Unlogical time (Part 2)

PhotoGrid_1453032335183[1]

UNLOGICAL TIME? #2

Author : Blue Sky

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Cast : Oh Sehun & Song Daera (and Other cast)

Genre : Fantasy, Married Life

Unlogical Time?

 

~*~

Daera berusaha bergerak agar terlepas dari tangan sehun yang masih memeluk pinggangnya, Namun gerakannya membuat Sehun menggeliat, mendekati wajah Daera dan semakin memeluk pinggangnya dengan erat. Wajah Gadis mungil ini mulai memerah, Seketika Ia berteriak dan membuat suaranya melentang ke seluruh penjuru ruangan. Sehun terkejut dan segera bangun, matanya menyipit dan rambut yang menjuntai kesana kemari “Daera? Kau kenapa,eoh?”

 

Dengan ketakutannya yang menjadi-jadi, membuat Gadis mungil ini segera meraih bantal di sampingnya dan menimpuk Sehun berkali-kali.

“Aku di mana?”

“Ah! Saki..”

“Kenapa kita di sini?”

“Ya! Dae..”

“Cepat jawab aku”

“Aw, Hentikan”

 

Daera menghentikan aksinya menimpuk kepala Sehun, dan seketika ia terbelalak sadar bahwa ia masih berada satu selimut dengan lelaki itu. Segera ia ke tepi ranjang sambil menarik selimut hingga mencapai ke dagunya “Apa yang kau lakukan padaku,eoh?

“Apa?”

“Kau menculikku?”

Sehun memutar bola matanya “Apa yang kau bicarakan?”

Daera melihat sekeliling kamar yang cukup luas dengan perasaan takut.

 

Tok! Tok!

Suara ketukan terdengar di balik pintu besar berwarna putih “Itu pasti Ahjumma, apa Daehun menangis lagi?”

“Daehun?”

Sehun memukul jidatnya “Apa sekarang kau lupa anakmu sendiri?”

Mendengar perkataan Sehun membuat Daera seketika terbelalak “Mwo? Anakku? apanya yang anakku?”

 

Terdengar desahan dari lelaki itu “Otakmu bermasalah pagi ini, apa kau bermimpi buruk semalam?” Sehun mengarahkan jari telunjuknya, menyentuh dahi Daera “dan Oh Daehun itu kau anggap siapa? Dia anakmu dasar mungil”

Sedetik kemudian lelaki itu pun tersenyum dan dengan singkat mengecup bibir mungil Daera “Good morning”.

Daera mematung dengan posisi menutupi dirinya dengan selimut hingga ke dagunya, Sehun dengan cepat beranjak dari ranjang besarnya. Lelaki bertubuh tegap ini melangkahkan kakinya menuju pintu besar berwarna putih tulang yang sedari tadi terdengar suara ketukan dari luar sana.

 

Lelaki itu pun membuka pintu besar tersebut, mendapati seorang wanita parubaya yang tersenyum hangat padanya “ Selamat Pagi tuan, maaf membangunkan anda sepagi ini” Wanita parubaya itu membungkuk pada Sehun.

 

Ahjumma? Kenapa? Apa Daehun menangis lagi?”

Ne, Putra anda menangis dan memanggil ibunya, tuan”

Sehun mengangguk “eo, Tunggulah. Daera akan turun sebentar lagi”
Wanita parubaya itu membungkuk dan segera pergi meninggalkan Sehun.

 

~*~

Daera masih dengan perasaan bingungnya, ia masih saja mematung dan tak berubah dari posisi sebelumnya. Memperhatikan setiap sudut ruangan yang sangat luas, dengan nuansa berwarna putih tulang dan abu-abu serta jendela besar yang terletak tepat di samping kanan ranjang menghadap pada taman yang hijau dan memliki banyak hiasan bunga bermekaran.

 

Apa ini mimpi? Ataukah surga? Dalam benak Daera. Sehun berbalik dan kembali menutup pintu “Kenapa kau masih di situ? Kau tidak mencuci mukamu? Cepatlah kebawah, Daehun memberontak lagi”

“Ke bawah?” Daera memasang ekspresi melongo yang membuat Sehun semakin mengendus “Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau marah padaku karena aku pulang larut sem..”

Daera memotong pembicaraan Sehun “Tunggu, Se.. Sehun-ssi”. “Aku tahu kau marah padaku, tapi bisakah kau tidak memanggil suamimu dengan panggilan formal?”

