Bittersweet : I Feel Warm

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chapter, currently 11

Previous Chapters :  The CircleHe’s My BoyfriendI Hate YouA Weird DreamApologyWhat IfShe’s My GirlfriendStupid, Dumb, IdiotTruth Or DareCall You Mine |

^^Selamat Membaca^^

“Saat bersamanya, aku merasa bahagia. Saat bersamamu, aku justru merasa takut….”

***

Sesuai janjinya pada Seulgi, setelah mengulangi gerakan dance satu kali, Jongin langsung membenahi barangnya dan pulang. Senyumnya tidak mau hilang, terlalu senang karena Seulgi mengkhawatirkannya. Firasatnya, ini adalah awal yang baik. Dia merogoh kunci mobil dari dalam saku. Parkiran sudah sangat lengang, hanya ada satu dua mobil yang tersisa. Dia melempar ranselnya ke kursi sebelah. Tanpa memakai sabuk pengaman langsung menyalakan mesin mobil. Tapi berkali-kali ia coba, tak kunjung menyala.

“Aneh,” keningnya berkerut. Seingatnya, tadi siang tidak ada masalah. Kemudian dia turun untuk mengecek mesinnya. Belum sampai membuka kap mesin, tatapannya terarah pada ban depan yang kempes. “Ini lagi,” dia berdecak malas. Curiga, dia mengecek semua ban mobil. Ternyata kempes semua. “Shit!” umpatnya. Entah siapa yang iseng melakukan ini, benar-benar tidak lucu.

Satu-satunya harapan Jongin adalah Chanyeol. Jadi dia membuka pintu depan lagi untuk mengambil ponselnya.

“Kim Jongin?”

Merasa ada yang memanggil namanya, tentu saja Jongin menoleh. “Ya?”

BUG

Sebuah kepalan tangan mendarat kuat di pipi kirinya, membuat Jongin terdorong ke jok mobil yang masih terbuka. Sudut bibirnya terluka. Orang yang memukulnya—entah siapa—menarik kerah bajunya agar menjauh dari mobil dan membantingnya ke tanah. Tidak hanya itu, ada beberapa pukulan dan tendangan lain yang mendarat di perut, rusuk, bahkan wajahnya. Rupanya penyerang ini lebih dari satu. Jongin tidak punya kesempatan untuk melawan, hanya bisa berusaha berlindung dengan kedua lengannya. Tentu saja tidak cukup. Dia kalah jumlah, juga kalah start. Dia tak berdaya.

“Ini baru permulaan,” salah satu dari mereka berlutut, mencengkeram kerah bajunya. Jongin terbatuk, pandangannya tidak begitu jelas sehingga tidak tahu siapa itu. “Kau membuat Soojung menangis, maka harus membayar setiap air mata yang dia teteskan. Dan untuk wanita jalang yang membuatmu melakukannya, aku juga tidak akan membiarkannya begitu saja.”

Tunggu—si brengsek ini menyebut Seulginya sebagai wanita jalang?

BUG

Dengan sengaja Jongin membenturkan kepalanya pada kening preman itu dengan kuat. Dia melakukan perlawanan, lebih tepatnya memberi pelajaran pada orang yang berani mengatakan hal buruk tentang gadis yang dia cintai. Perkataan tadi membuat emosinya tersulut. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Jongin memukul orang itu membabi buta. Tapi sejak awal sebenarnya dia sudah kalah. Preman lainnya mana mungkin diam saja. Baru beberapa pukulan yang Jongin layangkan, posisinya kembali berubah dan dia menjadi sasaran lagi.

“Yaaa! Apa yang kalian lakukan? Tolooooong satpam tolooooong!”

Beruntung ada dua orang mahasiswa yang datang ke parkiran dan menyaksikan kejadian itu. Jika tidak, entah Jongin masih bisa melihat Seulgi esok hari atau tidak. Teriakan itu membuat petugas keamanan datang, namun terlambat. Para preman itu telah melarikan diri, meninggalkan Jongin yang sudah babak belur.

***

Sebenarnya, penolong Jongin hendak menelpon ambulans, tapi dia menolak. Dia tidak mau masuk rumah sakit karena yang dia butuhkan saat ini hanya Seulgi. Hanya taxi dan kebaikan sopirnya yang kemudian bisa membawa Jongin sampai di depan pintu apartemen Seulgi dalam keadaan tak berdaya. Dia tersenyum kala melihat sosok gadisnya—bukan—gadis Sehun yang ingin ia jadikan miliknya, berlutut di hadapannya.

“Jangan menangis,” Jongin mencoba menghapus air mata Seulgi.

“Mereka melakukan ini padamu….”

“Aku bisa mengatasinya.”

“Jongin-ah…” Seulgi terus terisak.

“Boleh kan, aku bersamamu semalaman ini? Aku merindukanmu.”

Seulgi mengangguk cepat, dengan isakan yang menjadi-jadi. Sebisa mungkin ia memapah Jongin masuk ke apartemennya, kemudian membaringkannya di sofa. Dengan gerakan cepat ia menyiapkan kompres dingin serta kotak P3K untuk merawat lukanya.

“Tahan ya, mungkin akan sangat sakit,” ujar Seulgi dengan suara bergetar karena masih menangis.

Jongin meringis seiring perlakukan Seulgi terhadap lukanya, satu per satu dengan penuh kesabaran. Hatinya terasa pilu karena setiap sentuhan Seulgi diiringi isakan.

“Hey,” dengan susah payah dia duduk, memerosotkan dirinya ke karpet sehingga posisinya sejajar dengan Seulgi yang sedari tadi berlutut. Tangannya mengusap air mata Seulgi, mencoba menenangkannya. “Aku tidak apa-apa.”

“Kau… berbaring saja,” ucap Seulgi di sela isakannya.

“Sungguh, ini tidak apa-apa. Jangan menangis. Aku merasa sakit jika melihatmu menangis.”

“Kau terluka karena aku… hiks… hiks…”

“Gwenchana,” Jongin membawa Seulgi ke dalam pelukannya. “Ini karena perbuatanku sendiri, bukan karena dirimu.”

Di dalam pelukan Jongin, tangis Seulgi malah menjadi-jadi. Jongin terus mengusap kepalanya dan menciumi puncak kepalanya. Dia menunggu sampai Seulgi puas menangis, benar-benar berhenti dan hanya memeluknya.

“Jongin-ah….”

“Hm?”

“Apa sekarang kau menyesal?” tanya Seulgi.

“Menyesali apa? Aku bahagia bersamamu sekarang.”

“Bahagia dari mana?”

Jongin menghela nafas. “Aku tidak akan menyesalinya, Seulgi-ah. Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu.”

Seulgi melepaskan pelukan mereka dan menatap Jongin. “Aku belum bisa meninggalkan Sehun.”

“Aku akan menunggumu.”

Seulgi terdiam, menelan ludah. “Aku kira namja tidak akan betah menunggu terlalu lama.”

