Droplet (Chapter 2)

Poster Droplet

Tittle: Droplet
Author: Dobi
Personal Blog: Hello, fanfic!
Cast: Park Chanyeol; Shin Kyungsoon (OC); Oh Sehun
Chapter: 2
Genre: Marriage Life; Hurt; Sad; Drama
Rating: General
Length: Multi-chapter
Previous: Chapter 1


***
Aku tidak tahu apa yang kurasakan kala itu. Dadaku terasa sesak, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Mataku tak berkedip. Bibirku kelu dan aku mematung dengan posisi mulut menganga.

Siapa itu?

Aku heran dengan perasaanku saat ini begitu melihatnya untuk pertama kali. Perasaan yang baru kurasakan dan berbeda dengan perasaan yang lain.

Aku terus menatapnya. Hingga aku tersentak sendiri saat ia menoleh ke arahku.

Kini, kami saling bertatapan. Seluruh tubuhku rasanya gemetaran. Aku tak bisa bergerak sedikitpun. Darahku berdesir lebih cepat. Jantungku berdetak kencang.

Hei… dia bukan hantu, ‘kan?
***
Aku masih berada di balkon saat kuyakin anak lelaki itu sudah masuk ke dalam rumah. Aku merasa sudah lancang menatapnya seperti itu. Otakku masih sibuk berfikir bagaimana nanti jika aku bertemu dengannya. Terlebih lagi dengan perasaan yang belum kuketahui apa namanya ini.

Kudengar Bibi Park memanggilku dari bawah. Lalu suara itu terdengar lebih jelas dan muncul lah sosok Bibi Park di balik pintu.

Bibi memberitahu kalau anak-anaknya sudah pulang dari sekolah. Ia mengajakku bertemu dengannya untuk berkenalan. Aku berusaha mengelak dan beralasan bahwa aku belum selesai dengan kegiatanku.

“Lanjutkan nanti saja,” kata Bibi Park sambil mengambil alat penyiram tanaman dari genggamanku lalu meletakkannya sembarangan. Kemudian ia menarikku turun dari lantai dua.

Aku dibawa oleh Bibi menuju dapur. Kulihat anak yang bertatapan denganku tadi itu sedang meneguk segelas air putih. Kemudian Bibi memanggilnya, anak itu menoleh dan menatap heran kami berdua. Sungguh, aku sangat malu.

“Siapa dia?” Tanya anak itu yang membuatku semakin merunduk malu.

Bibi menjelaskan dengan singkat siapa aku dan mengapa aku bisa berada di sini setelah aku terdiam beberapa saat karena tak kuasa untuk berbicara. “Dia ini pemalu,” tambah Bibi.

Kemudian anak yang kuketahui bernama Park Chanyeol itu menghampiriku lalu mengulurkan tangannya.

“Hai, aku Park Chanyeol. Siapa namamu?”

Aku sedikit terkejut dengan apa yang dilontarkannya. Kukira anak ini akan mengadu kepada Bibi kalau aku sudah lancang memandanginya dari lantai atas.

Kuberanikan untuk mengangkat kepalaku dan memandang wajahnya. Mata kami saling bertemu. Chanyeol tidak tersenyum seperti kebanyakan orang yang berkenalan untuk pertama kali. Tapi, lewat sorotan matanya aku yakin kalau Chanyeol bukanlah anak yang jahat.

“Shin Kyungsoon. Namaku Shin Kyungsoon,” kataku seraya menjabat tangannya Chanyeol.

Tak lebih dari tiga detik, Chanyeol menarik tangannya kembali lalu berkata bahwa ia senang berkenalan denganku. Setelah itu ia izin pergi ke kamarnya di lantai dua.

Telapak tangannya terasa dingin dan halus. Aroma parfum yang dipakainya ikut melekat di telapak tanganku. Baunya harum dan lembut. Bibi Park senang melihatku yang mulai terbuka lagi pada orang lain, setelah itu ia menyuruhku kembali ke balkon.

Saat kunaiki tangga aku terus memikirkan Chanyeol dan juga kamarnya. Di lantai dua ada banyak ruangan yang belum kuketahui isinya, aku penasaran kamar mana kah yang digunakan Chanyeol. Karena tak ada tanda-tanda keberadaan anak itu, aku memutuskan kembali ke ruangan dengan balkon luas tadi dan kembali menyirami bunga-bunga itu.

Kali ini aku tak bisa fokus. Menyiram bunga sambil memikirkan Chanyeol. Bayangan saat kami saling bertatapan untuk pertama kali, juga saat ia mengajakku berjabat tangan. Aku heran apa yang sedang terjadi padaku. Saat ini, bahkan aku jadi tak merindukan ayah sedikit pun.

Tiba-tiba aku mulai terusik saat telingaku menangkap sesuatu dari luar ruangan. Kedengarannya seperti seseorang yang sedang mengendap-endap. Kemudian terdengar suara decitan engsel pintu.

Kufikir itu adalah Chanyeol, setelah kubalikkan badan ternyata bukan. Melainkan seorang anak yang lain.

Anak itu baru saja mengaum layaknya singa ke arahku. Mungkin dia berniat untuk mengkagetkanku. Tapi, aku sama sekali tak merasa kaget. Anak itu masih dalam posisinya dengan mulut menganga cukup lebar dan jemari tangan yang ia buat seperti cakar singa.

Kami berpandangan satu sama lain untuk detik yang cukup lama. Anehnya anak itu tak sedikit pun mengubah posisinya. Ia malah melanjutkan keanehannya dengan mendekatiku seperti singa yang sudah memojokkan mangsanya.

Sejurus kemudian ekspresi wajahnya berubah total –menjadi normal– saat jaraknya berdiri hanya menyisakan dua langkah denganku. Dia bertanya, apakah kau tidak takut? Aku menggeleng pelan. Lalu ia bertanya lagi, apakah kau tidak kaget? Aku pun menggeleng lagi. Anak itu hampir bertanya lagi, namun tiba-tiba Bibi Park datang dengan raut wajah khawatir. Kemudian mengomeli si anak karena bertingkah aneh padaku.

