Sehun, I’m Pregnant (Chapter 8)

Tittle : Sehun, I’m Pregnant (8)

Author : Park Sunghyo

Genre : AU – Romance – Marriage Life

Length : Chapter

Rating : PG – 17+

Main Cast : Oh Sehun – Park Sungra

 

Selamat membaca/

 

~*~

 

Tubuh Sungra hampir melonjak kaget merasakan dekapan hangat Sehun melingkari tubuhnya. Tinggi Sungra hanya sebatas dada pria itu, membuatnya mendengar dengan jelas detak jantung Sehun yang cepat nan teratur.

“Maafmu barusan, untuk apa?”

Suara halus Sungra menggelitik pendengaran Sehun.

“Membuatmu menunggu,” jawab Sehun sambil membelai rambut gadis itu.

“Menunggu, dalam hal apa?”

“Kenapa kau banyak tanya ‘huh?”

Sungra menahan senyum dalam pelukan mereka.

Rasa nyaman menjalar dalam tubuh Sehun kala mendekap erat gadis ini. Ada keinginan untuk terus melindunginya. Dan terus mengalirkan desiran aneh pada tiap sela rongga hati Sehun.

Sungra orang pertama yang memiliki kesempatan melihat sisi lain dirinya. Juga reaksi yang selalu ditimbulkan gadis itu selalu berbeda dari orang kebanyakan. Membuat Sehun harus selalu menerka-nerka apa arti dan maksud yang diinginkan Sungra. Dia berbeda.

Sungra melepaskan pelukan mereka dan menatap Sehun dalam-dalam.

“Jangan lagi bersedih. Kau punya aku.”

Darah Sehun mendesir. Kata-kata Sungra bagai mantra yang mampu membuatnya mengangguk pelan. Nada gadis itu terdengar memerintah namun Sehun tak merasa terganggu sama sekali.

Mereka sama-sama tipe yang suka mendominasi. Dan Sehun suka itu.

Sungra menggigit bibir bawah lalu menundukkan pandangan. Malu sendiri jika melihat Sehun terus-menerus. Keberaniannya menguap begitu saja tatkala mata mereka bertemu pandang.

Sehun setengah tertawa melihat wajah Sungra.

“Jadi, kenapa?”

“Kenapa apanya?” tanya Sehun dengan suara rendah.

“Kau memanggilku kemari.”

“Oh, itu….”

Sehun bergumam tak jelas. Matanya beranjak kemana-mana mencari alasan yang tepat. Sungra menautkan kedua alisnya bingung.

Biasanya Sehun mengajak bertemu karena memiliki sesuatu untuk dikatakan, lebih tepatnya untuk sesuatu yang penting. Tapi sekarang pria itu justru gelagapan sendiri untuk mencari jawaban.

Seolah mengerti kebingungan Sehun, Sungra membalas, “Yasudah jangan dijawab.”

Sehun berdehem kemudian tersenyum kecil. Satu tangannya terangkat membelai wajah halus Sungra.

“Aku bukan pria yang banyak bicara, jadi—“

“Aku tahu,” sela Sungra dan memegang tangan Sehun yang membelai wajahnya.

Mereka saling menatap lama. Tersenyum bersamaan dan menikmati semilir angin sore itu.

~*~

 

Rintik-rintik air perlahan mulai membasahi bumi. Membuat setiap orang harus berlari panik kala guyuran hujan semakin menjadi.

Sehun tersenyum melihat Sungra yang tengah tertidur pulas. Sesekali Sehun melirik ke arah Sungra dan membelai rambut gadis itu lalu fokus menyetir kembali.

Akhir-akhir ini kota Seoul sering diguyur hujan membuat Sehun was-was jika membiarkan Sungra pergi sendiri. Terlebih gadis itu sedang hamil.

Sungra sensitif terhadap cuaca, itulah mengapa ia senang sekali memeluk Sehun di tiap kesempatan. Pengakuan Sungra saat di Sungai Han beberapa menit yang lalu cukup membuat hatinya tergelitik.

Tiba-tiba ponsel Sehun berdering. Pria itu mengerutkan alisnya melihat nomor tak dikenal tertera di layar.

“Ini aku.”

Sehun menarik nafas sejenak sebelum berbicara kembali.

“Zhang Yixing,” ucap Sehun datar.

“Kita harus bertemu.”

“Dari mana kau tahu nomorku?”

“Apa itu penting sekarang?”

“Jawab saja,” balas Sehun dingin.

Terdengar suara kekehan di seberang.

“Ponsel istrimu.”

Sehun mengeratkan pegangan pada setir mobil.

“Dimana?”

“Baca pesanmu.”

Sehun melempar ponselnya ke dashboard dengan kasar.

Ada urusan apalagi si Yixing ini hingga menghubunginya. Tak mungkin Sungra memberikan nomornya kepada Yixing secara cuma-cuma, lebih tepatnya tak akan mungkin Sungra berikan. Lalu bagaimana?

Terserah. Yang jelas mereka harus bertemu.

Zhang Yixing bukan tipe yang suka berbasa-basi. Tentu ada hal yang pria itu ingin sampaikan padanya. Walau kesal setengah mati hanya dengan mengingat nama pria itu, Sehun harus mengikuti jalur permainannya, bukan?

Sesampainya di pelataran parkir apartemen, Sehun diam beberapa saat sebelum matanya beralih menatap Sungra yang masih tertidur.

Tiba di lantai dasar, Sehun risih dalam hati merasakan seluruh pandangan menuju ke arahnya, dan tentu saja Sungra. Semua pasang mata yang berada di lantai dasar apartemen tersebut menatap sepasang suami istri itu dengan kagum.