“Kalau begitu jangan buat ini terlalu lama.”

“Jongin-ah….”

“Aku bercanda,” Jongin terkekeh pelan. “Sungguh, aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap meninggalkan Sehun.”

“Maafkan aku.”

“Jangan minta maaf. Aku yang membuatmu berada dalam pilihan sulit. Jadi aku memang pantas untuk bersabar dulu.”

“Aku masih mencintai Sehun,” kata Seulgi, membuat hati Jongin merasa terhantam lagi.

“Aku tahu,” ucapnya lirih sembari mengusap pipi Seulgi. “Jangan katakan lagi.”

“Sampai akhir pekan nanti aku akan menemanimu terus. Tapi kau harus cepat sembuh,” kata Seulgi.

“Sungguh?”

Seulgi mengangguk. “Kau mau aku datang ke rumahmu setiap hari?”

“Tidak,” kata Jongin. “Aku mau kau tinggal di sana.”

Seulgi tersenyum lemah. “Baiklah, kecuali kalau ada kuliah pagi.”

“Ada sopir yang akan mengantarmu.”

“Iyaaa aku akan tinggal di rumahmu sampai Sehun kembali,” Seulgi merapikan kembali kotak P3Knya. “Ayo, aku bantu ke kamar. Kau harus istirahat.”

Jongin bertumpu lagi pada badan Seulgi dan berjalan perlahan ke kamar satu-satunya di apartemen itu. Ini pertama kalinya dia masuk apartemen Seulgi dan langsung ke kamarnya.

“Kalau butuh apa-apa, aku ada di ruang tengah,” kata Seulgi sebelum berbalik untuk meninggalkan kamar. Tapi Jongin menahan tangannya.

“Tidur di sini,” pinta Jongin.

“Kau sedang sakit, Jongin-ah.”

“Kalau bersamamu aku akan cepat membaik,” Jongin menarik Seulgi hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpanya.

“Yaaa! Kalau kena lukamu kan sakit.”

Jongin hanya cengengesan, mendekap Seulgi. “Ayo tidur.”

Tidak ada perlawanan, bahkan Seulgi menyamankan posisi tidurnya sehingga Jongin bisa memeluknya semalaman.

“Tidurlah, kau butuh istirahat,” ucap Seulgi lirih sambil menepuk-nepuk punggung Jongin.

“Seulgi-ah….”

“Hm?”

“Jadi milikku.”

Seulgi terdiam untuk sesaat, sebelum akhirnya berkata, “Aku bingung menjawabnya.”

“Baiklah, kalau begitu cukup berada di sisiku saja.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Seulgi sebelum mereka menikmati sepi. Hanya ada suara nafas dan detak jantung keduanya, dan Jongin terus membaui rambut Seulgi hingga keduanya terlelap.

***

Bisa dikatakan sekarang Jongin dan Seulgi menjalani hubungan secara diam-diam. Sejujurnya memang ada rasa was-was, setiap tingkahnya seolah harus dilakukan dengan hati-hati. Saat di kampus, misalnya. Mereka tetap bersikap biasa layaknya tidak pernah terjadi apa-apa di antara keduanya. Jongin benar-benar pandai berakting, menurut Seulgi. Dia bahkan sempat bertanya-tanya apa yang terjadi kemarin itu hanya sebuah mimpi.

Mereka menghadiri rapat The Circle secara terpisah. Jongin datang sendirian dengan wajah lebam sementara Seulgi datang bersama Seungwan yang kebetulan terlambat karena harus praktikum terlebih dahulu. Jongin sempat melirik Seulgi dengan sebuah senyuman saat dia datang.

“Aku sudah bicara pada ayahku, rumah sakit bersedia kerja sama. Mengenai syarat-syarat dan surat perjanjiannya, semua ada di dalam map ini,” Seungwan menyerahkan sebuah map berwarna abu-abu pada Siwon yang berisi berkas-berkas yang dimaksud.

“Terima kasih banyak, Seungwan,” Siwon tersenyum pada Seungwan sekilas, kemudian beralih pada Minseok dan Jongdae. “Bagaimana dengan Jejunya?”

“Sudah kami temukan lokasi yang pas,” Jongdae membentuk tanda OK.

“Perizinannya tidak rumit, bisa dengan mudah kita atur,” sambung Minseok.

“Sponsor?” Siwon melirik Sunyoung, yang seharusnya satu tim dengan Soojung. Tapi Soojung tidak hadir

“Baru satu sponsor yang menyerahkan persetujuan. Perusahaan alat kesehatan masih dalam proses mempelajari proposal kita, mungkin butuh waktu lebih,” jawab Sunyoung, mewakili timnya. “Dan ini sulit karena aku sendirian sekarang.”

“Kenapa sendirian? Kau kan bersama Soojung?” mendadak Seulgi menjadi orang yang paling perhatian—hanya dia yang mengeluarkan celetukan tentang Soojung.

“Kau kemana saja? Dia sudah keluar dari The Circle sejak 2 hari lalu,” jawab Sunyoung dengan wajah malas.

“Eh?” terkejut, sudah pasti. Tapi melihat wajah anggota lain yang terlihat biasa saja, dia merasa apatis sendiri. Berarti hanya dia yang tidak tahu mengenai keluarnya Soojung. kemudian Seulgi melirik Jongin—yang tidak memberikan respon karena pemuda itu tampak mengetuk-ngetukkan pena ke meja. Mereka semua jelas tahu bahwa keluarnya Soojung ini berhubungan dengan putus cinta.

***

Untuk menepati janjinya pada Jongin, Seulgi mengepaki beberapa barang yang dia perlukan selama tinggal di sana. Hanya beberapa hari, jadi tidak perlu banyak, yang penting bisa tetap belajar pada waktunya. Dia membawa Shixun juga, niatnya sekalian membuat si kecil akrab dengan Jongin.

Kali ini Seulgi bertemu dengan para pelayan yang bekerja di sana. Mereka menyapanya dengan hormat sehingga dia merasa sedikit tidak nyaman.

“Katakan pada mereka tidak perlu begitu,” bisik Seulgi.

“Tidak apa-apa, mereka sudah menganggapmu seperti majikan,” Jongin mengambil alih Shixun dan meminta pelayan untuk merawatnya di taman belakang. “Kau lapar? Mereka akan segera menyiapkan makan malam.”

“Tidak usah,” Seulgi menghentikan langkahnya. “Bagaimana kalau aku memasakkan sesuatu untukmu? Dapurnya di sebelah mana?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan.

“Sungguh?” Jongin tersenyum lebar, kemudian menggenggam tangan Seulgi. “Kemari.”

Seulgi balas menggenggam tangan Jongin, yang ternyata mengantarnya ke dapur. Semua pelayan membungkuk dengan hormat saat mereka masuk.

“Aku akan melakukannya sendiri, jadi kalian bisa beristirahat,” kata Seulgi meyakinkan.

