Croissant

B612_20160104_184730.jpg

Tittle: Croissant

 

Author: Lingga (@ <a href=”http://twitter.com/linggar907&#8243; target=”_blank”>linggar907</a>)

 

Cast: Krystal Jung (f(x) Krystal), Kim Jongin (EXO Kai)

 

Genre: Romance, School Life, little bit Fluff

 

Rating: G

 

Length: Oneshot

 

Poster: <a href=”https://www.dyzhyy.wordpress.com/&#8221; target=”_blank”>Dyzhetta</a> @ <a href=”https://www.cafeposterart.wordpress.com/&#8221; target=”_blank”>Cafe Poster</a>

 

 

INI FF ASLI BUATAN AKU :’v

GAK BOLEH COPAS/PLAGIAT KARENA KAMU PASTI AKAN MALU JIKA NEKAD COPAS

 

 

Hari ini, di penghujung musim dingin, upacara penerimaaan siswa baru telah  dimulai. Akan ada serangkaian kegiatan yang harus mereka ikuti. Mulai dari aula akan ada ucapan sambutan dari kepala sekolah, berlanjut ke wakil kepala sekolah di setiap bidang, dan ketua OSIS, lalu akan ada seminar mengenai program kurikulum pembelajaran di sekolah, dan tak ketinggalan upacara peresmian murid baru secara simbolis, juga yang paling menyenangkan adalah kegiatan di lapangan yaitu stand klub, sebagai wadah promosi dan pengenalan dari setiap klub yang ada di sekolah.

 

Kegiatan-kegiatan itu hanya diikuti oleh siswa-siswi baru kelas 1. Sedangkan kakak kelas yang berada diatasnya harus bekerja keras membuat acara berjalan dengan lancar dan berakhir sukses. Dari sinilah kisah  yang manis –jika kau tak keberatan aku menganggapnya seperti itu– ini dimulai.

 

***

 

Disebuah ruangan yang sempit, sedang berkumpul tiga orang. Mereka tampak serius membicarakan sesuatu. Tampak raut wajah senang, gugup, khawatir bercampur menjadi satu. Tiga orang itu adalah Krystal Jung, Son Naeun, dan Shin Yoonjo, anggota klub mading sekolah.

 

“Dengar kawan-kawan, kita tidak memiliki pembina atau pun kakak kelas yang dapat membimbing kita. Sudah satu tahun sejak klub ini berdiri, kita sendiri yang membentuk klub ini, merintisnya, mengembangkannya. Maka, jangan buat satu tahun ini menjadi sia-sia, dihari upacara penerimaan siswa baru ini kita harus mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya” ucap ketua klub mading, Krystal dengan lantang.

 

“Ya, kita harus mengeluarkan klub ini dari daftar merah di berkas pengawasan OSIS dan Guru Bidang Kesiswaan. Program kerja yang sudah kita rancang pada liburan musim dingin lalu harus terlaksana pada semester ini” sekertaris klub, Naeun turut menambahkan.

 

“Dan jangan lupakan jika kita harus melaksanakan banyak kegiatan yang mendongkrak prestasi klub ini agar anggaran dari sekolah bisa cair dengan cepat” Yoonjo, bendahara klub turut berbicara.

 

“Baiklah. Kita harus bersemangat. Hari ini adalah penentuan nasib klub kita. Ayo bergegas menuju stand” Krystal mengakhiri pidato siang itu.

 

***

 

Siang itu matahari tampak terlihat nyaman pada posisinya, walau sisa-sisa salju masih terlihat di pinggiran jalan, dahan-dahan yang ada pada pohon dan ujung atap bangunan, tapi udara mulai menghangat. Jaket tebal atau coat tidak diperlukan lagi, blazzer sekolah sudah cukup hangat untuk melindungi tubuh dari udara musim dingin peralihan ke musim semi.

 

Lapangan atletik dan sepakbola Dongguk High School  telah dipenuhi oleh siswa-siswi baru yang berjubel datang dari arah pintu selatan sekolah tersebut. Acara stand klub sudah dimulai, tentu hal tersebut disambut positif oleh mereka setelah bosan selama setengah hari duduk di aula.

 

Setiap klub yang ada di Dongguk High School  berusaha keras menarik anggota sebanyak-banyaknya. Banyak dari mereka yang memanfaatkan siswa-siswi populer untuk dijadikan maskot klub dalam menarik anggota. Adapula yang melakukan penawaran-penawaran menguntungkan seperti voucher pijat gratis setiap akhir pekan atau acara minum teh gratis setiap pertemuan klub.

 

Tak ketinggalan, tiga anggota klub mading juga betul-betul bekerja keras. Dengan catatan prestasi yang minim dan sedikitnya pengalaman dari kegiatan yang pernah mereka laksanakan (dan keterbatasan dana membuat mereka tidak bisa melakukan penawaran-penawaran gratis), tentu membuat mereka sedikit kesulitan mendapatkan anggota baru. Sudah hampir dua jam dan mereka hanya mendapatkan empat anggota, dua wanita dan dua pria. Yang pria itu sepertinya hanya tertarik bergabung karena ingin mendekati salah satu anggota klub mading saja, entah Naeun, Krystal atau Yoonjo.

 

“Mengapa sulit sekali menarik mereka untuk bergabung dengan kita” ujar Naeun saat stand mereka kosong, tak ada pengunjung. Sedangkan Krystal masih berteriak-teriak, berusaha menarik siswa-siswi baru untuk masuk ke dalam stand mereka, tak lupa gadis itu juga membagi-bagikan brosur kepada setiap orang yang lewat di depan stand mereka.

 

“Lihatlah klub sepakbola yang dibentuk pada waktu yang bersamaan dengan klub kita. Stand mereka ramai, penuh sesak” ujar Naeun lagi sambil mendudukan diri pada kursi, menatap iri ke arah stand klub sepakbola yang berada tepat di sebrang stand mereka.

 

“Itu karena banyak pria-pria tampan di klub tersebut. Lihat saja, banyak sekali siswi baru yang masuk ke dalam stand. Padahal jelas sekali klub sepakbola itu untuk pria. Oh ya! Dan sudah sangat jelas juga bukan, jika kebanyakan pria memang menggemari sepakbola, sehingga stand mereka ramai oleh siswa maupun siswi” Yoonjo membalas ucapan Naeun.

 

“Pria-pria tampan. Ya, benar” ucap Naeun lalu bangkit dan mengambil pengeras suara untuk menarik kembali siswa-siswi yang ada di sekitar mereka.

 

Krystal tersenyum. Bagaimanapun juga Yoonjo memang benar, stand klub sepakbola penuh sesak karena dua faktor. Faktor akan kepopuleran sepakbola dan ketampanan anggota-anggotanya.

.

.

.

.

.

Benar, anggota-anggotanya tampan.

.

Terlebih orang itu…

.

.

Siapa dia?

.

