Droplet (Chapter 1)

Poster Droplet

TittleDroplet

AuthorDobi

Personal Blog Hello, fanfic!

CastPark Chanyeol; Shin Kyungsoon (OC); Oh Sehun

Chapter1

GenreMarriage Life; Drama; Hurt

Rating PG-16

LengthChapter

***

Eomma!”

 

Sahut riang anakku seketika membuat haru di dalam hati. Sudah hampir satu tahun sejak pertemuanku yang terakhir dengannya. Oh, lihatlah, kedua cucuku yang masing-masing berusia 5 dan 3 tahun mengikuti langkah sang ayah dari belakang. Di urutan yang paling akhir, nampak menantuku turun dari mobil sambil membawa barang-barang yang dibawanya dari Seoul.

 

Pelukan erat nan hangat begitu terasa saat kami berdua berpelukan. Rasanya aku tidak ingin melepasnya dengan cepat. Aku kira dirinya yang sudah berusia 35 tahun enggan memelukku terlalu lama, tapi ternyata tidak. Dia masih saja bersikap seperti malaikat kecilku. Tak peduli dengan anak dan istrinya yang mengantri di belakang sambil menahan tawa.

 

“Apa kabar, Eomma?” Suaranya terdengar bergetar saat ia melepaskan pelukan dan menanyakan kabarku. Mendengarnya bertanya seperti itu, antara ingin dan tidak ingin kujawab. Aku terlalu mudah tenggelam dalam emosi sehingga hanya anggukan kepala yang bisa kulakukan, takut air mata mengucur begitu saja. Setelah kuusap lembut pundaknya, kini aku beralih kepada kedua cucuku.

 

Yang pertama aku memeluk si kecil Hyunwoo, usianya masih 3 tahun. Matanya bulat, jernih dan bola matanya berwarna coklat. Pipinya yang chubby ditambah rona merah samar membuatnya terlihat semakin lucu. Lembut saat aku membelai rambutnya, dan aroma shampo bayi yang khas tertangkap oleh indera penciumanku. Orang-orang sering mengira kalau Hyunwoo adalah anak perempuan. Aku rasa kecantikannya menurun dari sang ibu.

 

Lalu Ryu, sang kakak. Sedari tadi ia menungguku selesai memeluk Hyunwoo. Setelah memberiku sebuah pot kecil dengan setangkai White Lilyyang tertanam dengan indah, ia segera memelukku dan berkata bahwa dia sangat merindukanku. Aku jawab aku pun sangat merindukannya. Tangan kecilnya memeluk erat punggungku. Paras wajahnya tidak jauh berbeda dengan dengan Hyunwoo, hanya saja wajahnya lebih mirip sang Ayah. Rambutnya yang dulu sedikit gondrong kini terlihat rapi walau terlihat sangat pendek.

 

“Dari mana kau mendapatkan White Lily ini?” Tanyaku setelah kami melepaskan pelukan masing-masing.

 

“Park Songsaengnimmemberiku tugas untuk merawat tanaman di rumah setelah kami belajar tentang bermacam-macam jenis tanaman. Aku ingat Halmeoni suka dengan White Lily, jadi aku minta kepada Appauntuk membelikannya dua sehingga aku bisa merawat bunga yang sama dengan bunga kesukaan Halmeoni,” Jelasnya sambil terus tersenyum.

 

Aku baru ingat, ini adalah tahun pertama Ryu masuk taman kanak-kanak. Ah… usiaku yang semakin bertambah tiap tahunnya membuat daya ingatku semakin menurun saja. Sedangkan Ryu mulai belajar banyak hal.

 

Halmeoniakan merawatnya dengan baik sebagai tanda terima kasih kepadamu,” kataku seraya membelai lembut puncak kepalanya. Ryu membalas dengan senyuman manis.