“Kau yakin tidak butuh bantuan mereka?” Jongin terlihat sanksi.

“Porsi makanmu tidak terlalu besar juga kan?”

“Baiklah,” Jongin mengacak rambut Seulgi. “Kalian bisa istirahat sekarang. Calon nyonya muda ingin berkuasa di dapur.”

“Jongin…” Seulgi memelototi Jongin, walau akhirnya tersenyum kecil dengan pipi yang memerah.

Para pelayan pun meninggalkan tuannya berdua dengan Seulgi, tapi hanya sebatas dapur saja karena mereka mengintip tingkah pasangan itu dari luar pintu dapur. Tampaknya sangat tertarik pada Seulgi karena bisa membawa perubahan pada diri Jongin.

Sementara di dapur, Seulgi sangat menikmati kegiatan memasaknya. Jongin tidak diam saja, malah membantu hal-hal kecil seperti mencuci dan memotong sayuran. Seulgi jadi teringat kegiatan memasaknya dengan Sehun tempo hari, dimana akhirnya dia memasak sendiri. Kali ini Jongin cukup banyak membantu, membuatnya jadi ingin melakukan ini setiap hari. Sekarang dia mulai membandingkan Sehun dengan Jongin.

“Nah, sudah jadi,” Seulgi meletakkan hasil karyanya di atas meja, omurice. “Aku belum terlalu pandai memasak, jadi hanya bisa membuat ini,” tambahnya sambil mengusap tengkuk.

“Ini makan malam paling istimewa untukku,” Jongin mengecup pipi Seulgi sekilas, lalu duduk di salah satu kursi untuk mencicipi makan malamnya.

Seulgi tersenyum simpul, duduk di kursi lain dan ikut makan. “Enak tidak?” tanyanya. Jongin hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Jawaban yang cukup membuat Seulgi puas dan bisa makan dengan tenang. “Sepi ya, rumahmu,” Seulgi mengedarkan pandangannya.

“Sudah ku bilang kan, aku sendirian.”

“Jadi kau benar-benar kesepian….”

“Hm… bisa jadi,” kata Jongin diselingi kekehan. “Sejak masih sekolah, aku tidak punya banyak teman. Sampai sekarang pun begitu.”

“The Circle?”

“Yah… mungkin kelihatannya mereka semua teman. Tapi percayalah, tidak sedekat itu.”

Seulgi mengangkat bahunya sekilas. “Mungkin karena kau tidak mencoba benar-benar dekat.”

“Aku juga tidak ingin terlalu dekat dengan mereka.”

“Bagaimana dengan aku?” tanya Seulgi. “Kau tidak ingin dekat denganku? Aku akan menjadi teman yang baik untuk Jongin, tapi setiap hari belikan aku eskrim ya,” candanya, menirukan suara anak kecil.

Jongin menatap Seulgi untuk beberapa saat, memperhatikan tingkahnya, membuat gadis itu mencibir.

“Aku tidak mau jadi temanmu,” kata Jongin datar.

“Iya, terserah saja.”

“Aku mau jadi suamimu saja. Akan aku belikan pabrik eskrim untukmu,” lanjut Jongin masih dengan tatapan seriusnya.

“Aish, jinja,” Seulgi tertawa. “Sudah, lanjutkan makanmu.”

“Aku serius akan membelikanmu pabrik eskrim,” kata Jongin lagi. “Tapi nanti setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan. Kalau sekarang, aku belikan eskrimnya dulu ya.”

Seharusnya Seulgi tertawa lepas, seperti halnya Jongin yang langsung tertawa setelah mengucapkannya. Tapi kalimat yang diucapkan Jongin tadi mengingatkannya pada Sehun. Ya, Sehun juga pernah mengatakan itu saat mereka berkencan di perpustakaan. Sehun, yang masih berstatus sebagai kekasih sahnya. Seulgi jadi kehilangan selera makan karena teringat padanya. Betapa dia telah membuat kesalahan, mengkhianati Sehun.

“Hey, kenapa?” tanya Jongin, yang melihat perubahan raut wajah Seulgi. “Seulgi-ah.”

“Ya?” sedikit tersentak, Seulgi langsung siaga. “Aku tidak apa-apa. Setelah aku cicipi sendiri, ternyata sedikit asin ya,” dia langsung mengalihkan pembicaraan.

“Sudah ku bilang, ini makan malamku yang paling istimewa. Rasanya tetap enak,” ucap Jongin.

Seulgi memaksakan senyumnya. Biar bagaimana pun dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan Jongin. Dan dia juga tidak mau. Jujur, bersama Jongin membuatnya merasa hangat. Tapi saat bersama Sehun… dia juga merasa demikian.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi Seulgi dan Jongin masih terjaga. Lebih tepatnya Jongin yang tidak merasakan kantuk sama sekali walau Seulgi menyuruhnya tidur beberapa kali.

“Aku tidak bisa tidur, terlalu senang bisa memelukmu semalaman. Jadi tidak mau melewatkan sedetik pun walau hanya untuk tidur,” begitu jawaban Jongin dan langsung direspon sebuah sentilan dari Seulgi.

“Kalau begitu aku saja yang tidur.”

“Dari tadi aku juga terus menyuruhmu tidur duluan, kan.”

“Tapi aku maunya kau juga tidur,” Seulgi memutar bola matanya.

“Tidak apa-apa, kau saja yang tidur,” Jongin mengeratkan pelukannya. “Besok kau harus kuliah, sedangkan aku bebas.”

“Terserah kau saja,” Seulgi mulai memejamkan matanya.

“Mine,” suara Jongin lirih.

“Hm?”

“Apa aku lebih baik dari Sehun?” tanya Jongin.

“Tidak,” sangat cepat, jawaban Seulgi. “Sehun jauh lebih baik,” dada kiri Jongin seperti ditusuk belati.

“Lalu kenapa kau mau berada di sisiku?” tanya Jongin lagi.

Seulgi menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab, “Saat bersama Sehun, aku merasa bahagia. Dia selalu membuatku tersenyum, bagaimana pun caranya,” kemudian dia mendongak. “Tapi saat bersamamu aku justru merasa takut.”

“Aku… menakutkan?”

“Iya, kau membuatku takut kehilanganmu. Dan takut kalau suatu hari nanti kau bosan padaku, atau lebih buruknya menyesal telah menyatakan perasaanmu.”

Hening sejenak. Jongin bingung harus merasa senang dengan pernyataan ini atau justru kecewa. Dia belum bisa mencerna dengan baik kata-kata Seulgi.

“Aku tidak akan bosan, apalagi menyesal. Bukankah selalu ku katakan bahwa aku bersedia menunggumu sampai benar-benar siap meninggalkan Sehun?”

Seulgi tertawa pelan. “Iya, ku harap kau benar-benar tidak akan bosan dan menyesal. Sebenarnya kau tidak perlu menjadi lebih baik dari Sehun. Karena aku menyukai Jongin yang seperti ini. Aku menikmati setiap suasana yang kita miliki, entah itu susah atau senang.”

