Bittersweet : Love Letter

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Supporting Cast :

  • EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • Kim Yoonhye (masih ingat VCR EXO Wolf di Melon Music Award? *lupa tahun berapa* pokoknya dia yang jadi pasangannya Kai. Cewe ini juga jadi model MV Big Bang – Let’s Not Fall In Love sebagai pasangannya Daesung)

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chapter, currently 14

Previous chapters : The Circle | He’s My BoyfriendI Hate You | A Weird Dream | ApologyWhat IfShe’s My GirlfriendStupid, Dumb, IdiotTruth Or Dare |  Call You MineI Feel WarmFavorite Mistake | We’re Friends, Right? |

^^Selamat Membaca^^

“Aku suka Seulgi.”

Lalu hening. Hening sekali. Seulgi jadi bingung harus berekspresi bagaimana. Kaget iya, takut iya, ingin keluar saja dari sana dan mengamankan diri. Hingga tawa Jongin selanjutnya cukup membuat cair suasana kembali.

“Kenapa wajah kalian seperti itu? Aku kan hanya bilang suka. Seperti mendengarku melamar Seulgi saja. Apa kalian pikir aku gila? Dibandingkan pacarnya sekarang aku bukan apa-apa,” jelasnya diselingi tawa. “Itu sudah lama. Lagipula, siapa yang tidak suka Seulgi? Kalau pun dia putus dengan Oh Sehun sekarang, aku yakin banyak calon-calon dokter lain yang akan mengantri untuk kencan dengannya. Benar, kan? Kalian setuju, huh?”

“Aigoo, aku pikir—ah, harusnya sudah tahu kau ini namja macam apa!” Minseok mencengkeram leher Jongin seolah akan mencekiknya.

“Memang benar, sih. Namja mana yang tidak suka Seulgi. Aku juga suka,” aku Baekhyun sambil mencibir, sebelum kembali menenggak soju.

“Kalau boleh jujur, aku juga menyukai Seulgi. Tapi tenang saja, hanya sebatas suka sebagai seorang hoobae,” Siwon ikut mengaku.

“Walau aku perempuan, aku juga menyukai Seulgi,” sambung Yuri sambil terkekeh.

“Semuanya menyukai Seulgiku rupanya. Ya, ya, dia memang loveable,” kata Joohyun seraya merangkul Seulgi.

Perasaan Seulgi kembali lega. Tidak ada yang bisa dia ucapkan untuk menimpali, hanya diam saja sambil tersenyum. Sekilas lirikannya jatuh pada Jongin yang sibuk tertawa dan berusaha menghindari amukan Baekhyun, Jongdae, dan Minseok. Sepertinya hari ini dia merasa tertekan berkali-kali. Dia sangat berharap seminggu ke depan tidak akan terulang lagi.

***

Di luar dugaan, peserta pengobatan gratis membludak. Padahal ini hari pertama, tapi mereka sudah sibuk minta ampun. Tidak terbayang bagaimana sibuknya saat hari operasi gratis lusa nanti. Seulgi ikut andil dalam kesibukan di posko obat-obatan bersama Seungwan. Anggota lain telah melaksanakan tugasnya masing-masing, seperti mengurus pendaftaran dan pengisian formulir, mengantar setiap pasien untuk berpindah pos, juga menyediakan konsumsi. Tidak ada yang menganggur satu pun.

“Maaf, apa ada yang bisa bantu mengukur tekanan darah? Satu perawatnya harus kembali ke klinik karena ada urusan darurat,” Jongdae muncul dengan sebuah kabar yang tidak baik. Jelas tidak baik karena di saat sesibuk ini mereka kekurangan personil.

“Kami berdua bisa sih,” Seungwan yang menjawab, sejenak meninggalkan obat-obatan yang sedang dia bungkus. “Tapi di sini juga akan kekurangan orang.”

“Apa tidak bisa satu orang saja? Atau ganti orang. Pengukuran tekanan darah tidak bisa dilakukan sembarangan,” paksa Jongdae.

“Kalau begitu aku saja yang pergi. Seulgi lebih teliti menakar dosis dan membuat puyer*,” kata Seungwan. “Tapi siapa yang akan membantunya di sini?”

“Akan ku carikan, tenang saja. Sekarang kau ikut aku sini,” ucap Jongdae meyakinkan.

“Seulgi, aku pergi dulu ya,” pamit Seungwan.

Seulgi hanya membalasnya dengan anggukan. Memang benar kepergian Seungwan membuat pekerjaannya makin berat karena pasien begitu banyak dan otomatis obat yang harus dia siapkan bertambah. Sebisa mungkin dia menjelaskan pada para manula yang menunggu untuk bersabar, dan untungnya mereka juga tidak keberatan menunggu agak lama. Saat sibuk menggunting tablet dengan jumlah sesuai resep, pundaknya ditepuk oleh seseorang.

“Ada yang bisa ku bantu di sini?”

Well, dia memang tidak sanggup bekerja sendirian. Tapi bisakah dia mendapat partner lain? Kenapa harus Kim Jongin yang datang?

“I-itu,” dengan gugup dia menunjuk tumpukan resep dokter serta obat-obatannya. “Kau baca nama obat yang tertulis di sana, lalu ambil sesuai jumlah yang tertera. Kalau ada sediaan puyer, kau berikan padaku. Biar aku yang siapkan.”

“Siap!” sahut Jongin penuh semangat.

Apa boleh buat. Dari pada harus kerepotan dan pusing sendiri, memang harus menerima saja nasibnya bekerja seharian dengan Jongin. Awalnya masih kerepotan karena harus menjelaskan ini dan itu, tapi lama-kelamaan Jongin bisa mengimbangi. Sesekali dia bertanya apa yang dia lakukan sudah benar, dan Seulgi terus mengangguk sambil tersenyum karena Jongin cepat mengerti.

“Seulgi-ah, ini sulit dibaca.”

“Ini ketoconazole*, ambil di kotak kecil itu.”

“Seulgi-ah, ini puyer.”

“Akan ku siapkan.”

“Seulgi-ah, sepertinya aku salah gunting obat.”

“Letakkan saja di kotak yang kosong. Tidak apa-apa.”

“Seulgi-ah, ibuprofen* habis.”

“Ambil di kardus paling pojok. Masih banyak.”

“Seulgi-ah….”

“Itu sudah benar, Jongin.”

“Bukan, aku mau memberikan makan siang,” Jongin menggoyangkan onigiri tepat di depan wajah Seulgi.

“Oh… aku kira….”

“Istirahat dulu sebentar. Halmeoni dan harabeoji pasti mau menunggu kita menghabiskan satu onigiri. Makanlah,” Jongin meletakkan satu onigiri di dalam genggaman tangan Seulgi, lalu membuka onigirinya sendiri. Entah kapan Jongin menyiapkan itu untuk makan siang, Seulgi tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung melahapnya. Sepertinya sekarang dia mulai merasa nyaman bekerja bersama Jongin.

***

Tidak hanya hari itu saja dia harus bekerja di dekat Jongin. Pada hari kedua saat kegiatan penyuluhan, dia kebagian tugas menjadi salah satu pemateri dan karena pointernya tidak bekerja dengan baik, Jongin mengajukan diri untuk menjadi clicker. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengiyakan demi kelancaran presentasi.

