LOVE KILLER Part 6

img_2233

Title                     :  LOVE KILLER

Cast                     :

         Kim Joon Myun/Suho ( EXO )

         Do Kyungsoo ( EXO )

         Kim Sooyong ( OC )

         Kim Jisoo ( Actor )

         Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 :  Chapter

Rating                  :  T

Genre                   :  School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

( Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts  

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

Setelah Sooyong memastikan bahwa Ibu sudah berangkat kerja, dia membawa Jisoo keluar untuk menikmati sarapan sebelum pergi ke sekolah.

 

Seragam Jisoo masih disetrika oleh bibi yang bekerja dirumahnya. Sooyong berpesan padanya untuk tidak memberitahu Ibu soal keberadaan Jisoo.

 

Jisoo menunggu di ruang tv sambil menikmati sarapan lalu Sooyong datang membawa seragamnya.

 

“Kau tidak apa-apa datang ke sekolah dengan wajah seperti itu?” tanya Sooyong.

 

Jisoo meminum susunya dan memakan sepotong roti panggang. “Tidak apa-apa. Ini bukan pertama kalinya aku datang ke sekolah dengan wajah penuh luka” jawabnya dengan ekspresi datar.

 

Kemudian tanpa mereka sadari, Nyonya Choi masuk untuk mengambil dokumen penting.

 

“Ibu” Sooyong berdiri ketika Ibunya kaget melihat Jisoo.

 

“Jisoo, apa yang kau lakukan disini?” tanya Nyonya Choi heran.

 

Jisoo terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.

 

“Jisoo datang untuk berangkat bersamaku, Bu. Motornya sedang diperbaiki jadi-“

 

“Kalau begitu cepat selesaikan sarapan kalian. Ibu akan mengantar kalian berdua ke sekolah!”

 

Sooyong mengangguk lega karena Ibunya tidak curiga sama sekali.

 

 

 

…………………………………………………………

 

 

 

Sooyong dan Jisoo jalan bersisian memasuki gedung sekolah. Mereka tidak canggung menunjukkan kedekatan. Lagipula seluruh Genie memandang mereka sebagai putri yang dikawal oleh penjaganya. Jadi kedekatan mereka tidak berkesan aneh. Keduanya bersyukur tidak ada yang menyadari perubahan dalam hati mereka yang kini telah menyatu.

 

Sooyong melihat HyeRa berjalan tidak jauh didepannya. Gadis itu nampak aneh, jalannya tidak bersemangat. “HyeRa” panggilannya membuat gadis itu berhenti lalu berbalik.

 

HyeRa menunggu Sooyong dan Jisoo.

 

“Sejak kapan kau pakai kacamata?” tanya Sooyong setelah dia disebelahnya. Mereka pun jalan bertiga.

 

“Ini untuk menutupi garis hitam dibawah mataku” dia gerakan kacamatanya, “Aku kurang tidur semalam. Ahh, kepalaku pusing” jalannya semakin gontai.

 

“Jam berapa kau tidur?”

 

“Jam tiga pagi. Aku harus menemani HyeJin menonton pertandingan bola. Dia memaksaku karena dia pasti dimarahi Ibu telah melewati jam malam”

 

“Sekarang kau sering membicarakan HyeJin” ucap Jisoo.

 

“Sejak insiden itu kami jadi dekat”

 

“Kalau begitu kau harus berterima kasih pada Suho”

 

“Ya, dikehidupan berikutnya saat aku terlahir sebagai tyranosaurus!”

 

Sooyong menangkap Jisoo yang menahan ekspresi untuk tidak tertawa. Rasanya menyebalkan melihat keakraban Jisoo dengan wanita lain.

 

“Sepertinya tidak hanya aku dan HyeJin yang semakin dekat, kalian juga”

 

“Ha?” Sooyong menoleh dengan wajah polosnya.

 

“Aku ucapkan selamat untukmu, Bokdong” serunya bersemangat.

 

“Tutup mulutmu” sebisa mungkin Jisoo menahan diri untuk tidak tersenyum. Walaupun dalam hati dia merasa senang ada yang menyadari perubahan mereka.

 

“Kau mendapatkan laki-laki yang luar biasa, Soo” HyeRa mengacungkan satu jempolnya.

 

“Kau berlebihan” Sooyong tersipu malu.