Ada senyuman muncul di wajah Jongin. Setiap kalimat yang Seulgi ucapkan tadi membuatnya merasa hangat. Tidak hanya itu sebenarnya setiap bersama Seulgi dia merasa hangat.

“Aku mencintaimu, Mine.”

“Apa sekarang kau sudah bisa tidur?”

“Sebegitu inginnya aku tidur?” Jongin terkekeh. “Baiklah, aku juga tidur. Ayo pejamkan matamu sekarang.”

Seulgi pun memejamkan matanya bersiap tidur. Dia memang mulai mengantuk. Dan tangan Jongin yang terus membelai rambutnya semakin mudah mengantarkannya menuju lelap.

***

“Hey, Seulgi,” bisik Jongin seraya membelai rambut Seulgi yang berada dalam dekapannya. “Aku tidak pernah menyangka bisa memelukmu seperti ini. Seolah impian terbesarku telah berhasil ku raih—bukan—maksudku hampir ku raih. Sekarang kau masih menjadi milik Sehun,” dia terkekeh pelan, sangat pelan karena gadis yang dia peluk masih terlelap. Dia tidak ingin mengganggu tidurnya. Walau tadi dia bilang juga akan tidur, nyatanya yang dia lakukan hanya membantu Seulgi terlelap dan berpura-pura ikut tertidur. Jongin masih teguh pada niatnya, terjaga semalaman untuk menikmati waktunya bersama Seulgi dalam dekapannya. “Kau bilang selalu memimpikanku, kan? Aku juga. Dan mimpi itu sangat menghantui hari-hariku, setiap saat selalu berandai-andai. Bahwa kau harusnya hanya memelukku. Bahwa kau harusnya selalu berada di sisiku. Bahwa kau harusnya menjadi milikku. Aku sudah menunjukkan padamu betapa aku rela menanggung semua resikonya. Aku rela dipukuli sampai sekarat untuk memperjuangkanmu. Aku pun rela menunggu selamanya untuk memilikimu. Jangan pernah takut aku akan menyesal atau bosan. Aku tidak akan pernah menyesal. Semua yang ku lakukan murni karena cintaku padamu,” tuturnya dengan suara lirih, menyerupai bisikan yang hanya bisa didengar oleh Seulgi seorang.

“Kau membuatku tersenyum,” suara Seulgi yang tiba-tiba terdengar membuat Jongin terkejut. Rupanya Seulgi mendengarkan perkataannya sejak tadi, hanya tidak membuka matanya walau bibirnya terus tersenyum. Gadis itu mempererat pelukannya pada Jongin.

“Aku kan menyuruhmu tidur.”

“Kalau aku tidur kan tidak bisa mendengar yang tadi.”

“Dasar,” Jongin mencubit hidung Seulgi. “Sekarang tidur, aku memberikan perintah.”

“Iya, aku benar-benar tidur sekarnag.”

“Tidur yang nyenyak, Mine,” bisik Jongin sebelum mendaratkan ciuman sayang di kening Seulgi.

***

Mobil Jongin berhenti di depan kampus. Entah apa yang akan dia lakukan seharian ini karena kebetulan jadwal Seulgi penuh sedangkan kuliahnya sendiri kosong semua. Ditatapnya Seulgi yang sedang membelai kepala Shixun dengan pandangan tidak mau berpisah.

“Rasanya aku ingin menyusup ke kelasmu saja.”

“Tidak boleh,” sahut Seulgi, kini membuka pintu mobil dan turun. Dia letakkan Shixun di kursi sebelah Jongin. “Kau harus menjaga Shixun selama aku kuliah.”

“Iya, iya, aku akan menjaganya.”

“Jangan sampai lupa diberi makan.”

“Aku tidak akan lupa, percayakan padaku,” sergah Jongin.

“Aku masuk. Sampai jumpa nanti malam,” Seulgi menutup pintu mobil, kemudian memasuki kampus setelah melambai padanya.

Jongin melajukan mobil kembali untuk pulang. Dia sudah menghubungi Chanyeol untuk menemaninya seharian.

“Hey, Shixun,” karena bosan, dia mengajak puppy kecil itu mengobrol. “Kau sangat beruntung ya bisa sering didekap oleh Seulgi,” ucapnya, sementara Shixun hanya diam dengan tatapan polosnya. “Aku jadi iri, tapi tidak mau menjadi anjing kecil juga sih. Setidaknya dengan wujud manusia, aku bisa memeluk Seulgi sesuka hati,” Jongin mulai melantur. Mobilnya kembali ia hentikan saat sampai di depan sebuah minimarket. “Aku akan membelikanmu makanan enak. Tunggu di sini,” seperti memberi perintah pada anak kecil, Jongin menepuk-nepuk pelan puncak kepala Shixun sebelum turun dari mobil.

“Jongin-ah,” baru saja Jongin hendak menutup pintu, sebuah suara memanggil namanya. Dia jadi malas saat tahu yang memanggilnya adalah Soojung. “Wajahmu kenapa?” tanya Soojung dengan wajah khawatir. Tangannya terulur untuk menyentuh lebam Jongin, tapi langsung ditepis.

“Jangan pura-pura tidak tahu,” balasnya ketus.

“A-ku benar-benar tidak tahu. Siapa yang melakukannya?” tanya Soojung lagi.

“Lupakan saja,” kata Jongin datar. “Akan lebih baik kalau kita tidak usah bertemu atau melakukan interaksi apa pun.”

“Aku mengkhawatirkanmu, Jongin-ah. Melihatku seperti ini apa kau belum paham? Aku masih menaruh hati padamu.”

“Kau membuatku menyesal pernah mengenalmu, Soojung-ah. Dan perlu kau ketahui, aku merasa bersyukur telah mengakhiri hubungan kita. Anggap kita tidak pernah mengenal, apa lagi berteman,” niatnya untuk membeli makanan Shixun pun urung. Jongin membuka pintu mobil dan kembali masuk.

Fokus Soojung sempat teralihkan saat pandangannya jatuh pada seekor anak anjing di sebelah kursi kemudi, merasa mengenalinya. Keningnya berkerut.

“Apa itu milik Seulgi?”

Pertanyaan Soojung membuat Jongin jadi tegang. Dia melirik Shixun—tidak tahu kalau Soojung pernah melihat Shixun. Sepertinya dia telah melakukan kesalahan fatal.

“Sok tahu,” balas Jongin datar, segera menutup kaca jendelanya dan melesat jauh meninggalkan Soojung.

Tapi pikiran Soojung masih merasakan kejanggalan.

***

[LINE chat with Jongin]

Masih lama ya?

Shixun hiperaktif sekali, lari-lari terus

Mine, kelasnya berakhir jam berapa?

