Christmas Love-Dear Santa (Sequel One Fine Day)

Christmas Love-Dear Santa.jpg

Title : Christmas Love -Dear Santa (Sequel One Fine Day)

 

Story By : aeriwills

 

Leght : Oneshoot

 

Main Cast :

Kim Jongin

Jung Soojung

 

Support Cast :

-Jessica Jung

-Kim Hyoyeon

-Bae Irene

-Jung Ilhoon

 

Genre : Romance, Song fic (lainnya bisa dikategoriin sendiri lah, hihi)

 

Rating : PG-17

 

Disclaimer : Seperti biasa, sebagian besar ff buatanku terispirasi dari lagu, adegan mv, ataupun drama. Jadinya gabisa dibilang murni 100% aku yang bikin. Aku cuma ngembangin aja, kasih bumbu dikit2 -atau mungkin banyak, sesuai sama selera ajasih pas bikinnya, kalo masalah bumbunya dapet darimana,itu biasanya muncul di otak kalo lagi ngayal tingkat dewa kekek *Nah bagian ini boleh lah dibilang hasil meres otak sendiri.

Sekedar ngingetin, fanfic ini juga udah pernah aku publish di wattpad (at my wattys acc : aeriwills) , jadi bagi kalian yang mungkin nemu ff ini disana gausah kaget ya, kekeke.

Happy reading^^

.

.

.

.

Tepat seminggu sudah sejak pertemuanku dengan Jongin di taman pusat kota. Tidak banyak yang kami lakukan saat itu. Dia hanya menemaniku jalan-jalan mengelilingi taman dengan sesekali berhenti berkunjung ke toko-toko sekitar ataupun cafe.

 

‘Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau akan kembali hari ini?’

 

‘Aku bisa ikut menjemputmu di bandara, Jung.’

 

‘Untung saja Jessy noona memberitahuku. Jadi aku langsung berlari kesini.

 

‘Apa di Paris menyenangkan?’

 

‘Sepertinya kau terlalu bersenang-senang disana, sampai kau lupa dengan Seoul.’

 

Aku tersenyum sendiri mengingat Jongin berbicara panjang lebar, dia sedikit mengerucutkan bibirnya waktu itu. Dia bahkan tidak memberiku waktu untuk menjawab, dan terus mengoceh dengan wajah kesalnya.

 

Dan, ingat? Dia bilang dia berlari saat akan menemuiku. Oh ayolahh.. jarak rumah kami ke taman kota tidaklah dekat. Rumah kami? Tidak, maksudku kompleks rumah kami. Karena rumahku dan Jongin memang bertetangga.

 

Saat sekolah dulu Jongin memang tinggal bersama keluarganya di sini, tapi setelah ujian universitas 4 tahun lalu, ayah dan ibunya kembali ke Busan untuk menempati rumah neneknya yang kosong. Sedangkan noonanya, Hyoyeon tinggal bersama suaminya di Gangnam. Jadilah Jongin tinggal sendiri di sini. Tapi karena dari dulu dia sudah dekat dengan keluargaku, aku rasa dia tidak terlalu kesepian.

 

Dia bisa keluar masuk dengan santainya kedalam rumah ini. Makan bersama keluargaku juga sudah hal biasa baginya. Seakan ayah dan ibuku sudah menganggapnya putra mereka sendiri. Begitu juga dengan eonniku. Dan aku rasa eonni bahkan lebih menyayangi Jongin dari pada aku yang notabene adik kandungnya sendiri.

 

Entahlah, ayah dan ibuku selalu saja memuja-muja Jongin, menyebutnya tampan, ramah, menyenangkan dan lain sebagainya. Itu karena mereka tidak tau akan semenyebalkan apa Jongin saat menggangguku saat kami bersekolah dulu.

 

Tidak jarang juga eomma bilang ‘ah..semoga dia bisa menjadi menantuku.’

 

Atau..

 

‘Soojung-ah, kau berkencanlah dengan Jongin. Dia pria baik.’

 

Kurang lebih seperti itulah saat suatu malam eomma mengantarku tidur. Dan responku hanya diam kala itu.

 

Aku menggeleng keras mengingat semua kenangan tempo dulu. Membenamkan wajahku diatas bantal bebek yang sedari tadi tergeletak manis di atas kasur.

Ini masih terlalu pagi untukku terjaga di musim dingin ini. Yang aku lakukan dari tadi hanya berguling-guling tidak jelas di bawah selimut hangatku.

 

Bib!

 

Ponselku berbunyi, menandakan ada pesan masuk.

 

Aku meraihnya dari nakas sebelah tempat tidurku. Mataku membelalak saat melihat siapa yang mengirimiku pesan sepagi ini. Sudut bibirku tertarik dengan sendirinya.

 

‘Panjang umur sekali dia.’ Batinku

 

From : Kim Jongin

To : Jung Soojung

 

Apa kau sudah bangun, Jung?

 

Dan senyum di bibirku semakin mengembang.

 

Namja ini! dulu dia sangat menyebalkan, tapi sekarang dia berbeda. Sepertinya ucapanku minggu kemarin tidak sepenuhnya benar, Jongin bukannya ‘tidak banyak berubah’ tapi jelas ini sangat berbeda dengan Jongin yang dulu selalu menggangguku. Bukan hanya stylenya yang membuat dia terlihat dewasa, tapi juga sikapnya.

 

Padahal kami lahir di tahun yang sama, tapi sekarang serasa dia berada dua tahun lebih tua diatasku. Mungkin karena 4 tahun ini dia hidup sendiri, jadi dia lebih berpikir dewasa. Dan aku baru menyadarinya minggu kemarin. Apa aku terlalu lama berada di Paris?

 

Tidak bisa aku pungkiri, aku merindukan sikap menyebalkannya itu, tapi ada sisi lain dari diriku yang menginginkan Jongin seperti ini saja. Aku suka caranya memperlakukanku sebagai seorang wanita.

 

Oh tidak, wajahku mulai memanas sekarang! aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku. Tidak paham dengan sensasi yang baru saja merasuki diriku.

 

Ayolahhh… ini hanya pesan biasa, tidak ada yang spesial Soojung-ah. Bukankah kalian hanya berteman?

 

Dan…Jung?

 

Oke, memang banyak yang memanggilku dengan nama itu, tapi tidak tahu kenapa rasanya berbeda saat Jongin yang mengatakannya. Aku suka aksennya saat menyebut namaku. Membuat hatiku…ah sudahlah!

