BULLETS UND SCHILDE (Chapter 4)

PicsArt_1443416825024

BULLETS UND SCHILDECHAPTER 4

Author                  : PutriKim

Genre                   : Action, drama, romance

Lenghth               : Chaptered

Rating                   : PG-16

Main cast             : Thalia lee, Kai

 

 

 

 

 

Previev chapter 3

 

“ku bilang jangan ikut misi hari ini!” bentak Kai dengan wajah yang di penuhi kemarahan.

“apa kau gila? Ini pekerjaanku! Aku harus melakukannya! Dan aku mencintai pekerjaanku ini! Dan stop ! jangan sok peduli akan diriku!”

 

“aku tidak sok peduli! Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu bodoh!”

 

“kenapa kau menghawatirkanku? Lebih baik kau menghawatirkan Soyu, bukankah dia ikut dalam misi ini?” Tanya Thalia dengan sedikit nada sindiran di perkataannya.

 

“jangan bawa orang lain dalam percakapan kita!” benatak Kai.

 

“lalu kenapa kau menghawatirkanku?!” tanya Thalia ketus.

 

“kk—ka—karna aku menyukaimu!” jawab Kai sedikit tergagap, sementara Thalia mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Kai dengan mata yang membelalak.

 

“persetan!” Thalia langsung mendorong tubuh Kai. Dan langsung meninggalkan aparteman milik Kai. Sementara Kai menjambak rambutnya kasar, dan langsung berjalan mengambil kunci mobilnya yang ada di nakas samping tempat tidur.

 

 

chapter 3

 

        Mr. Dave sedang mempersiapkan barang-barang yang akan di gunakan di misi hari ke dua, semua hal yang berkaitan dengan komunikasi tim Saver sedang di persiapkannya, di bantu Soyu yang saat ini sedang mengecek kekuatan sinyal yang akan di gunakan untuk berkamunikasi nantinya.

 

“Mr. Dave!” Kai membuka pintu dengan kasar, Mr. Dave dan Soyu yang ada di dalam ruanganpun menatap Kai dengan wajah yang tidak bisa di artikan, sementara itu Kai langsung menghampiri Mr. Dave.

 

“tolong jangan izinkan Thalia ikut misi hari ini!” Kata Kai langsung, Soyu yag mendengar perkataan Kai langsung menatap Kai dengan wajah dinginnya. Terlihat jelas bahwa Soyu memendam perasaan marah di guratan wajahnya.

 

“Thalia tim inti! Kau tahu itu!”

 

“tidak! Demi kesehatannya! Dia kemarin aku temukan tergeletak di depan toilet gedung pameran!”

 

“kau tahu Thalia tidak selemah itu! Kalau kau menginginkan Thalia hari ini ku liburkan, kau yang menggantikannya di midi hari ini!” Mr. Dave meatap Kai dingin, sementara itu Kai menjambak rambutnya gusar.

 

“aku tidak bisa! Lukaku masih belum memungkinkan!”

 

“kalau begitu tidak ada pilihan lain! Lagi pula Thalia tadi sudah menemuiku! Dan dia sehat!” Kai langsung berlalu meninggalkan ruangan yang Mr. Dave dan Soyu tempati. Langkah kakinya terlihat gusar dan lemah, tujuannya kali ini adalah tempat pameran, Kai yakin Thalia dan anggota Saver yang bertugas hari ini sudah bersiap di tempat pameran.

 

Kai memarkirkan mobilnya di depan gedung pameran dengan sembarang, langkahnya yang setengah berlari langsung menuju bagian dalam gedung, saat Kai akan memasuki rungan inti gedung tempat pameran di adakan, langkahnya di hadang oleh dua orang keamanan dari kepolisian yang berseragam lengkap.

 

“bisa anda tunjukkan tanda pengenal anda?” tanya seorang pengawal.

 

“aku hanya ingin menemui seseorang!” jawab Kai singkat.

 

“tapi anda harus menunjukkan tanda pengenal anda! Pameran pagi ini di kuhususkan untuk para pejabat negara! Orang asing tanpa undangan dan tanda pengenal yang jelas di larang masuk!”