Aish, bilang dosenmu jangan lama-lama mengajar

Cepat selesaikaaaan

Mine, aku merindukanmu

Mine, aku sayang kamu

Mine, aku mencintaimu

Mine, bagaimana kalau bolos saja? Aku culik kamu ya

Selama di kelas, pipi Seulgi merasa pegal karena membaca pesan dari Jongin. Bisa dikatakan ini adalah spamming termanis, membuatnya tersenyum terus. Kebetulan kelasnya baru berakhir jam 7 malam, wajar jika Jongin merasa bosan.

“Iya, aku tahu itu pasti dari Sehun,” celetuk Seungwan secara tiba-tiba, membuat Seulgi nyaris kena serangan jantung.

“Kau mengagetkanku….”

“Hubungan kalian membuatku berpikir kalau sebentar lagi akan punya bayi.”

“Kami belum pernah—astaga apa yang ku pikirkan,” Seulgi menepuk jidatnya sendiri.

“Dari tadi kau terus tersenyum memandangi ponselmu, pasti Sehun.”

Seulgi terhenyak, nyatanya itu bukan Sehun, melainkan Jongin. Dia menimbang-nimbang dalam hati apa perlu menceritakannya pada Seungwan. Tapi kemudian menggeleng cepat. Memberitahukan seseorang sama saja membunuhnya.

“Sehun sedang sibuk dengan kegiatan kampusnya.”

“Pantas saja, kau pasti kesepian setiap hari,” Seungwan tertawa.

“Tidak juga sih,” kata Seulgi. Memang dia tidak kesepian karena ada Jongin.

“Hey, lihat. Itu Soojung kan,” Seungwan menyikut lengan Seulgi seraya mengedikkan dagu ke arah seseorang yang mendekat pada mereka.

Baru saja Seulgi mendongak ke arah yang ditunjuk Seungwan, Soojung telah berdiri di hadapan mereka.

“Seulgi-ah, aku mau bicara denganmu.”

Mata Seulgi mengerjap bingung, juga merasa takut. Wajah Soojung yang membuatnya takut, seperti akan membicarakan hal yang sangat penting.

“I-iya, bicaralah,” sahut Seulgi sedikit gagap.

Soojung melirik Seungwan yang masih berdiri di dekatnya, dan teman dekatnya itu pun langsung mengerti.

“Aku akan pulang, tenang saja. Kalian bisa mengobrol dengan nyaman tanpa aku. Dah, Seulgi. Sampai ketemu besok,” timpal Seungwan dengan sedikit sebal karena merasa tidak dibutuhkan.

Soojung terus menatap kepergian Seungwan hingga benar-benar menghilang dari pandangan, barulah dia kembali fokus pada Seulgi.

“Tadi aku bertemu Jongin.”

Benar, kan. Ini adalah pembicaraan tentang Jongin. “Ya… lalu kenapa?”

“Dia membawa seekor anak anjing berbulu putih polos. Itu punyamu kan?”

Seulgi menelan ludah. Apa harus ketahuan sekarang, secepat ini? Tapi Seulgi tidak mau. Dia terlalu takut Soojung akan membencinya jika dia mengaku.

“Maksudmu Shixun? Tidak mungkin, pasti hanya mirip,” Seulgi tertawa hambar.

“Setahuku Jongin tidak memelihara hewan apa pun. Baru siang tadi aku melihat dia bersama seekor anjing.”

“Soojung-ah,” Seulgi mengarang rangkaian kalimat sebagai alasan. “Bisa jadi dia baru membelinya kan? Aku tidak tahu semirip apa anjing itu dengan Shixun, tapi aku berharap kau tidak terburu-buru berprasangka buruk.”

“Begitu ya,” Soojung tampak menghela nafas, tapi tatapannya masih begitu tajam pada Seulgi. “Aku juga sangat berharap itu bukan milikmu. Karena selama ini, aku sudah menceritakan semua padamu, seberapa dalam perasaanku padanya. Aku menganggapmu teman, Seulgi-ah. Dan aku tahu kau tidak akan merebut pacar temanmu sekaligus mengkhianati pacarmu sendiri. Kau adalah gadis yang baik.”

Telak sekali, kata-kata Soojung tepat menusuk hatinya. Suhu tubuh Seulgi jadi panas dingin, diliputi rasa bersalah hingga kepalanya pening. Apa dia sudah menjadi orang jahat sekarang? Tidak perlu ditanya, jawabannya sudah jelas. Dia tahu ini salah tapi masih dilakukan.

“A-aku harus segera pulang. Sudah malam,” tidak tahan dengan obrolan yang membuatnya merasa tidak sehat, Seulgi memilih untuk segera meninggalkan Soojung.

“Ya, hati-hati. Dan ingatlah kata-kataku tadi.”

‘Iya, aku tahu aku bersalah, Soojung-ah. Maafkan aku,’ batin Seulgi, menggigit bibirnya. Dengan tangan bergetar dia merogoh ponselnya untuk menghubungi Jongin. Tidak butuh waktu lama sampai pemuda itu mengangkat telponnya, menandakan sudah ditunggu sejak tadi.

“Sudah selesai?”

“Jangan jemput aku,” kata Seulgi singkat.

“Hah?”

“Aku… aku baru saja bertemu dengan Soojung. Sebaiknya malam ini aku pulang ke apartemenku. Takut dia memergoki kita.”

“Oh…” terdengar nada pasrah Jongin. “Baiklah, hati-hati.”

Seulgi langsung memutus telponnya. Tangannya terus gemetaran karena memikirkan obrolannya dengan Soojung tadi. Perasaan ini sungguh menghantui.

***

Sungguh, dia tidak ingin menjadi orang jahat. Dia tahu betapa sakitnya Soojung saat hubungannya dengan Jongin berakhir. Dia ikut merasakan sakitnya. Hanya saja, perasaannya pada Jongin selalu menang. Beberapa kali dia mencoba menerima dan merelakan, tetap saja setiap kali bersama Jongin, hasrat untuk memilikinya mendominasi. Dia kalah oleh keegoisannya sendiri. Padahal mungkin saja kelak keegoisan itu akan menyakiti banyak orang.

“Kau lama sekali.”

Seulgi tersentak. Dia tahu itu suara Sehun, dan ternyata benar, itu Sehun. Pemuda itu berdiri di depan pintu apartemennya dengan sebuah senyuman.

“Sehun-ah….”

“Sapaan macam apa itu? Kau tidak merindukanku?”

Sesak iya. Sakit iya. Rindu iya. Tapi ada rasa bahagia juga bisa melihat Sehun di sini. Sosoknya seperti oase di tengah gurung gersang—setelah mendapat tekanan batin yang hebat tadi. Dia luruh, tidak mampu menahan beban di pikirannya. Dia luruh ke pelukan Sehun. Seulgi memeluknya erat, dan tanpa sadar tangisnya pecah. Semua pikiran yang menumpuk, juga rasa bersalahnya ia tumpahkan di sana.

“Sayang?” Sehun ingin melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Seulgi, karena kaget gadisnya menangis. “Kenapa?”

