When Our Love Came Suddenly [Chapter 13]

When Our Love Came Suddenly

Author : Hwang Sung Ji and Xiu Yu Ri

Main Cast   :

  • Lin Da (OC)
  • Ayu (OC)
  • Kim Joon Myun a.k.a Suho EXO
  • Park Chanyeol a.k.a ChanYeol EXO

Other Cast :

  • All EXO Member
  • Shin Yunra as Chanyeol ex-girlfriend
  • Shin Hyeshi as

Genre : Happy, Romantic, Friendship, School life, Little Comedy

Length : Chapter

Rating : PG 16

 

Posisi Chayeol kini berada di atas dan tubuh Ayu di bawahnya. Sebenarnya jarak mereka tidak begitu dekat, masih ada rongga diantara Chanyeol dan Ayu. Namun jika dilihat dari jauh, posisi mereka sangatlah bahaya dan rawan menimbulkan fitnah.

Tiba-tiba Chanyeol menghentikan aksi gelitiknya. Matanya yang seperti kelereng itu sibuk menelusuri lekuk wajah Ayu. Seperti ada yang mendorongnya, Chanyeol semakin lama semakin mendekatkan wajahnya ke arah Ayu. Gadis itu diam tak bergeming, kenapa selalu berakhir seperti ini.

Dia tak tahu lagi harus berbuat apa, tangannya ingin mendorong tubuh Chanyeol namun entah kenapa tiba-tiba tangannya melemas seperti tak ada tenaga. Seluruh tubuhnya seolah-oleh berhenti berkeja sampai ke sel-sel terdalam.

Chapter 13

Ayu memandang kedua mata Chanyeol bergantian dan masih berusaha menjauhkan kepalanya dari wajah Chanyeol yang semakin mendekat dengan menekankan kepalanya semakin dalam pada bantal.

Ayu menelan ludahnya susah payah saat melihat Chanyeol mulai memiringkan kepalanya. Gerakan reflex menutup mata dilakukan oleh yeoja itu bahkan terlalu reflex sampai-sampai timbul kerut di pinggiran mata cantiknya. Hembusan nafas Chanyeol semakin terasa di permukaan wajahnya. Semakin dekat..

BRAAAK!!!

“Chanyeol-ah!! Anyye…”

“Ya!! Mwohagoisseo??” Suho mendapati dongsaengnya sedang menindih sahabat kekasihnya. Ada sesuatu yang terbesit di otak namja berwajah malaikat itu.

Kedua mata yang semula terpejam dan nyaris menikmati suasana yang ada langsung menatap ke arah pintu dimana terdapat seorang namja membawa kantung belanjaan. Mata angelic milik Suho membulat sempurna menatap dua orang yang saling tindih. Sementara yang dipandang gelagapan membetulkan posisi mereka dengan otak yang masih berusaha mencari alasan.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” Ayu memberi isyarat dengan tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lucu. Chanyeol hanya tersenyum tertahan melihat yeoja di depannya salah tingkah karena kelakuannya.

“Arra..arra..sana lanjutkan aku akan kembali keluar!” Suho tersenyum evil lalu memandang Chanyeol.

“Lihat, hyung sudah mengizinkan. Ayo lanjutkan, sampai dimana kita tadi?” Chanyeol melempar senyum pervertnya pada yeoja polos bernama Ayu.

“Ya!! Byuntaee!!” Ayu meraih bantal yang tadi digunakan untuk bersandar lalu memukul Chanyeol berulang kali, sementara yang dipukul hanya meringis tertawa dan menggunakan tangannya sebagai perisai untuk menepis pukulan Ayu.

Baru saja Suho membuka pintu keluar, namun di depannya berdiri seonggok(?) manusia berambut hitam legam dengan nampan yang dibawa dengan kedua tangannya. Manusia itu yang ternyata adalah seorang yeoja menatap ketiga orang dengan tatapan penuh curiga apalagi dua orang yang sedang beradu bantal di atas kasur.

“Apa yang mau kalian lanjutkan? Hm?” tanya yeoja itu dengan nada kecurigaan yang menakutkan.

“Seharusnya kita tidak usah datang. Kajja keluar!” yeoja yang ternyata adalah Lin Da alias kekasih Suho hanya memandang namjanya itu dengan kebingungan. Matanya seolah bertanya apa yang sedang terjadi.

