A Dandelion Memories

 

PicsArt_01-14-08.19.06

Title : A Dandelion Memories

Genre : Romance, Sad, Angst

Lenght : Oneshoot

Rating : PG-15

Author : HyeKim (@Elfsandra15)

Main Cast :

-Luhan

-Kim Hyerim (OC)

Originally posted in my personal blog : http://www.hyekim16world.wordpress.com don’t forget to visit J

“Hamparan bunga dandelionlah yang menjadi saksi bisu kisah cinta kita…”

 

PROLOG

“Kenapa sih kamu suka sekali dengan bunga dandelion?”

“Bunga dandelion itu seperti diriku. Bila terjatuh serbuknya langsung hancur. Sama dengan diriku yang rapuh. Bunga dandelion harus dijaga dengan baik. Seperti hatiku yang harus dijaga oleh cinta dan kasih,”

“Kalau aku bersedia  menjaga hatimu dan dirimu, apakah kamu mau?”

 

.

 

.

 

.

 

Lelaki bernama Luhan itu menatap sendu langit yang terhampar luas diangkasa. Langit mendung tersebut seakan mewakilkan perasaan hati Luhan yang sama mendungnya. Sebuah toples berisi satu ikatan penuh bunga dendelion terdapat ditangan kanannya. Harusnya hari ini menjadi hari yang indah walau cuacanya mendung. Tapi karena pengakuan Luhan pada Hyerim, kekasihnya, membuat hari ini menjadi suram.

 

Gadis manis bermarga Kim itu langsung berlari dari hadapan Luhan saat mendengar penjelasan yang keluar dari mulut lelaki tersebut. Dihiraukannya setoples yang berisi bunga favoritnya yang sudah Luhan sodorkan padanya. Luhan menghela napas dan lalu menoleh menatap lekat toples ditangan kanannya. Air mata tertahan dipelupuk matanya, mengingat sejuta kenangannya bersama Hyerim kala meliat bunga liar tersebut yang menjadi saksi bisu perjalan cinta keduanya.

 

**

 

Seorang remaja lelaki berumur 15 tahun berjalan kesebuah hamparan taman yang luas tak jauh dari komplek perumahannya. Remaja lelaki bernama Luhan itu menatap kagum lukisan tangan Tuhan yang sangat indah di hadapannya. Walau berlokasi di tengah kota, hamparan taman bunga dandelion tersebut masih sangat asri tanpa tangan kotor manusia.

 

Luhan mengambil posisi duduk sambil menatap sekitar dan lalu mengambil buku sketsanya serta pensil lukisnya. Dirinya menyukai hal berbau seni seperti menyanyi, menari, akting, maupun melukis. Luhan memutuskan mengambil view taman dandelion ini sebagai bahan lukisannya.

 

“Hya! Kupu-kupu!” suara cempreng khas perempuan remaja terdengar ditelinga Luhan.

 

Luhan yang sudah sibuk tenggelam pada dunia melukisnya, sekejap menoleh ke arah seorang gadis yang memakai dress putih selutut yang tangan kanannya terdapat seikat bunga dandelion. Gadis bersurai hitam panjang tersebut tertawa dan berlari mengejar kupu-kupu putih yang tadi sempat hinggap dipundaknya. Luhan menatap gadis itu tanpa berkedip dan sedetik kemudian Luhan mencoretkan sebuah gambar gadis tersebut dibuku sketsanya dengan latar taman dandelion.

**

“Bisakah kamu mengaku sekarang kenapa dulu kamu tidak mau menunjukkan buku sketsamu padaku?”

 

“Karena isi buku sketsaku adalah kamu semua. Dari awal aku melihatmu di taman dandelion sampai saat ini. Aku sudah menyukaimu saat pertamaa kali melihatmu,”

 

Hyerim menatap hamparan taman dandelion yang banyak menciptakan kenangan antara dirinya dan Luhan dengan mata berair. Dirinya ingat pertama kali bertemu dengan pria itu ditengah hamparan dandelion ini. Seketika Hyerim berjongkok dan menangis mengingat semuanya.