Lalu hari ketiga saat mereka menyelenggarakan operasi gratis di salah satu desa terpencil yang lokasinya jauh dari hotel, kesulian lain terjadi. Mendadak salah satu pihak perawat mengatakan obat anestesinya habis. Tidak ada pilihan selain pergi ke rumah sakit yang berjarak satu jam dari lokasi. Seulgi yang diutus, dan entah mengapa yang ditunjuk untuk mengantarnya dengan motor adalah Jongin.

“Hanya Jongin yang pandai naik motor di jalanan yang sulit begini,” itu alasan yang diutarakan Jongdae.

Lagi-lagi Seulgi mengiyakan, dan selama 2 jam pulang pergi itu dia terus menempel dengan Jongin. Kejadian yang sama terulang pada hari keempat, kelima, dan event terakhir. Dia terus kebagian tugas yang tidak jauh dari Jongin.

***

Event-event yang diselerenggakan oleh The Circle di Pulau Jeju berjalan baik. Ini adalah malam terakhir mereka di pulau ini. Siwon memberi izin untuk bersenang-senang semau mereka sebelum esok hari kembali ke Seoul. Untuk hari ini saja mereka semua berpencar, melakukan hal yang disukai masing-masing. Terkecuali untuk yang sudah punya pasangan—seperti Seungwan dan Myungsso—mereka jalan berdua. Seulgi sendiri tidak punya rencana apa-apa, mungkin hanya mengunjungi pasar dan mencicipi jajanan di sana. Dia sudah menelpon Sehun dan menceritakan semua, juga memberi tahu bahwa mereka akan pulang besok. Sehun bertanya apakah perlu menjemputnya di bandara, tapi Seulgi menolak dengan alasan Siwon telah menyewa bus untuk mengantar mereka ke rumah masing-masing. Sayangnya, Sehun terdengar buru-buru jadi mereka tidak bisa mengobrol lama. Entah apa yang dilakukan Sehun liburan ini hingga harus terburu-buru pergi.

Dan di sinilah dia sekarang. Benar-benar sendirian berburu kuliner. Yah, jarang sekali dia memakan jajanan yang unik. Tidak perlu banyak, dia mencicipi satu porsi di setiap warung yang berjejer sepanjang pasar.

“Ahjumma, ini enak sekali aku tidak bisa berhenti makan,” pujinya saat mencicipi bungeoppang*.

“Kalau beli banyak, nanti aku beri diskon untuk gadis manis,” sahut ahjumma yang berjualan sambil terkekeh.

“Baik sekali,” Seulgi mengambil sepotong lagi. “Tapi aku hanya ingin beli untuk diriku sendiri.”

“Aku juga mau.”

Refleks Seulgi menoleh ke arah suara yang tiba-tiba datang. Perutnya mendadak terasa bergolak saat tahu itu adalah Jongin. Dia diam saja, membiarkan Jongin ikut duduk bersebelahan dengannya kemudian.

“Aigoo, tampan sekali. Andai anakku tumbuh setampan dirimu,” komentar ahjumma itu pelan. “Apa kau selalu makan sayuran dan daging yang sehat? Bagaimana bisa punya tubuh tegap dan wajah setampan ini. Aigoo.”

“Dia sukanya ayam,” sambung Seulgi pada ahjumma itu, membuat Jongin tertegun menatapnya. Seulgi yang salah tingkah pura-pura sibuk makan, tidak berani menatap balik.

“Anak muda, kalau kau beli banyak aku berikan harga khusus. Aigoo, wajahmu seperti artis di TV.”

Jongin tertawa pelan. “Iya, ahjumma. Aku beli banyak,” sahutnya sebelum kembali menatap Seulgi yang sedang makan.

“Kalian memang cocok. Jangan terlalu lama pacaran, langsung menikah saja dan punya anak yang lucu.”

“Ah—tidak! Kami tidak pacaran, ahjumma,” Seulgi segera mengkonfirmasi, takut ahjumma ini semakin salah paham.

“Tidak pacaran? Hahaha, tidak perlu berbohong. Aku tahu anak muda ini sangat mencintaimu.”

“A-apanya…?”

“Iya, cara dia menatapmu, persis seperti tatapan mendiang suamiku padaku. Itu adalah tatapan cinta. Cinta yang dalam.”

Seulgi menoleh pada Jongin, yang kebetulan juga sedang menatapnya. Itu terjadi lagi saat tatapan mereka bertemu. Jeda antara ruang dan waktu.

“Tolong bungkuskan untuk kami, ahjumma.”

Tidak terlalu lama sampai Jongin memecah bisu dengan berbicara pada ahjumma seolah tadi tidak terjadi apa-apa.

***

Jongin dan Seulgi berjalan bersisian dengan canggung. Diam, bisu, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sangat bukan suasana sepasang teman baik.

“Aku bisa bawakan kok,” tidak tahan dengan suasana diam, Seulgi mencoba menawarkan bantuan. Sedari tadi Jongin membawa sendiri semua cemilan yang mereka beli.

“Tidak perlu,” Jongin menjauhkan kantong plastik yang berisi penuh cemilan dari jangkauan Seulgi. “Ini sudah jadi tugas pria, membawakan barang milik wanitanya.”

“Oh—“ jawaban itu justru membuat Seulgi makin salah tingkah. Siapa yang Jongin maksud wanitanya?

“Sudah waktunya makan siang,” kata Jongin sebagai kode. Kebetulan mereka berada di depan sebuah rumah makan tepi pantai.

“Kau mau makan?”

“Memangnya kau tidak lapar?” tanpa meminta izin Jongin langsung menggenggam tangan Seulgi. “Ayo temani aku makan.”

Tidak bisa melakukan penolakan, akhirnya Seulgi memilih pasrah. Jongin membawanya duduk di meja kosong yang tepat berada di tengah-tengah kedai itu. Yang dia lakukan hanya melihat-lihat keadaan sekitar tanpa ada rasa tertarik untuk sekedar membaca menu. Tampaknya Jongin mengerti kecanggungan Seulgi dan akhirnya memesankan sebuah menu untuknya.

Bermenit-menit berlalu, Seulgi tetap diam. Padahal mereka duduk berhadapan dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja bundar berukuran kecil, tapi tak sekali pun terjadi adu tatap.

“Dombae gogi,” seorang pelayan menyajikan menu di meja mereka dan dalam sekejap meja kecil itu jadi penuh makanan.

“Gomapseumnida,” ucap Jongin dengan sopan pada pelayan tersebut. Seulgi hanya tersenyum sekilas tanpa berkata apa-apa, kemudian meraih sumpitnya untuk makan. “Aku tidak tahu kau suka daging atau tidak, tapi ini enak,” kata Jongin seraya menunjuk semua menu bergantian. Seulgi masih tak bersuara, fokus pada makanannya. “Rumah makan ini termasuk yang paling terkenal di Jeju karena dombae goginya,” Jongin terus mengajaknya bicara, tapi Seulgi tetap tak bergeming. “Cobalah ini,” tidak mau menyerah, Jongin mengambil selembar daun selada, mengisinya dengan daging lalu ia arahkan pada Seulgi untuk menyuapinya.

“Ya!” Seulgi langsung menepisnya. Tadinya hendak mengeluarkan kata-kata bernada emosi, tapi langsung ia kontrol. “Jangan makan sambil bicara. Aku bisa makan sendiri.”

Akhirnya selada dan daging tadi Jongin letakkan kembali sambil tertawa miris. “Kenapa seperti ini, Seulgi? Kau sendiri yang menyuruhku untuk baik-baik saja, tapi sikapmu malah seperti ini.”

“Kau yang membuat semuanya sulit. Aku tidak mengerti,” timpal Seulgi tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan.

