Terserah

Chen exo cover fanfiction

Title: Terserah

Author: tasya / @funtasya

Cast:  

Kim Jongdae a.k.a Chen EXO

Park Nayoung (Original Character)

Genre: Romance, Comedy

Duration: Oneshot

Rating: G

 

 “Lagi lagi Nayoung mengatakan kata tersebut, kata yang sudah muak didengar Jongdae.”

Hari itu, Jongdae sudah berjanji untuk menemani Nayoung pergi membeli kado untuk sepupunya yang berulang tahun ke – 17. Sekalian ia menghabiskan waktu liburnya dari rutinitas padat yang kerap membuatnya tidak punya waktu untuk berduaan dengan sang pacar.

“Lama sekali, sih? Aku hampir setengah jam menunggu disini, tahu!”

Jongdae protes, ketika Nayoung akhirnya menghampirinya masuk ke mobil setelah ia hampir kehilangan emosi karena menunggu terlalu lama.

“Ya maaf, namanya juga wanita.” Nayoung mencari alasan. Ia sebenarnya sadar, ini bukan yang pertama kalinya Jongdae mengeluhkan kebiasaannya bersiap-siap terlalu lama sebelum pergi. “5 menit lagi.”, begitu jawaban Nayoung setiap Jongdae memberi kabar jika ia sudah sampai. Tapi nyatanya, 5 menit tersebut selalu menjadi menit-menit yang beranak pinak.

“Tidak. Hanya kau saja yang seperti itu. Dan, lihatlah bajumu itu. Kurang bahan?” ujar Jongdae, mengacu pada atasan off-shoulder crop top yang menunjukkan bahu beserta sedikit mengintip bagian perut Nayoung. Tersinggung, Nayoung memberikan tatapan ‘bisa-tidak-kau-tutup-mulutmu’ kepada Jongdae. Ini musim panas, mana mungkin ia memakai sweater dan mantel berbulu?

Ia lalu membuka pintu mobil, namun seketika Jongdae langsung menarik lengannya.

“Mau ngapain?”

“Balik lagi. Ganti baju.”

Jongdae berdecak pelan, “Tidak usah. Nanti tambah lama.” ujarnya, tidak mau menambah penderitaan. Akhirnya mereka pun memulai perjalanan ke tujuan utama: membeli kado di mal X.

***

Seusai mendapatkan kado untuk sepupu Nayoung di mal X, serta keliling-keliling mal dengan tujuan masing-masing: Jongdae mencari sepatu Nike keluaran terbaru yang sayangnya belum sampai di Korea, dan Nayoung membeli concealer dan lipstick yang membuat Jongdae (lagi-lagi) harus menunggu lama, akhirnya mereka selesai dan kembali pulang. Tidak biasanya mereka pergi secepat ini, biasanya mereka selalu pulang setelah perut mereka kenyang. Betul, makan. Mereka belum makan semenjak berangkat pagi tadi. Itu berarti, kini saatnya mereka makan.

“Mau makan dimana?” di perjalanan, Jongdae yang sudah lapar menanyakan keputusan Nayoung. Berharap jawabannya kali ini tidak implisit dan tidak membuatnya bingung.

“Terserah.”

Sudah di duga. Jawaban setiap wanita ketika ditanyai perihal mau makan dimana. Jongdae sudah hapal akan ini. Dan percayalah, terserah bukan berarti terserah.

“Baiklah kalau begitu. Kimbap aja, ya.” Jongdae memberi pernyataan sekaligus pertanyaan.

“Kimbap???” Nayoung seakan tidak percaya.

“Iya, makannya di convenience store aja.” Jawab Jongdae santai.

Nayoung malah bergidik, “Ih! Jauh-jauh makannya kimbap doang? Nggak ah! Aku juga bisa bikin di rumah.”

Jongdae bingung. Tadi katanya terserah….

Pilihan pertama: gagal.

Donkatsu aja deh.” Jongdae memberi pilihan lain, mengacu pada donkatsu favorit mereka di sekitar Hongdae.

“Aku lagi diet gorengan.”

Pilihan kedua: gagal.

Fried chicken?”

“Sama aja! Gimana sih kamu?!” Nayoung sedikit ketus. Heran mengapa bisa-bisanya
Jongdae tidak mengerti jika ia benar-benar sedang tidak makan gorengan.