 

“bangsat! Aku anggota Saver!” emosi Kai meledak, dua orang pengawal yang menghadangnya langsung di bantingnya dalam sekali gerakan, Kai merasakan perih menjalar di punggungnya, di lihatnya kaos berwarna abu-abu yang dipakainya sudah di basahi dengan darah di bagian punggung atasnya.

 

Thalia yang melihat kejadian Kai membanting dua pengawal langsung berlari menghampiri Kai dan dua pengawal yang sudah tergeltak di lantai. Thalia memandang Kai dengan tatapan dingin yang tidak bisa di artikan, di bantunya berdiri dua orang pengawal yang mesih tergeletak di lantai, dan dipanggilnya pengawal lain agar membantu pengawal yang terluka gara-gara ulah Kai untuk di bawa ke ruang pengobatan.

 

Setelah ada pengawal yang menggantkan dua pengawal yang terluka untuk berjaga di pintu depan Thalia langsung menarik lengan Kai kasar. Keduanya berhenti di taman di samping gedung pameran, Thalia yang sudah menahan emosinya karena melihat ulah Kai akhirnya meluapkan emosinya dengan memberikan tamparan keras di pipi kanan Kai. Sementara itu Kai yang merasakan perih di wajah sebelah kanannya tidak memberikan perlawanan sedikitpun. Matanya masih menatap Thalia sendu.

 

“kau gila! Apa yang baru saja kau lakukan benar-benar bodoh!” Thalia berteriak di depan Kai dengan wajah cantiknya yang diselimuti emosi yang terlihat jelas begitu meluap-luap.

 

“aku hanya ingin kau mendengarkanku!” Kai bergumam, darah yang mengalir di punggungnya memperlebar noda darah di punggung kaosnya, Kai sama sekali tak menghiraukan lukanya yang semakin mengeluarkan banyak darah.

 

“you don’t know me! This is my work!” emosi saat ini jelas-jelas menguasai Thalia, Thalia mencengkram jari-jarinya sekuat tenaganya, berharap emosinya bisa tersalurkan.

 

“i just want you to be safe!”

 

“no! Shut up! I’m healthy now!”

 

“apa semuanya belum jelas?! Kau bodoh! Apa kau ingin tergeletak lagi di gedung ini? Kau mencintai pekerjaanmu, tapi bahkan kau tidak mencintai tubuhmu! Kau bodoh! I’m here now, just want you to be totally safe and healthy, i’m here as your friends that care of you! Do you want your self killed like myungsoo? Our work is dangerous and difficult, we need best spirit to work as a guard! You must think about that Thal!” kata-kata Kai berdengung keras di telinga Thalia, Myungsoo, lagi-lagi Kai membawa Myungso ke dalam pembicaraan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Myungsoo. Thalia tertunduk lemas, sebagian wajahnya tertutup poni rambutnya yang sudah memanjang. Thalia terdiam, ada sedikit rasa sakit yang terasa di saat Kai selalu megaitkan Myungsoo, air mata Thalia jatuh menetes tepat di ujung seatu boots yang di pakainya. Dan sedetik kemudian Thalia menghujamkan pukulan keras ke arah wajah Kai, tepat mengenai tulang pipi kiri Kai, dan membuat darah sedikit keluar dari ujung bibir Kai.

 

“you’re such a bastard! Never act like you know me! I’m more stronger than what you think! Never talk about Myungsoo again! You hurt me! You just son of bitch!” Thalia berteriak tepat di di depan wajah Kai, air mata yang mengelir semakin deras di wajahnya membuat beberapa helaian rambut menempel di wajahnya.

 

Kai masih diam di posisi berdirinya, masih terus menatap Thaliaa yang tangisannya semakin menjadi, melihat punggung Thalia yang bergetar, Kai menarik Thalia ke dalam pelukannya, di rasakannya Thalia memukul pelan dadanya, menolak pelukan yang di berikannya, namun Kai terus mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepala Thalia di lekukan lehernya.

