Love Killer (Part 4)

LOVE KILLER

Title                     : LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Do Kyungsoo ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 : Chapter

Rating                  : T

Genre                   : School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts   )

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

Perkataan Bokdong di sekolah terus terngiang. Sebisa mungkin Sooyong melupakan hal itu dari kepalanya. Ada yang lebih penting. Dia harus menemukan Ayah agar pertunangan dengan Kyungsoo tidak pernah terjadi. Namun, baru saja dia mulai pergerakan untuk mencari lagi-lagi masalah yang tidak dia inginkan terjadi.

 

Ibu dan orang tua Kyungsoo telah merencanakan pertunangan tanpa sepengetahuannya. Mereka sukses membuat Sooyong marah. Kini dia diambang frustasi. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena dia tidak punya kekuatan untuk melawan Ibunya. Mungkin ini adalah takdir yang tidak bisa dia hindari. Yang harus dia lakukan adalah menyerah mengikuti kemana takdir itu membawanya.

 

Kabar rencana pertunangan itu tentu saja diketahui Suho dan teman-temannya. Begitu Sooyong memasuki sekolah, semua mata memandang sambil berbisik membicarakannya.

 

“Dia pasti merayu Kyungsoo karena dia sudah tidak punya apa-apa untuk dibanggakan”

 

“Dasar gadis licik”

 

Sooyong terus berjalan meski ada bagian dalam hatinya yang sakit dengan tuduhan-tuduhan mereka yang tidak bertanggung jawab. Mereka bahkan tidak tahu apapun soal dirinya.

 

Begitu sampai diloker dia disambut oleh Minji, Haneul beserta kumpulan Suho. Mereka memasang senyum palsu sambil mengucapkan selamat yang terdengar seperti racun.

 

“Berterima kasihlah pada Kyungsoo. Dia yang membuatmu bisa bertahan di sekolah ini setelah kekalahan yang kau terima”

 

Sooyong tidak menanggapi mereka dan sibuk mengambil buku dilokernya.

 

“Yah! Setidaknya kau harus mendengarkan saat kami bicara. Apa kau masih marah karena waktu itu? Ya maaf”

 

Sooyong menutup loker lalu menatap mereka, “Lebih baik aku diabaikan daripada hidup dengan menegakkan kepalaku disini karena bertunangan dengan Kyungsoo”

 

“Huh! Kesombongan gadis ini benar-benar membuatku muak”

 

Sebelum pergi ke kelas, Sooyong berhenti sebentar di taman belakang. Dia hanya ingin disitu sampai dia kembali menghadapi orang-orang yang mungkin akan membahas pertunangannya.

 

“Kau bisa memberitahuku apa yang ingin kau lakukan. Menghubungiku disaat kau membutuhkan sesuatu dan bicara padaku ketika kau membutuhkan seorang teman. Apa itu sulit?”

 

Perkataan Bokdong terngiang dikepalanya. Dia mengambil ponsel lalu men-dial panggilan cepat nomor satu. Sejenak dia tersadar bahwa nomor Bokdong adalah nomor yang tidak pernah dia hubungi walaupun nomor itu menjadi nomor satu panggilan cepatnya. Dia perhatikan layar ponsel, menimbang apa dia akan menghubungi Bokdong atau tidak hingga ponselnya bergetar dengan sendirinya.

 

Panggilan masuk dari Bokdong. Gadis itu tertegun tak ada niatan untuk menjawab hingga derap langkah kaki mendekati tempatnya berdiri.

 

Sooyong menoleh dan terkejut melihat Bokdong mendekatinya dengan ponsel yang menempel ditelinga. Segera dia putuskan panggilan dan senyum kelegaan terukir di wajah Bokdong tatkala melihat Sooyong didepannya. Laki-laki itu melangkah cepat dan entah keberanian apa yang merasukinya hingga dia itu membawa Sooyong kedalam pelukannya. Tubuh Sooyong membeku saat itu juga. Dia berada dalam pelukan Bokdong hingga akhirnya kehangatan menjalar kesetiap sendi tubuhnya. Rasa sesak yang dia rasakan sejak tadi perlahan menghilang berganti dengan kelegaan yang tidak bisa Sooyong jelaskan. Air matanya tumpah meluapkan segala emosi yang dia tahan sejak tadi.

 

“Meskipun aku tahu kau tidak menginginkan pertunangan ini, tapi kenapa hatiku tetap sakit saat memikirkannya?” gumaman Jisoo membuat Sooyong menghentikan tangisnya. Dia tertegun dengan perkataan Jisoo. Apa dia salah dengar?

