Bittersweet : Favorite Mistake

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung
  • f(x)’s Luna as Park Sunyoung
  • Red Velvet’s Wendy as Son Seungwan

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chapter, currently 11

Previous Chapters : The Circle | He’s My BoyfriendI Hate You | A Weird Dream | ApologyWhat IfShe’s My GirlfriendStupid, Dumb, IdiotTruth Or Dare |  Call You MineI Feel Warm |

^^Selamat Membaca^^

“I’ll never regret. Cause loving you is my favorite mistake.”

***

Sehun menjadi pria yang paling bahagia malam ini. Dengan melingkarnya cincin di jari manis Seulgi, kepemilikannya terhadap gadis itu semakin paten. Selama perjalanan pulang dia tidak bisa berhenti tersenyum. Sesekali ekor matanya mencuri pandang ke arah Seulgi.

“Otot wajahmu bisa spasme karena tersenyum terus,” kata Seulgi yang sadar sedari tadi dipandang terus.

“Bagaimana kalau kita mulai memesan baju pengantin? Atau kita mulai dengan lokasinya dulu? Kau ingin outdoor atau indoor?” rasa bahagianya seolah akan meluap hingga tak bisa berhenti membayangkan soal pernikahan.

“Sehun-ah, aku sudah menjelaskan pada orang tuamu kan, tadi? Akan lebih baik saat kita berdua sama-sama siap.”

“Aku sudah siap, Seulgi-ah.”

“Aku tidak,” potong Seulgi. “Kau juga masih butuh waktu untuk benar-benar mantap.”

Sehun menghela nafas, kemudian menghentikan mobilnya. Memang, pembicaraan mereka tentang pernikahan tadi tidak serta merta berhenti di titik saat Seulgi mengatakan iya. Ada beberapa hal yang Seulgi ajukan sebagai syarat sebelum mereka benar-benar merencanakan pernikahan. Salah satunya adalah tentang dirinya yang baru merasa siap jika sudah menyelesaikan kuliah.

“Aku harap cincin itu tidak melingkar di sana dengan sia-sia. Dan asal kau tahu saja, saat aku memakaikannya di jari manismu, aku sudah benar-benar mantap dengan pilihanku. Aku menginginkanmu, Kang Seulgi. Aku menginginkanmu untuk seluruh waktu yang tersisa dalam hidupku.”

Seulgi tidak mampu menatap Sehun. Wajahnya ia palingkan ke luar jendela, mencari suatu objek, apa pun itu asal bukan tatapan Sehun. Itu membuat helaan nafas Sehun makin terdengar berat. Dia merasa bersalah.

“Maaf, aku tidak bermaksud memaksamu,” ucap Sehun sembari meraih tangan Seulgi, menggenggamnya. “Dengan kau mengatakan iya saja, aku sudah sangat bahagia. Tak apa jika harus menunggu setahun dua tahun lagi hingga kau siap.”

“Oh, ayolah, jangan minta maaf. Aku merasa jadi orang jahat,” wajah Seulgi terlihat gusar. “Maksudku, ini bukan salahmu. Aku mau menikah denganmu, Sehun-ah. Sungguh, aku pun ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu. Tapi ingat, hubungan kita bahkan belum genap setahun. Aku hanya ingin menata diriku sendiri agar menjadi wanita yang sepadan untukmu nanti.”

“Kau tidak akan pernah sepadan untukku,” Sehun mengecup punggung tangan Seulgi. “Bagiku kau terlalu berkilau sampai aku tidak bisa melihatmu dengan jelas.”

“Sehun-ah….”

“Aku mengerti, sayang. Jangan marah, aku tidak bisa tidur dengan tenang jika wajahmu seperti itu,” Sehun mengusap pipi Seulgi. “Kita akan menyiapkan segalanya saat kau benar-benar siap. Aku tidak akan memaksamu.”

“Terima kasih, sudah mau mengerti.”

“A peck on my cheek, perhaps?”

Seulgi tersenyum sekilas, kemudian mengecup pipi Sehun satu kali. “Maafkan aku.”

“Katakan kau mencintaiku saja.”

“Aku mencintaimu, Oh Sehun.”

***

‘Ya, aku mencintaimu, Sehun. Tapi apa kau bisa menerima jika cintaku terbagi untuk orang lain?’

Seulgi menatap langit-langit kamarnya, merenung. Pikirannya tidak akan sekalut ini jika saja Sehun tidak melamarnya. Jika saja Jongin tidak menyukainya. Jika saja Sehun benar-benar memutuskannya beberapa waktu lalu. Jika saja mereka tidak pernah bertemu.

“Jika….”

Terlalu banyak jika yang tidak mungkin terjadi. Semua sudah dan sedang terjadi, harus dia hadapi bagaimana pun caranya. Seulgi tahu betul Sehun sangat bahagia membawa status mereka ke jenjang pertunangan. Sekali pun dia membuatnya menunggu, tak ada sedikit pun kekecewaan yang ia tampakkan. Setidaknya di hadapan Seulgi.

Lamunannya terusik oleh sebuah telpon masuk dari Jongin.

“Halo,” suara Seulgi setelah mengangkat telponnya.

“Aku tidak bisa tidur,” terdengar rendah, suara Jongin. Tampaknya dia ingin bermanja-manja dengan Seulgi kalau saja gadis itu berada di sisinya sekarang.

“Ini sudah lewat tengah malam, tidurlah. Besok aku akan menemuimu di sana.”

Perjanjian bertemu di rumah Jongin adalah yang terbaik yang bisa dia lakukan sekarang. Berbagai hal harus dia upayakan demi menutupi hubungan mereka—yang sebenarnya tidak bermasa depan. Setidaknya, Soojung tidak boleh tahu.

“Baiklah,” Seulgi bisa menebak Jongin sedang tersenyum sekarang. “Biarkan aku mendengar suara nafasmu sampai tertidur.”

“Ya Tuhan, sepertinya kau keracunan drama percintaan,” Seulgi terkekeh.

“Tidak boleh?”

“Kau jadi makin aneh dan cheesy sejak bilang suka padaku.”

“Kau salah,” kata Jongin. “Aku jadi cheesy sejak awal menyukaimu.”

Senyuman Seulgi mengembang. Jongin tahu cara membuatnya tersenyum. Seperti halnya Sehun yang tidak pernah gagal. Ah… kenapa harus ada mereka berdua yang menyesaki pikirannya.

“Jongin-ah….”

“Hm?”

“Ada yang ingin aku beri tahu.”

“Katakan saja, aku dengarkan.”

“Sebenarnya tadi… aku makan malam dengan Sehun,” cerita Seulgi takut-takut, menggigit bibirnya.

“Lalu?”

“Tidak hanya dengan Sehun, tapi juga dengan orang tuanya.”

Sampai di sini dia mendengar helaan nafas panjang Jongin. “Lalu?”