“Romantis sekali!”

“Aku juga ingin menjadi gadis itu!”

“Astaga dia tampan sekali!”

“Kapan aku bisa digendong ala bridal style seperti itu?!”

Lucu juga mendengar pekikan-pekikan kecil dari para perempuan di sini. Bahkan sepasang orang tua memandang mereka dengan senyuman geli. Sehun menggigit pipi dalamnya meredakan rasa malu, ia bergegas memencet tombol lantai 5 begitu tiba di dalam lift.

Dengan hati-hati Sehun meletakkan tubuh Sungra, seolah tubuh gadis itu bisa rapuh kapan saja jika salah disentuh. Sehun duduk di sisi ranjang dan memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.

Begitu banyak penyesalan yang mengusik diri Sehun. Tak seharusnya ia bertindak kasar pada seorang perempuan yang tengah mengandung anaknya sendiri. Bahkan Sehun tak pernah menanyakan keadaan Sungra barang sekalipun.

Dibelainya wajah Sungra sekali lagi. Gadis ini macam candu bagi Sehun. Selalu membuat Sehun berada di luar kendali saat bersamanya.

Sehun mendesah pelan melihat pakaian Sungra. Bagaimana bisa beruang tidur satu ini merasa nyaman tertidur memakai gaun seperti sekarang?

Pria itu bergegas menuju lemarinya dan mengambil salah satu kemeja putih.

Dengan telaten Sehun melepas gaun putih itu dan menggantinya dengan kemeja putih kebesaran miliknya.

Sehun tersenyum. Sungra suka sekali memakai kemeja miliknya dibanding pakaian gadis itu sendiri.

Gadis yang suka melakukan apa saja dan mencoba untuk terus mengacak privasinya. Dan sekali lagi Sehun tak merasa terganggu akan hal itu.

Sehun yang ingin bangkit berdiri dibuat kaget dengan geraman tertahan Sungra. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum bangun terduduk menatap Sehun.

“Hey,” panggil Sungra pelan.

Sehun menatap Sungra datar dan hanya diam tak bergeming.

Sungra mendekatkan tubuhnya ke arah Sehun lalu memeluk pria itu perlahan. Sehun membalas pelukan Sungra, menghirup aroma mawar di sela-sela leher gadis itu.

“Sehun?”

“Hng?”

“Apa bajuku berganti sendiri?”

Sehun tertawa pelan di bahu Sungra.

Mereka saling terdiam beberapa detik.

“Oh Sehun?”

“Apa lagi, hm?”

“Sepertinya jjangmyeon enak. Kimbap dan bulgogi juga, dan oh, jangan lupakan rebusan kimchi,” seru Sungra.

Kedua tulang pipi Sehun terangkat dan mengangguk kecil di lekuk leher gadis itu.

Sehun melonggarkan pelukannya.

“Arraseo. Tunggu disini.”

Sungra mengangguk dan melihat punggung lebar Sehun yang semakin menjauh.

Usai terdengar suara pintu tertutup, Sungra berguling kesana-kemari di atas ranjangnya.

Melihat Sehun beberapa menit yang lalu seperti melihat sosok Chanyeol secara langsung. Pria itu bisa berubah menjadi siapapun yang ia mau.

Sabar seperti appa, mampu mengomel layaknya eomma, dan penuh perlindungan serta perhatian macam kakaknya.

Haruskah Sungra menemukan sosok Lee Hyera pada Sehun? Yang rewel dan mampu berbagi cerita dengannya?

Sungra tertawa dalam hati.

Tiba-tiba bayangan kedua orangtuanya dan Chanyeol berkelebat dalam otaknya. Sepertinya Sungra harus sesekali mengunjungi mereka, gara-gara mengurusi masalah Sehun, Sungra jadi lupa menghabiskan beberapa waktu bersama mereka.

Sungra mengalihkan pandangan dan mendapati ponsel yang tergeletak di atas nakas tempat tidur.

Ini bukan ponsel miliknya.

Rasa penasaran tiba-tiba menghinggapi diri Sungra. Kurang sopan memang jika mengecek ponsel suaminya tanpa izin. Namun hatinya terus berteriak ingin mengaduk-ngaduk isi ponsel di genggamannya.

Sungra menghela nafas lega mendapati ponsel itu tak diberi kode pengaman sama sekali. Persis seperti dirinya.

-Di café dekat apartemenmu. Temui aku satu jam lagi.-

“Nomor ini….”

Sungra merasa familiar dengan nomor anonim itu, bergegas mencari ponselnya dan langsung mengetik satu nama di kontaknya.

“Zhang Yixing,” lirih Sungra.

Sesaat otak Sungra memutar mencari jalan simpulan.

Kenapa Yixing ingin bertemu dengan Sehun?

~*~

 

“Banyak sekali.”

Komentar Sungra membuat Sehun menghela nafas.

“Bukankah tadi kau mau semua ini, Sungra?”

“Kenapa kau menurut? Ini membuang-buang uang.”

Sehun setengah tertawa dan mengangguk saja. Pria itu mengacak rambut Sungra pelan.

“Arraseo. Lain kali aku akan berhemat. Makanlah,” balas Sehun kalem.

Sehun menahan senyumnya. Ternyata perempuan hamil begitu rewel dan benar-benar menguji kesabaran.

Membuang uang apanya? Bahkan Sehun bisa membeli 10 kali lipat semua makanan di hadapan mereka sekarang.

