Closer (Chapter 6)

1447225135780

Chapter 6. (Forced Marriage) – by Angel Devilovely95

 

Author : Angel Devilovely95 (Twitter:@MardianaSanusi)

Cast     : Oh Sehun – Im Neyna (OC) – Kim Jongin

Park Chanyeol & Lee Hyera (OC)

Genre  : Romance, Drama and Psychology

Rating : PG 17

Length : Chaptered

Disclaimer: Don’t bash! This story based on my imagination.

HARAP TINGGALKAN JEJAK^^

Mulai sekarang ffku hanya akan dipost di exoff & di blog pribadiku.

Previous Chapter >> [Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4] [Chapter 5]

 

Also posted on my WP  angeldevil

 

 

 

When a handsome man forces you to be his

 

 

 

 

 

Sehun mengancingkan bolero tuxedo yang ia kenakan. Ia mematut tampilan dirinya di depan cermin sambil menyeringai mengingat tinggal setengah jam lagi pernikahannya dimulai. Usai mengacingkan bolero tuxedonya, Sehun mengulurkan satu tangannya, meminta jas tuxedo miliknya yang sedari tadi dipegang Jongdae, dan langsung mengenakan jas hitam polos tersebut sesaat setelah Jongdae memberikan jas tuxedonya. Sehun terlihat sangat tampan dengan kemeja putih polos yang kontras dengan celana bahan, dasi kupu-kupu, bolero, dan jas tuxedo yang ia kenakan. Ia sesekali membetulkan dasi kupu-kupu yang sebenarnya sudah terbalut rapi di kerah kemeja keluaran Armani itu. Tapi tetap saja hari ini hari special untuknya, ia harus tampil seseempurna mungkin kan?

 

 

Sehun membalikan badan menghadap kearah Jongdae “Bagaimana penampilanku Sekertaris Kim?” Tanyanya antusias sembari tersenyum sumringah.

 

 

Jongdae terkesiap bossnya yang terkenal kaku dan dingin baru saja tersenyum sumringah dan berbicara dengan nada yang antusias padanya. Efek cinta memang luar biasa, Jongdae bisa merasakan bossnya itu bahagia bukan main hari ini. “Kau terlihat sangat tampan Presdir.” Jawab Jongdae sambil tersenyum lebar.

 

 

“Terimakasih atas pujianmu Sekertaris Kim.”

 

 

“Saya telah memberitahu media tentang pernikahan Anda Presdir” Jongdae mengambil tab di meja dan memberikannya pada Sehun “Sesuai perintah Anda saya hanya memberitahu usia dan marga Nona Im saja.”

 

 

Sehun melihat dan membaca artikel pernikahannya di tab. Ucapan Jongdae ternyata singkron dengan yang tertera di dalam artikel berita online tersebut. “Bagus begini lebih baik… Jangan sampai identitas gadisku terbongkar dulu.” Sehun menjilat bibir bawahnya “Sampai saat aku mengenalkan siapa istriku secara resmi, pria brengsek itu pasti akan sangat terkejut.” Ujarnya dingin. Sehun mengembalikkan tab itu pada Jongdae lalu merapikan sedikit ujung rambutnya yang sudah ditata kesamping seperti biasanya.

 

 

“Lalu bagaimana dengan Nona Hyera? Apa Anda yakin dia tidak akan memberitahu Kim Jongin tentang pernikahan Anda Presdir?” Tanya Jongdae menyelidik.

 

 

“Aku sudah berbicara dengan Chanyeol tadi. Dia bilang dia sudah melarang istrinya untuk berhubungan dengan pria brengsek itu lagi. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

“Cup cup sudah jangan menangis Neyna-ya…Make upmu nanti luntur sayang.” Bibi Song mentotol-totolkan tissue di bagian pipi atas Neyna, berusaha menghapus air mata yang terus-terusan mengalir tanpa merusak make up natural di wajah ayu keponakanya itu.

 

 

“Auntie aku tidak ingin menikah dengan Sehun-sshi. Aku takut Auntie…” Bisik Neyna lirih. Alih-alih membocorkan tentang pernikahan paksanya dengan Sehun. Ia malah hanya bisa mengungkapkan keenggananya dan ketakutannya untuk menikah dengan Sehun. Bibinya sebenarnya sudah ada di kamar berlabel president ini sejak empat puluh menit yang lalu, menunggunya selesai spa sampai make up, tapi tetap saja ia belum atau mungkin tidak akan pernah berani membocorkan kebrutalan Sehun pada bibinya. Terlebih, lima penjaga wanita yang masih dan tetap saja mengawasi gerak-geriknya. Penjaga wanita dengan postur tinggi yang bisa dipastikan orang Korea itu bahkan melaporkan apa saja yang terjadi di kamar ini tiap saat. Ia jadi merasa sesak dan terintimidasi disini.

 

 

Bibi Song menepuk halus pundak Neyna “Sstt jangan berbicara seperti itu sayang…Auntie sering dengar pengantin wanita akan ragu dan takut menjelang pernikahannya. Tapi itu hanya sesaat sayang, kau mungkin hanya gugup hmm.” Ucapnya menenangkan. “Kau ingat saat Sehun ke apartment kita dan berbicara di ruang kerja Auntie?”

 

 

Neyna mengangguk “Iya aku ingat.” Jawabnya sambil sesenggukan.

 

 

“Sehun melamarmu pada Auntie sayang. Dia meminta izin pada Auntie agar kau tinggal dengannya sebelum pernikahan kalian. Dia juga meminta Auntie untuk merahasiakan dulu ini semua padamu. Awalnya Sehun merencanakan menikah di Korea tapi entah kenapa rencanaya berubah jadi di Belanda. Auntie tidak tahu kenapa. Tapi ya…dimanapun kalian menikah Auntie tetap setuju. Sehun begitu serius padamu sayang. Dia pria yang baik dan sopan. Jadi jangan meragukannya atau berbicara yang tidak-tidak lagi eoh.” Bibi Song tersenyum lembut sambil mengusap-usap puncak kepala Neyna. Wanita paruh baya yang sudah mengenakan hanbok dengan dominasi pink pastel dan putih itu kemudian menghampiri Lee Dami, penata rias dan penata rambut yang selanjutnya akan menata rambut Neyna.