**

 

Sudah hampir seminggu Luhan habiskan waktu sorenya di taman dandelion tersebut. Akhirnya dirinya tahu bahwa gadis yang selalu  ia lihat di taman dandelion tersebut adalah tetangganya. Nama gadis itu adalah Kim Hyerim, dan berumur sebaya dengan Luhan. Rumah Hyerim hanya terhalang 3 rumah dari rumah Luhan. Luhan selalu memperhatikan gadis itu diam-diam. Dirinya sadar betul sudah menaruh rasa suka pada Hyerim yang kian muncul dilembaran buku sketsanya.

“Hallo,” saat ini Luhan memberanikan diri mendekati Hyerim yang sedang sibuk memetiki bunga dandelion.

 

Hyerim tampak sangat sibuk tanpa menyadari kehadiran Luhan yang berdiri disampingnya. Merasa dikacangi, Luhan ikut berjongkok disamping gadis tersebut dan menyenggol bahu Hyerim dengan bahunya. Sontak hal tersebut membuat Hyerim kaget dan menjatuhkan bunga dandelionnya.

“Ya ampun!” pekik gadis itu dengan nada sedih, Luhan menatapnya sambil menggigit bibir bawahnya merasa bersalah.

 

Hyerim yang menyadari kenapa bunga favoritnya bisa terjatuh dan hancur begitu saja, langsung menoleh judes ke arah Luhan dan lantas berseru kesal, “YAK! LIHAT! GARA-GARA KAU BUNGAKU HANCUR SEMUA!”

 

“M..-maafkan aku Hyerim-ssi, aku..-“ Luhan tergagap menatap Hyerim yang tengah memasang wajah sangarnya.

“Kau siapa huh?! Dan kau tahu dari mana namaku?”

 

SIAL! Harusnya Luhan ingat keduanya belum saling mengenal. Hanya dirinya yang diam-diam  memperhatikan Hyerim. “Dan kau tidak tahu apa seberapa susahnya mengumpulkan bunga dandelion! Untung saja kalau serbuknya terbang akan menjadi peri layaknya tinkerbell.”

 

Rasanya Luhan tidak bisa menahan tawa mendengar penuturan kekanak-kanakan Hyerim. Serbuk dandelion? Berubah menjadi peri? Tinkerbell? Oh ayoklah hal tersebut hanyalah ada di cartoon disney yang di  penuhi fantasy belaka.

 

“Yak!” seruan Hyerim menyadarkan Luhan dari tawa tak jelasnya yang tanpa suara. “Kau gila ya?” ucap Hyerim menatap ngeri Luhan yang tiba-tiba tertawa sendiri.

 

Lantas Luhan menggeleng lalu tersenyum. “Perkenalkan, namaku Luhan. Aku baru 2 minggu pindah ke Korea. Aku selalu melihatmu di sini dan berniat mengajakmu berkenalan. Tapi aku malahan tak sengaja membuat dandelionmu hancur. Maafkan aku, eummm.. Kim Hyerim?”

 

Hyerim memandangi Luhan dengan tatapan sulit di artikan. Dirinya masih bingung bagaimana pria tersebut mengetahui namanya. “Oh ya, namaku Kim Hyerim. Senang berkenalan denganmu, Luhan-ssi.” menampik semua rasa penasaran dalam otaknya, Hyerim membalas jabatan tangan Luhan yang terulur ke arahnya.

**

 

Seakan langit sedih melihat gadis yang bersimpuh rapuh di tengah hamparan bunga dandelion tersebut, hujan pun turun dengan derasnya mengguyur tubuh Hyerim yang masih menangis.

 

“Lu, jangan pergi, kumohon,” gumam Hyerim.

 

Saat masih dengan air mata yang menganak sungai dipipinya, sebuah payung datang melindungi tubuh Hyerim. Gadis itu mendongak dan mendapati Luhan berdiri di sampingnya sambil memegangi payung dengan tatapan sendu.

“Sudah kuduga kamu ada di sini, berdirilah dan ayok kita pulang,” tangan Luhan terulur dan Hyerim hanya terpaku menatap tangan yang suka megandeng hangat tangannya ataupun sekedar mengelus surai hitam panjangnya. “Kamu bisa sakit Hye, aku tidak ingin kamu sakit karena kedinginan.”

 

Suara lembut Luhan menyadarkan Hyerim dan membuat gadis itu menerima uluran tangannya. Keduanya berjalan di bawah payung yang di pegang Luhan. Kesunyian tercipta diantara keduanya, hanya suara gemericik air yang terdengar masuk ke gendang telinga.