Gadis itu terus melahap makanan tanpa perduli bagaimana ekspresi Sehun saat melihatnya makan seperti babi.

Beberapa waktu mereka tenggelam dalam keheningan sebelum Sehun memejam dua detik seolah mengingat sesuatu.

Sungra menoleh melihat wajah Sehun yang berkerut.

“Ada apa?”

Sehun diam sesaat sebelum mengerjap pelan.

Pria itu menatap Sungra balik kemudian menarik nafas.

“Aku harus pergi sebentar. Habiskan makananmu dan jangan kemana-mana, okay?”

Sungra menurunkan pandangannya lalu mengangguk. Sehun mengacak pelan puncak kepala gadis itu sebelum berlalu pergi.

~*~

 

Mereka duduk berhadapan, saling menatap tak suka.

Sehun memilih diam dibanding harus memulai percakapan terlebih dahulu. Toh Yixing yang memanggilnya kemari. Yah, meskipun Sehun sebenarnya sedikit ingin tahu juga perihal apa pria itu ingin bertemu dengannya.

“Aku akan kembali ke Roma. Malam ini.”

Sehun mengangguk.

“Itu berita yang bagus.”

Yixing sedikit menyipitkan matanya, kemudian tubuhnya dibanting pelan ke belakang menyentuh kursi.

Beberapa detik mereka saling bungkam.

“Sungra….”

Yixing menggantung perkataannya sebentar.

“…jaga dia.”

Sehun menghela nafas dan masih setia melipat kedua lengannya di atas dada.

“Kau lebih dewasa darinya beberapa tahun sedang dia begitu polos dibanding tampilan luarnya, kau mengerti maksudku,” ujar Yixing tenang.

Sehun hanya menurunkan pandangannya dan beralih menatap langit malam lewat kaca besar café tersebut.

Sedikit jengah dengan sikap pria di hadapannya, Yixing sedikit memajukan tubuhnya dengan melipat kedua tangan, terlihat seolah berbisik.

“Apa kau akan terus seperti ini?” perkataan datar Yixing sukses membuat Sehun menoleh.

“Apanya?” tanya pria itu balik.

“Berhentilah berpikir mengenai gadis itu. Sungra akan terus terluka.”

Keheningan melanda beberapa saat.

Sehun tertawa lewat hidungnya.

Wajah Yixing masih sama seriusnya seperti tadi. Mencoba menelisik pikiran pria itu.

“Kau belum ‘berpindah’ dari Han Yesoo, bukan? Dua tahun bukan waktu yang sebentar.”

Sehun menangkap dengan jelas nada ‘memancing’ dari pria di hadapannya. Ia tersenyum dingin kemudian menjawab, “Ya.”

….

“Kau tahu banyak hal, Zhang Yixing,” lanjut Sehun dengan suara rendah.

“Jika Sungra mengetahui hal ini mungkin akan menjadi masalah besar,” balas Yixing menatap Sehun dingin.

Sehun menaikkan satu alisnya tanda bingung dan meminta Yixing melanjutkan.

“Bukan karena kau belum sepenuhnya berpaling dari mantan kekasihmu, tapi kau menjadikan Sungra sebagai pelampiasan,” ucap Yixing penuh penekanan pada kata di akhir kalimatnya.

“Pelampiasan?” tanya Sehun pelan.

Dan lawan bicaranya hanya menaikkan sebelah alis, menantang.

“Mungkin saja,” lanjutnya setengah tertawa.

Yixing mengepalkan satu tangannya di bawah meja. Pria itu menarik nafas, mencoba menstabilkan diri.

“Jangan lama-lama bermain dengannya. Kau tentu tahu siapa yang terakhir akan terluka.”

Sehun tak menampakkan ekspresi apapun.

“Dia?” tanya Sehun.

“Kau.”

Sehun mengerutkan alis.

“Segera lepaskan dia,” kata Yixing tenang dan beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Sehun sendiri.

“Aku jadi penasaran bagaimana aku akan terluka kembali, Zhang Yixing,” ucap Sehun sambil menatap Yixing yang semakin menjauh dari balik kaca.

~*~

 

Sungra melepas topi hitam dan rambut panjangnya langsung menjulur bebas.

Gadis itu menyenderkan tubuhnya pada bangku taman yang tak jauh dari café tersebut. Sesekali ia menarik nafas dan menghembuskan sepelan mungkin, mencoba menahan air dari kedua matanya.

Beberapa menit Sungra tenggelam dalam pikirannya. Dan rasa perih itu terus merayap dalam hati Sungra.

Tak lama ponsel bergetar di saku kanannya. Gadis itu sedikit bingung namun akhirnya mengingat sesuatu.

“Kau meninggalkan ponselmu,” datar Sungra.

“Ya, aku tahu. Maaf, Sungra. Aku harus bertemu dengan Suho, mungkin akan pulang sedikit terlambat. Jangan tidur terlalu larut, ‘ya?”

Jika kau baru ingin menemui Suho lalu siapa yang sedari tadi kau temui?

“Ya, hati-hati,” balas Sungra sekenanya.

PIP

Sungra mendengus kesal.

Ingin sekali ia melempar jauh ponsel yang ada di genggamannya sekarang.

“Sialan,” makinya pelan.

Sungra mulai memasok oksigen sebanyak mungkin. Paru-parunya terasa terhimpit sesuatu, seolah ada ganjalan besar yang membuat sesak di sana.

Menyesal kenapa harus pergi mengikuti Sehun tadi. Harusnya ia tertidur nyenyak di apartemen sekarang.