 

Sontak Sooyong melepaskan diri dari pelukan lelaki yang kini terlihat sedih. “Apa yang barusan kau katakan? Jelaskan padaku, Bokdong!”

 

“Ani” sanggahnya cepat, “Jisoo” ucapnya membuat gadis itu mengernyit tak mengerti.

 

“Jisoo… panggil aku seperti itu”

 

Dikejauhan, Suho tersenyum menyeringai melihat pemandangan yang akan menguntungkannya.

 

 

 

……………………………………………………….

 

 

 

Bokdong kembali ke kelas dengan perasaan gusar. Apa yang dia pikirkan! Kenapa dia mengatakan itu pada Sooyong. Sesaat dia memaki dirinya sendiri, tapi kemudian dia merasa lega. Dia ingin hubungannya terjalin baik dengan Sooyong. Mereka bisa menjadi teman meski terjebak situasi yang rumit seperti ini. Itulah harapannya.

 

Getar dalam saku celana Bokdong memaksanya mengangkat telpon masuk. Dia jadi malas begitu melihat nama pemanggil, “Apa?”

 

“Pergi ke atap sekarang”

 

Panggilan langsung ditutup. Perintah itu tidak bisa diabaikan. Walau dia tidak suka, dia tetap mengarahkan kakinya ke atap.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

“Apa kau sudah memberinya pelajaran?”

 

“Aku tidak mau”

 

“Apa maksudmu tidak mau!” mata Suho berkilat mendengar penolakan Bokdong. Dia berani melawannya. “Kau harus menghabisi Adiknya hari ini juga kau dengar!”

 

Bokdong menghela nafas kasar, dia ingin sekali menghajar Suho. Laki-laki ini sangat menyebalkan, “Kalau kau ingin mengerjai HyeRa, kenapa melibatkan Adiknya. Itu tidak adil”

 

“Adil? Hh, kau membicarakan keadilan padaku? Apa yang kau tahu. Kau hanya anjing menjaga yang harus mematuhi perintah tuannya! Dan aku memerintahkanmu untuk menghabisi HyeJin!”

 

Bokdong mendekati Suho dengan melempar tatapan marah. Dia memang biasa dihina, tapi hinaan Suho membuatnya naik darah. Dasarnya dia tidak menyukai laki-laki ini. Jadi semua yang keluar dari mulutnya membuatnya ingin meledak. Ketika mereka hanya berjarak satu langkah. Bokdong memperingatinya, “Dengar, kau bukan tuanku. Aku tidak akan menyakiti HyeRa ataupun HyeJin. Dan aku tidak akan pernah datang lagi walaupun kau memanggilku” dia berbalik lalu pergi meninggalkan Suho.

 

“Argh!” Suho meninju udara kosong. Dia sangat kesal dan marah. Berani sekali Bokdong. Nafasnya memburu. Jika Bokdong tidak mau menyakiti HyeRa, dia sendiri yang akan melakukannya.

 

 

 

………………………………………………………

 

 

 

HyeRa merinding seharian. Dia merasa ada yang menatapnya dengan tatapan mencekam. Dia sadar Suho terus melihat kearahnya. Tapi ketika mata mereka bertemu, Suho membuang muka. Dia juga tidak mengajaknya ribut hari ini. Dia seperti mengabaikan HyeRa tapi matanya begitu menusuk.

 

“HyeRa, aku duluan ya” Syuhan pamit.

 

HyeRa membalas dengan anggukan seadanya. Dia melihat Sooyong didepannya. Setelah memakai tas, dia menghampirinya. “Kau mau kemana setelah ini?”

 

“Sepertinya aku akan pulang”

 

“Kalau begitu aku akan mengantarmu”

 

Langkah HyeRa terhenti ketika Sooyong menahan lengannya. Sooyong memberi senyum kecil, “Dia yang akan mengantarku” matanya mengarah ke pintu. HyeRa melihat teman sekelasnya disana. Dia tidak mengenal laki-laki itu, “Kau baik-baik saja?” HyeRa melihat ada kepalsuan dalam senyum Sooyong.

 

Sooyong hanya mengangguk. Sepertinya Sooyong tidak ingin ditanya lagi. HyeRa mengerti, “Baiklah, aku duluan” HyeRa pergi meninggalkan Sooyong. Dia melewati laki-laki itu untuk bisa keluar.

 

“Jaga adikmu baik-baik”

 

HyeRa berhenti. Dia merasa laki-laki itu bicara padanya. Matanya bertanya, “Apa maksudnya?” laki-laki itu hanya menatapnya sebelum masuk ke kelas untuk menghampiri Sooyong. HyeRa melihatnya bingung. Ada apa dengan Adiknya?