 

Setelah itu aku beralih kepada Hyerim, menantuku. Memeluknya dengan erat, berbincang sebentar mengenai kabar masing-masing. Lalu mempersilahkan mereka masuk sambil memberanikan diri membantu membawakan satu tas yang entah isinya apa. Yang pasti bobotnya lumayan berat untuk wanita tua seusiaku. Anakku sempat mencegah tindakanku, tapi aku berlagak tuli sambil terus menentengnya dengan kedua tangan.

 

***

 

Malam hari sekitar pukul sembilan malam aku kembali ke kamarku bersiap untuk pergi tidur. Sebelumnya aku dibantu oleh Hyerim memasak banyak menu masakan untuk makan malam, kami makan bersama sambil merayakan keberhasilan Hyunwoo yang sudah mahir memakai sumpit untuk anak-anak. Setelah itu kami pergi ke halaman belakang, Hyunwoo dan Ryu asyik bermain kembang api dengan pengawasan Ibunya, aku dan anakku duduk di atas dipan sambil meneguk beberapa gelas soju.

 

Kaki-kaki kecil itu berlarian di atas rumput hijau yang sengaja aku rawat dengan baik. Pemandangan seperti itu sering terjadi jika mereka berkunjung kemari, makanya dengan senang hati kurawat rumput-rumput itu.

 

Aku juga menghiasi halaman belakang dengan berbagai jenis tanaman hias. Berkebun juga termasuk kegiatan yang aku sukai, jadi kutanam juga beberapa jenis sayuran seperti terung, lobak, bayam, cabai hijau, dll., semuanya terlihat serasi dengan rumah tradisional yang terletak di pedesaan yang hijau nan asri. Jauh dari keramaian kota seperti Seoul.

 

Waktu rasanya berlalu begitu cepat. Sambil memandang foto lama anakku yang masih berusia 8 tahun, aku mengingat-ingat betapa bahagianya hidup kami walau hanya berdua saja. Tentu, akan lebih bahagia lagi kalau suamiku juga ikut serta di dalamnya.

 

Setiap malam aku duduk di atas dipan, anakku berbaring dengan pahaku sebagai bantalan kepalanya. Kuusap kepalanya dengan lembut sambil bersama-sama melihat ke arah langit hitam dengan gugusan bintang yang berkilauan di mana-mana. Anakku selalu memintaku menceritakan tentang ayahnya, bahkan ia tak pernah bosan memintaku menceritakan hal yang sama. Baginya, itu adalah sebuah kebahagiaan pengganti karena ia tak bisa bertemu dengannya.

 

Pernah sekali kuberikan foto suamiku, esoknya ia langsung pamer kepada teman-temannya di sekolah karena memiliki seorang ayah yang dianugerahi wajah yang rupawan.

 

Tanpa sadar aku tersenyum sambil memandang foto anakku yang kusandingkan dengan foto suamiku. Namun, tiba-tiba mataku terasa panas. Aku tak mampu membendungnya sehingga air mataku mengalir begitu saja. Aku merindukannya. Aku merindukanmu… Chanyeol-ah.

 

Tak lama setelah itu, aku mendengar suara anakku yang memanggilku dari luar kamar. Segera kuhentikan tangisku dan mengusap pipiku yang basah. Setelah meminta izin, ia menggeser pintu kamarku kemudian mendapatiku yang tengah terduduk sambil tersenyum ke arahnya.

 

Sebaik apa pun kusembunyikan tangisku, namun anakku selalu bisa menangkap jejak-jejaknya. Ia mendekatiku dan bertanya apakah aku habis menangis. Aku katakan tidak, tetapi dia tersenyum geli mendapati aku telah berbohong.

 

“Merindukan ayah lagi?” Tanyanya ketika ia mendapati tanganku yang tengah menggenggam foto dirinya dan Park Chanyeol.

 

“Kau selalu bisa membaca pikiranku. Kalau iya, memang kenapa?” Kataku dengan nada seolah menantangnya.