Daera mencerna kembali perkataan lelaki itu “Suami?” Seketika ia teringat akan kejadiannya ketika ia pulang menuju apartemennya “Apa ini masa depan?”

“Apa?”

 

~*~

Kini Daera berada tepat di depan tangga besar, ia memperhatikan ruang tengah rumah yang bisa terlihat dari atas. Ruang tengah yang sangat luas dan terdapat hiasan keramik disetiap sudut ruangan maupun juga sofa berwarna cream, Daera terpanah melihat setiap sudut ruangan tersebut, Untuk menuruti perkataan Sehun. Kini ia menuruni setiap anak tangga dan tampak kebingungan dengan seisi rumah yang layaknya istana baginya.

“Apa aku bermimpi sungguhan?” Ia menampari pipinya sendiri dan merasakan kesakitan, pikirannya mendakan bahwa jika ia merasakan sakit saat menampar dirinya berarti ini semua nyata.

Seorang wanita parubaya tersenyum setelah melihat Daera yang beru saja menuruni tangga “Selamat pagi, Nyonya” Sambil membungkukan badannya. Daera awalnya kebingungan namun ia membungkuk juga pada wanita parubaya tersebut.

 

Suara samar terdengar, seperti suara tangisan seorang anak laki-laki. Ia mengerutkan kening, mendengar di mana sumber suara tersebut “Maaf Nyonya, Putra anda Daehun menangis ingin bertemu anda”

“Aku?”

“Ya, Nyonya” wanita parubaya itu menuntun Daera menuju sebuah kamar yang terletak di sudut kiri rumah, Suara tangisan itu sangat jelas terdengar di balik pintu berwarna coklat itu. Ia mencoba membuka ganggang pintu dengan perlahan, saat pintu tengah terbuka Daera meluruskan pandangannya mendapati seorang anak laki-laki dengan rambut hitam pekatnya memakai piayama merah serta air mata yang sudah membasahi pipinya.

 

Seketika anak itu memandangi Daera yang masih mematung di ambang pintu, Ia segera turun dari ranjangnya dan berlari menghampiri Daera kemudian memeluknya dengan erat “Ibu”

 

Daera seketika mematung melihat anak lelaki yang tengah memeluknya atau lebih tepat memeluk kakinya akibat tubuhnya yang masih mungil “Dae.. Daehun?” ucapnya dengan terbata-bata.

Anak yang bernama Daehun itu mengangkat kedua tangan mungilnya “Ibu, gendong aku”

eo?”

 

~*~

-Kau di rumahkan? Ingat janjimu hari ini, oke?”­­­­- Sehun membaca pesan singkat yang baru saja terkirim ke ponsel Daera, mengenali nama sang pengirim pesan. Ia segera kembali meletakkan ponsel itu di atas meja nakas, dan berbalik menghadap cermin memeprhatikan penampilannya yang telah berbalut kemeja berwarna putih.

“Daera?” Suaranya melenting hingga ke penjuru ruangan, memanggil sosok gadis berambut pendek itu. Namun nihil, gadis itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sedari tadi Sehun menggerutu mengatur dasinya yang tidak bisa terpasang dengan rapih “dimana dia?”

Sedetik kemudian, Daera memasuki kamar tersebut mendapati lelaki yang tak asing baginya sedang mengomel sendiri sambil menghadap pada cermin.

“Sehun?” sontak lelaki itu berbalik dan tersenyum segera menghampirinya dan menyodorkan sebuah dasi tepat di hadapannya “Pasangkan ini” kening Daera berkerut samar, “Kau tidak bisa memasang dasi?”

“Tentu saja, biasanya kau yang memasangkan”

“Biasanya?”

Sehun menyadari sikap aneh istrinya sejak pagi tadi, memperhatikan wajah Daera yang pucat sedang serius memasangkan dasi pada kerah bajunya “Apa kau sakit?”

Daera mendongakkan kepala, lebih tepatnya bukan sakit tapi ia bingung sekaligus ketakutan bangun di pagi hari dengan mendapati seorang lelaki yang tidur bersamanya dan mengaku sebagai suaminya serta seorang anak yang memanggilnya Ibu. “Kau tidak apa-apa?”

“entahlah” ucapnya lirih, “Sudah selesai” Sehun mengambil jas yang ia letakkan pada sandaran kursi “mandilah, aku menunggumu sarapan di bawah” dan dibalas anggukan oleh Daera.