“Sehun melamarku.”

Ada jeda panjang setelahnya. Seulgi menunggu sampai ada tanggapan dari Jongin.

“Mendadak aku punya firasat buruk,” suara Jongin kembali terdengar.

“Firasat buruk apa?”

“Bahwa kau tidak bisa menolaknya.”

Mau bernafas saja rasanya sulit bagi Seulgi. Tapi dia tetap harus mengatakannya karena toh nanti juga Jongin pasti akan tahu. Entah itu dari dirinya sendiri atau orang lain. Lagi pula, bukankah Jongin selalu mengatakan tidak apa-apa? Dia juga mengatakan akan bersabar menunggu hingga waktunya tiba. Seulgi merasa harus memberi tahu Jongin.

“Aku memang menerima lamarannya.”

Ada jeda panjang lagi. Entah kali ini apa yang Jongin lakukan hingga jedanya lebih panjang dari yang tadi. Seulgi menunggu sampai ada tanggapan lagi.

“Sudah menjelang pagi, kita tidur saja. Besok kuliah, kan?”

Seulgi tertegun karena tanggapan itu tidak sesuai dengan bayangannya. Dia bingung, sangat. Harus menanggapinya dengan kata ‘baiklah’ atau tetap bersikukuh dengan topik utama pembicaraan mereka.

“Kau sudah mau tidur?”

“Iya,” jawab Jongin kelewat singkat.

“Kalau begitu, selamat malam.”

Tanpa menjawab ucapan selamat malam Seulgi, telpon terputus. Mendadak firasat Seulgi jadi tidak enak. Dia marah atau apa, membingungkan. Selama ini Sehun tidak pernah marah padanya. Well, sekali itu saat dia mendadak menghilang dan sampai sekarang Seulgi tidak tahu itu karena Sehun marah atau apa. Yang jelas dia tidak tahu bagaimana menghadapi seorang pria yang sedang marah. Dia pikir Jongin akan mengerti dengan keputusannya dan berkata bahwa dia akan bersabar, bersabar, dan bersabar. Bukankah dia sendiri yang mengatakan itu, bahwa akan terus menunggu sampai waktunya tiba?

Yang jadi masalah sekarang, kapan waktu itu akan tiba?

***

“Baiklah, rapat kita akhiri di sini. Minseok dan Jongdae, persiapkan untuk keberangkatan kalian.”

“Siap!”

Semua anggota termasuk Seulgi membenahi barangnya masing-masing. Jongin yang memang biasa menghadiri rapat dengan tangan kosong telah beranjak dari tempat duduknya. Seulgi menatapnya, hendak memberi kode untuk bertemu di bawah, tapi Jongin sama sekali tidak melirik ke arahnya. Aneh. Biasanya Jongin yang akan memberi kode duluan untuk bertemu di parkiran dan mereka bisa mengobrol sebentar di dalam mobil atau bahkan pulang bersama dengan mobil Jongin. Seulgi hanya bisa menghala nafas.

“Seulgi-ah, boleh minta tolong?” tanya Joohyun yang sibuk menata kertas-kertas formulir calon pasien.

“Ya, unnie,” Seulgi meninggalkan tasnya di kursi tadi.

“Tolong tata kertas-kertas ini ya. Aku ada kelas mendadak, sudah dimulai,” pinta Joohyun sambil melirik jam tangannya.

“Akan ku bereskan. Sana cepat pergi,” kata Seulgi menyanggupi.

“Gomapta, kapan-kapan aku traktir,” Joohyun sempat mencubit pipi Seulgi sebelum menyandang tasnya dan berlari keluar basecamp.

“Kami duluan, Seulgi-ah. Annyeong.”

“Annyeong.”

Satu per satu anggota telah keluar, tinggal Seulgi sendirian yang masih harus menjalankan amanah Joohyun tadi. Untung tidak begitu banyak, jadi dalam beberapa menit saja tumpukan kertas itu telah bisa ia rapikan dan disimpan di dalam lemari penyimpanan. Dia mengambil kunci basecamp dari atas dispenser lalu menyandang tasnya untuk pulang. Saat hendak keluar, samar-samar dia mendengar suara percakapan dua orang di luar.

“Dia terlihat polos dan baik, siapa yang menduga akan melakukan hal itu,” setahu Seulgi itu adalah suara Sunyoung.

“Yeah, semua orang menyukai dia. Aku bahkan sempat menyukainya juga karena begitu baik. Kau tahu sendiri kan, kami cukup dekat,” dan yang ini adalah suara Soojung.

Eh—Soojung? Dia ada di luar, mungkinkah dia ingin kembali ke The Circle? Seulgi langsung keluar untuk menyapanya. Benar itu Soojung, kini menatapnya dengan tajam.

“Memang benar kata orang,” Sunyoung yang tadi posisinya membelakangi Seulgi kini berbalik. “Wajah cantik tidak menjamin hatinya juga cantik.”

Seulgi tertegun di tempatnya. Tatapan kedua gadis ini begitu mengintimidasi seolah tidak mengizinkan dia menghela nafas bahkan untuk sekali saja.

“Sunyoung-ah, apa kau tahu apa sebutan seorang teman yang merebut pacar temannya sendiri?”

“Apa?”

“Teman makan teman,” kata Soojung tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Seulgi. “Kau harus berhati-hati pada orang seperti ini. Dia mungkin terlihat baik, cantik, sempurna bak malaikat. Tapi diam-diam dia membawa belati di balik tubuhnya dan siap membantaimu sampai mati. Tidak, dia tidak membunuhmu dengan sekali tusukan. Dia hanya akan mengiris sedikit kulitmu, lalu membiarkannya berdarah sedikit demi sedikit hingga kau sekarat. Dia seperti ular. Dia wanita busuk.”

Kunci basecamp yang Seulgi pegang terjatuh karena tangannya gemetar. Tatapan Sunyoung dan Soojung membuatnya tidak punya nyali untuk sekedar menyapa. Dia tahu betul yang mereka bicarakan adalah dirinya. Seulgi segera berlari jauh, sejauh mungkin agar terhindar dari mereka. Ini semakin buruk. Tidak hanya Soojung, bahkan Sunyoung sudah tahu. Tak lama lagi, akan lebih banyak orang yang tahu dan tidak menutup kemungkinan, Sehun juga akan tahu.

“Tidak, Sehun tidak boleh tahu. Sehun tidak boleh….”

Tidak peduli seberapa jauh dia berlari dan berapa banyak orang yang nyaris jatuh karena dia tabrak, Seulgi terus berlari dengan rasa takutnya. Hingga saat dia tiba di ujung tangga Student Center, nyaris saja dia menghantam tubuh Seungwan.

“Yaaa Seulgi!” untung Seungwan langsung menahan kuat tubuh Seulgi dengan mencengkeram lengannya. “Kau sedang dikejar hantu atau apa? Berlari seperti atlet kesasar dan… kenapa wajahmu pucat, eh?”