“Bagian mana yang tak kau mengerti? Aku berusaha baik-baik saja dengan bersikap seperti ini sebagai temanmu. Kau mana tahu seberapa sulitnya melakukan itu.”

“Aku selesai makan,” dengan kasar Seulgi meletakkan sumpitnya di meja lalu bangkit. Sebelum dia benar-benar melangkah pergi, Jongin menahan tangannya.

“Maafkan aku. Ayolah, tadi itu… aku tidak bermaksud… jadi sebenarnya hanya….”

“Aku mau kembali ke hotel.”

“Baiklah, aku juga,” Jongin ikut bangkit, meninggalkan makanan mereka yang masih sisa banyak. Seulgi menghela nafas gusar melihat itu.

“Terserah kau saja lah,” dengan melepaskan tangan Jongin dari lengannya, ia melangkah pergi. Tentu saja Jongin mengekorinya sambil terus mengucapkan kata maaf.

“Aku tidak bermaksud mengatakan itu, Seulgi,” tidak ada jawaban. Seulgi terus melangkah. “Aku hanya ingin menjadi teman yang baik, percayalah,” tetap tak ada jawaban. “Sungguh, sesulit apa pun tetap ku usahakan untuk membuat semua baik-baik saja seperti semula. Kau hanya perlu bersikap seperti biasanya, anggap aku seorang teman. Apa yang salah dengan itu, Seulgi?”

Sambil terus melangkah, sebenarnya Seulgi menyimak baik-baik setiap ucapan Jongin. Kalau dia pikirkan lagi, memang ada benarnya. Mungkin saja dia yang terlalu berlebihan karena masih trauma. Bisa saja Jongin memang hanya berniat untuk menjadi teman seperti yang lain. Move on bukan berarti harus saling menjauhi, apalagi saling membenci. Harusnya dia bisa bersikap lebih dewasa tentang ini.

“Baiklah, aku minta maaf.”

Terdengar helaan nafas lega dari Jongin. “Teman akan selalu memaafkan. Aku hanya minta kau jangan terlalu jutek padaku. Itu mengerikan,” suaranya terdengar lebih tenang.

“Iya, aku akan bersikap seperti teman pada umumnya,” sahut Seulgi tanpa berbalik, masih melangkah di depan Jongin.

“Tentu saja,” Jongin berlari kecil hingga kini ia berada di hadapan Seulgi, berjalan mundur. “kita adalah teman baik,” dia tersenyum lebar.

“Kau bisa jatuh karena tersandung atau menabrak orang. Aku tidak akan menolongmu,” kata Seulgi datar.

“Mau makan eskrim bersama? Tadi kita terburu-buru dan lupa makanan penutupnya,” senyum lebar Jongin masih tertempel di wajahnya. Seulgi tidak bisa menahan tawa kecilnya, entah mengapa. Setidaknya perasaannya lebih tenang sekarang.

“Baiklah, tapi kau yang traktir.”

“Tidak adil. Tadi dombae gogi aku yang bayar dan malah tidak kau habiskan,” protes Jongin.

“Siapa suruh membayariku,” kata Seulgi tak acuh.

“Harga eskrim tidak semahal makanan tadi.”

“Dimana-mana, pihak yang mengajak yang bayar.”

“Arasseo, arasseo!” sahut Jongin akhirnya. “Aku yang bayar semuanya. Aish,” dengusnya, lalu membalikkan badan untuk berjalan normal. Kali ini dia tidak menyamakan langkahnya dengan Seulgi, membiarkan gadis itu berjalan pelan di belakangnya karena diam-diam dia tersenyum kecil.

***

Seulgi dan Jongin berjalan kembali ke hotel sore hari, tepatnya saat senja menjelang. Melihat langit jingga yang mulai memerah, rasanya sayang untuk dilewatkan. Selama seminggu di Pulau Jeju kegiatan mereka terlalu padat, belum sempat melihat sunrise atau sunset sekali pun. Jongin jadi punya ide.

“Seulgi-ah, mau foto dengan latar matahari terbenam? Kita saling foto bergantian,” ajaknya.

Sekilas Seulgi melihat ke arah langit pantai, kemudian mengangguk. “Boleh.”

Maka Jongin menggandeng tangannya ke pantai sehingga bisa melihat mentari senja lebih dekat.

“Kau duluan, aku akan memotretmu dengan kameraku.”

“Tidak, pakai ponselku saja,” Seulgi merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.

“Kameraku lebih bagus, nanti aku kirim.”

“Ya sudah,” Seulgi pun urung mengeluarkan ponselnya kemudian berdiri membelakangi langit senja. Kakinya terasa geli merasakan ombak kecil yang sesekali menggelitik.

“Katakan kimchi!”

Pertama Seulgi melakukan v-sign dan tersenyum lebar, membuat matanya melengkung ikut tersenyum.

“Yaaa! Matamu hilang kemana?” canda Jongin saat melihat hasil foto tadi.

“Jangan banyak komentar, ayo foto lagi!” sahut Seulgi sebal.

“Iya, satu lagi. Katakan kimchi!”

Kemudian Seulgi berpose dengan mata tertutup. Selang beberapa detik ia membuka matanya lagi. “Sudah kan? Aku mau lihat hasilnya.”

“Sebentar,” diam-diam Jongin mengambil banyak foto lagi. Seulgi tidak sadar, menunjukkan ekspresi natural yang menurut Jongin imut dan… cantik.

“Kameramu rusak karena memotretku? Hey, kenapa tidak jawab?” Seulgi pun berjalan menghampirinya.

“Selesai, giliranku,” saat Seulgi tiba di hadapannya, Jongin langsung menyerahkan kameranya dan berlari untuk mengambil posisi nyaman berfoto.

“Jangan menunjukkan ekspresi berlebihan. Itu jelek,” ejek Seulgi saat Jongin mulai berpose.

“Kau tinggal foto saja, cerewet sekali,” keluh Jongin sebelum memulai pose baru.

Seulgi tertawa kecil setiap kali mengambil foto Jongin, sementara matahari makin turun. “Nih, sudah.”

Jongin berlari kecil kembali pada Seulgi untuk melihat hasilnya. “Rasanya sayang ya kalau tidak foto berdua. Lihat, langitnya indah sekali,” tunjuknya ke arah horison pantai.

“Tapi siapa yang mau fotokan?”

“Coba foto sendiri dulu,” seketika Jongin merangkul Seulgi dan melakukan selfie.

“Aku belum siap….”

“Ulang. Senyum!”

Kali ini Seulgi tersenyum ke arah kamera.

“Kalau begini hanya kita yang kelihatan, senjanya tidak,” komentar Seulgi saat melihat hasil selfie mereka.

“Aku segera kembali!” Jongin melesat meninggalkan Seulgi yang awalnya mau protes. Tapi saat dilihatnya Jongin menghampiri turis yang lewat, dia pun mengerti maksudnya. Maka dia menunggu Jongin kembali dengan turis itu. “Dua atau tiga foto saja cukup,” kata Jongin pada orang yang dimintai tolong.

“Baiklah,” orang yang memegang kamera milik Jongin, menunggu mereka berdua melakukan pose. “Satu, dua….”

Jongin merangkul Seulgi seperti tadi dan tersenyum lebar, begitu juga dengan Seulgi.

“Tiga!”

Turis itu mengambil foto mereka berdua, ikut tersenyum saat di foto terakhir melihat tingkah Jongin. Dia tidak tersenyum ke arah kamera seperti foto sebelumnya, malah menatap Seulgi dari samping seolah senja berada di wajahnya. Seolah Seulgi adalah dunianya. Tentu saja Seulgi tidak menyadari itu.