“Oh ya, tadi Eunji mengirim pesan di ponselmu. Apa kalian ada janji hari ini?”

Seketika Daera terkejut “Eunji eonni?

~*~

Daera segera menyambar ponsel yang dikatakan Sehun bahwa Eunji telah mengirimi pesan, Ia sekarang telah memakai baju kaos putih longgar serta rok hitam yang menutupi hingga lututnya, lebih normal dari pada pagi tadi memakai piyama couple yang sama dikenakan oleh Sehun.

Ia segera menguhubungi Eunji yang tertera pada kontak ponselnya, setidaknya Daera masih bisa mengetahui seseorang dan berharap penjelasan apa yang terjadi padanya kali ini.

Yeoboseyo?”

Eonni? Kau di mana sekarang?”

“Aku sedang di supermarket, kenapa?”

Daera mendesah “eonni, Bisakah kau datang di sini?”

“aku akan datang ke rumahmu sehabis belanja, oke?”

“Oke” Tutupnya.

 

Perut gadis itu tiba-tiba mengeluarkan suara aneh, Ia mengusap perutnya “Ah, aku lapar” dan segera keluar dari kamar melangkahkan kakinya menuju tangga dan menuruni setiap anak tangga tersebut, mencari di mana letaknya ruang makan. “Nyonya, apa anda tidak sarapan bersama Tuan?” Daera terkejut mendapati wanita parubaya itu lagi, “Ah, Ne?

“Tuan dan juga putra anda tengah sarapan”

“Oh, begitu? Dimana ruang makannya?” Ahjumma itu sedikit kebingungan namun ia menunjukkan di mana letaknya ruang makan “Di sana Nyonya”

Kamsahamnida” Daera membungkuk lalu pergi berlalu, tidak memperdulikan sikap anehnya yang membuat Ahjumma tersebut masih dalam ambang kebingungan.

 

Daera ragu untuk melangkahkan kaki memasuki ruang makan, namun perutnya terus saja menggerutu. Dengan mantap ia memasuki ruang makan, Melihat Sehun dan juga Daehun yang duduk manis menyantap roti dan juga segelas susu. “Ibu” Tegur Daehun, sontak membuat Daera agak terkejut “eo?”

“makanlah, apa kau masih sakit?” Lanjut Sehun dan di balas gelengan oleh Daera “Anniy

“apa ibu sakit?” Tanya Daehun, “Padahal aku ingin ibu yang mengantarku ke sekolah”

Sehun mengelak “Apa kau tidak mau Ayah yang mengantarmu?”

Daehun dengan cepat menggeleng “Soalnya ayah tidak pernah membelikanku permen”

“Apa?” Sehun mendengus, menerima kenyataan bahwa anaknya sendiri yang menolaknya hanya karena sebuah permen “Makanlah cepat, kau bisa terlambat sekolah”

 

Daera menduduki kursi yang agak berjauhan dengan Sehun, membuat kening lelaki itu berkerut samar “Kenapa kau di sana? Duduk di sampingku” Lelaki itu menepuk sebuah kursi tepat di sampingnya, membuat Daera tersenyum cengir dan menuruti perkataannya.

 

Sehun segera menyambar sebuah roti dan mengoleskan selai kacang pada roti itu dan menyerahkannya pada Daera, “Ini makanlah”

Ne?

“Apa kau berbicara formal lagi?”

“Ah.. itu.. em” gumamnya tak jelas

Sehun kembali menyodorkan roti “Ini makanlah” dan segera di terima oleh gadis itu.

 

Sehun melihat jam yang melingkari tangannya “Ah, sudah jam 7” Ia menegakkan tubuh tingginya, merapikan jas yang melekat pada tubuh tegapnya. “Sebentar lagi ada rapat di perusahaan” Ujarnya dan segera mengecup kening Daera, “Aku pergi dulu”

 

“Daehun, cepatlah” Daehun mengambil tasnya dan memasangnya dengan mantap pada tubuh mungilnya, segera mendatangi Daera, “Ibu aku pergi dulu, annyeong” Melambaikan tangannya, Sehun tersenyum dan kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan Daera yang masih terpaku melihat sikap dua orang yang begitu asing baginya.

