Love In Seoul (Chapter 4)

Love In Seoul

Chapter 4 ( Apakah coklat adalah jimat cinta? )

Main Cast:

  • Oh Sehun
  • Kim Cheonsa
  • Park Chanyeol

Other Cast:

  • Oh Sejun / Donsaeng Oh Sehun
  • Kim Jong Suk / Appa Cheonsa
  • Oh Jung Won / Appa Sehun
  • Oh Ha Young / Eomma Sehun
  • Choi Semi / Sahabat Cheonsa
  • Park Min Young / Sahabat Cheonsa
  • Kai / Sahabat Chanyeol
  • Tao / Sahabat Chanyeol
  • Chen / Sahabat Chanyeol

Rating:

  • General

Genre:

  • Friendship
  • Comedy
  • Romance
  • School Life

Length:

  • Chapter

Author:

  • Aihara Naomi/@asmie_22/Asmie amier

 

Disclaimer : terima kasih buat yang komen,ini memang mirip dengan naughty kiss tapi tak sepenuhnya sama. Saya akan berusaha dengan baik untuk membuat ff ini menjadi menarik

Chapter 1 Chapter 2Chapter 3

 Happy Reading J

“Waktu berlalu dengan cepat. Summer, fall dan akhirnya winter.. aku bahagia aku bisa diterima di sebuah kampus. Tapi hubungan antara Sehun dan aku tidak ada perkembangan”.

Cheonsa, Min Young dan Semi pergi ke acara tahun baru ke kuil dikotanya. Min Young dan Semi memakai hanbok modren sementara Cheonsa memakai hanbook tradisional yang dibantu Eomma Sehun saat memakainya. Cheonsa terlihat sangat cantik dengan hanbook warna merah itu.

Mereka bertiga ternyata diterima di Universitas Yonsei semua jadi mereka akan tetap bersama. Mereka pergi ke altar kuil untuk berdoa. Setelah memasukkan koin dalam kotak persembahan mereka lalu berdoa.

“aku harap aku punya masa kuliah yang menyenangkan”. Batin Min young

”aku harap aku punya pacar tahun ini”. Batin Semi

Lalu keduanya diam menunggu doa Cheonsa, tapi tak ada sepatah kalimat pun yang keluar dari mulut Cheonsa. Min Young dan Semi membuka matanya dan saling menatap. Mereka melirik ke Cheonsa yang sedang sangat serius berdoa.

“tanpa banyak kata, itu sudah jelas apa yang dia harapkan”. ucap Semi. Mereka lalu mengambil kertas ramalan mereka. Cheonsa yang pertama berteriak kegirangan melihat isi kertas ramalannya.

“yeahhh.. aku dapat ramalan keberuntunganku!”. Teriak Cheonsa mulai membaca kertas ramalannya

“orang yang kau tunggu akan datang”
“Bagus Cheonsa”. Seru Semi

“orang yang kau tunggu tidak akan datang tapi kau akan dapat kabar tentangnya”. Min Young juga ikut membaca kertas ramalannya.

“dia tidak akan datang jika kau terlalu ambisius”. Semi juga membaca ramalan punyanya.

Ditempat lain Chanyeol sedang bersedih karena ia tidak diterima di universitas Yonsei karena nilainya jelek. Ia minta 2 sahabatnya untuk tidak memberitahu Cheonsa kalau ia tidak kuliah.

Dirumah keluarga Oh mereka semua berpesta memberi semangat pada Cheonsa karena diterima di universitas Yonsei. Appa Cheonsa sudah mempersiapkan berbagai makanan dan bahkan kue tart. Appa dan Eomma Sehun memberi ucapan selamat pada Cheonsa tapi Sehun dan Sejun tidak memberi ucapan. Appa Sehun lalu mengatakan kalau Sehun juga akan menyusul Cheonsa mencari universitas.

“dia tidak sebodoh Cheonsa, dia akan masuk ke universitas Seoul”. Jawab Sejun.

“Sejun..”. Seru Appanya tidak suka.

“oh ya..”. Kata Cheonsa teringat sesuatu dan mengambil sesuatu di belakang kursinya. Ia mengambil bungkusan dan memberikannya pada Sehun.

“Sehun.. ini untukmu.. aku bisa masuk universitas ini semua karenamu menolongku belajar.. itu barang kecil”. Kata Cheonsa.

“wah manisnya.. cepat buka Sehun”. Kata Eomma Sehun ingin tahu. Sehun membuka bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. Ia heran melihat kado itu yang isinya berbentuk seperti pengocok telur. Cheonsa tersenyum menunggu kata-kata Sehun. Sejun mengambil barang itu dari tangan kakaknya

“apa ini?”. Tanya Sejun ingin tahu.
“itu alat pemijat kepala”. Jawab Cheonsa.

“ohhh.. “. Tawa semuanya yang sepertinya juga baru tahu kalau alat itu adalah alat untuk pemijat kepala.