 

 

 

………………………………………………….

 

 

 

Pukul 8 malam suasana rumah keluarga Shin berubah tegang. Nyonya Shin berteriak penuh emosi di ruang tamu. Dia marah kepada supir dan penjaga HyeJin.

 

“Apa kalian bilang? HyeJin hilang? Bagaimana kalian bisa kehilangan putraku?! Dasar tidak berguna! Lalu untuk apa kalian pulang? Cari HyeJin sampai ketemu!!!”

 

“Baik, Nyonya. Maafkan kami” dua penjaga dan satu supir HyeJin terus menunduk dan meminta maaf.

 

“Maaf kalian tidak berguna sampai aku melihat anakku!” ketiganya langsung berbalik pergi. Tidak ada gunanya tetap diam disini. Kemarahan Nyonya Shin akan semakin meninggi jika mereka tidak menemukan HyeJin.

 

“Paman Song!”

 

“Iya, Nyonya?” Paman Song menunduk menunggu perintah majikannya.

 

“Hubungi kepala polisi, suruh dia temukan HyeJin!”

 

“Baik, Nyonya” Paman Song undur diri. Dia menghilang untuk melaksanakan perintah Nyonya Besar.

 

Nyonya Shin masih belum tenang. Selama HyeJin belum ketemu, dia tidak bisa tenang. “Panggil HyeRa kesini!” perintahnya kepada siapa saja yang mendengar.

 

“Ada apa, Ibu?” HyeRa yang sejak tadi melihat dari pintu langsung masuk ketika Ibu mencarinya. Nyonya Shin mendekati HyeRa lalu mengguncang pundaknya, “Apa yang kau rencanakan? Kemana teman-temanmu membawa HyeJin?”

 

“Apa maksud Ibu? Aku tidak mengerti?”

 

“Jangan pura-pura tidak tahu HyeRa! Ibu tahu kau tidak suka HyeJin. Kau iri makanya kau menyuruh teman-temanmu membawa HyeJin pergi. Kenapa kau tega melakukan itu pada Adikmu sendiri!!!” Nyonya Shin meluapkan kemarahannya. Dia memandang HyeRa seperti seorang penjahat.

 

HyeRa terluka. Sikap Ibu memperbesar lubang kesenjangan yang dia torehkan padanya. Air mata HyeRa siap turun dalam sekali kedipan. Aku juga anakmu, Ibu. Rengeknya dalam hati.

 

“Nyonya”

 

Sebuah tangan memegang kedua lengan HyeRa. Pria itu memohon atas cengkaramannya dipundak HyeRa. Gadis ini terluka.

 

Nyonya Shin melepaskan HyeRa lalu pergi meninggalkan mereka. Dia juga harus menemukan putranya. Dia akan menghubungi semua orang untuk mencari HyeJin.

 

Setelah pegangan Nyonya Shin terlepas, tubuh HyeRa melemas. Untung Hongbin memegangnya. “Nona tidak apa-apa?”

 

“Aku baik-baik saja” balasnya dengan suara serak.

 

“Duduklah, Nona”

 

“Tidak, Oppa. Aku harus menemukan HyeJin” dia teringat ucapan laki-laki yang dia lewati dipintu kelas.

 

“Jaga Adikmu baik-baik”

 

Dia pasti tahu sesuatu.

 

“Oppa, siapkan mobil” dia tepuk tangan Hongbin dilengannya.

 

“Nona mau kemana?”

 

“Cepat siapkan mobil untukku!” Hongbin kaget HyeRa berteriak padanya. Diapun melepaskan lengan HyeRa lalu membungkuk untuk melakukan perintahnya.

 

HyeRa menghapus air mata yang jatuh setetes ketika dia berteriak. Keterpurukannya terganti oleh semangat yang didominasi amarah. Siapa yang berani menyentuh Adiknya! Dia akan membuat perhitungan padanya.

 

 

 

………………………………………………………

 

 

 

HyeRa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia menghubungi laki-laki yang biasa dipanggil Bokdong setelah mendapat nomornya dari Sooyong. Bokdong memberitahunya kalau mungkin Suho yang membawa HyeJin. Dia pernah menyuruhnya menghabisi HyeJin.

 

HyeRa semakin gila dalam berkendara. Dia harus segera membuat perhitungan dengan si bodoh itu!

 

Dia menuju mall dimana penjaga HyeJin kehilangannya terakhir kali. Dia yakin HyeJin masih disana.