 

Bukannya membalas, aku malah tengkurap dan membenamkan wajahku lagi di atas bantal.

 

‘Hei jantung, tidak bisa kau pelankan sedikit detakanmu itu. Mengertilah, ini menyiksaku, tapi juga…menyenangkan? Ah bahkan aku sudah gila sekarang. Mana ada sakit yang menyenangkan?’

 

Perutku dibuat mulas hanya dengan sebuah pesan yang bahkan tidak terkesan special. bukan karna sembelit. Tapi entahlah ada apa disana. Seakan membawaku melambung ke angkasa. Sangat menggelitik.

 

‘Apa ini karena Jongin yang mengirimiku pesan?’

 

‘Tapi ini bukan pertama kalinya dia begitu. Bukankah dulu kami sering bertukar pesan?’

 

Dan… ya, ini memang pesan pertamanya semenjak seminggu lalu kami saling bertukar nomor ponsel kembali. Karena aku mengganti nomor ponselku dengan yang baru sekembalinya ke Seoul.

 

Senyum manis Jongin mulai bermunculan, berputar-putar di otakku. Tuhaannn… apa ini? Bagaimana bisa perasaan yang aku rasakan 4 tahun lalu kembali lagi seperti ini. Bahkan sepertinya lebih besar. Aku pikir, setelah aku meninggalkannya, aku akan bisa melupakkannya dan beralih pada laki-laki lain. Tapi sepertinya aku salah.

 

‘Kau hanya berteman dengannya saja, bisa membuat jantungmu tidak karuan. Bagaimana kalau kau benar-benar menyukainya Jung? Kau bisa mati jatuh dalam pesonanya!’

 

“Huaaaa..! Hhaaaaaa!” Aku menggelengkan kepalaku, menjerit tertahan dibawah bantal. Menghentak-hentakkan kakiku diatas kasur sehingga menimbulkan suara decitan

 

Ceklek!

 

“Soojung-ah wae?” Jessy eonni muncul dari balik pintu kamar. Berjalan tergopoh kearahku dengan wajah cemasnya. Sepertinya dia mendengar teriakanku dan mengira telah terjadi sesuatu yang tidak-tidak padaku.

 

“Astaga! Kau berantakan sekali, apa kau mimpi buruk? Katakan pada eonni.”

 

“Huaaa..!! Eonniiiiii…” Aku menyingkap bantal di wajahku. Merubah posisiku menjadi duduk. Menunjukkan wajahku yang kusut pada Jessy eonni.

 

Tatapanku memelas seakan berkata ‘Eonni bantu aku’. Aku ingin menangis rasanya, memegangi dadaku yang tak kunjung berdetak normal. Terasa sesak tapi juga berbunga-bunga, aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.

Ini memang bukan pertama kalinya aku menyukai seorang lelaki. Tapi percayalah, dulu aku tidak seperti ini.

 

“W-wae? Kau sesak napas? Eoh? Bagian mana yang sakit? Beritahu eonni..” Jessy mengerutkan dahinya cemas. Memegangi kedua bahuku erat. Sedangkan aku hanya bisa menggeleng lemah dengan mengerucutkan bibirku.

 

“Lalu? Ada apa denganmu? Jangan buat aku cemas Soojung-ah.”

 

“Eonni….” kataku lirih dan bergetar. Aku merunduk tidak tau harus memulainya dari mana. Aku terlalu malu untuk menceritakan hal ini pada eonni. Walaupun dari dulu aku selalu bercerita tentang banyak hal padanya, tapi untuk masalah ini kurasa aku belum siap.

 

Dia sering menanyaiku tentang siapa lelaki yang aku sukai, tapi aku selalu menjawabnya dengan nama orang lain, bukan Jongin. Karna waktu itu aku hanya mengira itu perasaan bisa saja pada seorang teman. Aku tidak tahu kalau akhirnya akan separah ini.

 

“…..bagaimana kalau…” aku menggantungkan kalimatku,lalu menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

 

Kutarik napas dalam lalu ku kembuskan perlahan. Mencoba membuat hatiku lebih tenang. Aku menatap Jessy eonni yang masih setia memadangku dengan tatapan teduh sekaligus penasaran yang dipancarkannya.

 

“Tapi eonni harus berjanji untuk tidak menertawaiku, eoh?” lanjutku lirih sambil kembali mengerucutkan bibir. Masih ragu harus menceritakannya  atau tidak.

 

Jessy menautkan kedua alisnya “Kenapa aku harus menertawaimu?”

 

“Kau juga harus berjanji tidak akan memberitahu siapapun, termasuk eomma dan appa.”

 

“Ceritakan saja padaku kalau itu bisa membuatmu lebih baik.”

 

Aku mengangguk. Dari kecil aku selalu percaya pada Jessy eonni. dan memang benar, setelah aku menceritakan semua masalahku padanya aku akan kembali tenang. Dan semoga sekarang juga seperti itu.

 

“….ceritakan padaku..em rasanya jatuh cinta, eonni..” aku menunduk kembali, tidak mau melihat wajah Jessy yang mungkin sekarang sudah mengulum senyumnya atas pertanyaan konyol yang baru saja kulontarkan. Yang benar saja, kau sudah setua ini Jung, 23 tahun, dan kau sudah masuk kategori orang dewasa, tapi kau bahkan belum tau bagaimana rasanya jatuh cinta yang sebenarnya.

 

“Ne?? Aigoo~ apa adik cantikku ini baru saja mengakui kalau dirinya sedang jatuh cinta? Siapa laki-laki yang bisa menaklukan hati seorang Jung Soojung?”

 

“Aku benar kan? Kau pasti akan mengejekku. Jawab saja eonni.” Kepalaku masih menunduk, menghela napas pasrah. Aku memainkan jari telunjukku di atas layar ponselku.

 

Hening beberapa detik.

 

“Is that the man who lived next door, baby?” Jessy mulai bersuara.

 

Sontak aku mendongak saat mendengar itu dari mulut Jessi.

 

‘Bagaimana dia bisa tau? Apa jelas tertulis di keningku sekarang?’

‘Aku jatuh cinta pada Kim Jongin.’ Seperti itu?

 

Aku menatap heran wajah eonniku yang sedang mengulum senyum sambil melirik ponsel yang ada di tanganku. Aku mengikuti arah pandangannya.

