[Oneshoot] Horrible

img_2217

Tittle : Horrible ││ Author : DevBoomer

Cast : Jung Krystal (Fx) – Kim Jongin (EXO) ││ Genres : Thriller, Crime, Fantasy

Rate : Matture ││ Length : Oneshoot

Summary : Aku akan terus mengikuti bayangan-nya sampai ke ujung semesta. Sampai bayangan itu membebaskanku dari dunia yang gelap gulita. Sampai bayangan itu tak mampu menjagaku lagi. Dan sampai waktu, dimana aku bebas dari manusia yang tak pantas hidup di dunia ini.

Disclaimer : The characters are belong to them selves. The OC and story is belong to me. Please do not copy!.

RCL Please – Jadilah Readers yang bermanfaat

 

– o0o –

Author’s POV

Suasana mencekam yang pekat kembali mengisi malam. Seorang gadis berdiri perlahan dengan adrenalin-nya yang tertahan. Gadis itu berdiri menatap keindahan langit malam, di kawasan hutan lindung Busan.Lalu ia berjalan menyusuri setapak jalan dengan sepasang mata tajamnya bergerak mencari beberapa dahan disekitar hutan.

Kini dahan yang dibutuhkan telah terkumpul seluruhnya. Lalu gadis dengan surai seindah langit malam itu kembali ketempat semula. Tempat dimana ia dapat melampiaskan hasratnya. Dan saat gadis itu sampai, ia berdiri memandang iba sang korban. Sesosok pria yang berbalut pakaian serba hitam itu tumbang dengan darah yang berlumuran.

Begitu juga dengan gadis bersurai indah yang kini menutupi korbannya dengan dahan yang tadi dikumpulkan. Gadis itu juga menerima akibat dari pebuatannya. Beberapa tetesan darah pekat seakan menjadi penghias dari sebuah blouse biru yang dikenakan olehnya. Terlihat menjijikan, tapi tetesan darah yang melekat itu menciptakan kesan yang mendalam bagi sang gadis.

Sebuah naluri yang tertahan kini telah terbebaskan. Hasrat yang haus untuk melihat gumpalan-gumpalan darah tak bersalah, kini telah terpenuhi. Keinginannya hari ini sudah diwujudkan di malam hari. Sekarang, hanya tinggal mencari cara untuk menghapus jejak dari sang korban. Setelah itu, gadis liar sepertinya bisa pulang, kembali ke sebuah naungan.

– o0o –

“Bagaimana menurutmu?. Apa tadi aku melakukannya dengan baik?.”

“Ya, kau memang berbakat.”

Sebuah percakapan langsung tercipta setibanya kedua makhluk itu di ruangan ini . Ruangan dengan gorden tipis berwarna kelabu beserta sebuah lampu redup nan kelam. Kadar penglihatan di ruangan ini begitu minim, yang kemudian hanya dibantu dengan cahaya seadanya dari sang bulan. Keadaanyna begitu mengenaskan, sampai ruangan ini tidak cocok disebut sebagai sebuah naungan.

“Lalu bagaimana dengan metodenya?. Apakah sudah ada peningkatan?”

“Sedikit. Sangat sedikit. Kau selalu menggunakan trik yang sama. Lain kali, jangan selalu memancing target melalui media sosial. Meskipun kau menyamar, ada kemungkinan samaranmu terbongkar.”

Tengah malam ini dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dari seorang gadis dengan surai indahnya. Ditambah lagi, binaan konseling dari sosok wanita yang selalu setia memberikan solusinya. Sebentar lagi, mereka akan merayakan kejadian tadi. Tidak meriah, hanya akan ada mereka berdua ditambah sekaleng soda dan juga tayangan film bergenre horror yang sedang populer di negeri ini.

“Payah, alurnya sama seperti yang lain. Selalu menggunakan unsur-unsur hantu rumahan.”

“Kau jelas lebih menyeramkan dari ini. Wajahmu lebih mengerikan, dengan sayatan-sayatan pisau di wajahmu. Dan juga luka bakar di pelipismu. Aku suka itu.”

“Kau memang yang terbaik, nona krystal si surai tinta.”

Yap. Akhirnya julukan itu keluar kembali. Setelah sekian lama julukan itu tak pernah keluar dari kandangnya, sampai akhirnya julukan itu kembali di dapatkan oleh krystal si surai tinta. Krystal, adalah seorang gadis dengan surai seindah langit malam ditambah dengan struktur wajah yang sangat proporsional. Dia memiliki rupa yang indah dengan unsur-unsur british-nya.

Sudah beberapa tahun gadis manis itu hidup seperti ini. Tinngal di pinggir kota, yang kemudian harus kembali ke tengah kota untuk bekerja pada siang harinya. Hidup dengan kegiatan yang monoton, keseharian yang selalu diulangnya berkali-kali. Gadis itu hidup tanpa keluarga, tanpa satupun saudara yang memberikan simpati padanya.

Kini hanya ada Alice yang tersisa. Sesosok makhluk hidup yang berbeda dunia. Mungkin krystal sudah mencapai puncak kesendiriannya, sampai ia rela untuk berteman dengan makhluk yang garis hidupnya bertentangan dengannya. Tapi Alice pilihan terakhir di kehidupan yang mengerikan. Hanya makhluk itu yang ada, meskipun Alice juga meminta imbalan pada akhirnya.

“Setelah ini, siapa lagi targetmu?. Pastikan kalau orang itu tak punya alasan untuk hidup. Lalu aku akan membantumu. Dan saat sudah tak bernyawa, aku sendiri yang akan mengurus sisanya.”