 

“Maaf membuat semuanya kacau,” suara Luhan memecahkan keheningan antara keduanya, pria itu menghela napasnya sejenak. “Happy anniversary, Hye. Semoga cinta kita tetap tumbuh semakin indah layaknya hamparan bunga dandelion sekaligus tidak rapuh dan menghilang jauh begitu saja layaknya bunga tersebut. Agar hal tersebut tidak terjadi, semoga kita selalu menjaga satu sama lain dengan cinta dan kasih.”

 

Hyerim diam tak merespon, langkah kakinya berhenti di depan rumah bercat cream. “Terimakasih atas tumpangannya.” hanya itu yang keluar dari mulut Hyerim. Gadis bermarga Kim itu langsung berlari masuk ke rumahnya meninggalkan Luhan yang menatap punggungnya sendu.

 

**

Luhan tersenyum hangat memandangi Hyerim yang sibuk memetiki bunga dandelion. Sekarang, Luhan dan Hyerim sudah mulai menjalin hubungan persahabatan. Keduanya selalu menghabiskan waktu di taman dandelion, taman bunga favorit Hyerim.

 

“Luhan, kamu sibuk menggambar apa sih?” tanya Hyerim menatap penasaran Luhan yang selalu sibuk dengan buku sketsanya.

 

Luhan mengangkat kepalanya sejenak sambil tersenyum tipis, “Rahasia,”

 

Mendengar jawaban tersebut, Hyerim memajukan bibirnya. “Coba sini kulihat!” Hyerim mulai ingin menarik paksa buku sketsa Luhan.

 

“Yak! Shireo!” Luhan mengangkat tinggi-tinggi bukunya. Sejujurnya Luhan sangatlah malu mengingat setiap lembar buku sketsanya adalah sketsa Hyerim yang berlatar taman dandelion

 

“Aku penasaran, aku ingin melihatnya, Lu,” Hyerim tetap berusaha menggapai buku sketsa Luhan sambil berjinjit-jijit karena dirinya masih kalah tinggi dari lelaki tersebut.

 

“Tidak boleh! Aku yang pemiliknya tidak mengizinkannya, Hyerim,”

 

Hyerim tetap memaksa, tapi karena kecerobohannya sendiri, Hyerim tersandung kakinya sendiri. Akhirya karena hal tersebut,  badannya jatuh menimpa badan Luhan yang juga jatuh di atas hamparan bunga dandelion. Hyerim menelan salivanya kala menyadari jarak wajahnya dan Luhan sangatlah dekat. Dapat di rasakannya detak jantung dirinya dan Luhan berdegup kencang membentuk irama yang indah.

**

 

Hyerim menghela napasnya menatap layar notebooknya yang menampilkan sebuah situs halaman. ‘Anemia tingkat lanjut dapat menyebabkan sebuah penyakit bernama leukimia atau istilah lain adalah kanker darah. Kelebihan sel darah putih lah yang menyebabkan terjadinya penyakit leukimia. Penderita akan…..’

 

Hyerim menutup notebooknya dengan malas tanpa berniat menshut downnya terlebih dahulu. Hyerim menopang dagunya dan sekian detiknya mengamit kedua tangannya. Leukimia. Kenapa kata itu terdengar menyeramkan ditelinga Hyerim? Bisa dibilang penyakit tersebut termasuk dalam list penyakit mematikan dan ditakuti seorang Kim Hyerim. Dan penyakit itu sekarang terjadi…..

 

Hyerim memalingkah wajahnya dan tanpa sengaja mendapati sebuah bunga dandelion yang menyembul dalam sebuah toples bening di sudut atas meja belajarnya. Hyerim mendekatkan wajahnya ke arah toples tersebut dan meniupkan serbuk-serbuk bunga dandelion tersebut diiringi kembali cairan bening yang membasahi pipi tirusnya.

**

 

“Aku ingin bertanya,” ucap Luhan, membuat Hyerim yang sedang meniupi serbuk-serbuk bunga dandelion menatapnya dengan kening berkerut.

 

“Apa?”

 

“Kenapa sih kamu suka sekali dengan bunga dandelion?” tanya Luhan sambil menatap lekat manik mata Hyerim, penasaran. “Apa karena cartoon tinkerbell? Apa karena kepercayaan konyolmu itu tentang serbuk dandelion akan berubah menjadi peri?”

