The Night Mistake – Part.9

sehun chanyeol.jpg

The Night Mistake – Part.9

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Xiumin

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Dalam balutan kemeja putih berlapis jas hitam yang terkancing Jinhwan melangkah tenang memasuki lobi hotel, mengedarkan pandangan, mencari sosok pria yang menjadi alasan Jinhwan datang ke Hotel tersebut. Ia menghentikan langkahnya, menatap seorang pria, berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Jinhwan tersenyum halus, kedua tangannya terselip di dalam saku celana, tetap diam di tempat, menunggu pria berpakaian rapi di depannya mendekat.

Pria itu tersenyum lebar pada Jinhwan, rambut hitamnya yang berponi di sisir rapi. Wajahnya manis, ia memiliki dua gigi kelinci yang akan terlihat jelas jika pria itu tersenyum. Pria dengan tinggi badan tak lebih dari 174 centimeter itu menyapa Jinhwan ramah, dia mendongak untuk dapat menatap wajah Jinhwan. Ia tersenyum kian lebar hingga tampak berlebihan, mempersilahkan Jinhwan untuk mengikuti langkahnya menuju sebuah ruangan yang di khususkan untuk pria itu.

“Sebenarnya aku tidak begitu mengerti kenapa Hyung ingin menemuiku saat Jongin tidak ada di sini.” ucap pria itu saat dia sudah duduk di hadapan Jinhwan, ia meraih cangkir putih berisi Kopi Luwak kesukaannya dari meja kaca.

“Tidak perlu berlagak bodoh, aku tidak suka dengan orang yang berpikir lambat. Jadi, apa kau sudah memeriksa semua yang aku perintahkan padamu, Xiumin?” jawab Jinhwan datar dan dingin, mengurungkan niat Xiumin untuk kembali menikmati Kopi Luwak-nya dan memilih terdiam beberapa detik.

“Sudah, Hyung tenang saja.” jawab Xiumin tak yakin, ia meletakkan cangkir kopinya kembali di atas meja.

“Lalu apa yang kau dapatkan? Aku sangat yakin kau tahu apa jawaban yang aku inginkan.”

Xiumin menelan salivanya gugup, menatap meragu pada sosok dingin Jinhwan yang menatapnya tajam tanpa ampun. Ia mendesah pelan, mengingat tugas berat yang Jinhwan titahkan padanya. Xiumin yang berprofesi sebagai asisten manager di hotel Jongin sejak lima tahun silam itu masih sangat ingat siapa Im Jinhwan, pengawal pribadi keluarga Park yang terkenal dingin dan kejam selayak kaum Ninja Assasain dan Xiumin benar-benar tidak ingin nyawanya terancam hanya karena menolak pekerjaan yang Jinhwan tawarkan untuknya.

“Malam itu Jongin memintaku untuk mengurus semua penari, wanita penghibur, dan minuman. Dia memintaku untuk menambahkan obat perangsang di salah satu gelas, tapi aku benar-benar tidak tahu gelas itu untuk siapa, dia hanya berpesan padaku agar aku memberikan gelas itu padanya. Setelah itu aku keluar dari ruangan.” jawab Xiumin hati-hati.

“Dan tentang pelayan di kamar 0419 tidak ada yang mencurigakan Hyung, malam itu memang hari gadis itu bertugas membersihkan kamar 0419.”

“Apa tidak ada wanita penghibur yang dijadwalkan ada di kamar itu?”

“Tidak ada, Hyung.”

“Kau yakin?”

“Lebih dari yakin. Semua wanita penghibur malam itu ada di ruangan, tidak ada satu pun yang keluar ruangan hingga pesta selesai.” Xiumin mengantungkan kalimatnya, ia terlihat berpikir sejenak. “Hanya ada satu wanita yang keluar dari ruangan, wanita yang dibawa Sehun ke kamarnya.”

“Sehun?” Jinhwan bergumam pelan. “Apa saja yang dia lakukan malam itu Xiumin? Selain memerintahkan Chanyeol untuk masuk ke kamar 0419.”

“Malam itu dia mabuk berat, aku tidak sengaja mendengar dia berbicara sembarang di lorong hotel pada wanita penghibur yang dibawanya.”

“Lalu?”

“Sehari setelah Hyung memberikan tugas ini, aku menemui wanita penghibur itu, dia mengatakan sesuatu yang mencurigakan.” Xiumin mencodongkan tubuhnya. “Dia bilang Sehun meracau tentang balas dendam, penjebakan dan menghancurkan—- Park Chanyeol.”

“Hanya itu?”

Eoh, wanita penghibur benar-benar payah dalam hal mengingat Hyung, padahal aku sudah menyuapnya dengan ratusan ribu won.” jawab Xiumin, wajahnya menyesal.

“Bagaimana dengan Jongin, aku juga memintamu untuk mengawasinya, ‘kan?”

“Tidak ada yang penting Hyung, Jongin terlihat biasa saja, hanya saja beberapa hari setelah pesta aku melihat dia bertemu Sehun di ruangannya.”

“Terus awasi dia Xiumin, laporkan padaku dan jangan ada yang terlewat. Kau mengerti?”

“Iya aku mengerti, Hyung tenang saja.”

Jinhwan menegakkan tubuh tingginya, merapikan jas hitam yang melekat sempurna di tubuh tegabnya. Dalam langkah tenangnya yang terasa mencekam Jinhwan beringsut dari ruangan, namun saat ia hampir mencapai pintu, pria itu menahan langkah dan tanpa berbalik ia berujar pelan.

“Uang yang aku tawarkan padamu sudah bisa kau nikmati saat kau mengesek kartu ATM mu siang ini, bersenang-senanglah Xiumin.”

Tanpa menunggu jawaban dari Xiumin, Jinhwan menarik knop pintu, berlalu begitu saja, meninggalkan Xiumin yang sudah tertawa senang di belakang sana.

~000~

Berkutat dalam sepengal kalimat yang Soledad katakan beberapa hari lalu, membuat hidup Chanyeol menjadi gamang. Ia bingung hingga limblung, terlalu takut membayangkan jika apa yang dikatakan Soledad menjadi kenyataan. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika Jiyeon jatuh cinta padanya. Sudah cukup luka yang Chanyeol torehkan pada gadis itu, luka yang Chanyeol yakini akan membekas sampai kapanpun. Membayangkan itu saja selalu membuat Chanyeol terpuruk dalam rasa sesal yang tak berujung, jika kini ditambah dengan rasa cinta yang Jiyeon sematkan untuknya tentu akan membuat Chanyeol semakin merasa bersalah, karena pria itu lebih dari tahu kemana hatinya telah berlabuh.

“Chanyeol-ssi kenapa kau tidak makan? Apa ada masalah?”

Seketika Chanyeol mengerjab dan membuyarkan semua lamunannya, ia baru saja sadar jika sejak tadi ia duduk berhadapan di meja makan bersama Jiyeon, menemani gadis itu makan malam untuk yang kesekian kalinya. Chanyeol tersenyum lalu mencoba menyantap hidangan makan malam yang sejak tadi terabaikan di atas piring, menatap hangat pada sosok Jiyeon yang malam ini kembali menghabiskan banyak makanan.

Jiyeon selalu sangat berselera tiap kali makan berdua bersama Chanyeol.

“Aku hanya sedikit lelah, banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan.” jawab Chanyeol lirih, ia kembali mencoba menghabiskan makan malamnya.

Jiyeon terdiam, ia menopang dagu di atas kedua tangan yang bertumpu pada meja. Gadis itu menatap wajah Chanyeol lekat. Benar, Chanyeol terlihat lebih pucat, wajahnya memancarkan rasa lelah yang teramat sangat. Jika bisa Jiyeon ingin sekali mengatakan pada Chanyeol jika pria itu bisa membagi sebagian beban hidup padanya, jika saja bisa Jiyeon ingin sekali menguapkan rasa lelah Chanyeol karena sungguh, Jiyeon sangat mengkhawatir pria itu.