 

Ommo! Aku lupa kalau layar ponselku masih menyala dan menunjukan chatroom milik Jongin. Cepat-cepat aku menekan tombol ‘back’ pada layar dan melempar ponselku sedikit menjauh.

 

‘Bisa-bisanya! Kau bodoh Jung Soojung! Aissh!!’

 

“I caught you, baby hahaa~” Jessi eonni mengerling jail.

 

Aku memejamkan mata dan menggigit bibir bawahku, meruntuki segala kebodohan dalam diriku sendiri yang daridulu tidak pernah hilang. Heol~

 

***

 

“Selamat pagi Imo~” Suara berat seorang lelaki memenuhi ruang depan kaluarga Jung.

 

“Eoh? Jongin-ah. Masuklah, eomma sedang di dapur bersama Soojung.” Kata Jessy yang sedang bersiap-siap akan keluar. Entah dia akan pergi kemana, mungkin berkencan. Tapi…sepagi ini? ah, molla. Biarkan saja, itu kan urusan Jessy.

 

“Ne, noona. Maafkan aku karena bertamu pagi-pagi.”

 

“Siapa yang menganggapmu tamu, Jong? Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami.” Teriak Ny. Jung dari arah dapur. Sepertinya dia mendengar percakapan Jongin dengan Jessica barusan.

 

Mendengar itu, Jongin langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Dan sedikit terkejut saat langkahnya terhenti oleh Soojung yang berada di depannya. Gadis itu membawa semangkuk sup kimchi di tangannya.

 

Dilihatnya Soojung dari atas sampai bawah. Selama ini Jongin belum pernah benar-benar memerhatikan Soojung saat memakai celemek dengan wajah berpeluh karena terkena asap didapur. Dia terlihat…cantik? yah, setidaknya itu pendapat Jongin.

 

Mata keduanya mengerjap bersamaan. Hati Soojung seakan mencelos ketika berhadapan dengan Jongin seperti ini. Keduanya mematung diambang pintu cukup lama. Dan baru tersadar saat suara Ny. Jung menyela mereka berdua.

 

“Sampai kapan kalian akan berdiri disini ha? Kalian menghalangi jalanku, nak.”

 

“M-maafkan aku imo.” Jongin tersenyum kikuk lalu memberi jalan pada Ny. Jung. Jongin dan Soojung sempat  saling bertukar senyum, tapi hanya sebentar karena Soojung dengan cepat mengekor di belakang eommanya menuju ruang makan.

 

“Imo, eomma mengirimiku daging dari Busan. Katanya ini untukmu untuk merayakan natal besok.”

 

“Aigoo.. benarkah? Sampaikan ucapan terima kasihku pada mereka Jongin-ah. Dan, apa mereka baik baik saja disana?”

 

“Emm..aku rasa seperti itu. Eomma bilang, dia dan appa baik-baik saja. Aku taruh dagingnya di dalam kulkas ya imo?” Jongin meletakkannya lalu beranjak mendekati Ny. Jung.

 

“Sekalian saja kau sarapan di sini Jongin-ah. Aku dan Soojung sudah selesai memasaknya.”

 

“Terima kasih imo, tapi Irene sudah menungguku di cafe, ada yang ingin kami bicarakan.”

 

“Begitukah? Ah, tapi apa besok kau bisa kemari? Kau tidak pulang ke Busan kan? Kita kita makan malam dan rayakan natal bersama.” Ucap Ny. Jung dengan senyum ramahnya. Membuat Soojung sedikit terlonjak, tidak mengira ibunya akan mangundang Jongin kesini.

 

“Ne. Dengan senang hati imo, aku akan datang. Aku pergi dulu imo.” Jongin membalas dengan senyuman manis di bibirnya.

 

“Sampai jumpa Soojung-ah.” Lanjut Jongin masih dengan tersenyum. Senyum yang bisa membuat hati Soojung menghangat di musim dingin ini.

 

“Eoh.. hati-hati di jalan.” Soojung juga tersenyum dan sedikit melambai kerah Jongin. Tapi perlahan senyumnya menghilang dari sudut bibir cantiknya.

 

‘Siapa Irene? Apa dia kekasih Jongin?’

 

***

 

Kling!

 

Pintu cafe terbuka, didikuti dengan langkah Jongin yang masuk kedalamnya. Matanya menilik keseluruh penjuru ruangan. Lalu berhenti saat netranya menangkap sesosok wanita cantik yang tengah duduk di sisi kiri cafe di dekat jendela.

 

Jongin tersenyum sambil berjalan mendekat kearah wanita itu. Digesernya kursi tepat di depan seorang yang ia panggil Irene.

 

“Kau sudah lama?” tanya Jongin sambil menopang sikunya di atas meja. Masih dengan senyum mempesonanya.

 

“Ya! bagaimana semua wanita tidak terpesona padamu kalau kau selalu tersenyum seperti itu.” Kata Irene kesal.

 

“Hehe..mian.” Jawab Jongin terkekeh.

 

“Kita pergi sekarang?” lanjut Jongin.

 

“Eoh, kajja.” Irene menjawab antusias.

 

***

 

Mood Soojung sedang tidak baik hari ini. Dari pagi sampai sore ini dia uring-uringan terus. Tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya, yang Soojung rasakan adalah apapun kegiatan yang ia lakukan serasa tidak ada yang benar. Dia bahkan memarahi ornamen pohon natal yang tidak bersalah saat Ia dan Jessica bersama menghias pohon natal di ruang keluarga.

 

“Soojung-ah, ada apa denganmu? Daritadi kau marah-marah tidak jelas seperti itu.” Tanya Jessy saat ia mulai kesal dengan tingkah adiknya yang serba menjengkelkan.

 

“Aish! Entahlah eonni, aku hanya kesal dengan ornamen ini yang terus saja jatuh saat aku memasangnya di atas sana. Aku lelah harus naik turun kursi.” Soojung cemberut.

 

“Soojung-ah.. Natal adalah hari baik bagi kita semua, kau tidak boleh terus-terusan seperti ini. kita harus menyambut natal dengan bahagia.”

 

“Arraseo eonni.” bibir Soojung mengerucut, menunduk menuruti nasihat kakak perempuannya itu. Dihirupnya napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, berharap mood buruknya akan ikut menghilang saat ia menghembuskan napasnya.

 

Jessy dan Soojung melanjutkan menghias pohon natal tanpa suara. Sampai akhirnya Soojung berinisiatif untuk menanyakan suatu hal yang sangat membuatnya penasaran.