Kenyataan beberapa menit lalu cukup menamparnya pelak. Membangunkannya dari mimpi kedamaian yang semu.

Menjadi bahan perbincangan antara dua pria tidak begitu menyenangkan. Terlebih mengetahui fakta baru jika kau hanya sebagai pelampiasan semata.

Sungra tak bodoh jika tak merasakan keanehan dalam diri Sehun, perubahan drastis yang begitu cepat hanya dalam belasan jam saja.

Terlepas dari itu, Sungra hanya anak kecil, bukan? Dia bahkan belum genap 20 tahun. Sungra hanya terus mengingkari walau hatinya telah berbicara, mencoba selalu percaya walau tahu akhirnya akan terluka. Terlalu naif.

“Benar. Aku hanyalah seorang anak kecil di mata Sehun,” lirihnya lemah.

Sepertinya kabur ke rumah orang tuanya bukanlah sikap yang tepat. Mustahil untuk mengadu dan merengek sesampainya di sana.

Lagi-lagi Sungra menarik nafas. Air matanya hampir melesak turun.

Sungra mengerti penderitaan yang tengah dialami Sehun sekarang. Tapi mengapa pria itu tak bisa mengerti sedikit perasaannya?

“Aku juga seorang perempuan. Bahkan aku telah hamil anaknya!”

Pekikan marah keluar dari bibirnya begitu saja. Entah itu adalah cara melampiaskan kekesalan atau putus asa pada diri sendiri. Sungra tak tahu hal itu dengan baik.

Perlahan ia beranjak dari duduknya dan berjalan kembali menuju apartemen. Menangis adalah daftar paling akhir yang akan dilakukannya jika sudah sampai nanti.

~*~

 

Sehun memandangi wajah damai gadis itu saat tertidur. Baru beberapa menit yang lalu ia pulang dan mendapati Sungra yang sudah masuk ke alam mimpi.

Sehun masih setia duduk di sisi ranjang, menatap Sungra lama.

Beberapa detik Sehun merasa canggung kala gadis itu terbangun dan duduk sambil membalas tatapannya.

Matanya mengerjap pelan beberapa kali, mencoba mencerna situasi yang ada.

Sehun yang duduk memandangnya dengan raut kelewat datar. Ternyata bukan mimpi.

Lama mereka saling diam hingga Sungra merasakan sesuatu yang ganjal dalam hatinya. Tiba-tiba ingatan beberapa jam lalu membanjiri otaknya, begitu cepat seperti kilas balik yang mampu meruntuhkan Sungra kapan saja.

Pelampiasan.

Satu kata yang cukup untuk mewakili semuanya.

Otaknya melarang untuk berharap lebih mulai sekarang.

Sehun memang selalu seperti ini, dan tak akan bisa berubah.

Tapi, Sungra tak bisa berhenti, dan entah sampai kapan, Sungra tak mau terlalu repot memikirkannya.

Ia menatap wajah Sehun yang terlihat sedang mengatur nafas. Perlahan gadis itu maju mendekat dan mengangkat sebelah tangannya, membelai tengkuk pria itu.

Biar. Biar Sungra egois untuk malam ini. Biar saja jika Sehun bercinta dengan dirinya walau di pikiran dan hati pria itu sudah terpatri nama gadis lain.

Hati Sungra seperti sudah tak ada artinya lagi, benar-benar tak berharga. Pernikahan mereka hanya tentang berbagi nafsu semata, ah, satu lagi, karena kehamilan gadis itu. Jadi tak ada unsur pendukung yang mampu mempertahankan ini semua, dan bisa runtuh kapan pun.

Sungra hanya bisa menyentuh raga pria itu, seperti sekarang. Tapi tidak dengan hatinya.

Entah sejak kapan Sehun mulai membenamkan bibir tipisnya pada bibir Sungra. Saling bertaut lama dan sedikit menjauh kala oksigen terasa menipis di sekitar mereka.

“Harusnya kau tidur.”

Suara serak Sehun ditambah tatapan tajam pria itu. Tulang-tulang Sungra seolah telah lepas dari tubuhnya, begitu lemas dan tak berdaya di pelukan pria itu.

“Aku menginginkanmu.”

Sehun tersenyum miring mendengar bisikan Sungra barusan. Ditariknya pinggang Sungra mendekat hingga tak ada banyak ruang yang tersisa di antara mereka.

“Aku milikmu.”

Mendengarnya, Sungra tersenyum dingin dan naik ke atas pangkuan pria itu, mengecup perlahan tepat di bibirnya.

Sehun tersenyum miring. Pria itu lantas sedikit berbalik dan menghempaskan Sungra ke ranjang, meneliti setiap sudut tubuh gadis itu.

Sehun perlahan merangkak naik ke atas tubuh Sungra, mendekatkan wajahnya dan nafas mereka saling beradu penuh gairah.

Aliran listrik seolah menyengat tubuh Sungra dari ujung kaki hingga kepala. Getaran hebat ia rasakan kala belaian Sehun semakin menggila di sela-sela lehernya.

Mata Sungra dipaku tepat pada kedua bola mata itu. Jantung mereka memompa lebih cepat dari biasanya.

Darah Sungra mengalir cepat hingga kedua pipinya bersemu merah.

Sehun menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher Sungra, menghirup aroma dari tubuh gadis itu, aroma candu yang selalu memabukkan dirinya.

Perlahan menarik wajahnya dan pandangannya turun menatap dagu, kedua belah bibir, hidung, dan berhenti tepat di kedua mata gadis itu.

