LOVE KILLER Part 5

img_2233

Title                     : LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Do Kyungsoo ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 : Chapter

Rating                  : T

Genre                   : School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts   )

***

 

Sudah semingu keduanya tidak bicara satu sama lain. Biasanya Sooyong tidak peduli dengan apa yang Jisoo lakukan. Tapi kali ini dia merasa berbeda. Seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Belum lagi momen-momen kecil yang terjalin diantara Jisoo dan HyeRa membuat hatinya gusar. Dia sendiri tidak mengerti, kenapa dia jadi seperti ini?

 

Saat istirahat Sooyong tak sengaja melihat HyeRa dan Jisoo. Sooyong tidak tahu apa yang mereka bicarakan. HyeRa menyuruh Jisoo sedikit menurunkan badannya, lalu dia tersenyum jahil langsung saja dia mencubit pipi tirus Jisoo. Dia tertawa. Jisoo menatapnya datar. Tangannya meraih kepala HyeRa siap untuk membalas namun HyeRa cepat menghindar. Mereka bercanda dan nampak bahagia.

 

Jisoo juga tidak lagi menunggunya di gerbang sekolah. Dia pikir mungkin Jisoo tidak mau berurusan lagi dengannya dan kata-katanya di taman hanyalah omong kosong. Selama ini Jisoo perhatian karena Kyungsoo yang menyuruhnya.

 

Tapi sebenarnya Jisoo tidaklah seburuk yang dia pikirkan. Tanpa Sooyong sadari, pemuda itu tidak pernah mengabaikannya. Selama di kelas Jisoo akan menyempatkan diri memandang wajah cantik Sooyong dari tempat duduknya. Dia pastikan gadis itu baik-baik saja.

 

Selama ini juga Jisoo selalu mengikuti gadis itu pergi dan memastikannya sampai di rumah dengan selamat. Jauh dalam lubuk hatinya, Jisoo ingin selalu berada dekat Sooyong. Bicara dengannya meski dia harus sabar setiap kali Sooyong memarahi atau menghinanya dengan kata-kata kasar. Tapi Jisoo sama sekali tidak keberatan. Itu adalah keinginannya.

 

Seandainya Jisoo bisa tumbuh dalam keluarga yang berkuasa seperti Suho atau Kyungsoo, dia pasti bisa meraih gadis itu. Oleh karenanya sebelum perasaannya semakin dalam, Jisoo memutuskan untuk berhenti. Dia juga ikut berusaha menemukan keberadaan Ayah Sooyong agar gadis itu hidup lebih bahagia bersama Ayahnya.

 

Jam 8 malam, Sooyong keluar dari tempat les. Dia berniat untuk pergi ke cafe yang jaraknya hanya beberapa blok. Jalanan saat itu lumayan sepi dan sedikit gelap.

 

DEG!

 

Dia berhenti sejenak. Dia merasakan seseorang mengikutinya. Sebenarnya ini bukanlah yang pertama kali, Sooyong merasa dirinya sedang diikuti. Tapi dia mengabaikannya karena sampai saat ini dia baik-baik saja. Tidak ada kejadian buruk yang menimpanya. Terbesit satu nama dalam pikirannya. Dia menengok kebelakang namun tak ada seorangpun selain dirinya. Dia menghela nafas lalu kembali berjalan, kali ini dengan sedikit berlari hingga dia sampai di cafe dengan selamat.

 

Sooyong duduk disamping jendela. Tak lama seorang laki-laki dengan masker hitam diwajahnya juga masuk kedalam cafe. Dia duduk tak jauh dari tempat Sooyong. Dia mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu.

 

“Tuan, ini minumanmu” pelayan cafe menyuguhkan secangkir cappucino panas membuat pemuda itu heran.

 

“Aku belum memesan apapun” elaknya.

 

Pelayan itu tersenyum, “Nona yang disebelah sana menyuruhku untuk memberikannya pada Anda” kemudian pelayan itu pergi. Dia mengambil note kecil yang tersimpan didekat alas cangkir lalu membacanya.

 

“Sampai kapan kau akan mengikutiku, Kim Jisoo” mata pemuda itu terbelalak. Dia melihat Sooyong yang kini tengah menatapnya dengan tatapan aneh. “Bodoh! Aku ketahuan”

 

 

 

***

 

 

 

HyeRa melepaskan headset ketika melihat Bokdong berjalan didepannya, “Bokdong!” panggilnya seraya berlari menuju laki-laki yang menoleh itu.