 

“Yah, tidak ada kata sangat untukmu Bokdong, karena yang sangat luar biasa itu tentu saja Ayahku”

 

“Apa otakmu semakin terganggu karena kurang tidur, murid baru?”

 

“Jangan memanggilku seperti itu! Terdengar sangat menyebalkan karena mereka terus memanggilku dengan sebutan murid baru”

 

Jisoo hanya menggeleng terserah.

 

“Oiya, kudengar Ayahmu kembali ke Korea minggu depan” HyeRa teringat sesuatu.

 

Sooyong mengangguk, “Aku akan menemuinya begitu Ayah sampai” dengan membayangkan Ayahnya saja Sooyong sudah merasa senang.

 

“Kuharap Ayahmu bisa menyelesaikan masalah dan kalian bisa bahagia” goda HyeRa. Dia senggol lengan Sooyong hingga tubuhnya mengenai tubuh Jisoo. “Aigoo~ manis sekali” ejeknya dengan senyum kecil.

 

Sooyong dan Jisoo saling memandang lalu mereka ikut tersenyum. Mereka bertiga tertawa mendapati kebahagiaan yang keduanya tengah rasakan.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

Namun kebahagiaan itu redup begitu Sooyong melihat Kyungsoo yang kini berdiri didepan kelasnya. Langkah Sooyong terhenti begitu pula dengan Jisoo. HyeRa yang tidak tahu apa-apa hanya diam dengan seribu pertanyaan diotaknya. Apalagi begitu dia melihat Kyungsoo merangkul pundak Sooyong dengan lembut.

 

“Lama tidak bertemu, Soo” Kyungsoo tersenyum kearah gadis itu yang sama sekali tidak direspon apa-apa. Gadis itu malah menatap kearah lain. Dia tidak suka melihat senyum Kyungsoo yang merupakan pertanda buruk baginya.

 

“Kau baik-baik saja? Apa semalam orang suruhan Hanbin melukaimu?” tanya Kyungsoo sambil membelai mesra rambut Sooyong.

 

Sooyong menggeleng sambil menatap kearah Jisoo yang juga menatapnya dengan wajah ditekuk. Dia cemburu melihat perhatian Kyungsoo walaupun Sooyong tidak menginginkannya.

 

Kemudian pandangan Kyungsoo beralih kearah gadis yang berdiri disebelah Jisoo. Dia merasa asing, “Pacarmu?” tanyanya langsung dan tanpa menjawab Jisoo membawa HyeRa masuk ke kelas.

 

Banyak yang ingin HyeRa tanyakan, tapi tatapan Jisoo memberinya jawaban bahwa dia akan menjelaskan semuanya nanti. Gadis itu menurut dan masuk kelas bersama Jisoo.

 

Sementara Kyungsoo membawa Sooyong ke taman belakang untuk bicara empat mata.

 

“Apa otakmu sudah tidak waras? Berani sekali kau ingin membatalkan pertunangan” belum juga sejam sikapnya berubah menjadi kasar. Laki-laki dihadapannya ini tidak jauh berbeda dengan seorang psychopat.

 

“Kenapa kita harus melanjutkannya? Kau dan aku tidak saling menyukai”

 

Kyungsoo menarik sudut bibirnya yang terlihat jahat dimata Sooyong. “Aku tidak menerima alasan seperti itu. Ingat Kim Sooyong, seharusnya kau berterima kasih padaku. Akulah yang membuatmu bisa bertahan di Genie”

 

“Aku sudah tidak peduli dengan statusku di Genie. Aku hanya ingin pertunangan ini batal. Sudahlah, Kyungsoo, jangan membohongi perasaanmu sendiri. Bukankah kau menyukai Lena”

 

“Jangan pernah menyebut namanya, Soo! Aku tidak mau membahasnya lagi!” bentaknya membuat gadis itu takut.

 

“Terserah. Aku tidak peduli” merasa ucapannya telah selesai. Sooyong ingin segera pergi. Dia tidak tahan berlama-lama dengan Kyungsoo.

 

“Jisoo kan” ujarnya dan mau tak mau gadis itu kembali menoleh. Dia tidak menyela omongan Kyungsoo. Dia menunggu sampai Kyungsoo menyelesaikan kata-katanya, “Jangan pikir kalian berdua bisa membodohiku. Aku tidak akan tinggal diam membiarkan Jisoo memilikimu. Dia hanyalah seorang anjing penjaga yang bertindak sesuai dengan apa yang aku suruh. Pada akhirnya Jisoo akan kembali pada tuannya, yaitu aku!”