 

“i’m sorry if i hurt you! I’m really sorry! I know i’m a bastard, I… I.. I can’t control my self to not care to you, i’m just afraid you got injured, i’m afraid you feel pain, i’m afraid someone hurting you! But now that make you feel hurt is me! I’m sorry! Please forgive me!” Kai berkata pelan, merasakan Thalia semakin membenamkan wajahnya di antara leher Kai, berusaha menyembunyikan isakan yang keluar dari mulutnya.

 

Thalia menangis semakin menjadi mendengar apa yang Kai katakan, Kai mungkin benar, sebagai teman yang baik wajar bila Kai peduli, tapi Thalia hanya menginginkan Kai tidak bertindak seceroboh ini, melukai pengawal lain dai kepolisian bukankah itu hal bodoh yang sangat memalukan?

 

Lama di posisi Kai masih memeluk Thalia, tanpa ada pelukan balasan yang di berikan Thalia, Kai sedikit demi sedikit mengendurkan pelukannya, masih di rasaknnya Thalia terus membenamkan wajahnya di lehernya, tapi Kai melepaskan pelukannya dan berusaha mendorong pelan tubuh Thalia, namun Thalia memeluk Kai erat, meremas kaos yang Kai kenakan, dan kembali membenamkan wajahnya, kali ini di pundak Kai.

 

“tolong sebentar saja! Seperti ini!” Thalia bergumam pelan, mengeratkan pelukannya.

 

“mm.. mmaa.. mmaafkan aku, aku terlalu kasar! Maafkan aku memukulmu! Dan terimakasih sudah peduli denganku! aku hanya, hanya, kau tahu? Setiap semua orang megatakan nama Myungsoo di depanku, aku merasa semuanya menyalahkanku tentang kematiannya, dan ini sakit! Semuanya terasa sangat sulit bagiku, aku tidak ada niat sedikitpun untuk membunuhnya, bahkan aku mencintainya! Tapi rasa cintaku seakan mencoba membunuhku pelan-pelan, aku tidak bisa terus seperti ini. Aku ingin melupakan Myungsoo! Aku sekarang hanya ingin melakukan misi ini, aku berjanji aku tidak akan terluka! Kau bisa percaya padaku!” Kai terhenyak mendengar semua perkataan Thalia, di balik sosoknya yang terlihat seperti gadis keras, Kai menyadari seberapa besar dampak kematian Myungsoo di kehidupan Thalia, Kai juga sadar sudah berapa kali dirinya melukai Thalia dengan terus mengaitkan Myungsoo di setiap percakapan mereka.

 

Thalia mengeratkan pelukanya di tubuh Kai, Thalia bisa merasakan deruan nafas Kai yang sangat tenang. Thalia masih terus diam dan mencoba menenangkan dirinya, air matanya mulai mengering seiring semakin erat pelukannya dipingggang Kai, sementara itu, Kai masih diam dan tenggelam dalam fikirannya sendiri. Sampai akhirnya Thalia menepuk punggung Kai dan merasakan basah di telapak tangannya, Thalia melihat telapak tangannya dan terkejut melihat darah sudah melumuri telapak tangannya.

 

“Ka.. Kai! You’re bleeding!”

 

“yes I’m!” jawab Kai pelan, namun masih cukup jelas di telinga Thalia.

 

“let’s go to clinic now! You need to stop your bleeding! Its hurting your body! ” Thalia melepaskan pelukannya dan menarik lengan Kai pelan, namun Kai menarik Thalia agar kembali masuk ke dalam pelukannya.

 

“just hug me! I’m not feeling pain in my body! Just hug me!”

 

Thalia terdiam, bingung adalah apa yang dirasakannya saat ini. Dadanya mulai bergemuruh, sementara itu rasa khawatirnya semakin membuat fikirannya kacau. Kai, ya.. hanya Kai yang ada di fikirannya saat ini, luka yang Kai alami, darah yang melumuri tangannya, membuat Thalia semakin merasa sakit.

 

“I think it’s enough! Thanks!” Kai melepaskan pelukannya dan menatap Thalia dalam, berusaha membaca raut kebingungan di bola mata hazel Thalia.

