Bittersweet : We’re Friends, Right?

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung
  • EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • Red Velvet’s Wendy as Son Seungwan

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chapter, currently 13

Previous Chapters : The Circle | He’s My BoyfriendI Hate You | A Weird Dream | ApologyWhat IfShe’s My GirlfriendStupid, Dumb, IdiotTruth Or Dare |  Call You MineI Feel WarmFavorite Mistake |

^^Selamat Membaca^^

Tungkai Jongin terhenti saat melihat Seulgi berada dalam pelukan Sehun, membelakanginya. Mata Sehun terarah jelas padanya, begitu tajam namun tidak lantas membuatnya mundur. Dia tahu bahwa akhir-akhir ini Seulgi merasa tertekan. Karena itu saat tadi mendengar suara Soojung di telpon, dia langsung bergegas menemui Seulgi. Ternyata benar, Seulgi makin tertekan dan akhirnya mengakui semua pada Sehun. Jongin melangkah lagi, makin dekat dan bisa dilihat Sehun menatapnya makin tajam.

“Sehun-ah… apa kau diam karena marah? Hiks… maafkan aku, Sehun-ah… hiks… aku bersalah… hiks… aku tidak pantas dimaafkan… hiks… hiks…” suara tangisan Seulgi terdengar pilu, begitu mengiris hatinya. Jongin mempercepat langkahnya agar Seulgi cepat berada dalam jangkauan tangannya. Dia akan merebut Seulgi dari pelukan Sehun, saat itu juga.

“Berhenti di sana, jangan mendekat!” tangan Sehun terarah pada Jongin, begitu juga tatapan tajamnya. Tapi Jongin tak peduli. Dia tidak mampu mendengar tangis Seulgi lebih keras lagi. “Ku bilang berhenti!” volume suara Sehun naik, membuat Jongin—dan dia yakin Seulgi juga—tersentak. “Dia masih milikku. Kau tidak berhak.”

Berjarak tak sampai satu meter, Jongin berhenti. Dilihatnya pelukan Seulgi melonggar dan gadis itu mendongakkan wajahnya.

“Sehun-ah….”

Tapi Sehun tidak menatap Seulgi sama sekali, terlalu sibuk untuk melempar tatapan benci pada Jongin.

“Ini bukan salah Seulgi. Aku yang memaksanya bersamaku. Jangan buat dia menangis,” ucap Jongin dengan suara tegas, tenang, tanpa mencerminkan rasa takut sedikit pun.

Perlahan kepala Seulgi menoleh ke belakang. Dia terkejut melihat Jongin sudah berdiri di sana.

“Sayang, aku akan mengantarmu pulang,” Sehun merangkul Seulgi menjauh dari Jongin.

“Seulgi-ah,” kaki Jongin hendak mencegah itu terjadi, tapi entah kenapa rasanya kaku saat melihat Seulgi tidak melakukan penolakan atas tindakan Sehun. Tapi gadis itu sempat menoleh dan menatapnya sendu, seolah mengisyaratkan permintaan maaf.

Jongin mematung, tidak melakukan apa pun lagi dan hanya menatap mereka menjauh. Jadi akhirnya harus begini. Benar begini, sesuai yang dia perkirakan. Dia tahu jika Seulgi mengakui semuanya pada Sehun, posisinya justru akan semakin sulit. Karena Sehun tidak mungkin melepaskan Seulgi begitu saja. Sejujurnya hati Jongin terasa sakit melihat Seulgi kian jauh dari jangkauannya. Tapi haruskan dia menyerah sekarang? Secepat ini?

***

Besoknya dan besoknya lagi, Seulgi tidak membalas pesan atau pun mengangkat telponnya. Hal yang sama terjadi lagi. Tidak, kali ini Seulgi tidak mungkin mencoba untuk meninggalkannya lagi. Setidaknya itu yang Jongin yakini. Dia percaya Seulgi akan mengingat ucapannya untuk tidak akan meninggalkannya. Dan malam itu, saat Seulgi menoleh padanya, dia tahu hati Seulgi masih miliknya. Dengan keyakinan itulah malam ini dia mendatangi apartemen Seulgi. Selain untuk memastikan dia baik-baik saja, dia juga ingin tahu bagaimana hubungannya dengan Sehun. Sebut saja dia punya sisi jahat yang menginginkan hubungan mereka berakhir. Ya, Jongin berharap Sehun mengakhiri hubungan mereka—atau Seulgi sendiri yang mengakhirinya. Mungkinkah terjadi?

Mobil Jongin berhasil mendapatkan spot kosong di parkiran gedung apartemen. Dia tidak memberi tahu Seulgi sama sekali bahwa dia akan datang malam ini. Baru saja kakinya menapak keluar dari mobil, ada mobil lain yang baru saja tiba dan Jongin sangat mengenal mobil itu. Milik Oh Sehun. Rupanya mereka memiliki tujuan yang sama malam ini. Entah kenapa Jongin tidak menggunakan kesempatan untuk bisa tiba di apartemen Seulgi lebih dulu, melainkan menunggu Sehun turun dari mobilnya. Dan saat itu terjadi, tatapan mereka bertemu.

“Haruskah kita membicarakannya dulu?” Sehun yang membuka suara pertama kali setelah beberapa detik hanya saling tatap—tatapan yang menyerupai duel.

“Tanpa Seulgi,” Jongin menyetujui.

“Dia tidak menjawab telponku.”

“Aku juga kesulitan menghubunginya.”

“Di saat seperti ini, biasanya dia hanya akan tidur nyenyak dalam pelukanku. Karena itu malam ini aku datang,” kata Sehun, sedikit menyombongkan diri, mungkin.

“Entah kau ingin tahu tentang ini atau tidak. Dulu aku pernah membuatnya menangis. Sejak saat itu aku selalu memikirkannya. Aku tidak pernah merasa bersalah pada orang lain, tapi Seulgi membuatku merasakannya untuk pertama kali. Sedikit demi sedikit rasa bersalahku berubah menjadi keinginan untuk melindungi. Dan bertambah dalam seiring berjalannya waktu, aku ingin memilikinya.”

“Dengar, Kim Jongin. Seulgi mencintaiku—“

“Aku tahu dia mencintaiku juga. Walau tidak sebesar cintaku padanya, tapi aku memiliki tempat di hatinya.”

“Kau mengatakan itu sekarang? Di hadapanku?” tanya Sehun tak percaya. Jongin tahu Sehun berasal dari keluarga terpandang sehingga dia selalu mengontrol emosinya saat berinteraksi dengan orang.

“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melepaskannya.”

“Lalu kau pikir aku akan melepaskannya? Atau menurutmu malah aku yang ‘harus’ melepaskannya?” sergah Sehun dengan penekanan penuh pada kata ‘harus’.

“Ku rasa percakapan ini tidak akan membuahkan hasil,” ucap Jongin dengan helaan nafas.

“Sampai kapan pun,” ucap Sehun. “Aku tidak akan pernah melepaskan Seulgi.”

“Bagaimana jika Seulgi memilihku?”

Tangan Sehun mengepal menahan geram. “Aku akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan Seulgi. Tapi jika dia memilihku, ku harap kau membiarkan kami hidup bersama dengan tenang.”

“Akan ku lakukan,” Jongin mengangguk. “Pergilah, temui dia dan tanyakan padanya. Siapa yang dia inginkan untuk tinggal di sisinya.”

Bisa jadi ini adalah keputusan terbaik untuk malam ini. Firasatnya mengatakan bahwa harapan untuk membuat Seulgi memilihnya sangat kecil. Selama bersama Sehun hidupnya bahagia tanpa tekanan sementara saat bersama Jongin, yang dia dapatkan hanya sebuah celaan, umpatan, beban yang tak habis habis. Sudah tertebak mana pilihan yang lebih baik.

Sehun mulai melangkah masuk, tapi tiba-tiba berbalik pada Jongin dan melayangkan kepalan tangannya dengan kuat, mengenai hidung dan bibirnya. Tubuh Jongin terdorong hingga jatuh dan sudut bibirnya berdarah. Tidak ada kata-kata yang keluar, bahkan dia tidak melawan juga. Sehun melanjutkan langkahnya masuk apartemen meninggalkan Jongin yang mengusap darah di sudut bibirnya.