– o0o –

Suara gemuruh petir yang kencang serta sambaran kilat terang itu seakan memecahkan lapisan langit biru nan kelam. Perlahan langit biru itu mulai mengganti warna-nya menjadi langit yang kelabu. Pekan ini merupakan pekan pergantian musim bagi negeri sakura yang indah itu. Awan-awan gelap mulai mengisi langit pagi yang redup disekitar langit Osaka.

Sambaran kilat kembali terlihat. Kilat itu bergerak dengan cepat, berusaha menembus kepulan awan gelap dan menusuk-nusuk isi bumi dengan cepat. Sambaran-sambaran berikutnya tercipta dengan jeda yang begitu singkat. Awan-awan itu masih terus menyambarkan petirnya tanpa ada istirahat. Mungkin saat ini dewa Thor sedang berperang dengan adiknya Loki si dewa kenakalan.

Cuaca seburuk ini pasti mustahil untuk dinikmati. Seluruh makhluk hidup akan berbondong-bondong berlindung dari amukan alam yang sedang murka saat ini. Seperti seorang pria dibalik Pea Coat sebiru langit malam yang kini berlindung dari badai kejam di sebuah cafe pinggir jalan. Pria itu merapatkan shawl hitam yang melingkari leher jenjang, yang dingin akibat tiupan angin pagi.

Penglihatannya mengedar, meluas kesegala sudut cafe dan memandangnya penuh simpati. Pria itu selalu menyukai tempat ini. Sudah menjadi kebiasaan untuk menghabiskan sisa harinya di tempat dengan konsep Minimalis contemporer sepert ini, serta secangkir Hammerhead coffee yang selalu menemani.

Drrtt–

Sebuah benda hitam kotak yang tergeletak di atas meja bundar mulai bergetar. Menampilkan beberapa digit nomor beserta nama pemiliknya di layar kotak itu. Sebuah pandangan penuh rasa heran mulai diberikan oleh pria dengan mantel birunya yang kemudian mengangkat panggilan di handphone-nya.

“Ada apa? Sersan Smith?”

“Cepatlah ke Busan. Di sini ada sebuah kasus menunggumu.”

“Benarkah?. Memangnya sepenting apa kasusnya?. Kau tahu, kasusku di sini masih belum selesai.”

Ingin rasanya pria itu membuang ludahnya sekarang juga. Membuang setumupuk kertas sialan kemudian menaruhnya dijalan agar disiram air hujan. Mungkin tuhan berkehendak beda dengan realitas hidupnya. Baru saja membayangkan libur panjang setelah menyelesaikan kasusnya di sini, lalu bayangan itu hilang saat kabar buruk ini diterima.

“Ini kasus pembunuhan. Tapi jasad korban tidak ditemukan. Opsir Finn memerintahkanku untuk memintamu kambeli ke Busan. Bagaimanapun juga dia adalah kepala opsir .”

“A..Apa?. Baiklah Sersan. Aku akan transit ke Busan secepatnya.”

“Jangan sampai terlambat. Agent Kim.”

Kemudian panggilan itu ditutup. Pria tinggi dengan mantel birunya langsung melesat bersama kendaraannya, menerjang lebatnya hujan yang turun bagaikan ribuan anak panah. Ia tak perduli akan keadaan atau pun kejamnya alam bersama cuacanya yang menghancurkan. Naluri-nya membawa tubuh-nya bersama adrenalin yang meninggi perlahan.

Pria ber-mantel biru itu berkendara dengan cepat, tanpa mengetahui apa yang terjadi di kampung halamannya. Dia hanya akan kembali Busan, bersama mata sehitam tinta, yang akan menyipit ketika mengetahui kelakuan gadis-nya disana. Kini, biarkan kenyataan beserta takdir-takdir sakral-nya yang akan mengubah semuanya.

– o0o –

Krystal POV’s

                Biarkan dunia yang menyaring isi-nya. Biarkan seluruh umat manusia bersaing untuk mendapatkan kenikmatan-nya. Seperti diriku yang kini akan menyaring mereka semua. Membasmi orang-orang yang tak layak untuk hidup ataupun bertingkah yang tak sepantasnya. Melampiaskan amarah ini akan pahitnya kenyataan kepada mereka semua.

Terdengar gila bukan?. Aku tahu dunia tak bisa menerima kehadiran orang-orang sepertiku. Orang-orang sepertiku hanya akan tersingkir dan tak mampu bertahan di kehidupan yang hanya membutuhkan kebohongan. Pandangan hidupku berbeda dari mereka. Karena itu aku tersiksa. Karena berbeda, aku tak memiliki siapa-siapa.

Karena berberda, aku tak dapat diterima. Awalnya aku terpuruk, tersesat di dalam jurang kesendirian tanpa ada satupun tindakan. Sampai lahirlah sebuah perlawanan yang membentuk diriku yang sekarang. Menjadi seorang pembunuh yang mendapat dukungan dari makhluk yang membutuhkan. Alice, aku tahu ia membutuhkanku.

Dunia tak akan mengerti untuk apa aku melakukan ini. Membunuh orang-orang disekitar, bahkan kedua orangtua yang sudah lama membuangku. Hanya rasa kesepian yang dapat menjelaskan ini semua. Menjadi kunci utama kenapa seorang gadis sepertiku bisa berubah menjadi gadis liar yang tak memiliki rasa iba.

Matahari tak terlihat begitu bersinar. Sepertinya, cahaya sucinya ditutupi oleh kepulan awan gelap yang siap menurunkan kiriman airnya nanti malam. Aku selalu suka pemandangan dan suasana seperti ini. Bukannya suasana cerah dengan panasnya yang menyengat. Justru langit redup nan kelam dengan semilir angin yang menyejukkan.

