LOVE KILLER (Chapter 3)

LOVE KILLER

 

Title                     :  LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Do Kyungsoo ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 :  Chapter

Rating                  :  T

Genre                   :  School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeeeestarioka

Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts   )

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

“Ibu, aku sudah terlambat” teriak HyeJin diambang pintu.

 

“Iya, sayang. Ibu datang” begitu sampai Ibu mencium pipi putranya agar dia tidak marah. Kemudian keduanya berlalu memasuki mobil yang akan mengantar HyeJin ke sekolah.

 

HyeRa terdiam ditempat. Hatinya terluka setiap melihat perhatian Ibu yang hanya tertuju kepada adiknya. Walau ini sudah terjadi sejak HyeJin lahir, tapi sakit itu tidak pernah hilang. Justru semakin menyayat dari sebelumnya.

 

Ibu sangat menginginkan anak laki-laki. Makanya setelah HyeJin lahir Ibu lebih fokus mengurusnya sampai melupakan HyeRa. Ibu menyerahkan pengawasan HyeRa kepada Paman Song.

 

“Nona” HyeRa menatap Paman Song yang memanggilnya. “Kita berangkat sekarang?”

 

“Dimana Oppa?”

 

“Hongbin dibelakang”

 

HyeRa langsung menuju pekarangan rumah. Disanalah tempat Hongbin bekerja.

 

Didekat air mancur yang dikelilingi berbagai jenis bunga itu nampak Hongbin dengan lembar laporan ditangan. Sepertinya dia tengah mengecek pertumbuhan anak-anaknya.

 

“Oppa”

 

Panggilan HyeRa ditanggapi senyum kecil dari Hongbin, “Ada apa, Nona?”

 

“Antar aku ke sekolah”

 

“Bukankah Paman Song yang akan mengantar nona” seingatnya hari ini dia tidak ada jadwal mengantar HyeRa. Sebenarnya Hongbin menjadi supir bukan berdasarkan jadwal, hanya saja dia ada tugas dari Ibu HyeRa, “Nyonya menyuruhku menyiapkan bunga-bunga musim panas untuk tugas tuan HyeJin”

 

HyeRa menekuk wajah. HyeJin lagi!

 

Apa hari ini mood nya harus rusak dipagi hari!

 

Kenapa juga tadi HyeRa turun lebih awal. Seharusnya dia turun setelah HyeJin pergi, seperti biasanya. Jadi dia tidak perlu melihat Ibu yang terlampau sayang kepada HyeJin dan mengacuhkannya.

 

HyeRa berbalik dan meninggalkan Hongbin.

 

“Nona”

 

Tidak ada balasan dari HyeRa. Hongbin jadi tidak enak. Dia lupa kalau HyeRa sangat sensitif terhadap HyeJin. Dia pun mengejarnya.

 

Paman Song membukakan pintu belakang untuk HyeRa. Sebelum HyeRa masuk Hongbin sampai, dia membungkuk kepada Paman. “Saya yang akan mengantar nona ke sekolah”

 

Paman melihat HyeRa yang tanpa ekspresi memasuki mobil. Paman menutup pintunya, “Baiklah” lalu Paman mempersilahkan Hongbin.

 

Hongbin masuk dan mengintip HyeRa melalui kaca depan. “Selamat pagi, Nona~” ajaknya bercanda.

 

HyeRa memakai headset ditelinga, “Jangan ajak aku bicara” dia membuang muka.

 

Hongbin menerima kekesalan HyeRa. Dia menyalakan mesin. Dia siap mengantar HyeRa sesuai keinginannya. Setidaknya kekesalan HyeRa tidak bertambah besar kalau saja Hongbin tidak mengejarnya.

 

 

 

………………………………………………..

 

 

 

“Apa yang Oppa lakukan?” tanya HyeRa bingung. Dia masih duduk.