“Gomapseumnida,” ucap Seulgi sambil membungkuk sopan setelah mereka selesai difoto.

“Bukan apa-apa,” turis itu menyerahkan kamera Jongin kembali, lalu berbisik. “Semoga hubungan kalian bertahan selamanya.”

Mendengar itu, Jongin hanya bisa tersenyum. Entah senyum miris atau senang. Dalam hati mengamini doa orang asing tersebut.

“Ayo kembali ke hotel, sudah makin gelap,” ajak Seulgi.

“Ayo. Fotonya aku kirim besok saja ya.”

“Iya, kapan saja.”

Mereka berjalan bersisian ke hotel. Jongin sibuk melihat-lihat hasil foto mereka tadi, sementara Seulgi hanya fokus ke jalanan. Tidak ada obrolan yang terjadi hingga mereka tiba di hotel.

“Seulgi-ah!” ternyata ada beberapa teman mereka yang juga baru pulang. Jongdae yang memanggil Seulgi berlari kecil ke arahnya. “Kebetulan bertemu di sini. Kalian baru pulang?”

“Begitulah,” Jongin yang menjawab.

“Ada surat untukmu,” ucap Jongdae sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna merah jambu pada Seulgi.

“Surat apa ini….?”

“Mungkin surat penggemar,” goda Jongdae sambil terkekeh.

“Masih jaman surat-suratan,” timpal Baekhyun dari belakang Jongdae. “Ayo naik.”

“Setidaknya bilang terima kasih karena aku jadi tukang pos dadakan,” kata Jongdae.

“Oh iya, terima kasih,” ucap Seulgi sambil tertawa kecil. “Aku hanya sedikit kaget,” tambahnya.

Mereka berempat, Jongin, Seulgi, Jongdae, dan Baekhyun naik lift bersamaan. Seulgi menatap amplop itu selama berjalan ke lantai atas.

***

Setibanya di kamar, Seulgi tak langsung membaca suratnya. Dia letakkan dulu di atas nakas. Setelah membersihkan diri dan berkemas untuk besok, barulah ia membuka dan membacanya dengan tenang.

 

Even if I’m not a good talker, please understand me

I will tell you all of the truth that I’ve been keeping

 

Isinya seperti sebuah puisi, terdiri dari beberapa bait dengan kata-kata yang indah.

 

Do you remember the day we first met?

Your pretty lips smiled at me

 

Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.

After that day, I was determined
That I never want to lose you from my embrace
That I will go till the end

Saying I love you with words might not be enough but still I will confess to you today

I wanna be with you, always from a step behind you
Don’t forget there’s a person who will protect you

After I met you, I found something to do
It is to make you smile all day, every single day

There might be times when I’m really busy but
In my head, there are only thoughts of you

When you tell me to cheer up
When your eyes are looking at me
Those things make me exist right now
I have nothing else to tell you but I love you

Thank you so much for waiting for me till the end
For looking at me without shaking

Lean on me, believe in my love
Let’s be together for always, forever

I love you, I need you.
I love you, I need you.
It’s only you for always

Stay by my side, I’ll comfort you
Let’s love as if the world stopped like this

Thank you for being you

(VIXX – Love Letter)

Setelah membaca isi surat berulang kali—karena begitu manis sampai rasanya tak bisa berhenti tersenyum—Seulgi membolak-balik amplop untuk mencari nama. Tapi tidak ada nama pengirimnya. Sebenarnya tidak perlu juga, karena dari isinya saja dia sudah bisa menebak siapa pengirimnya.

[Text to Sehun]

Kau mau aku spasme otot pipi karena tersenyum terus? Suratnya sangat manis.

Selesai mengirim, Seulgi kembali membaca surat itu sambil menunggu balasan. Tapi selang setengah jam dia membaca, tidak ada balasan dari Sehun. Padahal ini sudah hampir jam 11 malam, biasanya Sehun sudah pulang.

“Dia ketiduran lebih awal?” gumam Seulgi sambil membuka dan menutup inboxnya berulang-ulang. Tidak ingin terlalu memusingkan soal waktu tidur Sehun yang tidak biasanya, Seulgi pun meletakkan ponsel di nakas dan menarik selimut sebatas dada. Surat manis itu ia peluk sampai tertidur.

***

Sampai esok paginya saat turun untuk menunggu bus pulang pun Seulgi masih senyum-senyum sambil memegangi amplop merah jambu itu. Rasanya enggan dilepas dan setiap kalimat yang tertulis di sana nyaris dia hafal secara sempurna. Sehun belum membalas pesannya padahal sudah jam 10 pagi sekarang. Tapi dia tak terlalu ambil pusing dengan itu. Toh beberapa jam lagi mereka akan bertemu.

Usai mengembalikan kunci, dia mengekori rombongan The Circle keluar hotel. Sudah ada bus yang menunggu mereka, jadi tinggal naik. Seulgi yang memang suka duduk di dekat jendela langsung mengambil baris ketiga sebelah kanan setelah meletakkan bawaannya di bagasi atas. Yang lainnya pun satu per satu mengambil tempat duduk.

“Sudah masuk semua?” tanya Siwon sambil mengecek wajah mereka satu per satu.

“Belum, tinggal Jongin,” sahut Yuri dengan lembaran absen di tangannya. Dia bertugas mengabsen nama mereka semua untuk memastikan tidak ada anggota yang tertinggal.

“Aku di sini. Maaf, tadi bangun kesiangan,” suara Jongin terdengar seiring dengan langkahnya menaiki bus, mencari tempat duduk. Tak disangka, dia mendekat ke kursi kosong di sebelah Seulgi yang tak terjamah oleh siapa pun. “Aku duduk di sini ya. Hanya sampai bandara kok,” ucapnya, meminta persetujuan Seulgi.

“Iya, duduk saja,” berhubung suasana hatinya sedang baik, dia tidak terlalu peduli siapa yang duduk dengannya. Tangannya masih memegangi surat kaleng yang membuatnya terus tersenyum.

“Warnanya bagus,” kata Jongin tepat saat bus mulai melaju.

“Warna apa?” Seulgi yang tadinya memandangi view di luar jendela menoleh pada Jongin.

“Itu,” tunjuk Jongin pada amplop di tangan Seulgi. “surat.”

“Oh, ini,” senyum Seulgi makin lebar. “Ini surat cinta.”

“Benarkah?” senyum Jongin ikut merekah. “Apa kau suka membaca isinya?”

“Sangat suka. Hampir tidak tidur semalaman karena membaca ini terus. Sepertinya aku hafal setiap kata,” cerita Seulgi dengan senyum yang tak mau hilang.

“Baguslah, kalau kau suka. Apa kau tahu siapa pengirimnya?”

“Tentu saja tahu. Memang tidak ada namanya, tapi dari isinya saja aku tahu ini dari Sehunku,” jawab Seulgi mantap.

“Sehunmu?” Jongin tidak tersenyum lagi. “Oh… jadi menurutmu itu dari Sehun?”

“Benar. Kalau bukan dia siapa lagi yang bisa membuatku tersenyum semalaman?”

“Sebenarnya,” kata Jongin. “aku yang menulis surat itu untukmu.”

“Kau bilang apa?” tanya Seulgi dengan tawa ringan, tapi mendadak berhenti saat melihat raut wajah Jongin yang tampak serius.