“Jangan… jangan lihat wajahku sekarang. Hiks…” isakannya teredam di dada Sehun.

“Tapi kenapa menangis? Apa terjadi sesuatu?”

‘Iya, Sehun. Ada banyak hal yang terjadi. Aku melakukan sesuatu yang buruk, bahkan telah mengkhianatimu. Aku menjadi orang jahat karena terlalu egois,’ batin Seulgi terus menjerit. Semua kalimat itu tak bisa ia ungkapkan langsung pada Sehun.

“Aku mencintaimu, Sehun-ah. Sungguh. Aku sangat mencintaimu. Hiks… hiks….”

“Iya, sayang. Aku tahu itu. Jangan menangis lagi ya. Ayo masuk, aku akan menemanimu semalaman.”

Karena Seulgi tak mau melepas pelukannya, Sehun memutuskan untuk menggendongnya masuk seperti anak koala. Sebenarnya memang bingung kenapa sikap Seulgi demikian. Dia berspekulasi ini sebagai cara Seulgi menungkapkan rasa rindunya. Sehun memang lelah karena baru saja pulang dari kegiatan yang padat, tapi sebisa mungkin memberi kenyamanan pada Seulgi sampai dia berhenti menangis. Sehun terus memeluknya di sofa, membiarkan gadis itu duduk di pangkuannya, menangis di dadanya.

***

Tekad Seulgi sudah bulat. Dia akan menjauhi Jongin mulai sekarang. Soojung sudah curiga, ditambah sekarang Sehun sudah kembali dan lebih sering menemuinya. Tidak ada celah lagi untuk bersama walau hanya sebentar. Bukan karena dia sudah tidak menyukai Jongin lagi. Di ruang hatinya masih ada rasa suka itu, tapi kali ini dia mencoba mengalahkan keegoisannya. Selama ini hati nuraninya selalu kalah. Perasaan Soojung dan Sehun tak ia pertimbangkan sehingga dengan mudah mengatakan ‘iya’ pada Jongin. Seulgi ingin belajar untuk menghentikannya walau sulit. Walau hatinya masih saja bertanya, bagaimana keadaan Jongin.

“Sayang, aku tidak melihat Shixun sama sekali.”

Oh, ini buruk. Seulgi lupa Shixun masih ada bersama Jongin. Bodohnya, tidak ia perhitungkan—terlebih Sehun juga datang secara tiba-tiba semalam. Alasan apa yang bisa ia katakan?

“Eung… itu… kemarin Shixun dibawa adik sepupuku,” sedikit gelagapan, Seulgi memberikan alasan.

“Sepupu?” alis Sehun terangkat. “Kenapa dibawa?”

“Jadi kemarin ahjumma berkunjung dan anaknya yang masih kecil ingin bermain terus dengan Shixun. Saat hendak pulang dia menangis terus. Akhirnya aku berikan,” cerita Seulgi dengan jantung berdebar, takut alasannya tidak masuk akal. Sehun menatapnya heran, atau malah curiga.

“Benar begitu?”

Mati. Sepertinya Sehun tidak bisa mempercayai ceritanya. Seulgi ingin mengubur diri saja rasanya.

“Apa… kau marah?” tanyanya takut-takut.

Sedetik kemudian, Sehun tertawa. “Kenapa wajahmu begitu, sayang? Kemarilah,” ditariknya Seulgi ke dalam pelukannya. “Apa ujiannya begitu berat sampai aku bisa merasakan tekanan batinmu? Aku hanya bertanya karena ku pikir kau sangat menyayangi Shixun. Makanya aku sedikit heran kau bisa memberikannya pada orang lain. Tapi mendengar ceritamu tadi, sepertinya aku setuju kau memberikannya.”

Dalam pelukan Sehun, Seulgi bernafas lega. Dia diselamatkan oleh kebohongan kali ini. Niatnya untuk mundur dari Jongin semakin mantap. Jika tidak dia lakukan, maka pasti akan ada lebih banyak kebohongan lagi yang harus dia ucapkan. Seulgi tidak mau membohongi Sehun. Sebesar apa pun rasa sukanya pada Jongin, tahta tertinggi di hatinya masih dimiliki oleh Sehun. Terlalu banyak kebahagiaan yang Sehun berikan, dia tidak ingin menyia-nyiakan itu.

***

“The number you’re calling is switch off….”

Giliran Jongin yang merasa stress karena beberapa hari ke depannya, Seulgi tidak berani bertemu. Terlebih saat dia tahu Sehun sudah kembali, hanya bisa pasrah. Jelas akan semakin sulit bertemu. Pesan-pesannya mulai sering diabaikan. Seulgi hanya membalas sesekali, itu pun jawaban standar. Dan lihat saja sekarang, saat dia mencoba menelponnya, ponsel Seulgi tidak aktif.

Seperti biasa, dia melarikannya pada rokok dan alkohol. Sampai pelayan-pelayannya kembali merasa khawatir. Jongin terlihat buruk, seperti mayat hidup. Hidupnya benar-benar berpusat pada Seulgi. Jika dikatakan tidak bisa hidup tanpa Seulgi mungkin berlebihan. Dia memang bisa bernafas dan tetap hidup. Tapi rasanya hampa. Seperti tak berguna lagi. Setiap hari Jongin menyebut nama yang sama dalam igauannya. Seulgi, Seulgi, Seulgi.

“Kapan aku bisa menjadi prioritas utama bagimu, Seulgi-ah? Aku mulai lelah….”

***

Sehun memberi kecupan singkat di kening Seulgi sebelum melepas pelukan mereka. Padahal Seulgi hanya akan kuliah setengah hari, tapi rasanya berat untuk berpisah sebentar saja.

“Jangan lupa nanti sore langsung pulang dan bersiap makan malam bersama,” pesannya.

“Iyaaa, aku tidak akan lupa,” Seulgi melambai dan tersenyum lebar, kemudian melangkah memasuki kampusnya. Sesekali dia melambai dan balas menyapa teman-temannya yang kebetulan berpapasan.

“Nah, ini Seulgi datang. Ada yang mencarimu,” kata salah satu teman seangkatannya, Hyeri.

“Siapa?”

Hyeri hanya menunjuk orang yang dimaksud, berdiri di depan kelas mereka dengan pakaian serba gelap. Nyaris saja Seulgi kehilangan kemampuan bernafas. Itu Jongin. Usahanya selama beberapa hari belakangan ini ternyata berdampak buruk. Jongin malah lebih nekat menemuinya di kampus. Bisa dia lihat wajahnya yang kacau, pertanda perbuatan Seulgi telah memperburuk keadaannya. Seulgi meremas jemarinya dengan gugup. Ditatap oleh Jongin saja dia sudah ketakutan, jelas untuk bicara semakin tidak punya nyali. Dia ingin berlari menjauh saat Jongin mulai melangkah ke dekatnya. Tepat sebelum dia benar-benar bisa kabur, pergelangan tangannya telah terkunci dalam genggaman Jongin. Bola mata keduanya bertatapan. Yang satu diliputi rasa takut dan iba, yang satu lagi penuh rasa sakit dan keputusasaan.