 

Hanya menghabiskan waktu sepuluh menit bagi HyeRa menuju mall yang berlokasi ditengah kota dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia berlari memasuki mall dan langsung mengedarkan matanya. Dia melihat kesegala arah. Dia harus menemukan Adiknya.

 

“Kau sudah sampai?” suara yang sangat familiar itu memutar kepala HyeRa. Akhirnya mereka bertemu, “Apa yang kau lakukan disini malam-malam?” tanyanya santai.

 

“Dimana HyeJin? Cepat kembalikan Adikku!”

 

Suho tersenyum miring, “Maksudmu laki-laki disana?” dagunya menunjuk kearah lantai dua dibelakang HyeRa.

 

HyeRa menemukan HyeJin bersama dua teman sekelasnya. HyeJin melambai pada HyeRa. Dia nampak senang ketika melihatnya.

 

“Dia menunggumu. Kami menemaninya sampai kau menjemputnya”

 

Tangan HyeRa mengepal. Benar saja kalau Suho yang membawa HyeJIn. Dia menatapnya sengit, “Jangan sentuh HyeJin”

 

“Apa maksudmu? Aku tidak mengganggunya sama sekali. Ah~ bukan tidak, tapi belum” senyum liciknya menyeringai,

 

“Kau akan menyesal jika berani menyakitinya” ancamnya dengan intonasi rendah.

 

“Tenanglah~ Xiumin dan Chen tidak akan melakukan apa-apa sebelum aku memberi perintah” dia mengangkat ponselnya. Maksudnya dia bisa langsung menyakiti HyeJin dengan sekali panggilan.

 

“Apa maumu brengsek!”

 

Suho menggoyang telunjuknya. Peringatan kalau mulut manis HyeRa tidak seharusnya berkata kasar, “Mudah saja, cantik. Kau hanya perlu menjadi budakku. Turuti semua perkataanku. Jika kau menurut, Adikmu pulang dengan selamat” dia mengulurkan tangan. Dia mengajaknya berjabat tangan sebagai tanda sepakat. HyeRa memukul tangan Suho dengan keras.

 

“Awww~~~” seru manja Suho. Sebenarnya dia kesakitan tapi dia menahannya.

 

“Kau benar-benar brengsek!”

 

HyeRa berbalik kemudian berlari menuju eskalator. Suho memberi kode kepada Xiumin dan Chen untuk segera pergi. Dia tersenyum manis. Dia mendapatkan apa yang dia mau. Suho berjalan dengan langkah senang. Mulai besok HyeRa adalah budaknya.

 

 

 

***

 

 

 

HyeRa memulai paginya dengan pemandangan tidak mengenakan dari Ibu dan HyeJin. Setelah kehilangan putra tersayang, Ibu semakin protektif dan Ibu semakin lupa akan putrinya.

 

HyeJin melihat HyeRa yang menatapnya dari lantai dua. Dia tersenyum tapi HyeRa membuang muka. Tidak berapa lama, HyeJin dan Ibu memasuki mobil mereka.

 

HyeRa teringat kejadian semalam. Dalam mobil untuk pertama kalinya mereka bicara tanpa bayang-bayang Ibu, HyeJin bilang kalau dia senang HyeRa menjemputnya. Tapi HyeRa menanggapi HyeJin dengan dingin.

 

HyeRa menuruni tangga setelah mobil HyeJin tidak lagi terdengar. Dibawah Paman Song menyambutnya, “Hongbin yang akan mengantar nona”

 

HyeRa melihat Hongbin menunggunya disamping pintu mobil. Dia buka ketika HyeRa mendekat.

 

HyeRa berhenti lalu menatapnya. “Sejak kapan aku duduk dibelakang saat Oppa yang menyetir” dia berlalu dan membuka pintu depan lalu masuk.

 

Paman Song dan Hongbin saling bertatapan, Hongbin meminta Paman agar dia yang mengantar HyeRa. Dia perlu bicara dengannya.

 

Setelah itu Hongbin masuk kedalam mobil. Dia lajukan sedan hitam itu dengan hati-hati.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

“Apa ada yang mencari masalah dengan nona di sekolah?” Hongbin membuka percakapan.

 

“Aku bisa mengatasinya”

 

“Tapi dia menggunakan tuan HyeJin. Mereka mencari tahu tentang nona”

 

“Aku tidak akan tinggal diam jika mereka berani mendekati HyeJin lagi”

 

“Lebih baik nona keluar dari Genie. Dia berbahaya nona. Sebelumnya tidak ada yang berani menyentuh keluarga nona” Hongbin khawatir. Dia tidak mau HyeRa terluka.