“Wan-ah…” tanpa sadar Seulgi menitikkan air matanya. “Eottokhe?”

“Hey… kau kenapa?” Seungwan menangkup wajah Seulgi. “Gwenchana? Kau terlihat tidak sehat.”

“Eottokhe, Wan-ah? Eottokhe?”

Seungwan terpaksa menarik Seulgi menjauh dari keramaian karena tangisnya yang mendadak pecah seperti anak kecil. Bisa dikira dia yang membuat Seulgi menangis.

***

“Mwoya?”

“Eottokhe, Wan-ah?”

“Dan kau baru menceritakannya sekarang padaku?” Seungwan malah menjitak kepala Seulgi. “Kau sebut kita teman baik? Hah! Kau tidak menganggapku sama sekali. Sejak berteman dengan Soojung kau melupakanku.”

Seulgi hanya menunduk dan membiarkan Seungwan menjitak kepalanya berkali-kali. Sudah salah fokus, padahal Seulgi berniat meminta solusi atas masalahnya. Ya, Seulgi baru saja menceritakan tentang Jongin pada Seungwan. Cerita yang lengkap mulai dari bagaimana Jongin menyatakan perasaannya, lalu lamaran Sehun, dan terakhir serangan Soojung dan Sunyoung.

“Mian.”

“Tidak perlu minta maaf, aku sudah tahu ini akan terjadi.”

“Maksudmu?”

“Si Jongin itu memang sudah lama menyukaimu. Dia benar-benar laki-laki sejati.”

“Dari mana kau tahu? Ku pikir kau menyukai Jongin.”

“Iya, tentu saja aku sangat menyukainya,” Seungwan bersedekap. “Karena aku menyukainya, jadi tahu kalau dia sangat menyukaimu. Saat malam lelang aku sengaja menceritakan banyak hal tentang Sehun agar dia lebih mudah mendekatimu,” ucapnya sambil tertawa ringan.

“Wan-ah…” Seulgi rasanya lemas seketika. “Kenapa kau lakukan itu?”

“Kenapa? Bukankah pada akhirnya kau menerima cinta Jongin juga?”

“Benar sih, tapi…”

“Lihat, kau tidak punya rasa terima kasih. Ada dua orang pria yang mencintaimu sampai mau mati, Seulgi-ah.”

“Ah… kenapa malah membicarakan itu. Kau sama sekali tidak membantu,” keluh Seulgi yang semakin kesal karena curhatannya pada Seungwan tidak membuahkan hasil.

“Apa yang membuat wajahmu kusut begini? Karena Soojung dan Sunyoung? Hah, anggap saja angin lalu.”

“Bukan,” Seulgi menggeleng cepat. “Apa yang harus aku lakukan sekarang, Wan-ah? Aku benar-benar bingung.”

“Yang harus kau lakukan,” Seungwan duduk di samping Seulgi. “adalah memilih salah satu.”

“Satu?”

“Ya,” Seungwan mengangguk. “Aku tahu sangat sulit memilih di antara mereka berdua. Sehun sangat sempurna dan Jongin banyak berkorban untukmu. Tapi kita tidak boleh serakah, Seulgi-ah. Jika kau tidak bisa menegaskan siapa yang ingin kau miliki, maka semuanya akan tersakiti.”

Sampai di sini Seulgi berpikir keras. Memilih satu di antara Sehun dan Jongin tidak sesederhana memilih jawaban dalam ujian. Dia terlanjur mencintai keduanya. Memang akan lebih mudah memilih Sehun karena sekarang dia sudah memilikinya. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri bahwa hatinya juga sangat ingin memiliki Jongin.

“Lalu siapa yang harus aku pilih, Wan-ah?” tanya Seulgi. Bodoh memang, menanyakan ini pada Seungwan. Padahal ini bukan sesuatu yang bisa dimintai pendapat layaknya memilih satu dari dua sepatu cantik.

“Orang bilang, jika kau jatuh cinta pada dua orang maka pilihlah yang kedua,” jawab Seungwan. “Karena jika yang pertama sudah cukup baik, kau tidak akan jatuh hati pada orang yang kedua.”

“Orang kedua….”

“Sekarang kau mengerti kan? Nah, selamat memilih.”

Mata Seulgi mengerjap. Orang pertama dan kedua. Jadi dia benar-benar harus melepas salah satu? Berarti Seulgi harus melepaskan ‘dia’.

***

Alis Jongin terangkat kala melihat Seulgi berdiri di hadapannya. Seharian dia tidak melakukan apa-apa, hanya di rumah. Sekarang saja dia shirtless dengan rambut acak-acakan. Dia tak peduli.

“Ada apa?” tanyanya seolah tidak melakukan hal yang salah.

“Kau tidak menjawab telponku.”

“Lalu?”

“Sebenarnya kau kenapa? Kemarin kita masih baik-baik saja,” tanya Seulgi setelah mengatur nafasnya kembali. Jongin berjalan ke arah tangga dan Seulgi mengikutinya. “Bahkan pesanku pun kau abaikan.”

“Aku tidak paham di bagian mana masalahnya,” Jongin terus berjalan melewati beberapa pintu hingga tiba di bar pribadinya, tempat ia biasa bersantai.

“Tentu saja ini masalah. Kau tidak pernah seperti ini aku jadi bingung harus melakukan apa.”

“Tidak perlu bingung, abaikan saja dan bersenang-senang dengan Sehun,” sahut Jongin enteng lalu menenggak vodka sebanyak mungkin.

“Apa sekarang kau sedang berusaha putus denganku?”

“Shit,” suara dentingan botol minuman beradu kuat dengan meja, menandakan Jongin meletakkannya dengan kasar. Dia mendekat dan menarik paksa Seulgi dalam sebuah ciuman yang menuntut, tanpa ampun. Seulgi yang terkejut sempat kewalahan membalasnya. Jongin menggigit bibir Seulgi, hingga terasa sebuah cengkeraman pada pundaknya pertanda gadis itu menahan sakit. Barulah Jongin melepaskannya dan Seulgi bisa mengatur nafas kembali.

“Kenapa, Jongin-ah?”

“Lupakan saja.”

“Aku bertanya dan butuh jawaban. Bukan melupakan.”

“Bisakah kau diam saja? Moodku sedang tidak baik sekarang. Aku masih membiarkanmu masuk karena aku merindukanmu. Coba saja kau jadi aku. Mungkin kau akan langsung mengusirku pergi.”

“A-apa maksudmu, Jongin-ah?”