 

Lantas Hyerim tertawa mendengarnya, “Tentu saja bukan, umurku sudah menginjak 16 tahun untuk percaya hal konyol tersebut,” ucap Hyerim sambil mendorong dahi Luhan. Saat Luhan ingin protes, Hyerim kembali berucap. “Bunga dandelion itu seperti diriku. Bila terjatuh serbuknya langsung hancur. Sama dengan diriku yang rapuh. Bunga dandelion harus dijaga dengan baik. Seperti hatiku yang harus dijaga oleh cinta dan kasih,”

 

Luhan tertegun mendengarnya. Tak menyangka gadis kekanak-kanakan yang sudah ia kenal dan sukai satu tahun ini akan mengucapkan hal tersebut. Hyerim mengambil satu bunga dandelion dan meniup serbuknya hingga terbang kian menjauh diangkasa.

“Kalau aku bersedia  menjaga hatimu dan dirimu, apakah kamu mau?” pertanyaan itu keluar denagan sendirinya dari bibir Luhan. Hyerim menatapnya lekat.

 

“Kenapa tidak? Tentu saja boleh,” jawab Hyerim disertai senyumannya.

 

Luhan tersenyum mendengarnya dan Hyerim kembali sibuk dengan kegiatannya memetiki dandelion dan menaruhnya ke dalam toples bening yang di bawanya.

 

“Hye,” panggilan Luhan membuat fokus Hyerim kembali pada pria tersebut. “Kamu tahu a dandelion wish?” tanya Luhan dan sebuah gelengan dari Hyerim lah yang menjawab pertanyaannya. “Itu adalah sebuah novel mandarin bergenre romance dan ya novel berating dewasa. Tapi novel itu menceritakan bunga favoritmu, dandelion. Jadi kamu ambil satu dandelion dan buatlah permohonan, katanya bila serbuknya lepas semua, permohonanmu akan  terkabul.” jelas Luhan.

 

Hyerim memasang wajah antusias mendengar penjelasan Luhan tentang dandelion wish. “Begitukah? Aku ingin mencobanya!” seru Hyerim girang dengan mata berbinar.

 

Luhan tersenyum dan mengelus puncak kepala Hyerim. Lelaki itu mengambil satu dandelion dan menyodorkannya pada Hyerim. “Cobalah sekarang, buatlah permohonan. Dandelion lain akan menjadi saksi bisu permohonanmu,”

 

Hyerim mengangguk semangat dengan senyum lebar, lalu mengucapkan permohonannya. “Aku ingin Luhan selalu bersamaku,” Hyerim pun langsung meniup serbuk bunga dandelionnya tanpa mengetahui hati Luhan sudah berdesir hebat mendengar permohonannya.

 

Tanpa memohonpun, Luhan pasti selalu bersedia bersama dengan Hyerim. “Serbuknya lepas semua! Horay!” Hyerim memekik senang dan berloncat-loncat ria di tengah hamparan dandelion yang sebagian serbuknya terbang akibat angin. Luhan hanya tersenyum memperhatikannya.

**

 “Bunga dandelion membawa permohonan kita dan juga permohonannya sendiri terbang melayang. Semakin tinggi dan semakin jauh dia terbang, semakin besar pula peluang permohonan itu terkabul.”  gumam   Luhan,  mengutip  kata-kata  di novel  a  dandelion  wish  saat  dirinya  sedang  berada  dihamparan  luas  taman  dandelion  tersebut.

 

“Kamu ingin membuat permohonan dengan bunga itu?” suara lembut seorang perempuan yang sangat Luhan kenal mengejutkan Luhan dari lamunannya.

 

Luhan menoleh ke arah Hyerim yang sedang memandangi hamparan bunga liar tersebut. “Bunga dandelion sangatlah rapuh, sama sepertiku, maka dari itu aku menyukainya. Kamu pasti mengingat kata-kataku itukan, Lu?”

 

Luhan hanya memalingkan mukanya dan menghela napasnya. “Tentu aku ingat, Hye..-“

 

“Apa mungkin permohonanku dulu tidak terkabul?” potong Hyerim sambil menatap Luhan di sampingnya, yang juga balas menatapnya perih. “Kenapa Tuhan memberikanmu penyakit itu? Kenapa Luhan? Dan peluangmu untuk sembuh hanya..-“

 

Ucapan Hyerim terpotong saat Luhan menariknya kedekapan hangatnya, membiarkan Hyerim menangis dalam pelukannya. “Diamlah, cukup diam. Aku akan selalu bersamamu, percayalah.” Hyerim makin keras menangis saat Luhan kian memeluknya erat.