 

HyeRa senang akan perhatian Hongbin. Dia menjaga HyeRa seperti Paman Song. Dia tepuk lengan kekar Hongbin, “Aku bisa tenang karena aku yakin Oppa selalu berada dibelakangku” Hongbin menoleh dan melihat ekspresi HyeRa mengajaknya semangat, “Fighting!” serunya dengan mengepalkan tangan ke udara.

 

Hongbin tidak bisa tak tertawa jika HyeRa nampak bahagia seperti ini. Dia mengelus rambutnya, “Tapi nona jangan memaksakan diri”

 

“Ok!” HyeRa membuat lingkaran dengan jempol dan telunjuknya. Dia dan Hongbin tersenyum bersama.

 

HyeRa merasa bersalah setelah meneriaki Hongbin semalam. Tapi melihat sikap Hongbin yang biasa saja padanya pagi ini justru lebih mengkhawatirkan, namun membuat HyeRa semakin menyukai pria berlesung pipi ini. Dia melihat Hongbin dari samping. Senyumnya tertarik begitu matanya memantulkan bayangan Hongbin yang nampak sempurna.

 

Dan senyum Hongbin tertarik begitu mata mereka bertemu. Dia menyayangi HyeRa seperti Adiknya sendiri.

 

 

 

……………………………………………………….

 

 

 

Teriakan yang menyambut kedatangan HyeRa di sekolah. Setelah dia turun dari mobil, Suho memanggilnya. Laki-laki itu mendekati HyeRa dengan penuh gaya. Dia berikan tasnya hingga HyeRa dengan terpaksa memegangnya, “Bawa tasku” setelah itu dia berlalu dengan teman-temannya yang tertawa. Penderitaan HyeRa dimulai.

 

Di kelas, Suho terus melempari HyeRa dengan bola kertas. Dia terus memanggil tapi HyeRa mengabaikannya. Hingga sampah kertas berserakan disekitar meja HyeRa. Guru yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala karena itu perbuatan Suho. Suho bebas melakukan apa saja.

 

Pada waktu istirahat, setelah HyeRa mengambil jatah makan siang. Suho kembali memanggilnya. Dia pun mendekati Suho dan teman-temannya yang duduk di meja dekat jendela. “Pintar sekali. Tanpa disuruh kau sudah membawa makan siangku” serunya diakhiri tawa licik.

 

HyeRa menaruh nampan dengan kasar hingga supnya sedikit tumpah. Dia benar-benar kesal dengan kelakuan Suho yang terus memanggil dan mengaturnya. Dia berbalik agar Suho tidak menyuruh macam-macam.

 

“Ini makan siangmu” HyeRa melihat Bokdong memberikan nampannya. Laki-laki itu sempat melirik Suho sebelum melihat HyeRa kembali.

 

“Terima kasih” dia menerima pemberian Bokdong lalu pergi.

 

“Ya! Apa maksudmu!” Suho berdiri dan langsung dihalangi oleh Bokdong.

 

“Makanlah dengan tenang” balas Bokdong santai sebelum berbalik pergi.

 

Suho emosi Bokdong memberikan perhatiannya kepada HyeRa. Dan lagi HyeRa tersenyum licik dari mejanya ketika mata mereka bertemu.

 

 

 

……………………………………………………….

 

 

 

Sooyong mengantri untuk mengambil makan siang. Dia menyumpal telinganya dengan headset agar dia tidak perlu mendengar ocehan tak berdasar dari sekelilingnya.

 

Begitu selesai mengisi nampan, dia berniat untuk duduk bersama HyeRa, tapi langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

 

Jisoo memberikan makan siangnya kepada HyeRa, “Sejak kapan mereka akrab?” pikir gadis itu.

 

Begitu Jisoo berbalik, dia melihat Sooyong didepannya. Sontak dia menjadi gugup. Dia takut Sooyong akan salah paham dengan tindakannya pada HyeRa. Dia ingin mendekati gadis itu. “Aku sudah bicara pada Kyungsoo, mulai besok kau tidak perlu mengawasiku lagi” omongan Sooyong membuat kakinya berhenti.

 

Merasa bahwa ini bukanlah urusannya, Sooyong menarik kerah seorang adik kelas untuk makan bersamanya. “Hoseok kemari! Duduk bersamaku”

 

Hoseok tersontak dan langsung berhenti saat Sooyong men-death glare-nya. “Noona, kenapa kau seperti ini? Aku tidak mau dipukuli Jisoo-hyung” ucapnya memelas.

