The Pulchra Bridge [Chapter 3]

img_2218

a fanfic by bubblecoffee97

Awesome poster by AXyrus

Main Cast :

Lee Aeri || Oh Sehun || Luhan and find by yourself

Genre : Fantasy & Romance || Rated T || Length : Chaptered

Summary :

Hidup seorang Aeri layaknya berada dalam neraka. Ia tak pernah berpikir bahwa kehidupannya akan berubah begitu ia melewati sebuah jembatan sulur. Jembatan Pulchra.

Disclaimer :

Cast seutuhnya milik Tuhan YME. Kesuluruhan cerita murni merupakan hasil imajinasi absurd seorang rookie author yang masih perlu banyak belajar. Juga fanfic ini di-publish di beberapa blog lain. For Plagiarist, just go away and be proud of yours.

Previous : Prolog || Chapter 1 || Chapter 2

 

▬ ▬ ▬ ▬ ▬

 

Omorfi di masa lalu bukanlah satu kerajaan. Hanya sebuah daerah luas dengan dua pondok besar yang dihuni dua golongan yang berbeda pula. Mereka adalah Neraida dan Mediocris. Dua perbedaan dengan kekuatan yang tak dapat diremehkan, pun tak dapat disatukan. Mereka layaknya api dan air yang tak ‘kan bisa melebur menjadi kesatuan.

Mediocris, sang kekuatan putih. Neraida, sang kekuatan hitam. Ada di dunia untuk saling menyeimbangkan meski tak untuk bersama. Keduanya mudah dikenali cukup dengan melihat warna rambut mereka. Diantara para Fata yang bersurai bak pelangi, seorang Mediocris mampu memancarkan ketenangan dengan pirang-nya sedang seorang Neraida mampu membawa semangat dengan hitam-nya.

Chanyeol menutup buku tebal di atas meja perpustakaan Das Schloss. Buku yang terbuat dari kulit kayu dengan khas bau buku usang, ia dapatkan dari deretan sejarah Omorfi. Masih ada banyak informasi yang perlu ia gali dari buku tersebut demi memenuhi perintah sang Vasilias. Namun Chanyeol bukanlah seseorang yang bersenang hati duduk berlama-lama dan berkutat dengan buku.

Menurutnya akan lebih baik jika Sehun yang melakukan hal semacam ini. Terlebih Sehun yang merupakan keturunan Feya tentu mengetahui banyak tentang Omorfi dibanding dirinya yang hanya seorang Fata. Fata yang beruntung mendapat kepercayaan seorang Prionsa di Das Schloss.

Ia teringat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Sehun. Itu terjadi dua belas tahun yang lalu dimana Chanyeol kecil yang yatim piatu dan tinggal bersama neneknya bertemu dengan Sehun yang tersesat di sekitar hutan dekat rumahnya. Andai saat itu ia tak menolong Sehun dan mengantarnya kembali ke Das Schloss, mungkin sekarang ia tak ‘kan berada di posisi ini dan dipercaya mengemban tugas sebagai pengawal pribadi.

Dan itu adalah berkat sang nenek yang selalu mengajarkan kebajikan pada cucu tunggalnya. Ujung bibir Chanyeol tertarik ke atas mengingat bagaimana senangnya sang nenek sewaktu mereka dijemput pihak kerajaan untuk tinggal di Das Schloss sebagai balasan apa yang ia perbuat. Percayalah, neneknya adalah nenek ter-aktif yang pernah ada. Meski usianya telah renta, dari mentari terbit hingga tenggelam selalu ada yang dilakukan olehnya. Berkebun, merajut, hingga memasak pun dilakoninya. Sampai tak ada pelayan di Das Schloss yang tak mengenalnya dan juga menyukainya karena semangat yang ia punya. Sedang Chanyeol kerepotan mengawasi sang nenek agar tak mencelakakan dirinya sendiri.

