Beautiful Gwishin (Chapter 8)

Title : Beautiful Gwishin (chapter 8)
Author : Author Carrol
Genre : Fanfiction, Teen romance
Length : Chaptered
Rating : Teen
Main casts : Kris, Apink Hayoung
Other casts : Chanyeol EXO, Eunji APink, etc.

 

Hai, readers-deul. Udah lama banget ya gak ketemu kalian -_-‘ apa kabar nih ?
Maaf banget aku baru lanjutin FF ini lagi. Awalnya kepikiran buat gak ngepost lagi di exofanfics karena ceritanya udah lumutan :’| karena aku juga ngantri email dari banyak orang yang ngirim ff kesini juga jadi aku pikir ini cerita udah basi banget kalo dilanjutin lagi. Tapi aku pikir-pikir lagi apa salahnya ceritanya dilanjutin daripada digantung kan sakit #eaa
Lagian entah kenapa aku juga kangen ngepost disini lagi. Udah lama banget gak ngikutin exofanfics dan perkembangannya udah gimana. Aku juga udah gak fangirling lagi kayak dulu, soalnya sekarang thor udah mulai banyak kesibukan karena udah kuliah *yah malah curhat* (dulu pas awal-awal ngepost thor masih kelas 2 SMA)
Yaudah deh daripada kebanyakan cerita langsung aja ke ceritanya. Happy reading~
Oh ya satu lagi.. author ingin berterimakasih bagi kalian yang setia untuk menunggu post-an dari thor (?) makasih atas pujian kalian yang bilang ff ini ‘keren’ ^^ thor jadi geer. Padahal pas thor baca thor mikir kok gaje bgt nih cerita. Dan karena comment-comment dari kalian thor jadi makin semangat nulis. Jadi… kan thor udah mau tamatin ini ff, nah kalo ini ff udah tamat, thor ingin kasih sebuah quiz(?) bagi yang bisa jawab quiz nya (pastinya yang paling pertama jawab) thor pengen kasih sebuah hadiah untuk salah satu dari kalian. Gimana ?? Makanya ikutin terus ff ini (?)
~***~
Last chapter….
Kris’ POV
Hyoyoung mendatangi ku, aku tidak menyangka akan bertemu dia disini. Apa dia membuntuti ku?
“Aku ingin mendengar jawaban atas pertanyaanku kemarin..” katanya. Aku dengan sigap mengatakan bahwa aku tidak dapat menerimanya. Aku memang menyukai dia, tapi itu dulu, sudah lama sekali. Dia bukan cinta pertamaku. Bagiku itu hanya kenangan bodoh semasa kecil. Bagaimana bisa seorang anak bocah jatuh cinta? Mungkin aku hanya sekedar tertarik padanya.

Aku berjalan meninggalkan Hyoyoung dan mendekati Hayoung. Aku menyodorkannya sebuah es krim. Iya tersenyum manis sambil meraih es krim dari tanganku. Aku sangat suka senyumannya. “Gomawa.” Ucapnya singkat.
“Sunbae, ngomong-ngomong….” Hayoung mulai membuka mulut setelah daritadi kita hanya terdiam sesaat. Aku pikir dia ingin menanyakan Hyoyoung, jadi aku langsung saja menjelaskan padanya. Aku ingin Hayoung tahu kalau aku tidak punya hubungan spesial dengan satu gadis pun. Aku hanya ingin menjalani hubunganku dengannya.
“Hyoyoung-a? Ani. Dia bukan yeoja-chinguku..” aku langsung memotong.
“Aniya. Bukan itu yang ingin aku bicarakan. Ini sudah terlalu larut. Sebaiknya kita pulang saja.” Ujarnya. Aish, aku malu sekali. Wajahku terasa panas karena malu. Aku menunduk menyembunyikan pipi ku yang memerah
***
“Ah, iya, benar juga… kajja, kita pulang saja.” Aku tanpa babibu langsung memegang tangan Hayoung sambil berjalan. Reaksi Hayoung agak kaget dan tidak percaya.
Kami berjalan menuju stasiun kereta yang tak jauh darisana. Kami berdua sama-sama merasa canggung. Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku merasa kaku seperti ini. Jantungku berdebar sangat kencang daritadi sampai aku tak berani menatap wajah Hayoung, karena jantungku bisa copot.
“Sunbae…” panggilnya.
“Ne? Aku kan sudah bilang jangan memanggil ku dengan sebutan itu,” ujarku tapi tidak menatap wajahnya. Aku tahu pipiku sudah memerah.
“Kuraesseo, oppa.” Jawab Hayoung dengan suara lembut. Jantungku seperti menari-nari ketika mendengar suaranya yang seperti itu, ditambah lagi dia memanggilku dengan sebutan oppa aku merasa begitu spesial. “Tadi, aku ingin bilang terimakasih atas traktiran eskrimnya,” ujarnya sambil terkekeh.
“Oh, ya, sama-sama.” Ujarku sok dingin. Tanganku masih memegang tangannya.
“Tanganmu hangat sekali, oppa.”
“Eoh..” aku refleks melepaskan tanganku darinya. “Mianhae..”