“Sehun ambil ujian masuk Universitas Seoul kan? Dia perlu banyak belajar, jadi..” Cheonsa grogi melihat Sehun yang didepannya. Sehun menatap Cheonsa masih heran dengan harian pemberian Cheonsa. Sejun mengambil pemijat itu

“ ini mirip pengaduk..lebih cocok untuk orang tua”. Ejek Sejun ceplas ceplos.

“hey Sejun..”. Eommanya jadi tidak enak sendiri.

“jangan pikirkan… Kenapa kau tidak mencobanya saja Sehun?”. Kata Eommanya tersenyum.

“tidak apa-apa.. lagian itu bukan hanya universitas Soeul, aku belum memutuskan ingin pergi ke universitas mana”. Semua terkejut dengan kebimbangan Sehun. Kedua orang tuanya terutama Appa Sehun tentu saja berharap Sehun dapat pergi ke Universitas Seoul yang terkenal itu dan juga kampus Appa Sehun juga.

“Sejun, aku akan mencoba itu”. Seru Appanya meminta pijatan kepala itu.

“bagimana cara kerjanya ini”. Kata Appa Sehun melihat pemijat itu.

Cheonsa tidak bergerak dari kursinya, ia masih tak percaya Sehun belum tahu universitas yang ia inginkan.

“Sehun dapat masuk universitas Seoul tanpa masalah tapi dia bilang dia mungkin tidak ingin pergi ke universitas? Sebenarnya apa yang terjadi?”. Batin Cheonsa.
~Di sekolah~

Cheonsa dan 2 sahabat berjalan melewati kelas A, kelas khusus anak genius. Mereka terlihat serius belajar untuk persiapan masuk universitas Seoul. Sedangkan dia dan kedua temannya tidak bingung lagi menentukan universitasnya karena sudah diterima di univeritas Yonsei. Cheonsa melihat didalam hanya Sehun yang terlihat santai membaca buku lain.

Pulang sekolah Cheonsa pinjam perlengkapan menjahit Eomma Sehun untuk membuatkan jimat untuk Sehun.

~1 hari menjelang ujian masuk universitas Seoul~

Jimat yang dibuat Cheonsa akhirnya selesai, karena besok adalah hari ujiannya maka malam-malam Cheonsa pergi ke dalam kamar Sehun untuk memberikannya.  Cheonsa mengetuk pintu kamar Sehun pelan.

“ya? “. Tanya Sehun dari dalam kamarnya. Cheonsa membuka pintu kamar Sehun dan melihat didalam Sehun terlihat sangat sibuk belajar.

“bisakah aku menganggumu sebentar?”. Tanya Cheonsa. Sehun tidak menjawab jadi Cheonsa masuk ke dalam kamar Sehun. Cheonsa meletakkan jimat keberuntungannya di atas meja Sehun.  Sehun melirik jimat buatan itu sekilas lalu beralih lagi ke bukunya.

“test nasional kan besok jadi kau akan ikut kan?”. Tanya Cheonsa penasaran.

“aku akan memasukkan aplikasi ku”. Jawab Sehun.

“syukurlah.. jika kau tidak punya universitas yang kau inginkan maka orang tuamu pasti akan senang jika kau bisa masuk universitas Seoul. Aku selalu saja menyusahkan Appaku. Aku berharap punya kesempatan sepertimu untuk membuat Appaku bahagia”. Kata Cheonsa tapi Sehun tidak memberikan respond apa-apa, tapi sepertinya ia memikirkan sesuatu.

“yah begitu saja ya..”. Pamit Cheonsa keluar dari kamar Sehun. Sebelum sampai pintu ia mendengar suara Sehun.

“apa yang kau rencanakan di universitas?”. Tanya Sehun, Cheonsa berbalik melihat ke Sehun.

“apa yang aku rencanakan? Aku akan belajar dan punya banyak teman”. Jawab Cheonsa.

“kau kesana untuk belajar.. itu hal yang tidak kau nikmati”. Ejek Sehun.

“aku tak mengerti mengapa setiap orang begitu ingin sekali pergi ke universitas”. Lanjut Sehun.

“aku tahu kampus harusnya untuk orang-orang yang sepertimu belajar”. Sahut Cheonsa.

“aku tak ingin pergi ke universitas”. Kata Sehun

“aku tak ingin seseorang mengajari di kampus. Aku bisa belajar sediri”. Kata Sehun santai.

“tapi itu untuk mendapatkan kualifikasi tertentu yang ingin kau lakukan kedepan”. Kata Cheonsa yang kanget mendengar Sehun yang tak mau ke universitas.

“apa yang ingin kau lakukan?”. Tanya Sehun sambil menatap Cheonsa.

“aku tak tahu… tapi….”. Kata Cheonsa berpikir.

“aku tahu.. kau akan tahu apa yang kau ingin lakukan saat kau di universitas dan apa yang kau ingin lakukan kedepannya”. Lanjut Cheonsa. Sehun menatap Cheonsa seperti kagum.