Namun tak berlangsung lama, sebab lima tahun setelahnya, datang hari terburuk dalam hidupnya, hari dimana nenek Park pergi meninggalkan Chanyeol untuk selamanya. Ia tak tahu bagaimana harus melanjutkan hidup jika tak ada Miyoon, orang pertama yang menghiburnya. Memberi Chanyeol kekuatan agar menyadari bahwa ia tak sendiri di dunia yang luas ini. Semenjak hari itu lah ia menetapkan hatinya untuk si gadis bersurai merah muda. Dan yakin bahwa Nam Miyoon memang ditakdirkan untuknya.

“Ah, aku harus lanjut membaca. Kalau tidak, Vasilias bisa menguburku hidup-hidup,” Chanyeol bermonolog dramatis setelah lamunannya terhenti.

 

*****

 

“Jadi ibumu sudah…”

“Ya, dia telah tiada.”

“Maaf, Miyoon. Aku tak bermaksud mengingatkanmu,” sesal Aeri. Saat tiba di sebuah ruang yang bisa dibilang luas, keduanya segera menata barang-barang milik mereka lalu duduk berhadapan di kursi dekat jendela dengan meja bundar sebagai pembantas. Pembicaraan mereka awalnya hanya sekedar membahas bunga-bunga di halaman belakang Das Schloss —yang kata Miyoon adalah nama istana. Hingga entah bagaimana bisa berlanjut mengenai keluarga Miyoon. Tipikal perempuan.

Aeri sedikit menyesal karena tanpa sadar mengungkit kejadian yang paling tak ingin diingat kawan barunya. Dua tahun lalu, ibu keluarga Nam menghembuskan nafas terakhir sebab sebuah penyakit. Sosok yang dimata Miyoon serta ayah dan kakaknya adalah wanita berhati lembut yang begitu menyayangi keluarga.

“Tak apa, Aeri. Aku justru senang bisa berbagi cerita denganmu.”

Itu bukan sekedar basa-basi belaka. Miyoon sungguh senang dengan kehadiran gadis bersurai kelam itu. Semanjak sang ibu tiada, hanya Chanyeol, Sehun dan Luhan yang setia menghiburnya dengan cara mereka sendiri. Ayahnya yang seorang penasehat Vasilias selalu disibukkan dengan urusan kerajaan. Kakaknya, Nam Jirin, juga sibuk sebagai kepala pelayan baru di Das Schloss. Tak ada waktu untuk dirinya. Namun Miyoon mengerti kesibukan keluarganya, lagi pula ia punya tiga teman laki-laki yang selalu siap melindungi.

Tapi tetap saja teman lelaki dan perempuan itu berbeda. Miyoon bisa merasakannya. Ketiganya memang teman baik yang mampu membuat senyum Miyoon tercipta tapi tidak benar-binar bisa memahami apa yang ia rasakan. Berbeda ketika ia bercerita pada Aeri. Mungkin karena mereka sesama perempuan hingga Miyoon merasa lebih nyaman bercerita pada Aeri.

“Lalu bagaimana dengan keluargamu?”

Lain Miyoon, lain pula Aeri. Menceritakan bagaimana keluarganya sekarang ini bagi Aeri bukanlah hal mudah seperti menuangkan air ke dalam gelas. Ada banyak kenangan yang ia ingat tapi tak ingin ia bicarakan. Memori satu tahun sebelumnya terasa begitu berat ‘tuk sampai di ujung lidah.

“Entahlah, Miyoon. Aku tidak yakin.” Aeri kembali mengalihkan pandangannya pada taman berbunga diluar. Miyoon bisa melihat tatapan Aeri mengosong. Ia menjadi yakin apa yang Aeri alami tentu tak mudah hingga gadis itu tak sanggup membicarakannya.

