Secret Rendezvous

6b142ecad1edcd6e1d9a4f9f6e1e573b

Secret Rendezvous

deera

Cast: Kai, OC | Genre: Fluff | Rating: General | Length: Ficlet

.
.
.

Kini kutahu warna matanya: cokelat tua. Dengan garis rahang dan dagu yang sempurna menopang bingkai wajahnya, ia akan melumatmu ketika dua bibir tipis miliknya melengkung. Ia akan menenggelamkanmu dalam mabuk yang meneduhkan kala kedua binar jernih matanya menatapmu lekat-lekat. Lantas kau berharap bahwa waktu berdetik lamat-lamat hingga…, saat tingkah kecilnya seperti menggaruk sebelah telinga saja membuatmu sesak menahan napas.

Kuberitahu satu hal. Tapi ini sangat rahasia.

Aku terbiasa duduk di belakangnya, dua kursi sejajar di balik punggungnya. Ia kadang menyematkan sebelah earphone dan mengangkat ponselnya setinggi diafragma—mungkin memilih lagu mana yang akan didengarkan. Kemudian menganggukkan kepala, bukan tanda setuju mungkin, tapi ia menikmati apa yang tengah menggema di pendengaran.

Selalu kutatap sendu di balik bidang bahunya yang tegap. Ia isyaratkan lugu pada cintaku yang malu-malu, tertuju padanya. Sudah barang tentu ia tak mengetahuinya—teruntuk seorang gadis seperti aku, yang sejak dua puluh tiga hari lalu mengamatinya dari dua kursi di belakangnya dalam sebuah bis kota yang mengantarkan kami ke tujuan masing-masing. Sialnya, kantorku berada tepat sebelum miliknya sehingga aku tak tahu apa-apa tentangnya. Kurasa dia beberapa tahun di bawahku, tapi mungkin tampilan itu hanya menipu—aku tak punya clue.

Kini berbeda.

Binar kecokelatan itu mengintimidasiku tanpa ragu. Ia membuatku benar-benar seperti orang dungu, tak mendengarkan sepatah katapun darinya. Suaranya berat dan serak, menimbulkan kesan tegas sekaligus rupawan, membuatku sungguh tak berdaya.

“Sepertinya kau tidak mendengarkanku.” Ada nada jahil dalam bunyi seraknya. Dan secuil kerut kecewa pada palet tan di wajahnya.

Di dalam kepalaku saat ini hanya ada siluet abu-abu butek yang membuatku pusing. Semua ingatan—potongan demi potongannya membuatku ruwet dan tak mampu mencerna dengan jernih. Apa yang terjadi di sini? batinku meracau tak jelas.

Hingga dua telapak tangan melambai di hadapanku yang tengah menatap ke sembarang arah. “E-eoh. Maafkan aku. Hanya saja…,” kugantungkan kalimatku di sana. Tidak tahu lagi apa yang harus kujelaskan. Karena benar, aku tidak mengerti mengapa akhirnya semua berakhir dengan kebetulan semacam ini.

Tungkai panjangnya menimpa satu sama lain di bawah meja bundar di hadapan kami. Jarak kami hanya terpaut diameternya saja—sekitar lima puluh senti atau lebih. Dan juga dua gelas berembun berisi perasan jeruk menjadi pendengar kami. Lelaki ini berdehem lembut, meletakan kepalan tangan di depan mulutnya. Gelenyar ngeri meremang di tengkuk, membuatku mengusapkan tanganku di sana.

“Jadi kau…, adik kelas Junghwan? Sepupunya adalah teman kerjaku,” katanya.

Bola mataku membulat antusias. Kupaksa memori untuk menjelma bagai film dalam kepalaku. “Sepupu Kim Junghwan? Ah! Nana-ya. Kim Nana?”

Ne. Aku satu tim dengan Nana-ya.”

“Kau…, seorang penari?” tanyaku hati-hati. Kim Nana adalah balerina. Ia cantik dan tubuhnya sangat lentur. Kutahu dari Junghwan oppa—untuk panggilan se-affectionate itu, aku dan Junghwan seperti adik kepada kakaknya sendiri. Itu sebabnya kenapa…, Junghwan oppa mengatur pertemuan kami hari ini.

Lantas, satu jarinya menggaruk dahi dan mengangguk samar.

Aku bertaruh. Ada sedikit rindu di antara tatap-tatap kami yang beradu tak sengaja. Entah apa, tapi aku tahu saja. Seperti menerka langit mendung hari ini apakah akan berakhir hujan atau tidak. Kemungkinannya nyaris tepat, tapi dengan satu sapuan saja bisa memutarbalikan keadaan.

Seperti garis kami yang semula hanya sejajar kini menciptakan irisan karena satu sama lain berelevasi sempurna. Karena apa? Bolehkah kukatakan karena takdir?

“Senang bertemu denganmu, Tuan,” kataku.

“Kuulangi, Nona Cha,” ia menegakkan duduknya, merapikan kemejanya yang seluruh kancingnya terbuka dan memperlihatkan T-shirt navy tipis yang dikenakannya, lalu mengacak sedikit rambut ikalnya, “Namaku Kim Jongin. Kita lahir di tahun yang sama, jadi kau tak perlu seformal itu padaku.”

Aku mengerjap tak siap. “Ba-bagaimana kau tahu tentangku?”

Senyum terbit lagi di atas dagunya yang ditumbuhi rambut-rambut kecil yang nampaknya belum sempat tercukur. “Bukankah itu wajar mencari tahu calon pasangan kencan butamu?”

Ya, kau tak salah baca. What a fate….

.
.
.

deera says: Telat bodo amat! Have a nice birthday, Kai!

9 thoughts on “Secret Rendezvous

    1. makasih udah mampir🙂 bisa dicek di library admin ada kok post lain dari aku😉 anw, nama penaku deera, userid wp aku destaayyy hehe kalo kamu bingung carinya, search aja deera ya. Gomawo~~

  1. Ping-balik: Mine | EXO Fanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s