Breaking Promises

5864014213a928ee453014de069b4282

Breaking Promises

deera
Cast: Lay, OC | Genre: Sad | Rating: PG-13 | Length: 590 words

.
.
.

Menjadi pacar seorang public figure memang tidak mudah. Dan merumitkan. Being sincere is the worst part. Menjadikan pacar sebagi objek publik yang dikagumi banyak orang, sejujurnya itu adalah tekanan yang lebih parah dari memaafkan perselingkuhan.

Sejatinya, perselingkuhan adalah perampasan kepercayaan yang menimbulkan amarah yang menjadi-jadi. Tapi, ikhlas adalah hal yang menggerogoti kekuataan sedikit demi sedikit sampai akhirnya seseorang benar-benar tidak tahan lagi untuk memaklumi.

Cemburu. Hal itu benar-benar membuat seorang yang jatuh cinta kehilangan akan sehatnya.

Tapi yang paling mendebarkan dari semua itu adalah menjadi tunangan seorang pilot. Apalagi saat si pilot itu berlutut dan memohon doa untuk penerbangan besok. Sambil memandang lurus…, connected into her fiance’s eyes. Kemudian, si pilot berkata lembut, “Kamu hanya perlu menunggu sampai aku pulang.”

Ketakutan itu tidak akan pernah sirna dengan ucapan apapun. Terlebih dengan janji semacam itu yang belum tentu bisa ditepati.

Untuk sebuah show penerbangan yang diadakan dua tahun sekali, yang pada show sebelumnya telah menewaskan seorang pilot saat melakukan latihan terbang pada sehari sebelum,  perempuan mana yang tidak takut setengah mati saat tunangannya ternyata turut berpartisipasi di acara itu. Menjadi salah satu pilot yang dengan seluruh kemampuannya akan ber-manuver di udara bersama rangka besi yang diterbangkannya.

Mungkin perempuan itu berdoa, bahwa hari Sabtu di minggu berikutnya  tidak pernah ada.

“Kalau nggak ada hari Sabtu, ngga akan ada hari Minggu. Nggak akan pernah ada hari pernikahan kita,” katamu, satu jam yang lalu saat kita bersama berangkat ke Incheon. Menjelang show sialan itu, yang membuatku tidak bisa tidur dengan tenang selama satu minggu setelah kamu memberitahukan hal paling menakutkan sejagat raya.

Selama perjalanan, kamu melingkupi jari-jari tanganku dengan satu telapak tanganmu yang besar. Bahkan hal seperti itu, yang biasanya selalu ampuh menenangkanku, seluruh ketakutan ini masih menguasaiku.

Lalu mulai terlintas ide-ide gila.

“Ah, aku baru ingat! Ada toko kue di Busan yang waktu itu aku kunjungi. Di situ ada kue yang enak banget. Kita pesan yuk, buat besok! Kita ke sana sekarang!”

Tak sedikit pun kamu menoleh. Kamu hanya tersenyum.

“Itu kuenya enak banget! Aku suka, Mama suka, adik aku juga suka. Dan kamu juga pasti bakal suka! Ayoooo!”

Kamu tersenyum lagi. Kesal mulai menyusup pelan-pelan. Lalu berganti dengan takut yang sangat menusuk. Seketika berubah menjadi dingin yang merambati sekujur tubuh. Aku mempererat genggaman pada tanganmu. Dan itulah satu-satunya hal yang mampu membuatmu melihatku.

Semenit berlalu, aku segera membelesak ke dalam lenganmu yang kokoh dan nyaman. Kuuraikan semua titik air mata yang kutahan selama ini, berharap sedikit saja itu bisa menggoyahkan keinginanmu terbang. Firasatku benar-benar buruk saat ini.

Kurasakan tanganmu berpindah ke puncak kepalaku. Membelainya pelan, membuat aku semakin tidak ingin membiarkanmu melakukan putaran-putaran berbabahaya di atas udara, nanti.

“Kalau kamu mati, biarpun ada hari Minggu, pernikahan kita nggak akan pernah ada.”

Kamu diam, memberi jeda untukku menghabiskan isakan yang tak tentu. Menepuk punggungku berkali-kali. Meniup ubun-ubun di kepalaku agar aku berhenti terbatuk karena sulit mengatur napas.

“Kamu cuma perlu percaya. Kalau kamu aja nggak percaya, dari mana lagi aku bisa dapet kekuatan?”

Satu kecupan di bibir dengan rentetan doa di dalamnya. Tiga menit berlalu tanpa ada yang bisa diubah. Passion-mu, tak juga ketakutanku.

Kamu mengelusku di pipi. “Aku pasti pulang.”

“Jangan pernah janjiin aku apa-apa kalau kamu belum tentu nepatin itu.”

Karena janji memang seharusnya ditepati. Bukan diingkari. Dan jangan berjanji kalau memang apapun bisa saja terjadi untuk membuatmu tidak menepatinya.

It would be hurt inside excusing for breaking any promise.

Kurasakan lagi wangi mentol di hidungku saat sisa cukur di dagumu menyentuh daguku.

Dan kamu tidak bisa menepati janji itu.

Aku bahkan harus lebih ikhlas dari pacar seorang public figure.

Iklan

3 thoughts on “Breaking Promises

  1. hueheeeee
    ini ficlet tapi feelnya nyebar ke mana2 ke seluruh jiwaku *ceileh* maybe because castnya mas issing
    tapi
    KATA2NYA JUGA KECE YA TUHAAAN
    ga secara eksplisit menyatakan isinya, apalagi itu ngetwist awalannya: ‘kekasih public figure’, kupikir beneran ini adalah satu lagi cerita EXO and some random girls tapi ternyata nggak. mengingat kejadian pesawat jatuh beberapa waktu lalu aku jadi merinding sendiri…
    keren deh pokoknya! keep writing!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s