Beautiful Creatures (Chapter 2)

Beautiful Creatures

Author : girlinmoon

Main Cast : Park Chanyeol and Jung Sujin (You?)

Genre : fantasy, drama, romance

Rating : T

Summary : Sujin tidak sengaja memecahkan botol cantik milik seorang peramal.

+

Chanyeol tidak seburuk yang Sujin kira. Selama ini Sujin selalu di rumah sendiri, orang tuanya memiliki usaha di Amerika sedangkan Jessica juga memiliki pekerjaan di negara yang sama. Seharusnya Sujin masih memiliki Soojung. Soojung memang kakak yang baik walaupun sedikit lebih ganas, tetapi Soojung sudah sibuk dengan dunia perkuliahannya. Belum di tambah pesta anak dewasa, Sujin tidak begitu mengerti. Ia hanya tau bahwa Soojung sibuk dan Sujin lebih sering di tinggal sendirian.

Setidaknya sekarang sudah ada Chanyeol, Sujin merasa tidak sendirian lagi. Ia jadi ragu untuk meminta permintaan pertamanya. Ia bisa saja langsung mengatakan ia ingin cantik, populer, dan jenius. Tetapi Sujin merasa bahwa itu membuang-buang permintaannya.

Sujin sempat memikirkan hal gila, seperti, meminta Chanyeol untuk tinggal bersamanya. Ia tidak mencintai Chanyeol, ia hanya menyukai Chanyeol. Siapa yang tidak menyukai Chanyeol? Ia hanya merasa nyaman. Mengingat beberapa minggu kehidupan Sujin selalu di temani oleh Chanyeol.

Bahkan seperti saat ini, Sujin sedang duduk anteng di kasurnya sambil membaca majalah fashion edisi terbaru kesukaannya dan Chanyeol di belakangnya sedang menguncir rambut bergelombang milik Sujin. Sebagai jin Chanyeol memang sangat perhatian dengan tuannya.

“Hmm,” gumam Sujin sambil menganggukkan kepalanya. “Kurasa baju ini sangat cocok dengan mu.”

Sujin menunjukkan sebuah gambar seorang model lelaki dengan kaos polos polo warna hitam dan jeans abu-abu calvin klein di padukan dengan jas warna abu-abu. Sederhana, tetapi Sujin yakin sekali Chanyeol cocok mengenakan setelan itu.

“Benarkah?” Chanyeol membulatkan matanya seperti anak kecil.

Sujin menganggukkan kepalanya, “sangat yakin.”

“Baiklah mari kita coba!” Chanyeol turun dari kasur Sujin dan berdiri di hadapannya.

Klik

Chanyeol menjentikkan jarinya dan pakaian Chanyeol sudah berubah persis seperti yang ada di majalah fashion tersebut.

Sujin terkagum-kagum oleh pesona Chanyeol, “harus ku akui kau sangat pas mengenakan itu.”

Chanyeol tersenyum kecil sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Sekarang giliran mu.” Kata Chanyeol sambil memaksa Sujin untuk berdiri.

“Hei aku tak mungkin cocok mengenakan pakaian cantik itu,” ucap Sujin sambil merendahkan dirinya sendiri.

Chanyeol hanya tersenyum lalu membuka lembar demi lembar dari majalah fashion itu.

“Kurasa ini cocok,” gumam Chanyeol sambil menjentikkan jarinya.

Klik

Dalam sekejap Sujin sudah mengenakan sebuah gaun cantik brand Gucci berwarna pink muda dengan rangkaian bunga di kerahnya. Sederhana tetapi sangat cantik, Amber Heard mengenakan gaun itu saat menghadiri Golden Globes Awards.

Sujin tertawa dengan senang, “Yang benar saja! Kau gila! Ini favorite ku!”

Chanyeol ikut tertawa melihat Sujin yang sangat bahagia. Ia tidak berhenti disitu saja. Chanyeol membuka halaman yang lain.

Klik

Gaun sujin berubah menjadi gaun hitam milik Prada dengan taburan titik-titik berwarna silver bagaikan bintang di bagian bawahnya.

“Ya Ampun! Prada?!”

Klik

Pakaian itu berubah menjadi gaun rajut bergaris berwarna abu-abu dari Alexander Wang yang di kenakan model terkenal Kendall Jenner.