“Aku sudah berusaha sabar sejauh ini. Tidak masalah kau mau menemui Sehun berjuta kali dibandingkan denganku yang hanya sesekali dan sebentar. Atau kau ingin berada dalam pelukan Sehun semalaman sementara denganku hanya sebuah percakapan lewat telpon. Itu yang kau inginkan, aku menurutinya. Kau merasa kesulitan karena takut Sehun tahu tentang kita, aku bisa mengerti. Tapi perlu kau tahu, aku berada dalam posisi yang lebih sulit, Seulgi-ah. Aku nyaris tidak sanggup menahan sakitnya menunggumu tanpa tahu kapan akan berakhir. Lalu sekarang kau ingin menikah dengannya?” Jongin tertawa miris. “Kau tahu, Seulgi. Sejak awal hubungan kita memiliki masa depan yang buram. Sekarang kau sudah menutup masa depan itu sepenuhnya. Dengan menerima lamaran Sehun, secara tidak langsung kau mengatakan bahwa aku menunggu sesuatu yang mustahil datang. Waktu itu tidak akan pernah datang, Seulgi. Kau tidak akan pernah datang padaku dan berada di sisiku selamanya. Kau telah memberikan hidupmu untuk Sehun sementara aku ditinggalkan dengan harapan kosong. Kau telah membuangku,” Jongin sampai terengah saking emosinya. Segala beban pikiran yang menghimpit sejak kemarin ia luapkan. Sedikit lega, namun setelahnya dia kembali menyesal karena melihat wajah bersalah Seulgi.

“Apa aku telah menyakitimu?”

“Sudahlah, lupakan saja. Sudah tidak penting sekarang.”

“Maafkan aku—“

“Tidak,” Jongin meremas rambutnya sendiri. “Jangan pernah minta maaf lagi.”

“Aku bersalah. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain minta maaf,” dilihatnya mata Seulgi yang mulai berair. Sial. Apa dia harus selalu membuat Seulginya menangis?

“Tidak, bukan kau. Ini semua kesalahanku karena aku yang membawamu ke dalam situasi ini. Tolong, jangan menangis,” Jongin mendekat lagi untuk memeluk Seulgi sebelum gadis itu benar-benar menangis. “Jangan. Menangis.”

“Aku ada di sini, Jongin-ah. Aku tidak akan meninggalkanmu. Bisakah kau menunggu sedikit lagi? Atau aku akan memberi tahu Sehun sekarang bahwa aku menjalin hubungan denganmu?”

“Tidak, tidak, jangan,” Jongin mendekap Seulgi lebih erat lagi. “Jika kau melakukan itu, maka kita akan benar-benar berakhir. Aku tidak akan bisa bersamamu lagi.”

“Kenapa begitu? Bukankah justru akan lebih mudah untuk bersama jika Sehun tahu?”

“Pokoknya jangan,” tegas Jongin. Dia punya alasan sendiri kenapa melarang Seulgi. Ya, sudah dia pikirkan dan dia perkirakan. Jika Sehun tahu, maka dia harus benar-benar melepaskan Seulgi. Selamanya.

“Baiklah, aku tidak akan bilang.”

“Janji.”

“Iya, janji.”

“Terima kasih,” ucap Jongin lirih.

“Untuk apa?”

“Semuanya. Kau masih di sini bersamaku.”

“Tidak perlu berterima kasih, aku juga membutuhkanmu di sini.”

“Tetap seperti ini ya. Walau tidak ada seorang pun yang tahu dan mengakui hubungan kita, asal tetap bersamamu seperti ini, aku bahagia.”

“Aku juga bahagia bersamamu, Jongin-ah.”

“Kau tidak akan menyesalinya, kan? Sejak awal hubungan kita dimulai dengan sebuah kesalahan. Sampai sekarang pun, ini adalah kesalahan.”

“Tidak,” sahut Seulgi. “Aku tidak akan pernah menyesal. Karena mencintaimu adalah kesalahan yang paling ku sukai.”

Ya, teruslah begitu dan Jongin merasa cukup. Cinta memang membuat yang merasakannya menjadi setengah gila. Yang benar terasa pahit, yang salah jadi favorit.

***

Kembali pada rutinitas awal mereka, berangkat secara terpisah, bertemu di parkiran lewat kode mata. Jongin tidak memprotes lagi setiap kali pertemuan singkat mereka harus menjadi lebih singkat karena ada telpon dari Sehun atau mendadak Seulgi ada kelas. Yang paling tidak nyaman adalah setiap ada pertemuan dengan The Circle. Sunyoung sudah tahu tentang hubungan gelap mereka dan itu menimbulkan rasa was-was. Beberapa kali Sunyoung menyindir mereka, begitu jelas. Bahkan tak jarang Seulgi mendengar bisikan lirih ‘menjijikkan’ setiap berdekatan dengan Sunyoung.

“Sudah ku katakan, duniamu memang bersama The Circle,” kata Myungsoo dengan wajah sumringah. “Selamat datang kembali, Soojung-ah.”

Dan satu lagi yang paling menyulitkan Jongin dan Seulgi. Soojung kembali bergabung dan anehnya, dia bersikap begitu ramah pada semuanya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dan Jongin. Bahkan tak jarang menggunakan hubungan mereka untuk berkelakar.

“Soojung-ah, bukankah sulit bekerja sama dengan mantan? Setiap hari harus bertemu,” celetuk Baekhyun suatu ketika. Memang kadang si bocah eyeliner ini tidak tahu situasi. Sudah jelas di sana ada Jongin.

“Sulit?” Soojung melirik Jongin, lalu Seulgi. Tampak seringaian tipis di bibirnya. “Harusnya memang sulit. Tapi tenang saja, aku sudah move on.”

“Wah, cepat sekali,” komentar Jongdae dengan wajah takjub.

“Jongin saja bisa dengan mudah mencampakkanku. Kenapa aku harus berlarut-larut meratapinya?”

Baekhyun terbatuk saat mendengar pernyataan Soojung. “Aigoo, enteng sekali mengucapkannya. Kau benar-benar mudah move on.”

“Jongin sendiri bagaimana? Apakah sulit bertemu mantan?” goda Minseok tiba-tiba. Jongin sedikit kaget mendapat pertanyaan seperti itu, hanya bisa menatap mereka semua bergantian, bingung mau menjawab apa.

“Dia bahkan sudah move on sebelum kami putus,” Soojung mewakilinya menjawab.

“Sungguh? Berarti sekarang dia sudah punya pacar lagi? Kenapa kita tidak tahu?” tanya Baekhyun tak percaya.

“Tentu saja kalian tidak tahu. Kalian malah tidak boleh tahu,” Sunyoung yang sedari tadi hanya diam mulai bersuara. Dia menatap Jongin dan Seulgi bergantian, membuat keduanya makin tidak nyaman.

“Kenapa tidak boleh tahu? Siapa pacarmu sekarang, Jongin-ah?” tanya Jongdae penasaran.

“Kalau tidak lebih cantik dari Soojung maka kau adalah orang bodoh,” tambah Baekhyun.

“Hahaha,” Sunyoung tertawa. “Iya, pacarnya pasti jauh lebih cantik dari Soojung sampai dia rela mencampakkannya.”