 

“Tidak apa-apa, aku juga selalu merindukan ayah. Kalau mau menangis, menangislah bersamaku. Di dunia ini, bukan hanya Ibu yang selalu merindukan ayah, tapi aku juga,” jawabnya pura-pura merajuk sambil mencolek-colek lututku. Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya. Cukup terhibur. Kemudian aku tanya kenapa dia belum tidur dan malah pergi ke kamarku.

 

“Malam ini aku ingin tidur bersama Ibu.” Begitu jawabnya.

 

Tak perlu pikir panjang, segera kuambil kasur lalu menggelarnya di atas lantai. Kemudian kami berbaring dengan posisi saling berhadapan. Anakku mengambil tanganku lalu digenggam dengan kedua tangannya. Hangat mengalir dari kedua telapak tangannya yang kini sudah mampu menenggelamkan tanganku. Satu tanganku yang lain menepuk-nepuk bahunya. Begitulah cara ia tidur. Perlahan matanya benar-benar terpejam. Tak lama kudengar suara dengkuran halus darinya, tandanya ia sudah tertidur lelap.

 

Ketika melihat wajah anakku sedekat ini, entah mengapa bayangan Chanyeol selalu muncul di pikiranku. Betapa ia selalu berharap untuk bisa bertemu dengan ayahnya dan harapannya itu tidak pernah terwujud.

 

Rasa kantuk belum menyerangku, akibatnya aku malah menerawang jauh ke masa-masa di mana untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Chanyeol. Waktu itu tahun 1965, ketika usiaku menginjak umur 10 tahun.

 

Ayah memutuskan untuk membawaku ke tempat kerjanya di Seoul. Keputusan ayah untuk membawaku bukan tanpa alasan.

 

Aku adalah anak dengan prestasi belajar rendah atau dibawah rata-rata anak pada umumnya. Istilah yang lebih dikenal adalah Slow Learner. Kondisi ini membuatku menjadi anak yang mengalami kesulitan belajar. Aku cenderung lambat dalam menangkap dan mengolah informasi. Juga membutuhkan waktu yang lebih lama dalam mempelajari sesuatu.

 

Sebelumnya aku tinggal bersama ketiga kakakku di desa. Ibu yang meninggal saat melahirkanku dulu membuat kakak-kakakku harus bisa hidup mandiri, salah satunya adalah merawatku, karena ayah yang memutuskan untuk merantau ke kota.

 

Kakakku yang pertama dan kedua adalah laki-laki. Mereka selalu bekerja di ladang milik para tetangga sehabis pulang sekolah. Kakakku yang ketiga adalah perempuan, dia bisa sekolah tanpa harus membayar karena bantuan dana pendidikan yang didapatkan. Tentu, konsekuensi yang harus ia tanggung adalah nilai pelajarannya harus tetap berada di atas rata-rata. Sehingga, kegiatannya sepanjang waktu adalah belajar dan belajar, disamping mengerjakan pekerjaan rumah dan merawatku.

 

Sebenarnya, pendapatan ayah bisa dikatakan cukup untuk memenuhi segala kebutuhan kami. Sehingga kakak-kakakku tidak perlu bekerja keras di usia mereka yang masih belia untuk membiayai uang sekolah mereka.

 

Tetapi, ayah selalu menggunakan sebagian besar pendapatannya hanya untuk biaya penyembuhanku. Hal itu menyebabkan kondisi ekonomi keluarga menjadi serba kekurangan, sedangkan ayah hanya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari saja, tidak dengan biaya sekolah kakak-kakakku.

 

Mungkin, aku adalah satu-satunya anak yang mendapatkan perlakuan istimewa. Ayah tak pernah membiarkanku mendapat kesulitan dalam berbagai hal. Dalam hal makanan yang aku konsumsi, ayah selalu menyuruh kakak-kakakku untuk menyediakan makanan yang kaya akan nutrisi. Bahkan saat tanggal tua pun makananku masih terlihat mewah dibandingkan dengan apa yang dikonsumsi oleh kakak-kakakku.