“Ah.. gwaenchana. Kenapa oppa minta maaf?!” tak lama kemudian kereta yang akan ditunggangi Hayoung telah datang. “Ah, keretanya sudah datang. Terimakasih untuk malam ini, Kris oppa. Aku senang. Jaljayo.” Dia melambai tangan padaku dan langsung berlari kecil menuju gerbong. Aku membulatkan bibir sambil melihatnya pergi. Rasanya aku ingin mencegahnya untuk pulang dan tetap di sampingku. Aku menatap siluetnya dari jendela gerbong. Ia terus melambai tangan ke arahku. Aku tersenyum dan membalas lambaiannya. Dia terlihat sangat polos dan cute. Sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak sambil memimpikannya.
~***~
Author’s POV
Kris baru saja datang dari balik pintu. Dia melempar tasnya di atas meja, tepat di sebelah Chanyeol, sahabatnya. Kemudian dia duduk sambil melamun. Chanyeol melambaikan tangannya di depan mata Kris, tapi Kris tidak juga sadar. Chanyeol terkekeh pelan karena geli melihat ekspresi sahabatnya yang tak biasanya seperti ini. “Kris, ayo kita main basket!”
Karena tidak mendapat respon, Chanyeol menegurnya sekali lagi. “Kris? Kau sedang sakit?” Kris tidak menjawab. Ia terus melamun seperti tadi. “Hya, Kris!! Kau dengar aku tidak???”
“Yeollie…” ujarnya kemudian.
“Waeyo? Kau aneh akhir-akhir ini. Sebenarnya ada apa?”
Kris menatap Chanyeol dengan wajah yang aneh. “Sepertinya aku sedang jatuh cinta,”
Chanyeol yang melihat ekspresi Kris tidak dapat menahan tawa. Dia terbahak sampai perutnya sakit. Kris terlihat seperti anak SD yang baru saja puber. “Kris, aku baru pertama kali melihat mu yang selalu cool jadi aneh seperti ini. Memangnya siapa gadis itu? Tumben sekali kau curhat tentang hal seperti ini. Ah, aku tau, gadis itu pasti Hyoyoung kan?” Chanyeol langsung menebak sangat sok tahu.
Kemudian Kris teringat kejadian kemarin saat Hyoyoung menyamperinya. “Aniya!!! Bukan Hyoyoung. Haish…” Kris melongos
“Mwo? Tapi Hyoyoung cerita padaku kalau dia menyatakan cinta padamu. Apa kau menolaknya?”
“Hmm… sebenarnya kau lebih cocok dengannya. Ah, tapi itu tidak penting. Aku ingin meminta bantuanmu.”
“Bantuan apa? Aku siap membantumu.”
“Aku ingin menembak gadis ini, tapi aku takut dia menolakku. Apa yang harus ku lakukan?”
“Aigooo….. kalau soal itu kau bertanya pada orang yang tepat. Karena aku sudah sangat berpengalaman soal ini,” ujar Chanyeol kepedean. “Pertama kau harus mendekatinya, mencari tahu apa yang dia suka dan yag dia tidak suka, kau juga harus tau apa hobinya dan mendekati sahabatnya.”
“Begitu ya…” Kris manggut-manggut. “Tapi.. kayaknya ini bakalan susah. Dia berbeda dengan gadis lain yang mudah aku ajak kencan. Aku lebih sering mendapat penolakan darinya. Terus bagaimana aku bisa dekat dengannya.”
“Mungkin kau bisa meminta bantun pada sahabatnya,”
Kemudian Kris melihat Eunji yang baru saja datang ke dalam kelas. “Selamat pagi semua.” Sapa Eunji pada seisi kelas.
“Memangnya siapa gadis itu?” Chanyeol makin penasaran. Dia meruncingkan matanya.
“Kau juga tau nanti.”
“Huaahhh… kau menyebalkan! Aku sudah memberimu tips tapi kau malah merahasiakannya dariku. Aku ini kau anggap apa sebenarnya?” Chanyeol menggembungkan pipi sambil melipat tangan. Kris terkekeh melihat ekspresi Chanyeol yang sedang ngambek. Bagi Kris Chanyeol sangat lucu saat seperti itu.
~***~