 

“Saya membukakan pintu untuk nona”

 

“Jangan berlebihan”

 

Hongbin mengulurkan tangannya.

 

“Apa lagi ini?”

 

“Saya bantu nona keluar” Hongbin tersenyum kecil.

 

“Aku bisa turun sendiri” jawab HyeRa sambil meraih tangan Hongbin.

 

Hongbin semakin menarik senyumnya karena ucapan HyeRa tidak sesuai dengan sikapnya. “Aku akan menjemput nona”

 

“Bukankah Oppa sibuk dengan tugas HyeJin”

 

“Aku akan menyelesaikannya setelah ini”

 

“Tidak perlu. Aku tidak mau Oppa dimarahi Ibuku”

 

“Nona tidak marah lagi padaku?” tanyanya jahil.

 

HyeRa mencubit gemas sebelah pipi Hongbin, “Oppa menyebalkannnnn” setelah itu dia melangkah menuju gedung sekolah.

 

Hongbin senang. Sedikitnya HyeRa telah kembali ceria. Dia bercanda dengannya. Ketika Hongbin ingin masuk kedalam mobil, beberapa siswa melewatinya. Dia merasakan aura sengit dari mereka. Apalagi laki-laki yang berjalan paling depan dan menatapnya dengan tajam.

 

Suho benci dengan pria itu. Dia menatapnya tidak suka. Berani sekali dia terlihat bahagia setelah disentuh HyeRa. Lihat saja, HyeRa akan menangis setelah ini.

 

 

 

***

 

 

 

Ujian semester akan berlangsung tiga hari lagi. Setiap harinya Sooyong belajar agar hasilnya tidak mengecewakan. Meski dia terbilang pintar, tapi Sooyong sedikit khawatir dengan HyeRa. Murid baru itu terlihat jauh lebih pintar. Untuk kali ini Sooyong harus mempertahankan peringkatnya sebagai nomor satu. Bukan karena dia takut orang-orang tidak percaya dan segan lagi padanya, tapi Ibu berjanji akan mempertemukannya dengan Ayah. Sooyong tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu. Ini adalah cara agar Sooyong bisa tinggal bersama Ayah dan terbebas dari tekanan.

 

Meski konsentrasinya sedikit terganggu akibat ancaman yang dia terima, tapi gadis itu berusaha untuk tetap fokus. Dia bahkan mengurangi jam tidur agar memaksimalkan waktu belajar.

 

Sore itu Sooyong pergi ke Coffee Shop yang tidak jauh dari rumah. Dia menemui Bobby, sepupunya yang bersekolah di Sekang. Dia meminta Bobby memberitahunya soal keberadaan Hanbin.

 

“Berhati-hatilah. Hanbin tidak akan membiarkan hal ini begitu saja. Dia pasti menggunakanmu untuk membalas dendam pada penjagamu itu”

 

“Tapi bukan dia yang memukuli Hanbin”

 

“Kau percaya pada laki-laki yang kerjanya memukul orang itu? Kau terlalu ah… tak peduli siapapun yang memukuli Hanbin, Yongguk tidak akan tinggal diam. Mungkin Yongguk bukanlah tandingannya, tapi pria itu mempunyai banyak cara untuk mengalahkan Bokdong. Lebih baik kau menyewa orang yang lebih kuat dari Yongguk atau menemui Hanbin lalu minta maaf padanya”

 

 

 

***

 

 

 

Seminggu kemudian, hasil ujian tengah semester diumumkan. Para murid berlomba menuju papan pengumuman untuk melihat hasil dari ujian yang berlangsung selama lima hari.

 

“Heol! Daebak! Apa ini benar? Peringkat pertama adalah Shin HyeRa? Bagaimana ini!” ucap murid perempuan yang berdiri paling depan. Dalam sekejap hal ini menjadi perbincangan hangat.

 

Kemudian para murid otomatis menyingkir ketika Suho dan teman-temannya datang mendekat. Mereka juga mau memlihat pengumuman.