“Kang Seulgi, itu adalah surat dariku,” ulang Jongin, kali ini berhasil membuat tangan Seulgi lemas hingga amplopnya terlepas.

Berkali-kali hatinya menyerukan kata ‘tidak mungkin’, tapi semakin dia mencari kebohongan di mata Jongin, hasilnya nihil. Jongin sendiri yang mengaku surat itu darinya. Tapi dia terlanjur mengira itu dari Sehun. Terlanjur bahagia karena dugaan penulisnya adalah Sehun. Lalu ponselnya bergetar satu kali, menandakan pesan masuk. Seulgi mengalihkan tatapannya dari Jongin ke ponsel untuk membaca pesan itu.

[Text from Sehun]

Surat apa, sayang? Aku baru saja bangun. Kau sudah berangkat? Hati-hati.

***

Kenapa dia harus merasa bersalah karena memiliki dugaan tidak tepat atas pengirim surat itu? Bukankah kemarin mereka sudah sepakat untuk menjadi teman baik saja, berarti surat cinta itu bukanlah sesuatu yang serius. Kalau memang Jongin bersungguh-sungguh mau menjadi teman baik saja, maka surat ini tak perlu diambil pusing. Namun kenyataannya hingga tiba di bandara dan naik bus lagi untuk pulang ke rumah masing-masing, dia tidak berani bicara pada Jongin. Mereka tidak duduk berdua lagi sehingga tidak ada alasan untuk mengobrol.

“Selamat menikmati liburan, Seulgi!” seru anggota The Circle serempak saat Seulgi turun.

“Iya, terima kasih atas kerja samanya,” Seulgi balas melambai dan bus kembali melaju. Dia pun masuk ke apartemennya dengan menyeret koper.

Tiba di apartemen, dia merasa malas untuk beres-beres, malah berbaring di sofa dan menyalakan televisi. Liburan yang sebenarnya baru dimulai. Dia tidak sabar untuk melakukan banyak kencan dengan Sehun.

[Text to Sehun]

Aku sudah sampai. Kau tidak mau ke sini?

Selang beberapa menit tidak ada jawaban, Seulgi pun meletakkan ponselnya dan fokus ke televisi. Tidak biasanya Sehun lama membalas pesan, terlebih ini kan liburan. Apa mungkin dia ikut kuliah sela, makanya agak sibuk?

Saat hendak ke dapur untuk mengambil makanan, yang dia tunggu sedari tadi akhirnya datang. Sehun menelponnya.

“Sayang, maaf aku lelah sekali,” terdengar suara Sehun sedang menguap. “Setelah membalas pesanmu aku kembali tidur dan baru bangun.”

Tidur? Seulgi mengernyit. Dia pikir semalam Sehun tidur lebih awal makanya tidak sempat membalas pesannya.

“Kenapa kelelahan? Semalam tidak tidur?”

“Ah itu…” Sehun menguap lagi. “Ada yang ku kerjakan semalam suntuk jadi pagi baru sempat tidur.”

“Oh…” ingin bertanya apa yang Sehun lakukan hingga mengabaikan pesannya, tapi rasanya bukan waktu yang tepat.

“Kau sudah makan?”

“Kau sendiri?”

“Aku bertanya duluan.”

“Aku sudah kok.”

“Kalau begitu aku makan dulu,” ucap Sehun sambil terkekeh. “Nanti ku telpon lagi ya. Sampai nanti.”

Ditutup. Seulgi mematung dengan ponsel menempel di telinga kanannya. Sehun bilang nanti mau telpon lagi, bukan nanti akan ke apartemen Seulgi. Apa dia tidak ingin menemuinya setelah seminggu tidak bertemu?

“Terserah saja lah,” wajah Seulgi tertekuk karena kesal. Mendadak moodnya jadi jelek. Dia berniat mengungsi ke rumah Seungwan saja untuk mengisi waktu luang liburan. Atau mungkin ikut kursus memasak, les menyetir mobil, belajar menari, pelatihan apa pun agar liburannya produktif. Dia kesal pada Sehun.

***

Malam hari yang biasanya Seulgi lewati dengan belajar, kini terasa kosong. Dia seperti pengangguran, tiduran miring di sofa melihat acara televisi yang tidak mampu menarik minatnya. Niatnya untuk ke rumah Seungwan terpaksa gagal lantaran ada Myungsoo. Oh, dia lupa sekarang sahabatnya sudah punya pacar. Jelas ke depannya akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Myungsoo dari pada dengannya.

Terdengar suara notifikasi LINE. Seulgi menjangkau ponselnya yang tergeletak di meja.

[LINE chat with Jongin]

Foto-foto kemarin

Lalu chatroom dipenuhi dnegan foto-foto mereka senja kemarin. Lumayan membuat Seulgi tersenyum. Dia menjadikan salah satu fotonya sebagai display picture LINE.

Aku cantik. Hahaha.

Apa iya?

Kau mau bilang aku jelek? -_-

Oooops

Mendadak ponselnya bergetar panjang karena telpon masuk dari Sehun. Sebenarnya masih sebal, tapi karena sedang rindu, dia pun mengangkat telponnya.

“Apa?” sengaja berbicara ketus.

“Aku sudah makan tadi.”

“Lalu?” makin ketus, karena rasa sebalnya makin parah.

“Hanya mau bilang,” dan Sehun malah tertawa.

“Ya sudah, aku tutup kalau cuma mau bilang itu.”

“Eits, sebentar,” Seulgi pun urung memutus telpon. “Coba kau buka pintu depan.”

“Kenapa memangnya? Aku malas.”

“Buka dulu. Kalau tidak, kau akan menyesal.”

“Hng…” dengan malas Seulgi berjalan ke pintu dan membukanya. “Tidak ada apa-apa. Jangan mempermainkanku. Lelah.”

“Lihat baik-baik kakimu.”

Seulgi menunduk. Ternyata ada amplop di sana, langsung dia pungut dan buka. Di dalamnya terdapat sebuah note bertuliskan “Berjalan 10 langkah ke kiri”.

“Apa-apaan?” dia mau protes pada Sehun, tapi telpon sudah terputus. “Aish!”

Ini bodoh memang. Dia mengikuti perintah konyol di dalam note. Benar-benar berjalan ke kiri sambil berhitung 1-10. Di sana ada amplop lain yang menunggu. Dia pungut dan baca lagi, isinya “Masuk lift, tekan angka 1”. Dia menurut lagi. Masuk lift dan turun ke lantai 1. Tiba di sana dia tidak menemukan amplop apa-apa, tapi ada seorang anak kecil yang datang membawa cotton candy berwarna merah muda.

“Noona, disuruh keluar dan cari topi berwarna putih,” kata anak itu.

“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Seulgi.

“Tukang jual cotton candy.”

“Hah?”

“Dah, noona!” anak kecil itu pergi begitu saja sementara dia masih melongo.

“Apa-apaan sih?” dengan menggenggam cotton candy, Seulgi pun berjalan keluar dan kembali dengan bodohnya melakukan perintah. Mencari topi berwarna putih. Tidak sulit karena memang tidak ada yang memakai topi putih selain… pemuda itu. Yang melambai dengan cengiran lebar, menggenggam cotton candy seperti dirinya. “Astaga,” Seulgi yang sedari tadi kesal dan ingin marah-marah terpaksa tersenyum karena ulah Oh Sehun. Kini pemuda itu melambai-lamabai memintanya mendekat. “Bodoh.”

“Lama sekali. Padahal hanya berjalan turun naik lift,” keluh Sehun saat Seulgi tiba di hadapannya.