Lamunanku terhenti begitu aku menyadari kehadiran seorang pelanggan di hadapanku. Mungkin saja pelanggan itu akan mengumpat karena sudah menunggu terlalu lama. Kemudian orang itu mulai mengucapkan pesanannya. Dua cangkir espresso.

Seperti biasa, aku bekerja sebagai barista di sebuah cafe ternama di pusat kota Busan. Pekerjaan yang cukup menguras tenaga karena banyaknya pengunjung lokal maupun turis yang berdatangan. Aku sudah terbiasa dengan keluhan pelanggan yang selalu menghantamku bagaikan ombak di lautan. Ucapan mereka yang terlalu menyakitkan.

Ditambah lagi perlakukan manager kang yang kasar terhadap karyawan-karyawannya. Terutama karyawan sepertiku yang sering terdiam membayangkan kehidupan. Manager kang sungguh berbeda dengan bayagan manager yang karyawan-karyawan inginkan. Dia wanita yang kejam bagaikan seorang ratu penuntut beserta hartanya yang berlimpah diseluruh dunia.

“Ya! Krystal-ssi! Apa yang kau lakukan tadi?. Ada apa denganmu?. Kau tahu?, sekitar 4 pelanggan memberikan keluhannya kepadaku!. Kau benar-benar sampah yang tak berguna!!”

“Maaf manager kang. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya berjanji..”

“Sebaiknya kau catat janji-janjimu!. Jangan sampai aku mendengar keluhan itu lagi!. Dasar sampah!”

Suara itu memekik. Suasana sore di cafe itu berubah menjadi menegangkan untuk sesaat. Layaknya seorang ratu yang murka dan menyalahkan pelayannya diatas kekuasaannya. Tentu aku tak mampu menahan rasa sakit sekuat ini. Seperti ada minyak panas yang disiram ke hatiku. Seperti ada anak panah yang menusuk pendengaran-ku

Sekarang aku terdiam tak berdaya tanpa memberikan balasan, karena ni bukan saat yang tepat untuk memberikan perlawanan . Aku hanya perlu menunggu malam datang, bersama kegelapan yang bersedia membantu-ku untuk melampiaskan seluruh amarah yang telah menggunung.

– o0o –

Author POV’s

Langit senja mulai beralih menjadi langit malam yang gelap dan pekat. Langit yang tadinya berwarna kelabu telah digantikan dengan langit yang berwarna biru malam. Warna biru yang indah, ditambah taburan bintang tak terhingga yang membuatnya terlihat berkelindan. Sekilas terlihat cahaya bulan yang kini tengah mengintip aktivitas manusia dari balik awan.

Kenapa pemandangan seindah ini selalu datang di malam hari?. Dimana seluruh manusia tengah mengistirahtkan tubuhnya, untuk kembali beraktivitas keesokan harinya. Mungkin memang akan selalu seperti ini. Hanya orang-orang tertentu yang dapat menikmati ciptaan indah dari tuhan. Pemandangan menakjubkan, yang disuguhkan oleh alam.

Entah kenapa, seluruh keindahan malam tak mampu menghapus rasa kesal, yang menggaungi batin gadis dengan surai hitam-nya. Perasaan-nya akan terus berkecamuk sampai saat dimana dia bisa melampiaskannya. Dendam memang bukan kata yang tepat untuk dipelihara. Oleh karena itu, gadis misty itu memilih unutk menuntaskan-nya.

Menggantikan kebencian dengan pembunuhan, yang dianggap sebagai pembayaran dosa manusia tak berguna. Dengan itu dendam-nya akan terbayarkan, dari permukaan sampai ke akarnya. Perlahan pandangan gadis itu mengedar. Bergerak kesegala arah, memindai kesegala penjuru. Bagaikan seekor paus bersonar yang kini mengincar kudapan malamnya.

Mangsa lezat akhirnya terlihat. Orang yang diincar-nya tengah berjalan perlahan dengan langkahnya yang tak berturan. Terlihat langkahnya yang terseok-seok lantaran harus berjalan dengan ­stiletto setinggi 7 senti. Sanggul cokelat itu terlihat agak berantakan, dengan anak rambut sedikit terurai yang berusaha keluar dari ikatan sanggul.

Suasana senyap membuat adrenalin-nya tercpita penuh hikmat. Hanya dengan menatap orang itu, rasa benci akan kembali menyesakkan dan mengisi sekujur tubuh, dari ujung kepala sampai ke ujung pembuluh. Orang yang kini dipandangi sedang merogoh sakunya guna mencari kunci mobil Audi-nya. Itu adalah manager kang. Seorang wanita yang dianggap tidak lebih dari seekor ayam pecundang.

Lalu gadis misty itu melangkah mendekat tanpa kendali. Seperti ada pengendali fikiran yang kini tengah mengontrol pergerakkan-nya. Mungkin itu adrenalin. Hasrat yang selalu mampu membuat seseorang keluar dari kendali-nya. Ia melanjutkan perjalanannya, sembari menyiapkan berbagai alat beserta strategi pembunuhan kejam-nya.

Tak lama kemudian jarak diantara mereka beruda berhasil dihapuskan. Tapi manager kang tak menyadarinya. Ini terlihat seperti kisah seekor kancil yang ingin mencuri timun, dan untungnya ibu tani tak menyadarinya. Tak mau kehilangan kesempatan, gadis ber-surai gelap itu segera mencengkeram leher jenjang itu tepat di aliran darahnya. Sampai akhirnya si ibu tani ini tak sadarkan diri.