 

“Kau ada waktu istirahat nanti?” mereka jalan bersama menuju kelas.

 

“Ada apa?”

 

“Aku mau merepotkanmu” dia terkekeh pelan lalu memukul lengan Bokdong.

 

Bokdong hanya menatap datar dan kembali menatap kedepan. Sejak mereka akrab, HyeRa sering memukulnya, Tapi dengan berjalannya waktu dia tahu, itu adalah kebiasaan HyeRa. Dimana dia suka memukul orang disebelahnya. Mereka terlibat obrolan ringan hingga sampai ke kelas.

 

Kedatangan HyeRa dan Bokdong disambut dingin oleh Suho. Dia melihat keduanya tidak percaya. Kenapa mereka datang bersama!

 

Meski tidak ada interaksi apapun tapi dia merasakan keakraban yang terjalin diantara mereka. Apa ini! Mereka menjadi teman sekarang? Suho menatap Bokdong tidak suka.

 

Saat itu HyeRa mendekatinya. Jantung Suho seakan berhenti berdetak. Setelah adu mulut yang terjadi setelah perbudakan HyeRa, mereka tidak saling bicara. HyeRa dengan jelas menghindarinya. HyeRa semakin mengacuhkannya. HyeRa menganggap Suho tidak ada.

 

Masih tergambar dengan jelas kemarahan HyeRa saat itu, “Kau itu pengecut! Menggunakan orang lain untuk mengancamku. Kau sadar kalau sebenarnya kau tidak punya kemampuan apapun. Hh, kau tidak malu? Aku sudah memberimu kesenangan kemarin, kau puas mengaturku? Kau bangga aku menjadi budakmu? Aku ucapkan selamat! Setidaknya aku bangga karena dalam hidupku aku pernah berbuat baik kepada seorang yang sangat menyedihkan sepertimu”

 

Ucapan HyeRa mengaduk seluruh emosi Suho. Dia marah dan sakit hati, tapi dia tidak bisa membalasnya.

 

Beberapa langkah lagi HyeRa berada dihadapannya. Ekspresi apa yang harus dia buat sekarang, matanya menatap tajam ah jangan nanti HyeRa semakin tidak mau bertemu dengannya. Dia melembutkan matanya, tunggu dulu, dia tidak selemah itu. Ah, kenapa aku harus repot-repot seperti ini!

 

Baru saja Suho akan menyambut HyeRa dengan senyum jika saja gadis itu tidak beralih pada laki-laki yang duduk dibelakangnya. “Xiumin, temani aku beli sepatu olahraga untuk HyeJin. Dia bilang kau sangat tahu apa yang dia mau”

 

Suho ternganga ditempat. Ternyata yang HyeRa tuju bukan dia, tapi Xiumin!

 

“Kau mengajakku berkencan, murid baru”

 

“Ya~ ya~ ya~ Kita berkencan dengan Chen dan Hongbin-oppa. Aku yang akan mengemudi” dia tersenyum jahil.

 

“Yak! Aku belum mau mati” raut wajah Xiumin berubah panik. HyeRa tertawa jahat melihat tampang Xiumin yang pucat pasi. Dia berbalik dengan penuh gaya.

 

Suho geram melihat HyeRa yang dengan mudah mengumbar tawanya kepada Xiumin. Dan lagi, mereka akan berkencan sepulang sekolah. Dia bangkit dengan menggeser kursinya kasar hingga mengenai meja Xiumin. Dia sangat kesal!

 

Xiumin dan Baekhyun yang duduk disebelah Suho melihat kepergiannya bingung.

 

Suho terlihat lebih sering uring-uringan. Mereka tahu penyebab utama dari semua ini adalah HyeRa. Keegoisan Suho belum bisa meruntuhkan harga dirinya untuk tidak bersikap sombong didepan HyeRa. Tentu saja itu membuat hubungan mereka semakin menjauh. Suho harus sadar, jika ingin mengambil hati HyeRa, dia perlu mengubah sikapnya.

 

 

 

……………………………………………………..

 

 

 

Jisoo telah sampai didepan rumah Sooyong. Paman Do menyuruhnya memberikan dokumen persetujuan kerja sama antar dua perusahaan yang harus ditanda tangani oleh Nyonya Choi.