 

~*~

“Ini gila!” , Gadis berambut pendek ini telah menduduki kursi taman yang berada tepat di belakang halaman rumah istana itu. Berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi? Ia berusaha mengingat kejadian sebelum ia berada di sini. “Bukankah semalam aku pulang? Dan, bertemu dengan seorang anak perempuan, Na ra?”

“Mengantarnya pulang sampai ke apartemennya” dan tiba-tiba ia teringat akan jam yang diberikan pada Na ra, “bukankah dia bilang bisa melihat masa depan?” Celotehnya dengan tak jelas.

 

“Daera-ah” Terdengar seseorang berteriak memanggil namanya, dan suara itu tidak asing baginya. Sontak ia berbalik menengok pada sumber suara “Eunji eonni?”

Daera berlari dengan cepat dan memeluk Eunji “Ah, Sykurulah. Aku kira akan mati di sini”

“Apa? Mati? Heol, Belum sampai tiga hari kita tidak bertemu kau sudah sangat merindukanku seperti itu, eoh?

eo, aku sangat rindu” dan kembali memeluk erat Eunji

“Sampai kapan kau akan memelukku terus?” Daera menyengir, “Mian, Ayo kita duduk”

 

Mereka berdua tengah duduk dan menikmati secangkir teh yang baru saja di buat oleh Ahjumma, Daera memperhatikan dengan seksama wajah Eunji yang tidak terlalu banyak berubah hanya saja ia mulai terlihat lebih dewasa. Juga memperhatikan style Eunji yang bisa terbilang sangat cantik “eonni, sebenarnya ada yang ingin kuberitahukan padamu”

Eunji meletakkan secangkir tehnya “Apa itu?”

Lanjut Daera “Sebenarnya..”

 

~*~

“Apa? Kau tidak mengingat sama sekali kehidupanmu selama ini? Dan kau berpikir umurmu masih dua puluh dua tahun?” Celoteh panjang lebar Eunji yang telah mendengar penjelasan dari Daera.

“Apa kau gila? Atau habis saja kecelakaan?”

Anniy!!” Bantah Daera, “Aku bahkan terkejut saat semalam aku masih mengerjakan tugas kuliahku kemudian tertidur, namun bangun dengan situasi yang aneh”

“Lalu? Apa kau sudah memberitahu pada Sehun?”

Daera menggeleng “Mana mungkin aku memberitahunya, aku tidak mengenalnya eonni

Eunji terkejut “kau tidak mengenalnya? Bahkan selama 6 tahun kalian telah menikah..”

“APA? 6 TAHUN?”

 

omo!” Eunji terjungkal sambil memegang dada berharap jantungnya tak akan copot “Jangan mengagetkanku seperti itu”

“Kau bilang 6 tahun?”

Eunji mengangguk “eo, Itulah kenyataannya”

“Sejak kap..”

“Dengar! Aku tidak tahu apakah kau memang dari masa lalu atau apalah, Bahkan kau yang masih menganggap umurmu 22 tahun” Lanjut Eunji “Sekarang usiamu 29 tahun, Rumah ini adalah Rumahmu dan Oh Sehun yang kenyataannya adalah suamimu pemilik Grand Younghwa Corporation, Dan kau telah mempunyai seorang anak, Putra penerus keluargamu yang bernama Oh Daehun. Kau harus memperhatikan wajahnya, dia sangat mirip denganmu. Usianya 5 tahun dan bersekolah di taman kanak-kanak Jisu”

Daera mendengar celotehan panjang lebar Eunji yang membuatnya terdiam “Apa ada yang perlu ku jelaskan lagi?”

 

Daera mengacak rambutnya frustasi “Ini gila! dalam waktu semalam usiaku bertambah 7 tahun terlebih lagi telah menikah dan mempunyai anak”

“Itulah kenyataan” jawab Eunji

“Apa yang harus kulakukan?” Eunji menghela nafasnya “Saranku, hiduplah seperti biasa menjalani kehidupan sebagai Nyonya Oh dan Ibu Daehun”

“Kau tidak mempunyai pilihan” jawab eunji dengan singkat.

 

TO BE CONTINUED

~*~

Helloo^^)/ terima kasih yang telah membaca ff ini dari awal hingga akhir jangan lupa di comment yaa, Untuk yang telah Comment di ff Unlogical Time sebelumnya termiakasih ^^ bikin author jadi semangat bikin chap selanjutnya. Aku harap kalian suka dengan ff ini, See Next Chapter ^^)/

Iklan

26 thoughts on “Unlogical time (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s