.

Kenapa Krystal tak pernah melihat wajahnya barang sekalipun.

.

.

.

Senyumannya indah.

.

.

.

Dan jangan lupakan matanya.

.

.

 

Bulan sabit.

 

***

 

Kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya baru dimulai pada hari ini. Daftar nama siswa-siswi di setiap kelas telah di tempel dengan rapih di mading –Yoonjo yang menempel itu. Dan hasilnya Krystal menghuni kelas 2-2, terpisah dengan Yoonjo dan Naeun yang sama-sama berada di kelas 2-3.

 

“Sebagai ketua kelas, aku menginginkan adanya pengundian nomor meja agar adil. Aku telah membuat nomor undiannya, dan kalian dapat mengambil undian secara bergiliran sesuai nomor absen. Nomor yang kalian dapatkan adalah nomor yang menjadi meja kalian” ketua kelas yang dipilih melalui perolehan jumlah nilai rapor, Kim Junmyeon mengawali diskusi kelas sebelum bel dimulainya pelajaran berbunyi.

 

“Ingat, nomer meja-nya dimulai dari kiri ke kanan, begitu seterusnya hingga belakang. Jika kalian sudah mendapatkan nomor meja kalian, segera pindah. Tidak ada tukar-menukar nomor”

 

Krystal pun mengambil nomornya, ia berharap mendapatkan spot yang bagus. Bukan paling depan ataupun paling belakang.

 

Nomor  9.

 

Bagus!! Meja nomor 9 berarti meja ketiga dari depan yang berada di barisan yang paling dekat dengan jendela. Spot yang sangat enak dan menguntungkan . Krystal bisa curi-curi pandang ke arah jendela yang langsung menghadap ke lapangan sepakbola jika sedang bosan menghadapi pelajaran. Ngomong-ngomong tentang sepakbola, Krystal jadi ingat laki-laki yang memiliki senyuman indah dan mata bulan sabit itu. Dia ada di kelas apa ya? Apakah dia setingkat dengannya atau satu tingkat diatasnya?

 

“Kau Krystal Jung ya?” bahu Krystal ditepuk oleh orang yang duduk tepat di belakang mejanya.

 

“Oh ya” Krystal menoleh ke belakang, berusaha sopan.

.

.

.

Dan dihadapannya saat ini ada laki-laki yang memiliki senyuman indah dan mata bulan sabit itu.

.

.

Duduk tepat di belakangnya.

 

‘ya Tuhan. mengapa matanya terlihat berbinar-binar’

 

“Kim Jongin, salam kenal” laki-laki itu mengulurkan tangannya, ingin menjabat tangan Krystal.

 

‘oh Kim Jongin.  jadi namamu Kim Jongin. ya ampun, aku memegang tangannya’

 

***

 

Jam digital yang terletak di tengah kota Seoul menampilkan angka 9:00 PM. Sudah pukul sembilan malam, penerangan kota sudah diambil alih oleh lampu jalan, membiarkan matahari beristirahat setelah seharian bekerja keras. Meski sudah pukul sembilan malam, kota Seoul yang seakan tidak pernah tidur itu masih di penuhi oleh pejalan kaki.

 

Krystal Jung, gadis dengan surai dark brown itu berjalan sendirian di tengah padatnya jalanan kota Seoul menuju halte bus, baru saja pulang dari tempat lesnya. Saat ini banyak sekali yang masuk ke dalam relung pikirannya.

 

Mulai dari ambisi ibunya yang menginginkan ia lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri di Seoul saat kelas 3 nanti –mengingat itu, Krystal mendesah frustasi. Lalu kegiatan klub Madingnya –hanya ada 4 anggota baru yang bergabung, Krystal pesimis bisa memajukan klub itu. Dan Kim Jongin, laki-laki dengan mata yang menawan itu mulai masuk ke dalam relung pikirannya sejak stand klub kemarin, dan semakin jauh ke dalam setelah Krystal tahu namanya. ‘ya ampun, bahkan mata bulan sabitnya masih terekam dengan jelas diingatanku’

 

“Krystal” panggilan seseorang membuat Krystal menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.

 

“Kim Jongin” Krystal gugup tiba-tiba, tubuhnya menghangat. ‘ya Tuhan. si mata bulan sabit itu menghampiriku’

 

“Panggil saja Jongin, kita ini kan teman sekelas, sudah sewajarnya menghilangkan semua kecanggungan” Jongin tersenyum ke arah Krystal. Lagi-lagi dengan senyuman di matanya yang membuat Krystal melemas seketika.

 

“Kau, kenapa baru pulang jam segini?” tanya Krystal, berusaha menghilangkan kecanggungan, menuruti apa yang Jongin katakan.

 

“Latihan sepakbola. Akan ada turnamen dalam beberapa hari kedepan, jadi harus latihan dengan serius” Jongin menjawab santai.

 

“Ah.. Begitu. Kau akan naik bus atau…” tanya Krystal.

 

“Ya aku akan naik bus, bus nomor 05 dari sini. Bagaimana dengan dirimu?”

 

“Aku menaiki bus nomor 06. Ternyata kita berbeda rute, kupikir sama” ucap Krystal, tidak ragu. Jongin hanya tertawa pelan.

 

“Kita bisa mengobrol sambil menunggu bus datang” ujar Jongin sambil mempersilahkan Krystal mengambil tempat duduk terlebih dahulu di halte.

 

“Kau sendiri habis dari mana?” tanya Jongin.

 

“Aku menghadiri tempat les. Ibuku begitu ambisius untuk perguruan tinggi negeri” ujar Krystal, sambil tersenyum kecut.

 

“Pasti berat” ucap Jongin singkat.

 

“Ngomong-ngomong, Jongin, maaf kalau kau tersinggung, tapi kau bukan murid baru kan? Mengapa aku baru mengetahui dirimu sekarang ya. Di kelas 1 dulu aku tidak pernah melihatmu” ucap Krystal memberanikan diri untuk menatap mata laki-laki itu secara langsung.

 

“Benarkah? Mungkin kau terlalu sibuk dengan pelajaranmu sehingga tidak pernah melihat diriku. Banyak kok yang mengenalku, aku ini kan kapten tim sepakbola sekolah. Aku cukup populer loh” ucap Jongin bangga. Krystal hanya memanggut-manggutkan kepalanya sambil tersenyum, tidak menyangka laki-laki ini memiliki sifat narsis.

 

“Bus mu sudah datang, Krys. Bergegaslah dan selamat tinggal. Sampai ketemu esok hari”

 

‘oh Tuhan. ini jelas nyata kan?’