“Kita perlu bicara,” Jongin yang memulai.

“A-aku ada kelas sebentar lagi.”

“Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu,” serta merta Jongin menariknya menjauh dari kelas, dari keramaian mahasiswa yang lalu lalang. Berada di bawah kuasa Jongin membuat Seulgi tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah dan menyamai langkah cepatnya. Dia berharap tidak ada siapa pun yang melihat kejadian tadi.

“Jongin-ah, tanganku sakit,” ringisnya saat kaki mereka mulai melangkah di sepanjang tangga darurat. Memang Jongin terlalu kuat menggenggam pergelangan tangannya hingga terasa sakit. Genggaman itu baru dilepaskan setelah mencapai rooftop, dimana tidak ada siapa pun kecuali mereka berdua.

“Sekarang jelaskan apa maksud dari semua yang kau lakukan.”

Lidah Seulgi terasa kelu. Tidak mampu mengatakannya secara langsung pada Jongin. Dia tidak ingin menyakiti hatinya.

“Bagaimana kabarmu, Jongin-sshi?” tanya Seulgi, mencoba berbasa-basi dan membawa obrolan ini lebih tenang.

“Kamu masih bisa dengan mudahnya bertanya bagaimana kabarku?” tanya Jongin balik, dengan wajah tak percaya.

“Aku harap kau baik-baik saja.”

“Aku meminta penjelasan atas semua pesan yang kau abaikan dan kenapa ponselmu tidak aktif.”

“Jongin-ah… aku harap kau bisa baik-baik saja. Aku ingin kau bahagia. Sepertinya aku hanya membuat hidupmu memburuk. Hiduplah dengan tenang seperti sebelum bertemu denganku.”

“SEBENARNYA APA MAUMU, KANG SEULGI?” suara Jongin meninggi. “Seminggu yang lalu kau memelukku dan mengatakan bahwa kau akan selalu berada di sisiku. Aku sudah bisa bersabar hanya dengan memilikimu secara diam-diam. Aku rela hanya menjadi yang kedua di hatimu, rela menunggumu walau hatiku berkali-kali merasa sakit. Lalu dengan mudahnya kau menyuruhku hidup seperti sebelum bertemu denganmu? Sebelum bertemu denganmu aku tidak pernah punya tujuan. Aku hanya hidup untuk diriku sendiri, tidak peduli pada apa pun. Sekarang setelah aku punya tujuan dan tahu rasanya hidup untuk orang lain, kau memintaku untuk melepaskan tujuan itu? Apa pernah satu kali saja kau peduli pada perasaanku?”

Bibir Seulgi mulai bergetar, tidak mampu menahan tangisnya. Untung rooftop jarang sekali dijamah oleh penghuni kampus. Jika ada yang lewat sudah pasti suara Jongin akan terdengar.

“Aku tidak mau kau mengalami kejadian buruk lagi, Jongin-ah. Soojung sepertinya sudah tahu tentangku. Dan aku juga tidak bisa terus berbohong pada Sehun—“

“Lalu bagaimana denganku, Seulgi-ah?” tampak setitik air mata jatuh dari sudut mata Jongin. Seulgi tidak percaya Jongin menangis di hadapannya.

“Jongin-ah… kau—“

“Bagaimana denganku yang terlanjur mencintaimu, hah?” suara Jongin kembali meninggi, dan tangisnya makin menjadi. “Kau sengaja memberikan harapan yang manis untukku, lalu dalam satu sentakan membuatku jatuh begitu saja. Apa kau tahu bagaimana perasaanku sekarang? Rasanya untuk bernafas saja aku kesulitan. Untuk membuka mata aku enggan karena tahu kau tidak akan pernah kembali ke sisiku. Aku tidak pernah semenyedihkan ini, Seulgi-ah. Karena dirimu aku jadi meruntuhkan semua sisi angkuhku hanya untuk memohon padamu.”

Melihat Jongin menangis, Seulgi jadi ikut menangis. Dia telah melakukan kesalahan besar dengan menyakiti Jongin. Dia tidak sanggup melihatnya tersakiti lagi. Terlepas dari itu, Seulgi tidak pernah menduga ada seseorang yang mencintainya sedalam ini. Bahkan Sehun sekali pun, dia tidak yakin Sehun memiliki cinta sebesar ini untuknya.

“Maafkan aku, Jongin-ah,” Seulgi mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup wajah Jongin.

“Aku tidak sanggup melepaskanmu. Jangan pergi seperti ini. Ku mohon. Aku tidak akan memaksamu meninggalkan Sehun. Sekali pun aku jadi yang kedua selamanya, aku akan menerimanya. Jangan tinggalkan aku, Seulgi-ah,” wajah Jongin memelas, benar-benar minta belas kasihan Seulgi.

“Jangan seperti ini. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Kali ini aku bersungguh-sungguh,” Seulgi memeluk Jongin erat, begitu juga Jongin membalas pelukannya. “Maaf, aku terlalu jahat padamu. Maafkan aku.”

Keduanya berbagi tangis, menumpahkan segala sesak karena tidak bisa saling memiliki secara utuh. Seulgi dikalahkan lagi. Kali ini bukan karena keegoisannya. Melainkan oleh cintanya pada Jongin yang semakin besar.

***

Seulgi menghela nafas, mencoba mengumpulkan mental sebanyak mungkin untuk bisa melewati malam ini. Sebenarnya dia masih merasa cemas dengan keadaan Jongin setelah kejadian siang tadi.

[Text to Jongin]

Jangan lewatkan makan malammu. Aku janji besok akan menemanimu seharian.

Itu pesan yang dia kirim pada Jongin, mungkin yang terakhir setelah dari tadi terus mengobrol lewat pesan singkat.

“Kita sampai,” ucap Sehun setelah menghentikan mobilnya.

Saking fokusnya dengan ponsel, Seulgi baru sadar bahwa mereka berada di sebuah rumah, bukan restoran. Ditatapnya Sehun dengan wajah bingung.

“Ini bukan restoran.”

“Memang bukan,” Sehun terkekeh. “Ini rumahku—eh, bukan. Ini rumah orang tuaku.”

Rasanya Seulgi ingin pura-pura pingsan agar Sehun membawanya kembali pulang. Dia benar-benar tidak menduga bahwa rencana makan malam Sehun bukanlah makan malam biasa. Dia akan bertemu dengan orang tua Sehun.

“Sehun, aku tidak siap,” tangan Seulgi mencengkeram lengan Sehun kuat.

“Eomma dan appa tidak galak kok. Tidak perlu takut,” tangan Sehun menyampirkan rambut Seulgi yang tergerai ke belakang telinganya.