“kau jangan gunakan otak pintarmu hanya untuk dirimu saja, kau perlu melengkapinya untuk perkembangan Korea”. Sambung Cheonsa.

“kau hebat juga ya… aku selalu berpikir..”. Kata Sehun tertawa

“mengapa dia begitu bekerja keras dalam banyak hal?”. Batin Sehun, Cheonsa tersenyum mendengar pujian Sehun

“dan dia melakukan sepenuhnya dalam melakukan sesuatu.. tapi mengapa dia tak bisa melakukannya?. aku kagum..”. Batin Sehun lagi.

“kau benar benar sarkastik”. Ucap Cheonsa. Sehun diam tenggelam dalam lamunannya.

“aku harap aku bisa melakukan itu”. Gumam Sehun pelan. Lalu ia menyadari kata-katanya. Ia menoleh pada Cheonsa.

“aku besok harus bangun pagi. Lebih baik aku tidur sekarang”. Kata Sehun mengusir Cheonsa secara halus.

“baiklah selamat tinggal”. Kata Cheonsa sebelum Sehun berjalan pergi.

“bisa aku letakkan jimat ini di tasmu?”. Sahut Cheonsa lagi, Sehun diam saja tak menjawab. Cheonsa lalu mengikat jimat itu pada tas Sehun dengan senangnya.

 

~Skip~

Pagi harinya semua sudah berkumpul dimeja makan. Sehun belum turun untuk bergabung dengan yang lainnya.

“Sehun terlambat”. Ucap Eomma Sehun gelisah.
“jangan bilang kalau dia tidak akan ikut test”. Kata Appa Sehun
“jangan khawatir, dia tau perasaaanmu mengenai ini”. Jawab Appa Cheonsa
“tapi dia terkadang keras kepala”. Sahut Appa Sehun.

Sehun datang membuat semua kaget melihatnya. Sehun heran semua hanya menatapnya tanpa bicara apapun.

“ada apa? “. Tanya Sehun.

“oh Sehun.. Annyeonghaseyo..”. Semua langsung tersenyum lega. Eomma Sehun memberikan kotak makan siang Sehun untuk dibawanya. Tiba-tiba Sehun terbatuk batuk membuat semuanya jadi khawatir.

“kenapa Sehun?”. Tanya Appa Sehun.

“aku agak panas, sepertinya aku kena demam”. Jawab Sehun.

“disaat penting seperti ini?”. Tanya Appanya khawatir.

“ini tidak baik.. kita butuh telur..”. Eomma Sehun berlari untuk mengambilkan telur. Semua langsung berlari panik mencarikan obat untuk mengatasi sakitnya Sehun.

“semua baik-baik saja.. aku pergi sekarang”. Seru Sehun yang ditinggal semua orang.

“bagaimana dengan breakfastmu?”. Kata Eomma Sehun datang membawa telur rebus.

“aku tak punya selera. Ini sudah cukup”. Sahut Sehun mengambil sebuah roti.

“Sehun… Sehun”. panggil Cheonsa berlari-lari

“minum obat ini. Ini sangat manjur”. Kata Cheonsa menyodorkan obat pada Sehun. Sehun meletakkan rotinya dan segera mengambil obat yang diberikan Cheonsa.

“untunglah”. kata Appa Sehun lega.

“aku lupa bertanya.. apakah ini menyebabkan kantuk?”. Tanya Sehun sambil mengambil bungkus obat yang diminumnya tadi. Cheonsa jadi ingat ia belum membaca tulisannya, ia merebut tempat obat itu dari tangan Sehun dan membaca.

“jangan mengendarai setelah meminum obat ini”. Baca Cheonsa. Semua terkejut saat tahu kalau obat itu mengandung obat tidur.

“Sehun muntahan.. ayo muntahkan”. Seru Appa Sehun panik menepuk-nepuk punggung Sehun agar obat di muntahkan.

“Sehun-ah, aku akan memeganginya. Taruh tanganmu dimulutnya!”. Seru Appa Cheonsa mencoba membantu Appa Sehun.

“Sejun cepat ambi baskom.. cepat!”. Seru Eomma Sehun. Sejun segera berlari untuk mengambil baskom didapur.

“cukup!! “. Teriak Sehun melepaskan diri dari pegangan Appa Cheonsa dan Appanya.

“aku pergi sekarang”. Kata Sehun segera berjalan ke pintu.
“aku harap Sehun baik-baik saja”. Batin Cheonsa

Sehun bertemu dengan Baekhyun di stasiun… dia sahabatnya Sehun di SMA.
Baekhyun melihat jimat keberuntungan yang tergantung ditas Sehun.

“apa gadis yang tinggal bersamamu yang membuatnya?”. Tanya Baekhyun, Sehun melihat jimat itu.

“ akan aku buang di lokasi test”. Jawab Sehun.

“aku kasihan padanya jika kau lakukan itu. Dia itu sebenarnya typku” kata Baekhyun.