“Istirahatlah jika kau sudah selesai.” ucap Chanyeol seraya menghabiskan segelas air lalu berniat beranjak, namun niatnya tertahan saat Jiyeon bertanya sesuatu yang membuat Chanyeol memaku.

“Gadis yang datang bersamamu waktu itu, siapa dia?”

Chanyeol kembali duduk di atas kursinya, menatap wajah Jiyeon seraya menarik napasnya pelan. “Dia… Yang Yoojin, tunanganku. Beberapa bulan lagi kami akan menikah.” jawab Chanyeol lirih.

Jiyeon membeku seketika, ia bahkan merasa tak menemukan detak jantungnya untuk beberapa detik. Hening menyelimuti hati gadis itu dalam sekejab, matanya memanas, tumpukan kristal yang tanpa mampu dicegah sudah berkumpul di pelupuk. Tanpa kata dalam satu gerakan Jiyeon mendorong kebelakang bangku yang di dudukinya, memutar tubuhnya lalu berjalan tergesa menuju kamarnya. Chanyeol terkejut, pria itu menatap punggung Jiyeon yang kian menjauh, dan tidak pernah tahu jika di sepanjang langkah tertatih Jiyeon, gadis itu telah menjatuhkan ribuan air mata di pipi pucatnya.

~000~

Sejak malam itu Jiyeon kembali menjadi gadis yang pendiam, selalu murung dan menangis tersedu saat malam datang. Ia mogok makan, seharian hanya melamun tanpa mau melakukan apapun. Jihye yang melihat perubahan sikap Jiyeon yang sangat drastis menjadi khawatir, berbagai cara telah ia lakukan agar Jiyeon kembali berselera makan. Namun nihil, Jiyeon terlihat kian terpuruk dari hari ke hari. Jihye memandang Jiyeon yang duduk melamun di atas ranjang tidurnya, gadis itu menerawang, membiarkan pikirannya berlari jauh meninggalkan angannya. Jihye mendekat, duduk di tepian ranjang, tangan hangatnya mengusap jemari Jiyeon yang mendingin, membawanya dalam genggaman erat hingga gadis itu berpaling menatapnya.

“Tidak bisakah kau membagi bebanmu padaku, Jiyeon?”

Jiyeon kian beku, membisu dalam tatapan penuh kasih yang selalu Jihye tujukan padanya. Ia mengerjab, menjatuhkan tetesan air mata yang sejak tadi sudah mengenang di sudut matanya. Jiyeon terisak pelan, bersandar dalam pelukan erat Jihye yang terasa menenangkan selayak pelukan ibunya di panti asuhan.

“Haruskan hidupku semenyedihkan ini Dokter Kang?” tetesan air mata semakin tak mampu Jiyeon bendung, isakan yang coba ia tahan justru kian menyesakkan dadanya, membuat napasnya tersengal dalam perih yang menyayat nyata di tiap lapisan kulit hingga menembus urat nadi.

“Orangtuaku pergi saat aku masih berusia sepuluh tahun, garis hidup merengut paksa mereka dari takdir hidupku. Aku hidup sendirian di penampungan hingga Nyonya Soledad membawaku ke rumahnya, merawatku selayak putrinya sendiri. Selama ini aku selalu melakukan hal baik untuk kebahagian orang-orang yang aku sayangi, tapi… kenapa dunia justru menghianatiku, Dokter Kang?”

Pelukan Jihye kian erat, mengusap hangat punggung Jiyeon yang bergetar hebat. Tanpa sadar Jihye ikut larut dalam kesedihan Jiyeon, tak mampu menahan air mata saat Jiyeon semakin tersedu dalam pelukannya.

“Dan sekarang, aku tidak bisa lagi membencinya, aku tidak lagi punya kekuatan untuk menancapkan belati di jantung pria brengsek yang merampas duniaku. Aku harus bagaimana Dokter Kang? Apa yang harus aku lakukan, aku benar-benar sakit… sangat sakit.”

“Jiyeon.”

“Bisakah aku mati saja? Bisakah?”

“Tidak boleh. Kau harus tetap hidup demi orang-orang yang menyayangimu Jiyeon, demi anak tak berdosa yang kini tumbuh di rahimmu. Kau… harus tetap bernapas.”

Tangisan Jiyeon pecah seketika, ia meraung, mengeratkan pelukannya di bahu Jihye dan berharap semua luka ini akan segera berlalu, berharap jika dunia kembali sudi memeluknya dalam kebahagian yang pantas ia sesapi seperti sebelum kejadian kelam ini menimpanya.

~000~

“Bagaimana keadaannya Dokter Kang?”

Jihye bangkit dari tepian ranjang, menatap sekali lagi sosok Jiyeon yang sudah terlelap di bawah selimut tebal motif bunga Sakura sebelum mengalihkan pandangan pada Chanyeol. Pria sibuk itu baru saja kembali dari Kanada setelah berada di sana selama hampir dua minggu untuk masalah pekerjaan.

“Semakin memburuk.” Jihye menghela napas. “Dia susah sekali makan, selalu menyendiri dan menangis. Keadaannya bahkan jauh lebih buruk dari saat aku bertemu dengannya pertama kali, dia memendam satu beban yang sangat berat, Tuan Park. Keadaan Jiyeon benar-benar tidak baik untuk perkembangan bayinya.”

“Andai saja aku bisa menghilangkan bebannya, aku pasti akan melakukan apa saja untuknya.” jawab Chanyeol lirih, ia berjalan mendekati ranjang. “Aku menyakitinya terlalu banyak, aku bahkan tidak pernah membayangkan dia akan sudi memaafkanku suatu hari nanti.”

Jihye kembali hanya bisa menghela napas, ia ingin sekali mengatakan pada Chanyeol apa yang sebenarnya terjadi. Namun Jihye lebih dari paham jika itu tidak akan memperbaiki keadaan, ia tahu jika mengatakannya hanya akan semakin menambah beban Chanyeol, pria yang sangat menyesali perbuatan bejatnya pada Jiyeon. Perlahan Jihye berjalan meninggalkan Chanyeol yang masih terpekur di sisi ranjang, meninggalkan pria itu dalam balutan rasa yang akan Jihye sembunyikan sementara waktu.

Chanyeol menatap lekat sosok Jiyeon yang tertidur, menatap sosok gadis yang tanpa sadar terseret kian jauh dalam kehidupannya. Mata sendu Chanyeol tak berpaling walau hanya untuk satu detik, mencoba meluapkan segala sesal yang selalu mengejarnya tiap kali ia menatap wajah Jiyeon. Jika saja Chanyeol bisa melakukan hal lebih untuk gadis itu tentu dia akan suka rela melakukannya, namun pada kenyataannya Chanyeol kembali menyakiti Jiyeon, menyakiti gadis yang kini tengah mengandung darah dagingnya.

“Maafkan aku Song Jiyeon, maafkan aku… maafkan aku,” gumam Chanyeol dalam sesak yang mengunci tengorokannya, ia meraih jemari Jiyeon yang dingin, menggenggamnya seraya kembali melafalkan ribuan maaf dari dasar hati terdalam.

Genggaman Chanyeol yang kian mengerat menyadarkan Jiyeon dari alam bawah sadar, gadis itu mengeryit, mengerjabkan matanya berulang, memandang samar sosok Chanyeol yang duduk menunduk di depannya. Dalam kesadaran yang belum terkumpul utuh sepenuhnya, Jiyeon melafalkan nama Chanyeol, membuat pria itu menegakkan kepala, terkejut mendapati Jiyeon yang sudah membuka mata.