 

 

Neyna terbelalak, saking syoknya dengan ucapan bibinya barusan. Kenyataan bahwa Sehun merencanakan pernikahan ini dari jauh-jauh hari dan betapa sukanya bibinya pada Sehun membuatnya merasa semakin tertekan dan kalut. Neyna menghela nafas berat, ia ingin sekali menghentikan waktu dan pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini. Mengilang kalau perlu. Menjauh dari Sehunlah intinya. Tapi itu semua tidak mungkin dilakukan. Begitu banyak penjaga sewaan Sehun. Lagipula bibinya yang ia harapkan bisa menolongnya lepas dari pernikahan paksa ini juga tidak bisa diharapkan lagi. Bibinya sekarang tampak lebih pro pada Sehun. Menyedihkan bukan?

 

 

“Saya akan mulai menata rambut Anda ya Nona.” Ujar Dami sopan. Wanita berusia tiga puluh tahunan yang merupakan pegawai kepercayaan Bibi Song itu mulai menata rambut panjang Neyna dengan cekatan. Rambut panjang Neyna tetap dibiarkan terurai, lalu dikeriting di bagian bawah, sebagian rambut di bagian kiri dan kanan sengaja dipilin dan disatukan ke belakang setelahnya.

 

 

Bibi Song tersenyum tipis saat melihat Neyna begitu cantik dengan make up natural dan tatanan rambut sederhana saat ini. Keponakannya itu bahkan sudah berhenti menangis, meski masih sesenggukan. Neyna seperti anak kecil yang habis menangis. Keponakannya itu begitu lucu menurutnya. Ia terkekeh sebentar kemudian mengambil dan membuka dua koper besar yang ia letakkan di samping kursi rias.

 

 

“Neyna-ya lihat…Ini gaun yang akan kau kenakan… Bagiamana eoh? Mirip seperti gaun impianmu bukan?” Ucap Bibi Song sembari menunjukkan gaun rancangannya yang ia ambil dari koper merah ati miliknya. Ball gown wedding dress model curve kemben dengan taburan 500 berlian dan 3000 kristal Swarovski kecil yang khusus diimpor dari Milan di seluruh bagian dada sampai pinggang, disatukan white damask classis lace pas mengacu pada pusar di pertengahan menjuntai kebawah, melingkari ujung rok berbahan tulle yang lebar dan bervolume, terlihat penuh di bagian ekor dress sepanjang hampir tiga meter.

 

 

Neyna menoleh dan mengangguk lesu, menanggapi ucapan bibinya. Gaun yang ditunjukkan bibinya itu memang sangat cantik dan sesuai dengan gaun pengantin impiannya. Tapi ia tidak sanggup tersenyum atau mengucapkan serentetan pujian pada gaun pengantin rancangan bibinya itu. Ia merasa tidak bersemangat untuk melakukan itu semua.

 

 

Bibi Song terlihat kesusahan memegang gaun mewah seberat 25 kg itu seorang diri. Ia akhirnya meletakkan gaun pengantin itu di tepi tempat tidur. “Gaun ini Auntie kerjakan selama dua hari sepaket dengan wedding veil dan sarung tangannya Neyna-ya. Pelanggan special yang Auntie bicarakan saat Auntie mengantarkan handphonemu ke Woo Sam SHS sebenarnya kau sayang.” Bibi Song kemudian mengeluarkan wedding veil berenda berdisgn white damask classic dengan ukuran lebih kecil yang juga menjuntai sampai lantai seperti gaun rancangannya dari dalam koper hitam bercorak daun paisley berwarna gold– koper satunya.

 

 

Wanita paruh baya itu juga mengeluarkan sarung tangan sesiku dan mahkota berdisgn simple bertahtakan berlian 150 karat warna putih setelahnya. “Lihat sayang wedding veil, sarung tangan dan mahkotanya sangat cantik kan?” Tanya Bibi Song antusias. Ia mengulang aksinya, meletakkan wedding veil, sarung tangan, dan mahkota yang ia pegang di tepi tempat tidur. “Omoya… Auntie lupa.” Bibi Song menepuk jidatnya, lalu mengambil paper bag besar di samping koper merah ati miliknya. “Nah ini sepatu yang akan kau kenakan nanti sayang. Bagaimana? Kau suka eoh?” Tanya Bibi Song sambil memamerkan high heel putih keluaran Christian Louboutin setinggi dua belas senti dengan hiasan pita kecil dan kerutan menyerupai kelopak bunga bertabur serpihan kristal Swarovski di ujung tumit.

 

 

Neyna tidak kuasa menahan tangis, terharu dengan usaha bibinya yang capek-capek menyiapkan semua itu untuknya. Ia akhirnya berdiri dan langsung memeluk Auntienya “Auntie terimakasih…Terimakasih.” Neyna memeluk Auntienya semakin erat “Semua itu sangat cantik dan tidak pantas dikenakan untuk pernikahan paksaku Auntie.” Keluh Neyna membatin.

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

Hyera setengah berlari menghampiri Chanyeol setelah berkunjung ke kamar nomor 323, menemui Neyna. Ia langsung memeluk suaminya yang tengah meneguk kopi di dekat jendela. “Oppa Neyna sudah selesai didandani, dia sangat cantik tapi dia kelihatan sangat sedih. Aku jadi tidak tega melihatnya, aku kasihan dengannya Oppa…”

 

 

Chanyeol hampir saja tersedak karna tindakan tiba-tiba Hyera. Ia meletakkan cangkir kopi di meja yang ada di samping jendela dan berbalik menghadap kearah Hyera. “Kau hampir saja membuatku tersedak Hyera-ya.” Keluh Chanyeol sambil mengelus puncak kepala Hyera.