Gadis bermarga Nam menggenggam lengan Aeri diatas meja, “Ceritakan padaku jika kau sudah siap.” Gadis satunya tersenyum dan mengganggukan kepalanya, “Tentu.” Miyoon percaya akan ada saat dimana Aeri mampu meluapkan sesuatu yang dipendamnya saat ini.

“Oh, lihat! Itu kakakku bersama Prionsa, kau mau bertemu dengan mereka?” tanya Miyoon tiba-tiba begitu ia melihat dua orang yang disebutnya tengah berjalan santai di halaman belakang. Aeri menatap kedua orang tersebut sebentar sebelum menjawab, “Ya, aku mau.”

 

*****

 

Orang bilang biasanya adik dan kakak memiliki wajah serta sifat yang tak jauh berbeda. Akan ada banyak kemiripan yang dimiliki keduanya. Seperti pada diri Nam Jirin dan Nam Miyoon yang punya banyak kesamaan baik dari fisik maupun sikap. Wajah mereka begitu mirip sampai Aeri sedikit terkejut ketika melihat mereka bersamaan. Jika bukan karena warna surai mereka yang berbeda, ia tak yakin dapat membedakan. Miyoon dengan merah mudanya dan Jirin dengan lavender-nya. Sikap mereka pun begitu ramah dan lembut, hanya saja Jirin terlihat lebih anggun dan Miyoon lebih ceria.

Hal serupa tak berlaku bagi kakak-adik bersaudara yang lain. Ya, Aeri menemukan perbedaan itu pada Luhan, prionsa yang Miyoon maksud, dan Sehun. Kata Miyoon, Luhan dan Sehun adalah kakak beradik. Tapi entah mengapa Aeri merasa keduanya begitu berbeda. Mungkin wajah keduanya memang mirip tapi dengan gurat yang berbeda. Luhan tampak sangat ramah dan bersahabat, berbanding terbalik dengan Sehun yang sikapnya begitu dingin pada Aeri.

“Banyak yang mengatakan seperti itu. Tapi, percayalah Sehun sebenarnya pun baik,” sahut Luhan menanggapi komentar Aeri. Itu bukan pertama kali Luhan mendengar pendapat serupa mengenai dirinya dan Sehun tapi ia biasanya hanya tersenyum maklum.

“Miyoon juga berkata begitu, mungkin aku akan mempercayainya,” ujar Aeri. Kini dirinya ditemani Luhan sedang berjalan menelusuri halaman belakang yang luas karena tadi tiba-tiba saja Miyoon bilang ada sesuatu yang penting lalu menitipkannya pada Luhan sedang ia pergi entah kemana bersama Jirin. Aeri merasa lucu karena dirinya seperti barang yang dititipkan. Tak mengapa, mengingat orang yang bersamanya kini bukanlah sosok seperti Sehun yang akan mengacuhkannya begitu saja.

“Seperti aku yang mempercayaimu.”

Langkah Aeri terhenti mendengar kalimat Luhan, “A-Apa maksudmu?”

Tak elak Luhan pun menghentikan langkahnya kemudian menatap balas Aeri. Ia sempat mengernyit melihat reaksi Aeri tapi segera berganti menjadi senyum, “Aku mempercayaimu karena ku pikir kau adalah gadis yang baik dan bisa dipercaya. Miyoon, Chanyeol, bahkan Sehun membawamu ke sini bukan? Itu artinya mereka pun mempercayaimu.”

Aeri mengangguk mengerti, ia ingin menertawakan dirinya yang sempat salah paham namun ia juga tak bisa disalahkan karena baginya kalimat Luhan tadi cukup ambigu, “Tapi kalimatmu tadi ‘menakutkan’.”

“Benarkah? Kalau begitu, maaf karena telah menakutimu,” ujar Luhan seraya terkekeh yang kemudian diikuti Aeri. Keduanya kembali berjalan seraya berbincang ringan. Bahkan Luhan menjelaskan istilah-istilah —aneh ditelinga Aeri— yang tidak Miyoon jelaskan padanya. Seperti ‘vasilias’ yang Luhan bilang adalah sebutan bagi pemimpin kerajaan Omorfi. Sedangkan ‘prionsa’ ialah sebutan untuk putra vasilias.