 

***

 

Setelah apa yang terjadi hari itu, sungguh Krystal dan Jongin jadi sering sekali terlibat dalam percakapan. Mereka –khususnya Krystal, dalam waktu dua minggu sudah bisa berbicara dengan santai tanpa perlu ada rasa canggung lagi (dan gadis itu sudah berani menatap mata bulan sabit Jongin secara langsung). Sudah banyak yang mereka bicarakan, Krystal juga sudah tahu banyak tentang Jongin. Warna kesukaan Jongin, makanan kesukaannya, genre musik favoritnya, acara televisi kesukaannya –Krystal terkejut saat tahu Jongin sangat menyukai kartun Pororo, lalu idola-nya, angka kesukaannya, game kesukaannya dan masih banyak kesukaan-kesukaan Jongin yang lainnya yang Krystal rangkum dalam memori otaknya. Ya ampun sebegitu sukanya kah Krystal pada Jongin.

 

“Krys, kau melamun lagi? Ayolah, mengapa kau sering sekali melamun akhir-akhir ini?” ucap Naeun keras.

 

“Eh… eh… iya.. ada apa?” tanya Krystal tersadar dari lamunannya. Ya ampun, ia lupa diri, ia sedang bersama dengan anggota klubnya di ruangan klub mading, rapat mingguan.

 

“Ya ampun Krys, klub kita sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Jadi tolong fokus untuk kali ini saja oke. Dengarkan penjelasan Yoonjo” ucap Naeun, Krystal mengangguk.

 

“Aku baru saja dipanggil oleh pak guru Jeon, dia bilang klub yang berada di daftar merah harus membuat sesuatu yang baru apakah berita atau kompetisi atau apapun untuk meningkatkan status keberadaan klub dan minat siswa-siswi sekolah akan klub kita. Jika itu tidak dilakukan dalam sebulan, klub kita akan ditangguhkan dan semua hak kuasa mading akan dikembalikan kepada OSIS” ucap Yoonjo cepat.

 

“Baik. Kita tinggal memikirkan sesuatu yang cocok dan diminati oleh siswa-siswi sekolah. Panggil semua anggota untuk berkumpul hari ini. Tidak ada izin-izin lagi. Kita harus membuat keputusan sekarang” ucap Krystal tegas.

 

“Dan ada masalah baru yang muncul” ucap Naeun.

 

“Empat anggota baru itu memberiku surat pengunduran diri. Mereka tahu status klub kita ada pada daftar merah, yang artinya pengawasan oleh OSIS dan Guru Bidang Kesiswaan. Sehingga mereka memilih mengundurkan diri” Naeun melanjutkan sambil menunjukan empat buah amplop surat, yang isinya surat pengunduran diri –tentu saja.

 

“Baiklah hanya kita bertiga. Ada saran mengenai apa yang harus kita lakukan?” tanya Krystal. Ya ampun, pikirannya semakin kacau saat ini, tapi sebagai ketua klub dia harus cepat dan tidak boleh terlalu berlarut-larut memikirkan yang sudah-sudah. Orientasinya harus menuju masa depan.

 

“Aku memikirkan kompetisi membuat puisi, mungkin akan menarik” ucap Naeun, yang dibalas gelengan oleh Yoonjo. Gadis berponi rata tersebut berpikir jika puisi sudah sepi akan peminat.

 

“Bagaimana jika kompetisi membuat cerita pendek?” Naeun menyuarakan kembali apa yang ada dipikirannya, sayangnya tetap dibalas dengan gelengan– kali ini oleh Krystal yang berpikir jika kompetisi membuat cerita pendek akan memakan waktu lebih dari sebulan.

 

“Aku memikirkan wawancara. Bagaimana menurut  kalian?” ucap Yoonjo.

 

“Bagus. Survey saja, apa yang sedang populer di kalangan siswa-siswi sekolah kita” Krystal langsung setuju akan usul wawancara.

 

“EXO? Boygroup itu sedang menjadi trend sepanjang tahun ini. Bagaimana menurut kalian?” Naeun memberi satu kandidat.

 

“Benar. EXO yang terpopuler di sekolah ini. Ada yang memiliki kontak salah satu anggota EXO? Atau kontak seseorang yang memiliki relasi dengan EXO?” tanya Krystal, yang hanya dibalas gelengan oleh Naeun dan Yoonjo.

 

“Baiklah, coret EXO dari daftar. Jika ingin ada wawancara dalam waktu kurang dari satu bulan, harus ada seseorang yang memiliki relasi dengan orang yang ingin kita wawancarai. Bagaimanapun juga, bintang seperti EXO pasti memiliki jadwal yang sangat padat, bisa jadi baru sebulan atau dua bulan kemudian atau buruknya baru tahun depan kita dapat mewawancarai EXO jika kita tidak memiliki seseorang yang berhubungan secara langsung dengan mereka” ucap Krystal, ia mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja, berpikir.

 

“Jika tidak ada yang bisa kita wawancarai, apa ada saran untuk sesuatu yang lain?” tanya Krystal.

 

“Dan aku sudah berpikir tentang wawancara. Itu adalah yang terbaik, mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat” ucap Naeun, mengakui.

 

“Aku juga berpikir begitu. Tapi kita tidak bisa terkatung-katung menunggu seseorang yang siap untuk kita wawancarai, itu menghabiskan waktu. Jika  dalam satu bulan tidak ada sesuatu yang baru– kita tak tahu apa yang akan terjadi, bisa saja klub ini dibubarkan, pengorbanan kita satu tahun terakhir akan sia-sia” ucap Krystal keras.

 

“Tenang Krys. Aku baru saja ingat jika pamanku bekerja pada Seokwoo, komikus yang membuat ‘Orange Marmalade’. Bagaimana menurutmu?” ucap Yoonjo.

 

“Bagus. Kau hubungi pamanmu. Aku tunggu keputusan darimu hingga esok. Hari ini sampai di sini dulu. Pertemuan berakhir” ucap Krystal bergegas pergi dan hanya ditatap heran oleh kedua temannya.

 

Ya Tuhan, kalau saja mereka tahu. Banyak sekali tanggungan pikiran Krystal, dan sialnya Kim Jongin, pria itu mengambil spot terbanyak didalam pikirannya.

 

‘Jongin, hari ini kau sedang turnamen kan? semoga kau memperoleh kemenangan’

 

***

 

Pagi hari ini, matahari tampak bersemangat sekali untuk menunjukkan batang hidungnya. Musim semi sudah sepenuhnya tiba, orang-orang tampaknya memulai pagi dengan bergairah, ingin tahu apa yang harus mereka hadapi hari ini.

 

Begitupula Krystal, gadis itu tertular semangat matahari, ia ingin tahu bagaimana hasil pertandingan klub sepakbola kemarin, dan jangan lupa jika gadis itu juga sangat menantikan cerita langsung dari Kim Jongin. Krystal berjalan disepanjang koridor sekolah, ia melihat banyak siswa dan siswi yang membentuk kelompok-kelompok lalu membicarakan sesuatu.