 

 

“Maaf Oppa”

 

 

Chanyeol menghela nafas lalu berdehem sebentar. “Tadi sih saat aku menemui Sehun, Jongdae selalu melapor pada Sehun kalau Neyna terus-terusan menangis. Apa Neyna juga masih menangis saat kau menemuinya?” Tanyanya menyelidik.

 

 

“Saat aku menemuinya, Neyna sudah tidak menangis Oppa. Tapi raut wajahnya terlihat murung. Dia juga terlihat sedikit lesu.”

 

 

“Apa kau sudah menyuruh Neyna makan hmm?” Tanya Chanyeol seraya menuntun Hyera duduk di sofa. Ia memang sempat menyuruh Hyera untuk membujuk Neyna makan karna dia tahu dari Sehun kalau Neyna belum sempat makan setibanya di Belanda.

 

 

Hyera mempoutkan bibirnya “Sudah Oppa. Aku menyuapinya tadi, tapi Neyna hanya mau makan tiga suap.” Balasnya lesu.

 

 

“Tidak apa-apa Hyera-ya…yang penting Neyna sudah mau makan.”

 

 

Hyera mengangguk “Oppa kau bilang tadi Appanya Sehun datang kesini kan? Tapi Bibi Song bilang Neyna akan berjalan ke altar sendiri tanpa pendamping. Saat aku tanya, Bibi Song hanya menjawab kalau itu permintaan Sehun.” Ujarnya sambil menatap Chanyeol sendu.

 

 

“Sehun sangat posesif pada Neyna. Dia pasti tidak mau pria manapun menyentuh Neyna, termasuk Appanya sendiri. Itulah kenapa Sehun membiarkan Neyna berjalan ke altar tanpa pendamping Hyera-ya…”

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

 

Ball room Grand Amrath Hotel terlihat sangat indah dengan dekorasi serba putih berhias mawar putih di seluruh penjuru ruangan. Langit-langit ball room dihias dengan susunan mawar putih yang digantung menjutai serta lantainya dibalut karpet putih bertabur kelopak mawar putih, membuat ball room hotel bintang lima tersebut makin cantik dan megah bak negri dongeng. Neyna memasuki ball room hotel sambil memegang sebuket mawar berwarna pink dengan tiga pelayan hotel yang mengenakan long dress kemben pink pastel polos yang tampak kerepotan mengurus ekor gaun pengantin sepanjang hampir tiga meter yang dikenakannya. Tubuhnya terasa agak lemas bukan hanya karna ia baru makan sedikit atau high heel putih setinggi dua belas senti serta ball gown wedding dress seberat 25 kg yang ia kenakan, ia merasa lemas karna kalut lebih tepatnya.

 

 

Taburan kelopak mawar putih berjatuhan bak salju yang sengaja ditebar dengan mesin khusus dari langit-langit ruangan saat Neyna berjalan memasuki altar, sontak mengundang decak kagum beberapa pengawal dan pegawai hotel yang ditugaskan di dalam ball room, serta tamu undangan yang merupakan kerabat dekat. Ayah dan paman Sehun serta keluarga kecilnya, Jongdae dan istrinya, Chanyeol dan Hyera, dokter pribadi Sehun dan suaminya, Bibi Song dan Lee Dami, Nara Ahjumma, dan dua puluh pegawai hotel serta tiga puluh pengawal sewaan Sehun serentak berdiri menyambut Neyna.

 

 

Sebagian besar dari mereka bahkan terus-terusan berdecak kagum melihat kecantikan Neyna. Mempelai wanita yang akan dipersunting Presdir Oh Corp itu layaknya boneka Barbie yang memerankan tokoh putri di cerita dongeng keluaran Mattel, tampak anggun dan malu-malu, yang sebenarnya gugup bukan main. Kalut dan takut. Neyna mengeratkan genggamannya pada sebuket mawar yang ia pegang, berusaha menyalurkan kekalutannya. Lagu instrumental ‘The Wedding’ sebagai lagu pengiring pernikahan dan riuh kagum beberapa tamu undangan yang sedari tadi bergema tidak sanggup memecah kekalutannya lantaran tatapan tajam dan senyum miring Sehun kini sudah ada di depan mata.

 

 

“You look so so beautiful sweetheart.” Puji Sehun sambil mengulurkan tangannya pada Neyna.

 

“Let I hold the rose bouquet Madam.” Tawar seorang pegawai hotel yang sempat membantu merapikan ekor gaun pengantin Neyna. Neyna mengangguk, mengiyakan. Ia menyerahkan buket mawar yang dipegangnya pada pegawai hotel berperawakan tinggi itu. Ia mengigit bibir bawahnya, lalu menyambut uluran tangan Sehun.

 

 

Lagu instrumental ‘The Wedding’ berhenti dilantunkan, kelopak mawar putih dari langit-langit ball room pun berhenti ditaburkan, suasana ball room, terlebih altar berubah serius. Pastor berkewarganegaraan Korea berusia lima puluh tahunan tersenyum, menyapa Sehun dan Neyna, tanda janji sacral pernikahan dimulai. “Saudara-saudari terkasih, kini tibalah saatnya kedua mempelai mengikrarkan janji perkawinan suci mereka.” Tutur pastor lantang, lalu menatap sebentar Jongdae dan Paman Sehun yang bertidak sebagai saksi.

 

 

“Atas nama Tuhan dan di hadapan para saksi serta hadirin sekalian, Oh Sehun maukah kau mengambil Im Neyna sebagai istri yang sah, dan kau sebagai suami yang setia yang akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, dan akan memelihara dia dengan setia sampai maut memisahkan kalian?” Tanya pastor bernama Lee Jung Hoo itu pada Sehun.

 

 

Sehun menyeringai lalu mengeratkan genggamannya di tangan Neyna “Saya bersedia.” Jawabnya mantap.