 

Sooyong tidak bicara lagi. Dia lelah dengan perdebatan yang tak berujung. Kali ini Sooyong tidak akan takut. Lagipula sebentar lagi dia akan bertemu dengan Ayahnya.

 

“Baiklah, kita lihat seberapa jauh kau bisa melakukannya” Sooyong tersenyum sinis dan berlalu pergi meninggalkan kemarahan yang memuncak dalam dirinya.

 

 

 

………………………………………………………….

 

 

 

Suho menghalangi jalan Jisoo yang memegang lengan HyeRa. Dia melirik pegangan itu. Jisoo yang sadar menurunkan tangannya ketangan HyeRa kemudian dia genggam. Dia menantangnya.

 

Suho mengeram. Dia menatap tajam Jisoo, “Hh, kau masih berani? Kyungsoo akan menghancurkanmu”

 

“Kenapa justru kau yang terlihat takut? Bukankah aku yang akan mati” Jisoo tersenyum miring. Dia tidak akan mengalah. Dia tidak mau kembali diinjak apalagi oleh Suho.

 

“Lepaskan tangannya” geram Suho menahan marah.

 

Jisoo langsung saja melepaskan tangan HyeRa. Dia angkat tangannya, “Meski aku melepasnya, kau tidak akan bisa menggenggamnya” dia berlalu setelah menembak tepat pada sasaran.

 

HyeRa melihat Suho bingung. Dia tahu hubungan mereka tidak baik. Bahkan menurutnya hubungannya dengan siapapun tidak ada yang baik. Tapi kenapa dia merasa Suho marah kepada Jisoo karena dirinya. “Kau baik-baik saja?” Pertanyaan HyeRa mengagetkan Suho. Gadis ini bicara padanya.

 

Karena tidak mendapat tanggapan apapun selain tatapan kosong, HyeRa pun berlalu menuju kursinya. Suho masih mencerna apa yang baru saja terjadi. HyeRa, dia bertanya padanya.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

“Apa maksud Ayah? Kenapa aku harus datang dan meminta maaf pada keluarga Shin?” Suho menerima telpon dari Ayahnya. Dia berada di taman belakang.

 

“Kau sudah mengganggu putra mereka. Kau harus minta maaf hari ini juga. Jangan membantah! Bawa semua temanmu yang terlibat dan membuat kekacauan. Kenapa kau suka sekali membuat masalah, Joon Myun! Kau tahu siapa keluarga Shin? Bahkan keluarga kita bisa terusir dari negara ini jika bermasalah dengan mereka!”

 

Suho diam seribu bahasa. Dia tidak menyangka kalau keluarga HyeRa mempunyai kekuasaan begitu besar, “Baik, Ayah” dia pun menurut.

 

“Bukankah kau sekelas dengan putri keluarga Shin. Jangan lupa untuk meminta maaf padanya juga. Ingat, Joon Myun, jangan mencari masalah dengannya lagi” Ayah menutup telpon begitu ucapannya selesai.

 

Suho mengusap wajahnya. Dia kesal sekaligus sedih. Dia tidak mau meminta maaf tapi dia akan dihajar Ayahnya jika dia tidak melakukannya. Dia menendang batu kecil dikakinya.

 

“Kau sudah gila?” pertanyaan yang dulu pernah dilontarkan Suho kini berbalik padanya. Dilihatnya HyeRa mendekat. “Kau kacau sekali. Apa sebaiknya aku pergi?”

 

“Kalau kau berniat menggangguku, kau datang diwaktu yang tepat!” jawabnya kasar.

 

“Apa yang barusan Ayahmu?”

 

Suho tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

 

“Ibuku benar-benar melakukannya” gumam HyeRa, “Sudahlah. Tidak perlu kau pikirkan, aku sudah bicara dengan HyeJin dan kepala sekolah. Kami hanya perlu meyakinkan Ibuku”

 

“Aku tidak butuh bantuanmu” balasnya tidak suka. Harga dirinya semakin tercoreng.