Mereka masuk kedalam lift yang penuh orang, Sehun meletakkannya dikakinya dekat pintu lift. Saat Sehun mau keluar, ia terkejut ternyata jimat itu kecepit pintu lift. Sehun mencoba menariknya tapi tetap tak bisa. Sehun minta maaf pada orang-orang yang akan naik lift karena liftnya tidak bisa dipakai. Sehun meminta Baekhyun pergi duluan. Setelah Baekhyun pergi Sehun memencet tombol emergency lift dan menginformasikan kalau lift rusak. Sehun tepat datang beberapa menit sebelum acara dimulai. Baekhyun menunggu Sehun didepan lokasi test. Mereka berjalan menaiki tangga ke ruang test.

“bagaimana dengan jimatnya?”. Tanya Baekhyun. Sehun mengangkat tasnya memperlihatkan jimat yang masih tergantung ditasnya

“ ohh.. masih ada disini”. Kata Baekhyun

“jangan-jangan itu malah sial untukmu”. Seru Baekhyun lagi.

“iya aku harus melepasnya..”. Sehun meraih jimat itu dan dengan mudah jimat buatan Cheonsa itu lepas ke lantai.

“lihat begitu mudah terlepas”. Ucap Sehun tertawa. Sehun membungkuk untuk mengambil jimat yang terjatuh itu, namun sialnya didepannya ada orang yang turun tangga dan menabrak Sehun. Keduanya langsung terjatuh bergulingan ditangga. Karena kejadian itu Sehun terpaksa aku pergi ke ruang kesehatan dulu.  Test sudah dimulai dan Sehun belum masuk ke kelas ujian. Baekhyun ikut khawatir Sehun tidak bisa lolos test.

Waktu ujian tinggal 30 menit lagi saat Sehun akhirnya masuk kelas ujian dengan memakai krak. Sehun duduk dikursinya siap untuk mengerjakan testnya. Ia membuka tempat pensilnya dan ia melihat semua pensil yang dibawanya tumpul, mungkin karena ia terjatuh tadi. Baekhyun lalu meminjamkan pensilnya pada Sehun.

Saat istirahat ujian, Sehun mengambil kotak makan siangnya. Saat dibuka kotak makanannya terlihat tulisan “kau dapat melakukannya” dan nasinya dibentuk muka-muka lucu. Sehun langsung menutup kotak makanannya kesal. Baekhyun memberikan rotinya pada Sehun. khawatir kalau nanti Sehun sial kena diare jika makan makanan itu.

Baekhyun bilang lebih baik Sehun segera membuang jimat buatan Cheonsa. Sehun tersadar kalau sejak kejadian ditangga itu, jimatnya sudah tidak ada padanya. Setelah menyadari itu sepertinya Sehun mempertimbangkan sesuatu.  Test kedua berlangsung lebih parah buat Sehun karena ia sempat tertidur saat mengerjakannya sampai guru penjaga membangunkannya dan mengirformasikan kalau test kurang 10 menit lagi.

Sehun langsung panik dan buru-buru mengerjakannya. Pulang test Sehun bertemu dengan petugas ruang kesehatan. Dia bilang kalau ia menemukan jimat Sehun jadi ia meletakkannya disaku jas Sehun. Sehun merogoh sakunya. Dan disana memang ada jimatnya.

“sepertinya kau dan gadis itu akan tetap bersama selamanya”. Seru Baekhyun.

“jangan berkata seperti itu”. Sahut Sehun meremas jimatnya.

Hari itu benar-benar hari sial buat Sehun. Di rumah keluarga Oh semua gelisah menunggu Sehun yang belum pulang juga. Saat mendengar pintu dibuka. Eomma Sehun, Cheonsa dan Sejun langsung berlari ke pintu masuk. Mereka terkejut melihat kondisi Sehun yang datang membawa krak dan muka yang dibalut.

“apa yang terjadi Sehun?”. Tanya Eommanya.

“aku terjatuh”. Jawab Sehun

“ahh terlihat parah sekali”. Eomma Sehun jadi khawatir lihat kondisi Sehun.

“jimatnya sepertinya tidak bekerja..”. Kata Cheonsa. Mendengarnya kekesalan Sehun jadi bangkit. Ia menaruh kraknya dengan keras.

“itu benar-benar bekerja”. Ejek Sehun.

“apa maksudmu itu?”. Tanya Cheonsa.

“jangan pikirkan. Aku akan ke kamarku”. Sahut Sehun ketus. Sehun lalu naik kelantai atas, disusul Sejun yang khawatir pada kondisi kakaknya.

Di Sekolah, Cheonsa khawatir kalau Sehun tidak lolos ujian masuk. Tapi dari Min Young ia akhirnya lega mendengar Sehun lulus ujian itu dan bisa ikut ujian di universitas Seoul. Cheonsa senang dan berjalan melewati kelas Sehun. Ia bertemu Sehun dijalan.

“ thanks untuk jimatmu, aku bisa ikut test universitas Seoul”. Kata Sehun tersenyum, begitu juga Cheonsa. Sehun lalu mendekati Cheonsa dan bersiap mencium Cheonsa.