***

Sebenarnya Seulgi enggan meninggalkan tempat tidur untuk membuka pintu. Tapi jika dibiarkan, suara bel itu mungkin akan terus terdengar semalam suntuk. Jadi dia berjalan gontai ke arah pintu dan membukakannya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Sehun yang berdiri di sana.

“Se-Sehun-ah….”

Sehun tidak mengatakan apa pun, hanya memeluknya begitu erat seolah jika dilepas dia akan terbang jauh. Seulgi diam saja. Tidak bersuara, tidak juga membalas pelukannya. Dia masih dilema harus bertahan atau tidak. Satu sisi dia masih mencintai Sehun, tapi di sisi lain dia merasa tak pantas lagi untuk berada di sisinya. Seulgi cukup tahu diri.

“Aku merindukanmu,” bisik Sehun.

Benarkah? Sehun masih merindukannya setelah pengakuan tentang betapa murahan dirinya malam itu. Seulgi masih diam, merasa tak pantas untuk sekedar mengatakan bahwa dirinya juga merindukan Sehun. Dia tidak punya ruang untuk merasa rindu, terlalu sesak dengan rasa bersalah.

“Kau sudah makan malam?” masih Sehun yang berbicara. Akhirnya Seulgi tidak bisa menahan diri.

“Sehun-ah,” dia melepas pelukan Sehun. “Aku telah mengkhianatimu. Perlakuan ini membuatku merasa bersalah,” matanya mulai berkaca-kaca. “Ku mohon, jangan begini. Kalau kau ingin marah, lakukan saja. Aku tahu kau pasti kecewa padaku.”

“Kita bicara di dalam,” Sehun menutup pintu apartemen Seulgi dan melangkah masuk tanpa dipersilakan oleh tuan rumah. Seulgi hanya berdiri menatapnya tanpa berkeinginan untuk menyusul. “Apa ujianmu sudah selesai?” tanya Sehun, duduk di sofa ruang tengah.

“Tidak akan ada yang mendengarmu. Kau boleh mengumpatku sesuka hati di sini.”

“Berapa lama liburanmu? Kita bisa berlibur bersama ke suatu tempat. Oh, atau kita mulai merencanakan pernikahan—“

“Aku adalah pihak yang bersalah, Sehun. Kau boleh menampakkan kekecewaanmu padaku.”

“Tapi aku tidak bisa!” suara Sehun sedikit naik, tapi kemudian dia mendesah panjang, mengusap wajahnya kasar. “Seberapa besar rasa kecewaku, cintaku padamu lah yang menang. Katakanlah aku sudah buta karena mencintaimu. Jadi tolong, bantu aku melupakannya. Kita anggap sesuatu yang terjadi antara kau dan Jongin tidak pernah terjadi.”

Seulgi tidak mampu menahan tangisnya. Ia jatuh berlutut di lantai, menunduk membiarkan air matanya berjatuhan. Dia merasa malu. Bagaimana mungkin dia mengkhianati seseorang sebaik Sehun?

“Sayang,” panggil Sehun. Tangis Seulgi malah semakin keras mendengar Sehun masih memanggilnya ‘sayang’ dan kini ikut berlutut di hadapannya. “Aku hanya ingin tahu kenapa,” tangan Sehun menangkup kedua pipinya hingga mendongak. “Apa kau tidak bahagia bersamaku? Atau aku yang tidak cukup baik untukmu?” Seulgi menggeleng cepat. Dia berani bersumpah bahwa sedikit pun Sehun tidak memiliki cela yang bisa membuatnya tidak bahagia. Dia bahkan selalu tersenyum karena Sehun. “Lalu kenapa? Terus terang, ini sulit bagiku. Sangat sakit.”

“Aku yang bodoh, ku mohon jangan salahkan dirimu. Maafkan aku, Sehun-ah,” ucap Seulgi di sela tangisnya.

“Lalu sekarang siapa yang akan kau pilih? Siapa yang kau inginkan berada di sisimu?” ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukan karena Seulgi masih bimbang antara Jongin atau Sehun, tapi dia merasa tak pantas untuk memilih. Sehun lah yang seharusnya memutuskan ingin tetap bersamanya atau tidak. Seulgi hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Katakan saja. Siapa yang lebih kau cintai? Dia bilang tidak akan melepaskanmu. Kau tahu kan, aku juga tidak bisa jika harus melewati hari esok tanpamu. Jadi sekarang putuskanlah. Kau memilih siapa?”

“Sehun-ah, maafkan aku… hiks… sungguh, aku mencintaimu lebih dari siapa pun. Jika aku ingin tetap bersamamu, apa kau masih mau menerimaku?”

Ibu jari Sehun mengusap air mata di pipi Seulgi, tersenyum. “Aku membutuhkanmu, sayang. Aku juga menginginkanmu tetap berada di sisiku.”

Seulgi menggigit bibirnya menahan isakan. “Sebenarnya hatimu terbuat dari apa? Apa kau adalah jelmaan malaikat?”

Sehun menggeleng, masih dengan senyumnya. “Kau adalah malaikatku. Jadi jangan pernah tinggalkan aku lagi.”

Ucapan Sehun membuat senyum Seulgi mengembang, tapi air matanya terus berjatuhan. Dia benar-benar bodoh telah menyia-nyiakan cinta yang Sehun berikan padanya. Untuk hari-hari selanjutnya, dia berjanji tidak akan membuat Sehun kecewa lagi.

***

Keadaan Jongin semakin memprihatinkan. Alkohol dan rokok—entah berapa banyak yang sudah ia habiskan. Kuliahnya sudah tak terjamah. Hanya karena Seulgi seorang, dia kehilangan alasan untuk hidup.

“Aigoo, kau bisa mati karena terlalu banyak minum,” Chanyeol menarik paksa gelas dari tangan Jongin hingga isinya tumpah kemana-mana. “Sudah ku bilang berkali-kali, perempuan tidak hanya dia seorang. Jangan jadi menyedihkan seperti ini.”

“Bagaimana aku hidup setelah ini, hyung?” Jongin berucap dalam keadaan mabuk berat. “Tujuan hidupku berpusat padanya. Aku seperti tidak punya apa-apa lagi.”

“Sudah ku bilang sejak awal. Kau akan jadi pihak yang ditinggalkan,” Chanyeol duduk di sebelah Jongin. “Apa perlu ku carikan gadis yang lebih cantik darinya? Tenang, aku punya banyak kenalan. Besok akan ku bawakan untukmu,” dia mencoba menenangkan Jongin dengan menepuk-nepuk pundaknya.

“Hyung,” dengan pandangan kabur Jongin menatap Chanyeol. “Yang ku butuhkan hanya Seulgi. Jadi kau cukup membawa Seulgi kembali.”

“Aish,” Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. “Bunuh saja aku, bunuh!”

Jongin terkekeh. “Dia akan kembali, hyung. Aku percaya dia akan kembali. Dia belum mengatakan apa pun tentang akan meninggalkanku. Dia bahkan masih menoleh padaku saat itu. Aku bisa melihatnya. Dia masih mencintaiku.”

“Ayolah, jangan buat aku merasa sedih karena mendengar ratapan seorang adik sepupu,” putus asa, akhirnya Chanyeol hanya menghela nafas pasrah dan menidurkan kepalanya ke meja, menghadap Jongin. “Menyerahlah, Jongin.”

“Tidak akan pernah,” gumam Jongin tepat sebelum matanya terpejam.

“Tapi tidak ada jaminan dia benar-benar akan kembali. Tsk,” Chanyeol berdecak malas. “Kau hanya akan terus meratapi nasib sementara dia bersenang-senang dengan kekasihnya. Kau akan terus menderita dan dia tidak tahu apa-apa. Dia bahkan tidak peduli padamu.”

Hening. Jongin tidak bersuara lagi.