 

“Ya~ Kalau kau bersikeras aku tidak akan memaksa. Aku sarankan, jangan datang ke rumah jika kau tidak mau mati ditangan Ibuku. Seharusnya kau tahu, kalau kau menyentuh Adikku itu sama saja kau mendekati kematian. Ibuku tidak sebaik wajahnya yang rupawan. Bokdong tidak mengatakannya padamu?”

 

Suho diberi banyak kejutan oleh HyeRa. Sejauh mana gadis ini tahu.

 

“Tapi jangan menyalahkannya, tidak ada yang tahu kalau Adikku itu sangat disayang oleh Ibunya, bahkan sampai mengabaikan putrinya sendiri” dia tersenyum kecut. “Dan satu lagi, kau harus membujuk kepala sekolah. Sebenarnya Ibuku ingin membuatmu masuk dalam daftar hitam, tapi aku membujuknya agar kau hanya diberi skorsing. Tapi kepala sekolah justru ingin mengeluarkanmu” dia mengangkat bahu.

 

“Kau sudah selesai?”

 

“Kau ingin mendengar yang lain?”

 

“Omong kosong! Aku tidak akan meminta maaf kepada siapapun kau dengar itu!”

 

HyeRa menghela nafas. Dia menatapnya prihatin. “Jika kau terus keras kepala. Ayahmu sendiri tidak bisa membantu” setelah itu dia pergi.

 

Suho menatap punggung HyeRa yang menjauh dengan perasaan berkecamuk. Dia tidak tahu lagi. Sebesar itukah kesalahannya. Dia bahkan tidak melukai HyeJin sedikitpun.

 

 

 

………………………………………………………..

 

 

 

Dalam perjalanan menuju kelas, Suho dipanggil kepala sekolah. Saat memasuki ruangan, dia melihat Xiumin dan Chen duduk dihadapan kepala sekolah. Mereka akan ditanya perihal kasus HyeJin. Mereka pun menjelaskan semuanya.

 

Dengan berbagai pertimbangan serta permintaan HyeRa, hukuman Suho, Xiumin, dan Chen adalah membantu pekerjaan para guru selama satu minggu. Kepala sekolah tidak bisa memberi sanksi berat melihat kekuasaan yang dimiliki Ayah Suho. HyeRa juga meyakinkan kepala sekolah bahwa yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Dia juga akan bicara pada Ibunya agar tidak menimbulkan masalah untuk sekolah.

 

Suho meremas buku yang ada ditangannya. Dia merencanakan sesuatu. Setelah urusan dengan kepala sekolah selesai, dia dipanggil Shindong yang tidak bisa masuk kelas. Mereka diberi tugas.

 

Suho bingung dengan perasaannya sendiri. Dia marah, tapi dia tidak bisa melampiaskannya. Dia tidak boleh gegabah, Lawannya memiliki induk yang kuat. Dia sendiri ingin memperbaiki hubungannya dengan HyeRa. Mungkin Xiumin benar, dia harus mengubah triknya.

 

Suho telah dibuat kacau oleh murid baru yang belum lama dia temui. Mereka tidak saling mengenal. Sampai sekarangpun tidak ada hal baik yang terjadi diantara mereka. Tapi Suho ingin menguasai gadis itu seorang diri. Dia tidak suka gadisnya diganggu orang selain dirinya. Hanya Suho yang boleh menyentuh HyeRa.

 

Suho memasuki kelas yang disambut ketenangan oleh seluruh murid. Semuanya fokus memperhatikan ketua kelas yang mereka yakini akan memberi pengumuman.

 

Suho melihat meja yang berada ditengah barisan kedua dimana matanya mengarah kepada gadis yang menyenderkan kepalanya di meja. Gadis itu tidur?

 

Suho tidak berkomentar apa-apa.

 

“Shindong-sam memberi kita tugas kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari dua orang. Aku akan menyebutkan nama-namanya. Suho dan HyeRa” dia melihatnya tapi tidak ada tanggapan. “Kyungsoo dan Sooyong. Xiumin dan Minji. Sehun dan Haneul. Kai dan Seulgi. ………. Bokdong dan Syuhan” lanjutnya menyebutkan seluruh kelompok yang dia bagi sendiri.