Klik

Sujin sudah mengenakan pakaian dalam yang di kenakan oleh Gigi Hadid saat berada di runway victoria secret.

“Chanyeol!” Teriak Sujin.

Chanyeol tertawa terbahak, “kau lebih bagus mengenakan itu.”

Klik

Chanyeol kembali menjentikkan jarinya dan Sujin kembali mengenakan pakaian rumahnya.

Sujin terkikik pelan lalu membaringkan badannya di kasur. Chanyeol ikut membaringkan badannya di sebelah Sujin. Mereka berdua saling berhadapan, Sujin menatap mata bulat cantik milik Chanyeol.

“Kenapa?” Tanya Chanyeol sambil membelai lembut rambut bergelombang milik Sujin yang sedang di kuncir.

Sujin menghela nafasnya, “Apa kau punya rumah?”

Chanyeol mengerutkan keningnya. Terlihat bahwa pertanyaan itu sangat privasi untuknya.

“Memangnya kenapa?” Balas Chanyeol balik bertanya.

Sujin menaikkan sebelah alisnya, “hanya penasaran.”

Chanyeol tersenyum dengan jawaban Sujin, “Setiap makhluk pasti memiliki rumah. Yang membedakan adalah ia sudah menemukan rumah itu atau sedang meninggalkan rumah itu. Bahkan iblis saja punya neraka sebagai rumah?”

Sujin sedikit mengiyakan perkataan Chanyeol. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan hanya bertanya-tanya dalam hati dimanakah rumah Chanyeol berada.

+

Semuanya berjalan dengan normal, Sujin dan Seulgi baru saja keluar dari toilet sekolah. Lebih tepatnya baru saja selesai membersihkan toilet sekolah karena tidak memakai atribut seragam dengan lengkap.

Sujin dan Seulgi sedang asyik membahas lelaki idaman mereka seperti Dylan O’Brien atau Robert Pattinson hingga Seulgi menghentikan langkah Sujin.

Seulgi sedikit takut-takut melihat Kim Jongin, yang sedang berdiri di hadapan mereka berdua bersama dengan geng bajingannya.

Sujin pura-pura tidak menanggapi keberadaan Jongin, dan menarik paksa Seulgi untuk melewati Jongin cs seperti angin lewat. Tetapi Jongin langsung menyenggol Sujin hingga tersungkur ke lantai.

“Yang benar saja!” Teriak Sujin marah. “Ku kira liburan tuan muda Jongin ke Roma telah membuat mu bertaubat!”

Jongin tertawa mendengar kata-kata Sujin yang menghinanya secara halus.

“Aku hanya merindukan pembantu ku,” kata Jongin sambil tersenyum jahat. Jongin suka sekali membully Sujin, seluruh penghuni sekolah tau itu. Bahkan tukang kebun sekolah pun tau.

Sujin merasakan kakinya sedikit terkilir, sangat nyeri. Tetapi ia tetap memaksakan diri untuk berdiri dengan sedikit terpincang.

“Aku tak ingin bertengkar dengan mu Jongin, tidak kah kau lelah?” Ujar Sujin dengan wajah menahan kesakitan. Ia benar-benar lelah bertengkar dengan Jongin. Ia lelah dengan sikap kekanak-kanakan Jongin.

Setaunya Jongin mulai membullynya sejak kelas tiga pada sekolah dasar karena curang saat bermain petak umpet. Jongin memusuhinya habis-habisan seperti Sujin telah melakukan kesalahan yang akan menimbulkan kiamat besok pagi.

Jongin tertawa pelan, “Aku? Lelah? Untuk menyakiti mu aku tidak akan pernah lelah!”

“Aku tak akan bertengkar dengan mu Jongin, aku pergi.” Desis Sujin dengan sengit. Seulgi membantu Sujin untuk berjalan.

“Kau hanya beban untuk kakak-kakak mu! Lihatlah Sooyeon, dia sempurna! Apalagi Soojung, kau tak tau seberapa hebatnya dia saat berprofesi di ranjang!” Teriak Jongin di tambah tawa dari gengnya.