 

Pikirannya berkecamuk begitu dia menerima berkas tersebut. Bukankah itu artinya pertunangan Kyungsoo dan Sooyong akan dilaksanakan. Jisoo tahu Sooyong tidak menginginkannya, tapi pertunangan itu akan tetap terjadi. Dia merasa bodoh karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan semuanya.

 

Belum juga dia masuk kedalam rumah, dia berpapasan dengan Sooyong yang akan pergi. “Jisoo” panggilnya pelan.

 

Jisoo tidak menjawab begitu dia melihat kilatan air yang masih menggenang dipelupuk mata Sooyong. Apa gadis ini tengah menangis? Apa Ibu memarahinya lagi? Semua pikiran itu membebaninya. Bagaimana caranya agar Sooyong tidak merasa sedih lagi.

 

“Kau mau jalan-jalan denganku?” kata-kata itu meluncur bebas tanpa beban dari mulutnya membuat Sooyong untuk sepersekian detik melongo memastikan bahwa pendengarannya sama sekali tidaklah salah.

 

Sooyong tidak menjawab. Dia malah menatap kedua bola mata Jisoo, lalu mengangguk setuju.

 

Jisoo meraih tangannya pelan kemudian membawa Sooyong keluar untuk menghirup udara bebas walau hanya sesaat. Dia sudah tidak peduli dengan tujuan utamanya datang ke rumah ini. Yang terpenting sekarang adalah Sooyong. Dia ingin membuat kenangan indah dengan gadis itu sebelum dia menghilang.

 

 

 

…………………………………………………

 

 

 

Disinilah perjalanan mereka berlabuh. Jisoo dan Sooyoong memandang takjub pemandangan yang ada didepan mereka. Jisoo membawa Sooyong ke taman bermain. Ini adalah hal yang Jisoo inginkan dalam hidupnya sebelum semuanya kandas karena keluarganya terlanjur hancur akibar rumor tak berdasar.

 

Sooyong tampak senang berada disini. Gadis itu terus tersenyum setiap kali mereka mencoba berbagai permainan. “Jisoo, ayo kita coba naik itu!” telunjuk Sooyong mengarah pada sebuah permainan yang sangat Jisoo takuti. Dia takut ketinggian namun Sooyong terus memaksanya.

 

Selama arena berjalan Jisoo hanya bisa diam tak mampu menatap kebawah.

 

“Hahahahaha… lihat wajahmu sekarang, jadi aneh” Sooyong meledeknya dan laki-laki itu hanya diam sambil menenangkan pikiran.

 

Karena sudah merasa lelah, keduanya beristirahat. Jisoo membelikan minuman untuk Sooyong lalu menggandeng tangan gadis itu untuk duduk dibangku taman.

 

Kesenyapan kini meliputi kedua insan yang tengah menikmati waktu masing-masing. Jisoo memandang Sooyong yang kini sibuk mengamati bintang diatas langit.

 

Perlahan dia menyentuh pelan tangan gadis itu membuat Sooyong tersentak. Jisoo tersenyum karena tidak ada penolakan apapun dari Sooyong. Sooyong sendiri juga tidak mengerti kenapa tubuhnya selalu membeku setiap Jisoo menyentuhnya.

 

“Kalau aku bisa, apa aku boleh mencintaimu, Soo?” tanya Jisoo terus terang. Dia memutuskan untuk mengakui semuanya. Dia tidak tahan terus memendam perasaan yang membuatnya begitu tersiksa. Jisoo pasrah apabila besok mungkin dia tidak bisa melihat wajahnya dan bertemu dengannya. Mungkin saja keluarga Do sudah mengirimnya keliang kubur. Biarlah. Dia sudah tidak mau memikirkan apapun lagi.

 

Gadis itu menatap Jisoo tajam. Dia sendiri terkejut dengan pengakuan Jisoo yang tiba-tiba, “Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”

 

DEG!

 

Jawaban Sooyong membuat Jisoo terperangah tak percaya. Awalnya dia mengira Sooyong mungkin akan memakinya tapi ini sungguh diluar dugaan. “Itu…”

 

“Sudahlah, lupakan saja. Kita pulang sekarang. Ada PR yang harus aku kerjakan” Sooyong bangkit berdiri. Dia tidak mau melanjutkan pembicaraan yang hanya akan membuat dirinya tambah sedih.

 

 

 

……………………………………………………..