“Ji…Jiyeon?”

“Chanyeol-ssi, kau sudah kembali?”

Mata Chanyeol masih melebar, ia bahkan masih menggenggam jemari Jiyeon erat, mereka saling pandang untuk beberapa detik hingga meronakan wajah Jiyeon yang pucat. Namun di detik selanjutnya Jiyeon tersadar, kalimat menyakitkan yang Chanyeol utarakan beberapa minggu lalu kembali berdengung bak sebuah gong besar yang mengema memekakkan telinga. Jiyeon menarik tangannya dari genggaman Chanyeol, ia bangkit dari posisi tidurnya, menatap sinis ke arah Chanyeol yang masih memaku.

“Untuk apa kau datang kemari? Masih belum cukupkah kau menyakitiku?” suara Jiyeon terdengar gemetar, gadis itu mencengkram kuat selimut satin yang membungkus tubuhnya, menahan air mata sialan yang tiba-tiba datang di ujung iris beningnya.

“Aku membencimu, aku sangat membencimu Chanyeol. Pergi dari hadapanku, aku tidak ingin melihatmu lagi!”

Dalam satu dorongan yang sangat kuat Jiyeon mendorong Chanyeol hingga pria itu terjungkal, Jiyeon kian erat mengenggam selimutnya, menahan rasa khawatir pada sosok Chanyeol yang perlahan bangkit berdiri.

“Jiyeon,”

“PERGI LAKI-LAKI BRENGSEK!!!” Jiyeon berteriak, ia bangkit dari atas ranjang, mendorong tubuh Chanyeol agar keluar dari kamarnya.

“Aku benci pada… argh…,” ucapan Jiyeon terputus saat ia merasakan perutnya bergejolak, menohok hingga menekan hulu hati. Jiyeon sesak seketika, pijakan kakinya terhuyung, pandangannya mengabur.

“Jiyeon.” Chanyeol yang melihat Jiyeon menahan sakit berusaha mendekat, namun dengan cepat Jiyeon mundur, mengalau Chanyeol yang ingin mendekat.

“Jangan mendekat!” Jiyeon meremas ujung pakaiannya, menatap ke arah perutnya yang samar kini mulai membuncit. “Bayi ini… aku benci bayi ini, dia selalu menyakitiku sama sepertimu.”

Jiyeon mundur terhuyung, air mata sudah jatuh membasahi pipinya, ia meraung, menepuk perutnya dan berteriak histeris. Seketika Chanyeol menyambar pergelangan tangan Jiyeon hingga gadis itu tak bisa lagi memukul perutnya. Mata sayu Jiyeon merajam pertahanan Chanyeol, air mata gadis itu kian meleleh hingga tanpa sadar Chanyeol membawa Jiyeon ke dalam pelukannya.

“Maafkan aku Jiyeon, maafkan aku. Aku yang bersalah di sini bukan bayi di perutmu, jadi akulah yang pantas untuk kau pukul bukan dia.”

“LEPASKAN AKU BRENGSEK!!! LEPASKAN AKU!!!!” Jiyeon meronta dengan segenap tenaga yang ia punya, mendorong tubuh Chanyeol yang semakin erat memeluknya.

“Aku tidak mau bayi ini, aku tidak mau.” Jiyeon kembali meronta, tangisannya kian kencang memecah keheningan kamar.

“Aku akan merawat bayi itu jika dia lahir nanti, aku akan membawanya menjauh darimu.”

Seketika Jiyeon berhenti meronta, ia terdiam, pandangannya menerawang jauh. “Lalu setelah itu kau akan hidup bahagia dengan bayi ini dan wanita yang kau cintai, begitu? Sedangkan aku akan membusuk dan menanggung semuanya sendirian.”

“Jiyeon?” dekapan Chanyeol mengendur, dia tidak menyangka Jiyeon akan mengatakan hal itu.

“Kau benar-benar brengsek Chanyeol, aku membencimu… aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak akan pernah.” ucap Jiyeon lirih sesaat sebelum kesadarannya menghilang dalam rangkulan Chanyeol.

~000~

“Tidakkah kau merasa jika usahamu hanya sia-sia Sehun? Pada akhirnya Yoojin tetap akan menikah dengan Chanyeol, gadis itu menjadi buta karena terlalu mencintai Chanyeol.”

Ocehan Jongin tidak menarik minat Sehun, pria itu masih bergeming pada dinding kaca, menatap hamparan langit kelabu yang kini menaunginya. Sama seperti hatinya yang kelabu, acara pertunangan sekaligus lamaran Chanyeol pada Yoojin terpampang nyata di depannya. Sehun meringis, menahan rasa sakit yang menyayat sembilu tiap kali ia mencoba menarik napas. Sejak awal ia lebih dari paham akan terasa sulit nyaris mustahil jika ia ingin membuat Yoojin meninggalkan Chanyeol hanya karena masalah wanita lain, terlebih kali ini Chanyeol bisa meyakinkan Yoojin jika dia dijebak. Sejak dulu Yoojin selalu memaafkan Chanyeol, tiap kali pria itu bersama dirinya kerap bermalam bersama wanita penghibur di Pub miliknya.

Yoojin sudah tidak waras? Mungkin saja. Gadis itu terlalu mencintai Chanyeol hingga tidak bisa berpikir selain terus hidup bersama Chanyeol sebanyak apapun pria itu menyakitinya.

“Aku akan memisahkan mereka dengan keadaan,” Sehun menghentikan ucapannya, ia menatap Xiumin yang baru saja memasuki ruangan, membawa nampan berisi dua cangkir kopi pesanan Jongin.

“Kopi Luwak?” tanya Jongin, Xiumin mengangguk antusias, ia melirik Sehun yang berjalan menghampiri meja, duduk di sofa seraya menikmati kopi buatannya.

Xiumin sengaja berlama-lama di depan meja, menunggu Jongin dan Sehun kembali berbincang. Namun sial mereka berdua tidak melanjutkan pembicaraan, Xiumin pun memilih untuk berlalu. Tepat saat Xiumin ingin menarik knop pintu Jongin kembali bersuara, Xiumin pun berlama-lama di depan pintu dan berharap Jongin menghendakinya tetap tinggal, hingga ia bisa leluasa mendengar semua pembicaraan Jongin dan Sehun.

“Keadaan? Keadaan seperti apa?”

“Keadaaan Jiyeon yang tidak berdaya dan keadaan dimana Yoojin tidak akan bisa lagi mengabaikan apa yang terjadi. Dunia akan mengetahui tentang bayi yang dikandung Jiyeon, orangtua Yoojin pasti akan terpuruk dalam rasa malu dan aku yakin Yoojin akan berpikir dua kali untuk melanjutkan hubungannya dengan Chanyeol. Harga diri keluarganya adalah harga mati, aku tahu pasti tentang itu.”

Sehun menghentikan ucapannya, ia menatap Xiumin yang mematung di depan pintu. “Apa yang kau lakukan disana, Xiumin?”

Xiumin tergagap, ia mengaruk tengguk, memamerkan senyum lebar berlebihan andalannya untuk menutupi kegugupan. “Tidak ada. Aku hanya takut kalian berdua masih membutuhkanku.” tawa sumbang Xiumin menguar, cepat-cepat ia membungkuk dan menarik daun pintu.

“Xiumin.”

“Iya?” Xiumin berbalik, menatap gugup Sehun yang memanggilnya.

“Kau benar, aku masih membutuhkanmu.” Xiumin menarik napas leganya, ia melebarkan senyum mendengar ucapan Sehun selanjutnya. “Bawakan aku satu cangkir kopi lagi, kopi buatanmu benar-benar enak.”