Sujin menghentikan langkahnya, kesabarannya sudah habis. Ia serius dengan perkataannya yang ingin berhenti untuk bertengkar. Tetapi ia tak bisa menoleransi segala sesuatu yang berhubungan dengan kakaknya. Apalagi perkataan Jongin seolah-olah mengatakan Soojung adalah pelacur. Benar Soojung suka berpesta ataupun melakukan one night stand tetapi ia tetap kakaknya dan Soojung bukanlah pelacur pinggiran jalan.

Dengan kaki yang pincang Sujin berjalan dengan cepat menghampiri Jongin. Jongin tersenyum puas melihat reaksi amarah dari Sujin.

“Kau ingin menampar ku? Aku sudah siap.” Tantang Jongin sambil mendekatkan pipinya ke arah Sujin.

Sujin menyipitkan matanya dan raut wajahnya berubah menjadi sangat sengit, “Percayalah kau akan menyesali semua perkataan mu, semua perlakuan mu pada ku, dan kau akan benar-benar menderita.”

Dan Sujin benar-benar serius dengan perkataannya.

+

Sujin masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan emosi. Ia membanting tasnya dan hampir saja membanting gelas saat Chanyeol muncul tiba-tiba dan mencegahnya.

“Kau sangat marah,” kata Chanyeol dengan wajah heran.

Sujin ingin berteriak dan ia hanya dapat membentak Chanyeol, “Kau habis darimana saja!”

Chanyeol menyilangkan tangannya di depan dada, “wow, ada apa? Aku ada urusan dengan sesama makhluk seperti ku.”

Sujin duduk di tepi kasurnya. Ia menangis. Ia akan menangis jika sedang marah.

“Aku akan mengambil satu permintaan ku.” Ujar Sujin sambil mengelap air matanya dengan kasar. Chanyeol dapat melihat kebencian di raut wajah Sujin.

“Baiklah,” balas Chanyeol sambil tersenyum miring. “Apa itu?”

“Aku ingin Kim Jongin benar-benar menderita. Sangat menderita.”

Permintaan Sujin membuat Chanyeol semakin melebarkan seringainya. Dan Chanyeol dengan singkat menjentikkan jarinya.

“Permintaan pertama sudah terkabulkan.”

“Secepat itu?”

“Tentu saja.”

Sujin sudah berhenti menangis dan ia mulai memikirkan apakah permintaannya terlalu berlebihan atau tidak. Tetapi emosinya kembali muncul dan mengatakan bahwa Jongin membutuhkan pelajaran atas kesombongannya.

“Terimakasih…” kata Sujin dengan sedikit ragu.

Chanyeol mencubit pipi Sujin yang agak chubby dan berkata, “Kau memang benar-benar manusia.”

+

Keesokan harinya Sujin terbangun mendengar Soojung meneriaki namanya. Sujin masih dalam keadaan setengah sadar keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga. Soojung yang jarang menonton televisi kali ini sangat serius menonton sebuah berita.

“Sujin! Bukankah itu Kim Jongin?” Kata Soojung dengan wajah terkaget.

Sujin melihat wajah Jongin dalam layar televisi dan mengangguk, “Acara fashion apa?”

“Kau sudah bangun belum sih!” Bentakan Soojung membuat Sujin dengan terpaksa benar-benar terbangun. “Ayahnya terkena kasus korupsi!”

“Hah?” Kaget Sujin mendengar berita dari Soojung. Sujin langsung memfokuskan pendengarannya ke televisi. Ayah Jongin terkena kasus korupsi dan itu nyata. Sudah ada banyak bukti kuat.

Sujin tersenyum miring membayangkan penderitaan Jongin yang telah datang.

Soojung terlihat sedih, “Kasihan sekali Jongin. Kim Jongin teman mu kan? Saat aku seks dengannya ia mengatakan kalian sudah bersahabat sejak sekolah dasar.”

Sujin memasang raut wajah jijik.

“Sahabat pantat ku!”

+

Berita kehancuran kekayaan Jongin sudah menyebar luas ke sekolahan. Seperti yang sudah di tebak, tak banyak yang ingin berteman lagi dengan Jongin. Mereka tetap tak berani untuk mengusik Jongin tetapi mereka lebih memilih untuk menjauhi saja.

Hanya Sehun yang masih bertahan untuk berteman dengan Jongin. Sehun memang sudah bersahabat dengan Jongin sejak umur empat tahun. Mustahil mereka bisa terpisahkan.