 

 

 

Suho mengikuti HyeRa yang tengah berbelanja dengan Xiumin, Chen, dan pria itu. Dia sedikit tidak yakin kalau pria yang disukainya HyeRa adalah supirnya sendiri. Seleranya jelek sekali. Apa jangan-jangan dia bukanlah supir tapi tunangan yang setia mengantar jemput HyeRa setiap hari? Tapi HyeRa tidak selalu berangkat dan pulang bersamanya.

 

Argh!!! Kenapa pikirannya kacau sekali!

 

Suho bersembunyi ketika Chen berbalik untuk melihat sepatu yang lain. Tunggu dulu, kenapa dia seperti penguntit? Tapi dia memang sedang mengikuti mereka. Tapi ini bukan gayanya. Dia bukan penjahat. Dia pun keluar dari persembunyian.

 

“Sepertinya aku pernah melihatmu” Suho kaget sebuah suara mengenalinya. Dan dia semakin terkejut saat pria itu berdiri didepannya. Pria itu menatap seragamnya, “Kau laki-laki yang menyuruh nona masuk ke mobil, ahya aku ingat sekarang. Apa kau yang selama ini mengganggu nona?” todong Hongbin. Ekspresinya berubah menyeramkan ketika dia sadar kalau laki-laki inilah yang menyakiti HyeRa dan membawa pergi HyeJin.

 

“Ada apa, Oppa?” tanya HyeRa mendekat. Begitu dia melihat Suho, “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya tidak suka.

 

Sial sekali Suho. Dia tertangkap basah dan tidak tahu alasan apa yang harus dia katakan.

 

“Kau sudah datang” sambut Chen ramah.

 

“Sepatu yang kau inginkan sudah habis terjual. Sayang kau terlambat” Xiumin menambahkan.

 

“Suho kemari untuk membeli sepatu terbaru dari AllStar. Tadi dia mengajak kami pergi bersama, tapi ancaman HyeRa memaksaku untuk pergi bersamanya”

 

“Kapan aku mengancammu” bantahnya sinis.

 

“Siapa yang tadi tertawa di kelas seperti nenek sihir?”

 

“Aku tidak tertawa seperti nenek sihir”

 

“Tidak perlu sungkan mengakui kenyataan meski itu pahit, HyeRa”

 

“Errrrr. Kalian!” HyeRa bersiap menendang Xiumin dan Chen sebelum Hongbin menghentikannya.

 

“HyeRa” panggilnya lembut, “Habisi mereka saat tidak ada banyak orang”

 

“Hyung!” protes Xiumin dan Chen bersamaan. Mereka pikir Hongbin akan membelanya.

 

Hongbin tertawa, “Kalau kalian sudah mendapat sepatu untuk tuan HyeJin, pergilah membayarnya”

 

Xiumin melirik Suho sebelum beranjak, “Kau mau ikut kami makan es krim?”

 

Suho kaget dirinya ditanya.

 

“Sebaiknya kalian memperbaiki hubungan buruk dimasa lalu. Bukankah kau juga ingin meminta maaf kepada HyeRa” Chen memberi kode.

 

Ha! Minta maaf? Tidak akan! Bantah Suho dalam hati.

 

“Biarkan saja dia. Dia tidak akan hilang hanya karena berjalan sendirian dalam mall besar”

 

“Iya! Aku ingin meminta maaf” tahan Suho cepat. Tanpa sadar mulutnya berucap karena hatinya tidak ingin menjauh dari HyeRa.

 

Chen menatap Hongbin meminta bantuan untuk memperbaiki hubungan mereka. Hongbin melihat keduanya bergantian. Dia tidak suka jika HyeRa terluka lagi. Dia raih tangan HyeRa lalu dia genggam, “Kita pergi nona” dia membawanya pergi.

 

Chen bungkam. Ternyata Hongbin tidak sejalan dengan mereka. Dia dan Xiumin melihat Suho yang menggeram. Ekspresinya seperti pemburu yang membidik mangsa. Mereka harus segera pergi sebelum Suho meledak, “Kami duluan ya” pamit keduanya dengan gugup. Suho terus saja melihat Hongbin yang enggan melepaskan tangannya dari HyeRa.