Setelah mendengarkan penjelasan Bibi, baru aku tahu kalau anak ini bernama Park Sehun, adiknya Chanyeol. Usianya seumuran denganku. Bibi juga menambahkan kalau aku harus memanggil Chanyeol dengan panggilan ‘oppa’ karna usianya yang dua tahun di atasku.

“Hai, namaku Park Sehun. Siapa namamu?” Anak itu bertanya sambil mengulurkan tangan kanannya padaku.

“Namaku Shin Kyungsoon,” kujawab pelan sambil menjabat tangannya.

“Senang bisa berkenalan denganmu, Kyungsoon.” Sehun tersenyum.

Anehnya aku tidak merasakan apapun. Maksudku, biasa saja berkenalan dengannya. Dia bertanya siapa namaku, Chanyeol juga. Dia mengulurkan tangannya padaku, Chanyeol juga. Dia bilang senang berkenalan denganku, Chanyeol juga bilang seperti itu. Bahkan, Sehun tersenyum padaku dan Chanyeol tidak. Tapi, mengapa aku tidak kaget saat Sehun berusaha mengagetkanku? Aku malah kaget saat Chanyeol yang hanya menoleh ke arahku saja. Aku tidak mengerti, mengapa perasaan aneh ini hanya berpihak kepada Chanyeol?

***

Beberapa hari aku menginap di rumah Bibi Park selama ayah belum pulang dari pekerjaannya. Awalnya aku kira aku bisa bertman baik dengan Chanyeol dengan memanfaatkan waktuku saat berada di rumahnya. Tapi ternyata, kenyataannya lebih sulit daripada yang aku bayangkan.

Chanyeol adalah anak yang pendiam, ia juga tak banyak bicara. Aku sadar, aku pun sama dengannya. Pendiam dan tak banyak bicara. Tapi, setidaknya aku sudah berusaha tersenyum saat bertemu dengannya –dan Chanyeol pun membalasnya juga. Tapi hanya sekedar itu. Tidak lebih. Ya, tidak lebih dari itu.

Aku lihat ia sama lemahnya denganku dalam hal bersosialisasi. Kepada Bibi Park pun aku jarang melihatnya bicara, juga kepada pekerja di rumah. Chanyeol hanya bicara seperlunya. Dan dia adalah anak yang sulit didekati oleh anak sepertiku –yang juga setipe dengannya.

Sehun adalah kebalikannya dari Chanyeol. Dia adalah anak yang benar-benar tak bisa diam. Sehun semakin sering mendekatiku semenjak kejadian di balkon itu. Sama seperti apa yang kukatakan sebelumnya, Sehun adalah anak yang aneh. Aku sulit untuk menjauhinya walaupun aku sudah berusaha tak peduli dan tak mengajaknya bicara. Bahkan tarikan kencang di telinganya yang berbekas warna merah padam dari Bibi Park pun tak bisa membuatnya berhenti mendekatiku –lebih tepatnya mengangguku. Sehun hanya menangis sebentar, setelah tangisnya reda ia lanjut mendekatiku lagi.

Layaknya anak kucing, Sehun selalu mengikutiku. Mengajakku bermain, makan ketika aku makan, minum ketika aku minum, menyiram tanaman ketika aku juga menyiram tanaman, menanyakan banyak hal –yang sebenarnya tidak penting, dan masih banyak lagi hal aneh yang ia tawarkan padaku untuk dilakukan bersamanya.

Kulihat Chanyeol, dan kusadari bahwa kami memang benar-benar jauh. Tak ada bedanya jarak antara kutub utara dan kutub selatan dengan kami berdua. Chanyeol lebih suka menghabiskan waktu sendirian di tempat yang aku sendiri pun tak tahu. Aku tak pernah punya kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Chanyeol, atau mungkin ia sendiri pun tak pernah membuka kesempatan itu. Aku bahkan hampir tak mendengar suaranya walaupun ia sedang berada di rumah.

Saat Chanyol –dan Sehun– berangkat sekolah, aku mulai melamun dan membayangkan bagaimana jadinya jika aku sekolah bersama dengannya. Tentunya itu hanya khayalan. Ayah bilang tak akan pernah mengirimku ke sekolah formal. Beliau juga sedang mencarikanku seorang guru yang sanggup mengajariku di rumah. Chanyeol mungkin tak pernah tahu kalau aku selalu menunggu ia pulang di atas balkon sembari menyiram bunga. Yang ada malah Sehun yang sesaat turun dari mobil segera melambai dan meneriakkan namaku dengan keras. Sulit sekali untuk menjauh darinya. Terlebih lagi aku tidak suka dia yang menyukai kebebasan. Sama sekali tidak.

Sehun senang bermain dan malas belajar. Seringkali ia mengambil makanan milik Chanyeol jika miliknya habis, atau meminta padaku karena nafsu makannya yang besar. Ia selalu merengek minta dibelikan mainan, tapi Sehun cepat bosan dan malah pergi main keluar rumah. Dan ia tak pernah sekali pun pulang tanpa menangis.

Jatuh dari pohon, berkelahi, tergelincir dan jatuh ke sungai, muka lebam karena tendangan bola, dan banyak lagi alasan penyebab mengapa ia menangis. Tak heran, kulitnya pun sedikit gelap dibandingkan dengan kulitnya Chanyeol. Kaki dan tangannya pun dipenuhi bekas luka, anehnya Sehun selalu mengulangi hal itu dan tak sedikit pun merasa kapok. Bahkan ia juga mengajakku untuk ikut bermain keluar bersamanya. Tapi usahanya gagal karna Bibi Park selalu mencegahnya.

Akhirnya, ayah pulang dan aku sangat gembira. Tuan Park membawakanku mainan tradisional dari kota yang dikunjunginya, begitu juga dengan Chanyeol dan Sehun. Sayang sekali, aku baru sadar kalau setelah ayah pulang, aku mungkin akan jarang bertemu dengan Chanyeol. Tinggal dengannya untuk beberapa hari saja tak pernah membuatku menjadi lebih dekat, apalagi tinggal terpisah. Tapi, untungnya aku pun akan jarang bertemu dengan Sehun. Aku mensyukuri hal itu.