Pilihan ketiga: gagal.

Jongdae mulai kesal. Perut laparnya mulai membuat emosinya terkuras. Ia harus benar-benar bisa menghadapi keadaan tak diharapkan yang sebenarnya bukan pertama kalinya terjadi ini. Ia pun memikirkan makanan lain yang sekiranya Nayoung setuju tanpa banyak alasan.

Jangeotang – sup belut?”

“Nggak suka belut.”

Jjampong – sup seafood pedas?”

“Tidak mau makan pedas. Nanti sakit perut.”

Ramyun?”

“Aku sudah makan ramyun kemarin. Nanti ususku keriting.”

“Burger?”

Junk food. No way.”

“Steak?”

“Kamu mau aku semakin bengkak?”

Pilihan 4-8: GAGAL.

Kalau Jongdae bisa teriak, ia mungkin akan teriak sekarang. Ia hanya berdecak kesal dan terus menahan amarah sambil konsentrasi menyetir, dan konsentrasi berpikir tentang tempat makan.

Ia lalu teringat, makanan-makanan yang tadi ia sebutkan adalah makanan berkolesterol dan lemak tinggi. Sementara kondisi Nayoung saat ini sedang berusaha diet.

“Kalau begitu…. bibimbap aja gimana?”

Semoga responnya baik. Setidaknya bibimbap memiliki gizi seimbang antara karbohidrat dari nasi, protein dari daging serta vitamin dari sayuran. Orang yang sedang diet lebih aman memakan bibimbap karena tetap kenyang namun gizinya seimbang.

Dan jawaban Nayoung adalah…

“Oke.”

Akhirnya! Jongdae kini bernapas lega karena perutnya sudah melewati pintu zona aman. Terbayang sudah nikmatnya bibimbap di salah satu restoran langganannya yang juga cukup terkenal di Seoul.

“Tapi aku mau bibimbap di restoran organik di Nowon. Disana minyaknya minyak rendah kolesterol, bahan-bahannya organik pula. Jadi aku lebih aman, dan tidak perlu takut gendut.”

Sepertinya Jongdae harus lebih bersabar.

“Nowon katamu? Ya, Itu jauh sekali dari sini! Belum lagi macetnya, kau tidak lihat tadi kita antre lampu merah berapa lama? Apalagi ke Nowon? Yang ada aku mati kelaparan di jalan.” Jongdae mulai meluapkan kekesalannya. Ia punya batas kesabaran, terlebih sedang menahan lapar.

“Lah, tadi kau yang menawarkan mau bibimbap atau tidak. Aku mau, asal bibimbap yang di Nowon.Terjawab sudah kan?” Nayoung membela diri.

“Aku tahu. Tapi apa kau tidak bisa pikir realistis sesuai kondisi sekarang? Asal kau tahu, Park Nayoung. Ini bukan sekali dua kali kau begini saat ditanya soal makanan. Bilangnya terserah, tapi nyatanya, maumu macam-macam. Ini lah, itu lah. Ada orang kelaparan di sebelahmu, dan kelaparan tersebut sudah membuatnya emosi sejak satu jam yang lalu karena orang yang disebelahnya tidak bisa mengerti kondisi sekarang!”

Nayoung kaget, merasa Jongdae mengintimidasinya dengan rentetan kata disertai nada tinggi yang baginya seperti marah. Oh, jelas Jongdae marah. Rasa laparnya sudah tidak bisa diajak kompromi.

“Kamu kan yang nanya, kamu juga yang menawarkan mau makan apa. Kalau aku ga setuju, ya aku bilang nggak. Toh, Nowon juga hanya 10 menit lewat jalan tol. Nggak usah marah-marah.”

Beginilah resiko berpacaran dengan orang yang jago bermain kata seperti Nayoung, yang pekerjaannya sehari-harinya akrab dengan melobi dan bernegosiasi pada orang-orang dengan kata-kata menjanjikan. Dan sepertinya, prinsip wanita selalu benar itu memang benar adanya. Seakan tak mau disalahkan, seenak begitu saja Nayoung berbicara.

Mau tak mau, Jongdae menginjakkan pedal mobilnya melintasi jalan tol menuju ke Nowon.