“hati-hati..!”. Teriak Baekhyun menyadarkan Cheonsa kalau ia tadi mengkhayal saja. Ia hampir saja menabrak Baekhyun dilorong sekolahnya.

“oh kau dari kelas A ya?”. Tanya Cheonsa. Baekhyun langsung berlari ketakutan kena sial jika bertemu Cheonsa. Cheonsa berlari menyusul Baekhyun.

“ada apa? Apa itu berhubungan dengan hasil test?”. Tanya Baekhyun.

“seperti dugaanku, Sehun tidak bisa mengerjakan ditest ya?”. Lanjut Baekhyun, ia tidak tahu kalau Sehun lolos ujian hari pertama itu.

“apa maksudmu? Sehun dapat mengerjakannya. Dia dapat ikut ujian di universitas Seoul”. Jawab Cheonsa gembira.

“heihhhh…?? Hebattt.. dalam kondisi seperti itu?”. Baekhyun terkagum dengan kepandaian Sehun.

“kondisi seperti itu?”. Tanya Cheonsa polos.

“itu adalah bencana.. aku belum pernah melihat Sehun seperti itu. Meski itu diakibatkan Karena jimat itu”. Kata Baekhyun.

“karena jimat?”. Tanya Cheonsa kaget. Baekhyun juga terkejut menyadari ia keceplosan bicara. Baekhyun langsung pergi menghindari Cheonsa.

“tunggu.. apa yang kau katakan?”. Tanya Cheonsa penasaran. Cheonsa mendesak Baekhyun yang terus mundur menghindari Cheonsa sampai mereka ada dipuncak tangga. Baekhyun melihat ke bawah tangga dan jadi ketakutan kalau ia akan terjatuh seperti Sehun.

“jangan.. aku akan memberi tahumu!”. Seru Baekhyun panik takut didorong Cheonsa ke bawah. Cheonsa melihat kebawah dan terkejut mereka ada diujung tangga atas. Ia melepaskan pegangan tangannya pada Baekhyun.

Baekhyun lalu menceritakan kejadian saat ujian itu pada Cheonsa. Cheonsa pulang dengan penuh penyesalan atas jimat yang diberikannya pada Sehun.

Cheonsa melihat keluar jendela dan ia melihat bintang jatuh lagi. ia segera membuat permohoan dalam hatinya.

 

~Hari ujian masuk Universitas Seoul~

Semua mengantar Sehun didepan pintu, mereka mencemaskan keadaan Sehun.

“aku pergi dulu tapi kalian tak perlu datang mengantarku pergi”. Kata Sehun di depan pintu.

“tapi kami sangat khawatir”. Sahut Eommanya.

“apa kau mau kami mengantarmu?”. Tanya Appanya.

“tidak usah.. kakiku sudah baikkan. Aku pergi dulu”. Pamit Sehun meninggalkan keluarganya.

Cheonsa teringat ucapan Baekhyun saat Sehun ikut ujian waktu itu. Ia segera berlari untuk mengambil mantelnya.

“Cheonsa-ah”. Seru Eomma Sehun melihat Cheonsa berlari-lari untuk keluar rumah.

“aku akan pergi mengawasi Sehun sampai dia masuk gerbang di universitas Seoul. Aku khawatir sesuatu akan terjadi”. Sahut Cheonsa. Semua terkejut dengan keputusan Cheonsa untuk mengawasi Sehun tapi mereka tidak bisa berbuat banyak.

Cheonsa mengawasi Sehun dari jauh . ia harus brsembunyi dibalik pepohoan kalau tahu Sehun menoleh ke belakang. Sehun menyadari kalau ia sedang diikuti. Bagaimana ia tidak tahu kalau jalan yang mereka lewati sangat sepi.

“terlihat sekali kalau kau mngikutiku”. Seru Sehun berhenti berjalan.

“aku hanya ingin melihatmu sampai didepan universitas Seoul“. Kata Cheonsa, Sehun tidak menjawab dan melangkah lagi. Cheonsa ikut berjalan lagi dan tidak menyadari kalau dibawahnya ada kulit pisang. Ia menginjak kulit itu dan ia terpeleset.

“ahh aku terpeleset”. Teriaknya tanpa sadar. Sehun berbalik melihat Cheonsa.

“maaf aku terpeleset didepan orang yang ikut ujian”. Kata Cheonsa langsung berdiri tegak.

Sehun tidak tertawa atau marah, ia lalu melangkah lagi. Setelah terpeleset itu, Cheonsa merasa perutnya agak sakit tapi ia tetap mengikuti dibelakang Sehun sampai didekat lokasi kampus universitas Seoul. Cheonsa masih merasa sakit pada perutnya jadi ia berjalan agak lambat. Cheonsa melihat siswa-siswi yang mau ikut ujian seperti Sehun. Sehun menoleh kebelakang dan melihat langkah Cheonsa agak aneh. Cheonsa terus memegangi perutnya.

“kenapa jalanmu aneh?”. Tanya Sehun.