 

“Aku sakit, Hye,”

“Sakit? Sakit apa? Sudah diperiksakan ke dokter?”

“Penyakitku tidak sepele, aku..-“

“Kenapa, Lu?”

“Aku menderita leukimia,”

“Kamu pasti bercanda!”

“Aku serius, peluangku untuk sembuh hanya 16%, aku..-”

“Cukup!” Hyerim pun langsung berlari pergi meninggalkan Luhan dengan air mata yang mulai berjatuhan.

 

Hyerim masih menangis dalam dekapan hangat Luhan, sampai tiba-tiba, ia merasakan tubuh itu melemah dan ambruk seketika di atas hamparan dandelion. Hyerim terkejut bukan main saat mendapati wajah pucat Luhan ditambah darah mimisan yang sangat banyak keluar dari hidung lelaki tersebut.

 

“Lu! Lu! Luhan!!!!!” seru Hyerim sambil meguncang tubuh Luhan dengan air matanya yang jatuh kian derasnya.

 

**

 

Hyerim berlarian membelah taman dandelion tempatnya selalu menghabiskan waktu dengan Luhan. Sementara Luhan memperhatikannya sambil tangannya sibuk melukis Hyerim.

 

“Lu!” panggilan Hyerim membuat Luhan mengangkat wajahnya dan mendapati wajah Hyerim yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke arahnya. “Ayok ke sini!”

 

Luhan pun meletakkan buku sketsanya dan berjalan mendekati Hyerim. Gadis itu langsung memeluk lehernya dan lalu menunjuk-nunjuk bunga dandelion yang serbuknya terbang karena angin sore.

 

“Lihat! Angin membuat serbuknya  lepas! Indah bukan?”

 

Luhan hanya berdecak malas mendengar ucapan Hyerim yang selalu ia dengar 3 tahun ini jikalau gadis itu melihat dandelion yang serbuknya terbang karena angin. “Hyerimku sayang, aku sudah bosan mendengar hal tersebut dari bibir manismu. Bisakah kamu mengucapkan, ‘Aku mencintaimu,’ kepadaku dibanding kalimat tersebut hmm?”

 

“A..-pa?” ucap Hyerim gugup saat Luhan mulai mengelus pipinya, kedua tangannya masih setia memeluk leher Luhan.

 

“Kenapa? Kita kan sudah berpacaran sejak akhir tahun lalu,” Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Hyerim, membuat wajah gadis itu memerah.

 

Luhan tiba-tiba mencium bibir Hyerim lembut. Hyerim melebarkan matanya dan sedetik kemudian menutup matanya menikmati ciuman dan lumatan lembut bibir Luhan pada bibirnya. Keduanya menjatuhkan diri di atas hamparan bunga dandelion, dengan tubuh Luhan menindih tubuh Hyerim. Ciuman itu masih terus berlanjut. Luhan melepaskan tautannya dengan Hyerim, dan memandangi gadis itu lembut. Luhan mulai mengecup kening, mata, dan kedua pipi Hyerim bergantian sebelum akhirnya kembali mencium bibir gadis itu.

 

 

**

 

Hyerim mondar-mandir tidak jelas di koridor rumah sakit, Luhan sudah dipindahkan ke kamar inap biasa tapi belum kunjung juga siuman. Kedua orang tua Luhan sudah datang beberapa menit yang lalu dan segera masuk ke kamar inap putranya. Sementara Hyerim menunggu di luar, selain menghormati kedua orang tua Luhan yang ingin melihat kondisi putranya, tapi diiringi juga ketidak sanggupannya melihat Luhan yang lemah.

 

“Kamu seperti beruang dalam kurungan,” ucap dokter muda ber-name tag ­­Kim Ryeowook.

 

Hyerim mengangkat wajahnya dan menatap sendu kakak seayah-seibunya itu, Hyerim segera memeluk Ryeowook erat dan menangis, “Oppa, kumohon selamatkan Luhan, kumohon,”

 

Ryeowook menghela napas sambil mengusap punggung sang adik yang berjarak 5 tahun darinya. “Hanya donor sumsum tulang belakang yang dapat menyembuhkan penyakit leukimia, Hye. Kamu tahu betul itu kan?” mendengar penuturan Ryeowook membuat Hyerim seketika terlintas sesuatu dalam otaknya.