Kalau bukan buat orang egois di sebelahnya.

Dan perutnya.

******

“TUTUP??!!”

Nayoung membaca baik-baik tulisan yang dipajang di depan pintu restoran organik di Nowon yang intinya restoran ini ditutup sementara karena ada renovasi.

Jongdae sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Tapi di instagramnya tidak ada pengumuman tutup kok… “ Nayoung meng-scroll ponselnya untuk melihat update instagram restoran tersebut. “…….setelah kemarin.”

Ia baru sadar bahwa ia tidak melihat update-an instagram restoran tersebut kemarin yang menyatakan ditutupnya sementara restoran tersebut. Ia menggaruk tengkuknya sambil memiringkan kepalanya. Bodohnya aku.

“Sudahlah, cari restoran di dekat sini saja.” Jongdae menyerah.

“Tapi..”

“Apalagi? Kau mau bilang jangan gorengan, junkfood, atau apalah itu? Kau mau membiarkanku mati kelaparan disini?”

Nayoung terdiam. Baiklah kalau begitu, kali ini benar-benar terserah.

********

Jongdae benar-benar lelah. Namun setidaknya ia sudah kenyang, setelah akhirnya mengisi perut dengan bibimbap di salah satu restoran di Nowon yang rasanya tidak mengecewakan. Belum lagi ia harus menyetir untuk mengantar kekasihnya sekaligus orang yang membuatnya hari ini kelelahan pulang dengan selamat.

Sampailah mereka di apartemen Nayoung setelah beberapa jam perjalanan. Selesai sudah tanggung jawab Jongdae hari ini. Kini saatnya mereka kembali menjalani aktivitas masing-masing dan bertemu lagi disaat yang sempat.

“Jongdae-ya.”

“Hm?”

“Antarkan aku sampai atas, ya. Akhir-akhir ini sedang ramai kasus penjambretan di lantai 15, aku jadi parno.” Nayoung mencari alasan, padahal itu tidak pernah terjadi akhir-akhir ini. Hanya agar ia bisa menemukan momen yang pas, dan agar ia bisa melihat wajah Jongdae lebih lama.

“Ah, itu hanya rumor persaingan antar apartemen. Jangan percaya. Toh buat apa kau belajar muay thai tapi dengar rumor begitu saja langsung ciut?” Jongdae menolak secara implisit. Ia ingin cepat-cepat pulang, karena semakin malam ia pulang, semakin malam ia tidur. Sementara esok ia harus bersiap-siap jam 7 pagi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah mengantre. Dan ia orang yang susah bangun pagi.

“Terserah kau saja, lah. Jangan kaget kalau besok berita tentang penculikan wanita di apartemen SK menyebar di media.” lagi lagi Nayoung mengatakan kata tersebut, kata yang sudah muak didengar Jongdae. Tidak ingin memunculkan konflik karena sudah terlalu lelah, Jongdae pun akhirnya turun dari mobil mengikuti Nayoung. Ia baru ingat Nayoung sering bolos kelas muay thai karena berbagai alasan, jadi skill muay thai nya bisa jadi belum bisa mengatasi bahaya yang terjadi pada dirinya sewaktu-waktu. Dan ia tidak mau sesuatu hal terjadi pada Nayoung dan malah membuatnya menjadi repot.

Dan sampailah mereka lantai 15, tempat unit yang dibeli Nayoung berada. Jongdae benar-benar ingin segera pulang. Ia tidak mau menghadapi Nayoung lantaran sudah lelah dan kesal dibuatnya seharian. Tapi ia juga ingin memastikan kalau Nayoung sampai di unitnya dengan selamat meski itu sebenarnya tidak perlu dilakukan karena sudah jelas. Entah, ia hanya ingin bertemu Nayoung lebih lama.

“Terima kasih untuk hari ini.” ucap Nayoung sekenanya. Setidaknya ada yang terucap setelah selama perjalanan menuju lantai 15 mereka saling diam.

“Hm. Sama-sama. Selamat malam.” Jongdae tidak kalah dinginnya. Ia lelah untuk mengucapkan sepatah kata. Ia bahkan lelah untuk melangkah sampai parkiran nanti.