 

“Eonni… apa kau tau siapa itu Irene?” tanya Soojung sambil berjinjit untuk meletakkan ornamen di cabang pohon yang sedikit lebih tinggi darinya.

 

Jessy menghentikan aktivitasnya, menatap adik semata wayangnya itu. Rasanya baru kemarin Soojung masuk sekolah dasar, tapi sekarang Jessy menyadari bahwa adik kecilnya ini telah beranjak dewasa. Jessy mengulum senyum di bibirnya, ia tau kemana arah pembicaraan ini.

 

“Irene?” Jessy menautkan kedua alisnya. Soojung menganggguk menatap kakaknya. Jelas terpancar raut penasaran dan juga cemas dari wajah Soojung.

 

“Ah… apa maksudmu wanita yang selalu bersama Jongin?” Jessy menyelidik.

 

“Selalu? Apa mereka dekat eonni?”

 

“Jadi ini yang membuat adik cantikku uring-uringan dari pagi? Kau kesal karena Jongin bilang akan bertemu dengan Irene, eoh?” Jessy tidak bisa menahan senyumnya.

 

“Tidak… bukan itu maksudku.” Soojung menggerak-gerakkan kedua tangannya berusaha menutupinya.

 

“Lalu?” Jessy mengangkat sebelah alisnya, ingin melihat respon dan alasan apa lagi yang akan adikknya gunakan untuk menyangkal.

 

“Aku.. aku.. emm, hanya ingin bertanya. Itu saja..” suara Soojung perlahan melirih.

 

“Kalau begitu tanyakan langsung pada Jongin..”

 

Bang! Kena kau. Soojung tidak merespon. Dia lebih memilih melanjutkan aktivitasnya yang terhenti daripada harus membahas hal ini.

 

“Soojung-ah, mau sampai kapan kau akan menyangkalnya?”

 

“Maksud eonni?” Soojung menoleh.

 

“Kenapa sulit sekali bagimu untuk mengakui perasaanmu pada Jongin?”

 

Lagi-lagi Soojung diam, memikirkan kata-kata yang baru saja Jessy katakan.

 

‘Eonni benar, mau sampai kapan aku akan menyangkalnya?’

 

“Aku hanya ragu eonni..” Suara Soojung tertahan. Menatap kosong kearah ornamen berbentuk beruang kecil yang mengenakan topi santa.

 

Jessy tersenyum lembut.

 

“Kemarilah Jung..” Ia membimbing adiknya duduk ke sofa didekatnya. Meraih Soojung kedalam pelukan hangat seorang kakak. Soojung membalasnya, meletakkan kepalanya di bahu Jessy. Dibelainya lembut rambut coklat Soojung yang tergerai.

 

“Kau bilang padaku kalau jantungmu berdegup dengan tidak semestinya saat berada di dekat Jongin, apa itu benar?” tanya Jessy pelan.

 

Soojung mengangguk dalam pelukannya.

 

“Apa kau merasa gugup sekaligus senang saat Jongin bersamamu? Apa kau merasakan sensasi yang aneh dan belum pernah kau rasakan sebelumnya saat bersamanya?”

 

Soojung mengangguk lagi.

 

“Lalu, apa kau juga merasakan sesak dan sakit di dadamu saat mendengar atau melihat Jongin dengan wanita lain?” Soojung terdiam. Mencoba menelaah apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Sesaat kemudian Soojung mengangguk lemah.

 

“Kau sudah tau jawabannya Jung, apa yang masih kau ragukan?”

 

“Apa kau ingin terus memendamnya sendiri seperti ini? dan membiarkan tidak ada satupun dari kalian yang mengetahuinya? Tidak ada salahnya jika kita mengungkapkannya lebih dulu sayang..”

 

Seketika butiran bening lolos dari pelupuk mata Soojung. Jatuh perlahan diatas pipi mulusnya. Kalau boleh jujur, Ia lelah dengan perasaannya sendiri.

 

Soojung berusaha untuk tetap tenang, ia tidak ingin eonninya mendengar suaranya bergetar karena menangis sekarang. Rasanya lucu sekali saat Soojung menangisi seorang Kim Jongin seperti ini.

 

“Aku takut saat dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku eonni. Aku tidak siap mendengar penolakan darinya. Aku dan Jongin sudah berteman sejak lama. Dan aku tidak ingin pertemanan kami rusak karena ulahku…” Jessy mengusap lembut punggung adiknya.

 

“…lagipula kenapa harus Jongin? Bukankah akan lebih mudah kalau aku menyukai orang lain, eonni..”

 

“Soojung-ah, liat eonni.” Jessy menangkupkan kedua tangannya di pipi Soojung. Ia tau kalau adiknya ini habis menangis, tapi ia tidak mau membahasnya. Mungkin dengan menangis, akan lebih menenangkan diri Soojung.

 

“Dengar baik baik, kalau kau berani jatuh cinta pada seseorang, kau juga harus berani menghadapi resikonya sayang. Apapun jawabannya, setidaknya itu sudah cukup membuat hatimu lega. Kau tak perlu menyembunyikan apapun lagi. Kau tidak akan terbebani dengan itu.”

 

“Dan lagi, tidak ada satupun dari kita yang bisa menentukan dengan siapa kita akan jatuh cinta, Tuhan sudah mengaturnya Jung.” Soojung hanya menunduk, merenungi kata-kata kakaknya barusan.

 

Eonni yakin Jongin juga mencintaimu..’

 

***

 

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat Soojung merebahkan badannya di tempat tidur. 2 jam yang lalu ia baru sampai di rumahnya setelah berdoa ke gereja bersama keluarga. Masih dengan baju yang sama saat ia pakai ke gereja tadi, Soojung mulai bergulingan di kasur empuknya, mencoba memejamkan mata, tapi failed! Pikirannya terus melayang mengingat percakapannya dengan Jessica tadi sore.

 

Walaupun ini adalah malam natal, tapi Soojung tidak ada gairah sama sekali untuk keluar dari kamarnya sekedar untuk menonton film bersama keluarganya. Ia tau, tidak sepantasnya dia seperti ini, dia seharusnya menyambut natal dengan suka cita, tapi bagaimana lagi, hatinya berkata lain. Dan menurutnya itu tidak bisa diabaikan. Awalnya ibu atau ayahnya akan mengetuk pintu kamarnya sekitar 5 menit sekali untuk mengajak Soojung keluar. Tapi setelah beberapa saat, ketukan pintu itu tidak terdengar lagi. Mungkin Jessica sudah memberitahu ayah dan ibunya untuk tidak menggangu Soojung terlebih dulu dan membiarkan Soojung sendiri. Ia tau betul bagaimana kondisi Soojung saat ini.