 

“promise me you won’t feeling pain!” Kai berkata sambil merapikan helaian poni Thalia yag menutupi sebagian wajanya.

 

“I promise!”

 

“thanks! I will go!” Kai memeluk Thalia sekali lagi, dan berbalik meniniggalkan Thalia yang masih berdiri tenang.

 

“kai! Cepat obati lukamu!” Thalia setengah berteriak, senyuman merekah di wajah cantiknya.

 

“i can handle it!” jawab Kai, senyuman juga menghiasi wajahnya, namun dalam sekejap di ganti dengan tampang wajah dinginnya dan matanya yang kosong.

 

“Kai! Don’t feel hurt anymore!” teriakan Thalia sampai di teinga Kai namun Kai tak membalas dengan sepatah katapun. Memasuki mobilnya dan melaju membelah padatnya jalanan kota.

 

 

‘I don’t care if my body full of pain! I’m just afraid someday I’ll hurting you! The one that I love!’

 

 

-BULLETS UND SCHILDE-

 

       Waktu sudah menunjukkan pukul 13.25, kunjungan pameran yang di khususkan untuk para pejabat negara sudah berlalu hampir setengah jam yang lalu, dan saatnya kunjungan umum.

 

“kita memulai waktu kunjungan umum, tingkatkan perlindungan kalian! Bila ada sesuatu yang mencurigakan langsung laporkan!”

 

            Mr. Dave memberi komando, dan seluruh tim Saver mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk lebih meningktakan pengawasan mereka. Termasuk Thalia yang mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru ruangan.

 

“Jin! Awasi arah jam 3! Jimin awasi arah jam 6! Jessi kau arah jam 12!” perintah Thalia yang langsung di jawab dengan anggukan mantap dari Jin, Jimin, dan Jessi. Thalia mengawasi arah jam 9, dan Thalia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, belum banyak pengunjung yang memasuki gedung pameran, hanya beberapa orang yang hanya sekedar lewat di depan Thalia.

 

Semua yang di rasakan Thalia hari ini terasa begitu menyebalkan awalnya, sebelum Kai memperbaiki mood Thalia dengan pelukan yang diberikannya pagi tadi. Tanpa Thalia sadari, senyuman menghiasi wajahnya hanya dengan sekali teringat tentang Kai.

 

“halo! I’m Resha! What your name? You’re so beautiful!” seorang anak perempuan berusia sekitar 4 tahunan menarik-narik ujung blazer yang Thalia kenakan, membuat Thalia terbangun dari lamunannya tentang Kai.

 

“oh! Hello Resha! I’m Thalia! You can call me Thal!” Thalia berjongkok berusaha menyesuaikan tinggi badannya dengan Resha yang hanya sebatas pinggulnya.

 

“Thal! You’re really beautiful! Can I be your friend?” senyuman menghiasi wajah Thalia, Thalia mengusap lembut kepala Resha dan mengangguk lembut.

 

“of course you’re! But I’ll be glad if you want to be my little sister! And you know? You’re pretty! More prettier than me!”

 

“thank you!” Thalia mengusap kepala Resha pelan lalu merasa aneh dengan Resha yang tidak di temani oleh orang dewasa, Thalia melihat sekeliling mencari seseorang yang mungkin saat ini sedang mencari keberadaan Resha.

 

“Resha! With who you come here?” Tanya Thalia lembut.

 

“I come with my mum! But I lost her!” Thalia langsung berdiri dan memencet tombol sambungan langsung yang ada di tangannya agar segera terhubung dengan Mr. Dave.

 

“this is Thalia! I found a girl lost from her mother! Tell Jin, Jimin, and Jessie to cover my position to protect the diamond! I need to help this girl!”

 

“tidak! Tetap fokus pada pengawalanmu! Kau bisa memanggil keamanan dari kepolisian!” jawab Mr. Dave yang ada di seberang sambungan, sementara Thalia langsung meniup poninya malas.

 

“please!” Thalia memohon membuat suaranya sedemikian rupa agar Mr. Dave bisa mengijinkannya membantu menemukan ibu Resha.

 

“ok! But make it quick!”