“ah tidak.. aku berjalan seperti biasa kok”. sanggah Cheonsa. Sehun mengamati wajah Cheonsa yang agak pucat

“ kau juga terlihat sakit”. Kata Sehun sedikit khawatir.

“ahh aku hanya grogi saja kok”. Kata Cheonsa tertawa.

“mengapa kau yang grogi? Kan aku yang ikut ujian”. Kata Sehun dan berjalan lagi.

“apa yang harus kulakukan.. aku belum pernah sakit perut seperti ini”. Batin Cheonsa merasa perutnya semakin sakit dan berjalan membungkuk kesakitan.

“tapi tak boleh.. tidak sampai aku melihat Sehun masuk ke gerbang universitas Seoul. Aku tak mau membuatnya khawatir”. Batin Cheonsa lagi.

Mereka sudah sampai di jalan seberang Universitas Seoul. Ini didepan gerbang Universitas Seoul. Mereka berjalan bersisian, Sehun heran melihat Cheonsa yang terlihat sakit.

“ hey apa kau benar-benar tidak apa-apa?”. Tanya Sehun lagi.

“tentu saja.. semoga beruntung dengan ujianmu”. Sahut Cheonsa memberi semangat Sehun.

Sehun lalu pergi menyeberangi jalan menuju kampus Universitas Seoul. Cheonsa sepertinya sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya.

“kamar mandi.. kamar mandi”. gumam Cheonsa kesakitan mau pergi ke kamar mandi.

Cheonsa tak bisa menahan rasa sakitnya lagi dan ia terjatuh di trotoar. Orang-orang langsung berteriak melihatnya dan orang yang disana mengerumuninya. Sehun yang baru menyeberang mendengar teriakan itu, ia menoleh kebelakang dan melihat Cheonsa terjatuh di trotoar itu. Sehun langsung berbalik berlari mendekati Cheonsa.

“permisi”. Ucap Sehun pada orang yang mengerumuni Cheonsa. Ia lalu membopong Cheonsa

“apa kau baik-baik saja?”. Tanya Sehun khawatir.

Sehun bertanya lokasi rumah sakit dan seorang gadis menunjukkan padanya. Sehun segera pergi menuju rumah sakit dengan Cehonsa di gendongannya. Sehun berjalan agak berlari dan sesekali melihat wajah Cheonsa.

“Sehun.. kau harus pergi ke ujian itu… Sehun kau akan terlambat.. pergilah ke ujian itu.. Appa dan Eommamu, juga Sejun.. mereka sangat berharap padamu..”. Kata Cheonsa sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

Cheonsa terbangun dirumah sakit dengan Appa dan Eomma Sehun dan Appanya yang terlihat panik menatapnya.

“mengapa aku disini?”. Tanya Cheonsa.

“apa kau baik-baik Cheonsa-ah?”. Tanya Eomma Sehun balik.

“kau menderita radang usus buntu akut”. Kata Appa Cheonsa

“kau baik-baik saja sekarang karena mereka sudah memberikan pengobatan padamu. Kau bisa pulang nanti malam”. Lanjut Appa Cheonsa

“senang melihatmu baik-baik saja Cheonsa-ah”. Ucap Appa Sehun. Cheonsa bangun untuk duduk dibantu ibu Eomma Sehun. Ia melihat sekeliling kamarnya mencari seseorang.

“apa yang terjadi dengan Sehun?”. Tanya Cheonsa khawatir.

“saat kami tiba disini, dia sudah tidak ada. Dia mungkin sudah pergi ke universitas setelah menelpon kami. Aku rasa ia sekarang sudah ada dipertengahan ujian”. Jawab Eomma Sehun menenangkan Cheonsa dan Sehun.

“baguslah.. “. Gumam Cheonsa lega.

“jika ia tidak bisa ikut ujian karena aku. Jika hidupnya dalam masalah.. aku jadi khawatir”. Kata Cheonsa.

“Cheonsa-ah, kau begitu peduli pada Sehun meski kau sakit seperti ini..”. Eomma Sehun terharu menyentuh Cheonsa dengan sayang.

“apa kau mencari aku”. Suara Sehun tiba-tiba ada diantara mereka, semua langsung menoleh ke sumber suara.

Sehun berdiri didepan pintu menatap ke semua yang mengerumuni Cheonsa. Semua terkejut melihat Sehun masih dirumah sakit. Apalagi Appa Sehun yang sangat mengharapkan Sehun bisa ke Universitas Seoul.

“Sehun bukankah kau harusnya mengikuti ujian?”. Tanya Appanya panik. Sehun mendekat ke mereka

“aku lapar jadi aku pergi membeli makanan”. Jawab Sehun santai, semua terkejut mendengar jawaban Sehun yang santai itu.

“lalu bagaimana dengan ujian? Bagaimana dengan Universitas Seoul?”Tanya Eomma Sehun.

“Universitas Seoul? Aku tidak ikut ujian itu”. Jawab Sehun santai.