Tubuhnya terangkat lalu dimasukkan ke bagasi mobilnya sendiri. Kunci mobil audi ini masih menggantung sempurna di daun pintu mobil kiri-nya. Lalu gadis bengis itu masuk kedalamnya, dan mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia kembali menginjak pedal gas dan kemudian membawa-nya ke suatu tempat yang sakral.

Perjalanan panjang diisi dengan keheningan yang menusuk hingga ke tulang. Gadis itu masih terdiam di depan kemudi yang menjadi pacuan perjalanan. Suasana begitu menyiksa karena keheningan yang tercipta, beserta pemandangan pepohonan tinggi menjulang yang disuguhkan di luar kaca mobil. Tak lama gadis itu mendengar suara gemertak di dalam kap bagasi mobil di belakang sana.

Kecepatan mobil mulai turun perlahan. Tangan sebening sungai Thames itu terangkat dari kemudi dan segera membuka kenop pintu. Kaki jenjangnya menjulur keluar dan mulai berjalan dengan langkah tergopoh ke belakang. Suara gemertak tadi alih-alih berubah, menjadi suara pukulan kencang yang menyentuh bagian dalam kap mobil.

Gadis misty masih terus berjalan kearah belakang. Lalu dia berhenti, tidak langsung membuka kap bagasi mobil itu. Justru ia membuka daun pintu mobil di barisan kedua, dan mengambil sebilah pisau yang terasa dingin karena suhu udara. Barulah gadis itu siap membuka kap bagasi di belakang sana. Ia membuka kap dengan penuh rasa waspada.

“Siapa pun kau. To..tolong lepaskan aku. Ambil saja hartaku, asalkan kau mau membabaskan aku.”

“Baiklah. Aku akan mengambil hartamu…”

Tenang. Diam. Manager Kang masih terdiam, setia menunggu lanjutan kalimat yang diberikan gadis di hadapannya. Gadis yang kini berdiri menahan kap bagasi dengan tangan kiri-nya, dan wajahnya yang tak terbalut penerangan karena hoodie-nya. Tapi siapa dalang dari kejadian ini?. Siapa lagi gadis nekat yang berani melakukan ini semua?.

“…Tapi setelah aku membunuhmu.”

“Hah?. Sialan!. Lepaskan aku anak muda!. Aku bisa menunt..hmptt.”

Wanita ber-sanggul itu dibuat bungkam oleh sang gadis. Badannya diseret kedalam hutan dengan mudah, layaknya kurir yang sedang mengangkut barang. Gadis misty belum terlalu jauh masuk kedalam hutan. Lalu ia mengikat korbannya disebuah pohon oak tua dengan seutas tambang dan meludahinya.

“Siapa kau ini?. Kalau kau memang ingin membunuhku, setidaknya biarkan aku melihat wajahmu.”

Gadis itu terdiam. Sebuah seringai bercokol di dalam hati-nya begitu mendengar perkataan wanita sok jagoan itu. Tapi ia justru memenuhi permintaan itu. Tangan kanan-nya bergerka perlahan, bermaksud untuk menarik hoodie-nya beserta kaca mata hitam yang menggantung di kedua telinga-nya.

“Krystal-ssi?. Apa-apaan ini?.”

“Maaf manager kang. Ini waktunya untuk menunjukan sebesar apa luka yang kau buat karena tindakan tak manusiawi-mu itu. Ini waktunya menunjukan diriku yang sebenarnya.”

Mungkin, itu kalimat terkahir yang akan didengar wanita ber-sanggul yang payah itu. Mungkin langit malam dengan pohon menjulang yang mencekam, menjadi pemandangan menyakitkan yang terkahir kali didapati indera penglihatannya. Karena kini krystal sudah berjalan keluar hutan untuk mengambil perkakas-nya yang ditinggal di dalam mobil audi manager-nya.

Tak lama krystal kembali dengan sekarung perkakas yang dipikul. Gadis itu mengambil sebuah jarum benang dan sebilah pisau yang mengerling karena melihat cahaya bulan. Dan ia berjalan mengarah ke manager kang, yang kini bergetar menahan ketakutan terbesar-nya. Wanita ber-sanggul itu takut dengan benda tajam. Dan malam ini, dia akan melihat lebih dari sekedar benda tajam.

“Persetan dengan-mu Krystal-ssi!”

“Diamlah!. Mari kita lihat seberapa kuat kau menahan pisau ini?. Kalau kau meringis, aku akan membungkam mulut kotor-mu itu.”

Tanpa ada persetujuan, bilah pisau itu sudah berdiri tegak menancap di paha kiri manager kang yang menembus lapisan epidermis-nya. Ia tak meringis, justru berteriak sejadi-jadinya begitu pisau itu menusuk kulitnya. Bahkan, dulu wanita ber-sanggul itu menangis saat dirinya pernah tertusuk jarum jahit saat ingin memasang kancing bajunya.

“Lihatlah. Bahkan wanita pembual sepertimu bisa berteriak meronta di hadapanku.”

“A..apa lagi yang kau tunggu?. Lebih baik kau membunuh-ku. Se..sekarang.”

Sepasang mata sayu itu menyipit secepat mungkin. Deretan gigi rapih yang dipagari dengan kawat itu merapat serapat perangko karena menahan rasa sakit yang menjalar. Tubuhnya mengejang seperti tersengat arus listrik dengan muatan yang tinggi. Sedangkan batin-nya terus memberi sumpah serapah yang diberikannya kepada gadis misty.