Tapi ternyata dugaanku salah besar, tinggal terpisah tak bisa membuat Sehun untuk berhenti mendekatiku. Saat ayah pergi bekerja, seperti biasa aku tinggal bersama Bibi Park. Sepulang sekolah aku selalu bertemu dengan Sehun. Dia mendekatiku lagi, mengikutiku lagi, mengajakku bermain lagi –walau sudah kutolak berkali-kali. Di saat seperti itu aku selalu berharap semoga ayah cepat pulang. Saat ayah sudah pulang, Sehun malah ikut denganku ke rumah pekerja dan pulang saat malam hari saat ia tertidur di kamar ayah, dan ayah pula lah yang menggendongnya pulang. Dan hal itu selalu saja berulang.

Aku bilang pada ayah kalau aku tidak menyukai Sehun. Ayah tertawa dan menjawab kalau aku harus menyukainya karena ia anak yang baik.

“Ayah sudah menduga kalau kau akan bilang hal seperti itu. Kau hanya belum terbiasa karena Sehun adalah anak yang aktif.” Begitu tambah ayah. Tapi, tetap saja aku tidak suka. Sampai pada suatu hari aku benar-benar marah padanya dan tak bisa mengontrol diriku sendiri. Emosiku tak terkendali, aku menangis sekencang-kencangnya seraya melempari Sehun dengan sebuah buku cerita.

Kejadiannya bermula pada hari minggu pagi ketika Sehun mengajakku bermain bersama. Yang kala itu membuatku setuju dengan ajakannya, karena dia bilang Chanyeol juga ikut bermain. Ternyata benar, Chanyeol memang ada di sana, menunggu kami.

Kami bertiga bermain di belakang rumah utama, di atas rumput dan di bawah sebuah pohon rindang yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari.

“Kyungsoon akan jadi seorang istri, dan aku yang menjadi suaminya, sedangkan Chanyeol akan menjadi anak kita.” Seperti itu Sehun mengatur skenario.

Awalnya memang terasa canggung. Aku masih tidak percaya bisa bermain bersama Chanyeol walau hanya berbincang seperlunya. Ia memang pendiam, tapi dia lihai dalam bermain rumah-rumahan. Aku bahkan tak mempedulikan Sehun yang banyak bicara. Kata-katanya hanya masuk dan lewat begitu saja di telingaku.

Hingga pada akhrinya, hal itu terjadi. Sehun memintaku untuk membacakan sebuah cerita dari buku cerita yang dibawanya. Aku pun terdiam saat buku itu sudah berada di tanganku.

“Istriku, tolong bacakan cerita Pied Piper of Hamelin. Chanyeol sangat menyukainya,” kata Sehun yang masih berlagak menjadi seorang suami. Ia masih pura-pura sibuk dengan perannya, sampai ia tak sadar kalau tanganku gemetar dan bingung dengan apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Aku belum bisa membaca.

Tapi, bagaimana aku menjelaskannya kepada mereka? Apalagi kepada Chanyeol. Baik ayah maupun Paman dan Bibi Park memang tak pernah menceritakan soal slow learning-ku kepada mereka. Mereka khawatir kalau Chanyeol dan Sehun akan menjauhiku seperti teman-temanku yang dulu.

Chanyeol menatapku bingung. “Kau kenapa, Kyungsoon?” tanyanya.

Sehun yang baru sadar kemudian ikut menoleh ke arahku dan menatapku dengan raut wajah yang sama dengan Chanyeol.

“Kenapa diam? Aku ‘kan suruh kau bacakan cerita untuk anak kita,” kata Sehun yang masih dalam perannya.

Tanganku gemetaran. Kini aku tak berani menjawab pertanyaan mereka juga membalas tatapan mereka. Aku takut dan hampir menangis.

“Jangan bilang kau tidak bisa membaca?! Kau tega menipuku, Kyungsoon! Kita sudah menikah bertahun-tahun–“

Baru saja aku melempar buku ke wajahnya dengan keras. Sehun berhenti bicara. Dia tercengang menatapku, begitu juga dengan Chanyeol. Kami bertiga terdiam beberapa saat sampai akhirnya aku tak mampu lagi membendung air mataku. Aku menangis lalu berteriak kalau aku memang tak bisa membaca. Lalu aku beranjak dan lari meninggalkan mereka.

Aku tak tahu bagaimana ekspresi Chanyeol dan Sehun. Aku pun tak mendengar mereka memanggil namaku dan berusaha menghentikanku. Mereka sudah tahu. Mereka sudah tahu aku adalah anak yang bodoh.

***

Sejak kejadian itu, aku kembali kepada diriku yang dulu. Bahkan lebih terpuruk lagi. Aku terus-terusan menangis dan tak mau ayah meninggalkanku. Paman dan Bibi Park yang sudah berusaha membujuk pun tak berhasil membuatku luluh. Para pekerja khawatir dan ikut melakukan segala hal yang sekiranya dapat menghentikan kesedihanku. Aku enggan bertemu dengan siapapun, yang aku butuhkan hanyalah ayah.

Aku tahu, mungkin ayah kesal karena merasa tak enak kepada Paman Park yang memberinya cuti demi menemaniku. Juga karena aku mulai menganggu kenyamanan penghuni rumah karena tangisanku. Tapi ayah tak marah. Tak sedikit pun marah atau menunjukkan kekesalannya.

Sehun tak lagi datang padaku. Aku yakin ia pasti kecewa, terlebih lagi dengan Chanyeol. Mungkin, ia bersyukur karena selama ini tidak berteman baik denganku.

Tapi ternyata, semua dugaanku salah besar. Setelah selang beberapa hari, Sehun datang menemuiku dan mengajakku bermain. Tidak ada keraguan tersirat di wajahnya. Dia bersikap seperti biasa. Park Sehun yang nakal. Dia tersenyum sambil memaksaku ikut bermain ke luar. Sempat beberapa kali aku menolak, tapi ayah ikut memaksaku hingga aku tak bisa mengelak lagi.

Sehun menarik tanganku. Mengajakku berlari menuju arah yang tidak kuketahui lokasinya. Entah mengapa aku pasrah saja. Mungkin, tawa dan senyuman lebar di wajahnya membuatku ingin ikut bersama nalurinya.

Sampai lah kami di sebuah bukit yang dibawahnya mengalir sungai yang jernih airnya. Di tepian sungai, banyak anak-anak yang sedang bermain sepak bola. Tempatnya cukup luas memang, makanya mereka menjadikan tempat itu sebagai lapangan buatan.