Soojung menyikut lengan Sunyoung, tampaknya merasa pembicaraan ini makin meluas. Sementara Jongin terus diam, begitu juga dengan Seulgi.

“Kalau begitu bagaimana dengan Seulgi?” kata Jongdae tiba-tiba. “Seulgi, apa kau tahu siapa pacar Jongin sekarang?”

“Benar juga. Kalian kan sangat dekat,” sambung Baekhyun.

“Hah? Aku?” tanya Seulgi sedikit tersentak. “A-aku… tidak tahu. Aku tidak tahu,” jawabnya terbata.

“Astaga, lidahku terasa gatal jadinya,” kata Sunyoung seraya menghentakkan pulpennya ke atas meja.

Keadaan ini semakin tidak sehat saja. Seulgi melirik Jongin, yang balas meliriknya sekilas sebelum berpaling lagi karena tidak ingin anggota lain melihat mereka bertatapan. Harus sampai kapan?

***

“Ah, ujian macam apa itu? Aku tidak bisa menjawab satu pun,” Seungwan mengacak rambutnya frustasi pasca ujian praktikum parasitologi. Seulgi yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli.

“Makanya belajar, jangan nonton konser terus.”

“Kau malah mengomeliku. Kalau hanya menjawab species sih bisa. Tapi itu apa, sampai komplikasi terberatnya. Aku mana belajar itu,” dengus Seungwan lagi.

“Kau menuduhku mengomel sementara omelanmu sendiri lebih panjang dariku,” tawa Seulgi kian lebar.

“Yaaa terserah lah. Aku mau pulang dan berendam untuk merenungi nasib.”

“Dasar,” Seulgi menyentil kening Seungwan sebelum bangkit dan melepas jas labnya.

“Kau tidak mau makan siang dulu?”

“Sepertinya…” Seulgi menjawab sambil mengecek ponselnya. “Sehun menungguku,” lalu menggoyakan ponselnya di depan wajah Seungwan.

“Ya… sana belajar dan biarkan aku merenungi nasib sendirian.”

Seulgi terkikik seiring langkahnya meninggalkan laboratorium. Sambil lalu membaca pesan dari Sehun.

[Text from Sehun]

Sayang, aku sudah di depan

Dan dari Jongin.

[Text from Jongin]

Mine, jangan lewatkan makan siangmu

Bolehkah dia serakah? Dua pemuda ini membuat jantungnya berdebar tak beraturan.

“Seulgi-ah, sepertinya kau meninggalkan buku catatanmu di kelas,” suara salah satu temannya menghentikan langkah Seulgi.

“Buku? Aku tidak ingat.”

“Coba lihat dulu di kelas. Aku yakin itu milikmu.”

Keningnya berkerut. Kalau memang itu miliknya, kenapa tidak sekalian diambilkan? Aneh memang. Tapi karena takut itu benar-benar bukunya, Seulgi pun mengubah arah langkahnya ke kelas.

“Awas saja kalau bukan,” gumamnya saat sudah tiba di pintu kelas. Dia melangkah ke sebuah buku yang tergeletak di atas salah satu meja. Tidak ada siapa pun di kelas karena semua sudah pulang.

Seketika matanya terbelalak. Bukan karena buku itu. Memang benar buku itu adalah miliknya. Tapi keadaan meja yang penuh coretan membuat matanya melebar lebih dari biasanya. Bukan sebuah coretan biasa, melainkan umpatan untuk dirinya. Seulgi tahu betul itu umpatan yang tertuju padanya karena kemarin dia mendengarnya dari Soojung.

WANITA ULAR

WAJAH CANTIK BERHATI BUSUK

TEMAN MAKAN TEMAN

BITCH

BENAR-BENAR MURAHAN

SATU PACAR SAJA TIDAK CUKUP? SERAKAH! ULAR!

Seulgi nyaris roboh begitu saja di kelas hanya karena membaca kalimat-kalimat itu. Rasanya untuk mengambil ponsel yang bergetar dari dalam saku saja dia kesulitan. Tangannya gemetaran saat membuka notifikasinya, dan lebih gemetar lagi saat membaca isi pesan yang masuk.

[Text from Sunyoung]

Pacar yang kau khianati itu sedang menunggu di luar. Ah… aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyapanya. Bagaimana kalau lidahku tergelincir dan mengatakan semuanya?

“A-andwe!” ia langsung melesat keluar kelas secepat yang kakinya bisa. Itu tidak boleh terjadi. Sehun tidak boleh tahu. Sekali pun nanti Sehun tahu, dia tidak ingin yang memberitahukannya adalah orang lain. Biarlah dirinya sendiri yang mengaku pada Sehun.

“Yaaa hati-hati kalau jalan!” beberapa teriakan orang yang dia dorong dan tabrak sudah tak ia hiraukan. Sekarang yang paling penting baginya adalah tiba di depan kampus dan mencegah Sehun berbicara dengan Sunyoung.

Tapi terlambat.

Saat tiba di sana dengan nafas tersengal, dia melihat Sehun sudah berbincang akrab dengan Sunyoung. Sesekali dilihatnya tawa renyah dari Sehun karena gurauan Sunyoung. Apa Sunyoung sudah memberi tahu Sehun? Dengan langkah ketakutan dia mendekati mereka.

“Sehun-ah….”

“Sayang, sudah selesai? Aku kira kau masih lama,” sahut Sehun dengan senyum teduhnya seperti biasa.

“Hai, Seulgi,” sapa Sunyoung sambil tersenyum—tidak, itu adalah seringaian. Seulgi berani bersumpah itu adalah seringaian licik.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Seulgi dengan tatapan tajam ke arah Sunyoung.

“Tidak banyak. Hanya sedikit flashback tentang awal pertemuan kami saat aku menjemputmu dulu. Kau masih ingat?”

“Benar, Seulgi-ah. Aku mengatakan dengan jujur betapa aku sangat takut pada Sehun karena malam itu dia terlihat marah padaku, Soojung, dan Yuri unnie,” cerita Sunyoung.

“Lalu kau datang dan kita di sini,” tambah Sehun seraya merangkul Seulgi dan mengacak rambutnya.

“Seulgi kelihatan tidak sehat. Apa kau cemburu? Aigoo, kalian pasangan yang manis,” puji Sunyoung, yang malah terdengar seperti sindiran di telinga Seulgi.

“Ku rasa tidak. Seulgi baru selesai ujian, mungkin dia kesulitan menjawab soal jadi pucat begini,” canda Sehun.

“Kalau begitu aku tinggalkan kalian saja ya, ada kelas,” Sunyoung mengetuk jam tangannya dan Seulgi merasa lega. “Lain kali kita harus mengobrol lebih lama lagi, Sehun-sshi,” dia menatap Sehun. “Kau adalah pacar idaman semua perempuan. Ku harap Seulgi tidak akan menyia-nyiakanmu,” lalu dia menyeringai ke arah Seulgi.