 

“Selama dua jam pelajaran buat rangkuman mengenai perkembangan seni musik lalu berdiskusi dengan teman kelompok kalian dan buat kesimpulan. Materi boleh dicari dari berbagai sumber jadi kalian dibebaskan pergi ke perpustakaan atau lab komputer. Kalau semuanya sudah mengerti mulai kerjakan tugas kalian”

 

Begitu Suho menyelesaikan kalimatnya, seluruh murid mengambil buku dan alat tulis lalu berbaur dengan teman sekelompoknya.

 

Sooyong terdiam dikursinya. Suho pasti membagi kelompok ini dengan sengaja. Shindong biasa membebaskan muridnya jika memberi tugas. Dia enggan berduan dengan Kyungsoo.

 

“Kita ke perpustakaan” ucapan laki-laki yang telah berdiri disampingnya entah sejak kapan membuat Sooyong mau tak mau berdiri. Dia membawa bukunya dengan malas.

 

“Aku mengandalkanmu, Haneul” Sehun senang satu kelompok dengan gadis kutu buku seperti Haneul. Dia tidak perlu bersusah payah. Haneul yang akan mengerjakan tugas mereka.

 

“Yak! Oh Sehun! Kalau kau tidak berkontribusi dalam tugas ini dan melampiaskan semuanya kepada Haneul, aku akan mengadukanmu pada Bibi” ancam Minji.

 

“Cih!” Sehun berlalu meninggalkan keduanya. Rencananya gagal.

 

“Ma-maaf” Syuhan menghampiri Jisoo dengan wajah pucat, “Kita mau mencari bahan dimana?”

 

Jisoo melihat Syuhan dengan ekspresi datar membuat Syuhan semakin takut. “Berhenti menatapku seperti itu. Aku tidak akan memakanmu”

 

Mata Jisoo menangkap kehadiran Suho yang berhenti disebelah meja HyeRa. Jaraknya dengan meja gadis itu hanya dipisahkan satu meja.

 

“Ya! Kau mati?” Suho memanggil HyeRa.

 

“Jangan mengganggunya. Biarkan dia tidur”

 

“HyeRa hanya tidur 2 jam semalam. Sepertinya dia kelelahan” tambah Syuhan.

 

Setelah saling beradu pandang dengan Suho, Jisoo melangkah pergi. Syuhan mengikuti dibelakang. Kini hanya ada Suho dan HyeRa dalam kelas.

 

Suho mendengus sebal. Siapa dia berani mengaturnya dan HyeRa.

 

“Yak!” dia menggoyang meja HyeRa lebih keras.

 

“Nggggg. Oppa, berikan aku waktu lima menit lagi” HyeRa bergumam dengan mata tertutup.

 

“Oppa?” Suho aneh. Sejak kapan dia dipanggil Oppa. Apa gadis ini sudah gila. Dia memutari mejanya. Dia duduk dikursi Syuhan yang berada disebelah HyeRa. Kini dia bisa melihat wajahnya. Cantik sekali. Dia tersenyum seketika.

 

HyeRa nampak damai dalam tidurnya. Walaupun matanya tertutup kacamata. Tapi pesona HyeRa tidak berkurang sedikitpun.

 

Cahaya matahari yang menembus jendela nampak mengganggu kenyamanan HyeRa. Matanya mengernyit karena silau. Suho langsung bangun, dia tarik meja Syuhan agar memberi jarak dengan meja HyeRa. Setelah itu dia duduk diatasnya. Dia halangi sinar matahari yang menyilaukan dengan tubuhnya. Dia perhatikan lagi wajah HyeRa. Matanya tidak lagi merasa terganggu. Suho kembali tersenyum. Dia keluarkan ponselnya. Dia ambil potret HyeRa lalu menjadikannya sebagai wallpaper. Dia tersenyum puas.

 

Dia mainkan ponsel selama HyeRa tidur. Dia biarkan gadisnya beristirahat. Dia tidak mau mengganggu mimpi indahnya. Dia berharap, semoga HyeRa memimpikannya.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

Empat puluh lima menit HyeRa tertidur. Matanya bergerak. Dia buka perlahan.

 

Dia merasakan kehadiran seseorang. Sosoknya membelakangi jendela. Dia menutupinya dari sinar mentari. Dia tersenyum, “Terima kasih, Oppa”

 

Suho yang mendengar suara HyeRa menggeser ponselnya. Dia melihatnya mengangkat kepala walau dengan setengah kesadaran. Kenapa gadis ini terus memanggilnya Oppa?