“Chanyeol dan Ayu…bksbksksbskbsbksbk” Suho mendekatkan bibirnya pada telinga yeojachingunya dan membisikkan sesuatu yang benar-benar membuat Lin Da menajamkan matanya pada dua sejoli di atas kasur.

“Mwooo!!! Kalian berciuman??”

DIIIIIIEEERRRR!!!

Kata-kata Lin Da bahkan mengalahkan petir yang menggelegar saat hujan angin di kutub utara yang jauh disana. Chanyeol dan Ayu saling pandang. Seperti yang tadi dilakukan, Ayu berusaha menjelaskan jika dia tidak melakukan apa-apa dengan Chanyeol namun Chanyeol hanya diam berkarisma.

“Seharusnya begitu. Tapi pacarmu merusaknya.” Ucap Chanyeol santai tanpa menyadari jika Lin Da sudah naik darah. Ayu hanya menunduk menghujami Chanyeol dengan berbagai macam kutukkan dalam hatinya. Iya, kutukan.

“Ya!! Sudah ku bilang jangan apa-apakan dongsaengku!! Bagaimana jika aku tidak datang?? Kau pasti sudah menghabisinya!! Byuntaae!! Aku tidak akan menyerahkan Ayu padamu lagi Chanyeol-aaaahhhh!!!” Lin Da berteriak, mengambil bantal yang dipegang Ayu lalu menghujani Chanyeol dengan pukulan bantal bertubi-tubi yang membuat Chanyeol mengerang kesakitan.

“Ya!! Lin Da!! Appoya!!! Aissh!! Hajima!! Geumanhae!! Ya!! Kau pikir aku tidak tahu jika kau dan Suho hyung sudah berciuman di taman danau milik hyung?? Hah!!” seketika Lin Da berhenti karena perkataan Chanyeol yang membuatnya skakmat.

Ayu membelalakkan matanya, tangannya digunakan menutupi bibir kecilnya yang sudah membulat, sementara Suho menepuk jidatnya karena dongsaeng bodohnya. Ayu masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh eonninya.

Eonni yang dikiranya polos selama ini, ternyata sudah menerima first kiss yang sempat dijaga mati-matian. Lin Da beralih menatap Suho tajam lalu berlari mengejar namjachingunya itu dengan menenteng bantal yang sudah siap dilempar. Chanyeol tertawa terbahak-bahak melihat mereka lalu beralih menatap Ayu yang masih setia dengan ekpresi terkejutnya.

Chanyeol meraih tangan yeoja itu, tangan yang sedari tadi digunakan menutupi bibirnya yang membulat. Karena perlakuan Chanyeol, Ayu tersadar dari pikiran-pikirannya tentang eonni “polos”nya itu. Dia baru tersadar jika namja di depannya sedang tersenyum teduh ke arahnya sementara Ayu menatapnya seolah berkata *kau itu kenapa? Dan

CHU~~

Satu ciuman hangat mendarat di pipi chubby yeoja itu. Cukup lama bibir basah Chanyeol menempel disana, mencoba menyalurkan perasaannya lewat kecupan di pipi. Ayu kembali membulatkan matanya karena perlakuan mendadak dari Chanyeol. Jantungnya berdetak teramat kencang, berusaha mencari dan mencerna tindakan tiba-tiba dari Chanyeol. Banyak pertanyaan yang terbesit di pikiran yeoja itu.

“Itu untuk menggantikan bibir kecilmu. Aku akan menjadi yang pertama mendapatkan bibirmu. Lihat saja nanti.” Chanyeol mengusap bibir kecil Ayu dengan ibu jari besarnya. Membuat yeoja itu bergidik ngeri karena ucapan dan perilakunya barusan. Apa maksudnya?

Chanyeol tiba-tiba berdiri, memasukkan tangan besarnya ke kedua saku celananya. Lalu berjalan dengan penuh santainya meninggalkan yeoja yang masih mematung di atas kasur. Bahkan tingkahnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

Mereka tidak mempunyai hubungan khusus seperti berpacaran. Seorang sahabat juga tidak, bahkan mereka lebih banyak bertengkar daripada membantu satu dengan yang lain. Tapi kenapa Chanyeol bahkan mencium Ayu dengan seenaknya? Tanpa memikirkan perasaan yeoja itu yang mengingat Chanyeol mempunyai seseorang yang dicintai. Ayu merasa jika dirinya hanya sebuah pelampiasan bagi namja jangkung yang teramat disayanginya.