“Bodoh, Sehun bodoh,” Seulgi memukuli dada Sehun, tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Sehun menahan pukulan Seulgi dan malah memeluknya erat.

“Maaf, aku lelah sekali siang tadi jadi baru bisa datang sekarang.”

“Aku pikir kau mungkin tidak merindukanku.”

“Mana ada ceritanya….”

“Memangnya apa yang kau lakukan sampai kelelahan begitu, huh?”

“Oh, sebentar, sayang,” Sehun melepaskan pelukannya secara tiba-tiba. Rupanya ada panggilan masuk ke ponselnya. Dia mengambil jarak dari Seulgi sebelum mengangkat ponselnya. “Ya? Hm… maaf ya… besok….”

Samar-samar Seulgi menangkap beberapa kata tapi tidak begitu jelas. Dia jadi penasaran itu telpon penting dari siapa sampai Sehun tidak ingin dia mendengarnya. Ah, kenapa harus begitu ingin tahu? Sehun pasti punya sesuatu yang menjadi privasi. Hanya karena dirinya adalah pacar Sehun bukan berarti harus tahu segalanya.

“Maaf, tadi temanku,” kata Sehun setelah selesai menelpon.

“Oh…” Seulgi hanya mengangguk mencoba memahami. Padahal dalam hati bergeming, ‘hanya teman tapi kenapa obrolannya rahasia sekali’. Tentu tidak ia ucapkan karena tidak mau kelihatan begitu posesif. Astaga, ada apa dengan pikirannya malam ini?

“Tidak mau duduk?”

Lihat, dia sampai lupa untuk mengajak Sehun duduk saking penuhnya pikiran dengan hal konyol.

“Kau mau naik?” dia menunjuk lantai atas, ke apartemen maksudnya.

“Tidak perlu, kita duduk di sana saja?” Sehun menunjuk sebuah tembok rendah yang bisa dijadikan tempat duduk. Seulgi mengangguk mengiyakan dan berajalan lebih dahulu ke sana.

“Kau ada kegiatan selama liburan?” tanya Seulgi, mulai memakan cotton candy di tangannya.

“Hm… ada,” jawab Sehun, juga memakan cotton candy.

“Banyak kah? Sibuk sekali?”

“Tidak juga. Tapi lumayan,” jawab Sehun sambil terkekeh.

Setelah itu Seulgi tidak mood untuk bertanya lagi. Dia jadi merasa ada sesuatu yang Sehun ingin dia tak tahu. Atau karena dia yang terlalu berlebihan berpikir. Seulgi diam, berkutat dengan pikirannya.

“Hey, kenapa diam saja?” Sehun menyikut lengan Seulgi.

“Tidak apa-apa kok,” jawab Seulgi pelan.

“Lusa nanti aku bebas. Ayo kita jalan-jalan. Kau mau ke Lotte World?”

“Kalau kau sibuk tidak usah dipaksakan,” timpal Seulgi.

“Kenapa gadisku jadi gampang marah sepulang dari Jeju?” Sehun merangkul Seulgi erat. “Aku janji lusa nanti kita jalan-jalan, sayang.”

“Seharian?”

“Sampai kau puas. Tidak puas sehari, kita menginap di sana kalau perlu.”

Seulgi tertawa pelan. “Baiklah, lusa.”

“Jangan cemberut, kurang cantik.”

“Kalau kurang cantik, kau kurang cinta?”

“Aish, pertanyaan jebakan. Aku ralat saja ya, kau selalu cantik.”

“Pembohong.”

Sehun malah mengecup pipinya. “Cerewet.”

“Sehun, ini di pinggir jalan,” Seulgi yang panik takut dilihat orang langsung memukul perut Sehun.

“Memangnya kenapa? Aku kan mencium pacarku sendiri, bukan pacar orang,” kata Sehun cuek.

“Dasar bodoh.”

Seulgi menjitak kepala Sehun cukup kuat.

***

Apa yang sedang Jongin lakukan? Dia sibuk memandangi foto-fotonya dengan Seulgi lewat laptop. Jumlahnya tidak seberapa banyak, dia terus membukanya berulang-ulang. Bahkan ada salah satu foto mereka berdua yang ia jadikan latar desktop. Dan foto lain yang ia simpan di ponsel telah dipakai untuk menjadi latar chatroom, homescreen, dan lockscreen. Mendadak semua gadgetnya penuh wajah dirinya dan Seulgi.

“Berhenti lakukan hal yang tidak berguna. Besok kau harus datang untuk kencan buta,” Chanyeol datang dengan secangkir kopi hangat, duduk di sebelah Jongin.

“Itu adalah hal yang lebih tidak berguna. Kau saja datang sendiri,” sahut Jongin malas.

“Aku sengaja mengaturnya untukmu. Kau sudah lihat foto yang ku kirim, kan? Dia tidak kalah cantik dari Seulgi.”

“Ya, ya, sudah,” Jongin mengangguk asal. Foto yang Chanyeol maksud adalah foto perempuan yang ia tunjukkan pada Seulgi saat hari pertama di Pulau Jeju.

“Kau akan menyesal kalau menyia-nyiakan gadis ini.”

“Malas.”

“Aku akan menyeretmu. Lihat saja.”

“Aku akan mengunci seluruh pintu rumah.”

“Akan ku bakar rumahmu.”

“Kriminal.”

Mereka terus bersahut-sahutan hingga Chanyeol yang tak sabar terpaksa menghantamkan bantal ke kepala Jongin.

***

Jongin tidak percaya dirinya melakukan apa yang Chanyeol suruh. Berpakaian rapi untuk melakukan kencan buta. Sama sekali bukan gayanya. Kalau saja tidak diancam akan diadukan pada ayahnya mengenai kelakuannya selama ini, pasti dia bisa meringkuk sempurna di tempat tidur atau bermain game sepuasnya. Dia masih menjaga keselamatan kartu kreditnya, hanya perlu menahan diri selama beberapa menit di hadapan seorang gadis. Ya, beberapa menit saja karena Jongin akan membuat ini berakhir lebih cepat.

“Ehem,” dia berdeham saat tiba di dekat gadis yang sepertinya sudah menunggunya cukup lama. Gadis itu menoleh dan langsung berdiri serta membungkuk, membuat Jongin mengusap tengkuknya karena merasa makin canggung. “Jangan lakukan itu, duduklah.”

Dia ingat betul bagaimana Chanyeol mewanti-wanti dirinya untuk bersikap baik.

“Ingat ya, dia ini gadis baik-baik, polos, belum pernah berkencan. Jangan sampai memperlakukannya seperti yeoja yang biasa kau ajak main di club malam.”

Mungkin tujuan Chanyeol mengatur semua ini adalah untuk menghapus Seulgi dari pikirannya. Sengaja mencari gadis yang mirip, bahkan jurusan kuliahnya pun sama. Tapi semirip apa pun wujud dan latar belakangnya, tetap saja hati Jongin tidak bergetar sedikit pun. Karena gadis ini bukanlah Seulgi.

“Kim Jongin-sshi… eum… namaku—“

“Kim Yoonhye. Aku tahu,” potong Jongin cepat. Dia tahu gadis bernama Yoonhye itu sangatlah gugup, bukti bahwa ini adalah pertama kali baginya. Walau bagi Jongin ini juga yang pertama, tapi dia sudah melakukan kencan satu malam dengan banyak gadis sebelumnya, jadi bisa bersikap biasa saja.

“Ah… ya, pasti Chanyeol oppa sudah memberi tahumu.”