Yang membuatku tertarik adalah rumput. Rerumputan hijau yang menggelar luas di sepanjang bukit. Juga turunan yang menghubungkan puncak bukit dengan tepian sungai. Sehun bilang akan lebih seru kalau menuruni bukit dengan cara berguling-guling di turunan itu.

Berguling-guling? Hei, itu yang sering kulakukan bersama ayah saat musim panas di desa. Tanpa sadar akupun tersenyum sendiri dalam diam mengingat kenangan itu.

Tiba-tiba Sehun menarik tanganku, karena aku sibuk mengingat kenanganku bersama ayah, aku tak sempat mengelak saat Sehun menjatuhkan tubuhku kemudian menggelindingkan tubuhku bersama tubuhnya.

Sehun memelukku. Erat sekali. Kami bergulingan bersama. Dia berteriak kegirangan sedangkan aku berteriak ketakutan. Tapi, entah mengapa rasanya tidak benar-benar menakutkan seperti yang aku bayangkan.

Aku merasa aman dalam pelukannya. Dia melindungiku, bukan bergulingan bersama denganku. Sehun pula lah yang menghentikan tubuh kami berdua, karena kami berguling cukup kencang –dan mungkin pendaratannya tak akan mulus kalau Sehun tak menghentikannya.

Saat kami benar-benar berhenti, Sehun membantu mendudukkan tubuhku seraya bertanya apakah aku menyukainya.

Aku tak langsung menjawabnya. Kedua mataku malah sibuk memandang wajah dan rambutnya yang berantakan. Dilihat dari jarak sedekat ini, kusadari bahwa Sehun memang seorang anak yang ulung bermain. Ada beberapa bekas luka cakar di pipi dan keningnyanya yang sudah terlihat samar. Kulit wajahnya lumayan gelap karena paparan sinar matahari. Kebanyakan helai rambutnya juga memerah diantara rambut hitamnya yang tak berkilau.

“Kenapa? Kau kaget, ya?” tanya Sehun. Nadanya berubah menjadi khawatir setelah menyadari bahwa aku terdiam cukup lama dan tak kunjung mejawab pertanyaannya.

“Ti-tidak… aku suka, kok,” jawabku pelan.

Ekspresi wajahnya berubah lagi. Berubah menjadi Sehun yang periang lagi.

“Benar, ‘kah?” Sehun berusaha meyakinkan perkataanku. Aku mengangguk.

Sehun tersenyum senang, kemudian membantuku berdiri. Setelah itu ia mengajakku berkenalan dengan teman-temannya yang sebelumnya kulihat sedang bermain sepak bola.

Aku dan Sehun disambut baik oleh teman-temannya yang kebanyakan adalah anak lelaki. Hanya ada tiga anak perempuan termasuk aku. Sehun memperkenalkanku dan bilang kalau aku adalah sahabat barunya.

Mereka semua menerimaku. Tak ada satu pun wajah yang terlihat terganggu akan kehadiranku. Tapi siapa tahu, mungkin mereka belum tahu saja tentang siapa aku sebenarnya. Karena Sehun tak menceritakan tentang kebodohanku kepada mereka. Padahal, kejadiannya baru terjadi beberapa hari yang lalu, tidak mungkin kalau Sehun sudah melupakannya, ‘kan?

Seungwan, Taemin, Soojung, Jongin, Tao, Jungkook, Jimin dan Kyungsoo. Anak-anak itu berkenalan denganku dengan senang hati. Di akhir juga mereka tertawa karena ada satu anak yang namanya hampir sama denganku.

Setelah itu mereka melanjutkan permainan yang sempat terhenti. Sehun ikut bergabung. Seungwan dan Soojung mengajakku ke pinggir lapangan. Mereka mengapitku di tengah-tengah. Layaknya teman yang sudah lama kukenal. Mereka baik dan bersahabat dengan orang baru sepertiku.

Permainannya tiga lawan tiga. Tim Sehun, Jungkook dan Jongin melawan tim Taemin, Jimin dan Tao. Sedangkan Kyungsoo menjadi wasit mereka. Kedua tim saling bersorak dengan yel-yel andalan masing-masing. Seungwan dan Soojung juga bersorak menyemangati kedua tim. Hanya aku saja yang tak bersuara.

Tak lama setelah itu mereka mulai bertanding. Aku baru sadar, mereka semua bertelanjang kaki. Sandal mereka ditumpuk di kedua sisi untuk menandai gawang masing-masing tim.

Sejujurnya, aku tak begitu menikmati permainan mereka layaknya Seungwan dan Soojung. Aku lebih memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi wajah mereka. Terutama Sehun.

Dia tersenyum dan tertawa riang. Tak ada secuil pun beban di wajahnya. Berkali-kali ia jatuh dan tersungkur, namun Sehun bangkit kembali. Timnya tersudut karena tak mencetak gol satu pun, sedangkan timnya Taemin terus menyerang dan mencetak gol. Tapi, Sehun tetap menikmatinya, begitu pula anak-anak yang lain. Mereka bersenang-senang sampai permainannya berakhir dengan kekalahan timnya Sehun.

Setelah beristirahat sejenak, mereka lanjut pergi ke suatu tempat. Awalnya aku mengelak saat Sehun menarik tanganku, aku bilang aku ingin pulang, tapi dia memaksaku, anak-anak yang lain juga ikut-ikutan memaksa. Akhirnya, aku tak bisa mengelak.

Setelah berjalan beberapa menit, kami sampai di sebuah toko klontong yang tak terlalu besar. Kemudian, Kyungsoo berlari ke dalamnya sambil meneriaki panggilan ibu. Kami menunggu di luar, tak lama setelah itu seorang wanita dewasa keluar sambil membawa wadah berisikan eskrim batangan. Wanita yang ternyata adalah ibunya Kyungsoo itu membagikan eskrimnya kepada kami –gratis. Dia ternyata sadar kalau aku adalah anak baru di antara teman-temannya Kyungsoo. Wanita itu menyambutku dengan hangat, seraya bertanya siapa namaku.