 

Ayah bahkan menyewa guru terbaik yang tersohor di desa kami untuk memberikanku pelajaran tambahan guna mengejar ketertinggalanku di sekolah. Tentu menangani anak sepertiku bukanlah hal yang mudah. Kadang kesabaran juga harus dipertahankan. Seringkali aku melihat wajah guruku yang menahan amarahnya karena aku yang tak kunjung mengerti pelajaran termudah sekali pun. Padahal aku tak apa jika memang beliau ingin meledak-ledak di hadapanku. Karena perlakuan seperti itu seringkali kudapatkan dari kakak-kakakku.

 

Entah karena aku yang terlanjur idiot atau mereka yang merasa tidak adil atas perlakuan ayah. Pukulan dan bentakan seringkali kuterima dari ketiganya. Mereka mengancamku pula untuk tidak menangis agar para tetangga tak tahu soal ini. Akibatnya, aku sering menyembunyikan perasaanku. Menangis sendirian ketika ada kesempatan. Menghindar dari orang-orang sekitar karena takut mereka menangkap ada sesuatu yang aneh pada diriku. Aku jadi sensitif terhadap pertanyaan yang menyinggung soal keadaanku. Entah mengapa aku selalu tak tahan ingin menangis karena langsung teringat betapa sakitnya perlakuan yang aku terima dari ketiga kakakku.

 

Hal ini berdampak pada kehidupan sosialku, terutama di sekolah. Aku memutuskan untuk menarik diri. Lama kelamaan aku jadi anak yang pemalu dan pendiam.

 

Ketika aku dinyatakan tidak naik kelas, anak-anak di kelasku mulai mengejek keadaanku. Sampai-sampai kabarnya menyebar begitu saja ke seluruh penjuru sekolah. Entah bagaimana caranya, aku sendiri pun tak tahu. Yang pasti, aku selalu menjadi pusat perhatian ketika berada di sekolah.

 

Kala itu aku benar-benar merasa bahwa dunia sudah berlaku tak adil padaku. Guru-guru di sekolah juga mulai menyerah dan berancang-ancang untuk ‘mengusirku’. Karena saat itu aku mulai kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Serta daya tangkapku yang semakin melambat sehingga menimbulkan self-image yang buruk.

 

Tak ada seorang pun yang mau berteman denganku. Tentu saja, orangtua mereka pun tak mau anak-anaknya bergaul dengan orang sepertiku. Dalam hati aku bertanya, pernahkah aku menyakiti perasaan mereka sehingga mereka tak mau berteman denganku? Aku memang anak yang bodoh, tapi aku bukan anak yang malas, itu yang sering diajarkan oleh ayahku. Orang-orang seolah menutup mata dan enggan dengan usahaku yang mati-matian untuk bisa mengerti apa yang aku pelajari.

 

Akhirnya aku putus sekolah. Aku jadi takut bertemu dengan orang-orang selain ayah. Mungkin karena terlalu berharap mereka bisa menerima keadaanku, padahal kenyataannya tidak sama sekali. Beliau akhirnya memutuskan untuk membawaku ke Seoul, bekerja sekaligus merawatku tanpa bantuan orang lain.

 

Aku dan ayah sampai di sebuah rumah bergaya klasik ala eropa. Rumahnya terlihat luas, apalagi halamannya. Meskipun begitu tidak terlihat mewah, hanya saja arsitektur dari rumah tersebut –sepertinya– memang dirancang untuk membuat siapapun yang melihatnya terpana.

 

Saat itu aku benar-benar tak ingin melepaskan genggaman tanganku dari ayah. Bersembunyi dibaliknya walaupun para pekerja di rumah itu menyapa kami dengan ramah. Tak terkecuali dengan si tuan rumah. Dan ternyata aku baru tahu, selama ini ayah bekerja untuk kawan lamanya, Tuan Park Hyun Gun.