“Tentu saja,” jawab Xiumin lalu memamerkan dua jempol sebelum dia berlalu.

~000~

Senyum lebar terlukis di wajah kaku Seojung saat mengetahui jika semua persiapan pesta pertunangan putranya hampir rampung, bahkan senyum Seojung kian lebar saat tahu jika Chanyeol juga akan melamar tunangannya di pesta itu. Semua terasa sempurna untuk Seojung, terlebih setelah semua kekacauan yang terjadi dan hampir mencoreng harga diri. Manik coklatnya yang pekat menatap bingkai poto di atas meja, ia tersenyum lembut seraya menyetuh bingkai poto.

“Apa kau bisa melihatnya? Putra kita akan menikah sebentar lagi, aku senang sekali. Seandainya saja kau masih bersama kami, semua ini pasti terasa jauh lebih sempurna.” gumam Seojung lirih, ia mengusap ujung matanya yang tiba-tiba berair.

Seojung mengalihkan pandangan, menatap datar sosok pengawal pribadi yang baru saja memasuki ruangan, berdiri tegap di depannya. Seojung mengangguk sekilas, ia berharap tidak ada berita yang bisa berpotensi mengacaukan suasana hatinya yang kini tengah berbahagia.

“Sore ini Direktur bisa menemui gadis itu.”

“Apa Chanyeol tidak ada di rumah?”

“Benar Direktur, hari ini Tuan Muda Park ada rapat penting di Busan. Dia baru kembali besok pagi.”

Seojung mengernyit, menimang sebentar niatnya untuk menemui Jiyeon dan menyelesaikan urusan yang tak mampu diselesaikan Jinhwan untuknya. “Bagaimana dengan Jinhwan?”

“Sepertinya Jinhwan sedang diberi tugas penting oleh Tuan Muda, dia jarang terlihat di rumah sejak beberapa minggu lalu. Saya sudah memastikan jika sore ini dia tidak ada di rumah.”

“Baiklah, kau boleh pergi.” ucap Seojung dingin, ia melipat tangannya di atas meja, menyeringai samar untuk hal yang akan dia lakukan pada Jiyeon. Gadis yang menurut Seojung adalah sumber masalah dari semua kekacauan yang terjadi.

~000~

“Dia sangat membenciku, Hyung.”

Gumaman samar pada akhirnya menguar dari mulut Chanyeol setelah puluhan detik terlewat dalam kesunyian, pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, menatap sekilas sosok Jinhwan yang duduk tenang di depannya, di seberang meja kaca yang menjadi pembatas satu-satunya di antara mereka.

“Haruskah kau mengulang sesuatu hal yang sudah sangat jelas? Lagipula bukankah selama ini kau selalu mengatakan padaku, jika kau pantas mendapatkan rasa benci dari gadis itu?”

Chanyeol mengangguk lemah, tetap bersandar, matanya terpejam, mencoba menghalau semua gundah yang terus saja mengikis habis asa di pikirannya.

“Tapi tetap saja rasanya menyesakkan, aku bahkan merasa selalu menjadi pendosa keji tiap kali menatap wajah gadis itu.”

Suasana kembali hening, Chanyeol memilih untuk terjerat dalam pikirannya sendiri. Tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya pada Jiyeon, tak tahu apa yang akan terjadi pada gadis itu setelah acara lamaran yang akan diadakan dalam beberapa hari ke depan. Chanyeol lebih dari paham jika gadis itu kini menatap berbeda ke arahnya, dia cukup pintar untuk mengetahui rasa tersembunyi yang samar namun pasti kian nyata terpancar dari sepasang mata bening Jiyeon tiap kali gadis itu menatapnya. Perih, Chanyeol bahkan merasa semakin sulit bernapas akhir-akhir ini. Dia benar-benar tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, jika kembali membuat hati gadis itu terluka.

“Ngomong-ngomong berita penting apa yang ingin Hyung sampaikan padaku, sampai-sampai membuat Hyung repot-repot menyusulku ke Busan?”

Dengan susah payah Chanyeol mengenyampingkan rasa gundahnya, ia menegakkan punggungnya, menunggu kabar penting yang Jinhwan bawa untuknya.

“Ini tentang siapa biang busuk yang menjebakmu, Chanyeol.”

“Apa? Hyung sudah menemukan orang itu.”

Hemm… aku sudah pernah ingin mengatakannya padamu namun saat itu aku masih meragu, tapi kali ini aku sangat yakin jika pria itu adalah dalang dari penjebakanmu.”

“Siapa dia Hyung?” tanya Chanyeol tak sabar.

“Dia adalah… Sehun. Oh Sehun.”

“Apa?”

Seketika tawa Chanyeol membahana tak tertahan, ia terlihat menggeleng pelan, menatap Jinhwan yang tetap menatapnya tajam dan tenang. Chanyeol berusaha mencari kebohongan di mata Jinhwan yang menghujamnya, berharap ini adalah lelucon hebat dari seorang Im Jinhwan. Namun nihil tatapan Jinhwan terlalu jujur, tak ada secercah dusta di balik tatapannya saat ini, hingga pada akhirnya menyamarkan tawa Chanyeol menjadi sengauan sumbang, sebelum lenyap di telan ketidakpercayaan yang kini nyata memeluknya.

Hyung?”

“Dia menjebakmu dengan bantuan Kim Jongin.”

“Jongin?”

“Dia memerintahkan Jongin untuk mengatur semuanya, Jongin meminta Xiumin menambahkan obat perangsang disalah satu gelas yang aku sangat yakin adalah gelas yang kau pakai malam itu. Tidak pernah ada wanita penghibur yang Sehun sewa untukmu di kamar 0419, Jiyeon adalah petugas kebersihan yang malam itu bertugas membersihkan kamar 0419 dan terjebak di dalam rencana busuk Sehun dan Jongin. Jika malam itu Jiyeon tidak ada di kamar itu, maka sudah pasti kau akan tidur dengan karyawan hotel lain yang malam itu bertugas di kamar 0419.”

Jinhwan menahan ucapannya, ia menatap Chanyeol yang kembali tertawa sumbang di depannya. Ia sangat paham apa yang tengah Chanyeol rasakan sekarang, pria itu tengah menampik mati-matian fakta kejam dari sosok yang begitu Chanyeol sayangi sejak dulu.

“Maafkan aku Hyung, aku tidak bisa mempercayaimu kali ini.” ucap Chanyeol meragu, hatinya bergemuruh dalam sangkalan yang kian sulit menjadi nyata.

“Aku tahu. Tapi cepat atau lambat semuanya akan terbongkar. Dia ingin membalasmu Chanyeol, dia ingin menghancurkanmu.”

“Membalas apa? Memangnya apa yang sudah aku lakukan padanya? Dia adikku Hyung, mana mungkin dia ingin menghancurkanku.”

“Sayangnya itu adalah kenyataannya, Chanyeol. Berhentilah bersikap naif dan hadapilah kenyataan ini.”

Jinhwan menegakkan tubuhnya, berlalu dari ruangan dalam langkah tenangnya, meninggalkan Chanyeol yang duduk terpuruk dalam lara yang menghancurkannya tanpa sisa.

~000~

Suasana di dalam ruang pribadi itu terasa sangat tegang, Jiyeon duduk mematung di depan seorang wanita yang tidak dikenalnya. Hanya saja jika Jiyeon melihat garis wajah wanita dari kalangan atas itu, maka Jiyeon bisa menemukan guratan yang terlihat sama dengan apa yang terpahat di wajah Chanyeol. Kehadiran wanita itu yang tiba-tiba membuat seisi rumah terkejut, terlebih Jihye. Dokter pribadi Jiyeon itu bahkan sempat melarang wanita itu untuk bertemu Jiyeon, tapi apa daya Jihye atau siapapun yang ada di rumah Chanyeol saat ini, mereka semua tidak akan mampu menahan titah sang wanita terhormat, Park Seojung.