 

Suho teringat pria yang sering menjemput HyeRa. Ingatan mereka yang berpelukan berputar dalam kepalanya. Dia merengut sebal. Dia melompat turun. Jadi dari tadi yang HyeRa pikirkan adalah pria itu. Sial!

 

Dia turunkan tubuhnya. Dia tatap HyeRa dalam jarak yang sangat dekat.

 

HyeRa membuka matanya. Dia temukan bayangan seseorang dalam retina. Kesadarannya masih belum terkumpul.

 

Suho menyampirkan rambut HyeRa kebelakang telinga lalu dia angkat dagunya, “Apa sekarang kau lebih suka memanggilku Oppa?”

 

Detik pertama HyeRa masih belum mengerti. Detik kedua kesadaran HyeRa terkumpul sedikit demi sedikit. Detik ketiga dia melihat senyum jahil dengan begitu jelas diwajahnya. Detik keempat dia tersadar kalau Suho memegang wajahnya.

 

Suho semakin menarik satu sudut bibirnya.

 

“KYAAA!!!”

 

Teriakan dipintu mengalihkan perhatian Suho dan HyeRa.

 

“Ma-maafkan aku” Syuhan membungkuk cepat lalu berlindung dibalik punggung Jisoo.

 

Suho tidak berniat mengubah posisi mereka.

 

“Hh, apa kami kembali terlalu cepat” ejekan Kyungsoo terdengar begitu dia melihat apa yang terjadi.

 

Dengan enggan, Suho menegakkan tubuhnya. Dia melangkah dengan malas, “Kalian mengganggu” dia berhenti didepan. Tangannya menengadah tanda dia menunggu tugas yang harus mereka kumpulkan.

 

Kyungsoo menaruh lembaran tugasnya kemudian kembali kemejanya. Jisoo melakukan hal yang sama. Dan murid-murid lain juga sudah menyelesaikan tugasnya.

 

Syuhan menghampiri HyeRa lalu duduk disebelahnya, “Kau tidak apa-apa?”

 

Suho meliriknya dengan tatapan tajam. Syuhan diam. Dia mengajukan pertanyaan yang salah.

 

HyeRa melepaskan kacamata lalu mengusap rambutnya, “Mmm. Apa yang terjadi?” tanyanya pada Syuhan walaupun matanya menatap meja karena dia menunduk dengan kepala yang dia tahan dengan kedua tangan. Dia sedikit pusing.

 

Syuhan menggeleng. Dia tidak berani mengatakan apa-apa. Suho akan menghabisinya.

 

 

 

………………………………………………….

 

 

 

Suho dan Kyungsoo menghabiskan waktu istirahat kedua mereka di atap. Kyungsoo menyandarkan tangannya dipembatas, sedangkan Suho bersandar pada pembatas. Dua sahabat ini tengah berbagi rindu.

 

“Sekarang kau jadi lemah. Bermain dengan murid baru. Banyak gadis yang lebih cantik diluar sana”

 

“Jadi aku boleh bermain dengan Sooyong?” Kyungsoo meliriknya tajam, “Aku benar kan? Bukankah Sooyong jauh lebih cantik”

 

“Kenapa harus dia?” alih Kyungsoo. Dia tidak mau Suho mengusiknya.

 

“Dia menarik”

 

“Hanya itu? Bukan karena dia berani melawanmu?” ejeknya.

 

“Itu daya tariknya yang lain. Sudahlah, kau tidak perlu repot-repot mengurusi kami. Urus saja penjagamu yang mengigit tuannya sendiri”

 

Kyungsoo berbalik. Kini posisinya sama seperti Suho, bersandar pada dinding pembatas. Dia tersenyum miring, “Aku akan memberinya pelajaran”

 

Suho menoleh padanya. Inilah Kyungsoo yang dia kenal. Laki-laki pemilik aura yang sanggup membuat orang biasa bergidik ngeri. Suho tidak merasa takut atau segan, dia sama sepertinya. Dia juga akan mengangkat senjata jika gadisnya diambil orang.

 

 

 

………………………………………………..