“Yak! Sudah ku temani tapi malah ditinggal tidur,” protes Chanyeol saat melihat Jongin tak bergeming sama sekali. “Pindah ke kamarmu sana,” diguncangnya tubuh Jongin agar bangun dan pindah. “Aish, kau ingin aku menggotongmu ke kamar? Adik durhaka!” dia hendak memindahkan Jongin, tapi merasa aneh saat melihat titik-titik keringat dan betapa pucat wajahnya. “Ya! Kau bisa mendengarku? Jongin-ah?” Chanyeol mencoba mengguncang tubuhnya lagi, namun kaget saat melihat tangan Jongin jatuh lunglai. Tubuhnya pun nyaris jatuh ke lantai kalau saja Chanyeol tidak menahannya. “Jongin-ah!”

Tetap tidak ada tanggapan. Rupanya Jongin tidak sadarkan diri.

***

Seulgi tidak percaya di hari-hari berikutnya masih bisa berada di dalam mobil Sehun, menatap senyumnya dari dekat dan menerima perhatiannya. Padahal setelah pengakuannya malam itu di Sungai Han, dia sudah menyiapkan mental untuk bisa melupakan Sehun sepenuhnya. Dia mengira Sehun akan memutuskan hubungan mereka. Ternyata tidak.

Hanya saja kali ini, Sehun jadi lebih posesif. Setidaknya itu yang Seulgi rasakan. Sehun semakin sering menemuinya, bahkan menjemputnya lebih awal. Memang tidak melarang dia untuk tetap menghadiri rapat The Circle, tapi dia selalu memastikan Seulgi aman sebelum meninggalkannya. Aman di sini berarti aman dari jangkauan Jongin. Sehun menyatakan kelegaannya secara terang-terangan saat tahu Jongin tidak muncul. Dia juga mengatakan dengan jelas tentang kebenciannya pada pemuda itu. Setelah dipikir lagi, kekhawatiran Sehun hanyalah seputar Jongin. Mungkin ini bukan sesuatu yang disebut posesif, melainkan keraguan. Sehun masih ragu padanya. Tentu saja Seulgi tidak akan memprotes apa pun karena ini juga hasil dari perbuatannya.

“Ow, si pengkhianat bahagia sekali tampaknya belakangan ini.”

Seulgi tersentak dan langsung menoleh. Didapatinya Sunyoung berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatapnya dengan seringaian.

‘Oh, tidak lagi,’ batinnya pasrah, langsung mengambil minuman yang dibelinya dari mesin otomatis agar bisa segera pergi dari tempat itu. Namun keinginannya tak bisa begitu saja terkabul karena Sunyoung menahannya.

“Kenapa buru-buru?”

“Kau mau apa?” tanya Seulgi dengan emosi, mendorong Sunyoung agar tangannya terlepas. Persetan dengan semua orang yang mengantri mesin ini juga, dia tidak bisa bersikap ramah pada Sunyoung karena perbuatannya beberapa waktu yang lalu. Lagipula sekarang tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan. Sehun sudah tahu semuanya.

“Sombong sekali. Ingatlah dosamu, pengkhianat dan perebut pacar orang,” balas Sunyoung dengan angkuh.

“Dengar ya. Kalau kau tidak punya kerjaan, lakukan hal lain yang lebih berguna dari mencampuri kehidupan orang lain. Asal kau tahu saja, Soojung sendiri mengatakan padaku kalau dia sudah merelakannya. Kenapa sekarang malah kau yang sibuk mencelaku?”

“Aigoo,” Sunyoung tertawa mengejek. “Soojung merelakan Jongin padamu? Betapa baiknya dia. Aku merasa kasihan karena dia pernah menganggapmu sebagai teman. Kau sungguh tidak tahu diri. Merasa bangga karena temanmu sudah merelakan kekasihnya padamu, huh?”

“Kau tidak tahu apa-apa!” sergah Seulgi, hampir kehilangan kesabaran. “Dia tidak menganggapku teman lagi dan aku sudah meninggalkan Jongin! Kau puas sekarang? Apa setelah ini kau bisa membiarkanku hidup tenang?”

“Gampang sekali kau mengambil sesuatu lalu membuangnya—“

“Lalu apa masalahmu? Ini hidupku, aku sendiri yang menjalani. Aku bersalah, aku sendiri yang menanggung akibatnya. Kenapa kau begitu sibuk mengamati kehidupanku?”

“Karena Soojung temanku—“

“Sudah ku katakan padamu kan, aku sudah meninggalkan Jongin. Tidak ada urusan apa pun lagi antara aku, Jongin, dan Soojung. Dan asal kau tahu saja, aku juga sudah mengatakan semuanya pada Sehun. Jadi tolong,” Seulgi menegaskan setiap kalimat yang dia ucapkan. “menjauhlah dari hadapanku, dari kehidupanku. Urus kehidupanmu sendiri,” dengan sengaja Seulgi membentur pundak Sunyoung saat berlalu melewatinya.

“Seulgi-ah, apa kau melihat Sunyoung?”

Oh, bisakah hidupnya tenang tanpa harus bertemu orang-orang ini? Setelah Sunyoung, kini dia bertemu Soojung.

“Apa? Kau mau mengumpatku juga?” dia balik bertanya dengan nada marah.

“Aku hanya bertanya…” wajah Soojung terlihat kaget dan bingung, tapi Seulgi tidak akan tertipu lagi. Terakhir kali mengobrol dengan Soojung berujung sengit, dia malah menangis semalaman.

“Dia di sana!” Seulgi menunjuk mesin minuman otomatis yang baru saja dia tinggalkan. “Tolong katakan padanya, berhenti mengintimidasiku. Dia tidak punya hak untuk ikut campur. Aku sudah mengakhirinya dan Sehun sudah memaafkanku sekarang. Ku mohon, biarkan kami berdua hidup tenang. Tidak ada lagi alasan bagi kalian untuk mengumpatku. Aku tidak akan diam saja.”

Masabodo dengan semua tatapan yang menghujani dirinya dan Soojung. Ini adalah kali pertama dia bersikap tidak ramah pada seseorang. Pertama kalinya juga melampiaskan amarahnya di depan umum. Rasanya sungguh memalukan, tapi juga lega.

***

Mood Seulgi benar-benar buruk hari itu. Beberapa kali Seungwan mencoba untuk menenangkannya, tetap tidak ada perbaikan. Seulgi terus diam selama di kampus. Untung saja ini adalah hari terakhir kuliah dan ujiannya tidak terlalu berat jadi dia masih bisa fokus.

“Yakin tidak apa-apa pulang sendirian?” wajah Seungwan tampak khawatir.

“Aku tidak sendirian kok. Sehun pasti sudah menjemputku di bawah.”

“Oh… benar juga,” akhirnya Seungwan bernafas lega. “Jangan marah-marah lagi seperti tadi. Aku jadi takut.”

“Aku duluan,” dengan sebuah lambaian Seulgi meninggalkan ruang ujian lebih dahulu. ‘Semoga saja mood membaik setelah bertemu Sehun nanti,’ batinnya.

“Seulgi,” dia tahu ada seseorang yang memanggil namanya, tapi pura-pura tidak dengar. Ayolah, dia ingin menenangkan diri dulu. Belum saatnya menghadapi siapa pun. “Kang Seulgi!” tapi rupanya orang ini benar-benar ingin menemuinya karena selain memanggil, dia juga menggapai pundak Seulgi agar langkahnya berhenti. Terpaksa Seulgi menoleh.

“Ya?” hanya itu sahutan yang terlontar karena dia tidak mengenal siapa orang ini. Bahkan wajahnya baru sekarang dia lihat. Seorang pemuda berambut sewarna dengan caramel, tingginya di atas rata-rata hingga Seulgi harus sedikit mendongak untuk menatapnya.

“Benar Kang Seulgi? Oh… aku ingin bicara sebentar. Bisa?”

“Kenapa aku harus bicara denganmu?” terkesan tidak ramah memang, ini adalah efek moodnya yang buruk.

“Karena ini sangat penting,” pemuda itu mendekat dan berkata dengan suara lirih. “Tentang Kim Jongin.”

Seulgi menghela nafas berat. Sangat berat. Dia ingin segera berakhir.

“Apa kau juga sama seperti Soojung dan tangan kanannya itu? Kapan kalian akan merasa puas, huh? Sudah ku katakan aku dan Sehun ingin hidup tenang, jangan ganggu kami lagi. Aku memang bersalah dan sudah menebusnya, hanya antara aku dan Sehun. Kalian tidak perlu repot mengurusinya—“

“Aku bukan teman Soojung dan yang ingin aku katakan adalah Jongin sedang sakit.”