 

“Betul. Mereka hebat sekali. Aku tak menyangka, ini prestasi pertama untuk mereka. Mereka pasti senang bisa membawa nama sekolah kita”

 

“Karena berhasil lolos ke semi final saja mereka sudah heboh begitu. Paling-paling juga mereka kalah di semi final”

 

“Jangan begitu. Kau hanya iri karena kau didepak dari klub sepakbola kan? Sudah kuperingatkan jangan merokok, kau malah menentang peraturan itu. Pantaslah jika kau didepak”

 

‘ah jangan-jangan tim sepakbola memperoleh kemenangan’

 

“Ya ampun, aku baru menyadari jika kiper tim sepakbola kita tampan sekali. Park Chanyeol itu tampan, imut, humoris, berbadan tegap dan hebat sekali mengawal gawang. Dia benar-benar idola banyak orang. Kalian tahu? Temanku yang berasal dari sekolah lawan bahkan sampai meminta akun SNS Chanyeol. Jelas tidak aku berikan, enak saja dia merebut Chanyeol-ku”

 

“Kim Jongin jauh lebih tampan dari Chanyeol. Dan aku yakin dia lebih hebat karena dia berhasil membuat hattrick

 

“Ya, aku setuju. Jongin yang terbaik. Ya ampun, dia sempurna sekali dimataku”

 

“Ngomong-ngomong hattrick itu apa?”

 

‘ya ampun, Jongin ternyata diidolakan banyak orang. pantas saja dia sangat percaya diri  jika dirinya itu populer’

 

Memasuki kelasnya, Krystal terkejut. Di kelasnya terdapat beberapa orang yang entah berasal dari mana, ia tidak mengenalinya. Ada yang sekedar mengintip dari jendela, ataupun pintu, bahkan ada yang tidak segan masuk ke dalam kelas. Dan Krystal bisa menebak jika Jongin menjadi orang yang mereka cari. Bagaimanapun juga tebakan Krystal benar.

 

Tidak hanya Jongin sebenarnya, Chanyeol, Sehun, dan Minseok, teman satu kelasnya juga merupakan anggota klub sepakbola yang populer –dan Krystal baru sadar hari ini, turut dicari oleh orang-orang, untuk sekedar diminta berphoto atau bercerita.

 

“Hei Krys” ucap Jongin menyapa Krystal. Ada sekitar tiga sampai empat orang yang mengerumuni meja Jongin.

 

“Maaf jika kau terganggu dengan kehadiran beberapa orang disekitar meja kita. Jika kau benar-benar tidak nyaman, aku akan mencari tempat lain”

 

“Ya ampun Jongin oppa, kau begitu baik kepada semua orang. Aku semakin mengidolakanmu. Ya ampun” ucap seorang gadis tanpa sungkan.

 

“Tidak apa-apa, Jong. Kau di sini saja. Aku akan menepi sebentar” ucap Krystal sambil tersenyum, mengalah.

 

“Jangan pergi. Duduk saja di mejamu, aku jadi tidak enak padamu. Oh ya, dan kalian apakah bisa pindah ke sisi yang lain. Aku merasa tidak enak jika kalian mengambil tempat Krystal” ucap Jongin memerintah Krystal sekaligus orang-orang yang ada disekitarnya. Krystal tersenyum,  ‘Jongin memang lelaki sejati’.

 

———–

 

“Penggemarmu banyak ya” ucap Krystal, membalikkan tubuhnya ke belakang saat orang-orang yang tadi ada di sekeliling Jongin telah pergi semua. Jongin mengusir mereka dengan lembut, berkilah ingin menyicil mengerjakan tugas yang menumpuk pasca ditinggal turnamen– nyatanya ia malah mengobrol dengan Krystal.

 

“Ya. Sudah ku bilangkan, di halte bus tempo hari” ucap Jongin tersenyum, Krystal mendesis tertahan tapi toh tertawa juga.

 

“Ku dengar tim mu menang ya?” tanya Krystal.

 

“Ya. Aku senang bukan main. Ini pertama kalinya tim sepakbola memberikan prestasi yang berarti untuk sekolah kita sejak setahun terakhir. Melaju ke semi final sudah sangat bagus untuk klub kami” jawab Jongin bersemangat.

 

“Prestasi ya?” ringis Krystal, senyumnya yang sedari tadi ia sematkan jadi hilang. Ia teringat klub madingnya. Bagaimana kabar wawancara dengan komikus Seokwoo itu?

 

“Kenapa?” tanya Jongin, penasaran dengan perubahan raut wajah Krystal yang tiba-tiba.

 

“Tidak ada. Semangat ya untuk semi final. Aku yakin kau bisa” ucap Krystal, memaksakan senyumnya.

 

“Kau kenapa? Jangan berpura-pura seperti itu” ucap Jongin, ia memegang lembut bahu Krystal, gadis itu terkejut.

 

“Berpura-pura apa? Kau ini selain narsis juga sok tahu ya. Sudahlah. Aku mau melanjutkan tugasku dulu” Krystal pun membalikan tubuhnya kedepan dan bergegas melanjutkan tugasnya.

 

***

 

Pukul sembilan malam, sama seperti hari-hari sebelumnya, gadis dengan surai dark brown itu masih berkeliaran di jalanan kota Seoul. Ia berjalan kaki, menuju halte yang biasanya ia jadikan tempat menunggu bus.

 

Tapi lain dengan hari ini, ia merasa tidak harus menaiki bus untuk pulang ke rumah, terlalu banyak yang terjadi hari ini. Menikmati indahnya kota Seoul di malam hari tidak ada salahnya, mungkin butuh 30 menit jika ia berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Akan melelahkan memang, tapi tak apa jika ini bisa melepas penat.

 

Sudah satu halte terlewati, halte kedua sudah ada di depan mata. Perjalanan ini terasa lama karena langkah kaki Krystal sangat lambat, ia terlalu lelah, pusing dan kepalanya serasa akan meledak.

 

“Apa aku harus duduk dulu di halte kedua?” tanya Krystal pada dirinya sendiri saat halte kedua ada di depan mata. Pada saat yang bersamaan juga bus nomor 05 melewati dirinya dan berhenti tepat di halte nomor kedua untuk mengambil penumpang. Krystal jadi teringat Jongin, laki-laki itu pasti sudah sampai di rumahnya.

 

“Krystal Jung” teriak seseorang dari arah depan. Krystal memberanikan diri mendongakkan kepalanya. ‘tidak mungkin itu….’

 

“Jongin?” lirih Krystal, langkahnya menjadi beku seketika.

 

“Kau kenapa huh?” tanya Jongin seraya menghampiri Krystal dan memegang kedua bahunya.

 

“Kau pulang berjalan kaki? Masih pukul sembilan lebih beberapa menit, tidak mungkin kan kau kehabisan bus. Bus berhenti beroperasi pukul dua belas malam bukan? Untuk apa kau berjalan kaki?” cecar Jongin, tidak sabaran. Tetapi gadis itu malah menutupi wajahnya dengan tangannya, ia menangis dihadapan Jongin. Tak tahan lagi.