“hahh?!!!”. Semua shock mendengar pengakuan Sehun itu.

“Ah tidak…”. Gumam Cheonsa sedih. Appanya langsung berlutut didepan Appa dan Eomma Sehun.

“Oh-chan, Eomma Sehun dan Sehun… aku minta maaf.. karena putriku, putramu mendapatkan kesulitan”. Seru Appa Cheonsa menunduk didepan sahabatnya itu. Appa Sehun membangunkan Appa Cheonsa yang masih berlutut itu.

“sudah angkat kepalamu.. itu adalah keputusan Sehun untuk tidak ikut ujian”. Kata Appa Sehun membangunkan Appa Cheonsa.

“iya itu benar..”. Sahut Eomma Sehun ikut mencoba membagunkan Appa Cheonsa yang masih berlutut itu.

”dan meski dia bisa ikut ke Universitas Seoul. Aku akan kecewa karena dia meninggalkan Cheonsa dalam kesakitan”. Seru Eomma Sehun.

“iya benar.. benar.. ini adalah takdirnya. Jangan khawatir, ayo angat kepalamu” sahut Appa Sehun. Sehun hanya tertunduk diam saja. Sementara Cheonsa mencoba menatap sehun diam-diam dengan sedih.

“karena aku… hal yang terburuk terjadi pada keluarga Sehun”. Batin Cheonsa.

 

~skip~

Malam harinya Cheonsa perlahan-lahan turun dari tangga rumah keluarga Oh. Dia memakai baju hangat, syal dan ditangannya ia membawa kopernya turun. Ia meninggalkan sebuah surat untuk keluarga Oh diatas meja makan. Cheonsa lalu meninggalkan rumah keluarga Oh yang sudah lama ditempatinya itu. Ia menoleh kebelakang melihat ke rumah keluarga Oh lagi.

“kepada keluarga Oh.. terima kasih untuk semuanya”. Kata Cheonsa melihat rumah itu sangat lama.

“Annyeong Sehun”. Katanya dan berbalik pergi meninggalkan rumah keluarga Oh. Cheonsa terus berjalan melamun menyusuri jalanan dekat rumah keluarga Oh. Ia menunduk, menyesali apa yang terjadi.

“aku tak mau memberimu masalah lagi. Aku akan tinggal dimanapun yang kau tak bisa melihat aku”. Batin Cheonsa.

“kemana aku harus pergi”. Kata Cheonsa tersadar dari lamunannya dan menatap sekelilingnya. Cheonsa baru menyadari kalau ia tak punya tempat tujuan lain untuk menginap. Udara sangat dingin membuatnya kedinginan meski sudah memakai jaket tebal dan syal dilehernya.

“sangat dingin”. Gumam Cheonsa mengusap usap tangannya yang kedinginan tanpa sarung tangan.

“lalu apa kau mau memegang kaleng kopi hangat?”. Tanya suara Sehun didekatnya. Cheonsa terkejut dan berbalik melihat Sehun yang ada dibelakangnya.

“Sehun..”. Kata Cheonsa kaget melihat Sehun Di belakangnya. Sehun mendekati Cheonsa.

“apa yang terjadi?”. Tanya cheonsa heran melihat Sehun yang masih jalan-jalan ditengah malam itu.

“aku tak bisa tidur jadi aku berjalan-jalan”. Jawab Sehun dan menyodorkan sebuah kaleng kopi hangat yang barusan dibelinya tanpa melihat kearah Cheonsa. Cheonsa mengambilnya dan menghangatkan tangannya dengan kaleng kopi hangat itu.

“hangat..”. Ucap Cheonsa pelan. Sehun menatap Cheonsa dan membuat Cheonsa jadi panik sendiri.

“jangan cegah aku..”. Seru Cheonsa.

“aku tak mau mengganggumu lagi”. Kata Cheonsa menunduk.

“aku tak mencegahmu..”. Jawab Sehun. Cheonsa agak kecewa dengan jawaban Sehun yang cuek dengan kepergiannya itu.

“kalau begitu, annyeong”. Kata Cheonsa merengut kecewa dan melangkah pergi menarik kopernya.

“apa kau pergi karena aku tidak pergi ke Universitas Seoul?”. Seru Sehun dibelakangnya. cheonsa menghentikan langkahnya.

“aku pikir aku membuat nasib buruk padamu”. Sahut Cheonsa tanpa berbalik melihat Sehun.

“tidak hanya di Universitas Seoul tapi juga di test nasional.. aku mendengarnya dari Baekhyun dari kelas A”. Sahut Cheonsa berbalik menatap Sehun.

“aku mungkin orang yang menyedihkan bagimu”. Lanjut Cheonsa.

“kau mungkin benar”. Sahut Sehun melangkah didepan Cheonsa.

“memang benar semua tidak berjalan dengan baik saat kau ada disekelilingku. Kau selalu saja merusak langkahku. Orang-orang di sekolah menyebarkan rumor tentang kita… kau membuatku membantumu belajar.. dan akhirnya kau merusak di ujian masuk universitasku”. Lanjut Sehun yang membuat Cheonsa terlihat semakin menyedihkan.