 

Ayah dan Tuan Park sudah bersahabat sejak dari SD. Fakta lain yang aku tahu ternyata Tuan Park juga berasal dari desa yang sama dengan kami. Pantas wajahnya terasa familiar bagiku. Wajah Tuan Park mirip sekali dengan ayahnya. Aku tahu karena ayah Tuan Park adalah salah satu tokoh masyarakat yang tersohor di desa –begitu juga dengan keluarganya.

 

Ayah dan Tuan Park berpisah saat Tuan Park pergi ke Seoul untuk belajar di universitas, hingga ia sukses menjadi seorang CEO perusahaan elektronik. Sedangkan ayah memilih untuk tetap mengabdi dan membangun desa kami. Saat ibuku meninggal, dan kondisi ekonomi keluarga semakin menipis, keluarga Tuan Park menawarkan kepada ayah untuk bekerja sebagai ‘orang kepercayaan’ Tuan Park. Mereka beralasan bahwa ayah memiliki syarat-syarat tertentu selain telah menjadi kepercayaan keluarga Tuan Park. Ayah pun setuju lalu berangkat ke Seoul.

 

“Kyungsoon cantik seperti ibunya,” ucap Tuan Park saat menyambut kedatangan kami. Wanita yang kuperkirakan Istri Tuan Park juga menyambut kami dengan hangat. Pandangan matanya terasa teduh, elegan, dan parasnya cantik. Kemudian, kami dipersilahkan duduk sejenak di ruang tamu.

 

Ayah dan aku diperlakukan layaknya keluarga –tentu kepada pekerja yang lain juga. Apalagi Nyonya Park yang terus berusaha agar aku mau dekat dengannya.

 

“Aku ingin sekali memiliki anak perempuan, tapi di rumah ini hanya ada dua anak laki-laki. Jadi, aku senang kalau Kyungsoon mau berteman denganku,” kata Nyonya Park.

 

Tetapi aku tetap menempel pada ayah dan enggan mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah salah satu pekerja menyajikan dua cangkir kopi, satu cangkir teh, dan satu gelas jus jeruk, baru lah ayah mengatakan mengapa aku bersikap seperti ini kepada setiap orang.

 

Salah satunya adalah alasan mengapa ayah memutuskan untuk membawaku kemari. Dengan begitu, setiap cerita yang ayah katakan akan merembet ke cerita-cerita yang lain sehingga Tuan dan Nyonya Parktahu –hampir– segalanya.

 

Saat itu Tuan Park menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku menundukkan kepalaku, tak berani membalas tatapannya. Aku bahkan tak sadar saat Tuan Park menghampiriku dan berlutut di hadapanku. Kemudian, ia menarik kedua tanganku lalu menggenggamnya dengan erat.

 

Entah mengapa, saat itu aku tak kuasa mengelak. Saat Tuan Park memanggil namaku, aku pun mengangkat kepala lalu memandang kedua matanya. Ayah pun heran dengan tingkahku.

 

Saat itu aku benar-benar dibuat luluh olehnya. Kupandang matanya, lalu seperti kutemukan sosok ‘ayah’ yang lain dalam dirinya. Aku tak takut menatap Tuan Park, justru yang aku rasakan adalah perasaan seperti saat aku bersama dengan ayah. Tuan Park tersenyum kepadaku.

 

“Tidak apa-apa, Kyungsoon-ah. Di sini kau harus hidup lebih bahagia, mengerti? Tak ada yang perlu kau takuti,” kata Tuan Park. Suaranya terdengar lembut, menenangkan hati. Kuberanikan diri untuk melirik ke arah Nyonya Park, ia pun menunjukkan ekspresi yang sama dengan suaminya. Kemudian kuanggukan kepala beberapa kali sebagai pengganti jawaban iya.