“Hah?” segala kalimat bernada emosi tadi seketika luntur.

“Iya, Jongin sedang sakit. Aku datang ke sini secara khusus untuk menemuimu. Bisa dikatakan meminta tolong, itu pun kalau kau mau membantu. Selain itu aku juga penasaran seperti apa gadis yang membuat keadaannya semenyedihkan sekarang ini.”

“Jongin…” kepala Seulgi pening mendadak. “sa-sakit?”

Pemuda itu menarik Seulgi menjauhi keramaian agar mereka bisa mengobrol tanpa gangguan.

“Namaku Park Chanyeol. Hyungnya,” dia memperkenalkan diri. “Aku sudah tahu tentang dirimu jadi tidak perlu mengenalkan diri,” Seulgi hanya diam karena masih shock. “Sebenarnya apa yang kau inginkan dari Jongin?”

“A-apa maksud pertanyaanmu itu?” tanya Seulgi balik, merasa tersinggung.

“Yang ku tahu kau sudah memiliki kekasih yang kaya dan tampan. Kenapa masih menginginkan Jongin?”

“Kau mengharapkan jawaban seperti apa? Aku tidak yakin kau percaya jika aku mengatakan sangat mencintainya. Kenapa kalian semua mengira aku punya niat lain? Sementara perasaanku pada Jongin sangat tulus. Terus terang, aku juga merasa jijik pada diriku sendiri. Aku merasa sakit dan lelah terus diumpat sebagai wanita jalang. Karena itu aku putuskan untuk melepaskannya.”

“Jadi kau memilih pacarmu?” tanya pemuda bernama Park Chanyeol itu dan Seulgi mengangguk. “Dia sangat mencintaimu, Kang Seulgi-sshi. Malah menurutku terlalu mencintaimu. Setiap hari namamu selalu terdengar dalam igauannya. Dia tidak pernah begini. Aku heran bagaimana dia bisa begitu lemah hanya karena satu wanita. Aku sampai bosan mendengarkan ocehan tentang betapa imutnya dirimu, dan bahwa dia ingin menikah denganmu suatu hari nanti,” cerita Chanyeol.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Seulgi.

“Batinnya sama sekali tidak ada perbaikan. Dia membutuhkanmu.”

“Aku tidak bisa….”

“Kalau begitu tegaskan bahwa kau benar-benar ingin mengakhiri ini dengannya. Kau tahu, setiap hari dia gila karena menunggu kau kembali. Jika secara tegas kau mengatakan untuk berhenti, mungkin dia akan kembali baik.”

Seulgi menatap Chanyeol penuh kebimbangan. “Jadi aku harus menemuinya untuk terakhir kali?”

“Anggap aku sedang meminta bantuanmu.”

“Akan ku coba,” jawab Seulgi dengan kepala tertunduk. “Maafkan aku.”

“Satu lagi permintaanku,” kata Chanyeol sebelum benar-benar meninggalkan Seulgi. “Saat kau telah memutuskan untuk mengakhiri itu dengannya, menjauhlah. Kalau perlu menghilang sepenuhnya dari hidup Jongin. Itu akan lebih mudah.”

***

“Sayang,” Sehun sampai harus mengibaskan tangannya di depan mata Seulgi agar dia tersadar dari lamunannya. Sedari tadi dia sudah tidak fokus dan seringkali bertatapan kosong.

“Eh? I-iya, aku makan,” gelagapan, Seulgi melanjutkan makannya.

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Sehun.

“Tidak ada kok. Makanannya enak,” jawab Seulgi tidak singkron.

“Jawabanmu tidak nyambung,” Sehun mengetuk kepala Seulgi pelan, tapi sambil tersenyum. “Ayo, ceritakan.”

“Tidak ada, Sehun-ah. Aku hanya sedikit lelah,” masih berusaha menghindar, Seulgi pura-pura sibuk menikmati makan siangnya walau tidak berselera. Mana mungkin dia berani menceritakan soal Jongin pada Sehun.

“Sayang,” Sehun malah menggenggam tangan Seulgi. “Aku merasa tidak berguna kalau kau seperti ini dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Benarkah dia berkencan dengan seorang manusia? Setelah pengkhianatan yang dia lakukan, Sehun masih bisa berkata demikian. Rasa bersalahnya makin besar saja. Sehun sangat baik, malah terlalu baik untuknya.

“Sehun-ah, maafkan aku.”

“Aku tidak ingin mendengarkan permintaan maaf lagi.”

“Jongin sedang sakit,” kata Seulgi tepat ke intinya. Air muka Sehun berubah seketika. Seulgi tahu dia pasti tidak suka. “Aku sudah tidak menghubunginya lagi, sungguh. Dan menurut orang yang memberitahukan itu padaku, dia sakit karena aku.”

“Apa harus menyalahkanmu?”

“Tidak, ini memang salahku. Bisakah kau mengizinkanku sekali ini saja? Aku janji hanya akan bicara lalu benar-benar menjauh sepenuhnya. Kau tidak akan pernah mendengarku menyebut nama Jongin lagi,” pinta Seulgi.

Sehun tampak kesulitan mengontrol ekspresi agar tidak terlalu kelihatan murka. Tapi Seulgi tahu Sehun sangat tidak suka. Karena itu dia menjelaskan sepelan mungkin, berharap Sehun bisa mengerti dan mengizinkannya. Dia bersungguh-sungguh tentang niatnya untuk mengakhiri ini. Juga tentang niatan untuk menjauh sepenuhnya dari Jongin setelah berbicara nanti. Jujur, Seulgi menyayangi keduanya. Karena itulah dia ingin semua kembali baik. Dirinya, Sehun, dan Jongin.

***

Tidak apa kan, menemuinya untuk kali ini saja. Lagi pula dia berniat untuk bicara baik-baik dan memberi pengertian pada Jongin untuk melupakannya. Saat kakinya hampir mencapai pintu kamar inap Jongin, dia melihat Soojung keluar dari sana. Benar juga, gadis itu pasti masih menaruh hati padanya. Pasti dia sudah tahu lebih awal tentang keadaan Jongin.

“Akhirnya kau datang,” setelah beberapa saat bertatapan, Soojung mulai bersuara. Dia menoleh sekilas ke kamar inap Jongin. Seulgi tidak menjawab apa pun, hanya menunduk memandangi kakinya. “Padahal sudah ku katakan untuk tidak menyakitinya—“

“Aku juga tidak bisa menyakiti Sehun,” potong Seulgi cepat. “Maafkan aku, ternyata aku lebih mencintai Sehun. Jadi aku tidak bisa bersama Jongin.”

Soojung menghela nafas. “Aku merasa iri padamu. Sangat iri,” dia bersandar ke dinding di sebelah pintu kamar inap, bersedekap. “Kau memiliki segalanya, Seulgi. Kau cantik, memiliki reputasi yang baik, disukai banyak orang. Kau punya teman-teman yang baik padamu. Kau punya seorang kekasih yang begitu mencintaimu hingga saat tahu kau mengkhianatinya, dia tetap mempertahankanmu. Bahkan kau juga memiliki cinta Jongin. Hidupmu begitu sempurna,” ditatapnya Seulgi dengan mata nanar. “Aku ingin memiliki setengah saja dari hidupmu, oh, bukan. Cukup cinta Jongin saja, maka aku sudah menjadi orang paling bahagia di dunia. Kau tahu betapa sulitnya untuk merelakan dia padamu. Aku bisa menahan sakitnya karena aku tahu dia lebih bahagia saat bersamamu. Tapi kau malah meninggalkannya, membuat keadaannya seperti ini. Sebenarnya apa maumu, Seulgi-ah?”

Seulgi menggigit bibirnya, ingin menangis tapi sudah terlalu lelah. Helaan nafas Soojung terdengar sebelum gadis itu melangkah pergi dari tempat itu. Seulgi tidak menoleh, tidak juga mengangkat kepalanya. Suara Chanyeol yang terdengar setelahnya lah yang membuat kepalanya kembali tegak.

“Masuklah,” kata Chanyeol dengan tangan yang membuka pintu.