 

“Seumur-umur aku paling benci melihat papan nilai” rutuk Chanyeol dengan wajah tidak bersemangat.

 

“Haruskah aku merobeknya?” usul Jongdae dengan senyum jahil.

 

“Heol! Apa ini? Kenapa Sooyong berada dinomor dua?” Minji melongo melihat hasil ujian.

 

Suho tersenyum licik, “Sepertinya ini adalah akhir dari masa kejayaan Kim Sooyong. DAEBAK!!!”

 

Tak lama HyeRa pun datang dan Sooyong terlihat berjalan dibelakangnya.

 

“Hei murid baru. Kau benar-benar jjang!” Haneul mengacungkan jempolnya kepada HyeRa. Sementara yang ditunjuk hanya diam sambil menatap datar hasil ujian. Berbeda dengan Sooyong yang nampak shock. Wajahnya pucat dan dia hanya diam. Hatinya kecewa. Perjuangannya sia-sia.

 

“Sooyong-ah ottokhe? Sepertinya kami harus mengubah peringkat kekuasaan saat ini. kekekeke”

 

“Harga dirimu sudah jatuh, jadi berhenti bersikap arogan padaku dan Minji!”

 

“Mulai sekarang kau tidak bisa sok pintar lagi didepan kami!”

 

Kata-kata jahat terus dialamatkan pada Sooyong. Minji dan Haneul yang selama ini bersamanya pun ikut menghinanya. HyeRa yang melihat hal itu hanya menggeleng tak habis pikir. Sikap mereka terlalu berlebihan. Ini hanya tentang peringkat. Kenapa orang-orang mempermasalahkannya.

 

Dia melirik Sooyong yang terdiam ditempat. Sampai air mata itu jatuh dan tanpa pikir panjang Sooyong berlari meninggalkan kerumunan siswa yang masih memperbincangkannya.

 

Dia malu dengan semuanya. Harga dirinya terluka. Selama ini dia selalu percaya diri dengan apa yang dia lakukan. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik selalu berhasil dia peroleh dengan kerja keras. Tapi dia gagal untuk pertama kali. Dia merasa usahanya selama ini sia-sia. Dia terlalu percaya diri sehingga dia terkadang lupa bahwa masih banyak orang yang lebih pintar darinya.

 

 

 

………………………………………………

 

 

 

Setelah berdebat dengan Ibunya, Sooyong mengurung diri di kamar. Tekanan yang dia terima dari berbagai pihak membuatnya terpukul.

 

Air matanya terus mengalir tanpa bisa dia tahan. Tidak ada seorang pun yang bisa dia jadikan sandaran. Minji dan Haneul hanyalah teman yang terjalin karena sebuah relasi dan Sooyong tidak berharap banyak pada mereka. Ibu yang seharusnya menjadi pelindung bahkan tidak peduli. Justru Ibunya lah yang membuat Sooyong seperti ini.

 

Dengan kekalutan dan kebingungan yang menyandera, gadis itu memutuskan untuk kabur dari rumah. Sebenarnya dia tidak punya tujuan tapi dia tidak sanggup berada disini lebih lama. Dadanya sesak dan dia membutuhkan kebebasan. Mungkin dengan berada jauh dari Ibu, dia akan merasa sedikit tenang. Setelah itu dia akan mulai mencari Ayah.

 

Setelah selesai menulis surat untuk Ibu, dia keluar melalui jendela kamar. Begitu kakinya berada di jalan raya, Sooyong coba menghubungi sahabatnya, Hyunyoung, tapi tak diangkat. Dia mulai bingung mau pergi kemana. Hari sudah mulai malam. Dia juga tidak mungkin berkeliaran yang nantinya bisa mengundang orang jahat. Sampai akhirnya dia teringat seseorang. Meski orang itu tidak akrab dengannya tapi dia yakin orang itu akan menerimanya. Setidaknya untuk malam ini.