 

Soojung terduduk, pandangannya lurus menatap langit hitam yang menjatuhkan salju putihnya melalui jendela kamar. Membuat jalanan menjadi penuh dengan gundukan putih nan dingin. Yang saat kita berjalan diatasnya, tidak sampai satu jam jejak kaki kita akan menghilang tertutup butiran salju yang baru.

 

Bib!

 

Layar ponsel Soojung menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk. Pandangan Soojung beralih, meraih ponsel yang tergeletak disampingnya. Jarinya menggeser lock dan membuka pesan.

 

From : Kim Jongin

To : Jung Soojung

 

Kau belum tidur Jung?

 

Sudut bibirnya tertarik sedikit saat membaca pesan itu.

 

From : Jung Soojung

To : Kim Jongin

 

Bagaimana kau tau?

 

Soojung mengetikkan balasannya pada Jongin, lalu memencet tombol send.

 

Tidak sampai 3 menit, muncul lagi balasan dari Jongin.

 

From : Kim Jongin

To : Jung Soojung

 

Aku dibawah, turunlah🙂

 

Soojung terkejut, langsung beranjak dan menilik kearah luar melalui jendela kacanya. Dibawah terlihat Jongin sedang melambai-lambaikan tangan kanannya dengan tersenyum.

 

‘Apa yang dia lakukan?’      

 

Soojung langsung berbalik, bergegas mengambil mantelnya dan berlari keluar.

 

“Soojung-ah mau kemana?” teriak tuan Jung melihat putrinya yang berlari tergopoh-gopoh.

 

“Kaluar sebentar appa.” Jawab Soojung sambil lalu.

 

“Ini sudah malam.”

 

“Aku tidak akan jauh-jauh.” Suara Soojung sudah sampai di ujung pintu depan.

 

“Tapi.. Soojung-ah!”

 

“Aku melihat Jongin di depan, mungkin dia akan menemuinya.” Ujar Ny. Jung.

 

Tuan Jung diam sejenak kemudian menganggukkan kepala tanda mengerti dengan mulut membulat membentuk huruf ‘o’.

 

***

 

“Apa yang kau lakukan disini?”

 

Jongin mengedikkan bahu “Tidak ada, aku hanya tidak bisa tidur, hehe.” Jongin terkekeh menunjukkan barisan gigi rapihnya.

 

“Kau mau menemaniku?” lanjut Jongin sambil mendudukkan dirinya di kursi taman depan rumah mereka.

 

“Aku tidak akan keluar kalau aku keberatan untuk itu, tuan Kim.” Soojung mengikuti Jongin duduk di bangku.

 

Jongin tersenyum lembut ke arah Soojung. Dan.. yah kalian pasti tau apa yang terjadi pada hati Soojung selanjutnya. Melompat kegirangan bermain dengan ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Entah dari mana kupu-kupu itu bisa masuk kesana.

 

‘Makan apa Ny. Kim saat mengandung Jongin? bisa-bisa aku diabetes melihat senyumnya setiap hari.’ Batin Soojung mengalihkan pandangannya kedepan.

 

“Kenapa kau belum tidur, Jung?”

 

“Dari mana kau tau kalau aku belum tidur tadi?”

 

Jongin mendongak, menunjuk kearah kamar Soojung di lantai 2.

“Lampu kamarmu masih menyala.”

 

Hening beberapa saat. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Soojung merunduk sambil memainkan ujung mantelnya. Sedangkan Jongin hanya menatap lurus kedepan dengan pandangan kosongnya.

 

“Apa kau akan kembali lagi ke Paris Jung?” Kini netra Jongin terarah pada Soojung.

 

“Studyku sudah selesai, aku hanya perlu menghadiri wisuda bulan depan. Wae?”

 

“Syukurlah, aku pikir kau akan kembali kesana untuk waktu yang lebih lama lagi.”

 

“Kalau itu memungkinkan, kenapa tidak?” Soojung memberikan senyum lembutnya pada Jongin.

 

Seketika terlihat raut kecewa yang terpancar dari wajah tampan Jongin.

 

“ Apa kau tidak merindukan keluargamu di sini? Kau tidak merindukan Seoul?”

 

“Tentu saja aku merindukan mereka Jong. Juga siapa yang rela untuk meninggalkan kota yang begitu indah ini?”

 

“Tapi kau bilang akan tetap pergi.”

 

“Aku bilang, jika itu memungkinkan.”

 

“Apa kau tidak merindukanku Jung?”

 

Soojung terperanjat, tidak menyangka Jongin akan bertanya seperti itu padanya. Pangdangannya bertemu dengan manik mata Hazel milik Jongin.

Ingin rasanya Soojung mengakui bahwa dia sangat merindukan Jongin. Ingin sekali dia berteriak dan jatuh kepelukannya sekarang juga. Mengatakan segala perasaan yang ia pendam dari dulu. Meluapkan seluruh isi hatinya kepada pria yang duduk di sampingnya. Tapi lagi-lagi mulutnya terkunci rapat. Pikirannya benar-benar mengalahkan kata hatinya.

 

Sekarang Soojung merasa dia adalah wanita terbodoh di dunia ini yang hanya akan menuruti gengsinya saja, tanpa melirik sekalipun pada hatinya, walaupun ia tau rasanya sangat menyakitkan untuk memendamnya sediri. Tapi Soojung tetap kekeuh pada apa yang menjadi pilihannya. Menurutnya ini adalah jalan yang terbaik bagi mereka. Soojung lebih memilih merasakan sakit hati sendiri daripada harus merelakan pertemanannya dengan Jongin rusak karena perasaan bodoh miliknya.

 

“Lupakan, Jung. Aku hanya bercanda.” Lanjut Jongin dengan senyum yang tetap tersungging di bibir penuhnya dengan tangan kanannya mengusap lembut puncak kepala Soojung. Jongin menyadari perubahan mimik Soojung saat ia bertanya tadi. Maka dari itu ia berinisiatif untuk mengubah topik pembicaraan mereka.

 

Mendengar itu, Soojung sedikit mengangguk dengan menyungginkan senyum yang ia paksakan.