“Maaf, aku tidak bisa. Aku lebih suka menguliti-mu dulu. Baru akan ku ambil nyawa dan harta-mu.”

Ini mimpi buruk yang takkan berakhir. Waktu dan kalimat adalah penipu sejati. Ilusi dan kenyataan saling berlawanan seperti langit yang tak pernah menyentuh bumi. Manager kang tak kuasa menahan sakitnya sampai terus meringis tak tertolong. Krystal tak suka melihat korbannya seperti ini, ia lebih suka korbannya duduk manis dan menikmati penderitaannya.

Lalu krystal yang kini memegang jarum, meradang begitu melihat wanita ber-sanggul itu menerpa kesakitnnya. Ia menusukkan jarum jahit bersama benang jahit senada dengan wanra kulit ke dalam bibir wanita sialan itu. Ia terus melakukannya sampai kedua bibir itu tertutup rapat. Hawa panas yang berasal dari oven yang baru terbuka mulai meluas di dada krystal.

Sedangkan manager kang semakin meronta begitu merasakan rasa sakit luar biasa yang menusuk dan menembus kulit-nya. Manager kang ikut meradang. Wanita itu menangis sesegukan dengan suara-nya yang tak bisa lagi dikeluarkan. Darah di paha kiri-nya mulai merembes kembali. Tiba-tiba krystal mencabut pisau tadi dan mengecap darah yang menempel pada pisau itu.

Dia kembali berjalan menuju perkakas-nya dengan adrenalin yang meledak-ledak. Terkadang, gadis itu membenarkan sarung tangan yang menutupi seluruh tangan dan sidik jari-nya. Dia mengaduk isi karung guna mencari sebuah botol kaca berisikan cairan bening yang menyerupai air putih. Tapi itu bukanlah mineral. Sekarang, saatnya menumpahkan rasa sakit yang sebenarnya.

Tangan krystal merengkuh sebuah botol dengan cairan bening yang dicari-nya tadi. Ia kembali berjalan dengan tawa kemenangan-nya, beserta cairan dan pisau pemotong daging di genggaman-nya. Ia begitu bergembira hari ini. Tidak ada malam hebat lainnya, yang dapat mengalahi malam pembasuhan dosa.

“Kau tahu nyonya.. Ah tidak, apakah kau pantas dipanggil manager ataupun nyonya, Kang Mira?!. Apa kau tau betapa menderitanya karyawan-mu?. Mereka bekerja 10 jam dan waktu istirahat hanya ada 1 jam dalam sehari. Dan kau dengan mudah menerima hasil dari kami para pekerja!.”

Tercipta suara renyah dedaunan yang hancur ketika krystal melaju beberapa langkah ke arah manager kang. Gadis dengan surai segelap malam yang berkelindan itu tak dapat membendung nafsu dan hasrat, yang tadinya akan diledakkan di penghujung acara. Tapi hawa panas di hatinya mendesak untuk keluar dan menjalar.

“Di hidup ini ada yang namanya kualitas dan kuantitas. Mungkin kau memiliki itu. Tapi kau tidak memiliki dua hal terpenting di dunia. Loyalitas!, dan kemanusiaan!. Dan sekarang aku juga tidak akan memberikan rasa kemansuiaan-ku padamu!.”

Hasrat-nya berada di puncak keseimbangan emosi-nya. Hawa tadi sudah menyebar keseluruh tubuh karena tak mampu dibendung lagi. Krystal, gadis misty itu berubah menjadi brutal. Kini ia menunjukan sisi gelap-nya sebagai seorang pembunuh, pembalas dosa tak berperasa. Bengis, karena ini waktunya untuk membasuh dosa korban-nya.

Tangan kiri yang menggenggam sebuah pisau pemotong daging itu terbuka dan menjatuhkan pisau-nya. Alih-alih tangan-nya bergetar dan membuka botol kaca yang berisikan cairan Asam Nitrat. Senyawa zat kimia yang disebut cairan setan, karena dapat melelehkan baja terkuat sekalipun. Tidak tanggung-tangggung, cairan itu dibasuh ke sekujur leher dan wajah bagian kiri Kang mira.

“Kau cukup sampai di sini.”

Sekarang kau dapat membayangkan kondisi fisik Kang Mira. Terutama bagian leher dan wajah bagian kiri-nya yang melepuh sempurna karena cairan setan itu. Dengan perihnya darah di sekitar bibir, yang kemudian dibasuh dengan cairan sialan itu. Perih. Hancur. Kang Mira tak dapat meringis ataupun meronta. Wanita ber-sanggul itu sudah tak dapat melakukan apa-apa.

Sampai di penghujung acara, tubuhnya disayat dengan pisau pemotong daging setajam samurai para ninja. Darah segar nan pekat menggenang disekitar pohon oak yang rindang. Rasa sakit-nya menjalar, menyeruak kesegala arah sampai ke otak. Sampai wanita itu mati rasa, karena perih dan sakit-nya telah di telan lamat-lamat.

Di puncak emosi-nya. Krystal yang kini ikut bermandikan darah pekat, mengeluarkan sebuah gergaji. Gergaji mesin yang biasa digunakan untuk menebang pohon, dialih gunakan untuk menebas batang leher Kang Mira. Keronkongan-nya putus, beserta rongga pernafasan-nya. Riwayatnya telah tamat, dan berakhir bersama api yang membakar hangus tubuh-nya dan pohon oak itu.

Kini, gadis misty itu pergi. Kembali ke naungannya untuk bersembunyi, seperti pembunuh-pembunuh lain yang tak meninggalakn jejak sedikitpun. Tapi kali ini ada satu pesan yang ditinggalkan-nya.