“Aku anggap itu pujian,” kata Sehun sambil terkekeh.

Seulgi terus menatap punggung Sunyoung yang menjauh. Rupanya itu bukan hanya gertakan, tapi sebuah ancaman. Sunyoung berada di pihak Soojung. Memang sudah jelas, Soojung tidak akan diam saja kalau tahu bahwa Jongin menyukainya. Keadaan semakin kacau dan membuatnya tertekan.

“Kau ingin makan sesuatu sebelum pulang?”

“Tidak,” jawab Seulgi, berbalik menghadap Sehun. “Aku hanya ingin kau tidak pernah menemui Sunyoung lagi.”

“Eh—kenapa?” tanya Sehun dengan wajah bingung. “Kau benar-benar cemburu? Ayolah, kami hanya mengobrol sebentar tadi. Aku bersumpah.”

“Berjanji padaku, Sehun-ah.”

Sehun masih belum paham, tapi menuruti keinginan Seulgi. “Baiklah, aku tidak akan berbicara dengannya lagi.”

Barulah Seulgi bernafas lega. “Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa, aku juga pernah merasa cemburu. Sekarang giliranmu,” ucap Sehun sambil terkekeh.

Tidak, ini bukan rasa cemburu, Oh Sehun. Ini adalah rasa takut akan terungkapnya sebuah pengkhianatan. Dan Seulgi adalah pelakunya.

***

Esoknya seusai rapat The Circle, Seulgi menahan Sunyoung sebelum gadis itu keluar dari basecamp. Dia sudah tidak tahan dengan semua ancaman yang beberapa hari terakhir masuk ponselnya. Menurut Seulgi ini sudah keterlaluan. Ini adalah masalah antara dia, Sehun, dan Jongin. Soojung sudah bukan pacar Jongin lagi dan mereka tidak seharusnya ikut campur urusan orang.

“Ada yang bisa ku bantu?” tanya Sunyoung dengan santai.

“Kita perlu bicara,” Seulgi melihat ke arah Yuri dan Siwon yang masih berada di dalam basecamp. “Tidak di sini.”

“Ya, aku masih punya belas kasihan untuk tidak mengumpatmu di depan orang banyak.”

Seulgi mengepalkan tangannya menahan geram melihat Sunyoung yang tertawa licik dan berjalan mendahuluinya ke tempat yang sepi.

“Sebenarnya apa masalahmu?” tanya Seulgi saat mereka tinggal berdua saja.

“Memang wanita ular tidak tahu diri sama sekali.”

“Jongin dan Soojung sudah putus sebelum kami memulai. Aku tidak merebut Jongin dari siapa pun.”

“Lalu bagaimana denganmu dan Sehun? Astaga, kau percaya diri sekali mengatakan ini padahal kau telah selingkuh.”

“Itu urusanku dengan Sehun. Kau tidak perlu ikut campur.”

Tawa Sunyoung meledak. “Aigoo, ini benar-benar lucu. Aku tidak menyangka kau sangat tidak tahu diri dan serakah. Sebenarnya apa yang kau inginkan? Uang yang banyak? Ku dengar kau berasal dari keluarga dokter juga. Kenapa masih mau menghisap uang orang?”

“Jaga mulutmu!” nyaris saja Seulgi tidak bisa mengatur volume suaranya. “Perasaanku tulus pada Jongin. Aku benar-benar mencintainya, bukan karena apa-apa. Dan aku bersumpah tidak meminta apa pun padanya sejauh ini.”

Sunyoung tertawa mengejek. “Dengar ya, Kang Seulgi yang dipuja banyak orang. Sebesar apa pun cinta pada selingkuhanmu, itu hanya sebuah alibi dari nafsu semata. Kau tidak mencintai Jongin. Kau hanya memuaskan nafsumu yang merasa tidak puas pada pacarmu sendiri,” tangan Sunyoung mendorong kasar Seulgi dari hadapannya, kemudian berlalu.

Seulgi mematung di tempatnya berdiri, kepalanya tertunduk. Dia tidak terima jika perasaannya pada Jongin disebut sebagai hawa nafsu. Perasaannya sungguh tulus, baik pada Jongin mau pun Sehun. Hanya saja, dia tidak mampu memilih. Dia belum bisa melepas salah satu karena keduanya sangat berarti. Lalu apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Ini makin kacau.

***

Dengan langkah gontai Seulgi menghampiri mobil Jongin dan membuka pintunya. Mata lelahnya menatap Jongin yang tersenyum.

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Jongin dengan wajah cemas. Senyumnya seketika hilang. Seulgi membalas genggaman saat Jongin meraih tangannya, kemudian duduk di sebelah kursi kemudi.

“Jongin-ah… aku ingin bertanya sesuatu.”

“Tanyakan saja,” tangan Jongin menyisihkan rambut Seulgi ke belakang telinganya, membuat Seulgi teringat Sehun.

“Jangan lakukan itu,” tangan Seulgi langsung menepisnya. “Aku tidak suka.”

“Owh, aku tidak tahu,” Jongin mengangkat bahu. “Kalau begitu aku lakukan ini saja,” ditariknya Seulgi ke dalam pelukannya. “Gwenchana?” tangannya mulai membelai lembut rambut Seulgi.

“Apa menurutmu aku egois?” tanya Seulgi dalam pelukan Jongin.

“Tidak, kau selalu memikirkan perasaan orang lain. Karena itu kau masih di sini bersamaku,” jawab Jongin.

“Apa yang ku lakukan ini salah?”

“Aku yang paling bersalah, Mine,” Jongin masih menjawab dengan sabar.

“Lalu apa menurutmu yang kita lakukan ini adalah sebuah nafsu belaka? Bukan tulus karena saling mencintai?”

Mendadak Jongin melepaskan pelukannya untuk menatap Seulgi.

“Kenapa tiba-tiba bertanya begini?” tanyanya sambil menatap dalam mata Seulgi.

“Mereka semua bilang aku wanita ular, murahan, jalang, dan perasaanku padamu hanya sebatas nafsu,” tangis Seulgi akhirnya pecah, membuat Jongin kaget. “Aku benar-benar tulus padamu, Jongin-ah. Aku tidak mungkin sejauh ini denganmu kalau tidak benar-benar mencintaimu. Mereka tidak tahu apa-apa. Hiks… hiks….”

“Hey,” Jongin menarik Seulgi kembali dalam pelukannya, mencoba menenangkannya. “Iya, aku tahu. Kau juga mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu. Siapa yang butuh pengakuan mereka, huh? Hanya ada kita di sini. Aku dan dirimu. Mereka bukan apa-apa.”