 

 

“Dan kau Im Neyna atas nama Tuhan dan di hadapan para saksi serta hadirin sekalian, maukah kau mengambil Oh Sehun sebagai suami yang sah, dan kau sebagai istri yang setia yang akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, dan akan memelihara dia dengan setia sampai maut memisahkan kalian?” Tanya pastor berbadan gempal itu pada Neyna. Susah payah Neyna menahan air mata yang sudah mendesak di pelupuk mata saat kini gilirannya menjawab pertanyaan pastor. Ia kembali mengigit bibir bawahnya dan melirik Sehun takut-takut.

 

 

Sehun mencondongkan tubuhnya sedikit kearah Neyna “Cepat katakan kau bersedia sayang… Kau akan tahu akibatnya kalau kau sampai menolakku. Mengerti?” Bisik Sehun sepelan mungkin.

 

 

Ancaman Sehun kali ini lebih mengintimidasi dari ancaman yang diucapkan pria dingin itu di kamar hotel sebelumnya. Embel-embel ‘akibat’ kalau sampai ia menolak pernikahan ini membuatnya bergidik ngeri. Membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali. Neyna memejamkan matanya sebentar, lalu akhirnya mengangguk lesu “A-aku berse-sedia.” Ucapnya terbata. Air mata yang sejak tadi ia tahan-tahan kini mengalir deras. Neyna menangis seiring dengan pernyataan pastor yang tengah meresmikan statusnya dan Sehun sebagai suami istri.

 

 

Sehun tersenyum bangga, gelar kekasih yang ia sandang beberapa hari ini kini berubah menjadi gelar suami seorang Im Neyna, gadis cantik yang sangat dicintainya. Ia menatap Neyna yang saat ini menangis tersedu-sedu. “Don’t cry anymore. Smile now!” Titah Sehun otoriter dengan suara beratnya yang lagi-lagi dibuat begitu pelan.

 

 

Titah otoriter Sehun yang sepelan cicitan terdengar begitu jelas olehnya. Neyna meneguk salivanya susah payah, mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu tersenyum sebisanya. “Good girl.” Puji Sehun seduktif. “Aku suka senyumanmu walaupun dipaksakan sayang…” Gerutunya sembari mengelus-elus punggung tangan Neyna. Sehun sebenarnya begitu ingin menoel pipi Neyna dan megecup lesung pipi istrinya itu. Tapi harus urung lantaran diberondong prosesi selanjutnya.

 

 

Lagu instrumental ‘A Thousand Years’ oleh Christina Perri dilantunkan bersamaan dengan penaburan kembali kelopak mawar putih dengan mesin khusus dari langit-langit ball room, penanda bahwa waktunya pemasangan cincin tiba. Pegawai hotel berperawakan agak pendek dengan long dress pink pastel yang juga sempat merapikan gaun Neyna kini membawakan baki berisi sekotak cincin ke samping samping altar.

 

 

Kedua cincin yang telah diperciki air suci oleh pastor itu kini diserahkan oleh pegawai wanita tersebut pada Sehun. Sehun memutar tubuhnya menghadap Neyna, mengangkat tangan Neyna yang sedari tadi ia genggam, dan langsung memakaikan cincin mas putih bertahtakan berlian kecil di bagian pinggir dengan warna merah pekat di bagian tengah di sekeliling lingkaran ke jari manis Neyna. Selanjutnya, pegawai wanita itu menyerahkan cincin berukuran lebih besar dengan design senada minus berlian pada Neyna.

 

 

Neyna menerima cincin dengan model simple itu dengan tangan yang gemetar. Ia mengigit bibir bawahnya sebelum akhirnya memakaikan cincin nikah itu ke jari manis Sehun. Tepat setelah Neyna memakaikan cincin nikah pada Sehun, pastor pun mempersilahkan Sehun membuka wedding veil Neyna untuk mencium gadis yang telah sah menjadi istrinya itu. Sehun melepaskan gengamannya di tangan Neyna, mengarahkan tangan mungil istrinya itu ke pinggangnya. Ia membuka wedding veil transparan yang menutupi wajah Neyna tak sabaran, kemudian menyampirkannya kebelakang dibalik wedding crown.

 

 

Sehun menyeringai, lalu mengarahkan tangan Neyna yang satunya untuk bersandar di dada bidangnya. Ia menatap Neyna lamat-lamat, merengkuh pinggang Neyna, dan langsung mencium bibir ranum istrinya itu, melumatnya rakus tanpa peduli suara decakan persatuan bibirnya dan Neyna didengar oleh pastor. Neyna mendesah tertahan lantaran kepayahan dengan serangan Sehun dibibirnya. Ciuman paksa sudah biasa ia terima dari Sehun, tapi yang ini lain. Sehun menciumnya berkali-kali lipat lebih nafsu.

 

 

Sehun bahkan tidak kenal malu saat kini ia melancarkan French kiss sampai membuat tubuh Neyna sedikit membungkuk ke belakang. Satu tangannya mengusap-usap punggung Neyna, terus naik sampai membuka setengah resleting gaun pengantin istrinya itu. Sehun mengerang samar saat menyadari ia hampir saja menelenjangi istrinya di depan umum. Ia lantas menaikan resleting gaun pengantin Neyna, kembali menegakkan tubuh mungil istrinya itu, kemudian menyudahi ciuman panasnya.

 

 

Sehun menghapus air mata Neyna yang kembali mengalir dengan ibu jarinya “Kita lanjutkan nanti sayang.” Bisiknya seduktif lalu mengedipkan sebelah matanya, berniat menggoda Neyna. Neyna buru-buru melepaskan tangannya di pinggang dan dada Sehun. Ia susah payah mengatur nafasnya yang tersengal, tapi harus kembali terkejut saat Sehun menarik tangannya kearah wedding cake sepuluh tingkat berdisgn kastil berlapis cream vanilla.

