dengan tatapan tajam yang selalu bisa melemahkanku, juga senyuman maut yang membuatku terhanyut.

 

Dia memasukkan kedua tangannya kedalam saku coat coklat yang melekat pada tubuhnya.

 

“Benar-benar tidak ada yang berubah darimu, Jung. Bahkan sepertinya kau masih sangat menyukai winter.” Ujarnya dengan senyum yang tidak kunjung pudar dari wajah manlynya.

 

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku hanya beranjak dari dudukku, lalu berjalan perlahan untuk bisa lebih dekat dengan tempatnya berdiri. Aku ingin memastikan bahwa ini benar-benar nyata. Bahwa memang dialah yang berdiri di hadapanku saat ini. dia yang selama ini aku rindukan. dia yang selama ini membuat hatiku bergemuruh. Dia yang selalu bisa menciptakan semburat merah di pipiku. Dia yang selalu menjadi alasanku untuk kembali ke Seoul. Dan dia yang selalu bisa membuatku menyunggingkan senyum setulus dan sebahagia ini.

Kim Jongin.

 

–THE END-

Iklan

2 thoughts on “One Fine Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s