Sujin cukup puas dengan perubahan Jongin. Jongin sudah tak menganggap keberadaannya dan membullynya lagi. Kantung mata Jongin semakin hitam, matanya sering memandang kosong. Ia sangat mengkhawatirkan sesuatu, ia telah depresi.

Sudah seminggu lebih sejak berita bahwa Ayahnya Jongin korupsi, Jongin semakin seperti orang asing. Ia sangat depresi tetapi tetap berani untuk berangkat ke sekolah. Mungkin karena Ayahnya akan di sidang dua hari yang akan datang setelah lama berhasil menghindar.

Hari ini Sehun tidak berangkat sekolah karena ada acara keluarga, Jongin benar-benar sendiri. Sejujurnya Sujin mulai merasa tak tega melihat keadaan Jongin. Ia menjadi sangat kurus.

“Kau senang ‘kan?” Tanya Chanyeol yang muncul tiba-tiba.

Sujin melirik Jongin sekali lagi, dengan ragu ia mengangguk, “Mungkin setelah ini aku akan mengambil permintaan ku yang kedua.”

“Oh yang benar?” Kata Chanyeol pura-pura terkejut. “Apa yang akan kau minta?”

Sujin gantian melirik papan pengumuman di hadapannya. Terdapat poster promosi dari SNU (Seoul National University), kampus impiannya.

“Aku masih belum yakin. Tapi aku akan memikirkannya lagi.” Balas Sujin yang mulai memikirkan masa depannya.

+

Pulang sekolah, Sujin berjalan menuruni tangga sendirian. Seulgi mengikuti tambahan biologi sedangkan Chanyeol mengikuti ekstra basket. Katanya basket membuatnya semakin tampan karena banyak perempuan cantik meneriaki namanya. Sujin hanya melengos kesal mendengar perkataan Chanyeol yang tidak penting.

Sujin tak sengaja menyenggol seseorang. Sedetik kemudian ia menyadari bahwa yang ia tabrak adalah Jongin. Biasanya Jongin akan menyumpahinya tapi kali ini berbeda. Jongin tersenyum kepada Sujin. Sujin yang mulai merasa canggung hanya menahan wajah tak nyamannya dan ingin segera pergi. Namun Jongin menahan lengannya.

“Sujin,” panggil Jongin dengan halus.

Sujin dengan canggung menatap senyuman Jongin yang terlihat sangat tulus, “I-iya?”

“Aku tau selama ini aku sangat brengsek kepada mu, yeah, kau tau aku memang brengsek,” katanya sambil tertawa geli seperti mengingat-ingat segala penganiayaannya untuk Sujin. “Tapi aku minta maaf, oke?”

Sujin berfikir dalam beberapa detik lalu mengangguk dengan ragu, “Kau minta maaf?”

Jongin mengangguk. Ia merubah raut wajahnya seperti sedang bercanda, “setelah di pikir-pikir aku paling banyak memiliki dosa dengan mu.”

“Akhirnya kau sadar juga,” Sujin tertawa canggung. “Aku hanya bercanda.”

Jongin ikut tertawa, tetapi ini tidak di buat-buat, “Aku serius untuk meminta maaf. Jadi kau harus memaafkan ku ya?”

Sujin dapat merasakan sesuatu dalam hatinya. Perasaan bersalahnya telah bocor begitu saja, ia benar-benar baru menyadari kebodohannya dalam meminta permintaan.

“Sudah ku maafkan kok. Dan Jongin, aku turut menyesal tentang berita itu.” Balas Sujin menunjukkan raut wajah simpatinya.

Jongin mengangguk sambil tersenyum dan melanjutkan jalannya menaiki tangga. Rasa bersalah Sujin semakin bertambah luas dan ia baru menyadari Jongin menaiki tangga menuju atap sekolah.

Sujin melebarkan matanya saat memikirkan kemungkinan buruk saat Jongin berada di atap sekolah. Dengan cepat Sujin berlari menuju atap sekolah.

Dan benar, Jongin sudah hampir melompat dari atap sekolah namun Sujin dengan cepat menarik lengan Jongin. Mengakibatkan mereka berdua tersungkur ke lantai semen atap sekolah.

“Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan!” Teriak Sujin panik dengan kejadian gila yang hampir terjadi.

Jongin menangis, “Aku tak bisa hidup begini.”