 

 

 

 

————000————

 

 

 

Neyna terduduk lesu di kursi rias, menatap nanar wajahnya yang sudah bersih tanpa polesan make up. Usai resepsi pernikahannya setengah jam lalu, ia seperti orang linglung. Menangis terus-terusan, merasa kecewa tanpa bisa protes, dan menyesal sampai rasanya mau mati. Janji suci yang ia setujui membuat ulu hatinya sakit bukan main, merasa sangat bersalah pada Tuhan tanpa tau caranya menebus dosanya itu. Karna nasi sudah menjadi bubur. Ia toh sudah terlanjur menjadi istri Sehun. Sah dan tak terbantahkan. Dan ia tidak bisa mengubah itu semua.

 

 

“Nona Im.” Nara Ahjuma menelengkan kepalanya “Maksud saya Nyonya Oh.” Ralatnya cepat “Saya lepas wedding veilnya ya.” Lanjut Nara Ahjumma yang langsung ditanggapi dengan anggukan lemah oleh Neyna.

 

 

Di kamar berlabel president ini kini hanya ada dirinya, Nara Ahjumma, dan lima pengawal wanita yang masih setia mengawasi gerak-geriknya. Wedding veil sudah berhasil ditanggalkan, Neyna kembali mengangguk lesu saat Nara Ahjumma meminta izin untuk melepaskan mahkota yang ia kenakan. Belum sempat mahkota bertahtakan berlian itu dilepas, suara debuman pintu kini terdengar nyaring. Sosok tinggi Sehun masuk tergesa, mengusir lima pengawal wanita dan Nara Ahjumma, lalu menghampiri Neyna sambil menyeringai.

 

 

Neyna sontak berdiri, berjalan mundur, menghindari Sehun yang perlahan mulai membuka jas tuxedonya. Tatapan lapar Sehun begitu memabukkan, mampu menggoda wanita manapun yang saat ini melihatnya, minus Neyna. Ia malah sibuk memundurkan langkahnya, susah payah agar tidak terjatuh karna gaun pengantin mewah miliknya. “Mau kabur kemana sayang?” Tanya Sehun sembari melepas tiga kancing kemejanya. Bolero dan dasi kupu-kupu yang ia kenakan bahkan sudah tergeletak pasrah di lantai, kini Sehun mulai menggulung lengan kemejanya, dan menghampiri Neyna perlahan. “Susah ya jalannya hmm? Sini sayang…Aku bantu lepaskan gaunmu.” Tawar Sehun dengan suara beratnya yang dibuat semenggoda mungkin.

 

 

Neyna menggeleng cepat, menolak tawaran Sehun. Ia menangis makin kejer saat Sehun sudah menangkap tubuhnya. “Terlalu banyak menolakku tidak baik sayang.” Sehun mengecup singkat bibir Neyna “Kau bisa membuatku marah Oh Neyna!” Bentaknya mengingatkan.

 

 

“Aku sengaja hanya meninggalkan kiss markku di dadamu saja sayang—” Sehun mengecup, menghisap, dan melumat tengkuk dan bahu Neyna bergantian, membuat Neyna mendesah tak karuan. “—karna aku tahu kau akan mengenakan gaun kemben seperti ini. Tapi malam ini, aku akan membuat tubuhmu penuh dengan kiss markku…” Lanjutnya sembari mengelus sebentar dada berisi Neyna.

 

 

“10 April, ingat tanggal pernikahan kita sayang karna mulai hari ini dan seterusnya kita tidak akan pernah terpisahkan. Itu artinya kau tidak akan pernah kuceriakan dan begitu juga sebaliknya—” Sehun menoel dagu Neyna “—Kau. Tidak. Akan. Pernah. Bisa. Bercerai. Dariku. Ecamkan itu!” Lanjutnya tajam penuh penekanan. “Dua permintaan saat kau menjadi kekasihku sudah hangus, karna kau sekarang istriku, bukan kekasihku lagi Oh Neyna.” Sehun merengkuh tubuh Neyna makin erat “First, you can’t teach anymore. Second, you must give your virginity to me tonight sweatheart.” Bisiknya dingin.

 

 

Neyna merasa tubuhnya tambah lemas, pandangannya mulai kabur karna air mata, dan kepalanya mulai pusing mendengar serentetan kalimat mengerikan yang diucapkan Sehun. Kedua tangannya memegang pinggang Sehun, berusaha menumpu tubuhnya yang hampir limbung. “Oh ya…sebelum kita bercinta. Aku akan jelaskan dulu luka apa yang kau miliki di lenganmu itu hmm.”

 

 

Sehun tertawa geli, tidak sadar bahwa Neyna sudah begitu terpukul mendengar celotehannya. “Lihat cincin kita sayang.” Sehun mengangkat tangan Neyna, menjejerkan jemarinya dan jemari istrinya itu “Warna merah pekat di sekelililing lingkaran cincin kita ini terbuat dari gabungan darahku dan darahmu sayang. Aku sengaja menyuruh dokter Minri, dokter pribadiku untuk menyuntikmu, mengambil darahmu untuk cincin kita ini dan untuk cap perjanjian nikah kita. Itulah kenapa luka di lenganmu hanya berbentuk titik seperti katamu.” Jelas Sehun antusias yang langsung membuat Neyna tambah syok. Sehun tidak mempedulikan ekspresi terkejut dan wajah Neyna yang semakin pucat, ia kembali mencium bibir ranum Neyna sambil memejamkan matanya. Menghisap dan melumat bibir Neyna, menikmati bibir sepekat cherry yang menjadi candu baginya itu sampai akhirnya tubuh mungil Neyna limbung dan tak sadarkan diri.

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

“Sehun-ah kenapa kau ada disini eoh?” Chanyeol menepuk pundak Sehun, lalu ikut duduk di kursi konter bar di samping bossnya itu.

 

 

Sehun menghisap sebatang rokok yang diapit diantara jari telunjuk dan tengahnya, mengepulkan asap rokok itu setelahnya. “Istriku pingsan.” Ucapnya lesu sambil menggoyangkan gelas vodka di tangan satunya.