 

“Kau ini kenapa?” tanya Jongin panik, tapi Krystal tetap tak bergeming. Jongin pun membawa Krystal untuk duduk di halte.

 

“Ceritakan, Krys” ucap Jongin, Krystal masih sibuk menutupi wajahnya.

 

“Ya sudah kalau kau tidak mau. Aku tidak memaksa. Aku akan menunggumu hingga selesai. Setelah itu kita pulang” ucap Jongin tenang, membuat Krystal terdiam sejenak.

 

“Mengapa kau bisa menjadi kapten yang baik untuk timmu, sedangkah aku tidak mampu berbuat apa-apa untuk klub yang aku pimpin” Krystal mengatakan sambil terisak.

 

“Ada masalah dengan klub madingmu?” tanya Jongin, dan Krystal pun menjelaskan apa yang tengah terjadi di klub mereka, secara detail.

 

Mulai dari daftar merah, 4 anggota baru yang mengundurkan diri, hingga teguran dari pak Jeon untuk klub yang ada di daftar merah dan wawancara, lalu Seokwoo.

 

“Dan kau tahu? Siang tadi, Yoonjo bilang jika si Seokwoo itu sebenarnya tidak menolak untuk kita wawancarai, asalkan waktu wawancaranya bulan depan, alasannya ia sedang sibuk mengejar deadline. Ya ampun, bulan depan itu sudah keputusan apakah klub kami ditangguhkan atau diperboleh terus beroperasi” Krystal sudah berhenti menangis saat bercerita tentang Seokwoo, dia malah bersungut-sungut kesal.

 

“Naeun dan Yoonjo tetap ingin mewawancarai seseorang yang sedang menjadi trend di sekolah kita. Sedangkan aku ingin mencari sesuatu yang baru agar kita bisa mempersingkat waktu sehingga semuanya sudah selesai sebelum satu bulan. Dua lawan satu jelas aku kalah. Mereka meminta waktu kepadaku untuk mencari seseorang yang dapat di wawancarai. Satu minggu, ya ampun mereka meminta satu minggu, dan jika tidak ketemu mereka pasrah mengikuti apa rencanaku” Krystal berhenti sejenak mengambil nafas.

 

“Jika mereka tidak dapat menemukan seseorang yang dapat diwawancarai dalam waktu satu minggu, apa yang bisa dilakukan dalam waktu tiga minggu yang tersisa? Aku tidak habis pikir kenapa mereka berani senekad itu” Jongin hanya tersenyum melihat wajah Krystal yang tampak kesal.

 

“Wah, justru teman-temanmu itu hebat. Mereka berani mengambil tindakan dan bersikap, mereka juga berani mengambil resiko. Itu tindakan yang berani” ucap Jongin.

 

“Dan lalu mereka menyerahkan semua rencana kepadaku jika tindakan berani mereka gagal? Begitu? Ya ampun, itu sama saja membunuhku. Aku sendiri tidak tahu harus apa jika waktunya hanya tersisa tiga minggu” ucap Krystal kesal.

 

“Kau lucu sekali jika sedang marah. Apa aku harus membuatmu marah terlebih dahulu supaya bisa melihat sisi imut mu?” tanya Jongin sambil tertawa, membuat wajah Krystal memerah. Krystal memukul lengan Jongin, tampak kesal –tapi sebenarnya tersipu.

 

“Bercanda Krys. Terkadang kau menyeramkan juga ya” ucap Jongin.

 

“Dengarkan aku Krys” Jongin mulai memberikan tatapan serius pada Krystal, membuat Krystal terfokus pada bola mata– yang tampak bercahaya bagi Krystal –milik laki-laki yang ada didepannya itu.

 

“Kau mencari sesuatu yang sedang trend untuk di wawancarai bukan?” tanya Jongin yang dibalas anggukan oleh Krys.

 

“Wawancarai saja tim sepakbola sekolah kita”

 

***

 

“Kau yakin Krys?” tanya Yoonjo.

 

“Yakin. Jongin sendiri yang bilang ia dan timnya bersedia jika kita ingin. Sekarang tinggal keputusan kita. Bagaimana menurut kalian? Jika kalian setuju, maka esok hari kita akan memulai wawancara. Tapi jika tidak, aku serahkan kepada kalian” ucap Krystal melakukan penawaran.

 

“Aku memilih tim sepakbola sekolah. Kurasa itu pilihan yang tepat. Keluargaku tidak ada yang memiliki relasi dengan selebriti atau orang-orang terkenal lainnya, jadi mungkin akan sangat bagus jika kita mengandalkan tim sepakbola sekolah yang sedang naik daun” ujar Naeun.

 

“Dua suara, keputusanmu bagaimana Shin Yoonjo?” tanya Krystal.

 

“Aku pikir mewawancarai tim sepakbola sekolah tidaklah buruk” ucap Yoonjo.

 

“Oke. Deal. Aku ingin esok hari kamera dan alat perekam sudah siap. Aku akan menyusun pertanyaan. Sekarang aku akan konfirmasi ke Jongin”

 

“Mengapa buru-buru Krys?” tanya Yoonjo heran.

 

“Karena lusa mereka sudah pergi untuk pertandingan semi final, dan lagi aku tidak ingin menunggu lebih lama” ucap Krystal seraya meninggalkan kedua temannya.

 

***

 

“Ya ampun, aku tak menyangka Jongin oppa adalah orang yang paling sering di hukum saat latihan”

 

“Aku juga tidak menyangka jika Chanyeol adalah orang yang paling sering membolos latihan”

 

“Tidak heran mereka maju ke final, mereka berlatih dari jam empat sore hingga jam sembilan malam. Pasti melelahkan”

 

“Ini kerja tim mading sekolah? Mereka mewawancarai klub sepakbola? Ya ampun.. Apa aku harus bergabung dengan tim mading sekolah terlebih dahulu agar dapat berbicara dengan Minseok oppa?”

 

“Dibalik wajah dinginnya ternyata Sehun adalah anggota klub yang paling jahil. Oh Tuhan, ternyata Sehun tidak sedingin yang aku pikirkan”

 

“Hei bacalah ini! Menurut Jongin, Luhan ternyata memiliki skill yang paling hebat di antara mereka semua”

 

Mading utama yang letaknya dekat dengan aula, sudah tiga hari ini di penuhi oleh orang-orang. Mereka kini mulai menyadari keberadaan mading tersebut setelah artikel wawancara dengan tim sepakbola sekolah memenuhi separuh papan mading tersebut.

 

“Kau senang?” tanya Jongin yang tiba-tiba datang menghampiri Krystal yang tengah menatap madingnya dari kejauhan.

 

“Tentu saja. Terima kasih atas wawancara lima hari yang lalu. Itu sangat berarti untuk klub kami”

 

“Sudah ada keputusan mengenai klub mading?”