**

 

Hyerim berjalan sambil menunduk kesuatu tempat, saat sampai pada  tempat yang dituju, yakni taman dandelion. Tangis yang di tahan gadis berumur 17  tahun itu pecah memenuhi sore menjelang malam.

 

‘TUK!’

 

Sebuah tangan dengan tidak sopannya mengetuk belakang kepala Hyerim dan membuat gadis itu menoleh. Hyerim mendapati Luhan menatapnya heran sambil melipat tangan di depan dada.

 

“Ckckckck, lihat wajahmu! Berantakan sekali,” komentar Luhan di sertai gelengan kepalanya yang perihatin.

 

Hyerim tambah menangis dan langsung memeluk Luhan erat, “Hiks, aku mau kabur dari rumah saja! Eomma selalu tidak mengerti aku!”

 

Luhan hanya geleng-geleng dan mengusap-usap punggung Hyerim lembut. Dirinya sudah menebak Hyerim pasti berdebat lagi entah dengan ibunya atau kakak lelakinya, saat Luhan tak sengaja melihat gadis itu berlari pergi dengan wajah menahan tangis keluar rumahnya menuju taman bunga favoritnya.

 

“Kamu sih kadang suka sulit di beritahu,” ucap Luhan. Hyerim melepaskan pelukannya dan menatap Luhan jengkel.

 

“Oh begitu? Jadi kamu tidak membelaku sekarang? Kamu sudah tidak menyayangiku lagi sebagai sahabatmu huh?!” seru Hyerim sambil memalingkan wajahnya dengan bibirnya dipoutkan dan tangan dilipat di depan dada.

 

Luhan tersenyum simpul mendengarnya. “Ya, aku sudah tidak meyayangimu sebagai sahabatku lagi,” mendengar ucapan Luhan itu membuat Hyerim menoleh dengan wajah galak dan hendak berteriak, sampai sebuah kecupan sekilas dibibirnya Hyerim rasakan.

 

“Lu..Luhan..,” gumam Hyerim shock.

 

Luhan tersenyum hangat dan mengelus rambut Hyerim lembut. “Aku menyayangimu sebagai seorang wanita, sejak awal aku melihatmu, sejak awal aku memberanikan diri berkenalan denganmu, sejak awal kita bersahabat. Aku mencintaimu Kim Hyerim. Maukah kamu menjadi kekasihku?”

 

Hyerim menatap Luhan kaget, tidak tahu harus berucap apa. Bibirnya seakan kelu untuk mengeluarkan kata ‘ya’ sekalipun. Maka dari itu sebuah anggukan lah yang dapat menjawab tembakan Luhan.

 

“Aku juga mencintaimu,” gumam Hyerim pelan sambil menunduk dengan pipi sudah semerah apel.

 

Luhan tersenyum makin lebar dan mengangkat dagu Hyerim,  lalu menatap dalam manik mata gadisnya. “Biarkan dandelion di sini menjadi saksi bisu ungkapan cinta antara kita berdua. Kita akan saling mencintai sampai serbuk terakhir dandelion di dunia ini terbang pergi menjauh,” gumam Luhan yang lalu mencium bibir Hyerim dan melumatnya lembut.

**

 

Luhan terbangun dari tidurnya, langit putih kamar rumah sakit lah yang menyambut pandangannya. Luhan perlahan bergerak dan duduk menyender pada kepala ranjang. Dirinya baru menyadari Hyerim tertidur dengan posisi duduk dan kepala ditidurkan pada ranjangnya. Luhan tersenyum simpul dan mengelus rambut Hyerim lembut. Detik berikutnya, gadis itu terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Hyerim yang sadar Luhan sudah siuman dan tengah tersenyum lembut padanya, langsung memeluk lelaki itu erat.

 

“Lu, aku sudah takut kamu tidak akan bangun lagi,” ucap Hyerim disela isak tangisnya. Luhan balas memeluknya dan mengelus punggungnya.

 

“Aku akan selalu bersamamu dan tidak akan meninggalkanmu, kamu ingat itukan?” ucap Luhan. Hyerim merenggangkan pelukannya dan menatap Luhan yang balas menatapnya lembut.