Dengan ragu dia melangkah. Dari ambang pintu, sosok Jongin terlihat berdiri menghadap jendela, membelakanginya. Jika saja di hatinya tidak ada Sehun, mungkin Seulgi sudah memeluknya agar dia merasa lebih baik. Nyatanya yang bisa dia lakukan saat ini hanya berdiri dengan wajah iba. Dia bingung apa ini karena dia masih mencintai Jongin atau hanya sekedar rasa iba pada seorang teman. Seulgi menoleh pada Chanyeol yang berdiri di belakangnya. Chanyeol mengerti, langsung menutup pintu untuk membiarkan mereka berdua saja.

“Jongin-ah,” suara Seulgi memecah kebisuan. “Bagaimana keadaanmu?”

Tubuh Jongin berbalik. Dari sini Seulgi bisa melihat pipinya yang makin tirus, matanya makin cekung dan wajahnya terlihat pucat. Rupanya efek dari perbuatannya sudah separah ini.

“Kau datang,” bibirnya tertarik membentuk senyum paksa. “Apa kali ini untuk selamanya?”

Seulgi mengangguk dan tersenyum. “Iya, selamanya. Menjadi temanmu.”

Senyum Jongin memudar. Siapa yang tak sakit jika mendengar kalimat itu dari orang yang dia cintai? Seulgi tahu ini akan sangat menyakiti Jongin, tapi dia harus melakukannya.

“Teman,” ucap Jongin lirih. “Ya, kau benar. Semua yang kita lakukan sebelumnya adalah hubungan teman baik.”

“Jongin-ah,” Seulgi mendekat pada Jongin. “Aku menyayangimu,” ucapnya sambil menatap dalam mata Jongin. “Tidak bisa lebih dari itu.”

“Aku tahu. Yang lebih kau cintai adalah Sehun. Aku bukan apa-apa dibandingkan dengannya.”

“Ini bukan tentang siapa yang lebih aku cintai,” kata Seulgi. “Harus ku akui, kalian berdua punya tempat tersendiri di hatiku.”

“Aku masih berharap kau menjadi milikku—“

“Maaf, aku memilih setia pada Sehun. Aku mempertahankan apa yang sudah ku bangun bersamanya, walau aku tahu cintamu jauh lebih besar darinya.”

“Kau tahu, Seulgi,” Jongin meraba dada kirinya. “Kau baru saja menyakitiku.”

“Aku jahat, bukan?” Seulgi mengangguk, lekas mengusap air matanya yang nyaris jatuh. “Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku. Seseorang yang akan membuatmu lebih bahagia. Jongin, bahagialah untukku. Berjanjilah untuk bahagia jika kau memang mencintaiku.”

Jongin menatap lekat wajah Seulgi. Perlahan Jongin mengusap pipinya.

“Kenapa setiap bersamaku kau lebih banyak menangis dari pada tertawa?” Itu justru membuat Seulgi makin menangis, dan Jongin menghapus air matanya. “Aku harap setelah ini kau akan terus tersenyum. Walau bukan tersenyum untukku.”

Seulgi tidak mampu berkata-kata lagi, hanya terus menjatuhkan air matanya. Sebisa mungkin menutup bibirnya rapat agar tidak terdengar isakan. Dia tidak tahu kenapa rasanya begitu sakit. Apa ini artinya dia masih sangat mencintai Jongin?

***

Hari berganti hari. Perlahan Seulgi melakukan perbaikan pada semua keadaan. Hubungannya dengan Sehun, juga dengan Jongin, bisa dikatakan sudah hampir kembali ke keadaan semula. Sehun melakukan perhatiannya seperti biasa, dan kali ini fokus dengan masa depan mereka. Mereka berjanji untuk menikah akhir tahun ini. Di luar dugaan, rasa posesifnya mulai berkurang. Sehun membiarkan Seulgi tetap aktif dengan kegiatan The Circle walau tahu Jongin juga masih berada di dalamnya. Dia tidak lagi menanyakan atau mempermasalahkan tentang kehadiran Jongin. Lega, tentu saja.

Di sisi lain Jongin juga sudah bersikap seperti biasanya—seperti sebelum terjadi sesuatu di antara mereka, murni seperti seorang teman. Namun Seulgi sebisa mungkin tetap menjaga jarak sebagai penebusan rasa bersalahnya terhadap Sehun. Awalnya dia merasa belum terbiasa karena Jongin yang kelihatan seperti memaksakan diri untuk terlihat ceria. Perlahan dia mulai memahami bahwa itu adalah sebuah usaha untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Jongin menepati janjinya.

Mengenai Soojung dan Sunyoung, akhirnya mereka meminta maaf pada Seulgi. Tentu saja langsung Seulgi maafkan, malah balik meminta maaf atas sikapnya terakhir kali yang terlalu menampakkan emosi. Walau dia sangat tertekan karena mereka berdua, Seulgi bukanlah orang pendendam. Jadi cukup dengan bermaafan seperti ini dia sudah merasa baik.

“Tidak apa, kan? Sepertinya akan sangat sibuk di sana karena aku penanggung jawab acara,” dengan berat hati Seulgi menjelaskan tentang kemungkinan sulitnya menghubungi Sehun selama seminggu ke depan. Event The Circle akan diadakan di Pulau Jeju, kemungkinan berlangsung seminggu penuh karena tidak hanya operasi gratis, mereka juga akan mengadakan penyuluhan dan kegiatan lainnya.

“Yang ku khawatirkan adalah keadaanmu di sana,” Sehun terlihat cemas duluan. Dia membantu Seulgi berkemas sekaligus menemaninya semalaman karena besok pagi akan berangkat.

“Asal di sini kau tidak macam-macam, aku pasti baik-baik saja.”

“Apa itu sebuah ancaman?”

“Pikir saja sendiri,” Seulgi mengangkat bahu, menyibukkan diri mengemasi pakaiannya.

Sehun terkekeh dan memeluknya dari belakang. “Kenapa harus macam-macam saat aku memiliki gadis yang sempurna di sisiku, hm?”

“Lepaskan aku, Sehun-sshi. Ini harus selesai sebelum besok pagi.”

“Bagaimana ya, aku sudah merindukanmu duluan,” Sehun menciumi pipi Seulgi berkali-kali.

“Sehun-ah,” pada akhirnya Seulgi tidak bisa melawan dan membiarkan Sehun menghujani pipinya dengan ciuman.

“Jaga kesehatan ya,” ucap Sehun.

“Kau juga harus,” balas Seulgi. “Kalau ada waktu luang aku pastikan untuk menghubungimu pertama kali.”

“Ingat, jangan terlalu gila kerja. Makan harus teratur,” Sehun mengingatkan lagi.

“Iyaaa,” jawab Seulgi sambil tertawa pelan. “Aku mau melanjutkan ini, pelukannya nanti saja kalau sudah selesai.”

“Baiklah,” Sehun memberikan satu kecupan terakhir lalu melepaskannya.

Hati Seulgi kembali terasa hangat, setelah sekian lama tidak merasakannya. Sehunnya benar-benar kembali, begitu juga perasaannya yang murni. Ternyata benar, yang kemarin itu hanyalah sebuah godaan sesaat. Memang secara utuh dia belum bisa memastikan bahwa hanya ada Sehun di hatinya. Tapi hatinya sudah sangat yakin bahwa dia akan terus bersama Sehun dan menjaga kesetiaannya. Sebisa mungkin.

***

Rombongan The Circle tiba di Jeju menjelang waktu makan siang. Mereka langsung meluncur ke hotel tempat menginap untuk mengamankan barang dan berniat langsung makan siang bersama. Kamar dibagi secara acak, dan secara kebetulan Seulgi mendapat kamar yang berhadapan dengan Jongin. Itu bukan masalah. Mereka sudah jadi teman dekat sekarang jadi tidak ada yang perlu dia khawatirkan.

“Aku bantu bawakan,” ucap Jongin seraya mengangkat koper yang Seulgi bawa saat mereka berjalan menuju lift.

“Eh, tidak usah,” Seulgi berlari kecil untuk mencegah Jongin, tapi pemuda itu enggan melepas kopernya.

