Storm Rain

 

Judul: Storm Rain

Author: Intan Hidayanti N. (Wattpad: @IntanChanhyun)

Genre: Romance, Yaoi.

Leght: Oneshoot

Rating: 15+

Cast: Sehun (EXO), Luhan

 

Sebelumnya, ceritaku ini udah pernah aku share di akun Wattpadku ^^ @IntanChanhyun

***

Duar!

Segaris cahaya dengan tiga cabang memanjang menampakkan wujudnya di langit kelam Kota Seoul. Suara nyaring yang diakibatkannya pun berhasil memekakan telinga beberapa orang yang masih berada di jalan setapak Kota Seoul. Hujan yang turun dengan deras, serta angin yang melambai penuh kemurkaan, seakan sebagai pertanda bahwa sang Maha Kuasa kali ini tengah murka. Suhu dingin yang menusuk kulit, serta puing-puing ranting yang mulai beterbangan menambah daftar kemurkaan Tuhan.

 

Seorang pria mungil terlihat tengah terduduk di atas tanah jalan setapak. Pria itu memeluk lututnya sendiri sambil mengumandangkan nama pria lain yang mulai mengusik hatinya kembali.

 

Sehun.. Sehun.. Sehun..

 

Pria mungil itu, Luhan. Menengadahkan wajahnya menatap langit kelabu Kota Seoul, membiarkan air hujan yang masih turun dengan derasnya menyapu genangan airmatanya dengan cepat. Seolah tak memedulikan kondisi tubuhnya yang telah basah kuyup, pria itu masih belum jengah meninggalkan tempat ini.

 

“Hujan..angin..badai..” serunya kemudian, “mungkin, Tuhan tengah murka padaku.” lanjutnya.

 

Pria manis itu masih terisak, sambil sesekali menutup kedua telinganya dengan kedua tangan mungilnya, di saat suara petir menggelegar, menyambar beberapa pohon kecil di depannya serta menerbangkan beberapa puing ranting pohon lain. Tubuh pria itu bergetar seketika, tatkala ia merasa tak kuat lagi untuk menahan dinginnya udara yang menusuk kulit mulusnya. Nama Sehun terus terngiang, berkali-kali mampu mengusik ketenangannya. Bahkan di saat tubuhnya mulai menggigil kedinginan pun, bayangan Sehunlah yang pertama kali muncul dalam pikirannya.

 

Seseorang, tolong tampar Luhan sekarang. Untuk sekedar menyadarkan pria itu  tentang arah perasaannya yang salah. Mana bisa seorang pria seperti Luhan menaruh perasaan untuk sosok seorang Oh Sehun? Mana boleh seorang pria mencintai pria juga? Tuhan tak akan mengizinkan itu semua terjadi, Luhan! Garis yang telah Tuhan tetapkan harus kau taati sepenuhnya. Jika kau tetap bersikukuh, maka Tuhan akan lebih murka dari ini.

 

Terlihat dari arah yang berlawanan, seorang pria jakung tengah berlari mendekati Luhan. Tentu, dapat dipastikan bahwa pria jakung itu adalah Sehun. Sehun berlari menerjang hujan deras yang mendera Kota Seoul ini, seolah tak memedulikan angin kencang yang kini mencoba menghempaskan tubuh jakungnya. Bahkan tak segan untuk menerbangkan tubuh Sehun ke udara, jika pria itu masih bersikukuh—berlari mendekati Luhan.

 

Pria jakung itu dapat memastikan bagaimana keadaan Luhan sekarang. Luhan dalam keadaan tak baik, pria manis itu merasa sakit. Mungkin sangat. Mengingat saat tanpa sengaja Luhan melihat Sehun berpelukan dengan gadis lain—saat melihat Sehun tengah menjalani garis normal yang dituntut oleh Tuhan.

 

Yang nahasnya, Luhan menyayangkan hal itu. Pria manis itu terlampau egois, ia tidak ingin Sehun miliknya dimiliki oleh orang lain. Luhan tak ingin, Sehun kembali ke dalam garis normal dari Tuhan. Bahkan, untuk membiarkan dirinya sendiri pun yang mencintai Sehun, ia hanya ingin itu. Seolah tak peduli akan perasaan orang lain pada Sehun, bahkan jika mereka sama-sama terjebak dalam garis normal yang Tuhan tuntutkan.

 

Salahkah Tuhan, jika Ia menciptakan sepasang manusia yang berusaha melewati garis normal yang ditetapkan-Nya dengan cara yang abnormal? Mungkin tidak, karena walaupun tak dapat terelakkan lagi, jika Sehun mencintai Luhan, dan Luhan mencintai Sehun.