 

“Pak Jeon baru saja memberitahu kami jika rapat Guru Bidang Kesiswaan memutuskan klub kami untuk sementara ada di daftar rata-rata keaktifan klub. Itu membuat kami senang. Setidaknya kami tidak diawasi setiap saat” ucap Krystal senang.

 

“Tapi itu semua tidak gratis loh” ucap Jongin tersenyum jahil.

 

“Kau ingin aku bayar dengan apa?” tanya Krystal berkacak pinggang, menyadari senyum jahil Jongin.

 

“Aku ingin kau melihat aku di final. Aku menyisihkan satu tiket untukmu” ucap Jongin sambil memberikan satu lembar tiket untuk Krystal.

 

“Aku akan datang. Pasti” ucap Krystal.

 

‘besok. aku akan menyaksikan secara langsung, betapa mengagumkannya dirimu Kim Jongin’

 

***

 

Siang cerah, udara musim semi sangat jelas terasa. Burung-burung mulai memberanikan diri mengajarkan anak-anaknya untuk terbang, melepaskan mereka. Dan kelopak bunga di sepanjang jalan mulai merekah, belum sepenuhnya tapi setidaknya muncul tanda-tanda jika akan ada sesuatu yang indah muncul disitu.

 

Dan Krystal Jung, gadis itu masih saja berjalan sendirian di trotoar jalan, bedanya saat ini ia tidak berjalan pukul sembilan malam, tapi pukul sembilan pagi. Dan nampaknya gadis itu terlihat sedikit tidak beruntung pagi ini.

 

“Ya ampun. Mengapa Jongin tidak memberi tahu aku denah menuju lokasi ia bertanding. Jika seperti ini, aku juga yang pusing” ucap Krystal menggumam tak jelas. Kedua tangannya penuh akan barang, tangan kanannya menggenggam handphone (apa yang bisa kalian andalkan selain google maps jika kalian tersesat), dan tangan kirinya menggenggam tiket pertandingan.

 

“Ohh.. Ini dekat. Hanya belok kiri, dan ikuti jalan maka kau akan menemukan stadionnya” Krystal kegirangan, dan diapun berlari secepat kilat. Bagaimanapun juga ia harus bergegas, karena ia sudah terlambat.

 

“Demi dirimu Jongin, aku rela mengelilingi kota Seoul selama satu jam” ucap Krystal membuat dirinya tambah lelah karena lari sambil berbicara.

 

Tapi apakah Krystal memang diizinkan untuk menonton pertandingan Jongin?

 

Pagi tadi ia sudah bangun pukul lima pagi, bersiap-siap untuk menonton pertandingan laki-laki dengan mata bulan sabit itu. Mempersiapkan pakaian yang harus ia kenakan, mempersiapkan barang bawaannya –dia berniat membawa bekal makan siang untuk Jongin, tapi nyatanya spagetti yang ia buat terasa seperti tumis rumput, dan terakhir kalian harus tahu jika setengah dari waktunya untuk bersiap-siap sejak pagi buta itu dihabiskannya untuk menata rambutnya yang berakhir dengan rambut tergerai (seperti biasa) karena ia tidak berbakat menata rambut. Yeah.

 

Pukul delapan pagi ia bergegas menuju halte untuk menaiki bus kota dan Krystal baru ingat jika dirinya tidak mengetahui lokasi stadion tempat laki-laki bulan sabit itu bertanding. Maka habislah waktu Krystal untuk menerka-nerka arah dan lokasi –walau sudah menggunakan google maps, sepertinya Krystal buta arah dan peta .

 

Setelah satu jam mengelilingi kota Seoul –yuhu, ini pertama kali dalam hidupnya, sampailah ia di stadion yang dimaksud. Ia bisa masuk tanpa gangguan, padahal sejak tadi gadis itu khawatir jika hal yang tak diinginkan akan terjadi lagi.

 

Ia terlambat– tentu saja –selama satu babak. Saat ia memasuki tribun, babak kedua baru berjalan beberapa menit. Dan papan score menunjukkan angka nol untuk setiap tim.

 

Krystal menghembuskan nafasnya kesal.

 

Apakah ia tidak berjodoh dengan Jongin?

 

Mengapa sejak tadi pagi semua tidak berjalan lancar?

 

Tapi semua kekesalan itu hilang begitu saja kala Krystal melihat Jongin dari tribun penonton. Krystal dapat melihat laki-laki itu dengan jelas. Ia lari begitu cepat, membawa bola di kakinya, lalu menendang bola tersebut, memberikannya kepada Luhan. Krystal larut dalam teriakan riuh-rendah disekelilingnya. Bagaimanapun juga Jongin tampak mengagumkan dari atas sini.

 

‘Jongin yang selalu tersenyum dan tertawa nampak berubah jika berada di lapangan’

 

Tapi sayang, tembakan Luhan yang kuat bisa digagalkan oleh kiper tim lawan.

 

Krystal tidak pernah menyukai sepakbola sebelumnya. Ia selalu mendesis kesal jika ayahnya menyaksikan pertandingan sepakbola di televisi, itu sangat menganggu rutinitasnya dalam menonton drama kesukaannya. Dan pertandingan ini adalah yang pertama kali untuknya. Krystal antusias– karena ada Jongin disana.

 

Tetapi, yang namanya pengalaman pertama tidak selalu indah bukan?

 

***

 

Siang ini– masih di hari yang sama dengan hari pertandingan Jongin, matahari berada tepat di atas kepala, mengabaikan keluhan orang-orang yang terganggu akan pancaran cahaya dan panasnya.

 

Pertandingan telah usai, suasana di stadion dan sekitarnya berangsur sepi. Tapi Krystal, gadis yang sebelumnya datang terlambat itu masih bertahan, berdiri di gerbang depan stadion, mengabaikan panasnya sengatan matahari. Ia menunggu seseorang, harus segera berbicara pada orang itu.

 

“Krys”

 

“Jongin” Krystal bergegas mendekati Jongin, tidak mempedulikan jika seluruh anggota klub sepakbola ada disitu, sedang jalan bersamaan dengan Jongin.

 

“Ehm.. Kkamjjong, bagaimana jika kami duluan saja, tak apakan?” tanya Chanyeol, seakan tidak ingin menganggu Jongin dan Krystal. Jongin mengangguk, mempersilahkan teman-temannya pergi.

 

Krystal menghembuskan nafasnya.

 

Bulan sabit itu menghilang entah kemana.

 

 

“Kau ingin aku traktir? Segelas bubble tea mungkin?” tanya Krystal, Jongin hanya diam.

 

“Aku anggap itu sebagai iya” Krystal menarik tangan Jongin, pergi menjauhi stadion.