 

 

Chanyeol terkekeh “Cepat sekali. Kau melakukannya berapa ronde Sehun-ah?” Tanyanya meledek.

 

 

“Belum sama sekali.” Sehun meletakkan gelas berisi vodka di meja “Dokter Minri bilang, istriku pingsan karna syok dan kelelahan.” Jelasnya sambil kembali menghisap rokok di tangan kanannya.

 

 

“Kau kan tidak suka merokok.” Chanyeol mengambil bungkus rokok Sehun yang ada di meja. “Merokok tidak akan mengobati kekhawatiranmu Sehun-ah… Neyna pasti akan baik-baik saja. Tenanglah eoh.” Katanya sambil mengusap-usap bahu Sehun, berusaha menenangkan boss sekaligus sahabatnya itu.

 

 

Sehun tersenyum masam “Mungkin kau benar.” Ujarnya seraya menggesekkan puntung rokok miliknya di asbak. “Aku akan ikut kembali ke Korea malam ini bersama kalian.”

 

 

Chanyeol mengernyit “Bagaimana dengan Neyna? Kau tidak tinggal dengannya dulu di sini? Bulan madu mungkin?” Tanyanya penasaran.

 

 

“Istriku akan ke Jepang dan aku ada meeting penting besok.” Sehun menyeringai “Lagipula aku tidak akan bulan madu di sini. Aku sudah menyiapkan tempat special yang pastinya lebih menarik.”

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

Pijatan di pelipis dan bau balsam menyengat perlahan mulai memulihkan kesadarannya. Neyna mengerjap berkali-kali, berusaha duduk tapi langsung ditahan oleh Nara Ahjumma yang sedari tadi memijat dan mengoleskan balsam di pelipisnya. “Anda baru siuman, sebaiknya Anda tiduran saja dulu Nyonya…” Kata Nara Ahjumma menasihati.

 

 

Neyna menggeleng “Aku sudah baikan Ahjumma.” Ucapnya sambil tersenyum tipis. Neyna menyenderkan tubuhnya di dashboard ranjang dan sontak memekik saat menyadari tubuhnya sudah terbalut dress berwarna baby blue selutut. Paham dengan keterkejutan Neyna, Nara Ahjumma langsung buka suara “Saya yang menggantikan pakaian Anda Nyonya.”

 

 

Neyna menghela nafas pelan, lega karna bukan Sehun yang menggantikan pakaiannya. “Eumm…Ahjumma bisa tolong panggilkan Auntieku. Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memeluknya sebentar.” Mohon Neyna sembari menggenggam tangan Nara Ahjumma.

 

 

“Bibi Anda sudah kembali ke Korea bersama Tuan Sehun dan yang lainnya satu jam yang lalu Nyonya.”

 

 

“A-apa?”

 

 

“Tuan Sehun menyuruh saya untuk segera mengajak Anda ke bandara lima belas menit setelah Anda siuman.” Nara Ahjumma tersenyum lembut “Beliau juga menyuruh saya untuk menemani Anda ke Jepang Nyonya.” Lanjutnya masih dengan senyum lembut keibuannya.

 

 

Neyna mengernyit “Jepang? Aku masih boleh ikut festival musim semi Woo Sam SHS Ahjumma?” Tanyanya pelan.

 

 

“Iya, Tuan Sehun masih mengizinkan Anda untuk ikut festival musim semi Woo Sam SHS di Jepang.” Nara Ahjumma mengambil segelas air putih di nakas di samping ranjang dan menyodorkannya pada Neyna “Saya sudah menyiapkan *yukata dan perlengkapan Nyonya yang lainnya di dalam koper milik Anda. Sebentar lagi kita ke bandara karna pilot Jung sudah menunggu dari tadi Nyonya.” *(jenis baju tradisional jepang/ kimono non formal yang dipakai selain musim dingin dibuat dari bahan katun tipis tanpa pelapis).

 

 

 

 

————000————

 

 

 

 

Tali pelana kuda yang ditungganginya kembali ia tarik, membuat kuda berwarna hitam berbobot satu ton miliknya itu semakin kencang membawanya berlari menjelajahi arena outdoor Sono Felice Equestrian Club. Sehun terseyum angkuh saat ia lagi-lagi berhasil melewati kuda instruktur Kim, mengalahkan secara telak instruktur yang selama tiga belas tahun ini melatihnya menunggang kuda.

 

 

“Selamat! Kau menang lagi Sehun-ah.” Teriak instruktur Kim, memuji Sehun.

 

 

Sehun hanya mencebikkan bibirnya acuh menanggapi pujian instruktur Kim. Melihat Jongin yang sudah menunggu di luar arena berkuda, Sehun pun menyeringai. Ia turun dari kuda, melepas helm dan sarung tangan khusus berkuda miliknya, lalu menyerahkannya pada Jongdae yang sedari tadi berdiri di sekitar lintasan pacu.

 

 

 

“Selamat datang Kim Jongin-sshi.” Sehun menodongkan revolver FN 57 miliknya di kepala Jongin dan menatap pria berkulit tan itu bengis. Ia begitu ingin menekan pelatuk pistolnya dalam-dalam, menembakkan peluru revolver berkaliber 5,7 mm itu ditempurung kepala Jongin, membunuh pria yang dibencinya itu sekarang juga. Tapi tentu itu hanya angan-angan. Ia tidak akan bertindak gegabah. Ia pastinya tidak akan membunuh Jongin sebelum rencananya rampung.

 

 

Sehun terkekeh “Aku hanya bercanda Jongin-sshi.” Ucapnya seraya menurunkan pistol miliknya “Silahkan duduk.” Sehun kemudian memasukkan kembali revolver paling mematikan itu ke dalam jasnya.

 

 

Jongin tersenyum kikuk “Ah ya terimakasih Presdir Oh.” Ujarnya lalu duduk di hadapan Sehun. Jujur ia terkejut dengan sambutan Sehun. Sehun menatapnya bengis dengan nada kebencian yang tersirat jelas. Tapi ia akhirnya bisa bernafas lega lantaran Sehun hanya bercanda padanya.