“Barangku tidak banyak, jadi masih bisa membawakan punya orang,” ucap Jongin sambil menunjukkan ransel besar yang menggantung di punggungnya.

“Tapi aku bisa sendiri,” kata Seulgi. Memang bukan itu alasan sebenarnya. Dia hanya ingin menjaga jarak.

“Ayolah, Seulgi jangan menyulitkanku. Aku tahu kau berusaha menjauh. Sadarlah, jika kau seperti itu, aku makin tidak bisa melepaskanmu. Jadi biarkan aku mencoba menjadi teman yang baik dan seiring berjalannya waktu benar-benar melupakan perasaanku padamu.”

Seulgi tercengang. Apa-apaan kalimat panjang ini? Dia merasakan sesuatu yang aneh lagi. Sedikit kecewa namun memaksakan diri untuk merasa lega.

“Ba-baiklah,” menyerah, Seulgi pun membiarkan Jongin membawakan kopernya dan menyusul yang lainnya masuk lift.

Hal yang lebih kebetulan lagi adalah, teman-teman lainnya berada dalam satu lantai sementara Jongin dan Seulgi berada di satu lantai di bawahnya, hanya berdua. Menurut cerita Minseok, semua kamar di lantai atas sudah terbooking jadi terpaksa hanya mereka berdua yang berbeda lantai. Kenapa harus dirinya dan Jongin?

“Segera berbenah ya, setelah ini langsung makan siang. Sampai nanti, Jongin dan Seulgi,” Yuri melambai ke arah mereka berdua sebelum pintu lift kembali tertutup.

“Kebetulan yang menyenangkan, bukan?” celetuk Jongin sebelum mengangkat koper Seulgi lagi. Ada senyum yang muncul di wajahnya. “Well, kamarmu yang ini dan di depan sini kamarku,” diletakkannya koper Seulgi di depan pintu.

“Terima kasih, Jongin-ah.”

“Jangan canggung padaku. Bisa, kan?”

Entahlah, mendadak Seulgi merasa seminggu ini akan sulit menghadapi Jongin. Walau dia selalu meyakinkan bahwa sikapnya adalah sebagai seorang teman, tetap saja sulit.

“Aku masuk dulu,” Seulgi mengambil alih kopernya dan membuka pintu. Dia bisa melihat senyum Jongin padanya, sebelum dia segera menutup pintu rapat. Sekarang bahkan senyum Jongin membuatnya takut. Bukan sebuah senyuman jahat, hanya saja melihat itu, rasa bersalahnya kembali muncul.

Tidak ingin berlama-lama merenung, Seulgi langsung membuka koper dan memindahkan isinya ke lemari hotel. Setelah itu dia mulai mengecek semua fasilitas di sana mulai dari penghangat ruangan, televisi, juga balkon penghubung dengan view di luar. Terakhir dia kecewa saat hendak mandi, ternyata airnya tidak menyala. Bagaimana bisa sebuah hotel berbintang memiliki masalah dengan air? Dia menelpon lobi hotel untuk mengeluhkan itu, dan tak berapa lama kemudian seorang bell boy datang bersama seorang teknisi.

“Maafkan kami, agasshi. Akan segera kami perbaiki.”

Seulgi pun membiarkan mereka masuk sementara dia sendiri menunggu di luar. Sepertinya akan terlambat untuk makan siang bersama.

[The Circle LINE group chat]

Teman-teman, aku makan siang belakangan. Kalian duluan saja.

Yuri : Kenapa, Seulgi-ah?

Baekhyun : Kenapa? Akan kami tunggu kok santai saja

Myungsoo : Perempuan ribet sekali, mau mandi saja lama

Heh -_- air di kamar mandiku tidak menyala, sedang diperbaiki sekarang

Baekhyun : Wah, kita makan duluan saja deh

Huuuu tadi bilang mau menunggu

Yuri : Tidak apa-apa kah Seulgi? Akan kami pesankan duluan jadi nanti kau bisa langsung makan. Atau mau kami antar ke kamar?

Tidak usah, aku bisa sendiri. Hehehe

“Kamar mandimu bermasalah?” hampir saja Seulgi menjatuhkan ponselnya karena kepala Jongin yang tiba-tiba menyembul dari pintu kamar di depan. “Yaaa, kenapa wajahmu sekaget itu? Aku membaca di group chat. Apa masih lama?”

“Sepertinya,” Seulgi mengangguk ragu. “begitu.”

“Kalau begitu mandi saja di kamarku.”

“Hah?”

“Aku sudah selesai. Pakai kamar mandiku.”

“Tidak apa-apa, aku bisa makan sendirian. Kau duluan saja,” tolak Seulgi secara halus.

“Atau kita bertukar kamar saja? Agar kau merasa lebih nyaman.”

“Hah?” tanggapan kaget yang kedua.

“Sepertinya lebih baik bertukar. Barangku juga belum ku rapikan semua,” tanpa menunggu persetujuan Seulgi, Jongin kembali masuk ke kamarnya dan kembali dengan tas besar yang dia bawa. “Cepat pindahkan barangmu lalu mandi.”

“A-apa ini perlu?”

“Kau tidak lapar?”

Benar juga, Seulgi sudah lapar dari tadi.

“Baiklah, sebentar.”

Akhirnya Jongin sekalian membantu Seulgi memindahkan barang-barangnya. Mereka resmi bertukar kamar dan Seulgi bisa mandi dengan nyaman. Selang 30 menit kemudian Seulgi selesai mandi dan berniat turun untuk makan siang. Dia pikir Jongin akan langsung menyusul yang lainnya makan siang, ternyata tidak. Pemuda itu berdiri di depan pintu kamar, bersandar ke dinding.

“Apa wajahmu harus selalu sekaget itu melihatku?” tanya Jongin.

“Ku-kupikir kau langsung turun untuk makan siang.”

“Ayo makan siang bersama. Kau akan merasa bosan kalau sendirian,” Jongin menggenggam tangan Seulgi dan menariknya.

“Jongin-ah, aku tidak apa-apa makan sendirian,” Seulgi berusaha melepaskan tautan tangan mereka, sedangkan Jongin tampak enggan.

“Aku sudah menunggumu dari tadi dan sekarang kau malah menyuruhku makan sendirian?”

“Aku tidak bilang begitu….”

“Mereka sudah selesai makan, jadi ayo kita makan bersama.”

“Baiklah,” lagi-lagi Seulgi tidak bisa menolak.

“Tidak usah terlalu kaku, ini biasa dilakukan oleh seorang teman,” ucap Jongin saat mereka masuk lift.

Seulgi tidak menjawab lagi, bahkan terus diam hingga lift meluncur turun dan mereka keluar. Jongin membawanya ke restoran hotel yang berada di lantai dasar. Dia tidak terlalu memperhatikan saat Jongin memberikan pilihan akan makan apa, hanya mengangguk dan mengatakan iya, membiarkan Jongin yang menentukan. Selera makannya sedikit pudar karena suasana yang tidak nyaman ini.

“Pesanan akan segera kami antar,” seorang pelayan membungkuk sebelum meninggalkan mereka berdua.

“Apa kau tidak nyaman makan denganku?”

“Hah? Oh… tidak—maksudku, aku nyaman nyaman saja,” jawab Seulgi sedikit terbata.

“Baguslah,” kata Jongin. “Karena aku tidak bisa menjadi kekasihmu, setidaknya ada kesempatan untuk menjadi teman baik.”

“Hah?”

“Abaikan saja,” Jongin malah tersenyum dan mengacak rambut Seulgi pelan. Anehnya, Seulgi merasa gugup. “Aku ingin memperlihatkan ini padamu.”

“Apa?” dilihatnya Jongin mengutak-atik ponselnya, lalu memberikan pada Seulgi. Keningnya berkerut karena yang tampak di sana adalah foto seorang gadis. “Aku tidak mengerti.”

“Apa menurutmu dia cantik? Sekarang aku dekat dengannya. Seorang mahasiswi kedokteran juga sepertimu,” jelas Jongin.

“Oh…” Seulgi manggut-manggut, dalam hati kebingungan kenapa Jongin malah memperlihatkan ini padanya. “Cantik kok, cocok denganmu.”

“Hanya itu?”