(Ayu POV)

Satu minggu lagi acara ulang tahun sekolah akan dilaksanakan, dan itu berarti aku harus tampil di atas panggung bersama Chanyeol. Jika aku boleh berpendapat, mendapatkan kesempatan langka seperti itu memang membuatku menjadi yeoja paling beruntung, tapi jika itu berarti harus membuat yeoja-yeoja lain iri padaku, seharusnya aku memikirkannya dua kali. Dengan bodohnya aku langsung menerima ajakannya. Tunggu, bukannya dulu aku tidak punya pilihan seperti itu? ah..Mollayeo!!

“Kau!! Auush!! Melamun lagi!” aku mendengar dengusan Lin Da yang berusaha menyadarkanku.

“Ahh!! Aku bisa gilaa!!!” Aku mengacak-acak rambutku yang sudah rapi ini. Lin Da menahan burgernya yang sudah nyaris di makan di depan mulutnya.

“Ya!! Bisakah kau bersikap biasa saja? Acara makanku terganggu!!” bentak Lin Da sambil menaruh lagi burgernya di atas nampan makanannya. Aku menatapnya sendu.

“Mwo?” ku lihat eonniku mengangkat kedua alisnya. Aku menarik kedua sudut bibirku ke bawah, lalu membenturkan kepalaku berulang kali pada meja makan di depanku. Sakit? Tentu saja.

“Aku rasa kau memang sudah gila Ayu-ya.” Aku menatap Lin Da tajam, namun dia hanya tersenyum.

BREEKK!!

Aku merasakan tempat duduk di sebelahku tidak lagi kosong. Aku terlonjak kaget ketika seseorang dengan suara bass tiba-tiba merangkulku dan mendekatkan tubuhku padanya. Dengan susah payah aku menelan ludahku. Jantungku bekerja lebih cepat kali ini. Aku meremas rok yang aku kenakan berusaha terlihat senormal mungkin.

“Hey, kau makan apa? Bolehkah aku memintanya?” ucap seseorang bersuara bass itu. aku mendorong nampan yang berisi burger ke namja itu tanpa berniat menoleh ke arahnya.

“Kau kenapa?” aku menggeleng pelan pada namja itu yang tidak lain adalah Park Chanyeol. Dia menarik lagi tangannya melepas rangkulannya padaku.

“Aku tidak bisa menahannya lagi.” Aku memejamkan mataku erat dan membulatkan tekadku. Aku berdiri dari tempat dudukku, membuat semuanya yang ada di meja itu menatap ke arahku.

“Ehm..eo..eonni. Aku mau ke toilet!” ucapku pada eonni dengan wajah yang aku palingkan dari Chanyeol. Dengan secepat kilat aku berlari dari sana meninggalkan makan siangku yang sudah nyaris digigit oleh Chanyeol.

“Bagaimana bisa namja itu bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa? Ahh!! Apa dia tidak merasakan sesuatu, huh? Nappeun!!” rutukku kesal.

Sepertinya aku harus membolos jam pelajaran kali ini. Aku benar-benar belum siap berhadapan dengan Chanyeol. Aku melangkahkan kakiku menjauhi keramaian koridor menuju atap sekolah.

(Author POV)

“Hey, nona! Kau mau membolos? Huh?” Chanyeol memanggil Ayu yang sedang berdiri menikmati udara di atas atap sekolah. Ayu membelalakkan matanya ketika melihat Chanyeol berdiri di belakangnya cukup dekat.

“Kenapa dia ada disini? Aku berniat menghindarinya hari ini, tapi malah …”

“Ya! Kenapa kau tidak mau menatapku?” Chanyeol membuyarkan lamunan Ayu. Ayu masih setia menundukkan kepalanya dan mengacuhkan Chanyeol. Ia berniat berlari meninggalkan Chanyeol namun dengan sigap Chanyeol menarik tangannya agar kembali lagi ke posisi semula.