“Kita punya banyak waktu, sayang.”

~*~

 

“Chan, ada tamu. Spesial.”

Kata terakhir yang diucapkan sang ibu membuatnya menarik jari-jari dari keyboard laptop, beralih melihat kepergian sang ibu dan berganti dengan senyum tipis kekasihnya.

Chanyeol menurunkan sedikit kacamatanya dan tersenyum.

“Tutup pintunya,” perintah Chanyeol.

Nayeon sedikit bingung namun menurut saja. Satu tangan Chanyeol terangkat dan bergerak mengisyaratkan agar gadis itu mendekat.

Nayeon berjalan dengan langkah lambat membuat Chanyeol mengerutkan alis. Masih setia duduk di kursi kerjanya sambil memperhatikan gerak-gerik aneh kekasihnya.

Dia yang ingin bertemu tapi sekarang terlihat seperti enggan bertatap muka dengan Chanyeol.

Pria itu menarik kursi kecil yang tak jauh dari jangkauannya, memindahkan tepat di samping kursi miliknya lalu menepuk beberapa kali di atas kursi kecil tersebut.

Nayeon duduk dengan gerakan kaku. Chanyeol mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop dan mulai menghela nafas bingung.

“Salahku kali ini apa, Yeon?” ujar Chanyeol sambil mengetik kembali.

Nayeon diam seribu bahasa. Dia bingung harus memulai dari mana untuk mengatakannya. Susah juga memiliki kekasih tidak peka semacam Park Chanyeol. Dipastikan semua wanita akan menderita.

“Kau tak salah, Yeol.”

“Lalu?”

Nayeon merapatkan mulutnya sejenak.

“Bicaralah dengan jelas. Kau membuang waktuku.”

Mata Nayeon beralih menatap tajam ke arah pria itu.

“Kau mungkin lelah dengan kejelasan hubungan kita ke depan, atau karena masalah keseriusanmu dalam bekerja sehingga terus melupakanku, aku tak akan membahasnya lagi. Kau datang dengan wajah senangmu tiap menemuiku saat pekerjaan renggang tanpa memikirkan masalah kita sebelumnya. Mungkin di matamu aku selalu berlebihan, tapi, bisakah kata ‘maaf’ saja keluar dari mulutmu?”

Nada suara Nayeon begitu datar, tanpa emosi. Hanya iris mata kelabu itu saja yang mampu berbicara.

“Kau berubah dengan cepat, selalu membingungkan. Apa yang kau kejar sebenarnya? Harus sampai kapan aku menanggung perasaan seperti ini?”

Bulir-bulir air mata tak mampu lagi ditahan Nayeon, pasrah dengan keadaan memalukannya di depan kekasihnya sendiri.

Nayeon benar-benar lelah.

Kadang Chanyeol bisa datang dengan seluruh tawa dan kata-kata manisnya. Dan di satu sisi, pria itu gila kerja dan benar-benar dingin padanya.

Sikapnya yang selalu berubah dan sulit diprediksi.

Datang dan pergi sesuka hati. Menerbangkannya sangat tinggi kemudian menghempaskan dirinya hingga ke dasar bumi.

Tak ada kabar. Bahkan ada saat di mana mereka bisa lost contact sampai berbulan-bulan. Kemudian di hari di mana titik Nayeon lelah dengan seluruh permainan Chanyeol, pria itu datang kembali dengan seluruh rayu dan sikap hangatnya.

Dan dengan entengnya Nayeon menerima pria itu dengan tangan terbuka. Terus seperti itu, bertahun-tahun.

Di mana kau bisa menemukan wanita sesabar ini?

“Yeon, maaf, ani, aku tahu aku salah—“

Nayeon menggeleng kuat. Berusaha menumpahkan seluruh lukanya.

“Kita putus. Carilah wanita yang mampu mengerti dan bertahan untukmu, aku tak sanggup lagi. Dibanding kerja kerasmu yang ingin membelikanku sebongkah berlian pun, aku lebih senang kau meluangkan waktu untukku walau beberapa menit saja. Benar, wanita haus perhatian, termasuk aku. Kau selalu mengatakan bahwa kita bertengkar karena hal sepele seperti ini, tapi, biar kutanya, kau….tak pernah merindukanku? Menelfonku sebentar tak bisa? Bahkan jika bukan karena pertemuan keluarga Sehun dan Sungra yang kadang diadakan, kita tak bisa berkomunikasi dengan baik.”

Bahu gadis itu naik-turun dengan nafas yang sudah tak teratur.

Haruskah Nayeon yang selalu berkunjung menemui Chanyeol tiap mereka memiliki kesempatan?

“Tidak, bukan seperti itu. Tak ada maksudku sama sekali untuk melu—“

“Jangan temui aku lagi.”

Nayeon berdiri dengan wajah memerah akibat tangisannya. Harusnya perpisahan mereka diatur sedemikian rupa, dengan indah dan berkesan. Tapi Nayeon tak mau repot dengan semua itu. Emosinya bagai bom waktu yang harus meledak jika waktu sudah diatur dari awal.

Nayeon berbalik dan mengambil langkah cepat tanpa menghiraukan Chanyeol yang terus berteriak memanggilnya.

~*~

 

Baik Kai maupun Hyera sama-sama berdiri terdiam, canggung.

Terlebih Hyera yang dibuat bingung dengan sikap pria di hadapannya. Dia datang menjemput Hyera usai les malamnya, beralih jika tak baik seorang gadis pulang malam sendirian. Membuat pikiran Hyera bercabang kemana-mana.