Seulgi makin bingung. “Kau mengharapkan jawaban apa?”

“Aku pikir kau akan cemburu karena sebentar lagi mungkin aku akan benar-benar move on darimu.”

“Hah?” ini sudah kesekian kalinya dia menampakkan ekspresi kaget hari ini dan semuanya karena Jongin. Terlebih saat ini wajah Jongin terlihat serius, sama seperti saat dia menyatakan perasaannya waktu itu. Seulgi jadi salah tingkah.

“Aku hanya bercanda,” tawa Jongin meledak. “Wajahmu imut, aku suka melihatmu salah tingkah.”

Apa-apaan ini? Itu hanya untuk menggodanya agar jadi salah tingkah. Seulgi merutuki dirinya sendiri, merasa begitu bodoh karena masih memiliki pikiran bahwa Jongin tidak bisa melupakannya. Dia tidak bisa seperti ini terus. Dia harus lebih menjaga jarak lagi.

***

“Cheers!”

Dentingan gelas yang beradu memenuhi kamar 505, tempat Siwon menginap. Mereka mengadakan pesta kecil sebelum mulai kegiatan perdana besok. Ada banyak makanan yang dipesan, juga beberapa botol soju dan soda, tak lupa DVD karaoke untuk lebih memeriahkan suasana.

“Seperti mimpi ya. Akhirnya event sebesar ini bisa kita laksanakan,” kata Victoria sebelum meneguk sojunya.

“Memang benar apa kata orang-orang. Masa jabatan Siwon adalah masa emas, karena ada kita,” sambung Baekhyun dengan bangga.

“Ayam mana ayam? Sudah habis? Aigoo, Jongin yang habiskan ya?” keluh Joohyun saat melihat isi kotak sudah habis.

“Mau ku pesankan lagi tidak?” tawar Siwon, yang langsung ditanggapi anggukan dari semua anggota, terutama Jongin yang paling suka ayam.

“Teman-teman, besok rombongan dari rumah sakit akan tiba jam 9 pagi,” Seungwan yang tadi sibuk menelpon kembali bergabung.

“Sambil menunggu ayamnya datang, ayo kita menyanyi!” ajak Myungsoo semangat. Dia berinisiatif menyalakan DVD karaoke. “Aku nyanyi duluan ya, hm…” dia mulai memilih lagu. “Oke yang ini!”

Lagu pertama diputar, semua langsung mengenali kalau itu adalah Roly Poly dari T-Ara. Seungwan yang menyukai lagu ini bertepuk dan bangkit untuk ikut bernyanyi dan menari bersama Myungsoo.

Roly Poly Roly Roly Poly

nan mireo naedo nan

dashi negero daga ga seo

Roly Poly Roly Roly Poly

naman bo il kkeoya

neo ege nareul boyeo jul kkeoya

(T-Ara – Rolly Polly)

“Aku juga mau nyanyi!” Baekhyun berdiri dan merebut mic dari tangan Myungsoo, memilih lagu. “Lagunya… So Nyeo Shi Dae!”

“Aku ikut!” Yuri melompat dari tempat duduknya untuk bergabung dengan Baekhyun.

Mereka menyanyikan lagu Hoot dari SNSD lengkap dengan tariannya. Baekhyun rupanya punya bakat menari seperti perempuan, tampak lentur dan wajah baby facenya terlihat imut. Seulgi tertawa sendiri melihat tingkah mereka. Selanjutnya Soojung menyanyikan lagu dari Christina Aguilera yang berjudul Ain’t No Other Man.

“Sekarang aku ingin request seseorang untuk bernyanyi,” mendadak Myungsoo mengangkat tangan.

“Siapa?” tanya yang lainnya serentak.

“Kim Jongin!” Myungsoo menyuarakan nama Kim Jongin dengan tangan terkepal ke udara.

“Apa? Ah… aku tidak bisa bernyanyi,” tolak Jongin, menggeleng cepat.

“Ayo kita paksa Jongin bernyanyi. Kim Jong In! Kim Jong In! Kim Jong In!”

Anggota lain pun ikut mendemokan nama Jongin seperti Myungsoo. “Kim Jong In! Kim Jong In! Kim Jong In!”

Minseok mempermudah proses dengan menarik Jongin berdiri dan meletakkan mic dalam genggaman tangannya. Jongin hanya bisa tertawa pasrah.

“Yaaa aku benar-benar tidak bisa bernyanyi. Kalian akan menyesal,” kata Jongin.

“Ayo cepat! Ayamnya akan segera datang,” titah Jongdae tidak sabar.

“Baiklah,” sekilas Seulgi merasa Jongin melirik ke arahnya dan dia langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk minum soda dan berbincang dengan Joohyun. “Lagu ini untuk seseorang.”

“Uwoooo,” sorak Jongdae, Myungsoo, Minseok, dan Baekhyun bersamaan. Seulgi ingin ikut tertawa seperti yang lainnya, tapi rasanya berat. Entah kenapa dia berpikir lagu yang akan dinyanyikan oleh Jongin adalah untuknya. Dasar bodoh.

Musik kembali mengalun. Kali ini bukan lagu yang up beat seperti tadi. Alunannya lebih lembut dan bernada… sedih?

How do I end up in the same old place

Faced again with the same mistakes

So stubborn, thinking I know what is right

But life proves me wrong every time

Taking roads that lead me no where,

How do I expect to get there

But when will I learn to just put you first

Dua bait pertama yang Jongin nyanyikan seolah menghipnotis semuanya. Mereka mengangkat kedua tangan dan melambaikannya ke atas seolah sedang nonton konser. Sementara Seulgi yang kebetulan duduk menghadap lurus pada Jongin yang sedang bernyanyi, tidak ikut melakukan hal yang sama dengan mereka. Dia mematung mendengarkan suara Jongin sekaligus menatapnya.

I come to you now when I need you

But why do I wait to come see you

I always try to do this on my own

But I was wrong, cause only with you

Can I move on (can I move on)

Bukan karena suara Jongin sangat bagus. Suaranya tidak semerdu Bruno Mars, penyanyi asli lagu itu. Nadanya juga banyak yang salah. Hanya saja, mendengar dia bernyanyi seolah sedang menyimak dia berbicara dari hati ke hati. Tatapan mereka terus bertemu dan Seulgi tidak bisa berpaling. Sepertinya memang benar, Jongin sedang berbicara tentang perasaan padanya.

When I’m weak, it’s you that makes me strong

And I know that you’ve been with me all along

So many times I forget to close my eyes

And listen to my heart

With you, life is so easy

Why do I make it hard

Oh, taking roads that lead me no where,

How do I expect to get there

When will I learn to just put you first

I, I come to you now when I need you

But why do I wait to come see you

I always try to do this on my own

But I was wrong, cause only with you

Can I move on

I’ll get out of my own way,

Let you have your way

Cause I realized I’m no good on my own

I’m there for you, I’ll serve for you

I can’t live without you

Setiap lirik yang terucap menyayat hatinya. Untuk sesaat dia jadi bimbang lagi. Apa dia telah salah memilih? Sepertinya Jongin tidak baik-baik saja, begitu juga dengan hatinya sekarang. Mendadak semua momen yang pernah ia lewati bersama Jongin berkelebat di otaknya.

I come to you now when I need you

Why do I wait to come see you

I always try to do this on my own

But I was wrong, I was wrong, I was wrong,

With only you, only you, with only you

Can I move on, can I move on, can I move on

(Bruno Mars – Can I Move On)

 

“Whoa, Jongin-ah, kau mau membuat kami semua berurai air mata ya?” Baekhyun bertepuk tangan.

“Suaraku jelek,” kata Jongin saat telah kembali duduk.

“Memang jelek, karena itulah aku ingin menangis,” kelakar Baekhyun dan langsung mengundang tawa semuanya.

“Seulgi dari tadi diam saja. Bagaimana kalau kau bernyanyi juga?” celetukan tiba-tiba dari Yuri langsung membuat Seulgi tersadar kembali dari lamunan panjangnya.

“Apa?” tanyanya kaget. “Ti-tidak, aku tidak bisa,” jelas dia langsung menolak.

“Aku setuju. Sekarang giliran Seulgi!” tambah Minseok.