“Apakah aku berbuat salah? kesalahan apa yang membuatmu tidak mau bertemu denganku? Hm?” Ayu masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat membuat Chanyeol membuang nafasnya. Setelah beberapa menit, mereka masih dengan posisi yang sama tanpa ada seorang pun yang berniat berbicara. Chanyeol masih menunggu kata-kata keluar dari bibir kecil yeoja itu.

“Aku ingin bertanya padamu.” Akhirnya setelah 5 menit dengan posisi seperti itu, Ayu mulai membuka mulutnya. Namun wajahnya masih menunduk tanpa mau memandang Chanyeol.

“Kenapa kau tidak bertanya dari tadi?” Chanyeol tersenyum setelah mendengar suara manis yeoja di depannya.

“Apa kau menyukaiku? Maksudku, apa gadis yang kau maksud di pemakaman kemarin adalah aku?” terlihat pandangan serius dari Ayu yang sekarang berani menatap Chanyeol.

“Mwo? Kenapa kau tanya itu? Hahaha..” Chanyeol tertawa dengan begitu kerasnya dan itu sukses membuat Ayu memerah karena marah. Tidak seharusnya Ayu bertanya hal yang jelas-jelas diketahui jawabannya oleh dirinya sendiri. Chanyeol tidak akan menyukainya, apa lagi mencintainya. Itu adalah hal yang dipikirkan oleh yeoja itu saat ini.

“Dweisseo(?). Aku tahu jawabannya.” Ayu mengepalkan tangannya lalu berniat pergi dari Chanyeol yang masih tertawa. Namun dengan segera Chanyeol berlari mengejar Ayu yang berada jauh di depannya, tidak sulit mengejar langkah yeoja itu mengingat Chanyeol bisa menempuh jarak satu setengah meter dengan sekali langkah.

Chanyeol menahan tangan Ayu yang sudah mendarat di atas gagang pintu. Ayu menatap tajam ke arah Chanyeol yang masih berusaha meredakan tawanya. Yeoja itu meniup poninya kasar dan hendak menarik gagang tersebut, namun lagi-lagi Chanyeol menahannya.

“Kau ingin membolos kan? Lebih baik kita berlatih, seminggu lagi kita akan..”

“Shirreo!!!” ucap Ayu ketus memotong pembicaraan Chanyeol. Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. Tapi 5 detik kemudian, sudut bibir Chanyeol membentuk sebuah evil smirk.

“Jeongmal? Geunde, sepertinya..kau merindukan kecupanku di pipi chubymu itu, keure?” Pipi Ayu memerah. Jika saja Chanyeol tidak bisa membaca situasi, maka tawa khasnya akan kembali menggema seperti beberapa menit yang lalu.

“Benarkan? Lihatlah, pipimu memerah. Pasti kau sangat rindu pada bibirku. Hahaha. Mana yang harus ku cium? Pipimu? Atau…bibirmu?”

BBAAANGG!!!!

Ucapan Chanyeol benar-benar seperti tembakan peluru dari senapan tim “GEGANA” *Author gila. Iya kali penjinak bom punya senapan-. Tapi sepertinya Ayu memang butuh tim itu untuk menjinakkan bom yang siap meledak di dalam dirinya karena ulah Chanyeol. Dalam situasi seperti ini, dia harus tetap menjaga detak jantungnya agar tetap berirama senormal mungkin. Namun sepertinya wajah yeoja itu tidak mendukung perintah otaknya.

“Baiklah kalau itu maumu. Padahal baru kemarin aku mencium pipimu dua kali, tapi kau sudah merindukannya. Bagaimana jika mencoba tempat baru. Seperti di bibir mungkin? Baiklah.. Sini..” Chanyeol tersenyum, telapak tangannya yang besar bergerak menarik tengkuk Ayu ke arah wajahnya. Mata Ayu tidak berkedip sedetikpun, dia berusaha menahan tengkuknya tetap menjauh dari Chanyeol, namun Chanyeol dengan paksa menarik tengkuknya lebih kencang.

“ Aaaaa~!! Kaajja!! Kita berlatih!!” Ayu menutup bibir Chanyeol saat jarak bibir mereka hanya sepanjang 2 cm. Ayu melemparkan senyum terpaksa sambil berusaha melepas tangan Chanyeol yang berada di tengkuknya. Bahkan tangan yang satu sudah melingkar di pinggang yeoja itu, menghilangkan jarak tubuhnya dengan Ayu.