“Terimakasih, oppa. Sudah mau mengantarku.”

Kai menatap datar ke arah Hyera. Pria itu menghapus jarak di antara mereka, membuat dada Hyera berdebar dibuatnya.

“Sama-sama,” balas Kai tersenyum.

Untungnya pria itu langsung menjauhkan wajahnya sedetik kemudian, kalau tidak mungkin Hyera bisa pingsan sebentar lagi.

“Ka—kalau begitu, aku akan masuk ke rumah. Hati-hati, Kim Jongin.”

Hyera berbalik dan berjalan menjauh.

“Hey.”

Suara berat Kai menghentikan langkah Hyera seketika, gadis itu refleks berbalik dengan wajah bingungnya.

“Eoh?”

Kai menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pun tersenyum kaku.

“Selamat malam.”

Usai mengucapkannya Kai berbalik pergi, melangkah menjauh dan memasuki mobilnya.

Deru mesin mobil terdengar menjauh dari telinga Hyera. Gadis itu jatuh terduduk dengan wajah semerah tomat.

Lee Hyera memang selalu berlebihan, tapi, kali ini ada sesuatu yang salah.

“Aish, kenapa jantungku berdetak kencang begini?! Sadarlah Lee Hyera! Dia sudah tua dan playboy! Don’t fall with him!” ucapnya sambil memukul-mukul pelan dadanya.

“Aku bahkan belum genap satu bulan putus dengan Baekhyun tapi kenapa Kai begitu cepat mengambil alih semuanya? Aish….”

~*~

 

Sungra terbangun dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Tangannya bergetar hebat diikuti nafasnya yang terengah-engah.

Beberapa menit terdiam, mencoba menenangkan diri, Sungra mulai memutar kepala mencari di mana Sehun berada.

Sungra menghela nafas lega melihat pria itu tidur pulas di sampingnya. Astaga, dia hampir lupa apa yang terjadi semalam.

Matanya beralih menuju jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar. Ini masih sangat pagi dan ia tak bisa tidur kembali. Gadis itu menyibak pelan selimut dan beringsut turun dari ranjang, memungut pakaian miliknya juga Sehun.

“Kenapa aku selalu bermimpi buruk…,” gumamnya sambil berjalan menuju dapur.

Kulkas penuh berisi dengan berbagai macam makanan, namun hanya kimchi buatan mertuanya sajalah yang mampu menarik perhatiannya.

Sungra menarik dengan hati-hati wadah besar berisi kimchi tersebut. Gadis itu duduk di depan kulkas yang terbuka dengan kimchi penuh di mulutnya.

“Kau bisa sakit perut.”

Jantung Sungra hampir melompat keluar mendengar suara serak Sehun.

“Aku hampir jantungan,” datar Sungra masih mengunyah makanannya.

Sehun berjalan mendekat dan ikut duduk di samping Sungra. Pria itu merebut paksa wadah besar itu dari tangan Sungra, memasukkannya kembali ke dalam kulkas.

Sungra mendelik tak suka.

Melihat kekesalan gadis itu, Sehun menghela nafas.

“Jangan makan kimchi sebelum perutmu diisi roti atau nasi, arra? Kau punya mag.”

Sungra menaikkan alisnya. Dari mana pria ini tahu jika Sungra memiliki mag?

“Dari mana kau tahu? Hey, kau juga punya mag. Peraturan yang sama berlaku untukmu.”

Sehun menoleh ke arah Sungra.

“Dari mana kau tahu?”

Dari sekretaris pribadimu tentu saja.

“Hanya asal bicara dan ternyata benar,” kilah Sungra.

Sehun menautkan alisnya ragu namun tetap mengangguk kecil.

Mereka diam beberapa saat, duduk tenang di hadapan kulkas yang menyeruakkan hawa dingin.

“Kau lahir tanggal berapa?”

“Kenapa tiba-tiba ingin tahu?”

“Kenapa kau balik bertanya?”

Sungra mendengus mendengar balasan Sehun.

“27 April,” jawab Sungra masih menatap lurus ke dalam kulkas.

Sehun tersenyum kecil.

“Sama. Aku juga,” ucap Sehun pelan.

Sungra terkejut dalam hati.

“Kau kelahiran ’97 bukan?”

Sungra mengangguk.

“Berarti kita berjarak tiga tahun dengan kau lebih muda dariku.”

“Lalu?”

“Panggil aku oppa.”

“Dalam mimpimu.”

Sehun menahan senyum dan berujar kembali.

“Hari ini…mau ke dokter kandungan? Kuantar,” tawar Sehun.

“Lain kali saja,” jawabnya pelan.

Sehun menghela nafas kemudian mengangguk. Ia tak bisa memaksa Sungra jika memang gadis itu tak ingin pergi. Mungkin berselang seminggu dari sekarang Sehun harus membujuk Sungra agar mau ikut dengannya.

“Mandilah, kau harus bekerja,” perkataan Sungra dibalas deheman kecil oleh Sehun.

Sehun menarik tangan kiri Sungra yang ingin berdiri dari duduknya.

Ia memasangkan gelang perak dengan kilauan berlian kecil di tengahnya pada pergelangan tangan Sungra. Gadis itu hampir terperangah namun dengan cepat mengendalikan ekspresinya.

“Jangan dihilangkan. Hanya satu di dunia.”

Jika bukan karena kedua orang tuanya yang memaksa, Sehun tak akan menghabiskan waktu untuk membeli gelang itu. Sampai-sampai Jay ikut berperan dalam memilih gelang mana yang akan cocok untuk pemiliknya nanti.