 

“Apa kau ada acara setelah makan malam besok Jung?”

 

Soojung menggeleng “Kurasa tidak, wae?”

 

“Bagaimana kalau kita keluar bersama?” Tanya Jongin antusias.

 

“Kemana?” tanya Soojung penasaran.

 

“Kemana saja. Yang menyenangkan.”

 

“Jangan bilang kau akan mengajakku ke Lotte World lagi seperti dulu.” Soojung mempoutkan bibirnya menatap Jongin.

 

“Aku sudah bukan Jongin yang suka bermain-main seperti dulu Jung, percaya padaku.” Jawab Jongin dengan terkekeh kecil.

 

“Em… tapi, apa kau tidak ada kencan?” tanya Soojung ragu.

 

“Kencan? Dengan?” Jongin menautkan kedua alisnya.

 

Soojung mengedikkan bahu “Entah… mungkin Irene?”

 

Jongin menelengkan kepalanya kesamping, mencoba menimbang jawaban.

 

“Aku bisa berkencan setelah pergi denganmu Jung.” Akhirnya kata itulah yang berhasil lolos dari mulut Jongin.

 

Soojung hanya bisa mengangguk lemah dan tersenyum getir mendengar jawaban yang diberikan Jongin. Bukan ini jawaban yang Soojung inginkan. Tapi ini salahnya sendiri karena sudah menanyakan hal yang sebaiknya tidak ia tau.

 

Jongin membenarkan posisi duduknya, menggosokkan kedua telapak tangannya yang mulai membeku karena dingin. Ia juga sadar tak seharusnya Ia meminta Soojung keluar dengan cuaca yang sedingin ini. Jongin merasa benar-benar bersalah saat melihat wanita di sampingnya mulai merapatkan mantel yang ia kenakan.

 

“Sudah semakin larut Jung, sebaiknya kau masuk sekarang, udaranya sangat dingin disini.”

 

Soojung menoleh “Bagaimana denganmu?”

 

“Aku juga akan masuk sebentar lagi. Kau duluan saja. Jangan lupa ganti bajumu, juga nyalakan penghangat di kamarmu lalu cepetlah tidur.” Ujar Jongin dengan mengusap lembut kepala Soojung untuk yang kedua kalinya malam ini.

Soojung menurut, ia beranjak dari duduknya melangkah memasuki halaman rumahnya. Sesaat langkahnya terhenti dan berbalik menunjukkan senyum cantiknya lalu melambaikan tangannya pada Jongin.

 

***

 

‘Dear Santa… apa kau mendengarku? Tantu saja, aku percaya itu. Aku ingin natal kali ini adalah natal terindahku.’

 

Sekiranya seperti itulah gumaman Soojung sesaat sebelum ia terlelap dalam tidurnya.

 

Sedangkan diluar sana, masih terduduk seorang Kim Jongin, mendongak menatap langit, merasakan dinginnya salju yang jatuh dipermukaan kulitnya seraya berkata.

‘Dear Santa… bantu aku untuk membuat natal kali ini menjadi natal terindah untuknya.’

 

***

 

“Kalian jadi pergi?” Suara berat Tuan Jung menggema di ruang makan. Acara makan malam mereka sudah selesai. Semua piring kotro sudah dibereskan.

 

“Ne samchoon, boleh kan aku keluar dengan Soojung malam ini?” Jongin meminta ijin.

 

“Tentu saja boleh nak.” Kali ini Ny.Jung yang menjawab dengan senyum sumringahnya.

 

“Jaga adikku baik-baik, awas saja kalau terjadi apa-apa padanya!” Jessy mengancam Jongin dengan melebarkan kedua matanya. Alih-alih takut, Jongin malah terkekeh geli melihatnya.

 

“Tenang saja noona, dia aman bersamaku.” Jawab Jongin dengan tersenyum.

 

“Yak! Kalian ini, seperti aku akan pergi jauh saja. Aku dan Jongin hanya akan jalan-jalan sebentar.”

 

“Ya baiklah… semoga kencan kalian menyenangkan.” Jessica tersenyum jail.

 

“Eonniii~!” Soojung mempoutkan bibirnya sebal.

 

“Arraseo~ Pergilah. Aku bercanda bebiii…”

 

***

 

Malam natal sudah kemarin, dan sekarang adalah malam kedua hari natal. Biasanya, di Korea pasangan-pasangan muda akan berkencan pada malam natal. Sehingga jalanan, restoran, juga toko dan lain lain akan ramai dipenuhi para pasangan muda. Walupun malam ini adalah malam kedua natal, tetap tidak mengurangi kuantitas para pasangan muda yang terlihat berkencan di setiap sudut kota Seoul. Termasuk Jongin dan Soojung diantaranya. Kencan? Mereka berkencan? Entahlah bisa dikatakan apa moment ini untuk mereka berdua.

Mobil Jongin berhenti di pelataran parkir Namsan Tower Seoul.

 

“Namsan?” Soojung seakan masih tidak percaya pada Jongin.

 

“Tentu, kajja!” Jawab Jongin suka cita. Ia membuka pintu kemudinya, lalu berlari kearah pintu penumpang disebelahnya. Ia membukakan pintunya untuk Soojung.

 

“Woahhh….” Soojung ternganga melihat pohon natal yang begitu besar dan indah di depan Namsan Tower. 4 tahun merayakan natal sendirian di negeri orang membuatnya lupa jika Korea memiliki tepat yang sangat indah seperti ini. bahkan disaat hari biasa pun sudah terlihat indah. Apalagi saat natal.

 

“Kau suka?” tanya Jongin. Tak bisa dipungkiri, dia senang melihat wajah Soojung yang begitu berbinar seperti saat ini. Soojung mengangguk senang tanpa bersuara tapi jelas terlihat senyum mengembang di bibirnya.

 

“Kajja kita naik ke atas tower Jung.” Jongin menarik lembut tangan Soojung dan menggenggamnya erat.

 

Soojung tertegun. Pikirannya kembali berputar saat dulu Jongin menggandengnya menuju Lotte World. Juga sensasinya. Sama sekali tidak ada yang berubah. Genggaman yang bisa menghangatkan dan mendebarkan hati Soojung. Sejenak ujung bibir keduanya tertarik, membentuk seulas senyum yang hanya mereka berdua yang mengetahui artinya.