Chanyeol melepas tangan Ayu sesegera mungkin sebelum dia kehabisan oksigen dan mati gaya di depan yeoja itu. Namun senormal mungkin Chanyeol mengatur nafas yang sempat sesak lalu kembali tersenyum pada yeoja di depannya. Tangan besarnya digunakan untuk merangkul pundak yeoja itu tanpa menyudahi sedikitpun senyum 5 jarinya. Ayu hanya menunduk pasrah dengan perlakuan namja di sampingnya.

“Sebenarnya siapa yang sudah berada di hatimu Park Chanyeol?”

.

.

.

(Suho POV)

Aku berjalan di koridor sendirian, memasukkan kedua tanganku ke saku dan tetap memandang lurus ke depan *ceilah. Tidak ku hiraukan kerumunan yeoja-yeoja yang sibuk mengagumi ketampananku ini. Aku sudah terbiasa dengan mereka, hampir setiap hari pujian-pujian itu melayang ke arahku. Gumaman keras yeoja-yeoja yang ku lewati seperti “Wajahnya benar-benar seperti malaikat!” atau mungkin “Lihatlah dia. Tidak ada sedikitpun cacatnya!” sudah setiap hari menjadi makanan telingaku saat istirahat begitupun dengan dongsaeng-dongsaengku. Aku hanya tersenyum pada mereka, berusaha tidak melukai hati mereka karena tidak bisa memiliku yang sudah menaruh hati pada yeoja asal Indonesia itu.

“Sedang tebar pesona lagi tuan Kim?” seorang yeoja yang sangat-sangat aku cintai memberi “sapaan” dengan lipatan tangan di depan dadanya lalu menaikkan sebelah alisnya.

“Ne, chagiya! Mereka semua benar-benar cantik dan berkulit putih! Tidak sepertimu, sudah jelek, hitam lagi! Hahaha” aku tersenyum saat candaanku sukses membuat wajahnya makin masam. Aku sangat suka menggodanya, cemburunya membuatku makin menyayanginya.

“Ah..geureokuna..Baiklah, jangan pernah menciumku lagi! Untuk apa kau mencium yeoja hitam dan jelek sepertiku.” Dia benar-benar marah kali ini, dia berbalik dan meninggalkanku yang masih berusaha menahan tawa.

Aku mengejarnya yang sudah duduk di kursi dengan menopang dagu dan menatap tajam ke arah samping. Aku menundukkan tubuhku tepat di depan wajahnya, namun Lin Da mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berulang kali aku lakukan hal yang sama yaitu berusaha membuatnya mau menatapku sampai akhirnya aku benar-benar lelah harus mondar-mandir ke kanan dan kiri untuk mengikuti arahnya membuang wajah manisnya. Tanpa ku sadari jika kelas sekarang dalam keadaan kosong padahal ini adalah jam pelajaran. Baguslah, ini kesempatan yang tepat.

“Chagi!! Sudahlah, hentikan mempoutkan bibirmu itu. Kau membuatku ingin mengecupnya, arra?” ucapku dengan sukses membuatnya menatapku dengan tajamnya.

“Mwo?? Ya!! Tidak sadarkah kau jika ini masih..”

CHU~

Yes!! Gotcha!! Rencanaku berhasil!! Dengan sukses bibirku mendarat tepat di atas bibirnya. Aku tersenyum dengan bibirku yang masih menempel, menghilangkan udara diantara tubuhku dan Lin Da. Aku bisa melihat matanya yang terbelalak dan sesekali memandang bergantian antara mataku dan bibir kami yang sedang bertautan. Perlahan aku mulai menggerakkan bibirku, mencoba memberi lumatan selembut mungkin dan membuatnya merasaka cintaku padanya. Lin Da memejamkan matanya yang tadi dibolakan.

“Saranghae Er Lin Da. Jeongmal saranghae.” Ucapku lirih disela-sela ciumanku, memberinya sedikit waktu untuk bisa bernafas. Ku lihat senyuman manis sudah terukir di bibirnya. Tanganku ku gerakkan untuk menarik dagunya lebih dekat. Dalam sekejap bibirku kembali melumat bibirnya.