 

“Tidak akan! Sudah duduk saja. Nanti aku belikan es krim”

 

“Kalau aku dipukuli bagaimana?”

 

“Tuntut saja. Ayahmu kan pengacara hebat” dan Hoseok pun menurut. Lelaki berwajah panjang itu duduk lalu menyuap makanannya.

 

 

 

……………………………………………………….

 

 

 

Setelah istirahat, HyeRa bersama yang lain mengganti seragam dengan pakaian olahraga lalu pergi ke gedung olahraga untuk pelajaran olahraga.

 

Hari ini mereka akan bermain basket. Eunhyuk mengajarkan beberapa trik kepada murid-murid. Setelah menyelesaikan pembelajaran. Eunhyuk membebaskan para murid untuk bermain basket atau beristirahat.

 

HyeRa ditahan oleh Suho. Dia harus tetap di gedung olahraga menyaksikannya bermain basket. Para siswa terbagi menjadi dua tim. Suho bersiap menunjukkan bakatnya kepada HyeRa. Dia ingin membuat gadis itu terpesona.

 

Pada babak pertama, tim Suho memimpin. Dia mendekati HyeRa lalu duduk disampingnya, “Minum” perintahnya.

 

HyeRa menyerahkan air mineral padanya. Lalu dia meminta handuk. Dengan muka sebal HyeRa juga memberikannya. Tapi apa balasannya, Suho melempar handuk yang habis dipakainya kewajah HyeRa.

 

Kesabaran HyeRa telah mencapai batasnya. Sudah cukup!!!

 

Peluit babak kedua dibunyikan. Suho berlari dengan sebelumnya melempar senyum miring kearah HyeRa. HyeRa berdoa semoga wajahnya terkena bola!

 

Xiumin dan Chen duduk dikanan kiri HyeRa. Mereka lelah setelah bermain dibabak pertama. HyeRa tidak lagi melihat Suho. Laki-laki itu jelas sekali sedang pamer. HyeRa sampai ingin muntah.

 

“Aku jadi ingat Adikmu mengajak kami bermain basket”

 

HyeRa menoleh cepat. Apa yang Xiumin bilang?

 

“HyeJin juga banyak bertanya tentangmu”

 

Sekarang HyeRa menoleh kearah Chen.

 

“Kalian mengobrol dengan Adikku?” keduanya menggangguk.

 

“Dia tahu kalau kami datang untuk memanfaatkannya”

 

“Apa kau tidak punya teman selama ini?”

 

HyeRa berdiri karena pusing terus menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri. Dan saat itu Suho menyadari kalau HyeRa membelakanginya. Apa yang mereka bicarakan?

 

“HyeJin bilang kalau kau sebenarnya penakut”

 

“Dia juga memberitahu kami kalau kau menangis karena menjatuhkan susu yang dibuat Ibumu. Kau tidak mau minum susu yang lain padahal banyak pelayan yang membuatkannya” Xiumin dan Chen tertawa puas. Suaranya sampai terdengar oleh para pemain yang sedang bertanding.

 

“Berhenti tertawa” HyeRa menutup mulut Xiumin dan Chen dengan kedua tangannya. Melihat itu Suho berhenti dan terdiam ditempat. “Jika kalian menggunakan ini untuk mengancamku, aku akan membuat kalian malu datang ke sekolah” ancamnya.

 

Xiumin menarik tangan HyeRa. “Kau tenang saja. Kami tidak akan mengikuti Suho”

 

Chen melakukan hal yang sama, “HyeJin adalah teman kami”

 

HyeRa melihat keduanya aneh. Sejak kapan mereka jadi teman HyeJin?

 

“Kalian sangat mirip. Kalian punya sesuatu untuk menarik orang lain” Chen menggangguk setuju, “Ketika kami bilang padanya kalau kami temanmu dan memintanya ikut karena kau mengajaknya bertemu disuatu tempat, dia berubah dengan sangat cepat”

 

“Dia bicara pada temannya untuk pergi dengan wajah ramah. Sedetik kemudian ekspresinya berubah serius saat menatap kami”

 

“Dia bilang, kau tidak punya teman dan tidak mungkin mengajaknya bertemu karena kau membencinya”

 

“Dia sampai meminta kami agar terus menemuinya jadi kau bisa menjemputnya”

 

HyeRa memegang kepalanya. Kenapa dia jadi pusing dengan hubungan mereka bertiga. Dan kenapa HyeJin bisa banyak bicara dengan orang yang baru dia temui.