Hayoung’s POV
Akhirnya usai sudah hari terakhir aku belajar di sekolah ini. Aku pasti sangat merindukan semuanya, Seoul, sekolah ini, kenangan buruk selama disini, Kris yang membully ku. Ah, terutama namja yang satu itu. Awalnya dia memang jahat padaku, tapi lama-lama aku mulai menyukainya. Entah ini hanya sekedar kagum atau tidak.
Aku dan sekeluarga akan pindah ke Jepang. Memang ini sangat mendadak. Eomma baru memberi tahuku beberapa hari yang lalu. Ayah akan pindah kerja disana. Eomma memutuskan akan menjual rumah ini. Aku sudah membujuk eomma untuk tidak menjualnya. Karena semua kenangan tentang hidupku ada di rumah itu. Dan akhirnya aku bisa meluluhkan hati eomma. Kata eomma rumah ini tak akan dijual. Kami akan mengunjungi rumah sesekali jika kami merindukan Seoul.
Aku memang tidak cerita pada siapapun soal ini, kecuali Eunji eonnie dan para guru.
***
Saat berjalan ke arah parkiran, aku melihat Eunji eonnie dari kejauhan. Dia sedang bicara dengan seseorang. Aku mendekat untuk melihat sosoknya lebih jelas. Ternyata itu Kris oppa. Deg. Jantungku langsung berdebar begitu melihatnya.
“Eh, itu dia.” Ujar Eunji eonnie sambil menunjuk ke arahku. “Ada apa eonnie?” tanyaku mengerutkan dahi. “Kebetulan hari ini aku tidak bisa mengantarmu pulang, aku minta maaf. Aku ada urusan. Tapi aku sudah minta bantuan Kris untuk mengantarmu pulang. Kau mau kan?” aku melihat wajah Kris oppa. “Apa oppa tidak keberatan?” tanyaku.
“T, tentu saja tidak.” Ujarnya malu-malu. Dia lekas membukakan pintu mobil untukku. “Kuraesseo, unnie ya. Hati-hati ya eonnie.”
“Ne. Kau juga hati-hati nde?”
Saat aku masuk ke dalam mobil milik Kris, aku melihat dari kaca spion Eunji eonnie mengancungkan jempol seperti memberi kode pada Kris. Kris membalasnya dengan smirk. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu. Pikirku.
“Hayoung-a, apa kau lapar? Kita mampir dulu di kedai mie kesukaanku. Bagaimana? Atau kau ingin makan yang lain?” Kris berbicara sangat cepat sambil menyetir mobilnya. Dia kelihatan bersemangat. Apa dia memang menyukaiku? Aku pikir gadis yang ku lihat di account twitternya adalah kekasihnya. Kemarin aku melihat gadis itu menyamperi Kris dan Kris bilang gadis itu bukan yeoja-chingunya. Sebenarnya aku senang tapi… aku takut Kris akan sangat patah hati karena aku sebentar lagi akan meninggalkan Seoul. Ya, itu tandanya dia tidak akan melihatku lagi.
“Tidak usah, oppa. Aku ingin pulang saja,” ucapku lesu. Sebenarnya hatiku sedang sedih saat ini. Aku memikirkan kepergianku.
“Wae??? Ku mohon.. temani aku sebentar saja. Otthe?”
“Baiklah oppa.” Aku mengiyakan saja. Hatiku makin terasa pilu.
***
Aku mengaduk-ngaduk mie ramen itu dan tidak memakannya, sementara Kris makan dengan lahap sekali.
“Waeyo? Kau tidak suka ramen?” ujar Kris yang melihatku melamun. “Kau terlihat lesu sekali hari ini. Ada apa?”
“Aniya. Gwaenchana.”
“Kau tidak suka makanannya. Biar kita memesan yang lain saja.”
“Aniya. Sebenarnya ini juga ramen kesukaanku.. tapi..”
“Ada apa, Hayoung-a?”
Aku menunduk dan berpikir sejenak. Ku rasa tidak apa-apa jika aku menghabiskan waktu dengan Kris saat ini. Anggap saja ini seperti perpisahan dan akan jadi kencan terakhir ku dengannya.
“Aniya. Gwaenchanayo.” Aku mengambil sumpitku kemudian menyeruput ramen itu dengan semangat. Aku bahkan menghabiskan dua mangkuk. Kris tersenyum lega ketika melihatku memakan ramen itu. Sepertinya dia senang.
Setelah dari kedai itu, Kris mengajakku ke taman bermain yang ada di tengah-tengah kota. Aku suka tempat ini. Waktu kecil appa dan eomma suka mengajakku kesini. Tiba-tiba aku teringat masa itu. Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini. Aku merasa sedih lagi.
Aku dan Kris mencoba berbagai wahana mulai dari roller coaster, bianglala, menaiki sampan, tembak jitu, dan masih banyak lagi.