Aku telah membunuh-nya. Dia telah pergi bersama dosa-nya. Ini bukan pembunuhan berantai. Ini pembasuhan dosa. Sinner-K

– o0o –

“Perhatian untuk seluruh anggota kepolisian Busan. Telah terjadi kasus pembunuhan di hutan lindung Busan bagian selatan. Korban ditemukan dalam pukul 15:00 KST. Seluruh personel forensik Team B, Agent tingkat 3 kasus pembunuhan, dan kepala Sersan diminta untuk segera ke TKP.”

Semuanya merapat. Mengumpul menjadi sebuah bundaran besar mengelilingi sebuah pohon oak tua yang kini berwarna hitam. Ada yang mencatat, membuat sketsa, sampai menjaga awak media agar tak memasuki daerah lingkup TKP. Terlihat seorang pria dengan mantel biru-nya memandang lekat setiap kalimat yang tertulis disebuah piringan hitam Frank Sinatra.

“Sinner-K.”

“Ada apa Agent Kim?. Kau menemukan sesuatu?.”

Kepalanya mencopa berputar. Mencoba mencari sesuatu yang terlewatkan di dalam otak-nya. Jongin selaku Agent Kim, kini mendangakkan kepalanya ke arah Sersan Smith yang berdiri di depan-nya yang menyeruput sekaleng soda. Lalu ia menggeleng dengan cepat. Pertanda belum ada sebuah dugaan kuat mengenai sang tersangka.

“Sersan Smith. Apa ada saksi mata yang melihat kasus ini?.”

“Tidak ada, di sekitar hutan tidak seorangpun yang tinggal. Penjaga hutan juga sedang pergi keluar kota untuk menjenguk mertua-nya. Sidik jari, DNA, ataupun barang bukti juga tidak ditemukan.”

Sersan Smith mencoba memberikan keterangan dengan mulutnya yang penuh dengan donat dan soda. Tapi Jongin belum mendapatkan apa-apa dari keterangan yang diberikan Sersan. Pria ber-mantel biru itu terus mengkaji dan mengkaji sebuah nama samaran yang digunakan sang pembunuh. Tapi nihil. Semu sia-sia. Ia tak menemukan apa-apa selain sarang laba-laba di dalam otak-nya.

“Lebih baik kita menunggu hasil laporan team forensik. Ayo kembali ke kantor, Sersan.”

Lalu keduanya kembali berjalan ke arah mobil silver di ujung hutan. Keduanya berjalan penuh rasa heran, ditambah keputus asaan seorang Anget Kim yang terlihat suram. Sesekali ia berdehem guna menghilangkan suara nya yang parau. Dan kedua pria itu mengendara penuh keheningan yang membadai. Kembali pulang, berharap akan menang.

Suasana malam kawasan busan kembali didatangi oleh tamu yang tak diundang. Awan gelap itu datang kembali menyelimuti langit biru cemerlang di atas tanah Busan. Lebih buruk lagi, sekumpulan awan itu membawa temannya datang. Yaitu bulir-bulir air yang sudah siap membasuh jalanan Busan yang penuh debu dan kotoran.

“Ini dia, laporan team forensik sudah matang. Selamat menikmati hidangan-mu, Agent Kim.”

Seorang pria dengan tubuh tinggi yang terbalut dengan blazer hitam itu memandang malas setumpuk kertas yang berisikan sebuah laporan. Tangan-nya bergerak meraih setumpuk kertas itu dan mencermati-nya. Kini Jongin benar-benar dibuat kalang kabut dengan sebuah kasus pembunuhan 2 hari yang lalu.

“Pola pembunuhan-nya sangat mengerikan. Di sini tertulis, si pelaku menjahit bibir korban disaat korbannya masih sadarkan diri. Bagaimana menurutmu Sersan?.”

Jongin terus menatapi lawan bicara-nya dengan wajah yang setia menunggu jawaban. Sedangkan Sersan Smith hanya terdiam tak ingin ambil pusing sembari membaca surat kabar.

“Yang jelas, pembunuh di kasus pohon oak sama seperti ke-5 kasus pembunuhan sebelumnya dalam satu bulan ini. Karena setiap kali barang korban ditemukan, selalu ada nama samaran itu. Tapi baru kali ini dia meninggalkan jasad korban-nya dengan lengkap.”

“Sersan, apakah nama samaran dan pesan-nya juga di tulis di piringan hitam Frank Sinatra?.”

“Ya, semuanya sama. Dia juga selalu membunuh korban di dalam hutan.”

Pria ber-kemeja hitam itu kembali menekuni isi laporan forensik. Sesekali ia membandingkan laporan forensik dengan laporan pola pembunuhan yang berserakan di meja kerja-nya. Hutan – Piringan hitam Frank Sinatra – Jahitan di bibir – Pohon Oak – Musim penghujan – Sinner-K. Sepertinya, Agent jagoan satu ini mendapatkan sesuatu.

‘Apa mungkin teman lama-ku?.’

– o0o –

Dahi-nya mengerut. Tangan-nya bergetar sembari menutupi kedua daun telinga-nya yang kedinginan. Sepasang mata milik krystal memerah memandangi makhluk di hadapan-nya. Makhluk itu terlihat lebih mengerikan dari yang sebelumnya. Banyak orang yang bilang ‘Setan itu menyeramkan. Tapi lebih menyeramkan saat mereka marah’.

“Kenapa, Krystal?!. Dia target terkahir-mu!. Cukup dia, dan dia akan menjadi korban ke-7. Aku menginginkan jiwa-nya!.”