 

“Lu,” panggil Hyerim

 

“Hmmm?”

 

“Bila aku meninggal nanti, bisakah kamu tebarkan abuku di taman bunga dandelion di mana banyak tercipta kenangan kita berdua. Tempat aku bertemu denganmu, tempat kamu jatuh cinta padaku, tempat kamu memperhatikanku, tempat kita pertama kali bertemu, tempat kita berkenalan dan menjadi sahabat, tempat kamu merebut ciuman pertamaku, tempat kamu mengungkapkan cinta padaku. Tempat saksi bisu perjalan cinta kita berdua,” ucap Hyerim sambil kembali memeluk Luhan dan menaruh dagunya dibahu pria tersebut.

 

“Kenapa bicara seperti itu? Aku yang akan menghadapi maut dengan penyakitku, kenapa kamu yang berkata seperti itu, hmm?”

 

“Tidak apa, aku hanya uhuk..

 

Hyerim tiba-tiba terbatuk membuat Luhan terkejut. Luhan segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah pucat Hyerim khawatir. “Kamu kenapa, Hye?”

 

“Ah, pasti hanya kurang makan. Satu minggu aku menemanimu di sini,” jawab Hyerim sambil tersenyum.

 

Luhan meletakkan punggung tangannya didahi Hyerim. Sangtalah panas. Hyerim pasti demam tinggi karena cuaca dan kurang makan. Gadis itu memang kadang kali nekat seperti menemani Luhan yang tak sadarkan diri selama satu seminggu tanpa memikirkan dirinya.

 

“Gila! Kamu demam tahu! Cepat panggilkan..-“ Hyerim langsung membekap bibir Luhan dengan kedua tangannya disertai gelengan.

 

“Aku baik-baik saja, percayalah.” Luhan pun mengalah dan hanya menghela napasnya. Kembali Hyerim mendekapnya erat. Satu bunga dandelion dalam toples bening di atas naskas pun terkena angin membuat serbuknya terbang saat Luhan mencium bibir Hyerim lembut.

**

 

Hyerim menatap taman dandelion yang sebagian serbuk bunga tersebut terbang terbawa angin. Matahari mulai tenggelam diufuk barat. Hyerim tersenyum simpul kala sang mentari mulai menghilang. Tiba-tiba, suara dering ponselnya membunyarkan semua. Kim Ryeowook. Oppanya lah yang tengah menelponnya, entah kenapa, yang pasti Hyerim yakin ada hubungannya dengan Luhan.

 

Yeboseyo?”

“Yak! Cepat ke rumah sakit sekarang!”

“Ada apa?” tanya Hyerim panik.

“Ini ada kaitannya dengan Luhan! Cepat!”

 

Setelah sambungan terputus, Hyerim langsung buru-buru menuju rumah sakit. Luhan. Hanya nama itu yang terlintas dibenaknya.

**

 

Hamparan bunga dandelion itu tidak berubah walau sudah satu tahun lamanya berlalu. Sepasang mata menatap sendu hamparan taman yang menjadi favoritnya ini. Banyak kenangan yang tercipta di sini dengan orang terkasihnya, kenangan itu seolah berputar diotaknya layaknya film yang di replay. Rasanya sangat sesak mengingatnya. Mengingat kenangan bersama orang yang bahkan sudah tidak menampakan kaki didunia ini dan bernapas ditempat yang sama dengannya.

 

“Bila aku meninggal nanti, bisakah kamu tebarkan abuku di taman bunga dandelion di mana banyak tercipta kenangan kita berdua. Tempat aku bertemu denganmu, tempat kamu jatuh cinta padaku, tempat kamu memperhatikanku, tempat kita pertama kali bertemu, tempat kita berkenalan dan menjadi sahabat, tempat kamu merebut ciuman pertamaku, tempat kamu mengungkapkan cinta padaku. Tempat saksi bisu perjalan cinta kita berdua,”

“Kenapa bicara seperti itu? Aku yang akan menghadapi maut dengan penyakitku, kenapa kamu yang berkata seperti itu, hmm?”

 

Mata yang terpejam mengingat seuntai masa lalu itu perlahan membuka dengan cairan bening dipelupuk matanya. “Hyerim-ah, aku merindukanmu,” gumam Luhan.