Plak!

Sujin menampar Jongin, “Anggap saja ini sebagai pelajaran untuk mu. Tak selamanya kau hidup harus menghabiskan uang!”

Jongin menatap Sujin dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Kau kira ini hanya tentang uang? Aku tak butuh uang! Aku hanya ingin ibu ku bahagia! Aku tidak kuat melihat ibu ku masuk rumah sakit jiwa. Aku tidak kuat melihat Ayah ku di maki-maki atas tindakan korupsi yang tidak ayah ku lakukan!” Bentak Jongin sambil menangis.

“Aku bisa hidup tanpa uang. Aku bisa, aku tak butuh tatapan kasihan kalian. Aku hanya tak bisa melihat Ayah dan Ibu ku menderita. Adik ku masih bayi, Ibu ku stress. Dia tak terbiasa hidup sederhana. Sejak lahir ia sudah bergelimang harta, aku hanya takut Ibu ku tidak dapat bertahan, ia sudah melakukan percobaan bunuh diri setiap harinya. Di tambah desas-desus bahwa ayah ku akan mendapat hukuman mati. Aku tidak bisa…” tambahnya histeris.

Rasa bersalah semakin menghantui Sujin. Sujin memeluk Jongin yang masih menangis, ia tak tau laki-laki dapat menangis seperti ini. Terbawa suasana, Sujin ikut menangis. Ia memang bodoh meminta permintaan yang dapat menghancurkan keluarga orang lain. Ia bodoh karena meminta permintaan tanpa berpikir terlebih dahulu.

“Jangan begini,” kata Sujin sambil mengelus pelan rambut Jongin. “Kau harus bertahan untuk keluarga mu.”

Jongin mengangguk seperti anak kecil yang ingin di belikan mainan baru.

+

Sujin baru saja memasuki kamarnya saat Chanyeol tiba-tiba langsung memeluknya.

“Kau darimana saja? Aku tak dapat menemukan mu! Kau memblokir ku!” Panik Chanyeol sambil memastikan bahwa tak ada yang terluka dari badan Sujin.

Chanyeol memeluk Sujin lagi, “Untung saja kau tak apa-apa.”

Namun Sujin tak dapat menahan tangisannya lagi. Ia menangis dalam dekapan Chanyeol. Chanyeol yang menyadari bahwa Sujin sedang menangis langsung melepaskan pelukannya.

“Hei, kau kenapa?” Tanya Chanyeol mulai khawatir.

Sujin menghapus air matanya secara kasar, “Aku mencoba untuk tidak peduli. Kau tau aku ingin sekali meminta permintaan agar bisa seperti Sooyeon dan Soojung. Aku ingin masuk ke SNU. Aku ingin cantik,”

Chanyeol menatap Sujin dengan prihatin. Ia terhubung dengan emosi perasaan dalam diri Sujin mengingat ia adalah majikan Chanyeol. Tetapi Chanyeol tidak dapat memasuki pemikirannya.

“Baiklah kau ingin cantik ‘kan? Akan ku kabulk-”

Perkataan Chanyeol terpotong oleh Sujin.

“Aku memang ingin. Tapi mungkin itu bukan yang aku butuhkan saat ini,” perkataan Sujin membuat Chanyeol menjadi bingung. “Aku ingin kau mengabulkan permintaan kedua ku untuk mengembalikan kehidupan Jongin seperti semula. Aku tak ingin ia menderita, aku sudah cukup menjadi perempuan jahat.”

Chanyeol menyipitkan matanya heran, “Kau telah menyia-nyiakan permintaan mu.”

“Setidaknya aku tidak akan menyesalinya,” kata Sujin sambil tersenyum lemah. Wajahnya masih memerah akibat tadi menangis.

“Kau benar-benar aneh,” ucap Chanyeol sambil menjentikkan jarinya.

Perasaan bersalah Sujin secara perlahan mulai berkurang.

-tbc-

A/n : Thankyouuuuu for all of you who already read or comment this super cheesy fics ((esp untill this chapter lol)) dan chapter selanjutnya adalah chapter terakhir! Maaf untuk slow update karena I have school exam huhuhu ((curhat)). By the way jangan lupa visit blog aku ya aurevoir23 (dot) wordpress (dot) com , terimakasih!

One thought on “Beautiful Creatures (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s