 

 

 

Ketika waktu pulang tiba, Kyungsoo sudah menarik Sooyong untuk pulang bersamanya. Dia genggam gadis itu. Sooyong sudah berani membatalkan pertunangan mereka, dia harus memegangnya lebih kuat. Sooyong terus menunduk. Dia tidak suka keadaan ini. Sesekali dia melirik Jisoo yang berjalan jauh dibelakang mereka. Jisoo masih setia menjadi penjaga Kyungsoo. Dia selalu berada disekitarnya.

 

Jisoo pasti sedih melihatnya bersama Kyungsoo. Dia juga tidak suka. Dia lebih senang memegang tangan Jisoo. Dia lebih suka Jisoo yang berjalan disampingnya.

 

Sebelum memasuki mobil, Kyungsoo melihat Jisoo dan dengan matanya dia menyuruh laki-laki mendekat.

 

Jisoo melempar ekspresi dingin. Itu memang ekspresi yang biasa dia tunjukkan. Sebenarnya dia ingin sekali menunjukkan rasa tiduk suka, tapi dia tidak bisa melakukannya.

 

“Kau boleh pergi sekarang. Tidak perlu mengikuti kami. Aku yang mengantar Sooyong pulang”

 

Jisoo menatap Kyungsoo sebentar sebelum berbalik meninggalkan mereka. Sooyong meneriaki namanya dalam hati. Berharap laki-laki itu berbalik lalu membawanya pergi. “Kumohon, Jisoo”

 

“Cepat masuk” perintah Kyungsoo dengan menekan suaranya. Karena Sooyong tidak bergerak, dia menarik lengannya. Sooyong pun masuk diikuti Kyungsoo.

 

“Jangan macam-macam, Soo. Kau ingin menghancurkan dirimu sendiri” ingat Kyungsoo ketika mobil melaju.

 

“Bagian mana dari kata-kataku yang tidak kau mengerti? Sudah kubilang aku tidak peduli dengan statusku di Genie, didepan Ibuku, atau didepanmu. Aku ingin membatalkan pertunangan kita”

 

“Itu tidak akan terjadi”

 

“Aku akan membuatnya terjadi!”

 

Kyungsoo dan Sooyong saling beradu. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Sooyong sudah memutuskan. Dia tidak boleh kalah. Dia akan menjauh dari laki-laki ini, membatalkan pertunangan mereka, lalu tinggal bersama Ayah.

 

 

 

……………………………………………………….

 

 

 

HyeRa menyusuri lorong bersama Syuhan. Meski mereka belum bisa dikatakan dekat, tapi mereka sering menghabiskan waktu di sekolah. Pribadi HyeRa sulit ditebak. Kadang dia ceria, Xiumin dan Chen selalu meributkan hal kecil dengannya. Terkadang dia menjadi sangat dingin, bahkan Xiumin dan Chen langsung terdiam setelah ditatap olehnya.

 

Syuhan sudah cukup senang HyeRa mau berjalan disampingnya. Jadi dia menerima segala keanehan teman sebangkunya.

 

Seseorang berjalan dengan cepat. Syuhan yang baru ingin menengok untuk melihat siapa dia, tidak perlu lagi melakukannya karena sosok itu berhenti dihadapan mereka.

 

“Kau pulang bersamaku” titah Suho kepada HyeRa.

 

“Untuk apa?”

 

“Kita belum mengerjakan tugas Shindong-sam. Kau tidur selama pelajarannya ingat? Aku sudah minta tambahan waktu kepada Sam. Kita harus mengerjakannya malam ini”

 

HyeRa menatapnya malas lalu kembali mengangkat kaki. Dia tidak bisa menolak Suho. Jadi dia menurut dengan diam.

 

Suho tersenyum kecil mendapati sikap HyeRa yang tidak berteriak padanya. Syuhan menangkap wajah cerahnya. “Semoga berhasil” kemudian dia pergi.

 

Suho melihatnya bingung. Berhasil untuk apa?

 

 

 

 

 

tbc ~

One thought on “LOVE KILLER Part 6

  1. Aseek moment kyungsoo sama sooyongnya udah dimulai ahayyy jadi gak sabar mau baca chapter selanjutnya hehehe🙂

    ohiya ngemeng2 kenapa ya si kyungsoo gak mau ngelepasin si sooyong?
    dia suka gak sih sama sooyong?
    nah lena wanita amerika itu dia mantannya kyungsoo ya say?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s