 

 

-BULLETS UND SCHILDE-

Seorang lelaki dengan perawakan tinggi sempurna berjalan memasuki lorong belakang gedung pameran. Langkahnya terlihat sangat tenang namun lugas. Tubuhnya yang di lapisi stelan jas formal dengan dasi berwarna hitam membuatnya terlihat sangat memukau. Rambutnya yang jatuh menutupi dahi bahkan sampai di area matanya membuatnya terkesan fancy, namun masih terlihat rapi.

 

“i’m ready!” gumamnya sambil menekan handsfree yang terletak di telinga kanannya.

 

“apa kau yakin bisa melakukan ini sekarang? Jangan paksakan dirimu man!”seseorang yang ada di sambungan dengan pria tadi berkata dengan nada santainya.

 

“aku tidak akan menunda misi ini!”

 

“hey-hey! Kau tahu aku bisa menggantikanmu melakukan misi ini!” kata seorang yang ada di sambungan, jelas saat ini perkataanya dengan nada penuh keseriusan.

 

“tidak akan ku biarkan! Kau bisa saja melukai seseorang!” kata sang pria tampan yang saat ini sedang berjalan memasuki lorong panjang yang mengarah langsung pada gedung inti diadaknnya pameran.

 

“sejak kapan kau peduli dengan orang lain yang bisa saja terluka?! Setahuku kau hanya tahu, misi selesai sempurna dan meraup banyak uang?! Benar bukan?” sang pria yang ada di sambungan bertanya dengan penuh nada keheranan di setiap perkataanya.

 

“sejak kau membuat seseorang terbunuh dan membuat yang lainnya terluka!” jawab sang pria tampan dingin, tangannya sudah memakai sarun tangan transparan yang di gunakan untuk menyamarkan sidik jarinya.

 

“aku melakukanya untuk menyelamatkanmu bodoh!”

 

“baiklah kita mulai misi kali ini! Beri instruksi dengan jelas dan bantu aku melewati pengawalan saat keluar nanti, jangan lupa hack jaringan keamanan!” setelah selesai mengucapkan perintahnya untuk pria yang ada di sambungan dengannya, sang pria misterius pun langsung berjalan memasuki ruangan tempat diadakannya pameran, dan dengan itu pula satu persatu pengawal di tumbangkanya dengan tenang hanya dengan beberapa totokan dan pukulan yang menekan tepat di titik syaraf sehingga membuat mereka langsung tergeletak tak sadarkan diri.

 

 

-BULLETS UND SCHILDE-

 

*Thalia POV

 

Aku masih terus menggandeng tangan Resha, aku terus berusaha mencari ibunya. Hampir setengah gedung ini aku kelilingi mencari ibu dari Resha, namun tak sedikitpun aku menemukan tanda-tanda keberadaan ibu Resha, sedangkan Resha, ku lihat dari wajahnya sudah sangat terlihat bahwa dia kelelahan.

 

“Resha! Kau lelah?” ku seka keringat yang menetes di kepalanya, Resha mengangguk pelan.

 

Ku angkat Resha ke dalam gendonganku, ku istirahatkan kepalanya di pundakku, jujur saja Resha anak yang berat, tapi aku harus tetap berusaha mencari ibunya. Ku tepuk-tepuk punggungnya pelan, ku harap Resha bisa istirahat dengan nyaman di pundakku.

 

Ku teruskan mencari ibu Resha dengan Resha yang saat ini tertidur di gendonganku, berat badannya seoalh bertambah dengan keadaanya yang tertidur lemas. Aku berjalan menuju pusat informasi ku harap ibu Resha menunggu disana, aku saat ini lelah, sangat lelah bahkan, tapi aku bukanlah wanita yang tak punya perasaan meninggalkan anak kecil yang tertidur di gendonganku hanya karena rasa lelah.