Mengerti kebingungan Sungra, ia menjawab, “Anggap saja sebagai kado yang terlambat.”

Sungra hanya mengangguk kecil sebagai balasan.

Sehun berdehem kecil melihat senyuman gadis di hadapannya.

Sungra mati-matian menahan diri agar tak menunjukkan reaksi berlebihan pada pria di hadapannya.

Sungra mengerti benar batasan yang makin mendorong dirinya untuk menjauh. Dia memang naif tapi tidak bodoh untuk hal-hal seperti ini, mulai terbiasa dengan banyak kejadian yang menghinggapi kehidupannya.

Sehun diam kemudian bangkit berdiri dari duduknya, menuju kamar mempersiapkan segala sesuatu untuk bekerja.

Sungra memandang hampa ke arah lantai. Ia hanya perlu bertahan sampai anak ini lahir bukan? Setelah itu Sungra bisa pergi dari kehidupan Oh Sehun selama-lamanya. Dia tak punya waktu banyak.

Mengingat kembali masa-masa lampau kala Sehun menantang dirinya, membuat pria itu jatuh cinta.

Gadis itu tertawa hambar. Sangat sulit membuat pria seperti Sehun untuk jatuh cinta kembali, usai dikecewakan sedemikian dalam oleh orang lain.

Dan lagi, dia hanyalah pria brengsek yang tidak mengerti dengan hatinya sendiri.

Sungra terpekur lama sebelum kenyataan menyadarkannya. Dia berdiri perlahan dan mulai menghangatkan makanan yang ada di kulkas.

~*~

 

Sungra berlari kesana-kemari. Matanya berpendar menyapu setiap sudut di bandara.

Chanyeol menelfon sejam yang lalu, memberitahu jika Yixing akan berangkat ke Roma hari ini. Sedikit bingung mengingat pria itu berkata pada Sehun bahwa akan berangkat semalam.

Sungra berlari seperti orang gila. Mengacuhkan tiap pandangan aneh yang tertuju padanya. Pikirannya mengabu, jantungnya sudah berdebar keras sedari tadi.

Bagaimana bisa Sungra lupa jika semalam mungkin saja menjadi keberangkatan Yixing? Dia malah asyik bercinta dengan pria brengsek itu.

Kenapa? Kenapa dia menunda kepergiannya? Ah, mungkin ada urusan yang harus diselesaikannya terlebih dahulu.

Tak diperdulikannya kakinya yang mulai terkilir akibat berlari. Hanya ada satu hal yang ada di pikirannya saat ini.

Zhang Yixing. Dia tak boleh pergi dengan cara seperti ini. Tidak tanpa satu kata pun untuk perpisahan mereka.

Sungra merindu pria itu setengah mati dan sekarang ia harus pergi kembali? Demi apapun Sungra tak rela.

Tiba-tiba langkah Sungra melambat, berhenti berlari, mematung diam di tempatnya.

Pandangan Sungra sedikit mengabur.

“Dia sudah pergi,” bisiknya pada diri sendiri.

Penglihatan Sungra mulai tak fokus, rasa sakit segera menjalar hingga ke tulang-tulang terdalamnya.

Benar, ia akan selalu ditinggalkan oleh orang yang ia cintai.

Sungra bahkan belum sempat mengucap perpisahan pada Yixing dan memeluk pria itu, mungkin untuk yang terakhir.

Gadis itu jatuh terduduk. Seluruh tulangnya seolah lepas terenggut begitu saja. Hatinya seperti dipukul sangat keras.

Matanya memancarkan kepedihan mendalam. Ia merasa kehilangan dan kecewa. Sungra belum siap dengan ini, ia benar-benar membenci segala sesuatu yang dadakan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Tuhan, bisakah waktu diputar sedikit saja?

“Apa yang kau lakukan?”

Sungra terperanjat mendengar suara berat menyambangi pendengarannya.

Gadis itu menengadah, menemukan sepasang manik mata coklat itu menatapnya sambil tersenyum.

Sungra menyambut uluran tangan pria itu dan berdiri perlahan.

Tatapan itu, selalu sama. Mampu mengunci gerakan tubuh Sungra dalam seketika.

“Brengsek,” maki Sungra dengan nada rendah.

Yixing tertawa kecil dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“Kukira gadis gila mana yang duduk di tengah bandara seperti itu. Ternyata kau.”

Ejekan Yixing membuat Sungra malah makin mengeratkan pelukannya.

Yixing tersenyum.

Pria itu sedikit melonggarkan pelukan mereka, menatap teduh wajah menawan di hadapannya.

“Kau harus bahagia bersamanya, sementara. Karena aku akan bertanggungjawab penuh jika pria itu pergi.”

“Well, sebagai pelampiasan ternyata tidak buruk juga,” ujar Sungra dengan senyum miringnya.

Yixing terkejut dalam hati.

Mereka sama-sama diam beberapa saat, saling sibuk dengan pikiran masing-masing.

Pria itu tersenyum dingin, menangkap maksud Sungra. Gadis ini pandai juga menjadi seorang stalker rupanya.

“Aku akan secepatnya kembali jika kau telah bercerai dengannya.”

Sungra tertawa pelan.

“Bodoh.”

“Aku akan merindukanmu,” lanjut Sungra.

Aku selalu merindukanmu tiap waktu, Park Sungra.

Yixing hanya tersenyum kemudian mencium kening gadis itu cukup lama. Menyalurkan rasa sayangnya yang tak pernah luruh pada gadis itu.