 

————–

 

Krystal membawa Jongin ke dalam kedai bubble tea yang ada di pinggir jalan. Jangan membayangkan restoran-restoran mewah atau cafe-cafe gaul tempat nongkrong yang pas. Krystal tidak sekaya itu. Hanya kedai kecil di sekitar stadion, dan yang paling penting harganya tidak terlalu mahal.

 

“Wah, tadi itu menyenangkan sekali, kau tahu?” Krystal memulai percakapan yang hanya dibalas Jongin dengan senyum tipis.

 

“Kau harus tahu jika itu pertama kalinya aku menonton pertandingan sepakbola. Sebelumnya aku sangat membenci sepakbola, aku selalu berseteru dengan ayahku jika ada pertandingan sepakbola di televisi. Kau tahu kan jika kebanyakan gadis remaja menyukai drama percintaan?” ucap Krystal lagi, dan balasan Jongin masih sama. Krystal tidak puas.

 

“Jangan sedih, Jong”

 

“Apa?”

 

“Kau pasti sedih karena hasil pertandingan tadi”

 

“Tidak juga”

 

“Jangan berbohong”

 

“Baiklah. Sedikit kecewa. Aku kan kapten klub ini” Jongin menampilkan raut wajah kecewanya.

 

“Tidak apa-apa, sungguh. Klub sepakbola tetap akan dibanggakan oleh seluruh murid yang ada di sekolah” Krystal berusaha menghibur.

 

“Tapi kami akan juara kalau saja aku tidak memberikan umpan kepada pemain lawan” Jongin mulai mengacak rambutnya sekarang.

 

Krystal tersenyum. Tanpa ragu, gadis itu meraih tangan Jongin, menggenggam erat tangan laki-laki yang duduk di depannya.

 

“Dengarkan aku, Kim Jongin. Kau tahu persis kan tanggal berapa klub sepakbola didirikan? Baru setahun yang lalu bukan? Bersamaan dengan klub mading” Jongin mengangguk polos.

 

“Tapi, jika kau mau untuk berpikir-pikir kembali, kau akan sadar jika satu tahun merupakan waktu yang sangat singkat untuk dapat bergabung dengan turnamen tingkat kota. Kau sudah membangun klub ini dengan begitu hebat sehingga klub ini bisa melaju hingga final di turnamen pertama yang kalian ikuti”

 

“Jika kau mau, kau bisa membandingkannya dengan klub mading, klub itu belum menghasilkan apa-apa selama satu tahun ini. Jelas klubmu berada seribu tingkat lebih atas daripada klubku”

 

“Ingat, Jong. Satu tahun untuk berada di final? Klub sepakbola sekolah manapun pasti menganggap itu hal yang hebat, mereka mungkin butuh waktu tiga atau empat tahun evaluasi untuk berada di final turnamen tingkat kota”

 

“Dan harus kau ingat juga jika kau masih memiliki tahun depan untuk mencoba kembali, tahun terakhirmu di sekolah”

 

“Kau kapten yang sangat-sangat baik, Jong”

 

Jongin mendongak, mempertemukan matanya dengan mata Krystal.

 

 

Dan bulan sabit yang hilang itu berangsur-angsur kembali.

 

***

 

Sabtu malam, jalanan di kota Seoul tampak lebih ramai dari hari-hari biasanya. Tentu tidak perlu khawatir jika kau berjalan sendirian sepanjang perjalanan karena volume orang-orang yang berkeliaran di kota Seoul malam ini benar-benar tak terbendung, ada saja orang-orang yang entah sedang apa di setiap sudut jalan.

 

Tapi, malam ini berbeda.

 

Krystal Jung tak lagi jalan sendirian, ia jalan bersama Kim Jongin.

 

“Apa hari ini kita harus ke bioskop?” tanya Jongin.

 

“Sejujurnya aku bosan karena terlalu sering ke bioskop dengan kakakku. Tapi jika kau mau tak masalah” ucap Krystal.

 

“Aku ingin mengunjungi toko roti yang baru buka itu. Kau berminat?” Jongin mengusulkan satu tempat.

 

“Bersamaku?” tanya Krystal.

 

Gadis itu tak pernah mendengar seorang laki-laki mengajaknya untuk mengunjungi toko roti di sabtu malam. Bukankah kebanyakan laki-laki berusaha untuk mencari tempat yang romantis? Dan Jongin, laki-laki itu memilih toko roti yang baru buka dari sekian banyak tempat romantis di Seoul?

 

“Memangnya kenapa? Kitakan tidak sedang kencan, jadi tak masalahkan jika aku memilih toko roti atau toko daging sekalipun. Aku hanya ingin membayar lunas bubble tea yang kau beli untukku tempo hari” ucap Jongin seperti dapat membaca pikiran Krystal.

 

‘ya ampun aku bahkan lupa jika dia hanya ingin membalas kebaikanku, bukan mengajakku kencan’

 

“Tak masalah bagiku. Siapa pula yang menganggap ini kencan” ucap Krystal bersungut-sungut, dan sepanjang perjalanan Jongin menggoda gadis itu habis-habisan.

 

————–

 

“Pilihlah sesukamu, semaumu. Jangan hanya beli satu, kau bisa beli beberapa potong roti juga untuk keluargamu yang ada di rumah. Tenang saja aku yang bayar” ucap Jongin, dan Krystal mulai menjelajahi semua rak yang ada di toko roti itu.

 

Sabtu malam itu, tidak seperti jalanan kota Seoul yang ramai, toko roti yang baru buka beberapa hari lalu ini tampak sepi. Hanya dua atau tiga pengunjung yang ada di dalam, sebelum Krystal dan Jongin datang. Mungkin karena toko roti ini tidak memberi potongan harga sehingga orang-orang malas mencoba. Hey, umumnya toko-toko baru akan memberikan potongan harga untuk menarik pengunjung kan?

 

“Muffin enak juga, kau suka Muffin?” tanya Jongin.

 

“Tidak, tapi kakakku suka sekali” ucap Krystal.

 

“Baiklah aku akan ambil dua”

 

“Lihat, itu Red Velvet cake, kau suka tidak? Aku akan membelikanmu satu jika kau ulang tahun nanti” ucap Jongin, laki-laki itu tampak antusias.

 

“Hei, itu Brioche. Ibuku pasti akan sangat senang jika aku membelikan ini untuknya. Ibumu bagaimana? Apa dia juga suka?” tanya Jongin.

 

“Ibuku tidak suka semua yang berbau Perancis. Kau tahu? Dia membenci itu karena pernah diputuskan secara sepihak oleh mantannya yang berkebangsaan Perancis”

 

“Menyedihkan. Dan hei.. itu Bagel. Kau suka Bagel? Aku sangat suka, aku akan mengambil satu untukku” ucap Jongin. Krystal tersenyum melihat Jongin yang tampak seperti anak-anak.

 

“Ibuku akan sangat suka itu, jadi tolong ambil satu lagi untuk ibuku” ucap Krystal.