 

Ayah senang melihat sikapku, kemudian mengusap lembut ujung kepalaku. Tuan Park dan Istrinya pun ikut senang. Setelah itu, tanpa diantar oleh Tuan Park, ayah membawaku ke kamar para pekerja. Letaknya terpisah dengan bangunan yang ditinggali oleh Tuan Park.

 

Tepatnya di samping belakang rumah utama. Beda dengan rumah Tuan Park yang penuh dengan nuansa eropa, kamar para pekerja ternyata bukan hanya sekedar deretan kamar saja, tapi sebuah rumah yang cukup luas dengan gaya tradisional Korea. Ayah bilang rumah itu adalah bekas rumah Tuan Park yang dulu, yang ia bangun dengan penghasilannya sendiri ketika ia masih merintis usahanya sebagai pebisnis muda.

 

Kami masuk melewati sebuah pintu kayu seperti pada kebanyakan rumah tradisional. Halamannya cukup luas, dan berhasil membuatku terkagum-kagum. Ada beberapa pohon yang cukup rindang, juga kolam ikan kecil di sudut kiri dengan beberapa batu di tengah-tengah –aku fikir aku bisa duduk-duduk di atasnya sambil merendam kakiku di sana. Rumputnya juga terlihat begitu sehat, aku yakin para pekerja sangat rajin merawat mereka. Aneh memang, tapi ada alasan tersendiri mengapa aku bisa sangat menyukai benda hijau itu. Karena saat musim panas tiba, ayah selalu mengajakku ke sebuah padang rumput yang luas di desa kami.

 

Beberapa yang masih jelas dalam ingatanku adalah ketika aku dan ayah berguling-guling dari sebuah bukit yang lumayan tinggi. Aku sangat menyukai hal itu sehingga berkali-kali kami naik ke atas bukit lalu turun dengan cara berguling-guling, lalu kami naik lagi, dan berguling-guling lagi, naik lagi dan berguling lagi. Anehnya aku tidak merasa lelah atau pusing.

 

Mungkin aku akan terus melakukan hal itu kalau tak menangkap raut wajah ayah yang kelelahan. Dan juga saat kuteriaki ayah dari atas bukit untuk cepat-cepat naik, lalu tak sengaja kulihat ayah yang menanjak perlahan sambil terus memegangi pinggangnya. Di saat itu lah aku berhenti meminta ayah berguling bersamaku, melainkan meminta ayah untuk berbaring di bawah sebuah pohon yang tak jauh dari tempatku berdiri. Angin yang berhembus sejuk, di tambah rindangnya pohon membuatnya terasa begitu teduh, tanpa sadar membuat ayah tertidur, begitu juga denganku yang ikut terlelap dipelukannya.

 

“Hei.” Ayah menepuk pipiku pelan, lalu buyarlah lamunanku. Ayah tertawa kecil melihatku melamun menatap rumput-rumput itu sambil menyunggingkan senyuman yang aneh. Lalu, ayah berkata bahwa di dalam rumah masih ada hal yang lebih menyenangkan dari pada ini.

 

Lalu kami masuk, kebetulan kami bertemu dengan seorang pekerja wanita muda yang tengah merapikan sepatu di rak. Dia menyambutku dengan hangat, setelah itu dia pergi masuk, begitu pun dengan kami. Herannya, ayah membawaku ke arah yang berlawanan dengan pekerja tadi. Aku baru sadar bahwa bagian rumah sebelah barat adalah khusus area pekerja wanita, dan bagian timur adalah area pekerja laki-laki.

 

Terlebih dahulu ayah mengajakku ke kamar yang berukuran 3×3. Menyimpan barang bawaan, kemudian ayah mengajakku ke tempat yang katanya lebih hebat daripada halaman depan.

 

Ternyata memang benar, di dalam rumah ini ada sebuah halaman yang ini lebih luas daripada halaman depan. Denah rumah ini berbentuk persegi dari bagian depan hingga ujung kamar para pekerja. Setelah dapur dan kamar mandi ada sebuah gerbang kecil yang menghubungkan rumah dengan kebun milik Tuan Park. Halaman ini terletak di tengah-tengah, bisa dibilang sebagai jantungnya rumah ini selain ruangan utama.