 

 

 

………………………………………………….

 

 

 

Seorang pelayan wanita mengetuk pintu kamar HyeRa. Begitu HyeRa membukanya, “Ada tamu untuk nona”

 

“Siapa?”

 

“Namanya Kim Sooyong. Dia bilang, dia teman sekelas nona di sekolah”

 

Sooyong? HyeRa bingung. Buat apa dia kesini malam-malam?

 

HyeRa pun keluar lalu menuruni tangga untuk menemui tamu yang tak terduga.

 

Sooyong berdiri begitu melihat HyeRa berjalan kearahnya. “Hai, HyeRa. Apa aku mengganggu?”

 

“Bagaimana kau tahu rumahku?”

 

“Keluargaku tahu banyak tentangmu”

 

“Benarkah? Kupikir kau satu-satunya yang tidak peduli padaku”

 

“Yaaaa, mungkin itu benar. Tapi tidak dengan Ibuku” ekspresi sedih Sooyong membuat HyeRa merasa tidak enak.

 

“Duduklah. Ada apa?”

 

“Mmmm” Sooyong bingung bagaimana harus mengatakannya. Mereka bukan teman. Mereka juga tidak terlibat hubungan apapun untuk saling menerima. Bagaimana bisa dia meminta tolong padanya?

 

“Boleh aku… menginap dirumahmu?”

 

“Menginap? Kenapa? Kau pergi dari rumah?” pertanyaan yang HyeRa lontarkan mengejutkan dirinya sendiri.

 

Sooyong tersenyum canggung. “Karena peringkatku menurun, Ibu memarahiku. Aku semakin dituntut. Aku muak terus diatur dan dikekang, makanya aku kabur. Aku tidak punya tempat tujuan. Minji dan Haneul dekat denganku karena kerjasama keluarga. Dan lagi setelah nilaiku turun, kau lihat sendiri bagaimana mereka bersama yang lain mencaci makiku. Benar-benar menyebalkan. Tidak ada yang tulus berteman denganku! Semuanya topeng. Mereka picik!” dia melampiaskan kekesalannya. Dia tidak tahu lagi harus pergi kemana. Hanya HyeRa yang menurutnya akan menerima. Dilihat dari tidak adanya tanggapan berarti dari HyeRa ketika melihat hasil ujian di sekolah. Dia nampak tidak peduli.

 

“Baiklah. Kau bisa tidur disini” HyeRa berdiri sambil tersenyum. “Ikutlah denganku”

 

Sooyong menarik senyumnya. Dia senang HyeRa menerimanya dengan baik.

 

HyeRa berjalan kearah belakang.

 

“Bibi!” pelayan wanita yang tadi ke kamar HyeRa datang menghampiri begitu dirinya dipanggil. “Iya, Nona”

 

“Tolong siapkan air hangat dan pakaian untuk Sooyong. Rapikan tempat tidurku untuk dua orang”

 

Pelayan itu mengangguk dan langsung mengangkat kaki kelantai dua dimana kamar HyeRa berada.

 

“Kau ingin sesuatu yang hangat?” tanya HyeRa kepada Sooyong.

 

“Tidak perlu. Aku sudah sangat merepotkan” tolaknya halus.

 

“Tidak apa-apa” balas HyeRa ramah. Saat itu Paman Song lewat, “Paman”

 

“Iya, Nona”

 

“Tolong buatkan dua teh hangat. Oiya, Paman, perkenalkan, dia Kim Sooyong. Sooyong, ini Paman Song. Jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja padanya. Paman akan menyiapkan semuanya”

 

“Annyeonghaseyo” Sooyong membungkuk ramah yang dibalas bungkukan sopan oleh Paman Song.

 

“Kami di taman belakang ya, Paman” ucap HyeRa sebelum dia melangkah keluar. Dia membawa Sooyong ke taman. Lalu mereka duduk dikursi yang mengelilingi meja bundar.