“Ini untukmu,” Kris menyodorkan sebuah boneka teddy bear warna pink yang ia menangkan dari permainan tembak jitu tadi.
“Gomawa..” ujarku memeluk boneka itu.
“Kau suka?”
Aku mengangguk seraya terenyum hangat. “Aku kasih nama apa ya untuk boneka ini?”
“Bagaimana kalau ‘Galaxy’?”
Aku terkekeh. “Nama yang aneh. Tapi unik juga. Baiklah… galaxy.” Aku tersenyum. Menatap mata Kris.
“Baiklah, ini saatnya. Aku sudah tidak tahan lagi.” Ujarnya tiba-tiba. Aku tidak mengerti apa maksudnya tapi Kris tiba-tiba saja menyentuh tanganku dan dia berlutut seperti akan melamarku menikah. “Hayoung-ah, aku menyukaimu. Maukah kau jadi yeoja chinguku?”
Aku terdiam dan terpaku melihatnya. Ternyata dia memang menyukaiku. Aku sebenarnya senang, tapi ini timing yang tidak tepat. Aku melepaskan genggaman tangannya dariku. Air mataku refleks mengalir dari pelupuk mataku.
“A, ada apa? Apa aku mengagetkanmu? Maafkan aku.” Kris terlihat panik. Dia kemudian berdiri di depanku sambil menyentuh kedua pundakku.
“Aniya.” Aku mengelap air mataku. “Dari awal sebenarnya aku membencimu karena kau selalu jahat padaku. Kau selalu membully aku dan memberi aku julukan ‘gwishin’. Dan kemudian kau membuatku jatuh cinta padamu. Sebenarnya.. aku ingin menjawab ‘ya’ tapi itu tidak mungkin.”
“Waeyo?” terlihat dari raut wajah Kris dia kecewa dengan jawabanku.
“Maafkan aku oppa. Tapi sebentar lagi aku akan pergi.”
“Mwo??” Kris tidak mengerti. Ia memasang wajah kebingungan.
“Appa akan dipindahkan kerja di Jepang. Aku dan eomma akan mengikutinya..” aku tidak melanjutkan penjelasanku lagi karena melihat Kris yang begitu kecewa. Ia menarik napas dan melepaskan tangannya dariku.
“Arasseo. Tidak apa-apa. Aku cukup senang mendengar bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama. Paling tidak aku tidak bertepuk sebelah tangan.” Katanya terkekeh ingin menutupi perasaan hatinya yang sebenarnya sangat terkoyak(?)
“Sepertinya sudah waktunya untuk pulang. Kajja!” Kris mengajakku tapi dia tidak menarikku atau lainnya. Dia hanya memberiku kode untuk mengikutinya dari belakang. Selama perjalanan dia terdiam. Aku tahu dari ekspresinya kalau ia sangat kecewa padaku. Sewaktu sampai di depan rumahku, barulah aku membuka mulut.
“Sunbae, terimakasih atas waktunya. Aku sangat senang bisa menikmati hari terakhir ku di Seoul bersamamu.”
Kris tidak menjawab ia hanya mengangguk. Apa dia marah padaku?
Saat aku hendak membuka pintu, dia menahan tanganku. “Tunggu…”
“Ne?” aku mengadahkan wajahku ke arahnya… tiba-tiba……….. cup.
Dia mengecup bibirku lembut. Ini adalah first kiss ku.
Kami lama hanyut dalam kecupan itu kemudian perasaan Kris tidak tertahan lagi. Ia menarikku dan memelukku erat. Kemudian ia mengecup bibirku lagi dan melumat bibir atas ku dengan bibir hangatnya. Dia mendorong kepalaku agar ciuman kami makin dalam. Kami cukup lama melakukannya mungkin sekitar 5 menit. Entahlah.. yang aku tahu perasaanku seperti melayang-layang di udara. Kris meneteskan air matanya disela-sela ciuman kami. “Aku benar-benar menyukaimu. Aku sangat mencintaimu, Oh Hayoung. Aku harap suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dan aku akan melamarmu.”
Aku hanya menganggap kalimatnya barusan sebagai candaan. Tapi raut wajahnya serius mengucapkan itu.
“Aku akan menunggumu. Aku janji. Apa kau mau berjanji padaku?” ujarnya lagi. Kemudian ia mengambil sesuatu dari kantung bajunya. “Aku sebenarnya ingin memberikan ini daritadi,” ia mengeluarkan sebuah kotak merah kecil berisikan kalung berliontin hati dan mengenakannya di leherku. “Ini supaya kau selalu mengingatku.” Ucapnya.
Aku tersenyum sambil meneteskan air mata. Aku juga ingin memberinya sebuah kenangan. Aku melepaskan gelang yang ku kenakan dan memakinya di tangan Kris. “Ini untukmu juga. Untuk sunbae yang aku sayangi. Good bye.”
TBC

Iklan

2 thoughts on “Beautiful Gwishin (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s