“Tidak!. Dia tidak berdosa.”

“Memang. Tapi jiwa suci sangat cocok untuk korban penutup!. Kau bunuh dia, dan aku akan memberikan yang kau mau!. Sesuai dengan perjanjian.”

Keduanya memanas. Seakan sedang bertengkar di lapisan inti sel bumi. Keadaan sekitar sangat kacau karena ulah keduanya. Wanita yang tak menapakkan kaki itu murka. Badan-nya bergetar sejadi-jadinya. Bayangkan saja sebuah setan di film horror yang akan memakan manusia, mencabik-nya habis-habisan tanpa ampun.

Krystal tak pernah ketakutan separah ini. Yang ia takuti hanya cicak yang sering menempel di langit-langit rumah. Tapi ini sungguh beribu kali lebih mengerikan dibanding dengan sebuah cicak. Alice kini melayang lebih tinggi, siap menerkam dan membunuh krystal apabila tak mematuhi perkataan-nya. Sesuai perjanjian.

Darr-darr-darr

Suara tembakkan 3 kali terdengar. Peluru itu berhasil menembus kepala, bahu kanan dan kiri. Ada yang jatuh tumbang sekarang. Tapi darah-nya tak merembes ataupun menetes. Tubuh-nya sempat meronta, melawan takdir untuk tetap bertahan hidup. Namun gagal. Sampai wujud itu perlahan hilang dalam wujud serpihan debu. Alice sudah tamat.

Krystal lah pelakunya. Gadis itu masih mematung di sudut ruangan, tak bergerak atau pun bicara seperti patung garam. Perlahan, sebuah senapan jatuh dari kedua tangan-nya. Gadis itu masih terkejut, ia berhasil menamatkan riwayat monster haus darah itu. Inilah yang disebut usaha manusia melewati kemampuan-nya.

Tokk-tokk

Gadis itu melangkah kearah pintu. Tapi ia ragu, apakah orang itu akan membantu, atau akan mengadukan suara tembakan tadi kepada pihak yang berwajib. Dalam suasana seperti ini, krystal tak punya pilihan. Yang ia harapkan hanyalah bebas dari rungan ini dan pergi sejauh mungkin.

“Apa benar ini kediaman Jung Soojung?.”

“..Kim ..Jongin?.”

Pastilah pria di depan pintu itu adalah Agent Kim. Hanya pria itu yang sampai sekarang menyebut krystal dengan nama asli pemberian ibu-nya. Keduanya menatap wajah masing-masing. Menafsirkan arti dari jantung yang bekerja lebih cepat saat melihat wajah keduanya. Lalu sang gadis lebih dulu mendekap sang pira. Sebisa mungkin melepas rasa rindu.

Krystal tak menyangka akan seperti ini. Bertemu teman lama setelah kehilngan kabar selama 4 tahun. Yang dalam artian, tidak benar-benar teman. Mungkin beberapa langkah lebih maju dari sekedar teman. Lalu mereka melepas tautan. Jongin berpura-pura memeriksa handphone-nya. Yang sebenarnya, pria itu tengah mempersiapkan sebuah rekaman.

“Apa kau puas meninggalkanku 4 tahun tanpa kabar?.”

“Dengar Soojung-ah. Aku sangat merindukan-mu. Tapi aku kesini untuk memberikan berita penting untuk-mu. Tadi aku melihat di surat kabar, kau menjadi tersangka pembunuhan. Apa itu benar?. Apa makhluk yang kau ceritakan itu belum pergi juga?.”

Gadis itu terbelalak. Sepasang mata sayu-nya membulat nyaris mengeluarkan bola mata-nya. Krystal sungguh tak mengira akan mendapatkan kabar seperti ini. Sisi gelap-nya akan segera diketahui banyak manusia. Lalu ia menutup pintu rapat-rapat. Mengajak teman lama-nya untuk duduk dan mengajaknya bercerita.

“Mereka benar tentang pembunuhan itu. Aku yang sudah membunuh ke-6 korban di sini.”

“Apa?. Jangan bercanda, kita bukan anak SMA lagi.”

“Dengar Jongin-ah. Kau tau siapa aku. Kau tau bagaimana menderitanya aku. Aku memang pelakunya. Dan itu semua kulakukan demi hasrat membunuh-ku dan paksaan dari makhluk itu. Alice, aku sudah melenyapkan-nya.”

Jongin terbelalak sekarang juga. Dia sedang tidak berpura-pura. Kenyataannya memang seperti ini. Dugaan pria itu ternyata benar-benar mengenai sasaran-nya. Tapi ia tetap tak bisa menerima kenyataan bahwa gadis misty-nya telah bertindak sejauh ini. Ini terlihat terlalu mengerikan tapi tidak dilebih-lebihkan.

“Iblis itu menjanjikanku kebahagiaan seumur hidup, kalau aku mau memberinya 7 nyawa manusia berdosa. Aku sudah memberinya ke-6 nyawa. Dan yang terakhir… dia mengincarmu. Dia tau sebaik apa diri-mu, dan ia menginginkan jiwa suci sekarang. Kau tau aku bisa saja melakukannya demi kebahagiaan… tapi aku tak bisa melukai-mu.”

Pria dihadapannya masih tak bisa menerima kenyataan. Pendengaran-nya seperti menolak semua kalimat yang krystal ucapkan. Krystal memang seorng gadis psikopat yang gila dan sadis. Dan sifat-nya ternyata didukung oleh iblis yang memanfaatkan jasa-nya. Gadis itu bisa saja membunuh jongin sekarang, tapi batin-nya menolak perintah tersebut.