“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Song Jiyeon.” suara dingin Seojung memecah suasana hening di antara mereka, suara yang semakin membuat ruangan terasa mencekam.

“Aku adalah Park Seojung, ibu dari Park Chanyeol. Laki-laki yang terpaksa harus terjebak bersamamu dalam masalah yang sejatinya tidak akan bergulir menjadi bola salju super besar, jika sejak awal kau tidak berulah.”

Jiyeon masih diam di tempat duduknya, balas menatap Seojung tajam saat wanita itu kembali melanjutkan matlumat dinginnya.

“Aku tahu Chanyeol sudah menghancurkan masa depanmu, aku juga tahu jika sudah seharusnya dia bertanggungjawab akan hal itu. Tapi menurutku itu sedikit berlebihan, kita tinggal di Korea Selatan yang bebas. Aku akan memberimu uang sebanyak yang kau mau asal kau mau menjauh dari putraku, sebentar lagi dia akan menikah jadi mustahil jika dia hidup bersama dua wanita. Dan menurutku menemukan pasangan hidup dengan satu anak, aku rasa tidak akan sulit, benar begitu?”

“Bagaimana jika aku tidak bersedia, Nyonya?” ujar Jiyeon dingin, matanya menajam, menatap Seojung yang tertawa sumbang.

“Song Jiyeon, apa kau tahu jika kau tetap melakukan ini semua, maka kau akan menghancurkan masa depan orang lain lebih banyak?”

Jiyeon geming, sorot matanya mulai menguarkan rasa benci untuk semua kalimat yang Seojung ucapkan setelahnya.

“Jika kau tetap memaksa Chanyeol untuk memperbaiki masa depanmu, maka kau akan menghancurkan masa depanku, menghancurkan harga saham perusahaanku dan itu berarti aku harus memangkas karyawanku, memberhentikan ratusan orang yang mengantungkan masa depannya padaku, bisakah kau mengerti akan hal itu?” wajah Seojung mengeras.

“Apakah menurutmu pantas jika masa depanmu dibayar oleh ratusan masa depan orang-orang di luar sana? Jadi…,” ucapan Seojung terhenti di udara saat Jiyeon mengintrupsi dengan suara dinginnya.

“Aku tidak pernah memaksa putra anda untuk bertanggungjawab ataupun memperbaiki masa depanku, dia yang memaksa untuk melakukan semua ini. Apa kau tahu Nyonya, apa yang aku rasakan tiap kali melihat wajah putramu? Aku selalu merasa ingin mati, merasa ingin membunuhnya dengan kedua tanganku, aku membencinya, jadi berhentilah bersikap seolah-olah aku yang mempersulit semua ini. Putramu adalah sosok kejam yang patut disalahkan untuk semua yang terjadi, bukan aku.” Jiyeon mencengkram ujung pakaiannya sendiri, ia menatap Seojung yang mengerang tertahan dengan sorot mata menajam.

“Memangnya berapa uang yang bisa kau berikan padaku? Dengar. Aku tidak butuh putra brengsekmu Nyonya, hartamu atau apapun itu yang menyangkut tentang keluarga kalian. Kalian semua sama saja, kalian hanyalah sekumpulan orang brengsek yang akan aku benci sampai kapanpun. Aku akan pergi tanpa kau harus mengusirku, kau puas Nyonya Park Seojung yang terhormat?”

Seojung mengepalkan tangannya kuat, menahan deru emosi yang membuat rahangnya mengatup rapat. Ia menatap Jiyeon yang juga menatapnya dingin berselimut angkara murka, gadis itu tak merasa gentar sama sekali dengan tatapan tajam Seojung saat ini. Dalam satu gerakan Jiyeon bangkit dari sofa yang di dudukinya, ia membalikkan badan, berjalan hening bersama kenangan pahit di belakangnya yang akan terus membuntutinya sampai kapanpun

Jiyeon membanting pintu kamar hingga meninggalkan bunyi dentuman di belakangnya, ia mengerang kesal, terlalu muak pada sosok Seojung dan Chanyeol yang mempermainkan hidupnya. Napas Jiyeon memburu kasar, genggaman tangannya mengerat hingga memutihkan semua bukunya. Jiyeon berteriak histeris, ia menghempaskan tangannya pada deretan Gucci yang berjejer rapi di sepanjang dinding kamar di samping daun pintu. Bunyi pecahan Gucci membuat beberapa pelayan bergegas menuju kamar Jiyeon, mereka terkejut mendapati Jiyeon yang terduduk di lantai, wajah gadis itu pucat, darah segar mengucur deras dari lengannya yang tersayat pecahan Gucci.

“Nona Jiyeon, apa yang terjadi?”

Secepat kilat mereka menjauhkan tubuh Jiyeon dari pecahan Gucci, membawa Jiyeon untuk berbaring di atas ranjang. Seorang pelayan segera memanggil Jihye, wanita itu terkejut bukan kepalang dan segera memberikan pertolongan pertama dengan membalutkan ujung pakaiannya pada luka Jiyeon yang terus mengeluarkan darah.

“Apa yang kau lakukan, Jiyeon?” ujar Jihye seraya memerintahkan Yixing untuk memanggil tim dokter yang bertugas memeriksa perkembangan Jiyeon selama 24 jam.

Jiyeon tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya, tak ambil pusing saat tim dokter datang dan mulai bekerja pada luka melintang di tangan kirinya. Samar rasa kantuk mulai menghampiri Jiyeon saat dokter menyuntikkan obat bius ke tubuhnya, menjalari urat nadi hingga membuat kesadaran Jiyeon pada akhirnya menghilang.

~000~

Jiyeon terbangun lebih pagi sebelum semua orang di rumah Chanyeol terjaga, ia meringis, menatap tangan kirinya yang sudah diperban dan mendapati jarum besar menekan nadi di tangan kanannya. Jiyeon mengerakkan kedua tangannya yang serasa kebas nyaris mati rasa, ia mengumpat saat merasa tak sanggup jika ia harus mencabut jarum besar yang mengaliri cairan infuse ke tubuhnya. Ia mengedarkan pandangan, mencoba turun dari ranjang. Jiyeon menarik tiang infuse, berjalan tertatih menuju pintu beranda.

Hembusan angin dingin selayak di musim salju menyambut Jiyeon saat ia berhasil membuka pintu beranda, menatap langit yang bahkan masih terlihat hitam. Ia meneruskan langkahnya hingga berdiri di pinggiran beranda, memperhatikan betapa luasnya halaman rumah Chanyeol, mencari celah untuk dapat keluar dari rumah Chanyeol tanpa diketahui. Desahan putus asa menguar tanpa sadar, Jiyeon merasa tak punya akal yang cukup untuk membuatnya bisa keluar dari rumah Chanyeol tanpa diketahui.

Di depan pintu gerbang utama terdapat pos penjaga dengan pengawal yang berjaga selama 24 jam, tak mudah untuk melewati mereka tanpa alasan masuk akal. Jiyeon mengalihkan pandangan pada lapangan golf di samping lapangan tenis, di sana terdapat pintu belakang yang terhubung pada hutan buatan milik Chanyeol. Jika Jiyeon tidak salah mengingat, Jihye pernah mengatakan padanya hutan buatan itu tidak dijaga selama 24 jam, hanya saja di tiap sudutnya terdapat kamera CCTV. Jika ia mampu menelusuri hutan buatan tanpa tertangkap kamera CCTV maka ia akan bisa keluar dengan aman melalui pintu kecil di ujung hutan.