“Jadi, kau dan Sehun adalah anak raja? Whoaa.. Aku tidak tahu itu, seharusnya aku harus bersikap lebih baik pada kalian.” Aeri mengutuk Miyoon yang tak memberitahukan perihal tersebut padanya. Membiarkan dirinya bersikap seolah mereka orang biasa. Ia jadi merasa tidak sopan.

“Kalau begitu seharusnya aku tak memberi tahukanmu saja.” Luhan menghela nafas.

“Memangnya kenapa?”

“Kalau kau tidak tahu, kau tetap akan bersikap biasa saja padaku, kan? Itu lebih baik bagiku.”

“Ah, maksudmu kau ingin aku tetap menganggapmu sama? Baiklah, jika itu kemauanmu.” Aeri tersenyum maklum. Ia tahu pasti tak menyenangkan jika orang disekitarmu bersikap formal dan pada akhirnya menjadi canggung hanya karena sebuah ‘label’ anggota kerajaan. Sewaktu berkenalan saja, Luhan memintanya untuk tak memanggil ‘oppa’ karena ia ingin dianggap semuruan. Aneh memang, tapi selama itu dapat membuat orang lain nyaman ketika bersamanya, Aeri akan mengikutinya.

“Lalu bagaimana soal kerajaan ini? Sejujurnya aku masih belum tahu apapun selain yang kau beri tahu tadi,” lanjut Aeri. Tanpa perlu gadis itu jelaskan pun Luhan sudah mengerti apa yang sedang terjadi, “Aku akan memberi tahumu tapi tidak sekarang,” ia kembali menghentikan langkahnya, “kalau kau mau, besok di Krasivyy Garden. Bagaimana?”

Aeri turut berhenti dan tersenyum senang mendengar ‘Krasivyy Garden’. “Miyoon pernah bercerita tentang kebun itu padaku. Tentu aku mau!” seru si gadis bermarga Lee.

Sang prionsa mengacak surai gadis yang membuatnya gemas dengan semangatnya itu. Ia lalu mengajak Aeri untuk kembali berkeliling melihat-lihat halaman belakang bangunan terkuat di Omorfi.

 

*****

 

“Bagaimana bisa kalian membawanya ke sini?! Pasti kau tahu kan tanda apa yang ada di dirinya?”

“Aku tahu dan justru karena itu dia ada di sini. Akan sangat berbahaya baginya dan kita sendiri kalau aku meninggalkannya di sana. Bagaimana kalau kaum Neraida atau Mediocris yang menemukan dia?” Miyoon menyampaikan argumennya tak kalah sengit dari sang kakak. Jirin memijat kening, pusing memikirkan apa yang adik serta prionsa dan pengawalnya lakukan. Membawa orang asing ke dalam pertahanan bukanlah ide yang bagus baginya.

“Tapi tetap saja cepat atau lambat, keberadaannya pasti akan diketahui mereka.”

Miyoon pun tahu tentang hal itu. Ia bisa merasakannya pada waktu pertama kali bertemu dengan Aeri, gadis yang diselamatkan tunangannya dan Sehun. Siapapun yang tinggal di Das Schloss tentu dapat mengenali aura Aeri. Bahkan para Fata di luar sana pasti mampu mengetahuinya hanya dengan melihat warna rambut. Itu sebabnya mengapa kemarin Aeri selama perjalanan ia diharuskan mengenakan jubah agar tak ada yang melihat surainya.

Meski Sehun dan Chanyeol tak memberi tahukannya apapun mengenai gadis itu. Miyoon cukup pintar untuk tahu bahwa keduanya tentu tahu lebih banyak tentang Aeri daripada dirinya. Terlebih Sehun yang jelas keturunan Feya.