Setelah itu kami menikmati eskrim yang dibagikan Ibunya Kyungsoo sambil duduk-duduk di atas dipan yang berada di depan toko. Awalnya aku terdiam dan enggan memakan eskrim milikku. Sungguh, aku mulai tak nyaman dengan suasana baru ini dan aku ingin segera pulang. Tetapi, Sehun menangkap diamku.

Tanpa memintakan izin dariku, dia langsung merebut benda dingin itu, kemudian segera membuka kemasannya lalu memberikannya lagi padaku.

“Kalau kau tak cepat memakannya, nanti esnya mencair,” katanya menasehatiku.

Ya, memang benar. Melihat eskrimku mulai mencair dan beberapa tetesannya jatuh di atas celana yang dipakai olehku, aku pun segera memakannya. Lahap seperti yang lain.

Setelah eskrim yang disantap kami habis, Seungwan mengajak kami untuk bermain rumah-rumahan di rumahnya. Lalu kami pun pergi ke arah menuju rumahnya Seungwan setelah Kyungsoo pamit pergi kepada ibunya. Masih dengan perasaan ragu, sebenarnya aku enggan mengikuti mereka. Tapi, aku tak bisa mengelak –lagi– saat Seungwan dan Soojung menarikku sambil berjalan di bagian depan.

Singkatnya, kami bermain rumah-rumahan di halaman rumahnya Seungwan yang cukup luas. Ayah dan ibunya menyambut kami dengan ramah. Mainannya Seungwan cukup banyak, oleh karena itu kami bermain lebih dari tiga tema. Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan mereka, dan akupun mulai bisa beradaptasi dan masuk ke dalam dunia mereka.

Setelah lelah bermain, Ibunya Seungwan memanggil kami masuk ke dalam rumah. Kami di suguhi makan siang, dan kembali makan dengan lahap. Bahkan, Jungkook dan Sehun sampai nambah dua kali.

Dalam diam aku tersenyum kecil. Baru kali ini aku mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak-anak yang lain. Tapi, aku tak yakin kalau seandainya mereka tahu kalau aku ini adalah anak yang bodoh yang pernah tak naik kelas dan putus sekolah. Aku harus mengakhirinya sendiri.

Cukup hari ini. Hanya hari ini saja aku bermain bersama mereka dan mendapatkan perlakuan yang baik. Esok hari aku akan menolak ajakan Sehun kalau dia mengajakku bermain lagi. Kalau tidak, aku akan di cap sebagai pembohong dan mereka meninggalkanku seperti teman-temanku yang dulu. Ya.

Kami selesai makan, dan lanjut bermain keluar. Jungkook dan Jimin mengajak kami ke sebuah sungai tak jauh dari rumahnya. Arusnya tenang dan dangkal. Para anak lelaki bertelanjang dada dan masuk ke tengah-tengah. Aku, Seungwan dan Soojung duduk di pinggiran sambil merendam kaki-kaki kami. Sesekali Sehun usil mencipratkan air ke arahku, aku tak melawan, hanya menghindarinya. Seungwan dan Soojung lah yang membalas keusilan Sehun. Lalu, anak-anak lelaki yang melihat Sehun yang dikroyok ikut membalas dan membantu Sehun. Intinya, kami para gadis kalah. Alhasil kami semua basah kuyup.

Lalu kami lanjut pergi ke sebuah ladang rumput dan berjemur di sana. Setelah dirasa setengah kering, Taemin mengajak kami ke kebun semangka milik pamannya. Di sana kami menyantap semangka segar, juga beberapa buah lain yang juga di tanam di kebun milik pamannya Taemin.

Tak terasa, lembayung keemasaan sudah menghiasi langit. Hari sudah sore. Sehun mengajakku pulang. Anak-anak yang lain juga pulang ke rumah mereka masing-masing. Sebelum kami berpisah, tak lupa mereka membuat perjanjian kalau besok berkumpul di jam dan tempat yang sama seperti hari ini. Soojung pun memintaku untuk memakai gaun karena besok ia ingin berlakon cerita dongeng puteri denganku dan juga Seungwan.

Sesampainya kami di rumah, Bibi Park langsung mengomeli Sehun karena sudah mengajakku keluar dan bermain hampir seharian.

“Bagaimana kalau dia jatuh sakit, huh?!” omel Bibi Park sambil menarik telinganya Sehun. Anak itu meringis sambil meminta ampun. Aku bilang kepada Bibi Park kalau aku tak apa dan aku menyukainya karena Sehun sudah mengajakku bermain.

“Benarkah?” tanya Bibi Park seraya melepaskan tangannya dari daun telinganya Sehun. Aku mengangguk. Bibi Park tersenyum lega, setelah itu Bibi Park menyuruh Sehun untuk mengantarku ke rumah pekerja. Sesaat aku akan pergi, kulihat Chanyeol yang tengah memandang kami dari balik jendela rumah. Dia tak bereaksi, setelah itu Chanyeol berbalik dan bayangannya hilang dari pandanganku. Aku tak akan pernah bisa dekat dengan anak itu. Apalagi, Chanyeol sudah tahu siapa sebenarnya aku ini.

Sehun mengantarku, berjalan berdampingan dengan aku yang malas mendengarkan ocehannya. Dia terus berbicara soal apa yang akan dilakukannya esok hari. Apa saja yang harus kubawa. Jam berapa aku harus bangun. Jam berapa aku harus mandi, agar dia tak lama menungguku dan kami bisa sampai ke tempat yang dijanjikan tepat waktu.

Kuhentikan langkahku. Sehun pun berhenti kemudian menatapku dengan heran.

“Pulanglah,” suruhku tanpa menoleh ke arahnya.

Sehun mengelak, dia bilang ibunya menyuruh dia agar mengantarku sampai gerbang. Sedangkan gerbang rumah pekerja hanya tinggal beberapa langkah lagi.

“Besok, kalau kau ingin bermain, bermainlah. Jangan mengajakku. Aku tidak mau bermain lagi dengan kalian,” ujarku seraya meninggalkan Sehun.

Tapi, Sehun segera mencegat tubuhku. Kemudian, bertanya mengapa aku bersikap seperti ini.

“Padahal, tadi siang kau bersenang-senang, ‘kan? Apakah kau tak enak badan makanya kau tak mau bermain? Perlu ‘kah kuajak teman-teman kemari untuk menjengukmu?”

“Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin bermain sendirian. Lagi pula kau sudah tahu kalau aku bodoh dan tak bisa membaca, mengapa kau masih mengajakku bermain dan memperkenalkanku dengan mereka?”

“Memangnya kenapa?” tanya Sehun heran.

“Kenapa kau bilang? Hei, jangan pura-pura lupa kalau kemarin aku sempat melemparmu dengan buku karena aku tak bisa membaca. Aku ini bodoh. Kenapa kau masih mengajakku bermain?!” sentakku kesal.

“Biasa saja, dong. Tak perlu marah-marah seperti itu. Lagi pula, tanpa diberitahu pun aku masih ingat kejadian kemarin. Dan memangnya ada yang salah kalau aku mengajakmu bermain? Hm? Bodoh atau tidak, bisa atau tidak bisa membaca, yang namanya teman tidak peduli akan hal itu. Aku mengajakmu bermain dan mengenalkanmu kepada teman-temanku supaya mereka mau membantu agar kau bisa membaca.”

“Mereka sudah tahu?” tanyaku kaget.

“Ya, aku yang memberitahu mereka.”

“Apa?!”

“Memangnya kenapa? Tao juga seperti itu. Dia itu orang China. Dia pindah kemari setahun yang lalu karena ayahnya bekerja di Seoul. Tao tidak bisa bahasa Korea. Makanya dia tak mau bermain dengan kami. Tapi, aku dan yang lain mengajaknya bermain lalu membantunya supaya terbiasa bicara bahasa korea. Sekarang, dia sudah bisa bahasa korea walau ada salah-salahnya. Dan kami sekarang sudah menjadi teman baik. Kalau Tao saja yang tadinya tidak bisa bicara bahasa kita bisa, kenapa Kyungsoon yang mengerti bahasa kami tidak bisa? Kalau pun aku dan yang lain tidak bisa membantu karena kami bukan seorang guru, kenapa kita tidak berteman baik saja? Sudah kubilang, yang namanya teman tidak peduli kau bodoh atau tidak. Makanya besok bersiaplah dan pergi bermain bersamaku.”

Aku terdiam. Tak tahu jawaban apa lagi yang harus kulontarkan kepada Sehun. Aku memang bukan anak yang pintar, tapi aku mengerti kata-kata Sehun barusan.

Jadi, Seungwan dan Soojung tahu kalau aku belum bisa membaca? Taemin dan yang lainnya pun? Sejenak aku terdiam sambil menundukkan kepala. Yang kualami tadi siang itu, mereka tahu siapa sebenarnya aku dan masih mau bermain denganku? Ibunya Kyungsoo dan Ibunya Seungwan juga?

“Ya sudah, kalau kau tak mau bermain besok, tak apa. Aku tak akan mengajakmu lagi,” ujar Sehun. Nadanya terdengar seperti sebuah kekalahan. Saat kuangkat kepalaku, Sehun sudah berbalik dan berjalan meninggalkanku.

“Sehun-ah!” tanpa sadar aku memanggil namanya –dengan akhiran pula. Sehun berhenti kemudian berbalik menatapku. Setelah itu, mata kami bertemu pandang. Selanjutnya, aku malah bingung mau bicara apa padanya.

“Be-besok… Besok jangan lupa jemput aku, ya?” pintaku gagap.

Kedua sudut bibirnya langsung naik. Senyuman yang kuyakini sebagai senyuman yang dimiliki oleh ayah juga. Sehun mengangguk optimis. Dia melambai ke arahku seraya memperingatiku agar aku tak bangun kesiangan besok.

Aku pun tersenyum seraya membalas lambaian tangannya. Kemudian Sehun kembali berbalik, berjalan menjauhiku dengan riangnya.

Hari ini, aku belajar sesuatu darinya.

Sesuatu yang kau sebut ketulusan.

Jantungku memang tidak berdegup kencang seperti saat aku bertemu dengan Chanyeol. Perasaan ‘itu’ juga hanya muncul dan berpihak kepada Chanyeol saja. Tapi, hari ini aku senang bisa bermain dan berkenalan dengan teman-temannya.

***

Hari demi hari kulalui dengan suka duka. Semakin hari aku semakin dekat dengan Sehun –dan juga dengan teman-teman yang lain. Aku masuk ke dalam dunianya yang penuh dengan petualangan.

Semakin hari, sedikit demi sedikit juga aku mulai bisa membaca. Itu berkat bantuan Soojung, Seungwan, dan juga Kyungsoo. Mereka adalah anak pintar yang bersedia membantuku belajar. Ditambah, Ayah juga sudah menyewa guru privat untuk mengajariku. Lama-lama aku sudah hafal hampir semua huruf dan mampu membaca kalimat demi kalimat.

Setiap hari aku selalu menunggu Sehun pulang sekolah. Dia juga ikut mengajariku membaca lewat buku-buku cerita dongeng yang disukainya. Di hari minggu dan hari libur, Sehun selalu mengajakku bermain dengan anak-anak yang lain. Bahkan sampai matahari tenggelam dan Bibi Park yang mengomel bukan hanya kepada Sehun saja, aku juga kena omelannya tiap kali pulang terlambat. Tapi, kami tak pernah kapok untuk melakukan hal itu.

Kini, aku mengerti bekas luka yang ada hampir di sekujur tubuhnya. Dan juga tangisan yang dulu belum aku mengerti tiap kali ia pulang dari bermain.

Luka lebam itu ia dapatkan saat bermain bola. Jatuh dari pohon karena membantu kucingnya Kyungsoo yang terjebak di atas. Saat ia tergelincir dan tercebur ke sungai, itu karena ia membantu mengambilkan sandal Soojung yang tak sengaja jatuh dan hanyut. Bekas cakar di pipinya akibat dia berkelahi dengan seorang anak yang mengejek Tao yang –dulu– belum bisa bahasa korea. Bajunya yang kotor tiap kali pulang bermain karena membantu pamannya Taemin berkebun –Sehun juga selalu membantu para pekerja di rumahnya berkebun. Rambutnya yang memerah dan kulit gelapnya mungkin lebih tahu apa saja yang dilakukan Sehun di luar sana.