 

Rasa lelahku membuatku terpaksa beristirahat sejenak di bangku yang ada di tepi ruangan tempatku berada saat ini, bila ku amati lagi, Resha adalah anak yang sangat manis, tapi entah kenapa aku merasa kalau au dan Resha memiliki kemiripan di diriku. Tak sengaja lengan Resha sedikit bergerak menampakkan tanda lahir yang ada di lengan kirinya, aneh benar-benar aneh, tanda lahir yang ada di lengan Resha mirip dengan milikku, dan letak tanda lahirnya pun sama. Aku fikir Resha sangat cocok menjadi adikku.

 

Tiba-tiba ada seorang wanita berusia sekitar 45 tahunan berlari ke arah tempatku istirahat saat ini, sangat terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya. Wanita itu berlari sebisanya dengan rok selutut yang di kenakannya. Aku yakin wanita ini adalah ibu Resha.

 

“te-terimakasih! Kau menemukan anakku! Terimakasih!” ucapnya di antara deruan nafasnya yang terengah-engah karena berlari.

 

“tentu saja, lain kali berhati-hatilah menjaga Resha! Dia anak yang sangat cantik bibi!” balasku sambil berusaha membangunkan resa yang ada di pangkuanku. Resha pun terbangun dengan wajahnya yang sembab. Resha yang melihat keberadaan ibunya pun langsung turun dari pangkuanku dan memeluk ibunya erat.

 

“Resha, jadilah anak yang baik! Jangan pernah terpisah dari ibu lagi! Janji?” tanyaku sambil mengacungkan jari kelingkingku, Resha pun tersenyum dan mengaitkan jari kelingking kecilnya di jariku sambul mengangguk penuh semangat.

 

Aku memeluk Resha hangat, dan kemudian aku melepaskannya. Saat ku tatap ibu Resha, dia malah menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa aku baca, seolah ada kelegaan yang ada di pancaran matanya, namun bercampur dengan ketakutan yang luar biasa.

 

“bibi? Anda baik-baik saja?” tanyaku pelan. Namun tak ada jawaban, namun tiba-tiba bibi ini memelukku erat, sangat erat. Aku sangat bingung dengan bibi yang sekarang sedang memelukku, tapi entah kenapa aku tahi bibi ini sekarang sedang menangis.

 

“biasakah aku memelukmu sedikit lebih lama? Aku ingin berterimakasih!”

 

Aku mengangguk, lalu ku balas pelukannya. Rasa nyaman membuncah dalam diriku saat aku memeluk bibi ini, seolah ada sesuatu yang mebuatku merasa hidupku sempurna saat aku merasakan pelukan dari bibi ini.

 

Tiba-tiba Mr. Dave menghubungiku kalau ada situasi darurat, Mr. Dave memberitahuku bahwa pengawal yang ada di pengawalan lingkar ke 2 dan 3 hampir semuanya tak sadarkan diri, yang berarti hanya tinggal Jin, Jessie, dan Jimin yang tersisa.

 

Ku lepaskan pelukan bibi, aku pun langsung mengatakan bahwa ada situasi darurat, dan aku harus pergi. Namun air mata bibi ini seolah mengalir semakin deras saat menatap wajahku.

 

“berhati-hatilah! Jaga dirimu! Jangan sampai terluka!” katanya di sela tangisnya, sementara aku mengangguk dan ku beri senyuman terbaikku.

 

“siapa namamu?” tanyanya.

 

“thalia! Thalia Lee! Aku harus pergi!”

 

“berjanjilah kau tidak akan terluka!” aku langsung berlari meninggalkan bibi dan Resha. Aku berlari secepat mungkin semampuku menuju tempat pameran di adakan, aku harus naik ke lantai 3. Aku memutuskan memakai tangga darurat karena aku yakin kali ini lift sedang tidak berfungsi karena listrik di padamkan secara tiba-tiba.

 

Saat aku sampai di stand pameran berlian, kondisinya benar-benar sudah tidak bisa di katakan bagus. Jin dan Jessie sudah tergeletak tak sadarkan diri, sedangkan kotak tempat menaruh berlian sudah terbuka, sementara itu aku tidak tahu keberadaan jimin sekarang ini.

 

Ku coba menghubungi Mr. Dave namun jaringan yang menghubungkanku sepertinya rusak, ku coba berulang kali namun tetap gagal. Aku memutuskan mencari ke basement, ku fikir pasti pencuri itu membawa berliannya ke basement intuk keluar dari gedung ini.