 

Ayah bilang halaman ini sering digunakan para pekerja untuk berkumpul bahkan sekedar melepas lelah. Udaranya terasa begitu sejuk karena beberapa pohon tertanam di hampir setiap sudut. Ada kolam ikan ditambah pancuran air yang terbuat dari bambu. Di tengah-tengah ada dipan yang ayah bilang sering digunakan untuk minum soju dan makan bersama. Oh, jangan lupakan rumput hijaunya juga.

 

Ada pun ruang utama yang cukup luas yang juga menjadi tempat berkumpulnya para pekerja. Pintunya biasa tak di tutup sehingga langsung menghadap ke halaman utama.

 

Aku tak henti-hentinya tersenyum lebar karena saking senangnya. Sehingga ayah terpancing bertanya kepadaku apakah aku suka dengan tempat ini. Iya, aku bilang aku sangat suka.

 

***

 

Keesokan harinya ayah berangkat pergi bekerja bersama Tuan Park. Menuju kantor pusat yang berlokasi di tengah kota. Ayah bilang pabrik tempat produksi alat-alat elektronik sudah tersebar di kota-kota yang lain, sehingga ayah dan Tuan Park seringkali pergi keluar kota untuk melakukan kunjungan dan pengecekan produksi.

 

Hari ini adalah jadwal ayah menemani Tuan Park keluar kota. Ayah meminta maaf karena tak bisa menemaniku bermain sehabis pulang kerja. Aku sempat menangis dan merengek minta ikut walaupun ayah sudah berjanji akan mengajakku lain kali.

 

Kemudian aku dibuat luluh saat Nyonya Park datang dan membujukku untuk menemaninya di rumah. Dia bilang dia kesepian karena anak-anaknya sudah pergi ke sekolah. Pekerjaan rumah selain mengurus anak sudah pasti dikerjakan oleh para pekerja rumah tangga, lantas apa yang harus nyonya lakukan? “Aku selalu merasa kesepian selama anak-anak belum pulang, jadi, maukah Kyungsoon menemaniku?” Kata Nyonya Park.

 

Aku menyetujui ajakan Nyonya Park, tapi aku juga tak sepenuhnya rela kalau ayah harus pergi untuk beberapa hari. Kulambaikan tangan dengan tatapan muram saat mobil yang ditumpangi ayah dan Tuan Park menjauh lalu menghilang dari pandanganku. Nyonya Park menggenggam tanganku lalu membawaku masuk ke dalam rumah.

 

Aku terpesona saat melihat isi daripada rumah utama. Terdiri dari dua lantai, luas, dan penuh dengan barang-barang mewah –pada zamannya. Benar-benar membuatku terhipnotis dan serasa seperti berada di luar negeri saja.

 

Kemudian Nyonya Park mengajakku ke lantai dua, ke sebuah ruangan yang memiliki balkon yang –juga– luas. Balkon itu di hiasi dengan berbagai jenis bunga yang membuatnya terlihat begitu indah. Aku seperti kehilangan akal, kemudian berlari menghampiri bunga-bunga itu. Bahkan aku tak tahu bagaimana ekspresi wajah Nyonya Park karena aku tak sempat menoleh ke arahnya.

 

Aku suka bunga-bunga.

 

Aku baru sadar, kalau balkon ini langsung menghadap ke arah gerbang utama. Dari atas sini bisa kulihat beberapa pekerja yang sedang merawat rumput. Adapun pekerja wanita yang tengah merapikan pagar tanaman dengan gunting besarnya. Pemandangan yang membuatku takjub sampai-sampai aku ingin melompat lalu berguling-guling di atas rumput-rumput itu.

 

“Kau suka?”

 

Suara Nyonya Park membuatku tersentak dan membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum kecil seraya menganggukan kepalaku.