“Iya benar! Kang Seulgi! Kang Seulgi! Kang Seulgi!” Myungsoo mulai berdemo lagi, diikuti oleh yang lainnya.

“Aku tidak bisa bernyanyi, sungguh,” Seulgi menggeleng berkali-kali. Dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. Selain itu, dia juga tidak berselera melakukan apa pun setelah mendengar nyanyian Jongin tadi. Beruntung saat mereka meneriakkan namanya, terdengar suara ketukan pintu kamar.

“Pesanan untuk kamar 505.”

“Wah, ayam kita sudah datang!”

Seulgi merasa lega, akhirnya perhatian mereka teralih. Setelahnya mereka tidak memaksanya bernyanyi lagi, sibuk memakan ayam goreng.

“Aku bosan lagi. Bagaimana kalau kita main truth or dare?” celetuk Myungsoo di tengah-tengah acara makan.

“Aish, kau bosan terus,” Seungwan yang duduk di dekatnya langsung menjitak Myungsoo. Sepertinya mereka berdua makin dekat.

“Tidak apa-apa sih, ayo kita main. Masih jam segini,” sambung Sunyoung, menunjuk jam dinding yang menunjuk angka 11.

“Baiklah, kita main. Tapi ingat ya, besok tidak boleh ada yang terlambat karena susah bangun,” Victoria mengambil satu botol soju kosong dan meletakkannya di tengah-tengah mereka. “Mulai,” dia memutar botol itu yang akhirnya berhenti di Seungwan.

“Yah, aku pertama,” dengus Seungwan.

“Nah, aku sudah lama ingin menanyakan ini. Apa kau menyukai Myungsoo juga?” tanya Baekhyun sambil menaikturunkan alisnya.

“Pertanyaan lain, aku tidak mau jawab.”

“Yak! Mana bisa begitu? Wah, Myungsoo sepertinya dia menolakmu,” ejek Baekhyun.

“Siapa bilang?” tiba-tiba Myungsoo merangkul Seungwan. “Kami sudah berkencan.”

“Mwoya?” teriak semuanya bersamaan.

“Sudah ku bilang jangan ember!” Seungwan melotot ke arah Myungsoo dan langsung memukulinya bertubi-tubi.

“Yak! Sakit bodoh!” ringis Myungsoo.

“Ah, sudah tidak seru lagi. Next, next!” Seungwan memutar botol itu lagi, kali ini mengarah pada Seulgi. Sial.

“Nah, kebetulan kena!” tampaknya Baekhyun paling bersemangat mengajukan pertanyaan. “Berapa lama kau tahan berciuman dengan Sehun?”

Pertanyaan macam apa itu? Pipi Seulgi memerah dalam sekejap. Dia bingung harus menjawab bagaimana, dan entah kenapa malah menatap Jongin seperti minta pertolongan. Jongin balas tersenyum padanya seolah berkata, ‘Jawab saja’. Apa-apaan ini? Dia bertingkah seperti masih menjadi kekasih ‘gelap’ Seulgi.

“Aku tidak yakin berapa lama,” kata Seulgi sambil menutupi kedua pipinya. “Tapi pernah cukup lama sampai kehabisan nafas.”

“Aigoo, pipinya memerah,” goda Baekhyun, membuat yang lain ikut menggodanya. “Kalian melakukannya dimana? Kapan?”

“Sudah, jangan paksa dia menjawab, wajahnya sudah seperti cherry merah,” kata Jongin menghentikan mereka.

Seulgi pun memutar botol itu kembali, kali ini menunjuk ke arah Soojung.

“Kena!” tunjuk Baekhyun sambil tertawa licik.

“Aku yang ingin bertanya,” Jongdae mengangkat tangannya. “Aku penasaran, apa Jongin termasuk jago berciuman?”

“Yak! Kenapa menanyakan itu dasar bodoh!” Sunyoung hendak memukul kepala Jongdae tapi tidak jadi karena pemuda itu menghindar.

“Tidak apa-apa, akan ku jawab,” Soojung terkekeh sebelum menjawabnya. “Kalau boleh jujur sih…” dia menatap teman-temannya bergantian. “Iya, dia good kisser. Dia hebat dalam segala hal.”

“Aigoo! Aigoo! Dia bilang segala hal! Aigooooooo!” Baekhyun memekik heboh, begitu juga dengan Jongdae.

Seulgi pura-pura ikut tertawa walau sebenarnya hatinya terasa panas. Aneh.

“Sekarang aku yang putar ya,” Soojung mengambil alih botol dan memutarnya. Ini aneh, seperti suratan takdir. Kali ini botol itu berhenti di Jongin.

“Hm… tampaknya ini memang sudah ditakdirkan,” Baekhyun menyeringai licik lagi. “Kau! Kim Jongin! Aku sudah menunggu momen ini untuk bertanya!” dia menunjuk Jongin dengan dramatis.

“Astaga, jangan tanya yang aneh-aneh,” Jongin memutar bola matanya.

“Ha! Jadi siapa gadis yang kau sukai itu?”

DEG

Seulgi langsung panas dingin, menatap Jongin penuh harap. Dia memohon dalam hati agar Jongin tidak menjawabnya, atau berbohong saja. Jantungnya berdebar kencang, ketakutan.

“Benar-benar penasaran ya?” Jongin terkekeh. “Apa boleh buat, sepertinya memang harus ku katakan. Aku yakin kalian akan terkejut. Tapi bisa jadi sudah menduganya.”

Sial. Apa yang Jongin pikirkan? Apa dia akan mengatakannya? Seulgi tidak melepas tatapannya dari Jongin, berharap pemuda itu balas menatapnya dan mengerti kode darinya.

‘Jangan katakan, Kim Jongin!’ jerit Seulgi dalam hati.

Mereka semua, sesuai dugaan, menyimak dengan wajah serius bahkan tegang. Tidak hanya Baekhyun, tapi semuanya. Semuanya kecuali Jongin, Seulgi, dan Soojung.

“Aku suka Seulgi.”

***TBC***

Author note : Saya punya pertanyaan untuk kalian.

“Jika kalian berada di posisi Sehun, apa yang akan kalian lakukan? Meninggalkan Seulgi karena kecewa, atau justru memaafkannya seperti cerita di atas?”

Selamat menjawab, dan sampai jumpa di chapter berikutnya.

33 thoughts on “Bittersweet : We’re Friends, Right?

  1. menurut aku, Sehun wajah maafin seulgi, toh dia emang cinta dan seulgi juga jujur, jadi pantas lah di kasih kesempatan kedua. Aku suka eonni chap ini. Tapi semoga seulgi sampe akhir tetep c sama sehun ya. kayaknya dia masih agak cinta ama jongin. Dan makasih banget eonni untuk chap ini nunjukin seulgi – sehun. Aku nge ship nya mereka soalnya^^ ditunggu next nya.

  2. masih gak ngerti sih, kenapa dengan mudahnya sehun memaafkan seulgi. mungkin ini karena cinta, tapi harusnya gak semudah itu kan? terus, Jongin.. demi ayam goreng milik onew oppa, aku kasian banget sama Jongin plisss jong, cewek tuh didunia ini banyak dan Seulgi, menurut aku dia masih labil deh, meskipun dia usah milih sehun, tapi malah keliatannya dia masih belum bisa lupain Jongin. jadi, apa maunya Seulgi sebenernya?

  3. Berusaha memaafkan, klo emang uda trlanjur mencintai.

    Tapi awas loo yaa authoooornim….. Jgn bikin seulgi cinlok sm jongin lagiii >_<

    bikin seulgi jdi cwe tegas gtu napaaa skali kaliii..

    #jdi pngen jitak seulgi pake tongkat baseball

  4. kalo aku jd sehun mah yahh lanjut aja sama seulgi, kan udah mau nikah. Apalg udah cinta bngt sama seulgi. Yahh tp kasian sama jongin, sehun makin errr gimana gitu deh..
    Next ya thor^^

  5. Haduuuuh kenapa itu dikasihtauuu, kasian seulgi nya dong kaaaaii

    Klau jadi sehun? Entahlah mungkin kalau cinta banget, semua akan dilakukan yah termasuk seperti yg sehun lakukan demi seulgi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s