“Begini, ada hal yang perlu ku perjelas. Dari cerita yang ku dengar, dan penilaian pribadiku saat pertama melihatmu, kau adalah gadis baik-baik. Sedangkan aku jauh dari kata baik. Kau cantik, pintar, dan punya sopan santun. Kau layak mendapat pria yang sebaik dirimu. Aku jelas bukan pria itu,” jelas Jongin dengan bahasa seformal mungkin. Yoonhye tampak tertegun. Matanya mengerjap polos, pasti kebingungan karena penjelasan Jongin. “Jadi sebenarnya aku datang ke sini bukan karena memang ingin melakukan kencan buta, tapi menuruti kemauan hyungku. Kau bisa memahaminya, kan?”

“Tidak apa-apa, aku juga menganggap ini sebagai… pertemuan dengan teman baru, mungkin,” kata Yoonhye sambil tersenyum. “Aku tidak seputus asa itu mencari jodoh hingga ikut kencan buta. Kedatanganku ke tempat ini juga demi memenuhi keinginan seseorang.”

Benarkah begitu? Setidaknya Jongin tidak perlu merasa khawatir akan membuat anak orang sakit hati.

“Baguslah.”

“Kita bisa mengobrol ringan seperti teman baru. Mulai dari mana ya? Kampus dan jurusan masing-masing?” tutur Yoonhye. “Aku kuliah di Universitas Hankuk, jurusan kedokteran tahun pertama. Kau?”

Lumayan juga usahanya untuk menciptakan suasana santai. Jongin menjawab pertanyaan yang Yoonhye ajukan seperlunya. Awalnya dia lebih banyak menjawab, tapi lama-kelamaan dia mulai mengajukan pertanyaan juga tentang gadis itu dan obrolan mereka makin mengalir. Kencan buta yang tadinya ingin ia buat hanya berdurasi beberapa menit malah memanjang hingga satu jam lebih.

“Kadang saking bingungnya mau belajar yang mana, aku memilih tidur. Lebih mudah dilakukan.”

“Jadi mahasiswa kedokteran bisa melakukan itu juga?”

“Jangan salah, kami juga manusia biasa.”

Jongin tertawa kecil, secara kebetulan saat itu ekor matanya menangkap sosok Seulgi di dekat pintu masuk. Salahkan posisi duduknya yang bisa melihat jelas ke arah pintu masuk. Entah dia yang terlalu percaya diri atau memang benar adanya, Seulgi juga menatap ke arahnya. Mendadak dia merasa khawatir jika Seulgi merasa kecewa karena dia tengah mengobrol dengan seorang gadis. Dilihatnya Seulgi hanya melihat sekilas lalu pergi meninggalkan restoran. Apa benar-benar karena dia kecewa? Tapi tidak mungkin. Saat berada di Pulau Jeju kemarin Seulgi bahkan berusaha mati-matian menjauhinya. Barulah saat Jongin meyakinkan untuk tetap menjadi teman, dia agak melunak. Jadi memang tidak ada alasan untuk merasa kecewa, atau kasarannya cemburu. Pasti Seulgi akan merasa biasa saja, bahkan mendukungnya bersama gadis ini. Padahal Jongin tidak menginginkan itu. Berapa kali pun dia berusaha menerimanya, tetap saja tidak. Dan Jongin tahu perasaan ini tidak ada gunanya.

***

Beruntung hari ini Seungwan bebas dari Myungsoo, jadi bisa menemaninya belanja. Kesibukan kuliah membuatnya jarang melakukan ini. Sebenarnya Seulgi suka berburu barang cantik, apalagi kalau harganya terjangkau. Seungwan pun tak jauh beda. Malah belanjaannya lebih banyak dari Seulgi.

“Selama ini aku terlalu banyak belanja online, ternyata yang seperti ini lebih menyenangkan. Gara-gara jadwal kuliah juga sih. Seulgi, kita harus sering melakukan ini,” cerocos Seungwan sepanjang perjalanan turun dengan eskalator.

“Menyenangkan sih, tapi jadi cepat lapar dan lelah,” balas Seulgi yang sudah merasakan pegal di kakinya.

“Tahan dulu laparnya,” kata Seungwan. “Di depan sana ada restoran bagus, makanannya enak. Aku ingin ke sana. Kan kita sekalian simpan belanjaan dulu di mobil. Ya, ya, ya?”

“Iya, berisik,” sahut Seulgi sambil memutar bola matanya. Dia pasrah saja mengekori Seungwan ke parkiran mobil dan keluar mall hanya demi makan di restoran yang terletak di seberang jalan. “Kalau makanannya tidak enak, aku tidak mau bayar.”

“Lihat saja, kau akan ketagihan dan mengajakku ke sana terus,” sambung Seungwan percaya diri.

Setelah memarkir mobil di parkiran restoran, mereka berdua turun dan langsung masuk. Dilihat dari tampilannya memang cukup nyaman dan berkelas. Seulgi paham akan selera Seungwan, setiap makanan atau restoran yang direkomendasikan olehnya tidak pernah mengecewakan.

“Eoh… itu kan….” pandangan Seungwan mengarah ke suatu objek di tempat itu. Seulgi mengikuti arahnya, dan ternyata jatuh pada seseorang yang sangat dia kenal. Kim Jongin. Tidak sendirian, seorang gadis tengah duduk di hadapannya. Ada rasa tidak menyenangkan yang melewati pandangan, lisan, hingga hatinya sampai mata Seulgi serasa terbakar. Bukan karena dia merasa dikhianati, tentu bukan. Yah, sedikit sih. Kemarin dia menerima sebuah surat cinta manis dari Jongin dan sekarang sudah ada gadis lain bersamanya. Seulgi tidak akan merasa demikian kalau saja Jongin tidak tersenyum ke arah gadis itu. Jadi ini yang Jongin maksudkan tempo hari, tentang gadis yang membuatnya bisa move on. Dari perawakannya memang mirip dengan yang ada di foto. Rupanya gadis ini telah mampu membuat Jongin tersenyum. “Seulgi,” suara Seungwan selanjutnya membuatnya sedikit tersentak, namun dia bersyukur karena bisa kembali sadar diri.

“Ya? Ah, iya, kenapa?”

Seungwan mengerling Jongin, lalu kembali pada Seulgi. “Apa cari tempat lain saja?”

Bahkan Seungwan tampaknya mengerti apa yang Seulgi rasakan. Sungguh memalukan. Dia merutuki dirinya sendiri yang dengan tidak tahu dirinya menciptakan pemikiran seperti tadi. Sekarang Jongin sudah menjadi teman baik, sepatutnya dia merasa senang jika pemuda itu mulai berkencan dengan gadis lain. Bukan malah bergeming layaknya pacar yang sedang cemburu. Lalu saat matanya kembali—tanpa sengaja—menatap Jongin, sesuatu yang lebih sial terjadi. Jongin menatapnya balik. Itu artinya, Jongin telah menyadari keberadaan Seulgi.

“Iya, ke tempat lain saja,” jawab Seulgi spontan, tidak ingin terlalu lama berada di tempat ini setelah posisinya diketahui oleh Jongin.

Seungwan mengangguk paham, menggandeng Seulgi keluar restoran. Seulgi memaksa dirinya untuk tidak berbalik dan melihat Jongin. Tidak boleh. Kedapatan menatapnya saja sudah begitu memalukan. Sialnya lagi, Jongin kelihatan tidak peduli sekali pun terlihat bersama seorang gadis. Tapi memang sudah selayaknya dia tak peduli, mereka kan hanya teman. Mungkin Jongin berpikir dia akan baik-baik saja dan malah mengharapkan dukungannya. Padahal tidak. Berapa kali pun Seulgi memungkirinya, tetap saja tidak. Dan Seulgi tahu, ini tidak pantas untuk dia rasakan.