 

“Baiklah”

 

Krystal terus berjalan menelusuri rak-rak yang ada di toko roti itu. Gadis ini tidak pernah mengenal rasa, jenis dan nama-nama roti yang ada di sini karena ia memang bukan penggemar makanan manis. Lain halnya dengan Jongin yang nampak jelas sekali jika ia sudah pernah mencoba banyak jenis roti.

 

“Ehm, Jong..”

 

“Ada apa Krys?”

 

“Yang satu itu namanya apa?” tanya Krystal menunjuk tumpukan roti yang berada paling pinggir di rak.

 

“Oh itu. Croissant, dari Perancis. Aku tidak menyukai roti itu. Penampilannya biasa saja dan tidak ada yang istimewa dari rasanya” ucap Jongin segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, seakan tidak peduli dengan keberadaan roti itu.

 

“Aku menyukainya” ucap Krystal seraya  mengambil satu potong roti dari rak.

 

“Yang benar saja. Apa menariknya” ucap Jongin.

 

“Ini mirip kau”

 

“Aku?”

 

“Maksudku matamu. Aku suka matamu. Roti ini mengingatkanku pada matamu” Krystal terus terang.

 

Dan suasanapun menjadi hening sesaat. Canggung? Entahlah.

 

“Croissant? Mirip mataku?”

 

“Eh, apa yang baru saja kuucapkan. Lupakanlah. Ayo bergegas” ucap Krystal memerah.

 

“Eh, ehm.. Baiklah”

 

***

 

Krystal menyesal karena telah mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan terlebih dulu. Dia merutuki kebodohannya yang menyebabkan suasana canggung terjadi di antara mereka saat perjalanan pulang.

 

“Maafkan aku untuk yang tadi itu, anggap saja aku mengigau” ucap Krystal diselingi oleh rona pipi yang memerah di wajahnya.

 

“Tidak apa”

 

“Aku harap kau jangan pergi menjauh karena kata-kataku tadi” ucap Krystal lagi.

 

“Tentu saja aku tidak akan, Krys. Sejak tadi aku merasa biasa saja. Kaulah yang merasa canggung sejak tadi. Santai sajalah Krys” ucap Jongin merangkul bahu Krystal, membuat gadis itu sedikit tersenyum.

 

Mereka sudah berjalan jauh sekali dari toko roti. Halte bus sudah terlihat dari ujung jalan. Sebentar lagi Krystal kan berpisah dengan Jongin, dan hal ini membuat ia senang karena akan terbebas dari suasana serba tidak mengenakkan ini.

 

‘dekat sekali dengan halte bus…’

.

.

‘sebentar lagi…’

.

.

‘aku akan mengakhiri kecanggungan hari ini…’

.

.

‘bus nomor 06 sudah ada di depan mata..’

.

.

 

Krystal segera berjalan menjauh dari Jongin –menuju bus setelah memberikan senyuman tipis dan ucapan singkat.

 

“Terima kasih untuk malam ini”

.

.

.

.

“Aku juga menyukaimu, Krys”

 

Krystal menghentikan langkahnya.

 

“Dirimu. Bukan hanya matamu”

 

Krystal membalikan tubuhnya, mencoba menatap dengan jelas mata bulan sabit laki-laki yang lebih tinggi darinya ini.

 

“Jongin, jangan ber…”

 

“Tentu saja aku tidak bercanda. Sudah sejak kelas 1, dan kau bilang aku bercanda?”

 

Bus nomor 06 pergi, meninggalkan Krystal dan Jongin berdua di halte. Tolong mengertilah jika mereka –para supir bus itu harus bergegas untuk mengejar setoran..

 

 

“Sejak kelas 1?” tanya Krystal terkejut.

 

“Haha. Jelas saja kau tidak tahu. Kan kau tidak mengenalku saat kelas 1. Tapi ini sungguh, aku tidak bercanda. Itulah alasan aku mengetahui namamu sebelum kita berkenalan”

 

‘benar. Kim Jongin yang mengenalkan dirinya kepadaku terlebih dahulu, dan bahkan memanggil nama lengkapku sebelum berkenalan secara resmi’

 

“Aku takut ini hanya lelucon. Tanggal berapa sekarang? Bukan April Mop kan?” tanya Krystal.

 

“Tanggal berapa ya? Aku akan menandainya sebagai hari jadi kita” ucap Jongin seraya memainkan handphone-nya.

 

“Hei aku bahkan belum bilang apakah aku bersedia jadi pacarmu atau tidak” ucap Krystal.

 

“Tentu saja kau bersedia. Bukankah kau duluan yang menyatakan perasaanmu? Aku hanya menjawab apa yang kau ucapkan di toko roti” ucap Jongin jahil.

 

“Aku kan hanya menyukai matamu, Jong”

 

“Baiklah kau boleh berpacaran dengan mataku” lalu Krystal tertawa terbahak-bahak (hei, itu tidak terlalu lucu, Krys).

.

.

.

 

“Oh ya Krys, aku juga membeli satu potong roti Croissant, untuk camilan sebelum tidur. Atau jika aku terbangun tiba-tiba di tengah malam, mungkin?”

.

.

.

 

Sabtu malam di musim semi, udara malam tidak sedingin malam-malam sebelumnya, bunga-bunga di sepanjang jalan kota Seoul sudah mulai bermekaran, orang-orang sudah bersiap-siap untuk festival musim semi dan malam itu pula bunga-bunga bermekaran di hati Krystal dan Jongin.

 

***

 

 

 

Wkwkwk… aneh ya. Kok aneh ya. Aneh deh. Gak ada feel-nya bangedzzhh. Panjang pulaaa :3

Aku coba buat ff KaiStal, aku suka sama couple ini jugaa #yeahhh.. (tapi kenapa pas ditengah-tengah jadi mikirin pcy. sempet salah ketik jadi Chanyeol juga :v) wkwkwk

Sebelumnya sekitar satu tahun atau satu setengah tahun yang lalu ada minta dibuatin ff Kai, dia minta lewat twitter. Cuman aku lupa uname twitternya dan kayaknya dia juga udah lupa karena memang udah lama banget T.T aduh maaf banget ya baru ngabulin sekarang u.u

Aduh aku jadi sedih gara-gara denger lagu Sing For You #ngetiksambildengerlagu.

Kayaknya alurnya terlalu cepat, cuman karena aku memang pengen bikin ini oneshoot jadinya ya gitu, harus disingkat-singkat /alesan u,u

Maaf kalau jelek banget hoho. Kalian boleh kritik yang sepedes-pedesnya tapi resikonya kalian akan bergabung dengan Klub Cabe-nya Baekhyun /apasihlo/

Yaudah deh bye hehehe. Sampai ketemu. Makasih udah baca ^^

Bye.

 

 

FF ini di post juga di <a href=”http://seoyoungfanfic.blogspot.com&#8221; target=”_blank”>blog pribadi aku</a>

 

One thought on “Croissant

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s