Seulgi makin menangis meraung-raung seperti anak kecil, dan Jongin terus membelai rambutnya dengan sayang. Wajar jika dia merasa begitu tertekan setelah mendapat terror itu. Selama ini Seulgi terkenal sebagai gadis yang baik, patuh, dan menjaga hubungan baik dengan orang. Belum pernah ada yang melakukan hal buruk padanya karena dia sendiri tidak pernah berbuat buruk pada orang lain. Ini pertama kalinya, dan mungkin sangat fatal hingga dia harus menghadapi tekanan batin seberat ini.

“Jangan menangis lagi, Mine.”

***

[LINE chat with Sehun]

Tidak usah menjemputku. Aku pulang dengan seorang teman.

Benar tidak apa-apa?

Apa ini karena kemarin aku berbicara dengan Sunyoung?

Tidak, bukan. Kebetulan temanku ingin ke apartemen. Jadi sekalian.

Aku sangat khawatir. Bagaimana kalau besok kita kencan?

Baiklah, besok.

Malam. Akan ku jemput.

Iya, sampai jumpa besok.

Aku mencintaimu

Seulgi tidak membalasnya. Bingung, apakah masih pantas mengucapkan ‘aku juga mencintaimu’ pada Sehun. Hari ini dia tidak melakukan banyak kegiatan tapi entah kenapa rasanya lelah sekali.

***

Seulgi tidak butuh banyak persiapan, toh kata Sehun ini hanya sebuah kencan biasa. Dia bahkan keluar dengan ponsel menempel di telinganya karena sedang berbicara dengan Jongin lewat telpon.

“Kalian akan berkencan kemana?” tanya Jongin.

“Belum tahu. Apa perlu ku beritahukan nanti saat sudah sampai?”

“Perlu. Jadi aku bisa memilih tempat yang berbeda untuk kencan kita nanti.”

Senyumnya sedikit mengembang saat mendengar ucapan Jongin. Namun langsung pudar saat melihat seseorang berdiri beberapa meter di depan.

“Seulgi,” Soojung—yang sedang berdiri di sana—menatap Seulgi dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. “Aku ingin bicara.”

Mata Seulgi balas menatap Soojung. “Jongin-ah, aku tutup telponnya dulu ya.”

“Kenapa?” tanya Jongin, merasa keberatan.

“Aku mau berbicara dengan seseorang,” kata Seulgi.

“Apa kau sedang menelpon Jongin?” tanya Soojung.

“Tunggu, apa itu suara Soojung?” rupanya Jongin—entah memiliki firasat atau memang bisa mendengarnya—tahu bahwa Seulgi sedang berhadapan dengan Soojung.

“Nanti ku telpon lagi,” Seulgi langsung memutuskan telponnya secara sepihak, lalu fokus pada Soojung. “Apa sekarang kau akan mengumpatku lagi? Aku akan diam di sini, jadi keluarkanlah umpatan sebanyak mungkin sampai kau puas,” sebisa mungkin Seulgi menahan emosinya, sadar diri bahwa dia berada di posisi bersalah.

“Bukan,” sahut Soojung, masih tanpa ekspresi.

“Lalu mau membicarakan apa? Aku tahu, Soojung-ah, kau sangat membenciku. Aku pun sadar yang ku lakukan itu sangat menjijikkan. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi selain minta maaf agar kalian berhenti memperlakukanku seperti ini.”

“Terus terang itu benar. Aku sangat membencimu sekarang, Seulgi-ah,” kata Soojung. “Sungguh, aku tidak menyangka. Bagaimana bisa kau yang menjadi tempatku berlari saat menangis karena Jongin, justru merebutnya dariku. Aku sangat mempercayaimu. Lalu kau seperti ini, aku jadi… kecewa.”

Memang benar, Seulgi sangat mengecewakan. Temannya saja merasa kecewa padanya, apalagi jika Sehun tahu tentang ini.

“Aku mencoba menghapusnya, Soojung-ah. Bahkan saat dia menyatakannya padaku, aku bersikeras memintanya untuk tetap bersamamu. Aku juga telah mencoba pergi darinya tapi tidak bisa,” Seulgi menggelengkan kepalanya dan menunduk, air matanya sudah tak tertahankan lagi. Dia tidak ingin Soojung melihatnya sekali pun suaranya yang bergetar mungkin terdengar.

“Aku sudah melepaskan dia,” kata Soojung lirih. Kepala Seulgi mendongak, sedikit terkejut karena Soojung tidak mengumpatnya. “Sudah ku relakan dia sepenuhnya. Jadi ku mohon, jaga dia baik-baik. Buat dia jauh lebih bahagia dibandingkan saat bersamaku. Ah… bukankah saat bersamaku, dia tidak pernah bahagia?” dilihatnya Soojung tertawa, tapi ada butiran air mata yang jatuh lewat sudut matanya. Langsung dihapus sebelum sempat jatuh ke tanah.

“Soojung-ah….”

“Anggap saja sudah ku maafkan. Kau tahu kan, aku sangat mencintai Jongin. Awalnya aku benar-benar marah sampai ingin membuatmu menyesal. Tapi melihat Jongin yang begitu melindungimu,” Soojung menghela nafas. “Aku sadar bahwa selama ini dia tidak pernah mencintaiku. Kau—Kang Seulgi—adalah orang pertama yang benar-benar dia cintai dengan tulus.”

“Aku tidak bermaksud—maksudku aku tidak ingin melihatmu sedih juga.”

“Tidak perlu pikirkan tentang aku lagi. Bahagiakan Jongin, mungkin ini yang orang bilang cinta tak harus memiliki.”

“Maafkan aku, Soojung-ah.”

“Kenapa membuang waktumu untuk minta maaf padaku?” Soojung mendekat dan berbisik tepat di telinganya. “Sehun yang seharusnya mendapatkan ucapan maaf terbanyak darimu. Oh, tidak. Bahkan maaf saja tidak cukup. Kau tahu seberapa dalam cintanya padamu, kan? Bagaimana jadinya kalau dia tahu kau telah selingkuh?” entah kenapa ucapan Soojung ini membuat firasat Seulgi tidak enak.

“Apa yang kau bicarakan? Urusan kita hanya tentang Jongin, jangan bawa-bawa Sehun.”

“Begitukah?” Soojung menyeringai. “Sepertinya sekarang Sehun sedang menunggumu di tepi Sungai Han—oh, kalian mau kencan ya?” mata Soojung memperhatikan Seulgi dari kepala sampai kaki. “Tadi aku melihat teman-temanku juga mengarah ke sana, mungkin jika mereka bertemu—“

Cukup. Seulgi tidak perlu mendengar lanjutannya. Dia langsung berlari turun dari gedung apartemennya untuk pergi ke Sungai Han. Tanpa peduli ponselnya yang sedari tadi bergetar panjang pertanda ada telpon masuk, Seulgi langsung menghentikan taxi yang lewat.

“Sungai Han. Secepat mungkin.”