***

Malamnya, Seulgi memutuskan untuk pulang ke rumah. Benar-benar rumah yang sebenarnya. Sudah lama dia tidak pulang karena begitu inginnya hidup mandiri. Ibunya langsung bertingkah secara berlebihan, menyuruhnya makan banyak hingga dia tak sanggup melihat makanan saking kenyangnya.

“Eomma, aku hanya tinggal di apartemen yang jauh dari rumah, bukan bertapa di gunung berapi,” kata Seulgi, membuat ayahnya tertawa. Kedua orang tuanya sengaja pulang kerja lebih awal hanya karena Seulgi pulang.

“Bagaimana nilaimu?” seperti biasa, ayahnya lebih perhatian pada perkembangan akademiknya.

“Ya begitulah,” jawab Seulgi apa adanya.

“Begitulah bagaimana? Segera persiapkan ide untuk penelitianmu.”

“Iyaaa,” sahut Seulgi malas. Bukan karena dia tidak merindukan ayah dan ibunya, tapi ini kan masa liburan. Harusnya dia bisa menikmati tanpa harus kepikiran nilai atau ide penelitian walau hanya beberapa jam.

“Kenapa tidak menginap saja malam ini? Ayahmu bisa mengantar besok pagi,” kata ibunya khawatir saat Seulgi sudah memakai mantel dan sepatunya, bersiap pulang.

“Tidak perlu memaksakan diri untukku. Bukannya pagi-pagi harus ke rumah sakit?”

“Tapi membiarkanmu pulang sendiri naik bus—“

“Aku sudah terbiasa, eomma,” potong Seulgi. “Aku pulang karena besok ada janji,” tambahnya. Memang benar ada janji. Janji kencan dengan Sehun. Sebenarnya Seulgi tidak terlalu banyak bercerita tentang Sehun pada orang tuanya. Dia merasa tidak perlu buru-buru walau orang tua Sehun sudah mengenalnya.

“Hati-hati ya,” pesan ibunya seiring langkah Seulgi meninggalkan rumah.

Untuk mencapai halte terdekat, dia harus berjalan kira-kira setengah kilometer lagi. Memang dia bisa saja meminta ayahnya mengantar dengan mobil, tapi melihat betapa kuyu matanya, dia tidak sampai hati. Terlepas dari hal itu, Seulgi juga sudah terbiasa hidup sederhana. Menurutnya, itu adalah salah satu cara menikmati kehidupan sebagai mahasiswa. Tiba di halte dia duduk bersama dua orang lain yang juga menunggu bus. Sesekali ia gesek dan tiup telapak tangannya untuk menghalau dingin. Kebetulan halte menghadap langsung dengan sebuah cafe di seberang jalan. Membayangkan kopi hangat menyapa bibirnya membuat Seulgi jadi ingin menyebrang ke sana. Tapi kalau dia menyebrang sekarang, takut ketinggalan bus. Benar-benar dilema.

Saat sedang sibuk dengan dilema membeli kopi atau menunggu bus, dia melihat seseorang yang posturnya tak asing. Tinggi, tegap, berkulit putih susu, memasuki cafe. Kaca yang transparan membuat Seulgi masih bisa melihat dengan jelas walau dia sudah masuk. Apalagi saat kemudian dia berbalik, berjalan ke salah satu meja. Jelas sekali, itu adalah Sehun.

“Dia ke daerah ini untuk apa?” gumamnya merasa heran. Dilihatnya Sehun bersama seorang pria yang memiliki postur lebih tinggi darinya. “Jadi dia tidak bisa kencan hari ini karena mau bertemu kawannya? Dasar.”

Dengan niatan memberi kejutan, Seulgi merogoh ponsel untuk menelpon Sehun. Sekalian dia akan menghampirinya di dalam cafe itu. Mungkin bisa pulang bersama. Suara telpon yang tersambung terdengar seiring langkahnya menuju zebra cross. Dia menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala.

“Halo?” sapaan Sehun terdengar lewat ponsel. Seulgi bisa melihat Sehun tengah menempelkan ponsel di telinga, di dalam cafe sana.

“Kau ada dimana? Sedang apa?” tanya Seulgi, tepat saat lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Sekarang dia melihat Sehun meninggalkan kawannya, menjauh dari meja untuk berbicara dengan Seulgi melalui ponsel.

“Apa? Maaf, tadi tidak kedengaran.”

Mungkin suara Seulgi teredam oleh kendaraan di jalan, atau bisa juga cafe memutar musik dengan volume tinggi. Seulgi kini berjalan menyebrangi zebra cross.

“Aku tanya kau ada dimana dan sedang apa,” ulangnya tanpa melepas tatapan dari Sehun yang berada di dalam cafe.

“Oh,” tampak Sehun menoleh ke arah kawannya sekilas. “Aku di rumah sakit. Appa menyuruhku untuk melihat sebuah operasi penting. Sekalian belajar katanya.”

Seketika Seulgi membeku. Jawaban apa itu? Tidak sesuai dengan apa yang dia lihat sekarang. Benar kan, yang dia lihat itu Sehun, bahkan jelas sekali pemuda itu berbicara lewat ponsel. Tapi kenapa dia bilang ada di rumah sakit? Dengan kata lain, saat ini Sehun berbohong.

“Rumah sakit?” ulang Seulgi, takut salah dengar.

“Iya, sayang. Nanti ku telpon lagi. Jangan lewatkan makan malammu. Dah.”

Sambungan telpon terputus, begitu juga tenaganya untuk melangkah. Dia masih berdiri di tengah-tengah zebra cross, mengamati Sehun yang kini kembali duduk berhadapan dengan kawannya—entah siapa dia tidak tahu. Sehun tertawa riang bersama pria itu tanpa tahu bahwa Seulgi melihatnya saat ini. Sejujurnya Seulgi sama sekali tidak marah kalau pun Sehun lebih memilih bersama kawannya seharian ini ketimbang bersamanya, toh besok sudah janji akan berkencan, bukan? Yang membuatnya merasa kecewa adalah kebohongannya itu. Dia tidak bisa menerimanya.

“Kau kan hanya menemui kawanmu, kenapa berbohong, Sehun-ah?”

***TBC***

Puyer : sediaan obat yang berbentuk bubuk.

Ketoconazole : obat antijamur

Ibuprofen : NSAID, digunakan untuk mengobati nyeri, demam, kelainan radang.

Bunggeoppang : roti berbentuk ikan yang berisi kacang merah.

Author note : Saya minta maaf jika chapter ini terasa hambar. Di chapter berikutnya akan saya buat lebih baik lagi. Yang jelas, cerita ini masih bersambung. Hahaha.

See you next chapter!

23 thoughts on “Bittersweet : Love Letter

  1. sehun bohongin seulgi u,u tp kok tega bohongin seulgi
    sehun jahat u,u btw sehun seulgi sweet banget aku iri deh
    oh iya aku kasian sama jongin u,u tp please jongin jan suka sama cwe lain dlu

  2. Aduh kok kesininya sehun jadi beda sih, ada apa sebenarnya, sehun cinta seulgi beneran gak sih, hiks hiks

    Kai juga jadinya, waduh aku kok gak rela yah hiks hiks.. Lanjut ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s