 

 

“Terimakasih kau masih mau datang walaupun—” Sehun menjilat bibir bawahnya “—dalam keadaan terluka seperti itu.” Lanjutnya sembari menunjuk tangan Jongin yang dibalut perban.

 

 

“Ini hanya luka kecil. Ada orang yang tiba-tiba menyerangku kemarin.” Jelas Jongin kalem.

 

 

Sehun tersenyum tipis dan mengangguk paham “Pembangunan resort di Osaka belum selesai Jongin-sshi. Tapi kenapa kau pulang ke Korea. Apa ada masalah disana?” Tanyanya serius.

 

 

 

“Pembangunan resort di Osaka tinggal 20 persen lagi rampung dan tidak ada masalah sama sekali Presdir. Eum…Saya kembali ke Korea karna ada urusan pribadi. Setelah urusan saya selesai, saya pasti langsung kembali ke Osaka menyelesaikan semuanya.”

 

 

“Begini Jongin-sshi.” Sehun menyilangkan kakinya “Aku ingin kau mengubah design resort di Osaka ke arah classic.” Titahnya otoriter “Kau tidak perlu mengubah keseluruhan design resort, kau hanya perlu mengubah 30 persen dari design minimalis yang sudah jadi lalu merampungkan sisanya ke arah classic.”

 

 

Jongin memicingkan matanya “Kenapa tiba-tiba diubah Presdir?” Tanyanya penasaran.

 

 

“Istriku suka hal yang berbau classic. Aku ingin memberikan resort itu sebagai hadiah ulang tahunnya tiga bulan lagi.” Sehun mengangkat satu alisnya “Akan butuh waktu lama kalau harus membangun resort baru. Jadi menggabungkan seleraku dengan selera istriku aku rasa tidak buruk. Bukan begitu Jongin-sshi?”

 

 

“Ya, benar.” Jawab Jongin setuju “Saya baru pertama kali bertemu dengan Anda Presdir, karna sebelumnya direktur Lee yang saya temui. Ternyata Anda orang yang sangat romantis.”

 

 

“Terimakasih”

 

 

Jongin tersenyum manis “Selamat atas pernikahan Anda, saya membaca artikel tentang pernikahan Anda kemarin. Usia, marga, selera, dan bulan kelahiran istri Anda persis sekali dengan gadis yang saya cintai. Kebetulan sekali ya?” Ujarnya senang.

 

 

Rahangnya mengeras, wajahnya mulai memerah menahan amarah. Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyalurkan emosinya setelah mendengar kalimat ‘gadis yang saya cintai’ dari mulut Jongin. Sehun akhirnya menggeram samar “Iya” Jawabnya singkat “Aku ingin kau membuat design resort terbaru secepatnya. Sekertarisku akan mengabarkan padamu kapan kita akan bertemu lagi.” Sehun berdiri diikuti Jongin, lalu menjabat tangan arsitek sekaligus kontraktor berkulit tan itu setelahnya.

 

 

 

————000————

 

 

 

Neyna merapikan tatanan yukata yang dikenakannya. Ia menyenderkan tubuhnya di dinding dapur, melepas cincin nikah miliknya, lalu memperhatikan cincin berdisgn simple itu. Tulisan nama Sehun di balik cincin miliknya baru kali ini ia lihat sejak terakhir kali Sehun menyematkan cincin itu di jari manisnya. Kesibukannya mengurus acara festival dan pengawasan Nara Ahjumma yang sedari tadi menemaninyalah yang tidak memungkinkannya melepas cincin itu. Nara Ahjumma memang bukan pelayan yang galak yang akan memarahinya kalau ia melepas cincin nikahnya. Ia hanya takut, Nara Ahjumma melapor ke Sehun. Hanya itu.

 

Neyna menghela nafas berat “Sehun-sshi…Oh Sehun…Suamiku.” Gumamnya sambil memandangi cincin nikah miliknya. Ia kembali membayangkan pertama kali pertemuannya dengan Sehun sampai pernikahannya kemarin. Waktu bergulir begitu cepat. Ia tidak pernah menyangka ia akan menjadi seorang istri pria yang paling ditakutinya. Entah apa yang akan terjadi setelah acara festival berakhir, kehidupan apa yang akan ia jalani kedepannya bersama Sehun, bagaimana ia melalui pernikahan paksanya nanti. Ia bingung. Matanya mulai berair memikirkan semua itu. Ia buru-buru mengucek matanya dan memakai cincin nikahnya kembali saat Kim Ara memasuki dapur.

 

“Ah benar, Saem ternyata disini.” Ara tersenyum lega “Saem diminta Gong Gyojangnim (Kepala Sekolah) membuatkan dua cangkir kopi dan mengantarkannya ke kamar nomor 29.” Ujarnya cepat dalam satu tarikan nafas.

 

“Memangnya untuk siapa Ara-ya?” Tanya Neyna penasaran pada siswi kelas XII itu.

 

 

“Untuk Gong Gyojangnim dan tamunya.”

 

Neyna tersenyum lembut “Baiklah. Terimakasih sudah memberitahuku hmm. Tidurlah Ara-ya ini sudah larut malam sayang.” Ucapnya sambil mengelus puncak kepala Ara.

 

 

 

————000————

 

 

 

Neyna masuk ke kamar nomor 29 dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi setelah sebelumnya dua orang bodyguard yang berjaga di luar kamar membukakan pintu untuknya, memperisalahkannya masuk. Kamar ryokan (penginapan) bergaya tradisional Jepang dengan dominasi coklat yang lebih luas dan megah dari kamar yang di tempatinya itu nampak begitu nyaman. Taman kecil dengan beberapa pohon sakura dan onsen (pemandian air hangat) pribadi yang langsung terintegrasi dari beranda kamar membuat Neyna berbinar. Ia tersenyum sumringah, membayangkan betapa nyamannya kalau ia yang menempati kamar ini. Tapi khayalannya usai dalam sekejap saat suara kepala sekolah memanggilnya.