Saat Jiyeon masih berkutat dalam pemikirannya sendiri, ia mendapati pintu gerbang terbuka, sebuah mobil hitam yang sangat Jiyeon kenal memasuki pelataran. Tanpa rencana senyum lebar terbentuk di wajah Jiyeon yang pucat, ia bahkan sudah melupakan semua niatnya untuk kabur dari rumah Chanyeol saat sosok yang baru saja keluar dari mobil di bawah sana tanpa Jiyeon duga mendongak, menatap dirinya yang memaku, terkejut hingga lupa untuk sekedar bernapas. Tangan Jiyeon yang dingin mencengkram kuat ujung beranda, Jiyeon merintih, merasa jika perutnya tiba-tiba menegang, menekan hingga ia merasa sulit bernapas.

“Chanyeol…,” tanpa sadar Jiyeon bergumam saat perutnya kian sakit, ia semakin merintih dan hampir terduduk di lantai beranda jika tidak ditahan oleh sepasang tangan yang kini nyata membingkai kedua bahu.

“Chanyeol?” Jiyeon kembali bergumam, tak sadar jika sosok yang berdiri khawatir di depannya adalah sosok yang ia panggil.

“Jiyeon, kau baik-baik saja?”

Jiyeon memaku, perlahan ia mendongak dan seketika termangu mendapati wajah Chanyeol yang sangat dekat, hanya sejauh helaan napas. Dalam hitungan detik wajah Jiyeon bersemu merah jambu, rasa sakit di perutnya hilang tanpa sempat ia menyadarinya, Jiyeon bahkan lupa jika kedua tangannya kebas dan mati rasa. Ia terlalu bahagia, mendapati si pembuat rindu yang menguasai hati berada di jangkauan pandangannya.

“Perutmu sakit?” Jiyeon tidak menjawab. “Ada apa dengan tanganmu, Jiyeon?” Jiyeon tetap membisu, terlalu menikmati wajah Chanyeol yang mampu tertangkap mata dengan begitu lekat, membuat detak jantung Jiyeon memacu kian cepat.

“Jiyeon, berhentilah membuatku khawatir.”

Pada akhirnya Jiyeon tersadar, ia mengerjab, matanya melebar dan segera melepaskan rangkulan Chanyeol di bahunya. Ia membuang muka, menarik tiang infuse seraya berjalan kembali ke kamarnya. Namun langkah Jiyeon terhenti saat perutnya kembali berulah, ia kembali merintih dan kembali merasakan tangan hangat Chanyeol merangkul kedua bahu, membantunya berjalan hingga duduk di tepian ranjang.

“Tanganmu terluka, kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

Tanpa menoleh Jiyeon bisa merasakan luapan kekhawatiran di nada Chanyeol saat ini, membuat Jiyeon mati-matian menahan senyum di wajahnya yang ia palingkan dari Chanyeol. Ia tidak mau tertangkap basah merasa senang karena kedatangan pria itu, ia membenci Chanyeol, ia bahkan berniat pergi sejauh mungkin dari pria brengsek itu. Dirinya tidak pernah merindukan apalagi menginginkan Chanyeol.

Benar begitukan? gumam Jiyeon dalam benaknya, berusaha meyakinkan diri sendiri.

Jiyeon menoleh saat menyadari jika Chanyeol beranjak dari sisi ranjang, ia menatap nyaris tanpa berkedip saat pria itu menarik lengan kemeja putih yang dikenakannya hingga sebatas siku. Mengacak rambut hitamnya hingga tatanannya berantakan, Chanyeol bertolak pinggang sebelum akhirnya berujar geram.

“Sebenarnya apa yang mereka semua lakukan hingga membiarkanmu terluka,” Chanyeol mengusap wajahnya kasar, berjalan tergesa menuju pintu kamar lalu berteriak lantang, membuat Jiyeon terkejut dari atas ranjang yang didudukinya.

“Dokter Kang Jihye, Zhang Yixing!!!”

Tak sampai lima menit Yixing sudah berdiri di depan Chanyeol, disusul Jihye yang datang lima menit setelahnya, mereka berdua membungkuk hormat pada sosok Chanyeol yang terlihat murka.

“Tuan Muda Park.” ucap Yixing pelan.

“Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk menjaga Jiyeon selama 24 jam penuh? Aku bahkan memberi perintah pada semua pelayan untuk selalu terjaga, tapi sekarang aku mendapati luka di tangan kirinya dan kau… tidak memberitahukannya padaku.” rahang Chanyeol mengeras, menatap Yixing yang hanya mampu melafalkan kata maaf.

“Dokter Kang, bisa kau jelaskan?” Jihye mengangguk pelan, berniat untuk menjelaskan apa yang terjadi, namun kata-kata wanita itu tertahan saat suara Jiyeon mengintrupsi.

“Chanyeol, mereka tidak bersalah.” Jiyeon mencengkram tiang infuse yang berada di samping tubuhnya saat Chanyeol berpaling, menatapnya masih dalam balutan kemarahan.

“Aku… aku tidak sengaja menjatuhkan Gucci dan pecahannya melukai lenganku, Dokter Kang dan Yixing sudah menjagaku dengan sangat baik.” tuntas Jiyeon, wajahnya setengah menunduk.

Pandangan marah Chanyeol mengendur, dia menatap Jiyeon yang masih setengah menunduk, dia merasa sedikit menyesal karena mungkin sikapnya pagi ini membuat gadis itu terkejut. Ini petama kalinya Chanyeol berkata dengan nada sangat keras di depan Jiyeon, gundah hati yang masih mendominasi turut andil dalam perubahan emosi Chanyeol. Ia hanya merasa kesal dan marah atas dugaan Jinhwan pada Sehun, hingga tak mampu mengontrol emosinya. Chanyeol mendesah pelan dan selanjutnya tanpa kata tambahan ia segera berlalu dari kamar Jiyeon, meninggalkan Jiyeon yang masih memaku di tempatnya berpijak.

~000~

Sehun berjalan tenang menuju meja resepsionis, mengerutkan dahi saat sang resepsionis mengatakan jika sudah ada Chanyeol di ruang kerjanya, menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu. Sehun mengerling, berpikir sejenak dan merasa heran saat Chanyeol tidak mengatakan terlebih dahulu jika ingin berkunjung seperti yang biasa pria itu lakukan. Sehun segera menarik knop pintu, senyum lebar ia layangkan pada sosok Chanyeol yang terlihat duduk tenang di atas sofa hitam di tengah ruangan.

“Ini benar-benar diluar kebiasaanmu,” sapa Sehun ceria seraya melepaskan kaca mata hitamnya, ia mendudukkan tubuhnya di samping Chanyeol yang masih bergeming. “Bukankah kau baru kembali dari Busan? Apa ada hal buruk yang terjadi?”

Chanyeol memejamkan matanya sejenak, ia memutar tubuhnya hingga kini mereka berhadapan. Chanyeol menatap Sehun lekat, mencari satu alasan yang mungkin bisa ia temukan di balik sepasang mata teduh Sehun. Mencari satu alasan di balik senyum hangat Sehun yang sejak dulu ia rasa tak pernah berubah, senyum hangat selayak adik yang tengah menatap kakak laki-lakinya.

“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu.” ujar Chanyeol susah payah, di dalam hati ia terus berharap jika Sehun akan menyangkal apa yang telah Jinhwan tuduhkan pada pria itu.

“Tentang?”

“Tentang malam dimana aku terjebak bersama Jiyeon,” tuntas Chanyeol pelan, ia menatap Sehun yang terkejut.

“Maksudmu?”

“Kau tahu sesuatu, benarkan?”

“Chanyeol,”

“Apa malam itu kau menjebakku Sehun? Apa kau sengaja memberiku obat perangsang hingga aku meniduri satu pelayan hotel hanya untuk membalasku?”