Eonnie, jika kau memang mengkhawatirkan keselamatan Omorfi. Tolong tenanglah dan yakin kalau Vasilias akan menemukan cara yang tepat untuk mencegah kejadian dahulu terulang lagi.”

Dengan kalimat tersebut, Miyoon berlalu meninggalkan Jirin dalam keterdiamannya.

 

*****

 

“Mungkin kau butuh ini.”

“Huh?” Chanyeol menatap heran sebuah buku yang diletakkan Sehun di atas mejanya.

“Itu catatan tentang peperangan seribu tahun lalu.” Sehun duduk di sebrang Chanyeol seraya menunjuk buku pemberiannya dengan dagu. Tak sulit bagi seorang prionsa sepertinya untuk mencari sumber mengenai sejarah kerajaan Omorfi. Mengingat ia pun mempelajarinya di sekolah kerajaan dulu.

Namun bukan itu yang membuat Chanyeol terkejut. Yang membuatnya tak menyangka ialah mengapa Sehun mau membantu padahal Chanyeol sendiri tak meminta bantuannya. Sebab setahu Chanyeol, Sehun bukanlah tipe yang senang berurusan dengan hal semacam ini. Apalagi ini berhubungan dengan orang asing yang sepertinya tak Sehun sukai.

“Ng, tapi, kenapa?”

“Jangan banyak tanya, kerjakan saja.”

Terkadang ada kalanya Chanyeol ingin melahap Sehun hidup-hidup saking kesalnya. Kalau saja ia tidak ingat bagaimana posisinya bagi lelaki itu. Sikap tak peduli namun peduli Sehun acap kali tak dihabis pikirkan oleh Chanyeol atau mungkin orang lain disekitarnya.

Tiap kali si lelaki bertelinga lebar mencoba menelaah lebih dalam maksud sikap yang lebih muda, pada akhirnya ia akan lebih memilih membaca buku pemberian Sehun dan tak mempedulikan Sehun yang sepertinya sedang sibuk memandangi jendela. Atau lebih tepatnya menatap tajam sepasang mahluk yang tengah berjalan santai di halaman belakang Das Schloss.

Mentari terbit setelah malam menjelang. Seperti perperangan sebelum tercipta perdamaian. Kekuatan tak lain sebuah anugerah yang semestinya tuk saling melindungi. Bukan memamerkan yang terkuat. Bukan melukai. Namun keserakahan kerap menggerogoti hati yang menimbulkan konflik, meneteskan darah, dan mengobarkan nyawa.

Perebutan kekuasaan oleh dua terkuat tak lain hanya sebuah keserakahan tersebut. Tanpa memikirkan kebahagiaan sesungguhnya yang dilandasi ketenangan hati dan kejernihan pikiran.

Dux kaum Neraida serta Dux kaum Mediocris. Merekalah keserakahan. Pemulai peperangan di tengah tanah yang damai.

 

To be continued…

 

Note :

Kalau di chap sebelumnya, yang bercetak miring itu potongan masa lalu salah satu cast, di chap ini itu potongan tulisan yang Chanyeol baca di buku. Sedikit-sedikit udah aku jelasinkan istilah-istilahnya kan? Semoga bisa dimengerti, hehe.

Aku mau berterimakasih banget untuk yang setia nunggu dan komen di ff ku yang ngga seberapa ini. Kalau ada typo atau kesalahan lainnya tolong kasih tahu aku ya supaya kedepannya bisa aku perbaiki. Sekali lagi, terimakasih buat yang udah menyempatkan baca dan meninggalkan jejak ♥♥♥

See you on next chapter~ Thankseu! ♥

16 thoughts on “The Pulchra Bridge [Chapter 3]

  1. Kereeennn ^^
    kelamaan ngepostnya jadi agak lupa deh ..
    Tp gak apa” selama itu tetep dilanjut hehee
    semangat authoorr ^^
    keep writting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s