Dia memang anak yang nakal dan malas. Tapi dia pemberani dan sikap baiknya itu yang membuatnya disukai banyak orang. Dia senang berkomunikasi. Dia senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Dia adalah pelindungku dan pelindung teman-teman yang lain. Meskipun dia terjatuh saat main dan terluka saat berkelahi. Sehun tak pernah kapok dan tetap melakukan hal itu demi teman-temannya. Demi aku.

Lama kelamaan, aku baru sadar, kalau waktu yang sebagian besar kuhabiskan bersama Sehun membuatku lupa akan perasaanku kepada Chanyeol. Sesekali, aku memang bertemu dengannya. Tapi, hanya sekedar berpapasan saja. Aku melempar senyum, dia juga. Hanya itu.

Bukannya Sehun tak pernah mengajak Chanyeol bermain. Tapi, ajakan Sehun itu seringkali ditolaknya. Chanyeol itu anak pendiam yang gemar belajar seperti kakak perempuanku.

Kufikir, kedekatanku dengan Sehun akan membuatku dekat juga dengan Chanyeol. Tapi, ternyata tidak.

Kupendam perasaanku. Aku hanya bisa mengaguminya dari jauh. Mengaguminya dalam diam. Sampai akhirnya, tak terasa kalau tahun demi tahun sudah kami lewati bersama.

Kini, usiaku sudah 23 tahun. Perasaan yang sekarang kuketahui namanya ‘suka’ itu masih kupendam untuk Chanyeol. Ia memang anak yang terlahir dengan paras yang rupawan. Bahkan, ketampanannya semakin bertambah seiring usianya yang juga bertambah.

Parahnya lagi, beberapa tahun belakangan, tak ada lagi Sehun yang mengajakku melakukan hal gila dan penuh petualangan.

Sehun lulus tes masuk sebuah universitas di Jepang. Awalnya, dia tak ingin pergi, karena dulunya dia hanya ikut-ikutan Taemin dan Kyungsoo saja yang mencoba daftar ke universitas luar. Akhirnya, hanya dia saja yang di terima. Taemin dan Kyungsoo lulus di pilihan cadangan di universitas dalam negeri.

Sehun sempat merengek pada Paman dan Bibi Park. Dia bilang dia tak bisa pergi dan tak bisa hidup tanpa kedua orangtuanya.

“Kau tak bisa hidup tanpa ayah dan ibu? Kau bahkan gemar keluyuran dan tak pernah betah menghabiskan waktu seharian di rumah!” seperti itulah Paman Park membentaknya saat ia menolak untuk pergi ke Jepang.

Akhirnya, Sehun kalah. Dia pergi ke Jepang sendirian dengan berat hati. Sebagai gantinya, dia memintaku untuk menemaninya dari jauh. Sehun ingin aku selalu berbalas pesan dengannya. Aku memenuhi keinginannya dengan senang hati.

Sehun dan aku selalu berbalas pesan. Di mulai saat ia tiba untuk pertama kalinya di Jepang. Dia juga memintaku untuk menggunakan pos kilat supaya suratnya datang dengan cepat.

Selama hampir tiga tahun kami berbalas pesan. Aku bahkan membutuhkan empat kaleng cookies bekas berukuran besar untuk menampung surat yang datang darinya. Sehun juga selalu menelponku seminggu sekali. Tapi, kami hanya berbicara sepuluh menit saja –itu dikarenakan karena uang saku yang dikirimkan Paman Park padanya sangatlah pas-pasan, mau tak mau membuat Sehun harus berhemat.

Sebenarnya aku punya nomor telepon asrama yang ditinggali Sehun di Jepang. Tapi, dia melarangku menelpon balik dengan alasan takut kalau sampai yang mengangkat telpon adalah penghuni asrama yang mesum dan menggodaku seenaknya.

Dasar bodoh, aku kan tinggal menutup telponnya kalau apa yang dikhawatirkannya itu terjadi padaku. Apa susahnya, sih.
Ya Tuhan, aku baru sadar kalau aku sangat merindukan anak itu saat dia tinggal berjauhan denganku. Sehun hanya pulang saat tahun baru saja. Dia bilang tak bisa sering pulang karena jadwal kuliahnya yang padat. Dia selalu memanfaatkan waktu kepulangannya untuk merayakan tahun baru bersamaku juga bersama teman-teman yang lain. Memang tak pernah lengkap, karena masing-masing dari mereka juga memiliki jadwal yang padat yang sulit untuk dicocokkan.

Mungkin, yang selalu bisa dipastikan hadir hanyalah aku dan Jongkook. Alasannya karena Jongkook yang merupakan maknae dan masih berstatus pelajar SMA, jadinya dia masih bisa menyesuaikan jadwalnya. Sedangkan aku yang memutuskan untuk tak melanjutkan pendidikan ke universitas tentu punya segudang waktu luang.

Aku fikir aku tak akan pernah bisa masuk universitas dengan kondisi otakku yang memadai. Bahkan, sepertinya Jongkook lebih pintar dari aku. Setelah lulus dari jenjang yang setara dengan jenjang SMA, kulanjutkan untuk masuk sebuah lembaga les yang setara dengan kemampuanku.

Seungwan dan Soojung mengajakku untuk bekerja di cafe yang sama dengan mereka. Alasannya agar mereka bisa tetap bertemu denganku dan membantuku dengan pelajaran tambahan dari mereka. Aku pun menyetujuinya karena kurasa itu akan sangat membantu.

Tapi, akhir-akhir ini aku sungguh merasa bersalah pada Sehun. Pasalnya aku tak sempat membalas setiap suratnya. Hal itu di karenakan karena ayah yang sudah beberapa minggu ini jatuh sakit dan juga jadwalku yang semakin hari semakin padat saja.

Pulang dari pekerjaanku di cafe, aku langsung pergi ke lembaga les dan belajar sampai malam. Pulangnya aku mengurus ayah. Pekerja yang lain juga ikut membantu, tapi aku tak bisa membiarkan mereka membantu lebih lama karena mereka juga punya pekerjaan yang harus di selesaikan. Terkadang, aku juga bekerja untuk menggantikan kekosongan posisi karena ada salah satu pekerja senior yang menggantikan posisi ayah.