Sehun mengerjab, ia terkejut namun berusaha menguasai dirinya. Ia tahu pasti hal ini akan terjadi cepat atau lambat. “Siapa yang mengatakannya padamu? Jongin?”

“Kau bersama Jongin menjebakku, benarkan?” Sehun bergeming, ia hanya menatap Chanyeol tanpa jawaban ataupun sanggahan.

“Oh Sehun, jawab aku!”

“Apa yang harus aku jawab?”

“Kau…,”

“Iya aku. Benar sekali.”

Chanyeol melebarkan matanya, ia terkejut bukan kepalang. Benar-benar tak menyangka Sehun akan mengakuinya, Chanyeol benar-benar berharap Sehun akan berbohong. Chanyeol menghempaskan bahu Sehun ke belakang, ia berdiri, berusaha tegak di atas kedua kakinya yang lemas. Sehun pun ikut berdiri, ia merapikan jas hitam yang dikenakannya, tersenyum penuh kemenangan.

“Aku ingin kau hancur, aku ingin kau tahu apa yang aku rasakan selama ini, Park Chanyeol.”

Chanyeol berbalik, menatap Sehun dengan alis yang menyatu. “Apa? Memangnya apa yang telah aku lakukan padamu Sehun, kau adikku…,” ucapan Chanyeol terputus saat Sehun berteriak lantang.

“Berhenti mengatakan aku adalah adikmu, kau merampas semuanya dariku Chanyeol, KAU MERAMPAS SEMUANYA, KAU DENGAR?!!”

“Apa?”

“Kau merampas ayahku, ibuku dan gadis yang aku cintai. Sejak kedatanganmu ke rumahku semuanya menjadi kacau, aku muak padamu.” wajah Sehun merah padam, meluapkan semua emosi yang sudah ia tahan selama bertahun tahun.

“Aku tidak pernah merampas apapun darimu.”

“Tapi kenyataannya kau merampas semuanya! Yoojin… kau bahkan merampasnya di hari aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Kau brengsek Chanyeol. Sekarang giliranmu yang akan kehilangan semuanya—- semuanya. Kau dengar?!”

 

BUUKK!!!—-

 

Satu pukulan Chanyeol layangkan ke wajah Sehun hingga tawa sumbang Sehun terhenti seketika, pria itu ambruk di atas sofa. Sehun menyeringai, ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, berdiri tegak lalu balik melayangkan tinjuannya pada Chanyeol.

 

BUUKK!!!—-

 

Kini giliran Chanyeol yang tersungkur di lantai, darah segar kini juga mengalir dari sudut bibir Chanyeol yang robek. Ia berdiri, meraih kerah kemeja Sehun, menatap Sehun yang terkekeh menyebalkan. Membuat Chanyeol mati-matian menahan emosinya agar tidak kembali menghamtam wajah Sehun dengan bogeman kerasnya.

“Aku tidak pernah merampas Yoojin darimu, ayahmu yang mengenalkannya padaku. Sejak awal aku tidak tahu kau menyukainya, apa itu yang namanya merampas?”

“Aku tidak peduli, yang jelas kau telah merampasnya. Kau membuatku terpuruk sendirian.”

“Oh Sehun!”

“Ayahku bahkan tidak pernah menganggapku jika sudah menyangkut dirimu, ayahku selalu memujimu, dia lebih menyayangimu.”

“Paman sangat menyayangimu, Sehun.”

Sehun melepaskan cengkaram Chanyeol di lehernya, mata yang selalu menatap Chanyeol hangat kini terlihat memicing marah. Tak ada lagi aura persaudaraan di mata Sehun, yang tersisa hanyalah dendam membara yang terus berkobar hingga membutakan mata hati Oh Sehun.

“Sekarang saatnya kau hancur Chanyeol, sebentar lagi dunia akan tahu jika seorang Park Chanyeol telah memperkosa seorang pelayan Hotel. Gadis malang yang dikurung di rumah besarmu dan kini sedang mengandung anakmu. Aku yakin jika Bibi Park Seo mendengar berita ini di televisi, dia akan benar-benar kecewa padamu.”

“Oh Sehun…,”

 

BUUKK!!!—-

 

Chanyeol kembali melayangkan bogemannya hingga Sehun terhuyung, dalam rasa kecewa yang teramat sangat Chanyeol menatap Sehun lekat, mata pria itu masih memancarkan rasa sayang pada sosok Sehun yang menyeringai.

“Aku… aku benar-benar tidak menyangka kau melakukan ini padaku Sehun, selama ini aku selalu menganggapmu sebagai adikku. Jika kau mengatakannya sejak awal aku pasti akan menolak perjodohanku dengan Yoojin, kau lupa jika aku bersedia melakukan apapun untukmu, Sehun.” suara Chanyeol serak, pandangannya mulai mengabur, tertutup lapisan bening yang mulai mendatangi pelupuk mata.

Chanyeol berusaha berdiri tegak dalam rasa perih dari luka yang menusuk jantungnya, merasa jika kini setengah dari nyawanya menguap dari raga. Ia menatap Sehun sekilas, mengusap wajahnya yang kini telah basah oleh air mata pesakitan hingga Chanyeol merasa benar-benar terpuruk.

“Maafkan aku, maafkan aku jika selama ini kau merasa aku telah merampas semuanya darimu. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu,” Chanyeol berbalik, ia mencoba berjalan tertatih menuju pintu.

“Meski begitu, kau tetaplah adikku Sehun, sampai kapanpun kau tetaplah saudaraku, tidak akan ada yang bisa mengubahnya.” ujar Chanyeol lirih sesaat sebelum ia menghilang di balik pintu, meninggalkan Sehun yang memaku, merasa jika kini ada sebuah belati menancap tepat di jantungnya.

~000~

Jiyeon berjalan mondar mandir di depan ranjangnya, ia panik saat kembali menyusun rencana untuk pergi dari rumah Chanyeol sore ini. Ya Jiyeon baru saja memohon pada Jihye untuk mengizinkannya keluar dari halaman rumah, ia memaksa Jihye untuk membukakan pintu gerbang, mengais izin pada dokter pribadinya itu agar memperbolehkan dirinya berjalan-jalan di sepanjang trotoar. Kebohongan yang Jiyeon bangun sebagai bagian dari rencananya untuk melarikan diri dari Chanyeol.

“Jiyeon,” sepersekian detik Jiyeon terkejut, ia berbalik, tersenyum kaku ke arah Jihye yang memintanya bergegas.

“Aku janji tidak akan lama, Dokter,”

Hemm… tapi kau tidak akan pergi sendiri, Yixing akan menemanimu.”

“Apa?”

“Aku tidak mau mengambil resiko dengan mengizinkanmu berjalan sendirian, jika kau tidak setuju maka kau tidak akan keluar sama sekali.” ujar Jihye tegas saat Jiyeon baru saja akan memotong ucapannya.

Dengan langkah kentara terpaksa Jiyeon mulai berjalan di samping Yixing, menuruni tangga besar di tengah ruangan hingga berdiri di pintu beranda depan. Ia melirik Yixing yang berdiri menjulang di sampingnya, merasa kembali putus asa saat membayangkan akan sangat sulit mengelabui pria tegab itu. Jiyeon melanjutkan langkahnya, tersenyum senang saat dalam sekejab ia berhasil menemukan ide cerdas di otaknya yang kian tersumbat. Berpura-pura mengatakan perutnya sakit, dirasa Jiyeon akan mampu mengelabui Zhang Yixing.