 

 

 

***

 

 

 

Usahanya untuk menemukan sang Ayah membuahkan hasil. Sooyong mendapat informasi bahwa Ayahnya tinggal di Jepang. Kalau tidak ada halangan minggu depan Ayah akan ke Korea untuk perjalanan bisnis. Saat itu Sooyong akan meminta Ayah membatalkan pertunangannya. Bila perlu Sooyong ingin ikut Ayahnya tinggal di Jepang. Sooyong tidak mau tinggal lebih lama bersama Ibunya.

 

Minggu depan Kyungsoo sudah kembali ke Korea. Sooyong berharap Ayahnyalah yang sampai lebih dulu. Sooyong tidak menyukai Kyungsoo. Laki-laki itu mendekatinya karena suruhan orang tua. Yang paling Sooyong tidak suka adalah sikap Kyungsoo yang selalu mengaturnya. Setiap lelaki dilarang dekat dengannya padahal Sooyong tahu laki-laki itu masih memikirkan Lena yang pergi meninggalkannya ke Amerika.

 

Suasana sekolah sudah sangat sepi. Sooyong dan beberapa murid lainnya baru saja keluar setelah memenuhi tugas tambahan mereka.

 

Sooyong yang tadinya sedikit khawatir karena dia harus pulang sendiri menaiki bus kini merasa lega saat melihat Jisoo tengah duduk dimotornya dari arah sebrang. “Ck. Dia pasti menungguku. Dasar keras kepala” gumam gadis itu senang. Cepat-cepat dia langkahkan kakinya untuk menyebrang sampai sebuah mobil berhenti tepat didepannya. Sooyong mengambil jalan lain namun dia terlampau kaget saat melihat dua pria dewasa dengan tubuh tinggi serta wajah yang sangar berjalan kearahnya. Sooyong mundur saat kedua pria itu mendekatinya sambil menyeringai.

 

“Hentikan. Jangan dekati aku!” Sooyong terus mundur hingga dia terpojok dan otaknya blank begitu dia sadar salah satu dari mereka dengan topi hitam kini mencengkram tangannya.

 

“Aku akan memberi penjagamu pelajaran karena sudah sangat tidak sopan terhadap tuan kami” ancamnya dan Sooyong akhirnya tahu inilah maksud dari ancaman yang dia terima tempo hari.

 

Jisoo yang tengah menerima telpon dari Kyungsoo tidak sadar dengan apa yang terjadi pada Sooyong sampai dia mendengar teriakan Sooyong memanggil namanya.

 

“Bukankah itu Sooyong? Yak! Apa yang terjadi?” teriakan Kyungsoo melalui telpon sudah tidak dia tanggapi. Langsung saja Jisoo menyebrang sebelum dia terlambat.

 

BUGH!

 

Dengan membabi buta Jisoo memukuli mereka tanpa ampun. Disaat seperti ini Jisoo menjadi tak terkendali. Sooyong yang takut melihatnya berinisiatif menarik lengan kekar Jisoo agar dia berhenti. Syukurlah caranya berhasil.

 

“Jangan pernah mengganggunya lagi kalau tidak, aku akan membunuh kalian dengan tanganku! Beritahu Yongguk untuk menghadapiku langsung!”

 

Kedua pria yang hampir sekarat itu bangun dengan sisa kekuatan terakhir lalu pergi sebelum nyawa mereka melayang.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jisoo khawatir. Dia sempat melihat wajah Sooyong yang shock. Ini adalah pertama kalinya Sooyong melihat Jisoo memukuli orang.

 

Sebenarnya Jisoo tidak ingin Sooyong melihat sisi liarnya. Tapi dia tidak mungkin membiarkan Sooyong dibawa pergi orang-orang tadi.

 

Sooyong menatap wajah Jisoo yang sebagian dipenuhi lebam akibat perkelahian tadi. Dia menyetop taksi yang lewat lalu menggenggam erat tangan Jisoo dan membawanya masuk.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

Tak ada satu pun yang bicara sampai taksi membawa mereka berhenti tepat dibelakang rumah besar. Sooyong sengaja mengambil jalan memutar supaya keberadaan Jisoo dirumahnya tidak diketahui Ibu. Begitu mereka berada didalam dengan selamat, Sooyong langsung membawa Jisoo kekamarnya.

 

“Tunggu disini, aku akan mengobatimu” suruh Sooyong. Laki-laki itu menurut dan duduk dipinggir ranjang yang besar. Dia memperhatikan sekeliling kamar. Tampak bersih dan rapi. Beberapa action figure Death Note terpajang dirak-rak yang sejajar dengan meja komputer.