Sepasang mata jongin memandang lekat gadis yang tak pernah pindah rumah itu. Segala pertimbangan kini menyesakkan fikiran-nya. Apa yang harus dilakukan-nya saat ini?. Menjadi seorang polisi atau seorang teman yang lebih dari sekedar teman?. Bahkan krystal tak tahu bahwa jongin adalah seorang polisi.

“Aku tahu posisi-mu…”

Perlahan, jongin menggerakkan tangan kanan-nya untuk merogoh saku celana-nya. Direngkuhnya sebuah handphone dengan aplikasi perekam suara yang tadi diaktifkan. Tangan yang satunya merogoh saku kemeja-nya. Ia merogoh dan mengambil sebuah benda mengilap yang disebut lencana. Kemudia dengan berat hati, pria itu menyebutkan keputusan-nya.

“…Tapi aku harus tetap menahan-mu, nona.”

“Apa?. Keparat!. Sejak kapan kau menjadi seorang polisi?.”

Jongin mengeluarkan borgol-ya. Pria itu hendak meraih tangan krystal, tapi ternyata gadis itu lebih dulu menarik tubuh-nya sendiri.

“Bagaimana kau merencanakan ini?. Ternyata kau sedang menginterogasi kan?. Dan bagaimana kau bisa tau aku pelakunya?.”

“Aku tau kau punya selusin kaset Frank Sinatra, dan di Busan tidak mungkin ada lagi yang menjual-nya. Dulu kau juga bilang, bahwa kau akan menjahit bibir orang-orang yang pendusta, aku tau itu gurauan, tapi ternyata sekarang benar-benar terjadi. Dan kau pernah bilang kalu kau paling senang pergi ke hutan saat musim hujan. Karena kau bisa melihat phon oak kesukaan-mu tumbuh besar. Yang terakhir, Sinner-K. S dan K untuk soojung krystal, sedangkan sinner, kau benci para pendosa.”

Krystal tak percaya semua ini. Teman lama-nya kini seorang pendusta. Atau justru dirinya lah seorang pendusta?. Kenyataan memang tak pernah serasi dengan yang kita harapkan. Kini gadis itu malah mengumpat tertahan, menyesali pilihan-nya. Lebih baik, gadis itu mengikuti permintaan Alice. Dari pada berakhir di tahanan. Lebih baik gadis itu membunuh Jongin.

“Maafkan aku soojung-ah. Tapi aku harus tetap menegakkan hukum. Karena, aku sayang padamu. Aku tak mau sifat psikopat-mu itu membahayakan diri-mu sendiri.”

Gadis itu terus berjalan mundur. Sesekali, wajahnya menengok kebelakang, seperti mencari sesuatu. Dari kejauhan, gadis itu dapat melihat sesuatu yang mengilau diatas buffet cokelat susu itu. Itu benda yang dicari. Benda yang terasa dingin, bila disentuh.

Dan tajam.

– o0o –

“Apa yang terjadi dengan tersangka?.”

“Gadis itu ditemukan tewas di kediaman-nya.”

“Benarkah?. Lalu Agent Kim?.”

“Jongin ingin menyelamatkan krystal yang berusaha bunuh diri. Tapi nasib sial menimpa-nya. Pisau itu justru menancap tepat dijantung-nya. Dan setelah itu, krystal tetap melanjutkan usaha bunuh diri-nya.”

Sebuah pemakaman penuh tangis terasa begitu hikmat. Seluruh personel kepolisian Busan menggelar upacara pemakaman untuk salah satu anggota-nya yang gagah dan berjasa. Ada sanak keluarga, dan juga kerabat disana. Semuanya menumpahkan tangisan terdalam-nya. Memberikan rasa peduli-nya kepada seorang Kim Jongin.

Sedangkan pemakaman di seberang sana, tak ada satupun yang menghadirinya. Makam itu sangat dingin, tanpa ada lingkaran manusia yang menghangatkan. Itu makam krystal. Makamnya sangat indah, tapi sayang tak ada kiriman do’a yang menghiasi-nya. Gadis itu akan tetap sendiri. Rapuh, seperti mawar merah yang layu.

Tapi mungkin kau tak tau keajaiban apa yang terjadi dialam sana. Dimana krystal dan jongin mungkin bahagia. Dan krystal mendapatkan kebahagiaan sejatinya. Mungkini ini akhir dari seorang pembunuh.

Psikopat kejam yang telah menutup riwayat-nya.

5 thoughts on “[Oneshoot] Horrible

  1. Kasihan krystal-nya disini (T-T). ngeri ah, masa sebegitu marahnya sampe ngebunuh orang? Sadis. Aku suka kata-katanya. Gimana… gitu. Sumpah, baru kali ini aku sefokus ini pas baca ff. Sampe meringis-meringis sendiri lagi bayanginya. Aku nge-feel banget.

  2. Bacanya aja udah menguji adrenalin! Apalagi yang nulis yaaa? kkk~
    Bikin dugeun-dugeun eothokae-_-
    Killernya kental banget. Sekental bayangan darah Manager Jang! Iuhh…Omg! Jadi emang Krystal udah di kenal sebagai gadis psicopat? Dan tamatlah mereka dengan ‘Teman’ sejatinya🙂

    KEREEENNN

  3. Ff nya keren, kak ^^
    feel Thriller nya dapet bangettt, baru kali ini baca Oneshot sampe fokus :’v

    Btw, kak. Ini Oneshot nya boleh aku publish lagi, gak? Nanti bakal aku kasih keterangan nya kok siapa yang buat Oneshot nya🙂

    Makasih sebelumnya~😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s