Dokter bilang, sakitnya ayah disebabkan oleh sibuknya pekerjaan dan ayah sendiri yang tak pantrang akan makanan yang dikonsumsinya. Juga karena kebiasaan ayah yang tak pernah berolahraga juga kegemarannya akan kopi dan merokok.

Sekarang, ayah terbaring lemas di kamarnya. Di karenakan aku sudah dewasa dan kamarku pindah ke kamar pekerja wanita, membuatku harus keluar-masuk kamar ayah siang dan malam. Tentu saja itu membuat tenagaku terkuras.

Jam menunjukkan pukul satu siang saat aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku di kebun milik Tuan Park. Aku berbaring di kamarku sambil menatap langit-langit dengan maksud mengisi ulang tenaga sebelum aku berangkat kerja ke cafe.

Oh, iya, pagi tadi surat dari Sehun untukku sampai dan aku belum membacanya. Aku beranjak bangun kemudian mencari surat berbungkus amplop biru itu di antara selipan di rak buku.

Kubuka lipatan kertas itu dan kubaca isinya. Masih sama.

“Kyungsoon-ah, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu, kenapa kau tak membalas suratku? Kenapa yang mengangkat telpon selalu Paman dan Bibi pekerja? Aku mohon, balas lah. Aku sangat merindukanmu.”

Begitu lah isi suratnya. Sudah ada enam surat dari Sehun yang semuanya belum sempat kubalas. Aku bisa saja menulis surat balasan, tapi aku tak yakin kapan aku bisa mengirimkannya. Maafkan aku, Sehun. Aku akan membalasnya nanti.

Kulipat lagi selembaran kertas itu, lalu memasukkannya ke dalam amplop dan kusimpan di kaleng yang sudah kusiapkan.

Kubaringkan tubuhku lagi. Kali ini kupejamkan mataku rapat-rapat. Ada sedikit waktu sebelum aku berangkat kerja lagi. Aku akan tidur sebentar supaya energiku bisa pulih dengan benar.

Tapi, aku malah tak bisa tidur karena ada suara langkah kaki yang terdengar dari lorong. Aku bangun lalu kutatap pintu kamarku. Tiba-tiba sebuah bayangan baru saja melintas.

Hei, siapa itu? Gerak-geriknya malah membuatku curiga. Pasalnya setelah beberapa saat kuperhatikan, yang dilakukan sosok itu hanyalah mondar-mandir saja dengan langkah mengendap-endap.

Aku baru ingat, hanya aku saja pekerja yang selesai bekerja. Pekerja yang lain masih sibuk dengan pekerjaannya. Bukankah, istirahat siang juga sudah selesai. Lantas… dia siapa? Dan kenapa langkahnya harus mengendap-endap sambil mondar-mandir di lorong? Kenapa juga harus bagian kamar pekerja wanita?

Pencuri? Apakah dia pencuri? Kalaupun aku teriak, tak akan ada yang akan mendengarku. Yang ada, sosok itu malah mengetahui keberadaanku. Apa yang harus kulakukan? Aku takut. Tenang, Kyungsoon. Jangan dulu berburuk sangka. Berdoa lah kalau ini bukanlah pertanda buruk.

“Si-siapa itu?” kuberanikan bertanya dari dalam kamar. Memastikan siapa sosok yang mencurigakan itu.

Kudengar sosok itu berhenti melangkah. Kemudian, langkahnya kembali terdengar. Kali ini terdengar semakin dekat, dan semakin dekat. Tak lama setelah itu, bayangannya muncul di depan pintu kamarku. Sosok itu berdiri di depan kamarku!

Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa dugaanku benar? Siapa kau sebenarnya?!!!!

Kemudian, sosok itu menggeser pintu kamarku, membukanya perlahan. Ketakutanku semakin terasa. Kututup wajahku dengan kedua tangan, aku pun tak sadar kalau aku sudah berteriak karena saking takutnya.

Ya, siapapun itu, tolong aku!!!
To Be Continued.

“Lain kali, kau harus hati-hati,” ucap Chanyeol seraya membantuku berdiri.
.
.
.
Barusan itu apa, ya? Rasanya panas sekali dan jantungku seperti mau copot saja ketika kudengar suara Chanyeol yang terdengar berat dan seksi. Arrggh!!
.
.
.
Sehun memutar piringan hitam yang dihadiahkannya untukku. Terdengar alunan instrumen Moonlight Serenade dari Glenn Miller yang lembut yang membuatku terbuai. Kemudian, Sehun menarikku ke dalam pelukannya lalu ia berbisik, “Aku merindukanmu. Hanya malam ini saja, biarkan aku memelukmu seperti seorang suami yang baru pulang merantau bertahun-tahun.”
.
.
.
“Hei, kapan kau kemari dan kenapa kau ada di sini Sehun-ah? Kalau Bibi Won tahu kau masuk tanpa izin ke kamar pekerja wanita, kau akan dihukum!”
.
.
.
Aku tak salah lihat. Itu memang Chanyeol dan kakak perempuanku, Joo Hyeon Eonni.
.
.
.
“Jin meninggal seminggu yang lalu. Itu karena ayah harus membuatnya menunggu dua tahun untuk tes masuk universitas sebagai pekerja bangunan. Saat dia punya biaya sendiri untuk ikut tes ujian masuk, dia harus menerima kenyataan pahit kalau ia gagal. Jin depresi lalu bunuh diri keesokan harinya.
.
.
.
Dia bahkan tak meninggalkan permohonan terakhir. Ayah tak peduli dan malah jatuh sakit. Itu adalah balasan karena dia hanya mengistimewakan dirimu, tidak dengan kami bertiga.”
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N : This fanfic also post on Hello, fanfic! and EXO FanFiction Indonesia. Thanks for reading and please give me your review!

One thought on “Droplet (Chapter 2)

  1. Beberapa cuplikan cerita di droplet spt kisah pribadiku sendiri, termasuk kemunculan ceye sama hunni (?)
    Ff nya bagus bgt..spt curahan hati yg dituangkan dlm cerita
    Ceye disini dingin bgt , sdgkan hun jd kebalikannya
    Gasabar deh nunggu kelanjutan ff droplet🙌😍💞

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s