 

“Adikmu bilang, dia merasa tenang karena dia yakin kau akan datang dan melindunginya. Kami akan dihabisi olehmu jika kami berani menyakitinya”

 

“Uhh~ Hubungan yang sangat manis” mereka tertawa lagi. HyeRa kesal mendengar ejekan Xiumin dan Chen. Tapi kesalnya berbeda ketika dia berhadapan dengan Suho. Ini terasa lebih nyaman.

 

“Aku bahkan tidak tahu siapa kalian tapi rasanya tangan ini gatal sekali” HyeRa mengangkat kedua tangan sambil menggerakkan jemarinya.

 

“Aigoo, Adikmu yang berbeda sekolah lebih tahu nama kami daripada kau yang sekelas dengan kami”

 

“Chen~aa, dia akan menangis sebentar lagi jika kita terus mengejeknya”

 

“Yak!”

 

Xiumin dan Chen berlari menghindari HyeRa yang mengejarnya. Mereka bertiga nampak akrab walau seperti Tom and Jerry yang bermain kejar-kejaran.

 

Suho membanting bola basket hingga menimbulkan suara yang sangat keras dan mengagetkan pemain lainnya ketika Xiumin dan Chen berlari keluar gedung masih dengan HyeRa yang mengejar mereka.

 

 

 

…………………………………………………………

 

 

 

Suho mendorong lalu menekan leher Xiumin dan Chen dengan lengannya. Mereka berada diatap.

 

Baekhyun, Chanyeol, Kai, dan Sehun melihat Xiumin dan Chen tidak tega. Meski mereka terhubung bukan atas dasar pertemuan yang tulus, tapi mereka belum pernah bertengkar satu sama lain.

 

“Apa yang terjadi diantara kalian? Apa yang kalian bicarakan pada HyeRa?!” dia semakin menekan lengannya.

 

Chen terbatuk. Dia sesak karena Suho menyumbat saluran pernapasannya.

 

“Suho, tenanglah” bujuk Baekhyun, “Mereka tidak bisa menjawab kalau kau menahannya seperti itu” Kai angkat bicara.

 

Suho pun membebaskan Xiumin dan Chen yang langsung terbatuk-batuk. Mereka pikir mereka akan mati.

 

“Kalian berani melawanku sekarang? Kalian mau merebut HyeRa dariku?!” tanya Suho sinis. Dia tidak suka orang lain menyentuh mainannya. HyeRa adalah miliknya!

 

“Kami hanya memancing HyeRa dengan membicarakan Adiknya”

 

“Untuk apa!!!” balas Suho cepat. “Kalian tidak punya hak untuk itu!”

 

“Aku tidak akan mengganggumu. Tapi kau juga tidak punya hak mengekang kami” jawab Chen.

 

“Kami juga senang mengganggunya. Tapi cara kami lebih membuatnya nyaman” pamer Xiumin.

 

“Brengsek!” Suho menarik kerah Xiumin.

 

“Akui saja, Suho. Kau menyukainya. Kau menyukai Shin HyeRa”

 

Tangan Suho mengepal kuat. “Tutup mulutmu!” dia siap memukulnya.

 

“Suho!” Kai menahan Suho dengan menarik tubuhnya. Sehun menjauhkan Xiumin dan Chen. Chanyeol dan Baekhyun berdiri diantara mereka.

 

“Berhenti! Kenapa kalian saling berkelahi!” lerai Baekhyun.

 

Xiumin merapikan kerahnya, “Asal kau tahu, HyeRa menyukai pria lain” ucapnya sebelum melangkah pergi dengan Chen.

 

Suho membeku. Tapi secepatnya dia sadar dan menarik tubuhnya dari pegangan Kai. “Lepaskan aku!” dia semakin kesal. Ucapan Xiumin tepat menusuk hatinya.

 

 

 

……………………………………………………..

 

 

 

Sepulang sekolah Jisoo menunggu Sooyong di pintu gerbang. Dia ingin mengantar gadis itu pulang. Meski bukan menjadi tugasnya lagi tapi Jisoo ingin terus menjalin hubungan dengan gadis itu setidaknya menjadi teman.

 

Karena Jisoo tahu perasaannya tidak akan terbalaskan. Dia sadar kalau dirinya tidak pantas bersama Sooyong.

 

Tak lama gadis yang dia tunggu pun datang. Jantungnya berdegup dan dia menjadi salah tingkah begitu Sooyong melihatnya. Dia segera berbalik.

 

“Yah, Bokdong!” Sooyong memanggilnya namun pria itu mengabaikannya, dia terus memanggilnya.

 

“Jisoo!” ucapnya tegas namun terkesan lembut. “Bukankah sudah kubilang padamu untuk memanggilku Jisoo. Ada apa?” tanya pria itu sok acuh.