 

“Tenangkan pikiranmu sebentar disini. Kupikir kau butuh udara segar”

 

Sooyong tidak menyangka sambutan HyeRa akan seramah ini. Dia bahkan membawanya ke halaman rumahnya.

 

“Aku tidak mengerti seperti apa tuntutan yang orang-orang sekitarmu berikan, tapi saat pikiranku suntuk aku selalu melihat bunga untuk menenangkan diri. Warna dan harumnya membuat pikiranku kembali baik”

 

“Aku tidak tahu kalau ternyata kau itu banyak bicara” canda Sooyong.

 

“Apa menurutmu aku bisu?”

 

“Kau pelit mengucapkan kalimat yang lebih dari dua kata”

 

“Aku hanya malas berbasa-basi. Lagipula aku tidak suka berbaur”

 

“Kenapa?”

 

“Sangat merepotkan” keduanya bertatapan, “Dengan latar belakang keluarga kita, kau tahu kalau hubungan pertemanan hanya berlandaskan bisnis. Tidak ada yang tulus. Hidupku sudah cukup sulit. Aku tidak mau menambahya menjadi semakin sulit”

 

“Kau tidak terlihat seperti seorang yang kesulitan”

 

“Apa aku harus berteriak setiap aku punya masalah?”

 

“Kupikir itu cara yang bagus”

 

“Kalau begitu kau coba lebih dulu. Bukankah sekarang kau yang sedang ada masalah” mereka berdua tertawa.

 

Tidak ada yang menyangka kalau HyeRa dan Sooyong bisa bicara panjang lebar seperti ini. Tidak ada awalan “Ayo kita berteman” hingga hubungan mereka tidak lagi canggung. Sooyong merasa jauh lebih baik sekarang. Dia datang ketempat yang tepat. Dia bisa menenangkan diri dan tidur dengan nyenyak.

 

 

 

***

 

 

 

Sooyong masih terdiam di tempat tidur sambil menatap layar ponsel. Ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Bokdong. Ibunya tidak mencari sama sekali. Dia sangat sedih.

 

“Kenapa belum bersiap?” tanya HyeRa yang baru selesai berpakaian.

 

“Nggg, aku tidak mau pergi ke sekolah”

 

HyeRa menatapnya bingung, “Kau malu dengan teman-temanmu?”

 

Sooyong menunduk, “Aku mau mencari Ayah”

 

HyeRa menghampiri Sooyong, dia duduk didepannya, “Jangan melarikan diri. Kalau kau tidak pergi ke sekolah, tanggapan buruk tentangamu akan bertambah. Kau tidak mau namamu tercemar hanya karena alasan bodoh bukan?”

 

“Yak! Kau mengejekku?”

 

“Aku sedang memberimu semangat, bodoh”

 

“Kau sekarang mengatakan aku bodoh? Aku hanya turun satu peringkat!” balasnya tidak terima.

 

“Sudahlah. Aku malas berdebat” HyeRa berdiri lalu pergi, “Bibi sudah menyiapkan seragam untukmu. Kita ke sekolah bersama” dia berhenti didekat pintu, dia menatap Sooyong. “Aku akan bantu mancari Ayahmu” dia tersenyum simpul sebelum keluar kamar.

 

Sooyong ikut tersenyum karenanya. HyeRa benar, dia tidak boleh melarikan diri. Dia bukan gadis lemah yang mudah kalah oleh orang-orang yang jauh dibawahnya. Dia cantik dan juga pintar. Dia punya kemampuan dan daya tarik. Dia menyemangati dirinya sendiri. Dia juga tidak boleh lari dari Bokdong. Laki-laki itu akan membunuhnya jika dia tidak muncul di sekolah.

 

Sooyong segera bangkit dari tempat tidur. Dia menuju kamar mandi yang berada dalam kamar untuk bersiap. Baiklah, Kim Sooyong. Kehidupan baru saja dimulai!