**

 

“OPPA! NEO JINJJA (KAU INI BENAR-BENAR!)” Hyerim berteriak ketika sampai di rumah sakit. Sementara Ryeowook tersenyum tanpa dosa padanya. “Aku kira terjadi sesuatu pada Luhan! Bodoh!” seru Hyerim, menyalurkan rasa kesalnya.

 

“Kalau tidak begitu, kamu tidak akan segera datang,” ucap Ryeowook disertai cengirannya. Hyerim masih menatap sebal kakaknya itu. “Tentang testmu itu, hmmm… susum tulang belakangmu cocok dengan Luhan.”

 

Hyerim langsung menatap kaget sekaligus antusias pada Ryeowook. “Tapi kendalanya pada dirimu Hyerim. Kondisi tubuhmu kurang sehat. Kamu tidak makan satu minggu ini dan kekurangan darah. Bila melakukan operasi ini kamu bisa tidak selamat. Padahal donor STB tidak akan merengut nyawa seseorang. Kita bisa melakukan operasi ini nanti. Tapi…-“ Ryeowook menatap manik mata adiknya sendu. “Luhan harus segera diselamatkan, kanker sudah menggerogotinya makin parah. Jadi…-“

 

“Lakukan operasi sekarang. Aku tidak peduli tentang diriku. Yang penting adalah Luhan,” Ryeowook menghela napas, dirinya sudah tahu betul sifat adiknya. Yang rela nekad demi orang yang ia kasihi.

**

 

“Kamu benar-benar bodoh! Merelakan nyawa untukku dengan nekadnya,” gumam Luhan saat mengingat satu tahun lalu tiba-tiba ada berita susum tulang belakang yang cocok dengannya, kemudian dirinya langsung melakukan operasi.

 

Saat terbangun, Luhan berharap dapat melihat senyuman Hyerim. Tapi semua diluar pikirannnya. Hyerim lah yang melakukan pendonoran padanya tanpa peduli kondisi tubuhnya. Dan pada akhirnya, selesai operasi, tubuh gadis itu collapse dan beberapa jam setelahnya, Hyerim menghembuskan napas terakhirnya. Sesuai keinginan gadis itu, Luhan menaburkan abu Hyerim di taman dandelion ini. Setiap Luhan ke sini, angin lembut menerpa wajahnya seakan Hyerim menyapanya, serbuk dandelion berterbangan seakan mewakilkan sejuta kata cinta yang diucapkan gadis itu pada Luhan.

 

“Kita akan saling mencintai sampai serbuk terakhir dandelion di dunia ini terbang pergi menjauh, kamu ingat kata-kata itukan? Dandelion di sini pun menjadi saksi kita akan mencintai sampai serbuk terakhir bunga favoritmu itu terbang pergi menjauh. Layaknya kamu yang pergi menjauh bersama serbuk dandelion. Tapi masih ada dalam diriku. Kamu menyumbangkan organmu yang ada dalam diriku. Terimakasih,” gumam Luhan sambil memejamkan mata saat dirasakan setetes air mata jatuh. Setelah itu, Luhan pergi meninggalkan taman dandelion sejuta kenangannya bersama Hyerim.

 

Setelah Luhan pergi, seakan di sana ada bayangan Hyerim yang berlarian diantara dandelion yang sebagian serbuknya terbang terkena angin sore. Dan di sana pula ada bayangan Luhan yang melukis gadis itu dengan background taman dandelion. Satu serbuk hinggap dirambut Hyerim, membuat Luhan memberhentikan aktifitasnya dan berjalan ke arah Hyerim untuk meniup serbuk itu terbang menjauh keangkasa. Matahari pun tenggelam diiringi bayangan sepasang kekasih di tengah hamparan dandelion itu menghilang.

 

“Hamparan bunga dandelionlah yang menjadi saksi bisu kisah cinta kita. Aku mencintaimu Luhan. Sampai jumpa lagi,” gumam Hyerim dari kejauhan.

 

Dandelion bunga yang jarang sekali kita perhatikan. Bunga yang rapuh dan harus dijaga dengan baik. Sama halnya dengan hati manusia yang harus dijaga dengan cinta dan kasih. Ya, kita lemah dan harus dijaga dan juga akan pergi dari dunia ini layaknya dandelion dan serbuknya.

 

Luhan & Hyerim

In memories

-A Dandelion Memories END-

2 thoughts on “A Dandelion Memories

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s