 

“Kenapa kau belum pulang? Kau menunggu HyeRa? Kalian nampak akrab”

 

“Kenapa? Tidak boleh?”

 

“Aniya. Aku merasa aneh saja. Orang kasar sepertimu bisa lembut saat memperlakukan wanita. Ya sudahlah itu juga bukan urusanku”

 

Kemudian keduanya terdiam, tak tahu harus membicarakan apalagi. Sejak kejadian di taman, hubungan keduanya menjadi lebih canggung dan sikap Sooyong melunak padanya.

 

“Apa kau mau pulang? Aku bisa mengantarmu kalau kau mau” Jisoo menawarinya. Dia membuang muka untuk mengalihkan kegugupannya.

 

“Tidak usah. Aku harus pergi ke kantor Ayah Hoseok”

 

“Untuk apa?”

 

“Kenapa? Kau mau mengadukan hal ini pada Kyungsoo?”

 

“Baiklah. Kau bisa menelponku kapanpun dan aku akan selalu siap untuk membantumu” segera Jisoo menaiki motornya lalu pergi.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

HyeRa berjalan lesu keluar gedung sekolah. Melelahkan sekali hari ini. Teriakan Suho terus terngiang dikepalanya. HyeRa menggeleng kuat. “Pergi pergi pergi!” Sudah cukup Suho mengganggunya di sekolah. Jangan sampai diluar sekolahpun dia merasa terganggu.

 

Mata HyeRa menangkap sosok Hongbin yang keluar karena melihatnya mendekat. Seketika senyum keduanya tertarik. Beban HyeRa terangkat seketika. Dia merasa nyaman setelah melihat Hongbin.

 

Begitu jarak mereka semakin dekat, HyeRa merentangkan tangannya. Dia peluk Hongbin begitu sampai. Dia sandarkan kepalanya didada Hongbin.

 

“Ada apa?” tanyanya lembut sambil membalas pelukan HyeRa.

 

“Mmm, tidak ada”

 

“Benarkah? Apa dia mengganggu nona?”

 

“Sangat!” HyeRa mengangkat kepalanya. “Tadi aku berdoa semoga kepalanya terkena bola lalu dia pingsan dan tidak sadarkan diri selama berbulan-bulan”

 

Hongbin tertawa sambil mengelus rambut HyeRa, “Dan hasilnya? Doa nona terkabul?”

 

HyeRa menggeleng, “Mungkin belum waktunya untuk mati”

 

Hongbin tertawa lagi, “Baiklah. Kita lanjutkan doa nona dalam mobil”

 

HyeRa masih belum mau melepaskan Hongbin. “Kenapa lagi, nona? Kita harus pulang”

 

“Oppa”

 

“Hm?”

 

“Kita jemput HyeJin bagaimana?”

 

Hongbin terdiam. Ada apa dengan HyeRa? Dia sentuh keningnya. “Nona sakit? Apa nona yang terkena bola?” tanyanya tidak percaya.

 

HyeRa tersenyum lebar, “Setelah itu antar kami ketempat makan. Aku harus mengintrogasinya tentang kejadian semalam”

 

“Sepertinya akan ada hubungan yang membaik” goda Hongbin.

 

“Hmhm~” HyeRa memeluk Hongbin lagi. Pria itu membiarkan HyeRa menempel padanya. Dia kaitkan tangannya dibelakang punggung HyeRa.

 

Dari kejauhan Suho melihat kedekatan HyeRa dengan supirnya. Matanya terbakar. Nafasnya memburu. Bukti dari perkataan Xiumin dia dapatkan langsung dengan matanya sendiri. Apa itu pria yang HyeRa suka? Supirnya sendiri?!

 

Suho tidak akan membiarkan mereka bahagia dalam waktu lama. Jika HyeRa tidak menjadi miliknya, maka orang lain juga tidak akan bisa.

 

 

 

 

 

tbc ~

Iklan

2 thoughts on “Love Killer (Part 4)

  1. “jika hyera tidak jadi miliknya maka orang lain pun tak akan bisa” uuuhhuuyyyy keyen banget dah ah si suho hehehe… 😀

    gua masih bingung sama jisoo dan sooyong mereka ini saling suka atau gimana ya?
    ko kayanya si sooyong perhatian gitu sama si jisoo tapi kenapa gua kaga suka ya kalo sooyong sama jisoo?
    ayo dong author munculin kyungsoonya gua kaga suka kalo sooyong endingnya sama jisoo kaga redo gua hiks..hiks..hiks…. (T_T)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s