“Harusnya kau bilang… kan aku bisa mempersiapkan diri lebih—“

“Kau sudah sangat cantik, sayang. Lagi pula, eomma tidak suka yeoja yang berdandan secara berlebihan,” Sehun terkekeh, mengira Seulgi merasa tidak percaya diri dengan dandanannya. Melihat Seulgi merasa gugup seperti ini malah membuatnya merasa gemas.

“Baiklah,” kata Seulgi pasrah. “Kau harus berada di sampingku terus.”

“Iya, aku tidak akan meninggalkanmu.”

Dengan lengan yang bertautan mereka masuk. Para pelayan berbaris rapi menyambut keduanya, kemudian mengantarkan mereka ke ruang makan keluarga dimana ayah dan ibu Sehun sudah menunggu. Jantung Seulgi makin tidak karuan. Dia benar-benar takut orang tua Sehun tidak menyukainya.

“Ayo, ucapkan salam pada calon mertuamu,” bisik Sehun, membuat pipi Seulgi memerah.

“A-anyeonghaseyo, eomma dan appa Sehun,” Seulgi membungkuk dalam, sangat gugup. “Namaku Kang Seulgi.”

Beruntung ibu Sehun tersenyum setelahnya. “Putraku memang memiliki selera yang baik. Ayo duduk, kami sudah menunggu kalian dari tadi,” tangan lembut wanita itu menuntun Seulgi duduk di salah satu kursi. Ah… Seulgi merasa hangat. Walau jantungnya masih berdebar tidak beraturan.

“Dia cantik kan, appa?” tanya Sehun pada ayahnya yang tengah duduk di kursi utama. Dia sendiri duduk di sebelah Seulgi.

“Ehm,” sang ayah berdeham singkat. “Dia sangat cantik. Jangan cemburu, yeobo.”

Mereka semua tertawa, kecuali Seulgi yang masih merasa canggung. Jika Sehun dan keluarganya begitu menikmati makan malam ini, dia justru merasa gelisah. Beberapa kali percakapan yang dilontarkan oleh ibu Sehun hanya dia jawab singkat dan sebisa mungkin tetap terlihat sopan. Senyumnya ia paksakan untuk tetap hadir walau rasanya lemah. Keluarga Sehun sangat baik padanya. Seulgi merasa menyesal karena dalam suasana ini, pikirannya harus terbagi dengan rasa cemasnya pada Jongin.

“Kau kuliah jurusan apa, Seulgi-ah?” tanya ibu Sehun.

“Jurusan…” Seulgi melirik Sehun sekilas. “Seperti Sehun.”

“Wah, itu bagus,” sambung ayah Sehun dengan antusias. “Setelah kalian menikah nanti, kau bisa menjadi salah satu kepala departemen di rumah sakit kami. Bidang apa yang kau minati?”

Menikah? Nafas Seulgi serasa tercekat. Well, dia dan Sehun memang pernah membicarakan soal pernikahan, tapi hanya sebatas obrolan ringan. Tidak pernah dia pikirkan topik tentang pernikahan ini akan sampai di meja makan keluarga, dengan suasana yang sedikit lebih serius. Dia menatap Sehun, seperti minta tolong.

“Kenapa melihatku? Katakan saja, sayang,” Sehun malah tertawa pelan dan mengacak rambutnya.

“A-aku… suka… anestesi.”

“Nah, cocok sekali. Sehun akan menjadi dokter bedah, jadi kalian bisa selalu bekerja sama.”

“Sebaiknya kalian menikah sebelum menjalani masa internship dan menempuh pendidikan spesialis bersama. Seulgi tidak perlu khawatir soal biaya, hanya perlu belajar dengan baik dan kelak menjadi kepala departemen anestesi di rumah sakit keluarga Oh.”

Kepala Seulgi terasa pening. Uraian tentang masa depan oleh orang tua Sehun tadi benar-benar menggiurkan dan pasti menjadi impian semua mahasiswa kedokteran. Tapi jika mengingat apa yang telah dia lakukan selama beberapa hari belakangan ini, dia merasa tak pantas. Orang tua Sehun begitu baik, tidak jauh beda dengan Sehun. Sementara yang dilakukan oleh Seulgi adalah berkhianat. Seulgi telah membagi hatinya dengan pemuda lain. Dan yang lebih buruk lagi, dia mencintai keduanya. Dia merasa benar-benar buruk.

“Sayang, kenapa diam saja?” pertanyaan Sehun menyadarkan Seulgi kembali dari perenungannya.

“Seulgi terlihat tidak sehat,” ujar ibu Sehun dengan wajah khawatir. “Gwenchana?”

“Tidak apa-apa,” jawab Seulgi cepat. “Hanya sedikit terkejut.”

“Terkejut? Kami pikir Sehun sudah membicarakannya denganmu.”

Seulgi menatap Sehun dengan wajah pucatnya.

“Sebenarnya belum ku berikan, eomma,” Sehun terkekeh, lalu merogoh sakunya. “Ku pikir nanti saja saat kami pulang. Tapi karena kau sangat terkejut,” sebuah kotak kecil berada di tangan Sehun, yang mulai menggeser posisi agar benar-benar menghadap Seulgi. “Ini bukan makan malam biasa, Seulgi. Sebenarnya aku ingin melamarmu,” dibukanya kotak kecil itu, dan sebuah cincin cantik berkilau memanjakan mata Seulgi. “Jadi… maukah kau menikah denganku?”

Ini gila. Seulgi belum mempersiapkan mental untuk menghadapi situasi ini. Memang seharusnya dia menjadi gadis yang paling bahagia di dunia. Kekasihnya, yang sangat ia cintai, melamarnya secara tiba-tiba. Rasanya sekeliling Seulgi berputar, tidak fokus. Melihat senyuman Sehun, wajah ramah orang tuanya, juga cincin yang berkilauan itu membuat Seulgi tidak bisa berpikir jernih. Kejahatan apa lagi yang mungkin akan dia lakukan di masa depan?

“Iya, aku mau.”

***TBC***

Author Note : Saya ada pertanyaan lagi nih untuk kalian.

“Coba kalian beri penilaian pribadi terhadap karakter Seulgi. Anggap saja di kehidupan nyata kalian punya teman seperti dia.”

Jujur aja, misal : “Aku gak suka sama Seulgi karena dia plin plan.”

Saya tunggu jawabannya, dan see you next chapter

52 thoughts on “Bittersweet : I Feel Warm

  1. Aku merasa seulgi juga menjadi gadis yang tak beruntung. Siapasih di dunia ini yg menyukai hal hal berlebihan.? Kai dan sehun mencintai dia secara berlebihan. Parahnya keduanya sama sama imbang.
    Wajar seulgi galau, ditambah pemaksaan manis dr kai..
    Menurutku author menempatkan kisah dengan baik kok, reaksi yg wajar semua pemainnya, termasuk sojung.

    Aku berharap sampai akhi sojung gatau ttg seulkai. Cukup dengan seulgi yg memperbaiki hubungannya dengan kai dan sehun saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s