 

“Kalau kau suka, tolong bilang suka. Aku ingin mendengarmu bicara,” kata Nyonya Park memohon.

 

Aku tak lantas mengabulkan permintaannya. Kutatap kedua matanya yang mengisyaratkan kalau ia ingin sekali aku berbicara. Kubuka mulutku sambil berusaha mengeluarkan sepatah kata. Rasanya begitu sulit, karena ini pertama kalinya aku mau berbicara kepada orang lain.

 

“A… a… aku…” suaraku terdengar begitu serak pada awalnya. “Aku… suka.” Akhirnya aku dapat menyelesaikan dua kata yang cukup sulit kukeluarkan itu.

 

Nyonya Park tersenyum riang. Ekspresinya bagai orang yang baru saja memenangkan undian dengan hadiah utama.

 

“Katakan sekali lagi, dan tambahkan ‘Bibi Park’ dibelakangnya,” pintanya lagi.

 

“Aku… Suka, Bibi Park.”

 

Percobaan kedua berhasil. Rasa canggungku menghilang sedikit demi sedikit. Ekspresi Nyonya Park kali ini bahkan terlihat lebih senang. Kemudian, Nyonya Park memintaku untuk memanggilnya dengan panggilan Bibi saja, dan Paman untuk Tuan Park. Ia rasa dengan begitu hubungan kami akan terasa lebih dekat.

 

***

 

Sore harinya Bibi Park memintaku untuk menyiram tanaman di balkon selagi ia memasak karena anak-anaknya sebentar lagi akan pulang. Ia bahkan memberiku sebuah alat penyiram tanaman plastik berukuran mini.

 

Aku begitu hati-hati ketika kusirami mereka dengan air yang keluar dari lubang-lubang kecil itu. Rasanya menyenangkan sampai-sampai aku tak memperhatikan sekelilingku.

 

Tak lama setelah itu suara klakson mobil berhasil mengusikku. Aku kira itu ayah, lalu segera kutengok, tetapi mobilnya terlihat berbeda dengan mobil yang ditumpangi ayah tadi pagi.

 

Mobil itu terlihat menunggu di luar pagar, sampai seorang pekerja membukakan gerbang, lalu mobil itu masuk dan berhenti di sebuah halaman parkir. Aku penasaran siapa yang datang. Apakah tamu untuk Tuan Park?

 

Pandanganku masih belum lepas hingga seorang supir keluar dari bagian kemudi, lalu membukakan pintu bagian belakang. Dan…

 

Dan…

 

Aku tidak tahu apa yang kurasakan kala itu. Dadaku terasa sesak, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Mataku tak berkedip. Bibirku kelu dan aku mematung dengan posisi mulut menganga.

 

Siapa itu?

 

Aku heran dengan perasaanku saat ini begitu melihatnya untuk pertama kali. Perasaan yang baru kurasakan dan berbeda dengan perasaan yang lain.

 

Aku terus menatapnya. Hingga aku tersentak sendiri saat ia menoleh ke arahku.

 

Kini, kami saling bertatapan. Seluruh tubuhku rasanya gemetaran. Aku tak bisa bergerak sedikitpun. Darahku berdesir lebih cepat. Jantungku berdetak kencang.

 

Hei… dia bukan hantu, ‘kan?

 

 

 

To Be Continued

 

 

A/N : This fanfic also post on Hello, fanfic! and EXO FanFiction Indonesia. Thanks for reading and please give me your review!

Iklan

2 thoughts on “Droplet (Chapter 1)

  1. Beberapa cuplikan cerita di droplet spt kisah pribadiku sendiri, termasuk kemunculan ceye sama hunni (?)
    Ff nya bagus bgt..spt curahan hati yg dituangkan dlm cerita
    Ceye disini dingin bgt , sdgkan hun jd kebalikannya
    Gasabar deh nunggu kelanjutan ff droplet🙌😍💞

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s