 

Hyung..” lirih Sehun setelah sampai di hadapan Luhan. Pria jakung itu memilih berjongkok di depan Luhan, agar posisinya bisa menyamai posisi Luhan. Luhan yang masih memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam pun hanya terdiam. Lidah pria manis itu terasa kelu, jika sekedar untuk menjawab seruan Sehun untuknya. “Hyung.. berhentilah seperti ini!” lanjut Sehun sambil mengusap pelan kedua pundak Luhan. Sungguh, saat ini Sehun ingin menatap manik indah milik Luhan, sekedar menjelaskan bahwa apa yang baru saja Luhan lihat tak seperti apa yang Luhan pikirkan.

 

Luhan menggigit bibir bawahnya, ia masih berusaha menutupi isakan yang sedari tadi menggema menemaninya. Dengan ragu, Luhan mulai mengangkat kepalanya, karena jujur saja, walaupun Luhan kecewa terhadap Sehun, Luhan merindukan pria itu sekarang. Luhan  menengadahkan wajahnya menatap Sehun, samar-samar Luhan dapat manatap lekukan wajah tegas milik Sehun, juga tentang gambaran wajah Sehun yang tergurat rasa khawatir. Bulir-bulir hujan berubah menjadi tetesan indah, tatkala tetesan itu berjatuhan tepat pada ujung-ujung surai putih milik Sehun yang terurai di depan.

 

Luhan kembali menggigit bibir bawahnya, saat ia merasakan jantungnya yang berpacu kian cepat, serta desiran darahnya yang mengalir dengan hangat. Saat manik kecokelatan milik Sehun tengah berhasil menembus kedua manik indah miliknya. Seolah ingin mengajak Luhan, pergi ke dalam lembah surga milik Sehun. Pria manis itu kembali menahan isak, saat gemuruh di dadanya mulai merombak secara kasar.

 

Ada secerca kekecewaan dan sakit di dalam sana, dan itu semua sulit untuk tertutup saat ia menatap wajah tampan milik Sehun. Airmata Luhan mulai teredam bersamaan dengan air hujan yang masih menyapu wajah manisnya. Saat ingatan Luhan kembali berputar, dadanya kembali menyeruak sambil menjerit kesakitan. Sakit, saat mengetahui kenyataan bahwa Sehun telah berhasil mengikuti kembali garis normal dari Tuhan, meninggalkan ia sendirian di dalam kurungan perasaan kelam.

 

“Apa yang baru saja kau lihat, tak seperti apa yang kau pikirkan, Hyung.” Bariton milik Sehun terdengar sedikit bergetar, menciptakan garis fluktuatif yang terasa getir dan begitu nyeri saat jatuh tepat pada ulu hati Luhan. Luhan menggeleng pelan, baginya, apa yang baru saja ia lihat mampu memberikan penjelasan sejelas-jelasnya.

 

Segaris cahaya masih mengeluarkan bunyi nyaring di atas sana, hujan masih begitu deras dan angin masih bertiup dengan kencangnya. Seketika ia ingat, bahwa hujan dan angin tak boleh bersatu. Jika itu terpaksa terjadi, maka hujan badailah yang akan timbul seperti sekarang ini. Banyak orang yang akan membenci itu, dan Tuhan, Ia juga membencinya.

 

“Kau telah berhasil menempatkan diri ke garis normal yang Tuhan tuntut. Untuk apa kau ke sini untuk menjelaskan semuanya? Ini semua sudah jelas, Sehun. Sebagaimanapun itu, selamat, atas garis kenormalanmu yang telah kembali.” lirih Luhan akhirnya.

 

Jika saja Sehun tahu, saat Luhan mengeluarkan kalimatnya secara lancar, hati pria itu terasa teriris, ia menahan sesak yang sedari tadi menjalar dan ingin merobohkan pertahanannya.

 

“Kau salah! Gadis itu tiba-tiba memelukku, Hyung! Kau tahu bukan, aku sama sekali tak membalas pelukan gadis itu! Bukankah kau juga tahu, bahwa aku mencintaimu, Hyung?!” Sehun meraih kedua telapak tangan Luhan yang terasa dingin, ia menggenggam telapak itu erat, seolah ingin menyalurkan kehangatan yang ia miliki lewat tautan tangan, seakan tak ingin melepaskan Luhan sedetikpun itu. Pria jakung itu ingin meyakinkan Luhan, akan apa yang diucapkannya adalah sebuah realita yang benar adanya.

 

Luhan tercekat, bagaimanapun pernyataan Sehun, ia memang tak melihat Sehun membalas pelukan gadis itu. Gadis itulah, yang terus memeluk Sehun dengan erat dan berlebih. Sehun saja terlihat tak nyaman atas perlakuan gadis itu. Garis-garis kebohongan pun tak dapat Luhan lihat di balik binar kejujuran milik Sehun, itu artinya, pria yang dikasihinya ini, benar-benar tak berdusta padanya.