 

Ku percepat langkahku, ku harap aku menemukan seseorang yang membantuku sekarang ini, namun nyatanya nihil tak ada siapapun. Tiba-tiba saat aku ada di lantai 1 aku mendengar suara langkah kaki yang aku yakin bukan hanya berasal dari satu orang. Ku ikuti suara langkah kaki itu, sampai akhirnya aku terhenti di pintu belakang gedung ini, dapat ku lihat saat ini Jimin sedang bertarung dengan seorang Laki-laki yang memakai stelan jas formal namun ada masker hitam yang menutupi wajahnya, namun tiba-tiba Jimin menarik Jas yang di pakai lelaki itu sehingga jas yang dipakai lelaki itu terleas dari tubuhnya. Tiba-tiba ku lihat lelaki membanting tubuh Jimin dengan mudahnya hanya dengan sekali gerakan tangannya, lalu lelaki itu mengarahkan pistolnya ke tubuh Jimin.

 

“Berhenti! Angkat tangan!” teriakku sambil mengarahkan senjataku ke arah lelaki yang saat ini sedang mengarahkan pistolnya kearah Jimin yang tergeletak di lantai.

 

“lepaskan senjatamu!” teriakku, aku masih terus melangkah mendekati mereka berdua, ku lihat Jimin saat ini sedang meringis menahan sakit.

 

“kau yang harusnya membuang senjatamu nona!” aku jelas mendengar suaranya, entah kenapa suaranya sangat familiar di telingaku, aku membelalakkan mataku mengingan kejadian yang terjadi di lorong, aku yakin lelaki ini adalah Tanned. Tapi gaya rambutnya sangat mirip dengan Myungsoo, suaranya juga hampir murip, namun masih ada yang berbeda, sangat berbeda. Tatapan yang di berikan lelaki ini sangat berbeda dengan Myungsoo.

 

“ku bilang lepaskan senjatamu! Atau aku akan menembakmu!” teriakku. Aku sekarang tidak perduli dengan siapa aku berhadapan saat ini namun yang pasti aku harus membunuh lelaki yang ada di depanku sekarang ini.

 

“kau tidak mendengarkan peringatan yang aku berikan kemarin? Huh? Kau ternyata cukup berani!”

 

“aku tidak takut dengan siapapun! Sekarang jatuhkan senjatamu!” teriakku, namun dengan selesainya senjataku, ku lihat Tanned menarik pelatuk di pistolnya, aku membelalakkan mataku, aku pun reflek langsung menarik pelatuk di pistolku.

 

DOR, DOR

 

Suara dua tembakan memenuhi gedung lantai satu ini, ku lihat Jimin memengang perut bagian kirinya dan darah sudah keliar dari perutnya, sementara Tanned, ku lihat di pundak kirinya mengeluarkan darah, aku berlari menghampiri Jimin.

 

“kau ternyata bisa melukaiku!” Tanned berkata pelan, namun sangat jelas di telingaku, suaranya sangat mirip dengan Myungsoo. Aku yakin Tanned adalah Myungsoo. Air mata mengalir di pipiku. Dalan sekerjap mata Tanned sudah menghilang adi pandangan mataku. Tanned, menghilang, begitupun Myungso.

 

Semuanya membuatku mengingat jelas peristiwa di mana Myungsoo tertembak dengan tanganku, wajahnya yang cerah dan matanya yang di hiasi keberanian seketika di ganti dengan tatapan kosong yang mencerminkan kesakitannya, yah… aku yang membunuhnya, aku yang sepenuhnya bersalah. Ku harap Tanned bukanlah Myungsoo, tapi semuanya membuatku begitu sakit aat mengelak bahwa Tanned bukanlah Myungsoo. Aku masih berharap Myungsoo kembali.

 

“semuanya semakin menyakitkan ketika semuanya semakin berbelit”

 

 

 

 

 

 

tbc

 

 

Iklan

One thought on “BULLETS UND SCHILDE (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s