Pintu gerbang pun terbuka, menampakkan jalanan sore yang tampak lengang, hanya ada beberapa mobil pribadi dan mobil box besar terparkir di pinggir jalan. Jiyeon menghembuskan napasnya, menghirup udara kebebasan yang melegakan paru-paru harapan. Ia mengusap perutnya yang mulai tampak sedikit membuncit di usia empat bulan kehamilannya, melirik Yixing sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya. Namun tepat saat kaki Jiyeon baru saja menginjak lantai trotoar, saat itu pula sekumpulan orang keluar dari tiga mobil box di depan mereka.

Seketika kilatan kamera dari orang-orang yang tanpa Jiyeon sadari sudah mengepungnya dan Yixing menerpa wajah mereka, menyilaukan mata dan membuat Jiyeon menjadi bingung. Yixing bergegas melindungi Jiyeon dan menghalau para awak media yang mencoba mengejar Jiyeon. Menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya, seraya terus berusaha menghalangi para wartawan yang terus mendekati mereka.

“Nona, apa kau adalah korban pemerkosaan dari pengusaha Park Chanyeol?” kembali kilatan kamera menerpa wajah Jiyeon walau ia sudah bersembunyi di balik lengan Yixing.

Hey, Hentikan!” Yixing menarik tangan Jiyeon, bermaksud menjauh, namun para wartawan yang berjumlah puluhan sedikit menyulitkannya.

“Nona, apa benar Pemilik dari Hemelsky Enterprise melakukan tindakan asusila pada anda?”

Jiyeon mencengkram lengan Yixing kuat, mereka terus berjalan kembali menuju pintu gerbang rumah Chanyeol. Dengan cepat para pengawal Chanyeol menghalau para wartawan, menutup pintu gerbang, membuat para wartawan berdesakan di depan pintu besi menjulang itu dengan tetap melontarkan pertanyaan. Jiyeon menunduk, ia pucat, tangannya gemetar, berjalan merapat pada Yixing yang masih mengengam tangannya. Namun langkah Jiyeon terhenti saat seorang wartawan wanita berteriak lantang, melayangkan pertanyaan yang membuat Jiyeon berbalik.

“Apa kau sengaja menjebak Park Chanyeol untuk mendapatkan sejumlah uang? Atau kau justru menjual dirimu karena tergoda status sosial?”

“Ap…apa?” Jiyeon tercekat, ia merasa wajahnya memanas.

“Apa kau mengunakan wajah cantikmu untuk merayu Park Chanyeol? Menggunakan kehamilanmu untuk mengacaukan pertunangan Park Chanyeol demi kehidupan mewah yang kini kau jalani?”

Jiyeon melepaskan genggaman Yixing, ia mencengkram kuat ujung dress yang dipakainya. Mata Jiyeon memanas, pandangannya mengabur, ia memaku, tak mampu mengucapkan sepatah katapun dari lidahnya yang kelu. Ia melangkah tertatih mendekati pintu pagar, menatap wartawan yang melontarkan pertanyaan kejam padanya. Air mata Jiyeon mulai berjatuhan, tak tahan dengan rasa sakit atas tuduhan yang tersemat untuknya. Tepat saat Jiyeon ingin mengeluarkan kalimatnya, dari arah kerumunan wartawan muncul sosok Chanyeol yang entah sejak kapan sudah keluar dari mobil mewahnya. Semua mata kini menatap Chanyeol, kilatan blitz kamera kini menyapu wajah Chanyeol tanpa henti.

“Bisakah kau diam?” Chanyeol menatap wartawan wanita di depannya geram.

“BISAKAH KALIAN SEMUA DIAM!!!”

Chanyeol menajamkan tatapannya, tangannya terkepal kuat, menahan luapan emosi yang kini nyata telah menguasai setengah dari pikirannya.

“Dengar, dia?” Chanyeol menahan deru napasnya, menunjuk Jiyeon yang berdiri diam di balik pintu pagar. “Tidak pernah melakukan semua yang sudah kau tuduhkan padanya. Dia tidak pernah menjebakku dengan wajah cantiknya, dia tidak pernah menjual dirinya padaku hanya untuk mendapatkan uang ataupun status sosial brengsek yang kalian maksud.”

Chanyeol melangkah maju, menunjuk dirinya sendiri tepat di depan kamera para wartawan.

“Aku! Akulah yang bersalah di sini, akulah yang patut kalian perolok dengan cacian busuk kalian. Aku terpidana yang tidak termaafkan, aku yang memaksanya berada disini bersamaku, aku yang memohon padanya untuk memberiku kesempatan demi meluapkan semua sesal atas kesalahan fatal yang aku lakukan padanya, kalian mengerti?!”

“Dan jika di antara kalian masih ada yang berani menghina ataupun menyakiti perasannya walau hanya seujung kuku, maka aku tidak akan pernah memafkan kalian. Aku sendiri, Park Chanyeol yang akan menghancurkan kalian semua tanpa sisa. Kalian mengerti?!”

Dalam satu gerakan Chanyeol membalikkan tubuhnya, berjalan menuju pintu gerbang yang baru saja terbuka untuknya. Chanyeol tidak peduli dengan semua wartawan yang kembali hiruk pikuk di belakangnya, tanpa menoleh ia meraih jemari Jiyeon dan menggenggamnya erat, menarik gadis itu agar melangkah mengikutinya, menelusuri halaman luas rumahnya untuk kemudian masuk ke dalam rumah tanpa kata tambahan.

Perlahan Jiyeon menolehkan kepalanya, menatap ke arah Chanyeol yang berjalan di sampingnya, sesaat setelah laki laki itu melepaskan genggaman tangan mereka. Jiyeon mengerjap pelan, merasa ada sebuah rasa asing yang tak mampu dia abaikan, perasaan tak rela, perasaan tak tega jika hanya Chanyeol yang harus menanggung semua pesakitan ini sendirian. Tanpa bisa ditahan air mata Jiyeon sudah kembali melipir di kedua pelupuk mata, ia mengusap pelan perutnya yang mulai terasa sakit.

Jiyeon terus menatap Chanyeol, menatap laki laki yang selama ini selalu tersenyum walau ia selalu memakinya. Menatap laki laki yang selama ini selalu menjaganya dengan sangat baik walau ia selalu membencinya. Menatap laki-laki yang dengan tulus selalu mengucapkan kata maaf untuk sebuah kesalahan yang telah laki-laki itu lakukan padanya, laki-laki yang sudah berjanji akan melakukan apa saja untuk menembus kesalahan yang dia perbuat padanya. Jiyeon terisak pelan, menghentikan langkah kaki saat air matanya semakin tak mampu ia bendung. Mematung di undakan anak tangga paling bawah, memandang punggung Chanyeol yang kini sudah berada di anak tangga paling atas, sebelum akhirnya berbelok dan menghilang di balik pintu kamarnya.

TBC

 

 

20 thoughts on “The Night Mistake – Part.9

  1. Yaaaaaa aaammmmpppuuunnnnn…..keren banget thor GILA…sumpah ini keren…ampe baper banget gue bcanya…next ya thor…😊👍👍👏

  2. Aaaa kok adegan terakhornya sedih bangettt 😭😭😭😭😭
    Tapi suka banget sama ini ff
    Jiyeonnya kasian bangett
    Next ya thorrr….pleaseeee…jebaaall
    HWAITING!!!!!!

  3. Astaga kak ririn, tambah seru aja. Apalagi sehun malah ngaku sendiri, nanti ujung2ny dia jg nyesel sendiri. Tp kadang suka kesel sm jiyeon, idup kok kykny berasa idup dia paling berat gt y? Pdhal kan org susah di luar msh banyak bgt. Bknny bersyukur si chanyeol mau tanggung jwb eh malah kerjaanny sibuk mikirin yg ngga2, susah bgt kykny mau maafin chanyeol. Trus itu kak maaf, gucci itu bknny nama merk y? Pokokny ditunggu kelanjutanny deh kak, semangaat!!^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s