Sopir taxi mengangguk paham, dan menyetir sesuai dengan yang Seulgi inginkan. Dia harus segera tiba di sana sebelum teman-teman Soojung datang. Mereka mungkin akan memberi tahu Sehun. Tidak boleh, mereka tidak boleh sampai bertemu dengan Sehun.

Ponselnya terus bergetar, membuat Seulgi tidak punya pilihan selain mengangkatnya.

“Jongin-ah.”

“Jangan bilang kau baru saja berbicara dengan Soojung.”

“Eottokhe, Jongin-ah?” Seulgi mulai menangis lagi.

“Apa yang Soojung katakan padamu? Tenanglah, Seulgi. Jangan terpengaruh apa pun yang dia katakan,” suara Jongin terdengar cemas. “Kau ada dimana? Jangan temui Sehun dulu.”

“Tidak bisa. Hiks…” isakannya semakin jelas. “Sekarang teman-teman Soojung akan menemui Sehun di Sungai Han. Mereka akan mengatakan semuanya pada Sehun.”

“Seulgi, kau harus tenang. Jangan lakukan apa-apa, biar aku yang ke sana.”

“Tidak, aku akan menemui Sehun. Sepertinya malam ini adalah waktunya,” kata Seulgi di sela isakannya.

“Waktunya apa, maksudmu?”

“Jika Sehun memang harus tahu semuanya malam ini, biar aku sendiri yang melakukannya.”

“Tidak, jangan. Kang Seulgi, ku mohon jangan lakukan apa-apa.”

“Maafkan aku, Jongin-ah. Aku harus melakukan ini. Aku tidak bisa membohongi Sehun lebih lama lagi. Ini sungguh menyiksaku.”

“Seul!”

Dan Seulgi langsung memutus telponnya sepihak, tepat saat taxi berhenti di Sungai Han.

***

Sehun sudah menyiapkan semuanya untuk malam ini. Jalan setapak buatan dengan dibatasi oleh ratusan lilin yang berbaris rapi. Dia berdiri di ujung, dimana sebuah meja makan malam telah disetting seromantis mungkin seperti dalam film-film romantis. Tentu saja dia sudah mensterilkan lokasi sebelumnya, memastikan tidak ada seorang pun yang datang khusus malam ini. Semua persiapan ini adalah untuk meminta maaf pada Seulgi. Dia merasa Seulgi agak berubah belakangan ini. Entah apa alasan di balik perubahan itu, menurutnya itu adalah salahnya. Paling tidak dengan kejutan ini dia bisa membuat Seulginya tersenyum.

Senyumnya sendiri merekah kala melihat sosok Seulgi berlari tergesa ke arahnya. Dia langsung menyiapkan diri, juga beberapa lembar kertas karton yang telah ia tulisi sesuatu. Anehnya, Seulgi sama sekali tidak terlihat terkejut dengan kejutan lilin dan makan malam khusus ini. Wajahnya malah kelihatan panik.

“Tunggu, berdiri di sana,” dia langsung menghentikan langkah Seulgi saat mereka berjarak kira-kira satu meter. Dan Seulgi pun berdiri diam di sana, dengan nafasnya yang tersengal.

Sehun tersenyum, walau tidak mengerti kenapa wajah Seulgi demikian. Dia berharap dengan kalimat-kalimat yang akan ia sampaikan lewat tulisan ini bisa menorehkan senyum di wajah gadisnya. Dia meletakkan tumpukan karton itu di depan dada agar Seulgi bisa membacanya dengan jelas. Dimulai dengan lembar pertama.

I know I’m such a fool for love, but the day we met, I know you’re the right answer for my endless waiting

Sehun menunggu senyum muncul dari wajah Seulgi, tapi tidak ada. Maka dia mengganti dengan lembaran berikutnya.

Though I’m not always with you, you must know that my love is always for you

Kali ini Seulgi kelihatan lebih tenang dari saat dia baru tiba tadi, membuat Sehun sedikit lega. Jadi dia melanjutkan ke lembar berikutnya.

I will never disappear. I’d like stars, not always seen but always there

Masih belum ada senyum yang terbentuk dari bibir Seulgi. Sehun pun memperlihatkan kalimat berikutnya, dia harap kali ini benar-benar membuat Seulgi tersenyum.

I was always childish and immature. But I grew because of the trust in your single gaze, one smile, that’s enough for me

“Sehun-ah, ada yang ingin aku bicarakan,” Seulgi mulai membuka suara. Tapi Sehun menggeleng, lalu memberi isyarat bahwa tinggal satu kalimat lagi dengan jari telunjuknya.

Thanks for everything, for something beautiful, great, precious called love that you gave to me. For all the joy and happy you bring.

“Nah,” Sehun menjatuhkan semua lembar kartonnya ke tanah. “Sekarang apa yang ingin kau katakan?”

“Sehun-ah…” bukan senyum yang dia dapat, melainkan air mata. Seulgi berjalan mendekat padanya sambil menangis. Sekarang Sehun jadi punya firasat buruk.

“Kenapa, sayang? Kau tidak suka dengan kejutannya?” dia mencoba tenang dengan menghapus air mata Seulgi di pipinya.

Seulgi menggeleng, tidak mampu berkata-kata dan hanya menangis. Sehun semakin tidak mengerti apa masalahnya. Rencana kejutan romantis ini sepertinya gagal. Maka Sehun pun memeluk Seulgi erat, memberi kenyamanan agar dia bisa berbicara.

“Tenangkan dulu dirimu, lalu bicaralah. Akan aku dengarkan,” kata Sehun penuh kesabaran. Tangannya membelai rambut Seulgi pelan, sangat pelan seolah takut sedikit sentuhan saja bisa membuat gadisnya rapuh.

“Aku… hiks… aku melakukan kesalahan, Sehun-ah… hiks….”

“Kesalahan apa?”

“Ini sangat… hiks… buruk… hiks… aku bersalah padamu… hiks…” perkataan Seulgi tersendat karena isakannya.

“Padaku?” Sehun masih mengusap kepalanya pelan. “Katakanlah, tidak apa-apa. Aku pasti akan memaafkanmu.”

“Apa kau akan tetap mencintaiku?”

“Tentu saja, aku akan tetap mencintaimu.”

“Jika diam-diam aku memiliki hubungan dengan pria lain, apa kau masih mencintaiku?”

Gerakan tangan Sehun terhenti. Nyaris saja dia tidak mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Apa dia tidak salah dengar? Ada pria lain yang memiliki hati Seulgi. Kemudian muncul pertanyaan siapa orangnya dan dia tak kuasa untuk bertanya. Namun pada akhirnya dia memang tidak perlu bertanya karena pertanyaan itu segera terjawab.

Sehun melihat Jongin berlari ke arah mereka, dan berhenti seketika saat mendapati Seulgi dalam pelukannya. Tatapan mereka bertemu, Sehun dan Jongin.

***TBC***

25 thoughts on “Bittersweet : Favorite Mistake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s