 

“Im Saem saya disini.” Teriak Kepala Sekolah Gong dari balik *shoji dekat beranda sambil melambaikan tangannya pada Neyna. *(dinding kayu berlapis kertas khusus)

 

 

Neyna berjalan tergesa menghampiri Kepala Sekolah Gong. Ia refleks memekik saat melihat Sehun duduk bersebelahan dengan Kepala Sekolah Gong “Se-sehun-sshi a-apa yang lakukan di-disini?” Tanyanya terbata.

 

Sehun menyeringai “Menyusulmu.” Jawabnya kalem. Sehun berdiri, mengambil secangkir kopi di nampan yang masih di pegang Neyna, dan meminumnya setelahnya. “Kopi buatanmu enak sayang.” Sehun meletakkan cangkir kopi miliknya di meja setelah menenggak habis kopi buatan Neyna. “Sesuai seleraku.” Ujarnya sambil mencubit singkat pipi Neyna.

 

 

“Im Saem terima kasih kopinya.” Kepala Sekolah Gong juga berdiri dan meneguk kopi buatan Neyna “Aku terima surat pengunduran dirimu Im Saem.” Katanya seraya mengacungkan amplop putih bertuliskan ‘surat pengunduran diri’. “Tenang saja Im Saem, untuk saat ini aku akan merahasiakan dulu statusmu dari guru-guru dan yang lainnya.” Wanita paruh baya bernama Gong In Ra itu meletakan cangkir kopinya di meja “Jadilah istri yang baik hmm. Aku pergi dulu.” Lanjutnya sembari menepuk halus pundak Neyna, lalu berjalan keluar kamar.

 

Sehun mengambil dan meletakkan nampan yang masih di pegang Neyna di meja tepat setelah Kepala Sekolah Gong keluar kamar. “I wrote that resignation letter for you sweetheart, so you don’t need to write it anymore.”

 

 

“Sehun-sshi terimakasih, tapi seharusnya aku saja yang menulis surat pengunduran diriku. Kau tidak perlu melakukannya untukku.” Protes Neyna pelan.

 

 

“It’s ok. Don’t bring that up again.” Sehun mengendikkan bahunya acuh lalu merengkuh tubuh Neyna “I miss you sweetheart.” Bisiknya manja seraya menggerakan tangannya di pinggang Neyna, berusaha melepaskan *obi berwarna putih yang dikenakan istrinya itu.*(ikat pingang dari kain berukuran agak besar yang dikenakan di luar yukata).

 

 

Neyna menggeliat, menolak aksi nakal Sehun yang masih saja berusaha melepaskan obi yang dikenakannya. “Sehun-sshi please stop.” Mohon Neyna lirih.

 

“Malam pertama kita gagal sayang.” Sehun mengecup pipi Neyna “Tapi malam ini aku tidak akan biarkan gagal lagi! Kau akan jadi milikku seutuhnya Oh Neyna!” Desisnya tajam lalu membuang asal obi Neyna.

 

Neyna menggeleng dan menjauhkan tangan kekar Sehun yang melingkari pinggangnya. Susah payah ia melepaskan tautan Sehun di pinggangnya, tapi usahanya nihil. Tenaganya kalah telak oleh Sehun. Tangan kekar Sehun bahkan merengkuh pinggangnya semakin erat dan kini tangan lainnya berusaha melepas *koshihimo miliknya. *(tali dengan simpul agak rumit untuk mengencangkan kain berlebih yang diikat di bawah payudara).

 

 

Sehun melepas rengkuhannya dan beralih mengutak-atik koshihimo Neyna “Haish! Kenapa tali ini sulit sekali dilepas huh.” Gerutunya kesal.

 

‘Aku harus lari’‘Aku harus keluar dari sini’ Ucap Neyna membatin. Mumpung Sehun lengah, ia harus memanfaatkannya. Ia harus keluar dari kamar ini. Harus! Neyna mendorong dada bidang Sehun, membuat Sehun agak terdorong kebelakang. Sebisa mungkin ia berlari walaupun kakinya terasa lemas. Tidak peduli air mata yang kini membanjiri pipinya, ia harus tetap berlari menghindari Sehun.

 

“Oh Neyna!” Teriak Sehun murka. Ia mengejar Neyna dan berhasil menarik salah satu lengan yukata istrinya itu sampai robek.

 

Sehun tertawa sumbang saat Neyna hanya menoleh panik dan lanjut berlari “Gadis nakal!” Geramnya kesal. Sehun menyeringai kemudian membuang kain bekas sobekan lengan yukata Neyna “Istriku sangat nakal!” Ucapnya tajam sembari berjalan santai menghampiri Neyna.

Neyna meraih kenop pintu, menggerak-gerakannya berkali-kali, tapi tidak mau terbuka juga. “Ahjussi. Ahjussi tolong buka pintunya.” Mohonnya histeris pada dua bodyguard yang berjaga di luar kamar sambil menggedor-gedor pintu. Neyna menoleh kebelakang, melihat Sehun yang sudah berdiri angkuh tepat dibelakangnya “Ahjussi tolong aku, tolong buka pintunya.”

 

 

TBC

 

  • Revolver FN 57 pistol itu pistol paling mematikan diproduksi oleh perusahaan Belgia, FN Five-seven. Pistol ini biasanya dipakai sama pasukan militer elit/khusus di seluruh dunia.
  • Sono Felice Equastrian Club itu tempat berkuda paling bagus di Korea dalam hal fasilitas perlengkapan, dan kualitas instrukturnya. Lokasinya di Hongcheon, Provinsi Gangwon. Oh ya, berkuda kalo di Korea itu hobi orang-orang borjuis.

 

 

Regards

 

Angeldevilovely95

222 thoughts on “Closer (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s