Keduanya diam. Nayoung lalu membuka pintu unitnya setelah menekan tombol password. Membiarkan jongdae menunggunya di belakangnya. Membiarkannya pulang dengan sendirinya tanpa ia mengatakan ucapan selamat tinggal.

Namun ia tiba-tiba merasa aneh. Ia tidak mungkin melepaskan kekasihnya begitu saja, setelah hari ini ia dikabulkan permintaannya meski penuh perdebatan dan telah membuat kekasihnya itu hilang energi dan kesabaran. Ia kemudian membalikkan badannya dan menatap Jongdae.

Deg!

Nayoung berbalik badan, dengan cepat ia memeluk erat pinggang Jongdae dan membuatnya kaget. Erat, sangat erat sehingga Jongdae susah untuk bergerak.

“Maafkan aku, Kim Jongdae. Maafkan aku untuk keegoisanku untuk yang kesekian kalinya.” ucap Nayoung dengan blak-blakan namun tulus. Akhirnya ia bisa mengatakan itu setelah sejak sampai di apartemen ini dipendamnya.

Y..ya, aku…”

“Seharusnya hari ini kita senang-senang, tapi aku merusak semuanya karena keegoisanku.” Nayoung mulai terisak, naluri wanitanya mencuat. “Dan aku malah membuatmu lelah sementara kau harus menghadapi banyak aktivitas besok pagi.”

Jongdae masih bingung dengan sikap kekasihnya ini. Biasanya, permintaan maaf akan keluar dari mulutnya. Namun kali ini berbeda. Dan rasa kesalnya tadi kemudian dengan mudahnya berubah menjadi rasa simpatik. Memang, kekasihnya ini sangat pintar mengambil hati. Ia rengkuh Nayoung ke pelukannya dan ia belai rambut bergelombangnya. Membiarkan Nayoung menyelesaikan isakannya tanpa bicara. Kalau bukan karena sayang.

Kemudian Nayoung mulai merenggangkan pelukannya, menengadahkan kepalanya agar bisa melihat sosok Jongdae yang tingginya terpaut beberapa senti darinya.

“Tuh kan jadi hancur eyeliner-nya gara-gara nangis.” Jongdae berusaha tidak mendramatisir suasana. Membuat Nayoung memukul bahunya pelan, sempat-sempatnya membahas hal yang tidak penting disaat seperti ini.

Nayoung akui, Jongdae bukan pria yang romantis yang punya segudang rayuan pemikat hati untuk wanita. Tapi tanpa rayuan apapun, Nayoung sudah bisa jatuh hati padanya. Bahkan ketika Jongdae meledeknya secara implisit seperti itu. Pasangan ini suka sekali berkonotatif.

Kemudian Jongdae menarik wajah Nayoung, menghapus air matanya dengan jari-jarinya perlahan. “Memang kau egois, banyak maunya, menyebalkan, ceroboh, plin plan, kalau dandan lama, tukang tidur, dan makannya banyak. Tapi aku sudah terlanjur cinta padamu. Jadi mau gimana lagi?”

Ia berhasil membuat wajah kekasihnya seketika memerah dan bibirnya memunculkan senyum canggung karena merasa terhibur dengan rayuan darinya, yang bahkan lebih pantas disebut ejekan.

“Terima kasih selalu ada untukku, Kim Jongdae.”

“Terima kasih juga selalu membuatku jatuh cinta setiap waktu, Park Nayoung.”

Kini wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Tinggal menunggu saat yang tepat untuk melakukannya.

“Di dalam saja, sayang.”

Dan dengan semudah itulah Jongdae lupa dengan jadwal paginya esok.

-END-

 

Hai semua!

Makasih yaa udah mau baca. Ditunggu komen dan sarannya yaaa luv luv :3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Terserah

  1. jongdaeeeeeeee *ngusap air mata haru
    love storynya realistis banget, konfliknya ringan tapi gigit, nayoungnya manis, apalagi jongdae, endingnya bikin para chen-biased baper, ah top pokoknya!😄 keep writing!

  2. Wuaaaaaaaahhh parah sih baru kali ini nemu penokohan Chen jd org yg dingin, romantis, cuek sekaligus. Biasanya kan Chen jd cowok yg penyabar maksimal😂😂😂 nice author nim! Sequel dong hyahahaha fightiiing! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s