 

 

 

…………………………………………………………

 

 

 

Seluruh penghuni Genie dibuat tercengang oleh pemandangan di pagi hari. Semuanya terbengong melihat Sooyong dan HyeRa keluar dari mobil yang sama. Sooyong berangkat dengan HyeRa??? Kenapa? Mereka bukanlah teman.

 

Minji dan Haneul yang melihatnya tampak kesal dan tidak suka. Seharusnya Sooyong tidak punya siapa-siapa setelah nilainya turun. Seluruh Genie akan mengacuhkannya.

 

Suho dan teman-temannya juga dibuat bungkam ketika Sooyong dan HyeRa bercanda melewati mereka.

 

“Sepertinya matahari terbit dari barat”

 

“Heol! Sooyong menjadi budak HyeRa setelah dia mengalahkannya kemarin”

 

“Apa aku juga bisa menjadi budaknya setelah ini”

 

PLAK!

 

Baekhyun memukul kepala Chanyeol atas ucapannya yang sembarangan. Sementara Suho, dia melihat Bokdong tidak jauh didepan mereka yang juga memperhatikan Sooyong bersama HyeRa. Bokdong nampak tidak suka dengan kedekatan mereka. Suho tersenyum licik, “Ini akan menjadi pertunjukan yang menyenangkan” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan teman-temannya yang tidak mengerti.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

Sesampainya di kelas, Bokdong langsung mengajak Sooyong untuk bicara dengannya. Mereka pergi ke taman belakang.

 

“Kau mau bertanya apa? Cepat katakan!”

 

“Kenapa kau bisa bersama HyeRa? Jangan bilang kau-”

 

“Aku mencari Ayah dan HyeRa berjanji membantuku. Sekarang aku sudah boleh pergi kan?” tanpa diiyakan gadis itu membalikkan badannya untuk kembali ke kelas sebelum tangan kekar Bokdong menghentikan langkahnya.

 

“APA LAGI?”

 

“Aku belum selesai bicara Kim Sooyong!”

 

“Kau mau bicara apa lagi? Jebal, tidak bisakah kau tidak menggangguku sekali ini saja?” mohonnya. “Bahkan untuk bernafas pun aku kesulitan. Bukankah aku sudah menjawab semua pertanyaanmu. Kalau kau seperti ini  padaku, itu sama dengan membunuhku”

 

“Tapi setidaknya kau bisa mengangkat teleponku atau membalas pesanku. Jangan membuatku khawatir. Semalam aku mencarimu seperti orang gila dan kau muncul di sekolah seakan tidak terjadi apa-apa. Apa kau benar-benar benci padaku? Katakan saja!” ucap lelaki itu dengan tatapan menuntut.

 

“Kalaupun aku tidak membencimu apa yang bisa kau lakukan?”

 

“Kau bisa memberitahuku apa yang ingin kau lakukan. Menghubungiku disaat kau membutuhkan sesuatu dan bicara padaku ketika kau membutuhkan seorang teman. Apa itu sulit?”

 

DEG!

 

Untuk sesaat keduanya terdiam dengan saling berpandangan. Sebenarnya apa maksud dari perkataan Bokdong barusan. Apalagi dia terlihat serius saat mengatakannya. Sementara otaknya terus mencerna hingga dia menarik sebuah kesimpulan gila yang dia sendiri meragukannya.

 

 

 

 

 

tbc ~

 

One thought on “LOVE KILLER (Chapter 3)

  1. hadeh makin panas dan menyenangkan ya ceritanya awalnya gua pikir hyera sama soojong bakal jadi enemy tapi nyatanya kaga heol daebak /2 jempol😀

    and you should know sekarang gua memprediksi kalo ayahnya hyera dan soojong itu sama hahaha…

    keep wirting ya say muah muah muah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s