 

Mereka menaiki lift menuju lantai teratas Namsan Tower. Disana mereka bisa menikmati indahnya kerlap kerlip kota Seoul saat natal ini. Tidak ada yang berkata saat keduanya mulai sampai di lantai atas. Keduanya terdiam takjub dengan keindahan yang disuguhkan kota Seoul. Dengan tangan yang saling bergandengan, menghangatkan satu sama lain. Belum ada yang menyadarinya, atau kalau perlu tak usah sadar saja agar keduanya bisa tetap seperti ini. menikmati debaran yang bergemuruh di dada masing-masing, juga ribuan kupu-kupu yang menggelitik perut. Yang membuat senyum mereka tidak memudar, bahkan semakin mengembang menunjukkanbetapa bahagianya mereka.

 

Sampai akhirnya Soojung tersadar.

 

“Jongin-ah…” panggilnya dengan suara lirih. Berusaha melepaskan genggaman tangan mereka.

Tapi Jongin tak menghiraukannya, malah semakin erat menggenggam tangan Soojung dan menariknya masuk kedalam saku coat yang ia kenakan. Jongin memejamkan kedua matanya, mecoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita inilah yang sanggup mengambil hampir seluruh hatinya. Jongin mengusap pelan punggung tangan Soojung yang berada di balik sakunya, mencoba menyalurkan kehangatan bagi wanita yang berdiri di sebelahnya. Soojung mematung.

 

“Soojung-ah, menurutmu, adakah seorang pria dan wanita yang akan terus berteman sampai waktu yang cukup lama?” Suara berat Jogin menggema di teliga Soojung. Soojung menoleh, begitu pula Jongin. mereka berdua saling menatap satu sama lain. Soojung tersenyum.

 

“Kenapa tidak?” jawabnya.

 

“Kau ingin terus berteman denganku Jung?”

Soojung mengangguk. Bukan itu yang ingin Jongin lihat dari reaksi Soojung.

 

Hening beberapa saat.

 

“Bagaimana kalau aku menyukaimu?” Jongin akhirnya memberanikan diri membuka perasaannya.

 

Soojung sedikit tersentak dengan pernyataan Jongin yang tiba-tiba itu. Pasalnya, selama ini yang ia tau adalah dia sendirilah yang menyimpan persaan pada Jongin, dia sama sekali tidak mengira kalau perasaannya akan terbalaskan. Tapi Soojung tetaplah Soojung. Dia tidak akan semudah itu percaya apa yang barusaja Jongin katakan. Menyatakan suka pada seseorang itu bukanlah hal yang mudah bagi Soojung, dan baru saja Jongin mengatakan itu dengan mudahnya di hadapan Soojung. Soojung tersenyum getir.

 

“Tentu saja kau harus menyukaiku Jongin, karna kau temanku. Tidak mungkin kita saling membenci.”

 

Jongin menghela napas kasar.

 

‘Tepatkah jika aku menyatakannya sekarang?’ pikir Jongin.

 

“Bukan seperti itu yang aku maksud Jung, aku…aku menyukaimu dalam arti yang lain.. aku tau kau pasti paham maksudku. Apa harus aku menjelaskannya secara mendetail?”

 

“Bukan hanya sekedar teman, aku ingin lebih dari itu… Jadilah kekasihku, Jung..”

 

Kali ini Jongin benar-benar membuat Soojung kehilangan kendali hatinya. Soojung menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Jongin. pandangannya beralih pada hamparan lampu kota Seoul. Bingung, tidak tau apa yang harus Soojung lakukan selanjutnya. Akhirnya Soojung memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.

 

“Sebaiknya kita pulang sekarang. Kau bilang ada janji kencan setelah ini dengan Irene. Jangan biarkan dia terlalu lama menunggu.” Soojung berkata dengan senyumnya. Lalu berbalik untuk meninggalkan tempat ini sebelum akhirnya Jongin meraih tangannya kembali. Menempatkan Soojung tepat di hadapannya. Mengenggam erat pundak Soojung agar dia tidak bisa lagi berpaling darinya.

 

“Soojung-ah, lihat aku…” Suara Jongin merendah. Menatap lembut wanita yang teramat ia kasihi. Perlahan Soojung mendongak.

 

“Apa aku terlihat berbohong di hadapanmu sekarang? Apa kau pikir aku main main dengan apa yang aku katakan? Hmm?” kadar kelembutan Jongin tidak berkurang sama sekali.

 

Soojung tidak menjawab, matanya tiba-tiba terasa panas. Sesekali ia harus mengerjap agar air matanya tidak jatuh. Sudah berapa kali soojung bilang bahwa ia lelah dengan perasaanya? Soojung lelah dengan seluruh perhatian yang Jongin berikan padanya, ia tidak akan merasa sesakit ini jika ia tidak mengetahui hubungan Jongin dengan Irene. Mungkin jika itu yang terjadi, Soojung juga akan memberitahu perasaan yang sebenarnya pada Jongin tanpa harus memikirkan Irene. Irene? Siapa dia bahkan soojung belum tau asal usulnya. Yang dia tau dari Jessy adalah dia wanita yang dekat dengan Jongin, dan sekarang Jongin malah menyatakan perasaan padanya. Soojung tidak tau harus berbuat apa.

 

“Soojung-ah… kau tau? Aku dan Irene tidak ada hubungan apapun. Kau salah paham tentang itu..”

 

“Tapi kau bilang kau akan berkencan dengannya hari ini..” suara Soojung lirih.

 

“Apa aku menyebutkan namanya saat aku bilang akan berkencan? Tidak Jung… aku memang berkencan hari ini, dan itu bukan dengan Irene, tapi kau…Jung Soojung..”

 

Soojung tidak bisa berkata apapun. Ingin sebenarnya dia berteriak di depan Jongin untuk jangan lagi berbuat seperti ini. Berhenti merayunya dengan hal yang tidak-tidak. Dengan semua omong kosong ini. tapi napasnya tercekat. Yang lolos malah butiran bening dari pelupuk matanya. Genggaman erat pada pundak Soojung akhirnya mengendor.

 

Tubuh Jongin menegang melihat Soojung menangis. Ia sadar apa yang barusaja dia lakukan sudah kelewatan. Jongin merasa sangat bersalah sekarang. Bukannya membuat wanita terkasihnya tersenyum malam ini, tapi dengan jahatnya dia membuatnya menangis.

 

“M-maafkan aku Jung…” Jongin merasa sangat menyesal. Jongin memegang pelipisnya yang berdenyut. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia memaksakan perasaannya pada Soojung seperti ini.