GRUDUG!!! GRUDUG!! GRUDUG!!!

Suara langkah-langkah sepatu yang bising mulai masuk ke telingaku. Kenapa mereka harus datang disaat suasana seperti ini? Padahal beberapa detik lagi..Ah!! mereka benar-benar membuat rencanaku hancurr!!

“Oppa!!!” Lin Da mendorong tubuhku. Semburat merah muncul di permukaan pipinya. Aku tersenyum jahil ke arahnya, dan dia semakin menundukkan kepalanya malu.

“Wae? Kau menyukainya kan? Hahaha..dasar bocah-bocah itu! Apa mereka tidak tau jika kita sedang dalam keadaan yang tidak dapat diganggu?” aku mendengus, memandangi 8 orang namja yang masuk dengan wajah berkeringat lalu berhamburan menuju tempat duduk masing.masing. Di belakang mereka segerombol anak-anak lain juga ikut berlari dan segera duduk di tempat mereka.

Aku mengambil tempat duduk tepat di sebelah yeojaku yang paling ku sayang ini. Yeoja Indonesia bernama Lin Da yang selalu bisa membuat jantungku berdebar hanya dengan tetap di sampingnya. Yeoja yang baru saja ku buat pipi dan bibirnya memerah karena kecupan memabukkan dariku.

“Chagiya..yang tadi belum selesai arra!” ku lihat kedua tangannya menangkup pipinya sendiri, menutupi rona merah di permukaan wajahnya.

( Author POV)

“ Yak eonni…” Lin Da tersentak kaget mendengar suara yang cukup membuat telinganya berdenyut sakit. Dia memandang seorang yeoja yang menyandang sebagai teman satu apartemennya. Semua orang pasti tahu itu, yeoja yang sama sepertinya, berasal dari Indonesia.

“ Wae..?” Ayu menatap Lin Da dengan tajam. Sedangkan yeoja yang tengah ditatap itu gugup tak karuan. Apa Ayu tahu tentang apa yang telah dia lakukan bersama Suho? Bagaimana kalau dia tahu, mau taruh dimana harga dirinya.

“ Yak eonni… Jangan pernah memakai lipgloss terlalu banyak, arra!!!! Lihatlah bibirmu itu tak beda jauh dari jalanan becek!” Ujar Ayu diakhiri dengan ejekan. Lin Da mengerucutkan bibirnya. Ayu mengatai bibirnya seperti jalanan becek, benar-benar dongsaeng yang kurang ajar. Tidak tahu sopan santun sama sekali.

“ Yak ini bukan lipgloss, gaundae …. Ige…“ ucapan Lin Da menggantung, tidak mungkin dia berkata kalau ini akibat ulah Suho. Itu sama saja dia mencari mati.

“ Ah sudahlah!!!” Lin Da menyerah, dia kehabisan akal kali ini. Dengan kasar dia mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya. Dia menatap Suho tersenyum manis ke arahnya. Nappeun namja, dia tidak merasa bersalah sama sekali. Ingin sekali dia mencakar-cakar wajah malaikat palsunya itu.

“ Sepertinya aku tahu itu apa.” bisik Chanyeol seraya melirik ke arah Suho yang sibuk menggoda Lin Da. Ayu mengikuti pergerakan mata Chanyeol, dia bergidik ngeri. Ternyata eonninya benar-benar sudah tak sepolos seperti dulu.

“ Kau juga akan merasakannya nanti. “ Ucapan Chanyeol lolos membuat darah Ayu berdesir hebat. Apa maksud ucapan dari Chanyeol? Ayu mematung, dia tak berani menoleh ke arah Chanyeol. Karena dia tahu ucapan Chanyeol termasuk dalam kategori bahaya. Ayu pura-pura menulikan telinganya, dia tak mau menanggapi ucapan Chanyeol.

“ Apa sekolah ini dipenuhi dengan setan-setan seperti mereka?” keluh Ayu dalam hati. Apakah dia akan bernasib sama seperti Lin Da. Ayu membuang jauh pikirannya yang mulai ngelantur. Matanya terpejam, mengumpulkan pikiran-pikiran positifnya. Tidak, dia tidak boleh seperti ini.

TO BE CONTINUED

Iklan

3 thoughts on “When Our Love Came Suddenly [Chapter 13]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s