“aku benar-benar mengerikan”. Gumam Cheonsa. Sehun terdiam Sejenak.

“tapi…. Itu sangat menyenangkan”. Kata Sehun. Cheonsa terkejut tak mengerti arah pembicaraan Sehun.

“itu adalah pertama kalinya dalam hidupku aku gugup.. pertama kalinya dalam hidupku, aku takut melihat hasil test.. itu pengalaman yang sangat luar biasa”.  Ucap Sehun, lalu Sehun berbalik melihat Cheonsa.

Sehun selama ini kan percaya diri kalau soal pelajaran. tapi saat ia ikut ujian nasional, kesialan datang padanya dan juga karena kantuknya dari obat yang Cheonsa berikan, membuatnya tidak bisa mengerjakan soal-soal itu dengan baik dan ia jadi gugup menunggu hasil test itu.

“itu bukan karenamu kalau aku tidak ikut ujian masuk Universitas Seoul”. Lanjut  Sehun.

“apa?”. Tanya Cheonsa heran dengan Sehun.

“setelah aku mengantarmu ke rumah sakit, aku punya banyak waktu untuk ikut ujian”. Kata Sehun

“lalu kenapa tidak?”. Tanya Cheonsa yang masih bingung dengan Sehun.

“kau bilang kalau kau ingin pergi ke universitas untuk mencari tahu apa yang kau ingin kan dihidupmu. Akan sangat menyenangkan bersamamu merasakan gugup dan penuh semangat. Aku pikir itu bukan ide yang buruk untuk ke Universitas Yonsei tanpa harus ikut ujian. Aku heran apa yang akan aku lakukan jika aku pergi ke Universitas Seoul”. Kata Sehun.

“maksudmu kau pilih sekolah yang sama karena aku?”. Tanya Cheonsa senang.

“tidak.. maksudku bukan seperti itu”. Sanggah Sehun langsung.

“tapi…” karena tak mau ditanya-tanya lagi Sehun segera mengambil kaleng kopi yang dipakai Cheonsa untuk menghangatkan tangannya tadi.

“ya sudah, silahkan pergi saja, semoga beruntung”. Kata Sehun lalu berjalan pergi meninggalkan Cheonsa.

“ehhh tung..gu.. tunggu sebentar…”. Teriak Cheonsa, Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Cheonsa.

“apa menurutmu aku bisa tinggal dirumahmu lebih lama lagi?”. Tanya Cheonsa malu. Melihat Sehun yang terdiam, Cheonsa lalu berlari mendekati Sehun

“aku tak akan membuatmu dalam masalah lagi”. Lanjut Cheonsa.

“itu tidak mungkin.. tidak mungkin kau tidak membuatku dalam masalah lagi.” Sahut Sehun.

“hhe.. kau benar.. baiklah aku berjanji , aku akan membuat hidupmu penuh semangat”. Ucap Cheonsa sambil tersenyum imut pada Sehun. Sehun sebenarnya seperti mau tertawa tapi ditahannya dan berbalik melangkah pergi.

“kau mudah sekali merubah pikiranmu..”. Gumam Sehun.

Tiba-tiba saja salju turun membuat Cheonsa terlihat senang. Ia lalu tersadar kalau Sehun sudah pergi jauh meninggalkanya. Cheonsa mengambil kopernya dan berlari mengejar Sehun.

“ehh.. hari ini kan Valentine day..”. Seru Cheonsa pada Sehun saat mereka sudah beriringan melangkah.

“memang kenapa kalau valentine day?”. Tanya Sehun.

“apa kau akan memberiku coklat?”. Lanjut Sehun.

“maaf.. apa kau mengharapkannya?”. Goda Cheonsa mencoba melihat ekspresi wajah Sehun yang masih saja datar.

“tidak juga”. Jawab Sehun cuek membuat Cheonsa kecewa. Tapi ia agak terhibur mendengar pengakuan Sehun yang aka pergi ke kampus yang sama dengannya. Cheonsa tersenyum mengingatnya.

Setelah sampai rumah dan ganti baju, Sehun turun ke ruang makan dan membuka lemari esnya. Ia menemukan ada kotak warna pink dengan pita-pita di sana. Sehun mengambilnya, ia segera membuka pita dan kotak itu dengan penasaran. Ia melihat ada coklat bentuk hati dengan tulisan dari Cheonsa untuknya. “selamat sudah lulus ujian Universitas Seoul”. Sehun mengambil coklat itu dan mengigitnya.

” ahh tidak enak”. Gumamnya merasakan coklat buatan Cheonsa itu.

9 thoughts on “Love In Seoul (Chapter 4)

  1. hahaha….baekhyun konyol bgt, dia ampe ketakutan gitu ama cheonsa….takut kena sial🙂
    kata” sehun sweet bgt tp tetep dingin dgn muka datarnya🙂
    dia udh mulai nyaman dket cheonsa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s