 

“Aku tidak tahu kalau kau mengoleksi hal seperti itu” tunjuk Jisoo pada deretan action figure tersebut sesaat setelah Sooyong kembali dengan kotak P3K ditangannya.

 

“Memangnya kenapa? Apa aneh kalau aku menyukainya?”

 

Jisoo menggeleng,

 

Segera Sooyong membuka kotak P3K-nya lalu mengambil kapas yang telah dibubuhi alkohol untuk membersihkan luka Jisoo.

 

Laki-laki itu sempat tegang begitu menyadari jarak Sooyong yang sangat dekat. “Biar aku saja” tolaknya gugup, namun Sooyong tidak menurut. Kini dia menangkup wajah Jisoo lalu mengolesi kapas tersebut dibagian pelipis matanya yang berdarah. Sontak Jisoo meringis menahan perih saat kapas itu menyentuh kulitnya.

 

“Jisoo, gomawo” ucap Sooyong dengan tulus. Kini keduanya saling bertatapan. Perlahan tangan Jisoo menyentuh kedua pipi lembut Sooyong. Dia begitu mencintai gadis didepannya. Dia juga ingin memiliki Sooyong. Tapi apa dia bisa? Lalu bagaimana perasaan Sooyong terhadapnya?

 

Semua itu tidak lagi dia pikirkan. Ketika pada akhirnya bibir mereka bertemu. Awalnya Sooyong diam tak melakukan reaksi apapun, namun dia membalas karena sesungguhnya dia juga memiliki perasaan yang sama pada Jisoo.

 

Wajah keduanya memerah. Jisoo bisa merasakan seluruh tubuhnya panas. Jantungnya berdetak dengan kencang membuatnya semakin terus terbuai. Dia begitu bahagia karena Sooyong tidak menolak sentuhannya. Semua hal yang selalu dia takuti setiap dia ingin memperhatikan Sooyong menghilang untuk sesaat. Kemudian tautan itu berakhir tatkala keduanya tersadar bahwa esok masih ada hal yang harus mereka perjuangkan.

 

Kini mereka tidur diatas ranjang yang sama. Jisoo tidur dengan menjadikan lengannya sebagai alas. Sementara Sooyong melabuhkan kepalanya didada Jisoo dengan kedua tangan melingkari perutnya. Tak ada hal aneh yang terjadi. Jisoo tidak akan berbuat jauh pada Sooyong.

 

“Apa Kyungsoo pernah kekamarmu?” pertanyaan Jisoo yang tiba-tiba membuat gadis berambut panjang itu tersenyum.

 

“Ani. Kau adalah pria kedua setelah Ayahku. Hanya orang-orang yang aku sayang yang kuperbolehkan masuk”

 

“Apa itu artinya kau menyayangiku?”

 

“Entahlah, mungkin lebih tepatnya lagi, karena terpaksa”

 

“Ya!” Jisoo terlihat tidak terima dengan pernyataan Sooyong membuat gadis itu terkekeh.

 

“Kenapa kau menyukaiku? Bukankah aku ini menyebalkan?” tanya Sooyong ingin tahu.

 

“Apa menyukai seseorang harus membutuhkan alasan? Mungkin sikapmu yang menyebalkan itu yang membuatku tertarik”

 

Sooyong memindahkan kepalanya pada bantal. Keduanya saling berhadapan. “Apa aku harus percaya padamu?” tanyanya ragu yang dijawab anggukan oleh Jisoo. “Bagaimana dengan Kyungsoo? Dia pasti marah besar”

 

“Aku belum memikirkan hal itu. Tapi aku akan melakukan apapun untuk memilikimu. Kau harus percaya padaku” dia meyakinkan.

 

“Baiklah”

 

Dan pembicaraan mereka terhenti begitu Jisoo terlelap. Sooyong mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada Kyungsoo.

 

“Kyungsoo, aku ingin membatalkan pertunangan ini”

 

Tanpa pertimbangan apapun, Sooyong menekan tombol send dan tak lama ia pun tertidur.

 

 

 

 

 

tbc ~

 

Iklan

One thought on “LOVE KILLER Part 5

  1. aahh tuh kan authornya kaga nurut ama gua huaaaaa kenapa sooyong minta pertunangannya dibatalin sih padahal gua belon baca momentnya kyungsoo sama sooyong jan gitu dong chingu hiks..hiks .hiks…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s