 

“Tidak seharusnya aku memaksamu memahami perasaanku Jung…maafkan aku karna terlalu egois tentang hal ini. Lupakan saja apa yang sudah aku…..” kata-kata Jongin terputus.

 

“Ya! Kim Jongin! Lupakan?” suara Soojung bergetar.

 

“Semudah itu kau memintanya? Sedetik lalu kau bilang menyukaiku, dan di detik selanjutnya kau minta aku melupakan semuanya? Hentikan leluconmu itu!” Soojung terisak.

 

“Soojunga-ah~ m-mianhae~ uljima..” Jongin mendekatkan dirinya pada Soojung. Mencoba meraih tangan wanita itu. Tapi ditepis oleh Soojung. Sekarang Jongin yang mati kutu. Melihat wanita yang ia cintai selama bertahun-tahun menangis karenanya itu hal yang sangat menyakitkan bagi Jongin.

Tangan Soojung terkepal. Memukulkannya pada dada bidang milik Jongin. Jongin hanya diam, memang seharunya inilah yang ia terima setelah berani membuatnya menitikkan air mata. Kalau perlu bunuh Jongin sekarang juga.

 

“Berhenti mempermainkan perasaanku tuan Kim!! Berhenti berbuat lembut dan perhatian padaku! Berhenti membuatku menangis! Berhenti membuatku membenci diriku sendiri karena menyukaimu….”

 

“Soojung-ah….”

 

“…..hiks…kenapa aku harus menyukaimu! Akan lebih mudah bagiku jika itu bukan kau..hikss…” pukulan Soojung perlahan berubah pelan dan akhirnya berhenti. Soojung tertunduk dalam tangisnya. Dia luapkan semuanya pada airmata itu. Berharap hatinya akan lega setelahnya.

 

“Soojung-ah…” Jongin meraih Soojung dalam pelukannya. Kali ini tidak ada penolakan dari Soojung. Dia membenamkan seluruh wajahnya di dada Jongin. Menumpahkan seluruh airmata beserta perasaanya pada pria itu.

 

“Maafkan aku…maafkan aku yang tidak pernah menyadarinya.. maafkan aku telah membuatmu menahan sakit sendirian.. maafkan aku yang selalu saja menjadi alasanmu menangis.. maafkan aku Jung….” Jongin memeluk erat Soojung. Mencium dalam puncak kepalanya berharap sakit yang dirasakan Soojung akan berpindah padanya, Jongin merelakan apapun demi wanitanya ini.

 

Mereka tetap dalam posisi itu sampai beberapa saat. Sampai tangis Soojung mereda, dan dia dapat kembali tenang. Sebelum itu terjadi, jangan harap Jongin akan melepas pelukannya.

Setelah Soojung benar-benar tenang, Jongin mulai mengendorkan pelukannya. Melepaskan pelukannya tanpa memperlebar jarak diantara keduanya. Menatap Soojung lekat dengan manik hazel miliknya. Soojung sedikit mendongak, memberanikan diri untuk balik menatap Jongin dengan hidung yang mesih memerah karna menangis.

 

Jongin tersenyum. Kali ini tanpa paksaan dan beban. Jongin lega dia telah mengungkapkan seluruh perasaannya pada Soojung. Dan akhirnya tau bahwa tidak ada penolakan sama sekali di hati wanita itu.

Begitu juga dengan Soojung, merasa lega karena asumsi yang tidak mendasar darinya selama ini terbukti salah. Jelas Jongin tidak menolak cintanya sama sekali.

 

Perlahan Jongin mendekatkan wajahnya pada Soojung. Memperkecil jarak di antara keduanya. Sampai masing-masing bisa merasakan hembusan napas satu sama lain. Lalu menyetuhkan bibirnya pada bibir Soojung dengan penuh kasih.

 

***

 

“Lalu siapa Irene?” tanya Soojung saat mereka tengah berdiri saling membelakangi di tempat gembok cinta Namsan Tower. Keduanya sedang sibuk menuliskan sesuatu pada gembok masing-masing.

 

“Dia kekasih Ilhoon.”

 

“Ilhoon?”

 

“Mmm.. Jung Ilhoon sepupumu baby..” Jongin berbalik, sudah selesai dengan aktivitas tulis menulis di gemboknya. Soojung menoleh sejenak menautkan alisnya heran. Lalu fokus kembali dengan gemboknya.

 

“Lalu, kenapa kau bertemu dengannya di cafe waktu itu?”

 

Bisa dirasakan nada cemburu yang keluar dari bibir Soojung, membuat Jongin terkekeh mendengarnya. Jongin merogoh saku coatnya, mengambil sebuah kalung cantik dengan bandul krystal. Dihampirinya Soojung yang sedang membelakanginya lalu memasang kalung itu tepat di leher Soojung.

Soojung terkesiap. Menunduk memperhatikan benda cantik yang kini telah bertengger manis di lehernya.

 

“Aku meminta bantuan Irene untuk mencari kado natal untukmu. Begitu pula sebaliknya, dia meminta bantuanku untuk mencari kado untuk Ilhoon..” Jongin melingkarkan lengannya pada Soojung setelah selesai memasang kalung. Memeluknya dari belakang.

 

“…apa penjelasanku bisa di terima baby?” tanya Jongin sambil memandang wajah Soojung dari samping. Bukannya menjawab Soojung malah mempoutkan bibirnya.

 

“Maafkan aku tidak bisa memberimu kado natal..” ucap Soojung lirih. Kepalanya masih tertunduk.

 

“Tak usah khawatir, Santa sudah mengirimkan kado yang paling spesial untukku Jung.”

 

“Benarkah? Dia menghapiri rumahmu? Apa yang Santa berikan padamu?” Soojung penasaran sekaligus antusias dengan perkataan Jongin.

 

“Kau.” Jongin terkekeh di balik punggung Soojung.

 

“Ya! hentikan rayuan gombalmu itu Jongin-ssi.” Soojung merengut kesal.

 

“Dan berhenti mempoutkan bibirmu seperti itu baby… mau aku cium lagi? Hmm?” Jongin mengerling nakal ke arah Soojung. Soojung mendelik dibuatnya.

 

***

-Gembok Cinta-

 

‘Thank you Santa..’

‘Jongin SooJung Forever Love’

 

 

-Fin-

2 thoughts on “Christmas Love-Dear Santa (Sequel One Fine Day)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s