 

Siapa juga yang tak mengenal sosok Yura? Bahkan Luhan telah mengenal Yura sedari ia belum mengenal Sehun. Yura, gadis centil yang telah berstatus sebagai mantan kekasih Sehun, yang selalu saja mencoba merebut Sehun dari Luhan. Garis kenormalan Sehun saat pria jakung itu masih menuruti garis yang Tuhan tegakkan.

 

Juga perasaan Sehun, Luhan tak bisa mengelak tentang perasaan pria jakung itu terhadapnya, berkali-kali, bahkan beribu-ribu kali, Sehun telah membuktikan itu pada Luhan. Bahwa pria jakung itu benar mencintainya. Bahwa Sehun benar mencintai Luhan.

 

Seulas senyum mulai muncul di balik wajah tampan milik Sehun, ia meyilakkan surai cokelat milik Luhan yang sempat menutupi manik indahnya kebelakang, supaya juga, surai itu tak dapat menutupi wajah manis Luhan yang selalu ingin Sehun lihat. Luhan kembali tertegun, saat tangan hangat milik Sehun menerpa wajahnya, ibu jari Sehun bergerak lebut, mengusap airmata Luhan yang telah teredam bersamaan dengan air hujan.

 

“Aku tahu, kau menangis. Berhentilah menangis. Aku sakit saat melihatmu menangis. Terlebih, itu karenaku.” Luhan kembali merasakan desiran hangat yang menerpa aliran darahnya. Jantungnya yang berkali-kali memompa lebih cepat dari sebelumnya pun berubah menjadi berkali-kali lipat. Ia bahkan dapat merasakan desiran hangat itu telah menyelimuti tubuhnya yang menggigil. Berusaha mengusir hawa dingin yang menyeruak masuk, menusuk kulit tubuhnya.

 

“Kita harus mengikuti garis normal, Hun. Tuhan akan murka jika kita bersama.” seru Luhan dengan suara sengaunya yang tak mampu lagi ia bendung.

 

Sehun menggeleng pelan, “Tidak, Hyung!” tegasnya. Sungguh, saat Sehun mengatakan ‘tidak’ pun, ia benar-benar tak ingin menuruti keinginan Luhan. Sebagaimanapun Tuhan akan murka, perasaannya terhadap Luhan pun tak dapat ia elakkan.

 

“Dengarkan aku. Hujan dan angin tak selayaknya bersatu. Jika mereka bersatu, maka akan banyak orang yang membenci. Seperti hujan badai saat ini.” Luhan menghela napasnya pelan, “Kita tak bisa bersama. Tuhan akan murka. Tuhan tak akan mengizinkan kita melewati garis normal yang Tuhan inginkan.” lanjut Luhan yang kemudian mengalihkan pandang, menatap ranting-ranting pohon yang berceceran di sekitarnya.

 

Jadi, ini tentang hujan dan angin? Saat mereka bersama, maka terjadilah hujan badai yang dibenci orang-orang. Sehun hanya terdiam, mencoba mencerna apa yang Luhan ucapkan barusan. Jika memang hujan badai itu tak baik, maka itu adalah kenyataan yang benar.

 

Semua orang tak akan suka diberi suguhan hujan badai seperti ini, bahkan Tuhan pun terlihat murka, seraya menunjukkan ketidaksetujuan-Nya. Namun, jika Tuhan memang murka, mengapa Tuhan masih mengizinkan adanya hujan badai? Walaupun Tuhan sendiri tahu, akan ada banyak orang yang tak menyukainya. Mengizinkan rintik samudra dan hembusan udara bersama dalam satu momen. Bukankah, itu artinya, walaupun orang-orang tak akan menyukainya, namun, Tuhan memperbolehkannya, walau hanya sebentar?

 

Sehun menangkup kedua pipi Luhan dengan telapak tangannya yang terasa hangat. Ia menghadapkan wajah Luhan agar kembali menatap wajahnya, selebihnya, Sehun ingin Luhan kembali menatap matanya intens. Mencoba menyalurkan kehangatan yang Sehun punya dengan sekedar menangkup kedua pipi Luhan yang terasa dingin. Hingga manik miliknya kini telah berhasil menembus jauh pada manik indah milik Luhan.

 

“Dengar, Hyung. Aku tak peduli melewati garis kenormalan yang Tuhan tuntut. Bahkan jika Tuhan murka, aku akan tetap mencintaimu.” Sehun segera menarik tubuh mungil Luhan berada dalam dekapan hangatnya. Sekedar ia ingin menyalurkan kehangatan yang pria itu miliki untuk pria manis yang telah merajai seluruh isi hatinya. Tak peduli dengan murka Tuhan dan garis keabnormalan yang ia ciptakan. Tak peduli akan ada atau tiadanya orang-orang yang menentang perasaannya. Yang pasti, ia tak ingin berdusta pada perasaannya sendiri, bahwa ia mencintai Luhan. Sangat. “Biarkan aku melewati garis kenormalan. Dan itu, bersamamu.” lirihnya.

 

***

 

-Kikan-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s