Sekali lagi mereka berpelukan tanpa perduli keadaan di sekitar. Yixing memang sengaja menunda kepergiannya karena ingin mengucap salam perpisahan pada Sungra. Merasa berterimakasih dengan sang Sahabat lama yang selalu membantu memberikan informasi pada pria itu.

Chanyeol tersenyum dari jarak yang cukup jauh. Menatap sepasang kekasih yang ingin berpisah, untuk kedua kalinya.

Harusnya mereka sudah ditakdirkan bersama dari dulu.

~*~

 

Sehun menatap datar pada beberapa foto yang dibawa Jay ke atas mejanya.

“Kau bisa pergi,” ucap Sehun dingin.

Jay membungkuk 90 derajat dan berbalik pergi menghilang di balik pintu.

Sehun mengetukkan jemarinya di atas meja dengan gusar.

Amarah meletup-letup dalam dadanya, terlebih melihat adegan cium kening di dalam foto itu.

Pria itu mengusap wajahnya perlahan kemudian beralih memijat pelipisnya pelan.

Kenapa gadis itu suka bertingkah semaunya sendiri? Melanggar tiap peraturan yang Sehun buat dan sangat keras kepala.

Sepertinya perempuan seperti Sungra memang tak ada di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Benar-benar berbeda dari yang lain. Membuat Sehun bisa lepas kendali kapan saja.

“Aku akan gila,” geramnya kesal.

~*~

 

Sungra hampir melompat ke belakang saat melihat Sehun tengah duduk tenang dalam kegelapan. Segera Sungra mencari saklar lampu dan seketika ruangan menjadi terang-benderang.

Tak ada ekspresi apapun pada wajah Sehun. Pria itu hanya diam sambil melipat kedua lengannya.

Sungra berjalan melewati Sehun begitu saja, berlalu masuk ke dalam kamar.

Sehun mendengus dan berjalan cepat mengikuti Sungra, menarik lengan gadis itu.

“Apa?” tanya Sungra.

“Dari mana saja?”

Nada Sehun begitu tenang, berbanding terbalik dengan emosi yang meluap-luap di dadanya.

“Rumah Hyera.”

“Jangan berbohong,” tegas Sehun menatap Sungra tajam.

Sungra tak sepenuhnya berbohong. Ia memang berkunjung ke rumah Hyera usai dari bandara.

Sungra menghela nafas pasrah.

“Mampir ke bandara sebentar. Bertemu mantan kekasih.”

Sehun memejam erat.

“Kau pikir apa yang kau lakukan?” dingin Sehun.

Oke, Sungra mulai jengah. Bahkan ia tak lebih dari pelarian saja tapi mengapa sikap Sehun begitu berlebihan padanya?

“Harusnya kau mengurus urusanmu sendiri,” balas Sungra tak mau kalah.

Sehun menarik nafas sejenak.

“Kau istriku. Apakah pantas bertemu dengan pria lain? Jangan seperti gadis jal—“

Sehun langsung bungkam begitu menyadari kata apa yang akan keluar dari mulutnya.

Sungra otomatis menatap mata Sehun. Mata gadis itu menajam dan mulai memerah.

“Aku, seperti apa?” tanya Sungra dengan suara rendah.

Rahang Sehun mengeras dan bibirnya mengatup rapat.

….

“Katakan Oh Sehun.”

Lagi pria itu diam seribu bahasa. Tubuhnya kaku tanpa bisa digerakkan.

Sungra menurunkan pandangannya, menatap lurus ke arah lantai.

“Lalu bagaimana dengan dirimu?”

Ia menarik nafas.

“Apakah kau bahkan mencintaiku?” lanjutnya.

Tiba-tiba hati Sehun bergetar mendengarnya. Darahnya mendesir hingga ujung kepala. Begitu terkejut dengan pertanyaan gadis di hadapannya.

Lidah Sehun terasa kelu.

Keheningan menenggelamkan mereka beberapa saat.

Kedua tangan Sungra terkepal erat di sisi-sisi tubuhnya.

Sepertinya tak ada jalan akhir bagi mereka berdua, semua terasa buntu.

Oh Sehun selalu sama dan akan terus sama.

Segala terasa percuma dan tidak memiliki titik terang dalam kerumitan hubungan mereka.

Dengan berani Sungra menatap Sehun dengan seluruh kekuatan hatinya.

“Ceraikan aku.”

TBC

Maaf atas keterlambatannya, banyak tugas dan TO juga. Sengaja dibuat agak panjang, anggap sebagai permintaan maaf ya. Pilihan kemarin itu untuk nentuin alur.

Kai-Hyera sama Yeon-Yeol mau gimana nih ke depan? Atau sesuai kemauanku ajaa?

Coba kasih aku kritik dan komentar supaya kedepannya aku bisa memperbaiki tulisanku, komen pendek juga gak masalah. Komentar kalian yang ngasih aku semangat. Aku juga gak mau mempersulit pembaca yang mau meluangkan waktunya untuk mampir ke cerita jelekku ini. Lebih tepatnya aku terlalu malas untuk ngasih password dan bikin kalian ribet sendiri.

Terimakasih untuk apresiasinya. Ceritaku memang banyak kekurangan. Sekali lagi makasih//

148 thoughts on “Sehun, I’m Pregnant (Chapter 8)

  1. ngikutin cerita ini dari awal sampe lupa karena authornim updatenya kelamaan….tapi terbayar dengan membaca lagi chapter ini…..sampe hati ini sakit saat bacanya….hahaha terlalu menghayati menjadi sungra.
    keep writing authornim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s